Tampilkan postingan dengan label Exceeds Expectations. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Exceeds Expectations. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2012

REVIEW : THE HUNGER GAMES


"They just want a good show, that's all they want."

Bersetting di masa depan dimana dunia mengalami kehancuran setelah perang nuklir dan Amerika Serikat terpecah belah menjadi ke beberapa area baru. Di sebuah area yang bernama Panem, kita diperkenalkan kepada sebuah permainan ekstrim tahunan yang menjadi judul dari film ini, The Hunger Games. Dua puluh empat remaja usia belasan, masing-masing terdiri dari dua belas laki-laki dan dua belas perempuan, yang terpilih secara acak dimana mereka mewakili dua belas distrik di Panem dilepaskan ke alam bebas hingga hanya satu orang saja yang selamat. Sang pemenang akan mendapatkan hadiah berupa kehormatan, ketenaran, dan persedian pangan untuk keluarga. Plotnya sedikit banyak mengingatkan saya pada Battle Royale, film buatan tahun 2000 asal Jepang yang diadaptasi dari novel berjudul sama, yang mengisahkan sejumlah siswa bermasalah yang dikirim ke sebuah pulau terpencil untuk saling membunuh dan pemenangnya adalah siswa yang terakhir bertahan. Yang mendasari munculnya kedua permainan ini sama, terjadinya degradasi moral. Apabila dirunut lebih jauh, para remaja ini hanyalah sekumpulan remaja biasa yang dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan oleh para penguasa. Dihimpit oleh keadaan yang serba tidak menguntungkan, rakyat-rakyat kecil ini pun manut saja dengan permainan yang dirancang oleh para penguasa yang lalim.

Tokoh utama dari The Hunger Games adalah dua Tribute – sebutan untuk peserta terpilih – dari distrik termiskin di Panem, Distrik 12, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson). Ada yang unik disini. Berbeda dengan film hasil adaptasi novel remaja kebanyakan, Katniss tidak digambarkan sebagai gadis lemah yang senantiasa merengek meminta perlindungan. Mandiri, kuat dari segi fisik dan mental, serta mahir menggunakan busur dan panah, Katniss malah terkesan lebih maskulin ketimbang Peeta. Suzanne Collins, sang penulis novel yang juga bertindak selaku penulis naskah, menempatkan Katniss sebagai pelindung bagi Peeta. Jennifer Lawrence memainkan perannya dengan amat baik dan meyakinkan. Tidak heran, Katniss sedikit banyak memiliki kemiripan karakter dengan Ree Dolly di Winter’s Bone. Josh Hutcherson mengalami peningkatan akting disini. Beradu akting bersama Lawrence, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Stanley Tucci dan Donald Sutherland rupanya memicu semangat Hutcherson untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya.

Disandingkan dengan Battle Royale, The Hunger Games terasa lebih tidak manusiawi karena pertarungan antar Tribute dari dua belas distrik ini disajikan secara live melalui sebuah acara realitas. Ada kemiripan dengan The Condemned disini. Tapi lagi-lagi, masih lebih bermoral ketimbang apa yang dilakukan oleh Seneca Crane (Wes Bentley), penanggub jawab The Hunger Games. Dua puluh empat remaja tak bersalah dipaksa bertarung hingga mati demi memuaskan hasrat dari para manusia tidak beradab. Terkesan semakin barbar saat mengetahui bahwa peserta yang mengikuti acara ini adalah remaja berusia 12 hingga 18 tahun dengan sistem pemilihan acak. Maka pertarungan ini pun bersifat tak sehat karena kekuatan antar satu peserta dengan peserta lain tidak sebanding. Namun tentu saja Seneca dan para penguasa di kota Capitol tidak ambil pusing, terlebih ini akan menjadikan acara kian menarik untuk disimak. Untuk bertahan di Arena – tempat pertarungan – para Atribut ini pun membutuhkan sponsor yang akan menyuplai kebutuhan mereka selama bertanding. Caranya, dengan unjuk kebolehan sebelum memasuki Arena. Kemampuan yang mengesankan membuat Katniss lantas menjadi buah bibir. Apabila meminjam istilah dari para fans American Idol, maka Katniss adalah ‘frontrunner’ sementara Peeta adalah ‘cannon fodder’.

Lantas, apa sebenarnya tujuan diadakannya The Hunger Games? Berdasar video yang diputar setiap sebelum pemilihan Tribute dimulai, permainan ini bertujuan untuk mengenang kehancuran dari distrik ke-13 dan sebagai hukuman kepada distrik 1-12 atas kesalahan di masa lalu. Pada akhirnya, permainan ini justru menjadi manifestasi kekuasaan dan hiburan bagi pemerintah. Disiarkan secara live, dikemas dalam bentuk acara realitas, Collins seakan ingin mengritik moral masyarakat saat ini yang menggemari tontonan yang sarat akan kekerasan dan menjadikan orang yang dalam masalah pelik sebagai sebuah tontonan televisi yang menghibur di waktu senggang. Sisi kelam dari acara realitas yang nyatanya dipenuhi dengan kepalsuan dan ego produser yang tinggi turut disentil. Pun begitu, sang sutradara, Gary Ross – yang kita kenal melalui dua film apik, Pleasantville dan Seabiscuit, tidak berlama-lama dengan kritik sosial demi menghindari kejenuhan penonton. Setelah pesan dirasa telah cukup tersampaikan, The Hunger Games kembali ke jalur utamanya untuk menyajikan sebuah hiburan yang menyenangkan. Dan apakah hal itu berhasil? Saya akan menjawabnya, sangat berhasil. Adalah sebuah keputusan yang tepat menjadikan si pencipta novel sebagai penulis naskah. The Hunger Games adalah salah satu film adaptasi novel terbaik yang pernah saya tonton. Memesona, menegangkan, lucu, dan menyentuh. Durasinya yang cukup panjang, eksploitasi romantisme dan penggunaan handheld camera memang cukup melelahkan, namun The Hunger Games telah berhasil memenuhi ekspektasi saya sekalipun masih kurang berani dalam menonjolkan aksi kekerasan yang membuatnya terkesan canggung di beberapa bagian. Menghindari rating R, mungkin? Oia, jangan pernah samakan The Hunger Games dengan The Twilight Saga. Keduanya jauh berbeda.

Exceeds Expectations

Kamis, 08 Maret 2012

REVIEW : THE GREY



"Live or Die on This Day"

Setelah mendapatkan kembali putri kesayangannya yang sempat raib, Liam Neeson berjuang untuk merebut identitas dirinya yang hilang di dataran Eropa yang dingin. Nah, ketika identitas diri telah berada dalam genggaman, apa yang kembali hilang dari Liam Neeson? Pertanyaan yang lebih penting, apakah Neeson masih berani kembali ke Eropa setelah dua peristiwa buruk tersebut menimpa dirinya? Dengan bantuan rekan lama, Joe Carnahan, yang pernah bekerja sama melalui The A-Team, Neeson akhirnya memutuskan untuk “move-on”. Tidak ada lagi yang hilang, tidak lagi tamasya ke Eropa, dan tidak lagi berhubungan dengan Luc Besson. Pesona Ridley Scott nampaknya lebih menggoda. Terlebih lagi, kali ini setting diboyong ke tempat yang jauh lebih ekstrim, Alaska. Untuk naskah, Joe Carnahan mengadaptasi dari cerita pendek karangan Ian Mackenzie Jeffers yang berjudul “Ghost Walker”. Dengan adanya Alaska, ditambah dengan kecelakaan pesawat, serigala liar nan buas dan badai salju, The Grey menjanjikan sebuah premis yang sama sekali berbeda dengan Taken maupun Unknown. Terornya terasa lebih nyata.

John Ottway (Liam Neeson) bekerja di Alaska melindungi tim pengebor minyak dari ancaman serigala. Di hari terakhirnya bekerja, ketika dia telah siap untuk pulang, pesawat yang dinaikinya beserta puluhan pekerja lain jatuh menghantam tanah dengan keras. Hanya tujuh orang yang berhasil selamat. Dan, teror baru saja akan dimulai. Seakan belum cukup dengan hawa dingin yang menusuk hingga tulang, Ottway dan konco-konconya mendapat ancaman lain, serigala buas. . Menunggu pertolongan dari tim SAR bagaikan mimpi di siang bolong apalagi melihat fakta kondisi medan yang berat, badai salju yang tidak henti-hentinya menerjang, dan status sosial dari para survivor. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan menjauhi bangkai pesawat dan mencari kehidupan di hutan. Namun yang menjadi permasalahan utama, mereka tidak mengetahui dimana sarang gerombolan serigala. Salah perhitungan bisa berakibat fatal. Terlebih jumlah kawanan semakin berkurang ketika satu persatu terserang hipotermia dan para serigala kian mengganas.

Suatu kejutan yang menyenangkan ketika mengetahui bahwa The Grey ternyata jauh lebih lezat untuk disantap ketimbang Taken dan Unknown. Jalan ceritanya sedikit banyak memang mengingatkan pada Alive yang diangkat dari kisah nyata, hanya saja The Grey tidak melangkah sejauh itu. Di menit-menit awal, kisahnya cenderung tidak menarik untuk disimak. Saat menonton film ini, saya sama sekali buta mengenai jalan ceritanya karena tak sekalipun mengintip review maupun trailer. Maka ketika melihat John Ottway yang galau, dengan ‘penampakan’ istrinya yang sering kali tiba-tiba, saya sempat merasa apa yang akan terjadi berikutnya hanyalah pengulangan dari film-film Liam Neeson berikutnya. Ketika Joe Carnahan menggiring penonton ke dalam pesawat, pada saat inilah tensi perlahan mulai dibangun. Cara Carnahan mengemas adegan kecelakaan pesawat sungguh mengerikan, berkali-kali lipat lebih traumatis ketimbang Final Destination. Sebagai seseorang yang memiliki phobia terhadap pesawat terbang, ini jelas bukan sebuah gambaran yang menyenangkan. Saya sempat panik, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak melihat ke layar selama beberapa detik.

Memasuki alam Alaska yang ganas, The Grey berubah menjadi film yang sebaiknya dihindari oleh pengidap sakit jantung. Terlalu banyak adegan yang diiringi dengan dentuman musik yang mengagetkan. Serigala mengancam kapanpun dan dimanapun, tanpa pandang bulu. Seiring berjalannya film, tidak susah sebenarnya menebak bagaimana cara Joe Carnahan mengakhiri film. Kecerdikannya dalam menjaga intensitas dengan rapi adalah yang menjadi kunci utama mengapa The Grey kian menarik untuk diikuti setiap menitnya. Tidak ada kesan usang atau sekadar reka ulang belaka saat Carnahan mempersembahkan sebuah adegan yang nampaknya merupakan homage terhadap Cliffhanger. Tetap membuat gregetan. Menonton The Grey memang tidak ubahnya tengah melakukan olahraga jantung. Seperti apa yang telah dilakukan oleh Insidious terhadap saya tempo hari, The Grey pun sanggup membuat saya lemas setelah menontonnya di bioskop. Bukan film dengan jalan cerita yang memukau memang, namun The Grey mampu menjalankan tugasnya dengan apik dalam hal memuaskan penonton dari awal hingga akhir dengan ketegangan yang tiada henti dan tersusun rapi.

Exceeds Expectations


Senin, 13 Februari 2012

REVIEW : CHRONICLE


"Boys will be boys"

Apabila Anda hanya mengandalkan tampilan promosi, macam poster dan trailer, sebelum menyaksikan Chronicle, maka besar kemungkinan Anda
tidak akan tergugah untuk segera menyaksikannya di bioskop. Cukup menunggu DVD-nya saja. Jika Anda melakukannya, maka itu merupakan kesalahan tak termaafkan di awal tahun. Film layar lebar pertama dari Josh Trank ini memang tidak menawarkan premis yang menggoda, tiga remaja mendadak memiliki kekuatan khusus setelah menyentuh sebuah benda tidak dikenal. Sangat biasa, kalau tidak mau disebut klise, bukan? Dengan penawaran yang sedemikian sederhana, bukan berarti barang jualan dari 20th Century Fox ini kurang lezat untuk disantap. Dikemas dengan gaya found footage menjadikan Chronicle terasa enak untuk diikuti. Dan saya pun bernafas lega, “akhirnya found footage tidak melulu mengenai penampakan atau kerasukan setan.” Ya, duo Josh Trank dan Max Landis tidak membuat sebuah film horror, melainkan fiksi ilmiah tentang manusia berkekuatan khusus.

Saya akan mencoba untuk menjabarkan plot Chronicle dalam kalimat yang lebih panjang. Chronicle berkisah mengenai kehidupan siswa SMA, Andrew Detmer (Dane DeHaan), yang jauh dari kata menyenangkan. Ibunya sekarat, ayahnya pemabuk, dan Andrew kerap mendapatkan perlakuan kasar baik di rumah maupun di sekolah. Satu-satunya teman bagi Andrew adalah kamera video yang baru dibelinya, "I bought a camera and I'm filming things." Sepupu sekaligus teman masa kecilnya, Matt (Alex Russell), merasa perlu untuk mengajak Andrew menikmati hidup, terlebih ini adalah tahun terakhir mereka di SMA. Matt membawa Andrew ke sebuah pesta dimana dengan cepat mereka berteman dengan siswa populer, Steve (Michael B. Jordan). Alih-alih menikmati pesta, ‘The Three Musketeers’ ini asyik bermain ke hutan dan menemukan sebuah lubang menganga di tanah. Dasar ABG, rasa penasaran begitu kuat menyelimuti diri mereka sehingga tanpa pikir panjang mereka masuk begitu saja ke dalam lubang tersebut tanpa mengetahui apa yang menanti di dalam.

Jadi, ada apa di dalam lubang misterius tersebut? Tidak begitu jelas, namun benda tersebut berukuran besar, berwarna biru, dan mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Entah tidak pernah nonton film fiksi ilmiah, bodoh, atau memang bandel, mereka malah mendekati benda tersebut. Yang terjadi selanjutnya, Anda tentu sudah bisa menebaknya sendiri. Ketiga sahabat ini mendapatkan kekuatan khusus. Bagusnya, Max Landis tidak menjadikan ketiga karakter ini berseru “mari kita selamatkan dunia!” beberapa saat setelah mereka mendapatkan anugerah (atau bencana?). Layaknya remaja cowok kebanyakan, mereka malah asyik memanfaatkan kekuatan baru mereka untuk bermain-main. Mengintip celana dalam perempuan, menerbangkan benda-benda di sekeliling, hingga mencoba untuk terbang. Paruh awal, Chronicle terasa lucu, ringan, dan menyenangkan. Titik kulminasi terjadi tatkala kekuatan khusus ini ternyata tidak memberikan dampak yang positif bagi Andrew. Kehidupannya tidak lantas menjadi lebih baik. Paruh berikutnya, film pun berubah menjadi mencekam.

Josh Trank dan Max Landis mencoba untuk tetap bersikap realistis dengan tidak memberikan karakter antagonis yang haus kekuasaan dan menjadi musuh utama bagi para jagoan kita. Dalam Chronicle, setiap tokoh ditempatkan dalam posisi abu-abu. Kemarahan Andrew dapat kita pahami. Bahkan ketika dia berbalik menjadi tokoh antagonis, simpati kepadanya masih tersemat. Chronicle tidak hanya menjual adegan-adegan seru, duo Trank dan Landis pun memberikan komentar perihal bagaimana kekerasan di dalam rumah tangga dapat mempengaruhi kondisi psikologis seorang anak. Ini menjadikan Chronicle terasa lebih istimewa. Jika ada yang membuat saya merasa tidak nyaman, maka itu adalah gaya found footage yang terkadang suka kebablasan. Sekalipun Andrew menganggap kamera video adalah soulmate-nya dan Casey (Ashley Hinshaw) menganggap setiap detik perlu didokumentasikan, rasanya kok berlebihan ya kemanapun mereka pergi selalu menenteng kamera? Tapi, film bergaya found footage mana sih yang tidak berlebihan? Paling tidak, Josh Trank tidak menggarap Chronicle seenak udelnya. Jalinan kisahnya tersusun rapi, akting para pemainnya natural, dan efek khusus pun diberikan sesuai dengan kebutuhan. Sekalipun bukan yang terbaik dari genrenya, Chronicle menjadi pembuka tahun 2012 yang manis. Trust me, go see it at the cinema!

Exceeds Expectations

Rabu, 18 Januari 2012

REVIEW : DON 2


Bollywood rupanya tidak main-main dengan rencananya untuk kembali menjadi penguasa di industri perfilman Asia setelah beberapa tahun terakhir Jepang dan Korea Selatan mendominasi. Jika dulu Bollywood identik dengan kisah cinta picisan dan diselingi dengan belasan lagu di film-filmnya, maka sekarang, ya tidak berbeda jauh sebenarnya karena itu telah menjadi identitas dari film India. Hanya saja, mereka lebih serius dalam menggarapnya. Bukan berarti dahulu sekadar main-main, kali ini para sineas telah meningkatkannya ke level yang lebih tinggi sehingga masyarakat internasional bisa menerimanya. Jika Anda tidak percaya, silahkan saja simak Don 2 yang saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Don 2 yang merupakan sekuel dari Don: The Chase Begins Again (Don: TCBA) yang dirilis tahun 2006 lalu ini menjadi sebuah bukti betapa majunya perfilman India saat ini. Didanai dengan bujet sekitar $17 juta, Farhan Akhtar menjadikan Don 2 sebagai versi India dari Mission: Impossible dan Fast Five. Anda tentu masih ingat bagaimana serunya Mission: Impossible Ghost Protocol, bukan? Tanpa bermaksud berlebihan, ah Anda pun sah-sah saja menyebut saya lebay, Don 2 memiliki tone yang nyaris serupa dengan film tersebut. Dikemas dalam tontonan penuh aksi, naskah yang pintar, dan kasting yang sempurna.

Titik awal dari Don 2 melanjutkan dari ending film sebelumnya yang tercatat sebagai film terlaris kelima di India pada tahun 2006. Tanpa menonton prekuelnya, Anda tetap bisa menikmati jalan cerita film ini. Sekalipun masih memiliki keterkaitan, Don 2 bisa menjadi film yang berdiri sendiri. Tapi tentunya akan lebih nikmat jika Anda telah mengetahui apa-apa saja yang telah terjadi dalam Don: TCBA, khususnya perihal hubungan rumit yang terjalin antara Don (Shahrukh Khan) dengan Roma (Priyanka Chopra). Farhan Akhtar dan duo penulis naskah, Ameet Mehta dan Amrish Shah sayangnya tidak mengupas romansa ini secara lebih mendalam di Don 2, sehingga penonton awam yang kurang awas mungkin akan kebingungan dengan status hubungan Don dan Roma di awal film. Untuk sekali ini, Farhan Akhtar menawarkan sebuah cerita yang panjang, kompleks, dan padat. Penonton dituntut untuk berkonsentrasi. Layaknya film India pada umumnya, selingan nyanyian dan tarian pun masih ada. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 4 tembang saja. Ada baiknya Anda tidak melewatkannya. Beberapa tembang masih berkolerasi dengan jalan cerita, tidak sekadar pemanis belaka.

Ketika Inspektur Malik (Om Puri) menyerahkan tongkat estafet kepada Roma untuk memimpin jalannya target operasi Don, Don datang untuk menyerahkan diri. Segera saja dia dikirim ke penjara Melaka, Malaysia. Di penjara ini, dia bertemu dengan musuh bebuyutannya, Vardhaan (Boman Irani). Rupanya, Don belum bertaubat, dia masih memiliki segudang rencana guna mencapai tujuan utamanya, menjadi penguasa kartel narkoba di Eropa. Don mengajak Vardhaan melarikan diri dari lapas. Mereka terbang ke Zurich, Swiss, untuk mencuri cetak biru uang negara di Depository Bank of Zurich. Bergabung bersama mereka adalah kekasih Don, Ayesha (Lara Dutta), dan hacker handal, Sameer (Kunal Kapoor). Untuk mendapatkan akses menuju bank, Don mengancam sang wakil presiden bank, Diwan (Aly Khan), dengan sebuah video yang memuat percakapan Diwan membahas tentang rencana pembunuhan terhadap petinggi Bank Eropa. Tentu saja, Diwan tidak tinggal diam. Dia menyewa seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi Don dan antek-anteknya. Sementara itu, keberadaan Don di Eropa mulai terendus oleh Roma.

Sebagai sebuah film India, Don 2 sama sekali tidak berasa India. Farhan Akhtar lebih memilih untuk mengajak penonton jalan-jalan ke Malaysia, Thailand, Jerman, dan Swiss, ketimbang berputar-putar di India. Romansa picisan serta nyanyian dan tariannya pun tidak terlalu ditonjolkan. Adegan aksinya diramu dengan lebih intens, simak saja adegan kejar-kejaran di jalanan Berlin yang padat yang konon katanya melibatkan sampai 67 mobil. Sungguh seru, menegangkan, dan brilian. Anda dijamin betah untuk duduk manis sepanjang dua setengah jam di kursi bioskop tanpa melongok jam tangan berkali-kali. Farhan Akhtar tahu benar bagaimana cara menjamu tamunya. Suguhi dengan gadis-gadis cantik dan pameran mobil keren sebagai pemanis, jalan cerita yang cerdik sebagai menu utama, dan ditutup dengan adegan aksi seru yang tiada henti. Namun tentu saja jamuan ini tidak akan terasa manis apabila Farhan Akhtar tidak memberikan bumbu bernama Shahrukh Khan. Akting apiknya sebagai Don sanggup menutupi berbagai kelemahan yang muncul. Sebagai hidangan pelengkap, sang tuan rumah memberikan pilihan kepada penonton untuk menyaksikannya dalam versi 2D atau 3D. Mengingat tidak ada perbedaan yang signifikan, versi 2D terasa lebih tepat bagi Anda karena mengenakan kacamata 3D selama dua setengah jam bukanlah perkara yang menyenangkan. Filmnya toh masih tetap seru sekalipun ditonton di layar 2D.

Exceeds Expectations

Jumat, 06 Januari 2012

Short Reviews: ALVIN AND THE CHIPMUNKS 3, JACK & JILL, CONTAGION, THE ADVENTURES OF TINTIN


Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked

Saya tidak habis pikir, dengan buruknya kualitas film kedua, mengapa jutaan orang masih saja berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan kelanjutan dari Alvin and the Chipmunks? Yang membuat saya lebih heran lagi, mengapa saya mau-maunya membuang waktu dan uang yang berharga demi menyaksikan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked? Jika Anda ingin melepaskan penat usai diserbu setumpuk pekerjaan, maka Anda lebih baik menghapus film ini dari daftar film yang ingin Anda tonton jika tak ingin menderita di dalam bioskop. Sungguh, jilid ketiga ini sangat membosankan, menjengkelkan, tak lucu sama sekali, dangkal, dan mudah untuk dilupakan. Ending semakin memperparah segalanya. Ini adalah pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini. (Poor)


Jack & Jill

Jack & Jill adalah sebuah film komedi dengan guyonan yang sangat kasar tanpa tedeng aling-aling, jorok, tak masuk akal, dan bodoh. Sepertinya Dennis Dugan terinspirasi oleh karya-karya The Farrelly Brothers karena aroma komedi mereka tercium cukup menyengat disini. Menyaksikan Jack & Jill bagaikan tengah menyaksikan film-film buatan KK Dheeraj, saya berhasil tertawa habis-habisan karena beberapa adegan yang terlampau tak bisa diterima akal sehat. Bergabungnya Al Pacino dan Johnny Depp dalam Jack & Jill patut dipertanyakan. Apakah bujet yang menggelembung hingga $79 juta sebagian besar lari ke dalam kantong mereka? Karena saya sama sekali tidak percaya jika alasan mereka bergabung dalam film ini disebabkan tertarik dengan naskahnya. (Poor)


Contagion

Film mengenai bencana tidak melulu harus digambarkan melalui sebuah film aksi berbujet raksasa dengan sentuhan efek khusus disana sini, Steven Soderbergh mempunyai caranya sendiri. Menyaksikan Contagion bagaikan tengah menyaksikan salah satu episode dari CSI. Ketegangan dibangun secara perlahan, misteri yang melingkupi dibuka satu demi satu, dan ini semua didukung dengan akting kelas wahid dari barisan pemainnya. Anda mungkin akan dibuat mengantuk dan pusing pada awalnya, terutama jika Anda memilih untuk tidak konsentrasi, namun seiring berjalannya durasi, Contagion kian menarik untuk disantap. Flu yang acapkali dianggap sebagai penyakit ringan, menjadi monster mengerikan disini. Sebuah film cerdas yang rasanya teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Outstanding)


The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn

Fans berat Tintin mungkin saja agak kecewa dengan cara Steven Spielberg menangani The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat Hollywood, tapi itu tak menutupi fakta bahwa ini adalah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Spielberg tahu benar bagaimana cara memanjakan penonton lewat suguhan petualangan yang menegangkan, misteri yang memancing rasa ingin tahu, humor yang menggelitik dan visualisasi yang tersaji dengan indah. Sang pionir dalam motion capture, Robert Zemeckis, agaknya perlu berguru kepada Spielberg yang berhasil menciptakan sebuah film animasi yang luar biasa indah, hidup dan mengasyikkan dalam debutnya di genre ini jauh melampaui pencapaian Zemeckis melalui The Polar Express dan Beowulf. (Exceeds Expectations)

Senin, 26 Desember 2011

REVIEW : MISSION: IMPOSSIBLE - GHOST PROTOCOL


Mission: Impossible jilid 4? Melihat seorang Tom Cruise yang tahun depan berusia kepala 5 adu jotos dengan sekumpulan penjahat tengik dan bergelantungan di gedung pencakar langit? Hmmm.. setidaknya masih lebih bisa diterima ketimbang menyaksikan opa Harrison Ford beraksi kembali sebagai Indiana Jones tempo hari. Dengan sambutan hangat yang diterima Mission: Impossible III dari kritikus maupun penonton, maka sekuel dirasa perlu untuk dibuat. Saya mafhum, selama tim memiliki bekal yang cukup untuk meneruskan misi tak masuk akal dari Ethan Hunt (Tom Cruise). Beruntung, Cruise memiliki alasan yang kuat karena berhasil menemukan sutradara, naskah, dan tim produksi yang solid. Mission: Impossible – Ghost Protocol berhasil menyajikan sebuah hiburan kelas atas yang menyenangkan. Berdiri tegap di atas dua prekuelnya, hanya sedikit di bawah film pertama yang cerdas itu. Di bawah penanganan Brad Bird, sutradara film animasi terpuji; Iron Giant, The Incredibles, dan Ratatouille, seri Mission: Impossible kembali cemerlang setelah sebelumnya sedikit ternoda saat John Woo dan J.J. Abrams agak sedikit berlebihan memerlakukan instalmen ini.

Brad Bird nyaris tidak memberikan kesempatan bagi penonton untuk menghela nafas lega selama 132 menit. Sajian aksi yang memacu adrenalin ditimpangi dengan intrik spionase yang memikat dan humor yang renyah, saya dipaksa untuk tetap bertahan di kursi bioskop seraya menikmati popcorn asin yang gurih serta Cola yang menyegarkan. Nikmat tiada duanya. Sejak menit pertama, Mission: Impossible – Ghost Protocol digeber dengan serangkaian adegan yang mengasyikkan plus mengundang penasaran. Di Budapest, seorang agen IMF bernama Trevor Hanaway (Josh Holloway) diketahui telah dibunuh oleh pembunuh bayaran yang dingin, Sabine Moreau (Lea Seydoux). Belum sempat saya mencerna apa yang sesungguhnya terjadi, dengan sigap adegan melompat jauh ke Moscow, ke sebuah penjara dimana kita bertemu dengan Ethan Hunt. Apa yang telah dia lakukan sehingga mendekam di penjara Russia yang dingin? Anda harus mencari tahu sendiri. Sedikit petunjuk, ini masih memiliki keterkaitan dengan film sebelumnya. Misi penyelamatan Hunt dilakukan oleh Jane Carter (Paula Patton) dan Benji Dunn (Simon Pegg). IMF (Impossible Mission Forces) memerintahkan ketiga agen ini untuk menemukan seorang teroris asal Rusia, Kurt Hendricks (Michael Nyqvist), yang berencana mewujudkan perang nuklir.


Belum sempat Hendricks ditemukan, tim IMF pimpinan Hunt difitnah yang berujung pada munculnya Ghost Protocol, keberadaan IMF beserta seluruh operasinya disangkal oleh pemerintah Amerika Serikat. Namun Ethan Hunt tidak menyerah begitu saja. Dengan bantuan dari seorang analis intelijen, William Brandt (Jeremy Renner), Hunt memburu Hendricks hingga ke belahan dunia lainnya, dari Dubai hingga Mumbai. Dan kita pun patut bersyukur atas kemajuan teknologi serta berterima kasih kepada Brad Bird yang bersikeras untuk mengambil gambar dengan IMAX untuk adegan-adegan tertentu alih-alih kamera 3D. Adegan yang memperlihatkan Ethan Hunt ‘memanjat’ Burj Khalifa dan bergelantungan di ketinggian ratusan meter dari permukaan tanah, berhasil terekam dengan sangat apik dan sesuatu banget. Mengetahui fakta bahwa Tom Cruise melakukan sendiri adegan ini membuatnya terasa lebih spesial. Saya memang menyaksikan film ini di layar bioskop biasa, akan tetapi efek yang dihasilkan dari adegan Burj Khalifa ini sungguh terasa. Berulang kali ratusan penonton lain berteriak miris, dan saya yang memiliki Aeroacrophobia (takut akan tempat tinggi terbuka) sukses mengucurkan keringat dingin. Robert Elswit, sang sinematografer, mampu memunculkan serangan vertigo ringan kepada penonton.

Sekali ini, Mission: Impossible – Ghost Protocol mempunyai tim yang mengagumkan, baik on screen maupun off screen. Betapa beruntungnya Tom Cruise mempunyai rekan-rekan yang hebat; Jeremy Renner yang cerdas, Paula Patton yang cantik namun berbahaya, serta Simon Pegg yang tidak pernah gagal membuat saya tertawa. Chemistry yang terjalin diantara para personil terasa padu, hangat, dan mengasyikkan. Seandainya instalmen ini dilanjutkan, semoga mereka berempat plus Ving Rhames kembali bersatu. Tentu saja dengan penggalian karakter yang lebih dalam. Karena ini adalah film tentang kembalinya Ethan Hunt ke dunia spionase, maka Andre Nemec dan Josh Appelbaum tidak memberikan porsi yang memadai bagi berkembangnya karakter lain. William Brandt mendapatkan porsi minim yang efektif, sementara Jane Carter dan Benji Dunn sedikit terlupakan. Padahal akan sangat menarik jika mengetahui latar belakang dua karakter seru ini secara lebih mendalam. Ah, agaknya saya terlalu rakus dengan mengharapkan kesempurnaan dari berbagai lini untuk film ini. Bagaimanapun, Mission: Impossible – Ghost Protocol telah berhasil menjalankan misinya untuk menghibur penonton dengan amat baik. Cepat, cerdas, seru, penuh intrik, ledakan disana-sini, lucu, menegangkan, dan keren. Sebuah paket komplit yang secara mengejutkan datang dari sebuah film yang pada awalnya dianggap tidak perlu keberadaannya.

Exceeds Expectations

Jumat, 16 Desember 2011

REVIEW : SUNNY


"Teman ada saat masa-masa sulit." - Lim Na-Mi

Film mengenai persahabatan sejumlah gadis ABG sudah jamak dibuat. Dari Indonesia, Ada Apa Dengan Cinta? adalah yang paling populer, menjadi salah satu tonggak kebangkitan perfilman nasional. Baru-baru ini pun kita disodori sebuah film persahabatan dari Thailand yang mendapatkan sambutan hangat pula di Indonesia, Crazy Little Thing Called Love. Ada sebuah benang merah yang bisa ditarik dari kedua film tersebut. Sama-sama menyoal romansa yang memorak morandakan persahabatan. Sebuah plot yang sesungguhnya telah basi tanpa sesuatu yang baru, berulang kali mengalami bongkar pasang dengan sedikit modifikasi disana-sini namun uniknya tidak pernah membosankan untuk disimak. Jika diteliti lebih dekat, sesungguhnya Ada Apa Dengan Cinta? dan Crazy Little Thing Called Love saling bertolak belakang. Film yang satu tentang cewek cantik dari geng populer yang jatuh cinta pada cowok kutu buku, maka yang satu tentang cewek culun yang kesengsem dengan cowok tampan populer. Korea Selatan yang tanpa henti menghasilkan film bermutu dan diprediksi mampu menjelma sebagai pusat perfilman Asia, tak mau kalah. Kang Hyung-chul, pembesut film komedi seru yang laris, Scandal Makers, melahirkan Sunny sebagai tandingan. Secara tema, Sunny tak berbeda jauh dengan dua film di atas. Maka, dimana posisi Sunny diantara Ada Apa Dengan Cinta? dan Crazy Little Thing Called Love?

Sunny tak membicarakan cinta dengan ceriwis layaknya para pendahulu. Dari segi penuturan, Sunny mengingatkan pada Now and Then-nya Demi Moore dengan memakai alur maju mundur yang mencampur begitu saja masa lalu dan masa kini. Kang Hyung-chul tidak pernah memberikan detail yang banyak untuk menggambarkan setting. Petunjuk yang diberikan kepada penonton hanya berupa lagu yang sering diperdengarkan di sejumlah adegan. Saat seorang penyiar radio sekolah menyebut tembang milik Cyndi Lauper, “Girls Just Want to Have Fun” sebagai lagu paling populer kala itu, penonton tentu sudah bisa menebak Sunny mengambil setting di tahun berapa. Film dibuka dengan pertemuan tidak sengaja dari dua sahabat lama, Lim Na-Mi (Yoo Ho-Jeong) dan Ha Chun-Hwa (Jin Hee-Kyung) di sebuah rumah sakit setelah 25 tahun lamanya berpisah. Ha Chun-Hwa mengidap kanker dan usianya diperkirakan tidak melebihi dua bulan. Satu keinginan terakhir yang dititipkan Chun-Hwa kepada Na-Mi sebelum dia tutup usia adalah bertemu dengan anggota “Sunny”, geng yang dipimpinnya kala SMA. Sepanjang kurang lebih 124 menit, penonton diajak untuk mengikuti petualangan Na-Mi dalam mencari anggota Sunny yang lain. Di sela-sela pencarian, masa lalu Sunny diungkap. Na-Mi remaja (Shim Eun-Kyung) adalah siswi pindahan dari sebuah kota kecil di Korea Selatan. Dengan kepribadiannya yang menyenangkan, tidak sulit bagi Na-Mi untuk segera berbaur dengan siswi-siswi lain.


Sekalipun memiliki gaya bertutur yang nyaris serupa dengan Now and Then, kedua film ini jauh berbeda. Now and Then cenderung optimis dalam memandang kehidupan, dibuktikan dengan masa dewasa dari setiap tokoh yang digambarkan mampu menggapai apa yang disebut sebagai American Dreams. Sunny mencoba untuk realistis, yang berarti berjalan suram dan kemungkinan besar akan berjalan tidak sesuai dengan harapan mayoritas penonton. Konflik yang dihadapi oleh Chun-Hwa remaja (Kang So-Ra) pun jauh lebih berat ketimbang Samantha Albertson (Gaby Hoffman). Jika Now and Then adalah versi perempuan dari Stand by Me, maka Sunny adalah versi perempuan dari Friend. Para anggota Sunny tidak dihadapkan pada permasalahan seputar menstruasi, cinta pertama, urban legend, atau payudara yang membesar, tetapi kenakalan remaja. Mereka tidak segan-segan melakukan tawuran dengan geng cewek lain. Ujian persahabatan yang disodorkan oleh Kang Hyung-Chul tidak bersinggungan dengan masalah asmara, melainkan bagaimana mereka menyikapi persoalan internal karena kesalahpahaman atau ketika pihak luar mengintervensi. Romantisme hanya dijadikan sebagai bumbu penyedap saja. Ancaman sesungguhnya bagi Sunny adalah Sang-Mi (Cheon Woo-Hee), teman sekelas mereka yang bermasalah. Rupanya Sang-Mi pernah memiliki masa lalu yang suram dengan Ha Chun-Hwa.

Sunny adalah tipikal film drama Korea kebanyakan yang memulai kisahnya dengan penuh keceriaan, namun seiring berjalannya film menjadi kian suram dan mengharu biru. Tapi, Sunny tidak sesederhana itu. Humornya renyah dan berkelas, tidak jarang pula menjadikan budaya populer Korea sebagai referensi. Konflik yang dihadirkan mengena, menyentuh dan sanggup mengaduk-aduk emosi. Sunny tidak hanya sekadar membawa kita untuk tertawa, tersentuh, dan menangis, tetapi juga menghendaki setiap penontonnya untuk berkontemplasi setelah menyaksikannya. Sesuatu yang jarang ditemukan dalam sebuah film remaja. Seperti sebuah ungkapan, “manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.” Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh Kang Hyung-Chul melalui film yang terinspirasi dari masa remaja sang ibunda ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, 1 minggu kemudian, apalagi 25 tahun kemudian. Adegan yang memerlihatkan Na-Mi dewasa sedang menonton sebuah video yang dibuat ketika dia masih SMA adalah momen paling menyentuh sekaligus menyakitkan dari film ini. Impian gagal terwujud. Prestasi akademik tidak selamanya menjadi penentu kesuksesan di masa mendatang. Na-Mi, Chun-Hwa, dan Jin-Hee (Hong Jin-Hee) membuktikan bahwa kesuksesan seseorang lebih ditentukan pada nasib baik, keberuntungan, dan kerja keras. Saya jadi teringat ketika berkumpul bersama teman-teman seperjuangan di sebuah organisasi kampus. Salah satu dari kami nyeletuk, “seperti apa ya kita di 10 tahun mendatang?”. Only God knows what will happen to us.

Exceeds Expectations

Minggu, 04 Desember 2011

REVIEW : ARISAN! 2


"Teman datang dan pergi. Tapi sahabat sejati, selalu di hati." - Meimei

Saat seseorang menyebut arisan, pikiran kita secara otomatis melanglang buana kepada sejumlah ibu-ibu yang tengah asyik ngerumpi, membicarakan semua hal dengan ceriwis, sok tahu, sinis dan tak jarang, pedas. Arisan merupakan salah satu acara yang paling saya sukai, selain resepsi pernikahan. Bukan arisan ibu-ibu tentu saja, tetapi arisan keluarga. Bertemu sanak saudara, saling melepas rindu, curhat, dan bercanda ria, mampu menghilangkan kepenatan hidup yang seakan tiada habisnya menerjang. Di era dimana nyaris tiada lagi ruang pribadi, arisan telah berkembang menjadi berbagai macam bentuk. Bagi sosialita di Jakarta, arisan mampu bernilai miliaran rupiah hingga tidak terhingga nilainya. Arisan bukanlah merupakan sebuah kebutuhan, melainkan hanya untuk menguatkan eksistensi mereka. Inilah yang mencoba untuk dikulik oleh Nia Dinata melalui Arisan!, delapan tahun silam. Bersama dengan Joko Anwar, Nia Dinata membongkar sisi kelam dari ibukota melalui sudut pandang lain. Bukan mengintip kehidupan masyarakat kelas sosial bawah yang berjuang menggapai impian, tetapi masyarakat kelas atas yang glamor dan bergelimangan harta yang hidup dalam kepalsuan.

Kepalsuan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para sosialita di ibu kota, setidaknya itu menurut Nia Dinata melalui Arisan! 2. Tidak ada yang alami dalam kehidupan mereka, baik itu wajah, ciuman hingga persahabatan. Semuanya palsu, fake. Menarik rasanya melongok kehidupan lima sahabat dari Arisan! menjalani kehidupan sebagai sosialita setelah delapan tahun. Lita (Rachel Maryam) yang menjadi seorang ibu tunggal memutuskan untuk terjun ke ranah politik, Andien (Aida Nurmala) menjanda setelah kematian suaminya dan mencari ‘mangsa’ untuk dinikmati setiap malam, Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) telah berpisah, sementara Meimei (Cut Mini) menyepi ke Lombok. Dalam Arisan! 2, storyline dari Andien dan Lita tidak dijadikan sebagai prioritas utama, malah terasa hanya sekadar sempilan belaka demi memberi ruang lebih kepada Meimei, Nino, dan Sakti. Problematika yang dihadapi oleh Meimei merupakan pokok permasalahan dari Arisan! 2. Sebuah rahasia disimpan rapat oleh Meimei kepada keempat sahabatnya. Kepergiannya ke Lombok bukan hanya untuk menikmati hidup, namun lebih dari itu.


Dipenuhi dengan dialog-dialog cerdas berisi nan menohok, akting yang memukau dan bahasa gambar yang terangkai dengan indah, Arisan! 2 adalah sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton. Kepalsuan ibukota dipaparkan secara gamblang disini. Hanya saja sepeninggal Joko Anwar, Arisan! 2 terasa kurang nyinyir dan sinis dalam urusan mengkritisi kehidupan masyarakat perkotaan zaman sekarang. Pun begitu, naskah olahan Nia Dinata tetap menohok. Beberapa kali saya merasa tertampar dengan dialog-dialog yang diucapkan oleh tokoh-tokoh rekaannya. Sisi kelam Jakarta (atau bahkan malah Indonesia?) dari berbagai tingkatan sosial dan usia diungkap satu persatu dengan gaya yang manis, tanpa adanya kesan menceramahi. Gorengan yang dicampur dengan plastik, suntik botox, kepo, hingga generasi eksis yang merasa perlu apapun dipamerkan melalui situs jejaring sosial. Kekasih Nino yang kemayu, Okta (Rio Dewanto), merupakan perwakilan dari generasi eksis. Citra cowok macho yang melekat pada Rio Dewanto berhasil dilepaskan demi menghidupkan karakter Okta yang kemayu, manja dan menyebalkan. Berulang kali Rio Dewanto berhasil memancing tawa penonton, terlebih karakternya mengingatkan perilaku anak muda zaman sekarang. Setiap momen indah diabadikan, lalu dipamerkan melalui jejaring sosial. Seakan dunia perlu tahu apa yang sedang dia lakukan.

Jika ada yang menyebut Arisan! 2 sebagai versi Indonesia dari Sex and the City 2, maka itu sangat bisa dimaklumi. Pameran busana yang glamor, mewah, dan penuh warna tersebar di sepanjang film. Nia Dinata pun tidak memberikan asupan konflik yang mencukupi. Konflik yang dihadapi oleh Meimei dan keempat sahabatnya dihadirkan dengan sangat ringan, kelewat ringan malah. Bahkan untuk sekali ini, Nia Dinata lebih senang mengajak grup rumpi ini jalan-jalan ketimbang asyik bergosip dalam arisan. Ya, sekalipun masih memakai judul Arisan!, kegiatan arisan sedikit sekali dimunculkan. Nyaris tidak ada. Beruntung Nia Dinata tidak melakukan blunder yang sama dengan Michael Patrick King yang justru mengeksploitasi sekumpulan wanita tidak sadar umur dalam perjalanan tanpa tujuan yang jelas. Para pemain tetap solid. Mereka telah melebur dengan karakter masing-masing. Tujuan ke Gili Trawangan pun didasari motif yang kuat. Sekalipun Nia Dinata kurang berhasil untuk mengoneksikan penonton dengan perjalanan spiritual Meimei secara emosional yang seharusnya menjadi poin penting dari Arisan! 2, Nia Dinata mampu menyuguhkan sebuah tontonan yang menghibur. Agaknya Nia Dinata hanya ingin mengajak kita bersenang-senang tanpa perlu memikirkan jalan cerita yang berat dan berfilosofis.

Exceeds Expectations

Rabu, 16 November 2011

REVIEW : SANG PENARI


"Ronggeng itu bukan cuma perkara nari, tetapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur," begitu ujar Nyai Kartareja (Dewi Irawan) kepada Srintil (Prisia Nasution). Inilah yang kemudian membuat Srintil mengalami pergolakan batin. Menjadi ronggeng ternyata tidaklah seindah bayangan Srintil. Sejatinya, dia hanya ingin menari, tidak ingin menjalani upacara 'buka kelambu.' Namun ini telah menjadi konsekuensi yang harus diterima oleh Srintil atas keputusannya untuk memilih menjadi ronggeng. Sebuah keputusan yang dibuat untuk menebus kesalahan kedua orang tuanya yang tanpa sengaja meracuni penduduk Dukuh Paruh dengan tempe bongkrek. Sang kekasih, Rasus (Oka Antara), tidak sepaham dengan Srintil. Dia menentang keputusan Srintil untuk menjadi ronggeng. Menjadi ronggeng, berarti Srintil menjadi milik Dukuh Paruk, bukan hanya Rasus seorang. Siapapun yang mampu membayar mahal, mampu 'mencicipi' tubuh Srintil dengan bebas. Sebelum 'buka kelambu' dimulai, Srintil secara sembunyi-sembunyi melepaskan keperawanannya kepada Rasus. Sayangnya ini tidak memiliki arti apapun bagi mereka berdua. Rasus minggat ke kota setelah berhubungan badan dengan Srintil.

Rasa simpati pun tersemat kepada Srintil yang dengan bertanggung jawab menjalani kehidupan sebagai ronggeng sekalipun hati kecilnya menangis dan menginginkan kebebasan. Ketika Rasus mengajaknya untuk melarikan diri, dia menolak. Srintil merasa perlu untuk mengabdi kepada Dukuh Paruh, walau itu berarti harus berpisah dengan orang yang dikasihinya. Sementara itu, Rasus memiliki jalan hidup yang berbeda setelah diterima menjadi tentara oleh Sersan Binsar (Tio Pakusadewo). Intensitas pertemuan dua sejoli ini kian berkurang. Seiring berjalannya waktu, Srintil makin moncer sebagai ronggeng. Akan tetapi bukan ini yang menggerakkan hati Rasus untuk menemui kekasihnya, melainkan ketika Sersan Binsar mengabarkan Dukuh Paruh telah 'merah'. Perlu diingat, Sang Penari mengambil setting di tahun 1960-an, ketika komunis menjadi ancaman utama. Sang sutradara, Ifa Isfansyah, tidak perlu secara gamblang menyebutkan nama PKI karena setting dan aktivitas-aktivitas yang dilancarkan oleh Bakar (Lukman Sardi) telah cukup menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Noda hitam dalam sejarah Indonesia ini dituturkan dengan cukup mendalam, sekalipun Ifa Isfansyah masih terlalu berhati-hati. Bisa dimengerti, terlebih masyarakat Indonesia masih belum siap untuk dicekoki sejarah bangsa yang kelam dengan jelas. Tidak terbayang bagaimana kejamnya LSF dalam memainkan guntingnya apabila permasalahan yang sensitif ini disampaikan secara blak-blakan
.
Kartareja (Slamet Rahardjo) pun tak berkutik. Selama 'bisnis' ronggengnya berjalan dengan mulus, cara apapun dia tempuh. Dengan mudahnya warga Dukuh Paruk masuk dalam perangkap, nihilnya kemampuan baca tulis menjadi penyebab utama. Srintil tak luput menjadi korban. Begitu mendengar kekasihnya ditangkap, Rasus segera mengambil cuti demi menyelamatkan sang pujaan hati. Ifa Isfansyah merangkum novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, menjadi sebuah film yang padat berdurasi 109 menit. Naskahnya yang ringkas tangkas ditangani langsung oleh Ifa Isfansyah beserta sang penulis novel, Ahmad Tohari. Mereka berdua mendapat bantuan dari Salman Aristo dan Shanty Harmayn untuk memolesnya agar lebih cantik. Sang Penari tidak mengadaptasi ketiga novel Ahmad Tohari tersebut secara langsung, plot utama hanya sekadar terinspirasi saja sehingga film ini tidak lebih dari interpretasi dari si pembuat film. Penonton tidak bisa protes ketika bagian yang dianggap penting terpangkas karena bagaimanapun ini adalah penafsiran dari Ifa Isfansyah dan tim penulis naskah.

Ketika Oka Antara bermain nyaris tanpa cela sebagai pemuda desa lugu yang kemudian bertransformasi sebagai aparat negara, Prisia Nasution juga tak kalah gemilangnya berperan sebagai Srintil yang sebatang kara. Permainan cantik mereka berdua menutup performa apik dari barisan aktor pendukung. Untuk sekali ini, Lukman Sardi tak termaafkan. Sementara Oka Antara berusaha mati-matian untuk berbicara Ngapak dengan fasih, Lukman Sardi dan beberapa aktor lainnya terlalu malas untuk memelajarinya. Bahasa Indonesia yang dilogat Jawa-kan masih terdengar dimana-mana, dan ini sangat mengganggu. Tidak adanya penjelasan yang jelas mengenai setting tempat juga menjadi masalah lainnya. Seberapa jauh jarak antara Dukuh Paruk, Pasar Dawuan dan markas tentara tidak terjelaskan hingga akhir film. Beberapa karakter nampak mudah sekali berpindah-pindah tempat, sehingga muncul pertanyaan, apakah ini satu kompleks?. Ifa Isfanyah pun terkesan terlalu terburu-buru untuk mengakhiri film. Ada rasa tidak puas ketika credit title mulai bergulir. Dengan banyaknya permasalahan yang tak terjelaskan, rasanya tak ada yang keberatan jika durasi diperpanjang hingga 20 menit lebih lama. Beruntung adegan terakhir yang cantik hasil bidikan Yadi Sugandi lumayan mengobati kekecewaan. Sepanjang film, Yadi Sugandi bermain-main dengan kamera menghasilkan gambar yang tidak hanya indah tetapi juga efektif. Ditingkahi dengan tata busana cantik buatan Chitra Subiyanto serta tata musik yang menghanyutkan oleh Aksan dan Titi Sjuman sekalipun hanya mengandalkan cello dan denting calung, Sang Penari pun sedap dipandang. Ifa Isfanyah memang masih melakukan cukup banyak blunder di film keenamnya ini, akan tetapi itu tidak menutupi fakta bahwa Sang Penari adalah film Indonesia terbaik di tahun 2011.

Exceeds Expectations

Jumat, 04 November 2011

REVIEW : 5 CENTIMETERS PER SECOND


"A chain of short stories about their distance."

Jepang tidak hanya dikenal sebagai pencetak film horror yang menyeramkan, tetapi juga pusatnya film animasi. Kedua genre ini telah melekat dan menjadi produk unggulan dari Negeri Sakura. Animasi Jepang, atau lebih dikenal sebagai Anime, telah tersohor di berbagai belahan dunia, setara dengan kepopuleran produk dari Amerika Serikat. Tidak hanya versi layar lebar saja yang mendunia, tetapi juga versi serial serta OVA (khusus dirilis dalam bentuk home video). Kekuatan dari anime adalah jalan cerita yang cenderung unik, animasi yang rapi serta penggarapan yang tidak main-main. Meski begitu, kebanyakan anime merupakan adaptasi dari manga (komik Jepang), hanya segelintir yang berani mengusung ide cerita asli. Makoto Shinkai adalah sedikit diantaranya. Nah, di tahun 2007 silam, Makoto Shinkai melalui CoMic Wave Inc. merilis film panjang keduanya yang masih berbau romantisme. Shinkai sensei menulis naskah serta memproduseri sendiri film arahannya yang berjudul 5 Centimeters Per Second ini. Setelah sukses dituangkan dalam bentuk film, 5 Centimeters Per Second lantas diangkat ke novel dan manga.

Shinkai sensei membagi kisah 5 Centimeters Per Second menjadi tiga segmen dimana setiap segmennya berpusat pada seorang tokoh bernama Takaki Tono. Dalam Cherry Blossom, Takaki terpaksa berpisah dengan sahabatnya, Akari Shinohara, karena pekerjaan orang tua Akari menuntut mereka untuk pindah ke kota lain. Setelah setahun berpisah, Takaki memutuskan untuk berjumpa dengan Akari. Reuni ini bukannya tanpa alasan. Takaki akan pindah ke kota yang sangat jauh sehingga kemungkinan Takaki dan Akari untuk berjumpa lagi sangat tipis. Dia ingin bertemu Akari untuk terakhir kalinya. Perjalanan Takaki pun mengalami banyak rintangan yang menguji kesetiaan masing-masing. Memasuki Cosmonaut, kisah bergulir semakin rumit. Takaki yang sekarang sudah kelas 3 SMA harus menentukan masa depannya seusai SMA. Teman sekelasnya, Kanae, menaruh perasaan kepada Takaki sejak pertama kali mereka bertemu di bangku SMP. Setelah beberapa tahun bersama, Kanae masih juga tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Yang menjadi masalah adalah, sekeras apapun Kanae berusaha memberi sinyal, Takaki tidak menghiraukannya. Ada wanita lain yang telah menempati hatinya. 5 Centimeters Per Second menjadi segmen penutup dalam film anime romantis berdurasi 65 menit ini. Segmen ini bersetting di masa kini dan menyoroti perkembangan hubungan Takaki dan Akari setelah mereka memasuki dunia kerja.


Artwork yang tersaji dalam 5 Centimeters Per Second digarap dengan sangat mengagumkan. Adegan hujan salju di segmen pertama, pedesaan Jepang di segmen kedua, dan bunga berguguran di segmen ketiga, tergambar indah dan terkesan nyata. Tata visual yang cantik ini turut didukung dengan para dubber yang melebur dengan karakter masing-masing. Musik gubahan Tenmon turut berperan dalam mengaduk-aduk emosi penonton. Pemilihan lagu lawas dari Masayoshi Yamazaki, 'One More Time, One More Chance', sebagai lagu penutup terasa pas mengiringi montage yang getir. Naskah racikan Shinkai sensei, sekalipun tidak menawarkan sesuatu yang baru, tetap layak dihujani pujian terutama dalam keberaniannya menyuguhkan topik yang berat mengenai kisah percintaan serta ending-nya yang berpotensi menimbulkan kontroversi, terutama diantara para penonton yang mengharapkan 'happily ever after' atau pemecahan yang memuaskan seputar hubungan Takaki dan Akari.

5 Centimenters Per Second menjadi bukti lain bahwasanya anime bukan hanya untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan jalan cerita yang cukup berat, 5 Centimeters Per Second menyasar segmentasi penonton dewasa yang memiliki pemikiran yang lebih terbuka mengenai cinta terlebih Shinkai sensei berusaha menghindarkan film ini dari kesan picisan. Pesan yang ingin disampaikan ternyata sedikit lebih berat dari yang saya kira. Ini bukan mengenai 'kalau jodoh tak kemana' atau cinta lama bersemi kembali, tetapi menyoal bagaimana 'moving on' setelah hubungan di masa lalu kandas. Ketiga segmen dalam film ini pun lebih tepat disebut sendu ketimbang romantis. Bukan film yang tepat bagi yang mencari tontonan romantis yang bikin meleleh. Layaknya film Jepang pada umumnya, 5 Centimeters Per Seconds pun berjalan dengan perlahan dan sunyi. Saat menontonnya, saya merasakan rasa sesak di dalam dada. Penonton pun akan diminta untuk memaknai kembali arti dari cinta, kebahagiaan, dan kedewasaan.

Exceeds Expectations

Selasa, 01 November 2011

REVIEW : REAL STEEL


Di tahun 2011 ini, perfilman Hollywood memberikan cukup banyak kejutan manis kepada para pecinta film. Sekalipun teknologi, khususnya pemanfaatan kamera 3D, semakin berkuasa, beberapa produser tampaknya mulai sadar bahwa mereka tidak akan bisa bertahan jika selamanya bergantung pada teknologi. Beberapa film yang dirilis tahun ini, secara mengejutkan hadir dengan kualitas yang apik. Bahkan banyak diantaranya justru berasal dari film yang sama sekali tidak disangka-sangka. Dari paruh pertama tahun 2011, tersebutlah judul-judul seperti Unknown, Insidious, Source Code, Fast Five hingga Thor, yang sukses mengeruk pundi-pundi dollar serta mencuri hati penonton. Memasuki musim panas, kejutan lain datang. Disamping special effect yang jor-joran dengan bujet raksasa yang digelontorkan oleh produser, dramalurgi mulai diperhatikan. Setelah hingar bingar summer movies berakhir, bukan berarti tidak ada lagi film yang menarik untuk ditonton. Ini saatnya untuk berburu kenikmatan tak terduga lainnya. Dan, saya kembali mendapatkannya melalui sebuah film yang trailer-nya saya cibir, Real Steel. Film yang terinspirasi dari cerpen karangan Richard Matheson bertajuk Steel ini, diarahkan oleh sutradara tak meyakinkan, Shawn Levy, dan didukung oleh Hugh Jackman, Evangeline Lily, Dakota Goyo, dan Kevin Durand. Sebagai komoditas utama di Real Steel adalah para robot petinju. Nampaknya kesuksesan luar biasa dari trilogi Transformers telah membuat robot dianggap sebagai ladang yang menguntungkan di Hollywood.

Di tahun 2020, olahraga tinju telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Tidak ada lagi manusia yang bertarung di atas ring tinju demi memperebutkan gelar sebagai World Boxing Champions. Sebagai gantinya, para robot yang berlaga. Perubahan ini tentu bukannya tanpa alasan. Dengan digantikannya manusia oleh robot, maka pertandingan tinju yang berlangsung akan semakin seru, brutal dan gila-gilaan. Charlie Kenton (Hugh Jackman), mantan petinju hebat di zamannya, beralih profesi menjadi ‘pelatih tinju’ para robot. Dengan modal pas-pasan serta menumpuknya hutang, Charlie berpindah dari satu arena ke arena yang lain bersama robot andalannya, Ambush, untuk menyambung hidup. Ketika Ambush akhirnya hancur, Charlie menghabiskan seluruh tabungannya demi robot lain, Noisy Boy. Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan Noisy Boy, Charlie mendapatkan sebuah warisan dari mantan kekasihnya telah meninggal, seorang bocah berusia 11 tahun bernama Max (Dakota Goyo). Karena merasa tak mampu mengurusnya, Charlie melakukan perjanjian dengan paman dari Max. Selama musim panas, Charlie akan mengurus Max bersama dengan sahabatnya, Bailley (Evangeline Lily). Bisa diduga, hubungan ayah dan anak yang terpisah selama 10 tahun ini tidak berjalan mulus. Ketika Noisy Boy ‘tewas’ secara mengenaskan, Charlie dihadapkan pada pilihan yang sulit. Max menemukan sebuah robot rongsokan bernama Atom yang memiliki kemampuan istimewa. Max melihat potensi Atom sebagai robot petinju yang hebat, akan tetapi dalam pandangan Charlie, Atom tidak lebih dari robot rongsokan.

Sangat mengejutkan ketika saya mengetahui fakta bahwa pembesut film aksi yang emosional ini adalah Shawn Levy, sutradara spesialis film ringan yang telah menghasilkan dwilogi Night at the Museum, Date Night, Cheaper by the Dozen, dan The Pink Panther. Tentu bukan hal yang aneh jika banyak calon penonton yang pesimis dengan Real Steel jika mengintip jejak rekam dari Levy yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam mengarahkan film bergenre aksi fiksi ilmiah. Namun Levy berhasil membuktikan kepada mereka yang skeptis terhadap film arahannya bahwa dia bukanlah sutradara kacangan. Setelah melewati fase sebagai sutradara yang biasa-biasa saja, Levy akhirnya menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya melalui Real Steel yang tak pelak lagi merupakan film terbaik yang pernah dia buat. Real Steel didukung dengan naskah berisi hasil racikan secara keroyokan dari John Gatins, Dan Gilroy, dan Jeremy Leven. Dengan durasi yang terbentang panjang hingga melebihi dua jam, Real Steel tidak hanya menyoroti kebuasan para robot dalam menghabisi lawannya di atas ring tinju. Sisi emosionil dari hubungan personal antar karakter terasa perlu untuk ditonjolkan. Ikatan yang terjalin diantara Charlie dan Max serta Max dan Atom terasa kuat, nyata, indah dan mengharukan. Dipadukan dengan sajian aksi yang menakjubkan, Real Steel telah membuat sang sesepuh, Transformers: Dark of the Moon, terlihat seperti kaleng kosong bekas.

Untuk sekali ini, Hugh Jackman terlihat sangat pas dengan karakter yang dimainkannya. Pesonanya berhasil terpancarkan. Di awal film, saya dibuat kesal dengan tingkah lakunya yang cenderung semau gue dan pengecut, namun ketika menjelang akhir, saat Max dipaksa untuk berpisah dari Charlie, saya berempati kepadanya. Chemistry antara Hugh Jackman dan Dakota Goyo memang sangat meyakinkan, sampai-sampai saya menitikkan air mata di penghujung film. Usaha keras Shawn Levy dan timnya untuk menghasilkan sebuah film fiksi ilmiah berbobot patut mendapat acungan dua jempol. Real Steel dengan sukses turut membawa para penontonnya untuk terlibat secara emosional. Adegan di ring tinju membuat saya dan puluhan penonton yang lain bertepuk tangan setelah menyaksikan pertandingan yang menegangkan. Tidak sedikit pula yang matanya terlihat basah saat meninggalkan gedung bioskop. Segala kekhawatiran yang tercipta saat menyaksikan trailer-nya yang tidak meyakinkan ternyata sama sekali tidak terwujud. Real Steel hadir sebagai sebuah film yang tidak hanya sangat seru tetapi juga mampu mengaduk-aduk perasaan serta memberikan pelajaran yang berharga tentang kehidupan tanpa terkesan menggurui.

Exceeds Expectations

Minggu, 25 September 2011

REVIEW : FINAL DESTINATION 5



"Death doesn't like to be cheated." - Bludworth

Cara paling mudah dalam mengeruk keuntungan dari penjualan tiket bioskop adalah dengan membuat ulang atau melanjutkan sebuah film yang sukses besar di tangga box office. Franchise Final Destination memang bukan tergolong ke dalam franchise yang meraih kesuksesan luar biasa, namun sanggup mencapai Breakeven Point di setiap serinya dan masih menyisakan duit lebih untuk ditabung. Final Destination pertama adalah sebuah sleeper hit di tahun 2000. Di saat film horror remaja pada masa itu didominasi oleh teror pembunuhan berantai, Final Destination menawarkan sebuah ide berbeda yang cukup segar tentang mencurangi kematian. Menerima respon yang positif dari penonton dan beberapa kritikus melayangkan pujian, sudah bisa ditebak jika kemudian Final Destination terus melaju dengan dibuatnya beberapa sekuel. Berbeda dengan Saw yang kualitas penerusnya semakin lama kian menurun, Final Destination berhasil stabil di setiap serinya dan tetap menyenangkan untuk ditonton sekalipun inti ceritanya sebenarnya sama saja. Dengan rentang waktu yang lebih pendek, 2 tahun dari The Final Destination (umumnya tiap seri Final Destination berjarak 3 tahun), Final Destination 5 dirilis. Dikomandoi sutradara anyar, Steven Quale, seri ini menggunakan format 3D seperti prekuelnya yang menjanjikan sebuah tontonan yang lebih seram dan menegangkan.

Dalam sebuah perjalanan bisnis, Sam Lawton (Nicholas D'Agosto) mendapat penglihatan bahwa jembatan yang dilalui oleh bis yang ditumpanginya akan roboh dan menewaskan semua penumpang. Dengan didukung bujet $40 juta, Quale sanggup menampilkan adegan robohnya jembatan dengan cukup rapi. Ditangani dengan cekatan dan tampilan 3D yang sangat nyata, ini menjadi adegan pembuka paling menegangkan dalam seri Final Destination. Saya dipaksa untuk menahan nafas dan rasanya sangat menyenangkan saat mendengar beberapa penonton wanita berteriak ketakutan. Belum apa-apa, adegan kematian yang sadis nan mengejutkan sudah digeber dari sini. Sam yang merasakan keanehan saat bis mencapai jembatan, mulai panik dan meminta penumpang lain untuk turun. Hanya kekasihnya, Molly (Emma Bell), sahabat baiknya yang memiliki wajah mirip Christian Bale, Peter (Milles Fisher), kekasih Peter, Candice (Ellen Wroe), serta beberapa rekan kerja, termasuk atasan Sam, Dennis (David Koechner) yang mengikuti Sam. Benar saja, jembatan roboh beberapa saat setelah mereka turun dari bis dan menewaskan semua penumpang bis. Sam dan ketujuh rekannya yang berhasil selamat tidak begitu saja bisa bernafas lega. Seperti kata Bludworth (Tony Todd), "death doesn't like to be cheated." Satu persatu dari mereka yang selamat pun harus menemui ajalnya dengan cara yang sama sekali tidak disangka-sangka.


Bagi yang tidak menyukai atau tidak tahan tontonan yang penuh dengan darah dan dikemas dengan sadis, maka sebaiknya Final Destination 5 Anda hindari. Quale lebih berani dalam mengumbar adegan-adegan kematian yang sadis ketimbang rekan-rekan pendahulunya. Eric Heisserer yang kebagian jatah untuk menggarap naskah tidak hanya membuat semuanya menjadi lebih berdarah dan sadis semata, namun juga menyelipkan beberapa kejutan. Saya jamin Anda tidak akan bisa menebak bagaimana kedelapan tokoh ini menemui ajalnya. Quale dan Heisserer berhasil mengelabui penonton. Selain satu tokoh yang tewas dengan cepat namun sanggup mengejutkan penonton karena kejadiannya tidak terduga, kematian tokoh-tokoh lain cenderung membuat harap-harap cemas. Lihat saja bagaimana kematian pertama terjadi. Seperti menyaksikan pertandingan sepak bola saat bola sudah berada di dekat gawang dan seorang pemain hendak menciptakan gol tetapi berulang kali tertunda karena berbagai sebab. Persis seperti itulah yang terjadi dilengkapi dengan riuh rendah teriakan histeris penonton yang membuatnya menjadi terasa lebih menegangkan.

Yang patut mendapat apresiasi lebih adalah 3D dari Final Destination 5. Produser Craig Perry ternyata adalah seorang yang 'jujur' karena 3D yang dihasilkan disini benar-benar terasa nyata, bukan tipuan belaka layaknya kebanyakan film Hollywood akhir-akhir ini yang memakai 3D palsu (alias hasil konvert dari 2D, tidak di-shoot langsung dalam 3D). Hasilnya, Anda akan melihat gelimangan darah dan potongan-potongan tubuh menjadi lebih jelas. Segalanya menjadi pop-up. Itulah kenapa jika Anda mudah muntah saat melihat adegan-adegan sadis dan berdarah-darah saya sangat menyarankan agar Anda mengosongkan perut sebelum menyaksikan Final Destination 5. Menonton film ini dalam 3D sambil membawa cemilan sekarung sama sekali bukanlah pilihan yang tepat. Big No No. Setelah Insidious berhasil menghibur saya dengan horror klasiknya yang mencekam, Final Destination 5 pun menyajikan sebuah hiburan yang menyenangkan. Alur yang tidak mudah ditebak, 3D yang nyata, penggunaan special effect yang efektif serta penggarapan yang baik. Inilah film terbaik dari seri Final Destination.

2D atau 3D? Disarankan untuk menontonnya dalam versi 3D karena 3D-nya yang sangat nyata. Final Destination 5 menjadi berkali-kali lipat lebih menegangkan karena faktor 3D. Namun jika Anda tidak menyukai tontonan sadis namun tetap ingin menyaksikan film ini, maka lebih baik pilih versi 2D-nya saja.

Exceeds Expectations