Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

REVIEW : NEGERI 5 MENARA


"Man Jadda Wajada!"

Negeri 5 Menara
memberikan secercah harapan kepada perfilman lokal yang lesu dalam mendulang penonton. Tahun lalu, Surat Kecil Untuk Tuhan yang
dinobatkan sebagai film terlaris tak sanggup menggapai angka 800 ribu penonton. Sungguh memprihatinkan. Berangkat dari sebuah novel laris yang mengumpulkan jutaan pembaca dari berbagai pelosok negeri, Negeri 5 Menara berpotensi mengulang kesuksesan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Jika harapan itu dirasa terlalu muluk-muluk, setidaknya mampu mengimbangi raihan Sang Pencerah. Dikomandoi oleh Affandi Abdul Rachman yang pernah menghasilkan beberapa film apik, Pencarian Terakhir, Heart-Break.com, Aku atau Dia? dan The Perfect House, dan naskah ditangani oleh penulis naskah jempolan, Salman Aristo, film yang mengisahkan tentang perjuangan enam santri di sebuah pondok di Ponorogo ini berpotensi menjadi sebuah tontonan yang berkualitas. Namun tentu saja duo ini mengemban tugas berat mengingat mereka harus memadatkan novel setebal 416 halaman menjadi sebuah film berdurasi 120 menit saja. Apabila mereka sanggup membuat para penggemar novelnya merasa terpuaskan dan penonton yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai novel karya Ahmad Fuadi mendadak tertarik untuk membaca novelnya, maka tujuan berhasil tercapai. Yang menjadi pertanyaan, apakah tujuan tersebut berhasil tercapai?

Affandi Abdul Rachman memulai film dari sebuah desa di pinggir Danau Maninjau dengan memerlihatkan kehidupan Alif (Gazza Zubizareta) yang serba sederhana dengan Amak (Lulu Tobing) dan Ayah (David Chalik). Sekalipun hidup dalam struktur sosial konvensional, Alif dan sahabatnya, Randai (Sakurta Ginting), tidak berpikiran seperti rekan-rekan sebayanya, mereka memiliki mimpi yang tinggi. Alif berniat melanjutkan pendidikan ke sebuah SMA di Bandung, dilanjut dengan memasuki kampus idamannya, ITB. Sayangnya, Amak tidak sepemikiran dengan putra sulungnya ini. Amak menginginkan Alif untuk memasuki pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Pondok Madani. Walau terasa berat harus merelakan mimpinya terkubur, Alif merasa wajib mendengarkan perkataan orang tuanya. Bagaimanapun, orang tua mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya. Ditemani sang Ayah, Alif berangkat mengikuti ujian ke Ponorogo. Hatinya remuk mengetahui keadaan pondok yang jauh dari kesan ideal, belum lagi dengan keharusan mundur setahun demi mengikuti kelas adaptasi. Alif mencoba untuk bertahan, setidaknya hingga tahun pertama berlalu. Surat-surat yang dikirim oleh Randai semakin menggoda iman Alif untuk segera kabur ke Bandung. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Pondok Madani terasa bagaikan rumah kedua yang nyaman bagi Alif terlebih dengan kehadiran Baso (Billy Sandy), Atang (Rizky Ramdani), Said (Ernest Samudera), Raja (Jiofani Lubis), dan Dulmajid (Aris Putra). Mereka berenam kerap berkumpul di bawah menara masjid dan menamakan diri mereka sebagai “Sahibul Menara”.

Tidak seperti Laskar Pelangi yang mempunyai grafik konflik yang tergambar dengan tegas, Negeri 5 Menara cenderung adem ayem dalam bertutur, mengalir dengan tenang bagaikan tengah menaiki sebuah perahu yang melintasi sungai dengan pemandangan yang menyejukkan mata ditemani dengan rekan-rekan yang menyenangkan. Meski tenang tanpa tantangan, perjalanan tersebut tak terasa membosankan. Konflik batin yang dihadapi Alif pun tidak lama-lama dibahas, segera terselesaikan ketika film memasuki menit ke-20. Selebihnya, Affandi Abdul Rachman menyuguhkan tentang suka duka menjadi santri pondok yang sejujurnya cukup membuat saya tergoda untuk menjajalnya. Demi mempertahankan mood penonton, maka dirasa perlu membuat cabang cerita baru. Baso yang tidak terlalu pandai dalam Bahasa Inggris diminta rekan-rekannya untuk mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, atau ketika Alif menjadi wartawan di Koran pondok dan terkesima dengan kecantikan Sarah (Eriska Rein), keponakan dari Kyai Rais (Ikang Fawzi). Ditampilkan secara jujur nan polos, cabang-cabang ini sanggup menggelitik penonton. Kedekatannya dengan kehidupan kita menjadikan Negeri 5 Menara terasa membumi dan lezat untuk disantap. Tertawa geli melihat para santri dihukum oleh Ustadz mereka lantaran telat ke masjid, grogi saat berhadapan dengan santriwati, atau the power of kepepet, ide-ide cerdas yang muncul saat kepepet. Ada dua kemungkinan saat penonton tergelak; heran melihat kelakuan para santri atau pengalaman pribadi.

Namun dari semua itu, Negeri 5 Menara memberikan sebuah mentera sakti bagi siapapun yang ingin mencapai kesuksesan. Di kelas hari pertamanya, Alif dikenalkan dengan mantera “Man Jadda Wajada!” oleh Ustad Salman (Donny Alamsyah), yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Disinilah yang membedakan Negeri 5 Menara dengan film sejenis bertema “zero to hero” yang menyoroti perjuangan siswa dari kampung menjadi orang sukses. Segala sesuatu yang ada di dunia tidak dapat diraih secara instan, butuh perjuangan yang seringkali penuh lika liku. Sahibul Menara memiliki impian untuk menaklukkan dunia. “Kita bikin janji di menara ini, nanti kita akan bertemu dan foto dengan menara kita masing-masing,” kata Baso kepada rekan-rekannya. Impian dari Sahibul Menara tidak diperlihatkan mendadak tercapai begitu saja. Beberapa kali mereka meneriakkan mantra “Man Jadda Wajada” tatkala hati mulai dipenuhi dengan keraguan.

Sekalipun berasal dari sebuah pesantren yang tidak terlalu terkenal, Sahibul Menara tidak segan memiliki impian yang besar. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang bijak, “jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar.” Sayangnya, keterbatasan durasi memaksa Affandi Abdul Rachman memangkas proses perjuangan tokoh-tokoh kesayangan kita ini dalam menggapai sukses. Endingnya muncul secara prematur. Saat layar tiba-tiba menghitam memunculkan nama-nama di jajaran pemain dan kru, secara spontan saya nyeletuk, “gitu doang?”. Endingnya terasa datar dan janggal. Bagaikan tengah menaiki roller coaster yang memacu adrenalin, ternyata kita hanya dibawa dalam satu putaran saja. Tak puas, menginginkan lebih. Pun begitu, Affandi Abdul Rachman dan Salman Aristo telah berhasil menyuguhkan salah satu tontonan terbaik di awal tahun. Lucu, mengharukan, dan inspiratif. Negeri 5 Menara sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Acceptable

Jumat, 02 Maret 2012

REVIEW : THIS MEANS WAR



"Don't choose the better man, choose the man who makes you a better woman." - Trish

Bisa dimafhumi jika calon penonton berpikiran bahwa This Means War adalah sebuah film aksi komedi berbasis spionase apabila menilik dari tampilan poster, trailer, maupun sang pembesut, McG. Tidak keliru memang, hanya saja yang tidak mereka ketahui, ini juga merupakan sebuah film romantis. Tagline-nya yang menyebut “It’s Spy Against Spy” sesungguhnya telah mengindikasikan akan dibawa kemana film ini jika Anda jeli mengam
ati poster terutama pada penekanan kata Spy. Dengan mengintip jejak rekam dari sutradara bernama lengkap Joseph McGinty Nichol, ada baiknya Anda tak menaruh harapan yang muluk-muluk terhadap film ini. Kehadiran Reese Witherspoon dan Tom Hardy tidak menjamin apapun. Jika sejak awal Anda sudah terlanjur memasang ekspektasi yang tinggi, segera turunkan. Jangan mengharapkan sebuah tontonan cerdas menghibur dari sini karena Anda berada di tempat yang salah. This Means War adalah sebuah tempat bagi penonton yang mengharapkan tontonan menghibur tanpa harus memutar otak dengan keras, yang berarti dipenuhi dengan adegan-adegan klise nan bodoh.

Apakah itu berarti This Means War adalah sebuah film yang buruk? Itu tergantung dari sudut mana Anda menilainya. Yang jelas, film buatan McG ini bukanlah jenis film yang dibuat untuk memuaskan kritikus film. Naskah buatan duo Timothy Dowling dan Simon Kinberg cenderung dangkal dan tidak beraturan, namun terbilang lumayan karena masih menyimpan cukup banyak dialog cerdas. Sarat akan adegan yang menghibur, namun jauh dari kesan logis. Akan tetapi tentu saja Anda tidak berharap film ini akan memberikan susunan adegan yang menghindari pelecehan terhadap akal sehat, bukan? Plot utamanya saja sudah menggelikan. Seorang wanita mapan bernama Lauren Scott (Reese Witherspoon) secara tidak sengaja menjalin cinta dengan dua agen CIA, FDR (Chris Pine) dan Tuck (Tom Hardy), yang ternyata bersahabat baik. Terlalu banyak kebetulan. Tapi, hey, film Hollywood mana yang tidak dipenuhi dengan kebetulan, apalagi ini merupakan film komedi romantis dan sutradaranya adalah McG? Maka, ini masih bisa dimaafkan. Niat saya sejak awal terhadap film ini memang hanya sekadar mencari hiburan, jangan heran jika berbagai kelemahan dari This Means War masih bisa saya tolerir.

Pertemuan antara Lauren, FDR dan Tuck dimulai dari sahabat baik Lauren, Trish (Chelsea Handler), yang mendaftarkan Lauren ke sebuah situs kencan online menyusul kekesalan Lauren melihat mantan kekasihnya telah bertunangan. Di saat yang sama, Tuck pun mencoba mendaftar setelah melihat iklan situs kencan online di televisi. Disinilah Lauren dan Tuck berjumpa. Setelah merasa cocok satu sama lain, keduanya memutuskan untuk melakukan kopi darat. Entah sial atau beruntung, beberapa saat setelah Lauren menemui Tuck, secara kebetulan dia bertemu FDR yang menggodanya di sebuah rental video tanpa mengetahui bahwa Lauren adalah teman kencan sahabatnya. Dan, Lauren pun berada dalam posisi sulit. Dia kepincut dengan kedua pria ini. Tidak heran, karena mereka berdua adalah pria-pria yang seksi, menyenangkan, dan mapan. Seandainya Anda adalah Lauren, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan mengikuti langkah Lauren dengan mengencani mereka berdua? Atau Anda memutuskan untuk memilih salah satu pada saat itu juga? Yang Lauren tidak sadari, baik FDR maupun Tuck sama-sama telah mengetahui bahwa mereka mengencani wanita yang sama. Dan ini berarti perang!

Jika ada yang tidak bisa saya terima, maka itu adalah Reese Witherspoon. Jangan salah paham, saya bukan termasuk hater dari mantan istri Ryan Phillippe ini, justru sebaliknya, saya fans berat. Keberadaannya disini terasa tidak pas dilihat dari segi manapun. Setelah memenangkan Oscar berkat akting menawannya di Walk the Line, Reese Witherspoon justru mengalami stagnansi karir dengan memilih peran-peran aman bernada sama. Apa yang membedakan Lauren disini dengan Elizabeth di Just Like Heaven atau Lisa di How Do You Know? Nyaris tidak ada. Chemistry-nya dengan Tom Hardy dan Chris Pine pun kurang meyakinkan. Malahan, bromance antara Hardy dan Pine terasa lebih greget. Seandainya Witherspoon digantikan oleh aktris lain, rasanya tidak akan berdampak apapun terhadap film toh Lauren Scott seakan hanya difungsikan sebagai penggembira oleh tim penulis. This Means War, sekalipun tidak seburuk film-film komedi romantis Witherspoon paska Walk the Line, hanya akan membuat catatan karir Witherspoon terasa tak sedap untuk dipandang.

Acceptable

Jumat, 06 Januari 2012

Short Reviews: ALVIN AND THE CHIPMUNKS 3, JACK & JILL, CONTAGION, THE ADVENTURES OF TINTIN


Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked

Saya tidak habis pikir, dengan buruknya kualitas film kedua, mengapa jutaan orang masih saja berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan kelanjutan dari Alvin and the Chipmunks? Yang membuat saya lebih heran lagi, mengapa saya mau-maunya membuang waktu dan uang yang berharga demi menyaksikan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked? Jika Anda ingin melepaskan penat usai diserbu setumpuk pekerjaan, maka Anda lebih baik menghapus film ini dari daftar film yang ingin Anda tonton jika tak ingin menderita di dalam bioskop. Sungguh, jilid ketiga ini sangat membosankan, menjengkelkan, tak lucu sama sekali, dangkal, dan mudah untuk dilupakan. Ending semakin memperparah segalanya. Ini adalah pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini. (Poor)


Jack & Jill

Jack & Jill adalah sebuah film komedi dengan guyonan yang sangat kasar tanpa tedeng aling-aling, jorok, tak masuk akal, dan bodoh. Sepertinya Dennis Dugan terinspirasi oleh karya-karya The Farrelly Brothers karena aroma komedi mereka tercium cukup menyengat disini. Menyaksikan Jack & Jill bagaikan tengah menyaksikan film-film buatan KK Dheeraj, saya berhasil tertawa habis-habisan karena beberapa adegan yang terlampau tak bisa diterima akal sehat. Bergabungnya Al Pacino dan Johnny Depp dalam Jack & Jill patut dipertanyakan. Apakah bujet yang menggelembung hingga $79 juta sebagian besar lari ke dalam kantong mereka? Karena saya sama sekali tidak percaya jika alasan mereka bergabung dalam film ini disebabkan tertarik dengan naskahnya. (Poor)


Contagion

Film mengenai bencana tidak melulu harus digambarkan melalui sebuah film aksi berbujet raksasa dengan sentuhan efek khusus disana sini, Steven Soderbergh mempunyai caranya sendiri. Menyaksikan Contagion bagaikan tengah menyaksikan salah satu episode dari CSI. Ketegangan dibangun secara perlahan, misteri yang melingkupi dibuka satu demi satu, dan ini semua didukung dengan akting kelas wahid dari barisan pemainnya. Anda mungkin akan dibuat mengantuk dan pusing pada awalnya, terutama jika Anda memilih untuk tidak konsentrasi, namun seiring berjalannya durasi, Contagion kian menarik untuk disantap. Flu yang acapkali dianggap sebagai penyakit ringan, menjadi monster mengerikan disini. Sebuah film cerdas yang rasanya teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Outstanding)


The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn

Fans berat Tintin mungkin saja agak kecewa dengan cara Steven Spielberg menangani The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat Hollywood, tapi itu tak menutupi fakta bahwa ini adalah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Spielberg tahu benar bagaimana cara memanjakan penonton lewat suguhan petualangan yang menegangkan, misteri yang memancing rasa ingin tahu, humor yang menggelitik dan visualisasi yang tersaji dengan indah. Sang pionir dalam motion capture, Robert Zemeckis, agaknya perlu berguru kepada Spielberg yang berhasil menciptakan sebuah film animasi yang luar biasa indah, hidup dan mengasyikkan dalam debutnya di genre ini jauh melampaui pencapaian Zemeckis melalui The Polar Express dan Beowulf. (Exceeds Expectations)

Jumat, 16 Desember 2011

REVIEW : SUNNY


"Teman ada saat masa-masa sulit." - Lim Na-Mi

Film mengenai persahabatan sejumlah gadis ABG sudah jamak dibuat. Dari Indonesia, Ada Apa Dengan Cinta? adalah yang paling populer, menjadi salah satu tonggak kebangkitan perfilman nasional. Baru-baru ini pun kita disodori sebuah film persahabatan dari Thailand yang mendapatkan sambutan hangat pula di Indonesia, Crazy Little Thing Called Love. Ada sebuah benang merah yang bisa ditarik dari kedua film tersebut. Sama-sama menyoal romansa yang memorak morandakan persahabatan. Sebuah plot yang sesungguhnya telah basi tanpa sesuatu yang baru, berulang kali mengalami bongkar pasang dengan sedikit modifikasi disana-sini namun uniknya tidak pernah membosankan untuk disimak. Jika diteliti lebih dekat, sesungguhnya Ada Apa Dengan Cinta? dan Crazy Little Thing Called Love saling bertolak belakang. Film yang satu tentang cewek cantik dari geng populer yang jatuh cinta pada cowok kutu buku, maka yang satu tentang cewek culun yang kesengsem dengan cowok tampan populer. Korea Selatan yang tanpa henti menghasilkan film bermutu dan diprediksi mampu menjelma sebagai pusat perfilman Asia, tak mau kalah. Kang Hyung-chul, pembesut film komedi seru yang laris, Scandal Makers, melahirkan Sunny sebagai tandingan. Secara tema, Sunny tak berbeda jauh dengan dua film di atas. Maka, dimana posisi Sunny diantara Ada Apa Dengan Cinta? dan Crazy Little Thing Called Love?

Sunny tak membicarakan cinta dengan ceriwis layaknya para pendahulu. Dari segi penuturan, Sunny mengingatkan pada Now and Then-nya Demi Moore dengan memakai alur maju mundur yang mencampur begitu saja masa lalu dan masa kini. Kang Hyung-chul tidak pernah memberikan detail yang banyak untuk menggambarkan setting. Petunjuk yang diberikan kepada penonton hanya berupa lagu yang sering diperdengarkan di sejumlah adegan. Saat seorang penyiar radio sekolah menyebut tembang milik Cyndi Lauper, “Girls Just Want to Have Fun” sebagai lagu paling populer kala itu, penonton tentu sudah bisa menebak Sunny mengambil setting di tahun berapa. Film dibuka dengan pertemuan tidak sengaja dari dua sahabat lama, Lim Na-Mi (Yoo Ho-Jeong) dan Ha Chun-Hwa (Jin Hee-Kyung) di sebuah rumah sakit setelah 25 tahun lamanya berpisah. Ha Chun-Hwa mengidap kanker dan usianya diperkirakan tidak melebihi dua bulan. Satu keinginan terakhir yang dititipkan Chun-Hwa kepada Na-Mi sebelum dia tutup usia adalah bertemu dengan anggota “Sunny”, geng yang dipimpinnya kala SMA. Sepanjang kurang lebih 124 menit, penonton diajak untuk mengikuti petualangan Na-Mi dalam mencari anggota Sunny yang lain. Di sela-sela pencarian, masa lalu Sunny diungkap. Na-Mi remaja (Shim Eun-Kyung) adalah siswi pindahan dari sebuah kota kecil di Korea Selatan. Dengan kepribadiannya yang menyenangkan, tidak sulit bagi Na-Mi untuk segera berbaur dengan siswi-siswi lain.


Sekalipun memiliki gaya bertutur yang nyaris serupa dengan Now and Then, kedua film ini jauh berbeda. Now and Then cenderung optimis dalam memandang kehidupan, dibuktikan dengan masa dewasa dari setiap tokoh yang digambarkan mampu menggapai apa yang disebut sebagai American Dreams. Sunny mencoba untuk realistis, yang berarti berjalan suram dan kemungkinan besar akan berjalan tidak sesuai dengan harapan mayoritas penonton. Konflik yang dihadapi oleh Chun-Hwa remaja (Kang So-Ra) pun jauh lebih berat ketimbang Samantha Albertson (Gaby Hoffman). Jika Now and Then adalah versi perempuan dari Stand by Me, maka Sunny adalah versi perempuan dari Friend. Para anggota Sunny tidak dihadapkan pada permasalahan seputar menstruasi, cinta pertama, urban legend, atau payudara yang membesar, tetapi kenakalan remaja. Mereka tidak segan-segan melakukan tawuran dengan geng cewek lain. Ujian persahabatan yang disodorkan oleh Kang Hyung-Chul tidak bersinggungan dengan masalah asmara, melainkan bagaimana mereka menyikapi persoalan internal karena kesalahpahaman atau ketika pihak luar mengintervensi. Romantisme hanya dijadikan sebagai bumbu penyedap saja. Ancaman sesungguhnya bagi Sunny adalah Sang-Mi (Cheon Woo-Hee), teman sekelas mereka yang bermasalah. Rupanya Sang-Mi pernah memiliki masa lalu yang suram dengan Ha Chun-Hwa.

Sunny adalah tipikal film drama Korea kebanyakan yang memulai kisahnya dengan penuh keceriaan, namun seiring berjalannya film menjadi kian suram dan mengharu biru. Tapi, Sunny tidak sesederhana itu. Humornya renyah dan berkelas, tidak jarang pula menjadikan budaya populer Korea sebagai referensi. Konflik yang dihadirkan mengena, menyentuh dan sanggup mengaduk-aduk emosi. Sunny tidak hanya sekadar membawa kita untuk tertawa, tersentuh, dan menangis, tetapi juga menghendaki setiap penontonnya untuk berkontemplasi setelah menyaksikannya. Sesuatu yang jarang ditemukan dalam sebuah film remaja. Seperti sebuah ungkapan, “manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.” Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh Kang Hyung-Chul melalui film yang terinspirasi dari masa remaja sang ibunda ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, 1 minggu kemudian, apalagi 25 tahun kemudian. Adegan yang memerlihatkan Na-Mi dewasa sedang menonton sebuah video yang dibuat ketika dia masih SMA adalah momen paling menyentuh sekaligus menyakitkan dari film ini. Impian gagal terwujud. Prestasi akademik tidak selamanya menjadi penentu kesuksesan di masa mendatang. Na-Mi, Chun-Hwa, dan Jin-Hee (Hong Jin-Hee) membuktikan bahwa kesuksesan seseorang lebih ditentukan pada nasib baik, keberuntungan, dan kerja keras. Saya jadi teringat ketika berkumpul bersama teman-teman seperjuangan di sebuah organisasi kampus. Salah satu dari kami nyeletuk, “seperti apa ya kita di 10 tahun mendatang?”. Only God knows what will happen to us.

Exceeds Expectations

Minggu, 04 Desember 2011

REVIEW : ARISAN! 2


"Teman datang dan pergi. Tapi sahabat sejati, selalu di hati." - Meimei

Saat seseorang menyebut arisan, pikiran kita secara otomatis melanglang buana kepada sejumlah ibu-ibu yang tengah asyik ngerumpi, membicarakan semua hal dengan ceriwis, sok tahu, sinis dan tak jarang, pedas. Arisan merupakan salah satu acara yang paling saya sukai, selain resepsi pernikahan. Bukan arisan ibu-ibu tentu saja, tetapi arisan keluarga. Bertemu sanak saudara, saling melepas rindu, curhat, dan bercanda ria, mampu menghilangkan kepenatan hidup yang seakan tiada habisnya menerjang. Di era dimana nyaris tiada lagi ruang pribadi, arisan telah berkembang menjadi berbagai macam bentuk. Bagi sosialita di Jakarta, arisan mampu bernilai miliaran rupiah hingga tidak terhingga nilainya. Arisan bukanlah merupakan sebuah kebutuhan, melainkan hanya untuk menguatkan eksistensi mereka. Inilah yang mencoba untuk dikulik oleh Nia Dinata melalui Arisan!, delapan tahun silam. Bersama dengan Joko Anwar, Nia Dinata membongkar sisi kelam dari ibukota melalui sudut pandang lain. Bukan mengintip kehidupan masyarakat kelas sosial bawah yang berjuang menggapai impian, tetapi masyarakat kelas atas yang glamor dan bergelimangan harta yang hidup dalam kepalsuan.

Kepalsuan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para sosialita di ibu kota, setidaknya itu menurut Nia Dinata melalui Arisan! 2. Tidak ada yang alami dalam kehidupan mereka, baik itu wajah, ciuman hingga persahabatan. Semuanya palsu, fake. Menarik rasanya melongok kehidupan lima sahabat dari Arisan! menjalani kehidupan sebagai sosialita setelah delapan tahun. Lita (Rachel Maryam) yang menjadi seorang ibu tunggal memutuskan untuk terjun ke ranah politik, Andien (Aida Nurmala) menjanda setelah kematian suaminya dan mencari ‘mangsa’ untuk dinikmati setiap malam, Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) telah berpisah, sementara Meimei (Cut Mini) menyepi ke Lombok. Dalam Arisan! 2, storyline dari Andien dan Lita tidak dijadikan sebagai prioritas utama, malah terasa hanya sekadar sempilan belaka demi memberi ruang lebih kepada Meimei, Nino, dan Sakti. Problematika yang dihadapi oleh Meimei merupakan pokok permasalahan dari Arisan! 2. Sebuah rahasia disimpan rapat oleh Meimei kepada keempat sahabatnya. Kepergiannya ke Lombok bukan hanya untuk menikmati hidup, namun lebih dari itu.


Dipenuhi dengan dialog-dialog cerdas berisi nan menohok, akting yang memukau dan bahasa gambar yang terangkai dengan indah, Arisan! 2 adalah sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton. Kepalsuan ibukota dipaparkan secara gamblang disini. Hanya saja sepeninggal Joko Anwar, Arisan! 2 terasa kurang nyinyir dan sinis dalam urusan mengkritisi kehidupan masyarakat perkotaan zaman sekarang. Pun begitu, naskah olahan Nia Dinata tetap menohok. Beberapa kali saya merasa tertampar dengan dialog-dialog yang diucapkan oleh tokoh-tokoh rekaannya. Sisi kelam Jakarta (atau bahkan malah Indonesia?) dari berbagai tingkatan sosial dan usia diungkap satu persatu dengan gaya yang manis, tanpa adanya kesan menceramahi. Gorengan yang dicampur dengan plastik, suntik botox, kepo, hingga generasi eksis yang merasa perlu apapun dipamerkan melalui situs jejaring sosial. Kekasih Nino yang kemayu, Okta (Rio Dewanto), merupakan perwakilan dari generasi eksis. Citra cowok macho yang melekat pada Rio Dewanto berhasil dilepaskan demi menghidupkan karakter Okta yang kemayu, manja dan menyebalkan. Berulang kali Rio Dewanto berhasil memancing tawa penonton, terlebih karakternya mengingatkan perilaku anak muda zaman sekarang. Setiap momen indah diabadikan, lalu dipamerkan melalui jejaring sosial. Seakan dunia perlu tahu apa yang sedang dia lakukan.

Jika ada yang menyebut Arisan! 2 sebagai versi Indonesia dari Sex and the City 2, maka itu sangat bisa dimaklumi. Pameran busana yang glamor, mewah, dan penuh warna tersebar di sepanjang film. Nia Dinata pun tidak memberikan asupan konflik yang mencukupi. Konflik yang dihadapi oleh Meimei dan keempat sahabatnya dihadirkan dengan sangat ringan, kelewat ringan malah. Bahkan untuk sekali ini, Nia Dinata lebih senang mengajak grup rumpi ini jalan-jalan ketimbang asyik bergosip dalam arisan. Ya, sekalipun masih memakai judul Arisan!, kegiatan arisan sedikit sekali dimunculkan. Nyaris tidak ada. Beruntung Nia Dinata tidak melakukan blunder yang sama dengan Michael Patrick King yang justru mengeksploitasi sekumpulan wanita tidak sadar umur dalam perjalanan tanpa tujuan yang jelas. Para pemain tetap solid. Mereka telah melebur dengan karakter masing-masing. Tujuan ke Gili Trawangan pun didasari motif yang kuat. Sekalipun Nia Dinata kurang berhasil untuk mengoneksikan penonton dengan perjalanan spiritual Meimei secara emosional yang seharusnya menjadi poin penting dari Arisan! 2, Nia Dinata mampu menyuguhkan sebuah tontonan yang menghibur. Agaknya Nia Dinata hanya ingin mengajak kita bersenang-senang tanpa perlu memikirkan jalan cerita yang berat dan berfilosofis.

Exceeds Expectations

Sabtu, 03 Desember 2011

REVIEW : POCONGGG JUGA POCONG


"Cinta itu seperti kentut. Ditahan sakit, dikeluarin malu." - Dimas

Mengapa industri perfilman Indonesia memiliki obsesi yang berlebihan terhadap makhluk bernama pocong? Entah sudah berapa ratus judul film tentang pocong yang telah dibuat di Indonesia. Baik itu yang digarap dengan serius, biasa-biasa saja hingga semrawut tidak karuan. Bagi pelaku perfilman di Indonesia, pocong merupakan komoditas panas yang sangat dipuja karena mampu mempertebal isi dompet. Seandainya saja pocong bisa menuntut, maka ratusan orang akan digiring ke meja hijau. Eksploitasi terhadap pocong semakin lama semakin tidak bisa diterima. Makhluk ini telah kehilangan wibawanya di hadapan jutaan umat manusia. Bahkan, pocong pun sekarang merambah ke dunia maya dan dunia tulis menulis. Nah lho! Pocong atau @poconggg yang eksis di jagad jejaring sosial, sama sekali tidak menyeramkan. Cenderung konyol malah. Kicauannya diikuti jutaan pengguna Twitter. Pocong masa kini ini digandrungi remaja karena kicauannya yang lucu dan seringkali mewakili isi hati pengikutnya. Setelah sukses dengan akun jejaring sosial, @poconggg atau Arief Muhammad, menjajal dunia tulis menulis melalui sebuah novel berjudul Poconggg Juga Pocong, yang menjadi cikal bakal munculnya film berjudul sama. Jujur saja, saya tidak pernah tertarik untuk mengikuti kicauan dari @poconggg. Namun ketika novelnya dilempar ke pasaran, saya penasaran. Seperti apa sih isi novel paling fenomenal saat ini? Tidak perlu dibahas panjang lebar, yang pasti tidak menarik sama sekali. Meminjam istilah anak muda zaman sekarang, garing dan jayus. Pun begitu, saya mengakui idenya lumayan kreatif.

Saat Maxima Pictures berniat untuk menuangkan tulisan Arief Muhammad ke dalam layar lebar, belum apa-apa saya sudah pusing. Terlebih Maxima menggandeng Chiska Doppert, anak emas dari Nayato Fio Nuala. Mereka memiliki jejak rekam yang kurang bagus di industri. Untuk urusan skenario, Maxima menyerahkannya kepada sang penulis novel, Arief Muhammad, dan dibantu oleh Haqi Ahmad, dengan harapan film tidak terlalu melenceng dari novel. Pertanyaan yang timbul sekarang, bagaimana Poconggg Juga Pocong diperlakukan oleh Chiska Doppert? Secara garis besar, Poconggg Juga Pocong bertutur mengenai kisah cinta dua anak muda yang tidak bisa bersatu lantaran berbeda dunia. Dunia dalam arti sesungguhnya. Dalam perjalanan pulang setelah menonton di bioskop, Dimas (Ajun Perwira) berniat untuk mengutarakan isi hatinya kepada Sheila (Saphira Indah). Sayangnya kedua belah pihak masih malu-malu untuk mengakui yang sebenarnya. Sebuah kesalahpahaman pun tercipta yang berujung kepada kecelakaan naas yang menewaskan Dimas. Di alam baka, Dimas berubah wujud menjadi pocong. Dia berkenalan dengan Kuntilanak Bondol (Nycta Gina) dan geng pocong keren pimpinan Anjaw (Rizky Mocil). Berpindah ke alam lain ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas kepada Sheila. Dimas berniat untuk menyatakan cintanya. Ketika mengetahui Sheila didekati oleh Adit (Guntur Triyoga), Dimas galau setengah mati. Kunti yang selalu setia menemani Dimas dalam perjuangannya mendekati Sheila mencoba mengingatkan, bagaimanapun Dimas dan Sheila tidak akan pernah bisa bersatu karena alam mereka berdua sudah jauh berbeda. Satu-satunya cara untuk mendamaikan hati adalah dengan mengikhlaskan. Namun Dimas pantang mundur, sebelum dia bisa menyatakan cintanya kepada Sheila.

Mengadaptasi bukanlah perkara mudah. Ini bukan hanya mengenai memindahkan tulisan dari sumber asli ke bentuk baru secara utuh. Diperlukan pula sedikit bumbu disana sini dan penyesuaian dengan medium baru sehingga hasil akhir mampu diterima oleh masyarakat. Itulah mengapa film adaptasi dari karya sastra seringkali sedikit berbeda dengan sumber yang diadaptasi. Ketika dipaksakan untuk sesetia mungkin dengan sumber, maka yang terjadi adalah Poconggg Juga Pocong the Movie. Naskah yang diolah Arief Muhammad dan Haqi Ahmad nyaris tidak memiliki perbedaan dengan versi novel. Ini menjadi masalah lantaran versi novel tidak memiliki kronologi alur yang jelas dan seringkali melompat kesana kemari bak pocong kepanasan. Dan ini terjadi pula dalam film. Beberapa kali saya menemukan adegan yang tidak memiliki keterkaitan dengan adegan sebelum atau sesudahnya. Humornya pun masih tetap kriuk kriuk, garing bukan kepalang. Susah sekali untuk tertawa terbahak-bahak sepanjang 78 menit. Bukankah film komedi itu seharusnya mampu mengundang tawa renyah penonton? Jika gagal, siapa yang patut dipersalahkan? Sejumlah adegan yang difungsikan untuk memicu tawa, malah berakhir hambar dan tak membekas. Beruntung, tim memiliki Nycta Gina. Ketika Ajun Perwira dan Rizky Mocil membuat saya mengernyitkan dahi, Nycta Gina dengan luwes mencuri perhatian. Dia paham betul apa yang seharusnya dia lakukan.

Dunia absurd rekaan Arief Muhammad ini mampu diterjemahkan ke dalam bahasa visual dengan cantik oleh Chiska Doppert. Harus diakui sutradara yang sempat dikira sebagai alter ego dari Nayato Fio Nuala ini memang mengalami kemajuan yang cukup baik disini. Untuk sekali ini, Chiska Doppert beruntung ketiban naskah yang digarap cukup baik, sekalipun memiliki masalah dalam konjugasi. Ketika komedi yang diluncurkan ternyata gagal meledak dengan dahsyat, maka sisi romantis pun menjadi tumpuan harapan. Ajaibnya, Poconggg Juga Pocong malah lebih terasa sisi romantisnya ketimbang komedinya. Terima kasih kepada Ian Aprianto atas sinematografi indahnya. Momen-momen indah Dimas dengan Sheila berhasil terekam dengan baik, begitu pula ketika Dimas menyaksikan Sheila sedang asyik berduaan dengan Adit. Romantis, getir, tapi tetap konyol. Yang cukup disayangkan, Ajun Perwira gagal menghidupkan karakter Dimas baik ketika masih menjadi manusia maupun setelah bertransformasi menjadi pocong. Nyaris tidak ada emosi. Simpati penonton pun gagal tertanam kepada Dimas. Poconggg Juga Pocong juga tidak memberikan latar belakang yang jelas terhadap tokoh-tokoh inti, terutama Dimas. Kita hanya mengetahui sedikit biodatanya melalui batu nisan, sementara Sheila hanya diperlihatkan memiliki rumah yang megah. Pondasi naskah akan terasa lebih kokoh seandainya Chiska Doppert dan tim lebih memperhatikan hal ini. Sekalipun demikian, Poconggg Juga Pocong secara mengejutkan ternyata cukup menghibur bagi saya. Setidaknya bayang-bayang kelam terhadap Kambing Jantan the Movie seketika sirna. Komedinya memang kurang berhasil memancing tawa renyah, akan tetapi atmosfir romantis dapat diciptakan dengan baik.

Acceptable

Minggu, 18 September 2011

REVIEW : THE HANGOVER PART II


"There is a reason its called Bangkok, sweetie." - Kimmy

Setelah sukses mengumpulkan pundi-pundi sebanyak $467 juta dari peredaran seluruh dunia dan piala Golden Globe untuk Film Komedi/Musikal Terbaik dari hasil mengobrak abrik kota dosa, Las Vegas, kali ini The Wolfpack kembali mengunjungi layar lebar dengan petualangan yang tentunya diharapkan lebih gila dan tak bermoral dari sebelumnya. Sasaran empuknya tidak lagi Las Vegas, bahkan mereka juga tidak lagi berada di Amerika Serikat. Melanglang buana sejauh puluhan ribu kilometer, Thailand menjadi korban selanjutnya. Di Negeri Gajah Putih ini, The Wolfpack siap menebarkan ranjau-ranjau. Tim sukses dari The Hangover beberapa masih dipertahankan untuk menceriakan suasana. Todd Phillips ditunjuk kembali sebagai nahkoda utama, sementara Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, Justin Bartha dan Ken Jeong juga kembali hadir. Heather Graham yang difungsikan sebagai pemanis di film sebelumnya absen hadir dan digantikan oleh Jamie Cheung yang berperan sebagai tunangan Stu (Ed Helms). Dengan dukungan dari tim sukses yang kurang lebih sama, The Hangover Part II siap untuk meledakkan bioskop dengan candaan fisik dan humor-humor kasar nan jorok yang lebih 'mengerikan'.

"It happened again!," teriak Phil (Bradley Cooper) saat terbangun dalam keadaan tidak karuan di sebuah hotel kumuh di Bangkok, Thailand. Kondisinya sama persis seperti dua tahun lalu di Las Vegas, hanya saja kali ini semakin gila. Phil, Stu, dan Alan (Zach Galifianakis) tidak ingat apa yang telah terjadi semalam. Sebelumnya, mereka berada di sebuah resor mewah dalam rangka merayakan pernikahan Stu, namun kemudian mereka terbangun di sebuah hotel kumuh yang berantakan. Apa yang telah terjadi? Jika dalam film sebelumnya ada harimau dan bayi, maka kali ini digantikan oleh seekor monyet cerdas dan Leslie Chow (Ken Jeong), seorang kriminal lucu yang menghebohkan The Hangover. Stu tidak kehilangan giginya, namun hadir tato yang mirip dengan milik Mike Tyson di kepalanya, dan Alan kehilangan rambutnya alias gundul. Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah besar karena bisa saja mereka bertiga hanya tinggal meninggalkan hotel tersebut dan kembali ke resor. Hanya saja, The Wolfpack tidak sendirian. Mereka membawa serta Teddy (Mason Lee), calon adik ipar Stu, dan Teddy menghilang! Jika Stu tidak bisa menemukan Teddy, maka tamat sudah riwayatnya terlebih Teddy adalah anak kesayangan ayah mertuanya. Bisa-bisa pernikahan Stu dan Lauren (Jamie Chung) terancam dibatalkan.


Maka, The Hangover Part II ini adalah mengenai petualangan The Wolfpack menelusuri gang-gang sempit di Bangkok dalam usahanya menemukan Teddy. Karena ini adalah sebuah sekuel, tentu Todd Philips tidak akan bersantai ria menikmati perjalanan ke Thailand. Dosis kegilaan harus ditambahkan hingga titik klimaks. Phillips turun tangan sendiri mengurus naskahnya dan dia mengajak duo penulis yang telah menghasilkan naskah untuk film-film sinting, Scot Armstrong dan Craig Mazin, untuk membantunya memoles naskah hingga menjadi tak karuan tingkat kebodohannya. The Hangover Part II pun menjelma menjadi sebuah tontonan tak berotak yang penuh dengan kegilaan dan sangat ngawur sejak menit pertama hingga ending. Pada dasarnya, film ini tak dimodali ide cerita yang luar biasa karena apa yang dituturkan disini hanyalah copy paste dari prekuelnya dengan kegilaan yang dilipatgandakan. Tak ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan, tapi jelas masih efektif untuk mengundang tawa renyah penonton. Misteri kemana menghilangnya Teddy pun sejatinya sudah bisa ditebak sejak awal, sehingga untuk membuat penonton betah duduk di kursi hingga menit terakhir murni mengandalkan petualangan gila The Wolfpack.

Siapapun yang telah menyaksikan The Hangover tentu mengerti bahwa untuk bisa menikmatinya berarti harus menyingkirkan logika akal sehat untuk sejenak. Dalam The Hangover Part II, segalanya menjadi semakin tidak masuk akal saja. Jika Anda menginginkan adegan-adegannya relevan dan masuk akal, ada baiknya film ini dihindari. Tujuan Phillips jelas, menghadirkan sebuah tontonan yang mampu membuat penontonnya tertawa tiada henti. Komedinya tidak lagi secerdas prekuelnya, karena disini Phillips lebih banyak bermain-main dalam area slapstick. Ketololan Alan yang dikisahkan semakin menjadi jadi dan porsi Ken Jeong yang diperbesar adalah sarana efektif, kalau tidak mau disebut murahan, untuk memancing tawa. Meskipun The Hangover Part II tetap menjadi sajian hiburan yang menyenangkan, namun kesegarannya menjadi jauh berkurang karena faktor copy paste tadi. Apa yang akan terjadi selanjutnya menjadi mudah ditebak. Padahal yang membuat The Hangover jilid pertama terasa lezat adalah komedinya yang berisi dan banyaknya kejutan. Semoga saja di sekuelnya nanti, yang menurut rencana akan menjadi jilid penutup, Phillips dan tim tidak melakukan kesalahan yang sama. Sungguh disayangkan sekali karena The Hangover Part II ini bisa berpotensi menjadi film yang lebih sinting dan menyenangkan seandainya tidak terjadi pengulangan plot.

Acceptable


Jumat, 26 Agustus 2011

REVIEW : TENDANGAN DARI LANGIT



"Indonesia itu jagonya main di kandang sendiri. Kalo di kandang lawan? Mandul!! " - Mitro



Film Indonesia yang dirilis menjelang libur Lebaran rata-rata memiliki kualitas yang apik dan dapat dipertanggungjawabkan. Tahun ini pun tidak berbeda jauh. Tendangan Dari Langit, film kedua dari Hanung Bramantyo di tahun 2011 ini, langsung mencuri hati saya. Sebagai sebuah film olahraga, Tendangan Dari Langit masih menerapkan plot yang klise. Seorang remaja miskin dari desa yang ingin menjadi pemain sepak bola, sang ayah yang tidak memberi restu, kisah cinta dengan gadis tercantik di sekolah yang tidak berjalan mulus, hingga sahabat yang setia mendukung dan difungsikan sebagai pelawak. Struktur semacam ini sering kita temui dalam film olahraga manapun, termasuk King dan Garuda di Dadaku dari Indonesia. Apa lagi yang bisa ditawarkan? Rasanya kebanyakan penonton pun tertarik untuk menyaksikan film ini karena faktor Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Skenario racikan Fajar Nugroho memang bertutur sangat sederhana dan klise, namun secara mengejutkan tetap efektif. Hanung Bramantyo mengemasnya dengan menarik, sekaligus sebagai sebuah pembuktian kepada khalayak luas bahwa dia adalah sutradara yang serba bisa. Film olahraga pun bukan menjadi masalah besar baginya.



Jangan tertipu dengan tampilan posternya yang seolah mengisyaratkan bahwa Bachdim-lah yang menjadi pemain utama disini. Bachdim tampil tak lebih dari 30 menit dan itupun hanya baru muncul di paruh akhir. Pemain baru, Yosie Kristanto, yang berperan sebagai Wahyu adalah sentral dari film ini. Dia adalah sebuah karakter stereotip dari film olahraga. Berasal dari sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Bromo, Langitan, dan memiliki bakat yang besar terhadap sepak bola. Mungkin saja bakat besar dari Wahyu hanya akan tertutupi oleh debu pasir Bromo jikalau Pak Lek Hasan (Agus Kuncoro), seorang manajer sepak bola amatiran, tidak memintanya untuk bermain bagi klub kecamatan Karang Sari. Sang ayah, Pak Darto (Sudjiwo Tejo), diposisikan sebagai sebuah karakter antagonis bagi impian Wahyu karena beliau tidak mengizinkan putra kesayangannya itu bermain bola. Tapi tentu saja larangan itu bukan tanpa suatu alasan. Masa lalu yang kelam membuatnya terpaksa untuk menghalangi Wahyu meraih mimpinya. Sekeras apapun Pak Darto melarang, Wahyu tak gentar. Pertemuan secara tak sengaja dengan Timo Scheunemann di Malang kala hendak mendukung gadis yang disukainya di lomba debat menjadi titik terang.







Segalanya tidak lantas menjadi mudah sekalipun Pak Darto kemudian berbalik mendukung Wahyu sepenuhnya. Kisah cinta monyet Wahyu dengan Indah (Maudy Ayunda) turut merumit. Saat semua permasalahan ini menemukan jalan pemecahannya sendiri-sendiri, Hanung mengakhiri Tendangan Dari Langit dengan sebuah adegan pertandingan sepak bola yang gegap gempita. Bukan sebuah pertandingan palsu yang hanya menyorot para pemain utama dan sebagian penonton saja, Faozan Rizal memindahkan apa yang biasa kita saksikan secara live di stadion dan televisi ke dalam bentuk tayangan untuk layar lebar. Sekalipun hanya sebuah fiksi, efek dramatis nan menegangkan yang biasa kita alami saat menyaksikan pertandingan sepak bola bisa ditemukan disini. Secara tidak sadar Anda akan turut berteriak 'Gol!!!' dan bertepuk tangan dengan meriah saat pahlawan kita berhasil mencetak angka. Dengan durasi yang hampir mencapai dua jam, film berjalan dengan menghibur. Tak sekalipun ditemukan momen yang membosankan. Drama, komedi dan adegan pertandingannya yang seru ditakar dengan pas sehingga menghasilkan sebuah film yang gurih.



Naskah apik dari Fajar Nugroho yang banyak disisipi dengan dialog cerdas nan menggelitik yang khas Jawa Timuran serta kritik sosial yang acapkali menyinggung bobroknya manajemen sepak bola di negeri kita tercinta ini ditingkahi dengan akting apik dari para pemainnya. Agus Kuncoro, Sudjiwo Tejo, Toro Margens dan Yati Surachman menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor papan atas dengan permainan yang layak mendapat acungan dua jempol. Yosie Kristanto pun tak membuat malu Hanung Bramantyo. Kehadiran Joshua Suherman dan Jordi Onsu yang ditempatkan di gardu penghibur masih dalam batasan yang wajar, justru tanpa kehadiran mereka film mungkin akan terasa sepi. Selain menawarkan adegan pertandingan yang terbilang epik untuk ukuran film Indonesia, Faozan Rizal tentu tak lupa mengeksplor keindahan alam Bromo. Tampilan visual Tendangan Dari Langit lebih cantik dan memesona ketimbang King. Rasa kekecewaan saya terhadap film-film terakhir buatan Hanung Bramantyo pun terbayarkan. Nyatanya sebuah film dengan ide sederhana malah justru lebih bermakna ketimbang film besar yang ambisius. Pesan untuk tidak pernah menyerah terhadap mimpi kita walaupun berbagai cobaan mendera tersalurkan dengan baik melalui sebuah film keluarga yang dibungkus sederhana namun cantik. Tendangan Dari Langit adalah sebuah pengalaman sinematik yang menyenangkan.



Exceeds Expectations

Sabtu, 20 Agustus 2011

REVIEW : KUNG FU PANDA 2



"The only thing that matters is what you choose to be now." - Po



Apa yang membuat Kung Fu Panda menjadi begitu istimewa hingga film pertamanya bisa mengeruk $631 juta dari peredaran di seluruh dunia padahal film animasi ini mengandalkan formula yang sama seperti kebanyakan animasi lainnya, hewan yang bisa berbicara dan kisah tentang zero to hero? Keputusan pintar tim penulis skenario menggabungkan ide klise ini dengan martial art menjadikannya menarik. Saat menyaksikan Panda, kita seakan sedang menyaksikan film kung fu lawas, namun dalam bentuk animasi dan lebih komikal. Aksi Po (Jack Black) juga sedikit banyak mengingatkan saya pada Stephen Chow di Kung Fu Hustle. Namun ternyata saya tidak berhasil klik dengan film animasi bikinan pesaing Pixar, DreamWorks, ini. Saya masih lebih menyukai Shrek dan Shrek 2 yang menurut saya jauh lebih menghibur. Saat sekuelnya dilempar ke pasaran, saya tidak begitu antusias untuk menyaksikannya. Namun melihat respon positif dari para kritikus sedikit banyak membuat saya penasaran. Ekspektasi rendah dipasang untuk Kung Fu Panda 2, demi menghindari kekecewaan. Secara mengejutkan, Panda 2 ternyata sukses mencuri hati saya. Melebihi dari apa yang saya harapkan terhadap film ini.



Saat kebanyakan sekuel cenderung hanya merupakan pengulangan dari film sebelumnya, Kung Fu Panda 2 mengeksplor lebih dalam dari apa yang telah diceritakan di prekuelnya. Sutradara debutan, Jennifer Yuh Nelson, beruntung dibekali naskah yang kuat untuk film perdananya ini. Panda 2 memiliki tokoh jahat yang mematikan, meskipun kemampuan bela dirinya tidak begitu hebat. Shen Long (Gary Oldman), seekor merak yang gila kekuasaan, menggunakan senjata api untuk menaklukkan China. Ketika Soothsayer (Michelle Yeoh) meramalkan bahwa akan ada ksatria berkulit hitam dan putih yang mengalahkannya, Shen pun membasmi seluruh populasi panda yang ada di China. Shen digambarkan ahli dalam melontarkan belati, persis seperti pemain sirkus. Penampilannya cantik, namun terlihat angkuh. Jika dilihat sekilas, Shen bukanlah tandingan yang sepadan bagi Po, Tigress (Angelina Jolie), Mantis (Seth Rogen), Viper (Lucy Liu), Monkey (Jackie Chan), dan Crane (David Cross). Senjata ciptaannya lah yang menjadi lawan sesungguhnya bagi The Furious Five. Selain kisah epik mengenai pertarungan penuh dendam, penonton juga diajak untuk menyelami masa lalu dari Po.





Tentu Anda tidak benar-benar berfikir bahwa ayah kandung Po adalah Mr. Ping (James Hong) yang merupakan seekor angsa, bukan? Dalam sebuah kilas balik yang dimunculkan dalam bahasa gambar yang sangat cantik, terungkap fakta mengenai orang tua Po. Penjelasan singkat ini rupanya efektif untuk membuat mata berkaca-kaca. Jika dalam prekuelnya penuh dengan kegilaan, maka sekuel ini tampil lebih kelam. Apakah ini karena pengaruh bergabungnya Guillermo del Toro dan Charlie Kaufman? Bisa jadi. Adegan-adegan pemancing tawa tentu masih banyak disisipkan disana sini, akan tetapi intensitasnya jauh berkurang. Kung Fu Panda 2 lebih serius dalam bertutur. Plot utama mengenai pemimpin lalim, Shen Long, yang epik disampaikan dengan sedikit seram (untuk penonton cilik) sementara kisah masa lalu Po lebih mengharu biru. Justru inilah yang membuat saya menyukai Kung Fu Panda 2. Film ini hadir dalam paket yang komplit dengan kombinasi antara drama yang menyentuh, aksi yang seru serta komedi yang segar. Koreografi pertarungannya lebih menarik dan menegangkan ketimbang sebelumnya. Aksi Furious Five saat menyergap istana Shen sanggup membuat saya menahan nafas.



Poin paling positif yang membuat saya berdecak kagum adalah animasinya yang terlihat sangat halus dan mulus. Nyaris sempurna. Konon, setiap bulu Po ini di-render dengan susah payah. Bayi Po membuat para penonton dengan serempak berkata "imut banget!" Ya, setelah menyaksikan Panda 2, saya jadi ingin memelihara seekor panda. Kemajuan dalam animasi tidak hanya ditampilkan melalui sosok Po, tetapi juga diwujudkan dalam tampilan hujan, pemandangan alam pedesaan di China serta pertarungan di istana. Semua ini akan terasa lebih menakjubkan jika disaksikan dalam bentuk 3D. Seperti halnya dalam tradisi film animasi DreamWorks, bintang-bintang terkenal pun dikerahkan untuk menyumbang suara. Jack Black, Gary Oldman dan Dustin Hoffman (sebagai Master Shifu) sanggup menyatu dengan tokoh yang mereka suarakan. Sementara Jackie Chan dan Jean-Claude Van Damme sepertinya dipanggil hanya untuk menaikkan gengsi film. Seandainya digantikan oleh dubber lain pun tak masalah, rasanya hanya sedikit yang mengenali suara Chan dan Van Damme di film ini. Menjelang akhir, tanda-tanda akan hadirnya sekuel mulai nampak. Setelah kepuasan yang saya dapatkan ketika menyaksikan hiburan yang menyenangkan dari Kung Fu Panda 2 ini, maka Kung Fu Panda 3 sangat saya nantikan. Semoga saja franchise Panda ini tidak bernasib sama dengan franchise Shrek yang semakin lama semakin mengecewakan.



Exceeds Expectations

Minggu, 07 Agustus 2011

REVIEW : HELLO GHOST


Bersyukurlah bagi Anda yang dibesarkan dan tinggal dalam keluarga yang harmonis dan penuh cinta. Itu merupakan suatu nikmat yang patut disyukuri. Ada berjuta-juta orang di luar sana yang tidak bisa merasakan kasih sayang dari keluarga. Percaya atau tidak, mereka akan melakukan apapun demi bisa merasakan kehangatan keluarga. Keluarga adalah harta yang paling besar dan tak ternilai harganya, seburuk apapun keluarga tersebut. Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh sineas merangkap penulis skenario, Kim Yeong-tak, dalam film pertama buatannya, Hello Ghost. Sebuah komedi drama yang sangat menyentuh dengan pesan universal mengenai keluarga. Cha Tae-hyeon yang angkat nama lewat My Sassy Girl dan belakangan semakin menanjak popularitasnya berkat Sad Movie, My Girl and I, Highway Star dan Speedy Scandal, didapuk menjadi pemeran utama sekaligus mengurusi departemen musik. Kali ini Cha Tae-hyeon memerankan seorang pemuda yang mengalami kekosongan dalam hidupnya. Menjalani hidup adalah suatu hal yang sulit, terlebih tanpa adanya keluarga di sekitarnya. Bahkan dia sendiri tidak ingat pernah memiliki keluarga.

Karena sebab itulah, Cha Tae-hyeon atau Kang Sang-man memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Malangnya, Tuhan masih belum mengizinkan Kang Sang-man untuk menemui-Nya. Berbagai percobaan untuk bunuh diri berakhir dengan kegagalan. Sebagai konsekuensi dari perbuatannya, Kang Sang-man 'diizinkan' untuk melihat hantu. Tidak semua hantu, tetapi hanya empat hantu. Suatu hal yang sangat menyebalkan bagi Sang-man. Keempat hantu ini; hantu wanita yang selalu menangis, hantu perokok berat, hantu kakek, dan hantu bocah, memang sama sekali tidak menyeramkan, namun sangat merepotkan. Untuk mengusir mereka, menurut seorang cenayang, dia harus memenuhi permintaan setiap hantu. Permintaan mereka sangat sederhana. Meskipun Sang-man awalnya cenderung tak ikhlas melakukan ini semua, perlahan tapi pasti dia mulai merasakan bahwa para hantu ini ternyata memberi energi positif. Selain memertemukannya dengan seorang perawat cantik, Jeong Yeon-soo (Kang Ye-won), gaya hidup Sang-man pun berubah total. Dia memelajari banyak hal baru. Gairah untuk menjalani hidup pun tumbuh.


Satu lagi sebuah film yang indah datang dari negeri gingseng. Tanpa diduga, Hello Ghost menyajikan sebuah kisah yang sangat menarik dan menyentuh. Sekitar satu jam pertama Yeong-tak mengajak kita untuk berkenalan dengan setiap hantu yang mengikuti Sang-man sekaligus memperlihatkan usaha dari Sang-man untuk menaklukkan hati Yeon-soo. Pada bagian ini, saya susah untuk menahan tawa. Dengan melihat penampilan para hantu saja sudah membuat tertawa ngakak. Perhatikan bagaimana saat hantu kakek dengan ekspresi wajah yang unik itu 'meminjam tubuh' Sang-man. Cha Tae-hyeon sekali lagi bermain mengesankan. Aktor berbakat ini memang sangat cocok bermain di ranah komedi. Interaksinya bersama para hantu diwujudkan dalam bentuk yang komikal dan pastinya akan sulit bagi Anda untuk tidak tertawa. Skrip buatan Yeong-tak sungguh rapi. Bobot dialognya dalam takaran yang pas dan humornya, meski terkadang cukup klise dan slapstick, tidak terkesan dipaksakan. Namun yang menjadi kredit tersendiri adalah kemahirannya dalam mengolah alur dengan cerdik sehingga akhir cerita tidak mudah ditebak.

Sebenarnya memadukan komedi yang segar dengan drama yang menyentuh bukanlah sesuatu yang baru di perfilman Asia, khususnya Korea Selatan. Akan tetapi apa yang disuguhkan oleh Yeong-tak saat menuju akhir film cukup mengecoh saya yang sedari awal melakukan tebak-tebak manggis. Bagi Anda yang mudah terharu saat menonton film, sangat disarankan untuk menyiapkan tissue sebelum menyaksikan film ini. Apa yang dihadirkan di menit-menit terakhir sungguh membuat dada terasa sesak. Hello Ghost, dengan caranya yang cerdas dan efektif, telah mengajarkan saya untuk lebih menghargai keluarga. Sempat terjadi debat yang sangat panas antara Sang-man dengan Yeon-soo mengenai arti pentingnya sebuah keluarga. Mereka memiliki pandangan yang bertolak belakang. Yeon-soo digambarkan sebagai pihak apatis. Belakangan setelah sang ayah wafat, Yeon-soo tersadar. Apa yang dikatakan oleh Sang-man benar adanya. Sayang sekali, penyesalan memang selalu datang terlambat. Yeong-tak pun mengakhiri Hello Ghost dengan manis. Saya sama sekali tidak menduga jika film dengan ide cerita yang terkesan konyol ini justru membawa banyak pelajaran berharga. Tak heran jika kemudian Chris Columbus tertarik untuk me-remake film ini.

Exceeds Expectations

Rabu, 20 Juli 2011

REVIEW : THE ROCKY HORROR PICTURE SHOW


"Hi, my name is Brad Majors, and this is my fiancee, Janet Weiss; ah... you are...?"

Absennya film-film musim panas dari MPA membuat saya benar-benar malas untuk melangkahkan kaki ke bioskop. Di bioskop A, film yang tayang masih sama persis seperti minggu lalu, sementara di bioskop B, diisi oleh film-film lokal yang sama sekali tak menarik untuk ditonton. Karena tak ada pilihan, saya pun ngesot di depan televisi saja. Entah ada angin apa, film-film yang saya tonton beberapa hari yang lalu berasal dari tahun 70-an. Hebatnya lagi, semuanya musikal. Bukan rahasia lagi jika saya memang sangat menggemari genre ini. Layaknya film horror dan komedi romantis, seburuk apapun film musikal, tetap asyik untuk dinikmati. Saya masih bisa ikut bersenandung dan menghentak-hentakkan kaki. Namun yang paling menarik adalah, film musikal biasanya cenderung jauh dari kata normal. Apakah menurut Anda film musikal legendaris macam The Sound of Music, Mary Poppins, West Side Story, Singin' in the Rain hingga Moulin Rouge! bisa dikatakan normal? Bagi saya, sama sekali tidak. Selalu saja ada tembang dan koreografi yang nyeleneh dan membuat penonton antara mengernyitkan dahi dan tertawa. Ambil contoh, saat para tokoh utama dalam Moulin Rouge! membawakan The Pitch (Spectacular Spectacular), sangat komikal.

Nah, bagaimana dengan The Rocky Horror Picture Show yang saya tonton minggu lalu ini? Yang pasti, berkali-kali lipat lebih aneh. Bayangkan saja, ada sebuah pesta diselenggarakan di kastil yang berada di antah berantah dengan tamu-tamu berkostum ala Lady Gaga ditambah tuan rumah yang seorang wadam dengan pelayannya yang mirip Quasimodo kurus. Masih dihebohkan dengan kehadiran Frankestein tampan yang bertubuh atletis namun tak pernah berbicara sepatah katapun, kecuali saat menyanyi. Bayangkan betapa aneh dan hebohnya! Oleh Jim Sharman, selama 100 menit, Anda akan diseret ke dalam petualangan Brad (Barry Bostwick) dan Janet (Susan Sarandon) yang mungkin tidak akan bisa Anda lupakan sampai kapanpun, saking ajaibnya. Jika dalam menit-menit pertama Anda sudah merasakan bahwa ketidakwajarannya melebihi batas, maka tinggalkan saja. Karena di menit berikutnya, akan semakin kacau dan kacau. Hebatnya, Brad dan Janet, masih kuat meladeni kegilaan yang dilakukan oleh Dr. Frank-N-Furter (Tim Curry) hingga akhir. Pasangan ini tak sengaja terjebak dalam pesta satu malam Dr. Frank setelah mobil mereka mogok di tengah hutan sementara hujan mengguyur deras.

Masyarakat mungkin menganggap apa yang dilakukan oleh Lady Gaga adalah sebuah kegilaan yang kebablasan dengan tujuan hanya mencari sensasi belaka. Tapi harus diakui, karya-karyanya berkualitas serta enak untuk dinikmati. Seperti itulah The Rocky Horror Picture Show. Bagi yang terbiasa menonton film 'normal', mungkin akan bertanya-tanya, 'film apa ini?'. The Rocky Horror Picture Show pun awalnya sempat kesusahan menjaring penonton. Perjuangan yang keras dan tanpa menyerah dari tim belakang layar membuahkan hasil. Film yang berangkat dari pertunjukkan panggung di Inggris ini perlahan-lahan mampu menciptakan sebuah fanbase yang fanatik yang senantiasa memuja-mujanya. Film ini bahkan masih tetap diputar di bioskop hingga saat ini, meskipun sudah 36 tahun sejak tayang perdana. Serial musikal remaja populer, Glee, juga sempat membuat episode tribut untuk film legendaris ini, tentunya dengan muatan seksual yang dikurangi kadarnya. Tembang-tembang yang menghiasi The Rocky Horror Picture Show dengan mudah nyantol di telinga dan menyebabkan kecanduan. Dammit Janet memiliki lirik yang manis dan aneh, What Ever Happened to Saturday Night?, Time Warp dan Touch-a Touch-a Touch Me sungguh asyik dibuat melantai, sementara Super Heroes cenderung depresif.

Segala kegilaan ini mungkin tidak akan ada artinya tanpa penampilan sinting dari Tim Curry. Dia nampak bersenang-senang dengan peran yang dimainkannya. Walaupun memiliki selera berpesta yang sama sekali tidak normal, Dr. Frank tergolong sukses memainkan perannya sebagai tuan rumah. Pestanya hidup. Para pemain lain hadir biasa saja tertutup performa apik dari Curry, namun sungguh menyegarkan mata bisa melihat Susan Sarandon muda yang cantik menggoda. Acungan dua jempol untuk Jim Sharman yang mampu menghadirkan pesta yang menyenangkan kepada para penonton. Saya tidak bisa berhenti bergoyang, menghentakkan kaki dan berdendang sejak Barry Bostwick berduet dengan Susan Sarandon di awal film. Sebuah olok-olok untuk film kelas B, science fiction dan horror ini mengajak Anda untuk melupakan segala kepenatan yang ada di pikiran dan mengeluarkan sisi terliar dari pribadi Anda. Naskah dan penggarapannya mungkin tidak sempurna. The Rocky Horror Picture Show mungkin tidak akan bisa menandingi kemahsyuran dan kedahsyatan The Sound of Music. Tapi jika Anda mencari sebuah hiburan ringan menyenangkan yang bisa mengajak Anda untuk menggila, maka film ini adalah pilihan yang sangat tepat. Selamat datang di pesta Dr. Frank-N-Furter!

Acceptable

Jumat, 13 Mei 2011

REVIEW : CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE


Jika dulu membicarakan film Thailand berarti membicarakan film horror, maka sekarang tidak lagi. Ada tren baru yang berkembang di negara gajah putih ini paska kesuksesan luar biasa dari Bangkok's Traffic Love Story dan Hello Stranger. Setelah dua tahun berturut-turut film komedi romantis merajai tangga box office di Thailand, maka film horror yang selalu menjadi andalan Thailand harus mengalah sejenak. Mengambil pendekatan yang agak mirip dengan film romantis buatan Korea membuat Love Story dan Stranger mudah diterima oleh kalangan luas. Apalagi Korea sekarang lebih asyik membuat genre thriller / suspense ketimbang romantis. Para sineas Thailand jeli dalam mengambil kesempatan. Tidak hanya sukses di negerinya sendiri, Love Story dan Stranger pun sempat membuat heboh masyarakat Indonesia. Belakangan, demam Korea berubah menjadi demam Thailand. Jika sebelumnya Rain atau Won Bin dielu-elukan oleh para perempuan, maka sekarang giliran Mario Maurer yang naik daun. Maurer sudah cukup lama berkecimpung di dunia seni peran sebenarnya. Pernah berlakon secara apik dalam The Love of Siam, namanya baru melesat di negeri tercinta ini setelah tampil menggemaskan dalam Crazy Little Thing Called Love.

Plot yang dihadirkan oleh duo Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong terbilang sangat sederhana, atau lebih kasarnya, super klise. Melihat tampilan poster, mengintip trailer dan membaca sinopsisnya yang tampak biasa tak menggugah hati saya untuk segera menontonnya. Justru yang membuat saya penasaran adalah mengapa setiap orang membicarakan film ini. Kisahnya tak jauh berbeda dengan film romantis atau FTV kebanyakan. Nam (Fern Pimchanok Lerwisetpibol) menyukai seniornya yang tampan dan idola di sekolahnya, Shone (Mario Maurer). Bagi gadis dengan penampilan buruk seperti Nam, mendapatkan Shone bagaikan pungguk merindukan bulan. Mustahil. Belum lagi lawannya adalah gadis-gadis berparas ayu dan berbakat. Satu-satunya yang bisa dibanggakan oleh Nam adalah kemampuannya dalam berbahasa Inggris. Tapi bukan Nam namanya jika menyerah begitu saja. Sang ayah menawari Nam tiket ke Amerika jika dia bisa meraih ranking 1. Ini mencambuk semangat Nam. Dengan bantuan ketiga sahabatnya, Nam berusaha keras untuk mendapatkan Shone sekaligus ranking 1. Selesai begitu saja ? Tidak, perjalanan Nam masih panjang dan berliku. Ketika Nam yang gelap itu bertransformasi menjadi Nam dengan kulit bening, segalanya tidak menjadi lebih mudah. Top (Acharanat Ariyaritwikol), sahabat Shone yang menyukai Nam, menjadi penghalang antara Shone dan Nam. Hadirnya Pin juga turut membuatnya menjadi semakin rumit. Nah, nah, nah...

Melihat ulah Nam dan ketiga sahabatnya yang begitu polos sungguh membuat gemas. Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong membuat penonton kembali bernostalgia dengan kisah cinta monyet masing-masing saat masih duduk di bangku SMP. Ayo mengaku, siapa yang pernah naksir dengan kakak senior sampai rela mengikuti ekskul yang sebenarnya tak disukai dan membaca tips-tips mendapatkan cowok, lalu pura-pura ke toilet hanya untuk mengintip kelas orang yang disukai? Itulah yang dilakukan Nam dan konco-konconya ini. Saya dibuat tertawa terbahak-bahak melihat betapa polos dan konyolnya cara mereka, namun saya tertawa juga karena beberapa diantaranya pernah mengalaminya, hikikiki. Masih ditambah dengan ulah guru bahasa Inggris mereka yang galak namun sebenarnya baik hati dan konyol. Puttipong dan Wasin mencoba menghadirkannya dengan realistis dan santai sehingga film pun enak dinikmati. Tapi saya kurang sreg dengan transformasi Nam. Kerja departemen make-up memang sangat bagus karena bisa menyulap Fern Pimchanok Lerwisetpibol yang sedemikian cantiknya menjadi susah dikenali. Namun ketika Nam yang buruk rupa itu berubah menjadi gadis yang cantik dan modis, prosesnya terlalu cepat dan unbelievable. Mungkin terjadi, tapi tak secepat dan sedrastis itu. Pada akhirnya malah agak mengganggu plotnya itu sendiri, meski saya tak ingin munafik bahwa Fern Pimchanok Lerwisetpibol membuat saya klepek-klepek. Hihi. Tapi akang Mario Maurer tetap paling oke kok... *ah, jadi malu..

Menjelang ending, Puttipong dan Wasin langsung membelokkan stir. Dari awalnya berhaha hihi, menukik menjadi mendayu-dayu. Persahabatan Nam dengan ketiga sohibnya retak dan Shone juga tak kunjung mendekat. Saat segalanya terlihat mulai membaik, sebuah pernyataan meretakkan impian Nam. Bagi yang sensitif dengan adegan tearjerker seperti ini, siapkanlah tissue sebanyak mungkin. Bahkan saya pun berhasil dibuat bercucuran air mata olehnya. Bukan karena Nam-Shone, tapi melihat persahabatan yang terajut indah mendadak buyar karena masalah cinta. Chemistry yang terjalin diantara pemain memang kekuatan utama Crazy Little Thing Called Love. Syukurlah Pimchanok dan Maurer serta ketiga pemeran sahabat Nam bermain apik dan chemistry-nya terasa menyatu. Film romantis tanpa adanya chemistry sama saja dengan bohong. Setelah dibuat tertawa gegulingan karena lawakan khas Thailand yang cenderung cablak, penonton langsung digiring menuju adegan penguras air mata.

Crazy Little Thing Called Love berani menawarkan romansa yang beda, cinta monyet para ABG. Bosan lah ya kalau terus dijejali kisah roman dua insan yang sudah matang. Bagaimanapun, kisah kasih di sekolah memang lebih seru untuk diceritakan. Pahit manis konyol, semua bercampur aduk. Harus diakui, cinta pertama susah untuk dilupakan. Rasanya kita semua pasti pernah mengalami apa yang dialami oleh Nam. Menyukai lawan jenis untuk pertama kalinya tetapi tak berani untuk mengungkapkannya. Ada yang kemudian memilih untuk mengagumi dari jauh saja tetapi ada juga yang berusaha untuk mencuri perhatiannya dengan hal-hal konyol. Crazy Little Thing Called Love memang tidak menawarkan sesuatu yang baru, plotnya terbilang sangat sederhana dan sudah usang. Tapi eksekusi Puttipong dan Wasin lah yang menentukan. Butuh film romantis yang menghibur dan bisa membuat tertawa di kala stres menerjang? Maka film inilah yang menjadi jawabannya. Sangat menghibur.

Trailer :