Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Action. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2012

REVIEW : THE HUNGER GAMES


"They just want a good show, that's all they want."

Bersetting di masa depan dimana dunia mengalami kehancuran setelah perang nuklir dan Amerika Serikat terpecah belah menjadi ke beberapa area baru. Di sebuah area yang bernama Panem, kita diperkenalkan kepada sebuah permainan ekstrim tahunan yang menjadi judul dari film ini, The Hunger Games. Dua puluh empat remaja usia belasan, masing-masing terdiri dari dua belas laki-laki dan dua belas perempuan, yang terpilih secara acak dimana mereka mewakili dua belas distrik di Panem dilepaskan ke alam bebas hingga hanya satu orang saja yang selamat. Sang pemenang akan mendapatkan hadiah berupa kehormatan, ketenaran, dan persedian pangan untuk keluarga. Plotnya sedikit banyak mengingatkan saya pada Battle Royale, film buatan tahun 2000 asal Jepang yang diadaptasi dari novel berjudul sama, yang mengisahkan sejumlah siswa bermasalah yang dikirim ke sebuah pulau terpencil untuk saling membunuh dan pemenangnya adalah siswa yang terakhir bertahan. Yang mendasari munculnya kedua permainan ini sama, terjadinya degradasi moral. Apabila dirunut lebih jauh, para remaja ini hanyalah sekumpulan remaja biasa yang dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan oleh para penguasa. Dihimpit oleh keadaan yang serba tidak menguntungkan, rakyat-rakyat kecil ini pun manut saja dengan permainan yang dirancang oleh para penguasa yang lalim.

Tokoh utama dari The Hunger Games adalah dua Tribute – sebutan untuk peserta terpilih – dari distrik termiskin di Panem, Distrik 12, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson). Ada yang unik disini. Berbeda dengan film hasil adaptasi novel remaja kebanyakan, Katniss tidak digambarkan sebagai gadis lemah yang senantiasa merengek meminta perlindungan. Mandiri, kuat dari segi fisik dan mental, serta mahir menggunakan busur dan panah, Katniss malah terkesan lebih maskulin ketimbang Peeta. Suzanne Collins, sang penulis novel yang juga bertindak selaku penulis naskah, menempatkan Katniss sebagai pelindung bagi Peeta. Jennifer Lawrence memainkan perannya dengan amat baik dan meyakinkan. Tidak heran, Katniss sedikit banyak memiliki kemiripan karakter dengan Ree Dolly di Winter’s Bone. Josh Hutcherson mengalami peningkatan akting disini. Beradu akting bersama Lawrence, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Stanley Tucci dan Donald Sutherland rupanya memicu semangat Hutcherson untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya.

Disandingkan dengan Battle Royale, The Hunger Games terasa lebih tidak manusiawi karena pertarungan antar Tribute dari dua belas distrik ini disajikan secara live melalui sebuah acara realitas. Ada kemiripan dengan The Condemned disini. Tapi lagi-lagi, masih lebih bermoral ketimbang apa yang dilakukan oleh Seneca Crane (Wes Bentley), penanggub jawab The Hunger Games. Dua puluh empat remaja tak bersalah dipaksa bertarung hingga mati demi memuaskan hasrat dari para manusia tidak beradab. Terkesan semakin barbar saat mengetahui bahwa peserta yang mengikuti acara ini adalah remaja berusia 12 hingga 18 tahun dengan sistem pemilihan acak. Maka pertarungan ini pun bersifat tak sehat karena kekuatan antar satu peserta dengan peserta lain tidak sebanding. Namun tentu saja Seneca dan para penguasa di kota Capitol tidak ambil pusing, terlebih ini akan menjadikan acara kian menarik untuk disimak. Untuk bertahan di Arena – tempat pertarungan – para Atribut ini pun membutuhkan sponsor yang akan menyuplai kebutuhan mereka selama bertanding. Caranya, dengan unjuk kebolehan sebelum memasuki Arena. Kemampuan yang mengesankan membuat Katniss lantas menjadi buah bibir. Apabila meminjam istilah dari para fans American Idol, maka Katniss adalah ‘frontrunner’ sementara Peeta adalah ‘cannon fodder’.

Lantas, apa sebenarnya tujuan diadakannya The Hunger Games? Berdasar video yang diputar setiap sebelum pemilihan Tribute dimulai, permainan ini bertujuan untuk mengenang kehancuran dari distrik ke-13 dan sebagai hukuman kepada distrik 1-12 atas kesalahan di masa lalu. Pada akhirnya, permainan ini justru menjadi manifestasi kekuasaan dan hiburan bagi pemerintah. Disiarkan secara live, dikemas dalam bentuk acara realitas, Collins seakan ingin mengritik moral masyarakat saat ini yang menggemari tontonan yang sarat akan kekerasan dan menjadikan orang yang dalam masalah pelik sebagai sebuah tontonan televisi yang menghibur di waktu senggang. Sisi kelam dari acara realitas yang nyatanya dipenuhi dengan kepalsuan dan ego produser yang tinggi turut disentil. Pun begitu, sang sutradara, Gary Ross – yang kita kenal melalui dua film apik, Pleasantville dan Seabiscuit, tidak berlama-lama dengan kritik sosial demi menghindari kejenuhan penonton. Setelah pesan dirasa telah cukup tersampaikan, The Hunger Games kembali ke jalur utamanya untuk menyajikan sebuah hiburan yang menyenangkan. Dan apakah hal itu berhasil? Saya akan menjawabnya, sangat berhasil. Adalah sebuah keputusan yang tepat menjadikan si pencipta novel sebagai penulis naskah. The Hunger Games adalah salah satu film adaptasi novel terbaik yang pernah saya tonton. Memesona, menegangkan, lucu, dan menyentuh. Durasinya yang cukup panjang, eksploitasi romantisme dan penggunaan handheld camera memang cukup melelahkan, namun The Hunger Games telah berhasil memenuhi ekspektasi saya sekalipun masih kurang berani dalam menonjolkan aksi kekerasan yang membuatnya terkesan canggung di beberapa bagian. Menghindari rating R, mungkin? Oia, jangan pernah samakan The Hunger Games dengan The Twilight Saga. Keduanya jauh berbeda.

Exceeds Expectations

Rabu, 21 Maret 2012

REVIEW : JOHN CARTER


"When I saw you, I believed it was a sign... that something new can come into this world."

Ketika rekan seperjuangannya di Pixar, Brad Bird, melewati masa transisi dari film animasi 3D ke film live action dengan mulus melalui Mission: Impossible
– Ghost Protocol, maka tidak halnya dengan Andrew Stanton. Film live action perdananya, John Carter, adalah adaptasi dari Princess of Mars yang merupakan bagian dari novel berseri, Barsoom, karangan Edgar Rice Burroughs yang selama ini Anda kenal sebagai pencipta Tarzan. Berbeda dengan “saudaranya” yang mengalami nasib baik dalam hal adaptasi, John Carter justru terseok-seok. Sempat menjadi proyek yang selalu mengembara dari satu tangan ke tangan lain, dan pada akhirnya tercatat sebagai salah satu “development hell” terlama dalam sepanjang sejarah sinema, proyek mendapatkan lampu hijau setelah Disney mengakuisisi hak ciptanya. Disuntik dana sebesar $250 juta, Andrew Stanton membidani sebuah proyek yang megah. Belum apa-apa, banyak kalangan mencibir. Disney dinilai terlalu percaya diri mengingat John Carter tidak terlalu dikenal oleh publik di luar Amerika. Dengan dana sebesar itu, dan melihat kondisi ekonomi saat ini, apa sanggup John Carter balik modal? Pertanyaan yang lebih penting, akankah hasil akhirnya semegah yang diharapkan oleh para penonton?

Secara garis besar dapat dituliskan bahwa John Carter berkisah tentang veteran Perang Sipil bernama John Carter (Taylor Kitsch) yang ‘terlempar’ ke Mars setelah berusaha menghindari kejaran suku Indian. Saat sesosok makhluk asing datang dari planet seberang, rupawan, perkasa, dan bisa terbang, maka tidak ada alasan untuk menyiksanya. Carter yang menjalin hubungan baik dengan makhluk Mars berkulit hijau yang membuat saya jijik, Tars Tarkas (Willem Dafoe), dan putri Mars yang aduhai, Dejah Thoris (Lynn Collins), langsung mengubah statusnya dari tawanan menjadi pahlawan dalam waktu sekejap. Misinya, menyelamatkan Mars dari Sab Than (Dominic West), penguasa Zodanga yang kejam yang mengancam akan menyulut peperangan apabila Dejah dari Helium menolak untuk menikahinya. Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai mengemuka setelah Carter menjelajahi Mars. Apakah masyarakat Barsoom (Mars) selain kekurangan air juga kekurangan kain? Kasihan John Carter yang sepanjang film harus rela bertelanjang dada sehingga dituduh sebagai eksibisionis. Dan sebagai sebuah planet dimana teknologi telah jauh berkembang pesat melewati Jarsoom (Bumi), Barsoom enggak banget. Lihat saja cara mereka berperang, masih memakai pedang cuy! Yang membuat saya tidak habis pikir, mengapa hewan super lamban masih dijadikan alat transportasi? Saya mengerti jika bangsa Tharks menolak untuk terbang, tapi mbok ya bikin alat transportasi darat yang memadai.

Untuk ukuran sebuah film dengan bujet raksasa, efek khusus dari John Carter tergolong kurang bombastis dan telah kita lihat berulang kali di film-film fiksi ilmiah sebelum ini. Tidak ada inovasi. Bandingkan dengan Transformers: Dark of the Moon yang memiliki beberapa adegan yang mencengangkan. Di beberapa bagian pengerjaannya masih tampak kasar walaupun tampilan Helium dan adegan peperangannya terasa megah, dan 3D-nya pun tak sehebat Hugo. Sekalipun di lini teknis tak sehebat yang diharapkan, Stanton mampu mewujudkan tujuan utama John Carter, yakni menghibur penonton. Ya, saya mengakui bahwa film ini ternyata mampu membawa saya ke beberapa momen menyenangkan dan kepenatan dalam memikirkan beban hidup yang kian menumpuk pun hilang. Bukan yang terbaik dalam hal memuaskan penonton, namun John Carter ternyata tidak seburuk yang diperkirakan. Tentu saja ini belum termasuk dengan sektor naskah. Jika Anda berusaha untuk menilai film ini dari sudut pandang cerita, maka kemungkinan besar Anda akan langsung putus asa. Naskah yang dikerjakan secara keroyokan oleh Stanton, Mark Andrews, dan Michael Chabon, luar biasa menggelikan. Jika mengutip ucapan yang sering terlontar dari mulut salah satu teman, “film iki absurd tenan!” Tapi toh bukan ini yang dicari oleh penonton kebanyakan. Keanehan jalan cerita dari John Carter malah menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Memasang ekspektasi yang serendah mungkin terhadap film ini ternyata membawa keuntungan. Apabila Anda ingin bersantai menghabiskan waktu luang di bioskop bersama teman atau orang terkasih, maka John Carter adalah pilihan yang tepat. Semrawut, tanpa otak, namun menghibur.

Acceptable


Jumat, 09 Maret 2012

Short Reviews: SAFE HOUSE & GHOST RIDER: SPIRIT OF VENGEANCE

Safe House

Film keempat dari Daniel Espinosa, Safe House, berkisah mengenai mantan anggota CIA yang membelot, Tobin (Denzel Washington), yang diboyong ke rumah perlindungan setelah secara tiba-tiba memerlihatkan batang hidungnya di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Cape Town, Afrika Selatan. Kemunculannya menimbulkan tanda tanya besar. Belum sempat pihak CIA mengorek informasi lebih dalam dari Tobin, sebuah kelompok bersenjata mendobrak masuk dan mengobrak abrik rumah perlindungan. Sang penjaga rumah, Matt (Ryan Reynolds), pun ikut terseret ke dalam kasus dan terpaksa melindungi Tobin dari berbagai pihak yang mengincarnya. Beruntung, jajaran pemainnya solid terutama Denzel Washington yang berakting meyakinkan sebagai Tobin, sehingga mampu menyelamatkan Safe House dari kebosanan lantaran naskahnya yang klise dengan alur yang mudah ditebak.

Acceptable
Ghost Rider : Spirit of Vengeance

Hasil box office seluruh dunia Ghost Rider yang lumayan membuat Marvel Knights dan Nicolas Cage kelewat percaya diri untuk melanjutkan kisah si tengkorak penunggang motor sekalipun para kritikus mencercanya. Dalam Ghost Rider : Spirit of Vengeance, sebuah sekuel yang seharusnya tidak perlu dibuat, Johnny Blaze (Nicolas Cage) bertugas untuk melindungi seorang bocah, Danny (Fergus Riordan), yang diburu oleh iblis (Ciaran Hinds) karena diyakini sebagai objek keturunan setan. Sepanjang film, rasanya saya ingin sekali melemparkan minuman karbonasi saya ke layar. Neveldine/Taylor membuat film pertamanya terasa seperti sebuah mahakarya. Ghost Rider : Spirit of Vengeance yang dibentuk dari sebuah naskah yang nampaknya dibuat oleh seseorang yang sedang teler dipenuhi dengan adegan-adegan dan humor-humor bodoh menyebalkan, alih-alih menyenangkan, kian “dipermanis” dengan efek khusus yang memprihatinkan serta para aktor yang bermain canggung. Film yang saya rekomendasikan bagi siapapun yang kebingungan dalam menghabiskan setumpuk uangnya. Dan saya bahkan belum menyebutkan 3D-nya yang palsu.

Troll

Kamis, 08 Maret 2012

REVIEW : THE GREY



"Live or Die on This Day"

Setelah mendapatkan kembali putri kesayangannya yang sempat raib, Liam Neeson berjuang untuk merebut identitas dirinya yang hilang di dataran Eropa yang dingin. Nah, ketika identitas diri telah berada dalam genggaman, apa yang kembali hilang dari Liam Neeson? Pertanyaan yang lebih penting, apakah Neeson masih berani kembali ke Eropa setelah dua peristiwa buruk tersebut menimpa dirinya? Dengan bantuan rekan lama, Joe Carnahan, yang pernah bekerja sama melalui The A-Team, Neeson akhirnya memutuskan untuk “move-on”. Tidak ada lagi yang hilang, tidak lagi tamasya ke Eropa, dan tidak lagi berhubungan dengan Luc Besson. Pesona Ridley Scott nampaknya lebih menggoda. Terlebih lagi, kali ini setting diboyong ke tempat yang jauh lebih ekstrim, Alaska. Untuk naskah, Joe Carnahan mengadaptasi dari cerita pendek karangan Ian Mackenzie Jeffers yang berjudul “Ghost Walker”. Dengan adanya Alaska, ditambah dengan kecelakaan pesawat, serigala liar nan buas dan badai salju, The Grey menjanjikan sebuah premis yang sama sekali berbeda dengan Taken maupun Unknown. Terornya terasa lebih nyata.

John Ottway (Liam Neeson) bekerja di Alaska melindungi tim pengebor minyak dari ancaman serigala. Di hari terakhirnya bekerja, ketika dia telah siap untuk pulang, pesawat yang dinaikinya beserta puluhan pekerja lain jatuh menghantam tanah dengan keras. Hanya tujuh orang yang berhasil selamat. Dan, teror baru saja akan dimulai. Seakan belum cukup dengan hawa dingin yang menusuk hingga tulang, Ottway dan konco-konconya mendapat ancaman lain, serigala buas. . Menunggu pertolongan dari tim SAR bagaikan mimpi di siang bolong apalagi melihat fakta kondisi medan yang berat, badai salju yang tidak henti-hentinya menerjang, dan status sosial dari para survivor. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan menjauhi bangkai pesawat dan mencari kehidupan di hutan. Namun yang menjadi permasalahan utama, mereka tidak mengetahui dimana sarang gerombolan serigala. Salah perhitungan bisa berakibat fatal. Terlebih jumlah kawanan semakin berkurang ketika satu persatu terserang hipotermia dan para serigala kian mengganas.

Suatu kejutan yang menyenangkan ketika mengetahui bahwa The Grey ternyata jauh lebih lezat untuk disantap ketimbang Taken dan Unknown. Jalan ceritanya sedikit banyak memang mengingatkan pada Alive yang diangkat dari kisah nyata, hanya saja The Grey tidak melangkah sejauh itu. Di menit-menit awal, kisahnya cenderung tidak menarik untuk disimak. Saat menonton film ini, saya sama sekali buta mengenai jalan ceritanya karena tak sekalipun mengintip review maupun trailer. Maka ketika melihat John Ottway yang galau, dengan ‘penampakan’ istrinya yang sering kali tiba-tiba, saya sempat merasa apa yang akan terjadi berikutnya hanyalah pengulangan dari film-film Liam Neeson berikutnya. Ketika Joe Carnahan menggiring penonton ke dalam pesawat, pada saat inilah tensi perlahan mulai dibangun. Cara Carnahan mengemas adegan kecelakaan pesawat sungguh mengerikan, berkali-kali lipat lebih traumatis ketimbang Final Destination. Sebagai seseorang yang memiliki phobia terhadap pesawat terbang, ini jelas bukan sebuah gambaran yang menyenangkan. Saya sempat panik, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak melihat ke layar selama beberapa detik.

Memasuki alam Alaska yang ganas, The Grey berubah menjadi film yang sebaiknya dihindari oleh pengidap sakit jantung. Terlalu banyak adegan yang diiringi dengan dentuman musik yang mengagetkan. Serigala mengancam kapanpun dan dimanapun, tanpa pandang bulu. Seiring berjalannya film, tidak susah sebenarnya menebak bagaimana cara Joe Carnahan mengakhiri film. Kecerdikannya dalam menjaga intensitas dengan rapi adalah yang menjadi kunci utama mengapa The Grey kian menarik untuk diikuti setiap menitnya. Tidak ada kesan usang atau sekadar reka ulang belaka saat Carnahan mempersembahkan sebuah adegan yang nampaknya merupakan homage terhadap Cliffhanger. Tetap membuat gregetan. Menonton The Grey memang tidak ubahnya tengah melakukan olahraga jantung. Seperti apa yang telah dilakukan oleh Insidious terhadap saya tempo hari, The Grey pun sanggup membuat saya lemas setelah menontonnya di bioskop. Bukan film dengan jalan cerita yang memukau memang, namun The Grey mampu menjalankan tugasnya dengan apik dalam hal memuaskan penonton dari awal hingga akhir dengan ketegangan yang tiada henti dan tersusun rapi.

Exceeds Expectations


Jumat, 02 Maret 2012

REVIEW : THIS MEANS WAR



"Don't choose the better man, choose the man who makes you a better woman." - Trish

Bisa dimafhumi jika calon penonton berpikiran bahwa This Means War adalah sebuah film aksi komedi berbasis spionase apabila menilik dari tampilan poster, trailer, maupun sang pembesut, McG. Tidak keliru memang, hanya saja yang tidak mereka ketahui, ini juga merupakan sebuah film romantis. Tagline-nya yang menyebut “It’s Spy Against Spy” sesungguhnya telah mengindikasikan akan dibawa kemana film ini jika Anda jeli mengam
ati poster terutama pada penekanan kata Spy. Dengan mengintip jejak rekam dari sutradara bernama lengkap Joseph McGinty Nichol, ada baiknya Anda tak menaruh harapan yang muluk-muluk terhadap film ini. Kehadiran Reese Witherspoon dan Tom Hardy tidak menjamin apapun. Jika sejak awal Anda sudah terlanjur memasang ekspektasi yang tinggi, segera turunkan. Jangan mengharapkan sebuah tontonan cerdas menghibur dari sini karena Anda berada di tempat yang salah. This Means War adalah sebuah tempat bagi penonton yang mengharapkan tontonan menghibur tanpa harus memutar otak dengan keras, yang berarti dipenuhi dengan adegan-adegan klise nan bodoh.

Apakah itu berarti This Means War adalah sebuah film yang buruk? Itu tergantung dari sudut mana Anda menilainya. Yang jelas, film buatan McG ini bukanlah jenis film yang dibuat untuk memuaskan kritikus film. Naskah buatan duo Timothy Dowling dan Simon Kinberg cenderung dangkal dan tidak beraturan, namun terbilang lumayan karena masih menyimpan cukup banyak dialog cerdas. Sarat akan adegan yang menghibur, namun jauh dari kesan logis. Akan tetapi tentu saja Anda tidak berharap film ini akan memberikan susunan adegan yang menghindari pelecehan terhadap akal sehat, bukan? Plot utamanya saja sudah menggelikan. Seorang wanita mapan bernama Lauren Scott (Reese Witherspoon) secara tidak sengaja menjalin cinta dengan dua agen CIA, FDR (Chris Pine) dan Tuck (Tom Hardy), yang ternyata bersahabat baik. Terlalu banyak kebetulan. Tapi, hey, film Hollywood mana yang tidak dipenuhi dengan kebetulan, apalagi ini merupakan film komedi romantis dan sutradaranya adalah McG? Maka, ini masih bisa dimaafkan. Niat saya sejak awal terhadap film ini memang hanya sekadar mencari hiburan, jangan heran jika berbagai kelemahan dari This Means War masih bisa saya tolerir.

Pertemuan antara Lauren, FDR dan Tuck dimulai dari sahabat baik Lauren, Trish (Chelsea Handler), yang mendaftarkan Lauren ke sebuah situs kencan online menyusul kekesalan Lauren melihat mantan kekasihnya telah bertunangan. Di saat yang sama, Tuck pun mencoba mendaftar setelah melihat iklan situs kencan online di televisi. Disinilah Lauren dan Tuck berjumpa. Setelah merasa cocok satu sama lain, keduanya memutuskan untuk melakukan kopi darat. Entah sial atau beruntung, beberapa saat setelah Lauren menemui Tuck, secara kebetulan dia bertemu FDR yang menggodanya di sebuah rental video tanpa mengetahui bahwa Lauren adalah teman kencan sahabatnya. Dan, Lauren pun berada dalam posisi sulit. Dia kepincut dengan kedua pria ini. Tidak heran, karena mereka berdua adalah pria-pria yang seksi, menyenangkan, dan mapan. Seandainya Anda adalah Lauren, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan mengikuti langkah Lauren dengan mengencani mereka berdua? Atau Anda memutuskan untuk memilih salah satu pada saat itu juga? Yang Lauren tidak sadari, baik FDR maupun Tuck sama-sama telah mengetahui bahwa mereka mengencani wanita yang sama. Dan ini berarti perang!

Jika ada yang tidak bisa saya terima, maka itu adalah Reese Witherspoon. Jangan salah paham, saya bukan termasuk hater dari mantan istri Ryan Phillippe ini, justru sebaliknya, saya fans berat. Keberadaannya disini terasa tidak pas dilihat dari segi manapun. Setelah memenangkan Oscar berkat akting menawannya di Walk the Line, Reese Witherspoon justru mengalami stagnansi karir dengan memilih peran-peran aman bernada sama. Apa yang membedakan Lauren disini dengan Elizabeth di Just Like Heaven atau Lisa di How Do You Know? Nyaris tidak ada. Chemistry-nya dengan Tom Hardy dan Chris Pine pun kurang meyakinkan. Malahan, bromance antara Hardy dan Pine terasa lebih greget. Seandainya Witherspoon digantikan oleh aktris lain, rasanya tidak akan berdampak apapun terhadap film toh Lauren Scott seakan hanya difungsikan sebagai penggembira oleh tim penulis. This Means War, sekalipun tidak seburuk film-film komedi romantis Witherspoon paska Walk the Line, hanya akan membuat catatan karir Witherspoon terasa tak sedap untuk dipandang.

Acceptable

Senin, 13 Februari 2012

REVIEW : CHRONICLE


"Boys will be boys"

Apabila Anda hanya mengandalkan tampilan promosi, macam poster dan trailer, sebelum menyaksikan Chronicle, maka besar kemungkinan Anda
tidak akan tergugah untuk segera menyaksikannya di bioskop. Cukup menunggu DVD-nya saja. Jika Anda melakukannya, maka itu merupakan kesalahan tak termaafkan di awal tahun. Film layar lebar pertama dari Josh Trank ini memang tidak menawarkan premis yang menggoda, tiga remaja mendadak memiliki kekuatan khusus setelah menyentuh sebuah benda tidak dikenal. Sangat biasa, kalau tidak mau disebut klise, bukan? Dengan penawaran yang sedemikian sederhana, bukan berarti barang jualan dari 20th Century Fox ini kurang lezat untuk disantap. Dikemas dengan gaya found footage menjadikan Chronicle terasa enak untuk diikuti. Dan saya pun bernafas lega, “akhirnya found footage tidak melulu mengenai penampakan atau kerasukan setan.” Ya, duo Josh Trank dan Max Landis tidak membuat sebuah film horror, melainkan fiksi ilmiah tentang manusia berkekuatan khusus.

Saya akan mencoba untuk menjabarkan plot Chronicle dalam kalimat yang lebih panjang. Chronicle berkisah mengenai kehidupan siswa SMA, Andrew Detmer (Dane DeHaan), yang jauh dari kata menyenangkan. Ibunya sekarat, ayahnya pemabuk, dan Andrew kerap mendapatkan perlakuan kasar baik di rumah maupun di sekolah. Satu-satunya teman bagi Andrew adalah kamera video yang baru dibelinya, "I bought a camera and I'm filming things." Sepupu sekaligus teman masa kecilnya, Matt (Alex Russell), merasa perlu untuk mengajak Andrew menikmati hidup, terlebih ini adalah tahun terakhir mereka di SMA. Matt membawa Andrew ke sebuah pesta dimana dengan cepat mereka berteman dengan siswa populer, Steve (Michael B. Jordan). Alih-alih menikmati pesta, ‘The Three Musketeers’ ini asyik bermain ke hutan dan menemukan sebuah lubang menganga di tanah. Dasar ABG, rasa penasaran begitu kuat menyelimuti diri mereka sehingga tanpa pikir panjang mereka masuk begitu saja ke dalam lubang tersebut tanpa mengetahui apa yang menanti di dalam.

Jadi, ada apa di dalam lubang misterius tersebut? Tidak begitu jelas, namun benda tersebut berukuran besar, berwarna biru, dan mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Entah tidak pernah nonton film fiksi ilmiah, bodoh, atau memang bandel, mereka malah mendekati benda tersebut. Yang terjadi selanjutnya, Anda tentu sudah bisa menebaknya sendiri. Ketiga sahabat ini mendapatkan kekuatan khusus. Bagusnya, Max Landis tidak menjadikan ketiga karakter ini berseru “mari kita selamatkan dunia!” beberapa saat setelah mereka mendapatkan anugerah (atau bencana?). Layaknya remaja cowok kebanyakan, mereka malah asyik memanfaatkan kekuatan baru mereka untuk bermain-main. Mengintip celana dalam perempuan, menerbangkan benda-benda di sekeliling, hingga mencoba untuk terbang. Paruh awal, Chronicle terasa lucu, ringan, dan menyenangkan. Titik kulminasi terjadi tatkala kekuatan khusus ini ternyata tidak memberikan dampak yang positif bagi Andrew. Kehidupannya tidak lantas menjadi lebih baik. Paruh berikutnya, film pun berubah menjadi mencekam.

Josh Trank dan Max Landis mencoba untuk tetap bersikap realistis dengan tidak memberikan karakter antagonis yang haus kekuasaan dan menjadi musuh utama bagi para jagoan kita. Dalam Chronicle, setiap tokoh ditempatkan dalam posisi abu-abu. Kemarahan Andrew dapat kita pahami. Bahkan ketika dia berbalik menjadi tokoh antagonis, simpati kepadanya masih tersemat. Chronicle tidak hanya menjual adegan-adegan seru, duo Trank dan Landis pun memberikan komentar perihal bagaimana kekerasan di dalam rumah tangga dapat mempengaruhi kondisi psikologis seorang anak. Ini menjadikan Chronicle terasa lebih istimewa. Jika ada yang membuat saya merasa tidak nyaman, maka itu adalah gaya found footage yang terkadang suka kebablasan. Sekalipun Andrew menganggap kamera video adalah soulmate-nya dan Casey (Ashley Hinshaw) menganggap setiap detik perlu didokumentasikan, rasanya kok berlebihan ya kemanapun mereka pergi selalu menenteng kamera? Tapi, film bergaya found footage mana sih yang tidak berlebihan? Paling tidak, Josh Trank tidak menggarap Chronicle seenak udelnya. Jalinan kisahnya tersusun rapi, akting para pemainnya natural, dan efek khusus pun diberikan sesuai dengan kebutuhan. Sekalipun bukan yang terbaik dari genrenya, Chronicle menjadi pembuka tahun 2012 yang manis. Trust me, go see it at the cinema!

Exceeds Expectations

Rabu, 18 Januari 2012

REVIEW : DON 2


Bollywood rupanya tidak main-main dengan rencananya untuk kembali menjadi penguasa di industri perfilman Asia setelah beberapa tahun terakhir Jepang dan Korea Selatan mendominasi. Jika dulu Bollywood identik dengan kisah cinta picisan dan diselingi dengan belasan lagu di film-filmnya, maka sekarang, ya tidak berbeda jauh sebenarnya karena itu telah menjadi identitas dari film India. Hanya saja, mereka lebih serius dalam menggarapnya. Bukan berarti dahulu sekadar main-main, kali ini para sineas telah meningkatkannya ke level yang lebih tinggi sehingga masyarakat internasional bisa menerimanya. Jika Anda tidak percaya, silahkan saja simak Don 2 yang saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Don 2 yang merupakan sekuel dari Don: The Chase Begins Again (Don: TCBA) yang dirilis tahun 2006 lalu ini menjadi sebuah bukti betapa majunya perfilman India saat ini. Didanai dengan bujet sekitar $17 juta, Farhan Akhtar menjadikan Don 2 sebagai versi India dari Mission: Impossible dan Fast Five. Anda tentu masih ingat bagaimana serunya Mission: Impossible Ghost Protocol, bukan? Tanpa bermaksud berlebihan, ah Anda pun sah-sah saja menyebut saya lebay, Don 2 memiliki tone yang nyaris serupa dengan film tersebut. Dikemas dalam tontonan penuh aksi, naskah yang pintar, dan kasting yang sempurna.

Titik awal dari Don 2 melanjutkan dari ending film sebelumnya yang tercatat sebagai film terlaris kelima di India pada tahun 2006. Tanpa menonton prekuelnya, Anda tetap bisa menikmati jalan cerita film ini. Sekalipun masih memiliki keterkaitan, Don 2 bisa menjadi film yang berdiri sendiri. Tapi tentunya akan lebih nikmat jika Anda telah mengetahui apa-apa saja yang telah terjadi dalam Don: TCBA, khususnya perihal hubungan rumit yang terjalin antara Don (Shahrukh Khan) dengan Roma (Priyanka Chopra). Farhan Akhtar dan duo penulis naskah, Ameet Mehta dan Amrish Shah sayangnya tidak mengupas romansa ini secara lebih mendalam di Don 2, sehingga penonton awam yang kurang awas mungkin akan kebingungan dengan status hubungan Don dan Roma di awal film. Untuk sekali ini, Farhan Akhtar menawarkan sebuah cerita yang panjang, kompleks, dan padat. Penonton dituntut untuk berkonsentrasi. Layaknya film India pada umumnya, selingan nyanyian dan tarian pun masih ada. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 4 tembang saja. Ada baiknya Anda tidak melewatkannya. Beberapa tembang masih berkolerasi dengan jalan cerita, tidak sekadar pemanis belaka.

Ketika Inspektur Malik (Om Puri) menyerahkan tongkat estafet kepada Roma untuk memimpin jalannya target operasi Don, Don datang untuk menyerahkan diri. Segera saja dia dikirim ke penjara Melaka, Malaysia. Di penjara ini, dia bertemu dengan musuh bebuyutannya, Vardhaan (Boman Irani). Rupanya, Don belum bertaubat, dia masih memiliki segudang rencana guna mencapai tujuan utamanya, menjadi penguasa kartel narkoba di Eropa. Don mengajak Vardhaan melarikan diri dari lapas. Mereka terbang ke Zurich, Swiss, untuk mencuri cetak biru uang negara di Depository Bank of Zurich. Bergabung bersama mereka adalah kekasih Don, Ayesha (Lara Dutta), dan hacker handal, Sameer (Kunal Kapoor). Untuk mendapatkan akses menuju bank, Don mengancam sang wakil presiden bank, Diwan (Aly Khan), dengan sebuah video yang memuat percakapan Diwan membahas tentang rencana pembunuhan terhadap petinggi Bank Eropa. Tentu saja, Diwan tidak tinggal diam. Dia menyewa seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi Don dan antek-anteknya. Sementara itu, keberadaan Don di Eropa mulai terendus oleh Roma.

Sebagai sebuah film India, Don 2 sama sekali tidak berasa India. Farhan Akhtar lebih memilih untuk mengajak penonton jalan-jalan ke Malaysia, Thailand, Jerman, dan Swiss, ketimbang berputar-putar di India. Romansa picisan serta nyanyian dan tariannya pun tidak terlalu ditonjolkan. Adegan aksinya diramu dengan lebih intens, simak saja adegan kejar-kejaran di jalanan Berlin yang padat yang konon katanya melibatkan sampai 67 mobil. Sungguh seru, menegangkan, dan brilian. Anda dijamin betah untuk duduk manis sepanjang dua setengah jam di kursi bioskop tanpa melongok jam tangan berkali-kali. Farhan Akhtar tahu benar bagaimana cara menjamu tamunya. Suguhi dengan gadis-gadis cantik dan pameran mobil keren sebagai pemanis, jalan cerita yang cerdik sebagai menu utama, dan ditutup dengan adegan aksi seru yang tiada henti. Namun tentu saja jamuan ini tidak akan terasa manis apabila Farhan Akhtar tidak memberikan bumbu bernama Shahrukh Khan. Akting apiknya sebagai Don sanggup menutupi berbagai kelemahan yang muncul. Sebagai hidangan pelengkap, sang tuan rumah memberikan pilihan kepada penonton untuk menyaksikannya dalam versi 2D atau 3D. Mengingat tidak ada perbedaan yang signifikan, versi 2D terasa lebih tepat bagi Anda karena mengenakan kacamata 3D selama dua setengah jam bukanlah perkara yang menyenangkan. Filmnya toh masih tetap seru sekalipun ditonton di layar 2D.

Exceeds Expectations

Jumat, 06 Januari 2012

Short Reviews: ALVIN AND THE CHIPMUNKS 3, JACK & JILL, CONTAGION, THE ADVENTURES OF TINTIN


Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked

Saya tidak habis pikir, dengan buruknya kualitas film kedua, mengapa jutaan orang masih saja berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan kelanjutan dari Alvin and the Chipmunks? Yang membuat saya lebih heran lagi, mengapa saya mau-maunya membuang waktu dan uang yang berharga demi menyaksikan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked? Jika Anda ingin melepaskan penat usai diserbu setumpuk pekerjaan, maka Anda lebih baik menghapus film ini dari daftar film yang ingin Anda tonton jika tak ingin menderita di dalam bioskop. Sungguh, jilid ketiga ini sangat membosankan, menjengkelkan, tak lucu sama sekali, dangkal, dan mudah untuk dilupakan. Ending semakin memperparah segalanya. Ini adalah pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini. (Poor)


Jack & Jill

Jack & Jill adalah sebuah film komedi dengan guyonan yang sangat kasar tanpa tedeng aling-aling, jorok, tak masuk akal, dan bodoh. Sepertinya Dennis Dugan terinspirasi oleh karya-karya The Farrelly Brothers karena aroma komedi mereka tercium cukup menyengat disini. Menyaksikan Jack & Jill bagaikan tengah menyaksikan film-film buatan KK Dheeraj, saya berhasil tertawa habis-habisan karena beberapa adegan yang terlampau tak bisa diterima akal sehat. Bergabungnya Al Pacino dan Johnny Depp dalam Jack & Jill patut dipertanyakan. Apakah bujet yang menggelembung hingga $79 juta sebagian besar lari ke dalam kantong mereka? Karena saya sama sekali tidak percaya jika alasan mereka bergabung dalam film ini disebabkan tertarik dengan naskahnya. (Poor)


Contagion

Film mengenai bencana tidak melulu harus digambarkan melalui sebuah film aksi berbujet raksasa dengan sentuhan efek khusus disana sini, Steven Soderbergh mempunyai caranya sendiri. Menyaksikan Contagion bagaikan tengah menyaksikan salah satu episode dari CSI. Ketegangan dibangun secara perlahan, misteri yang melingkupi dibuka satu demi satu, dan ini semua didukung dengan akting kelas wahid dari barisan pemainnya. Anda mungkin akan dibuat mengantuk dan pusing pada awalnya, terutama jika Anda memilih untuk tidak konsentrasi, namun seiring berjalannya durasi, Contagion kian menarik untuk disantap. Flu yang acapkali dianggap sebagai penyakit ringan, menjadi monster mengerikan disini. Sebuah film cerdas yang rasanya teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Outstanding)


The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn

Fans berat Tintin mungkin saja agak kecewa dengan cara Steven Spielberg menangani The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat Hollywood, tapi itu tak menutupi fakta bahwa ini adalah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Spielberg tahu benar bagaimana cara memanjakan penonton lewat suguhan petualangan yang menegangkan, misteri yang memancing rasa ingin tahu, humor yang menggelitik dan visualisasi yang tersaji dengan indah. Sang pionir dalam motion capture, Robert Zemeckis, agaknya perlu berguru kepada Spielberg yang berhasil menciptakan sebuah film animasi yang luar biasa indah, hidup dan mengasyikkan dalam debutnya di genre ini jauh melampaui pencapaian Zemeckis melalui The Polar Express dan Beowulf. (Exceeds Expectations)

Sabtu, 31 Desember 2011

REVIEW : SHERLOCK HOLMES: A GAME OF SHADOWS


"Slow and steady wins the race." - Sherlock Holmes

Guy Ritchie mengakhiri Sherlock Holmes dengan sebuah adegan yang membuat para penggemar tidak sabar untuk menantikan kelanjutannya, Irene Adler (Rachel McAdams) rupanya bekerja untuk Professor Moriarty. Tak ada penampakan wajah dari sang professor, hanya suaranya saja. Berbagai spekulasi mengenai siapa yang akan memerankan musuh abadi Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) pun bermunculan. Yang paling santer terdengar adalah Brad Pitt. Pasangan dari Angelina Jolie ini merupakan salah satu yang paling vokal mengenai ketertarikannya untuk terlibat dalam proyek sekuel dari Sherlock Holmes, apalagi bintang Troy ini pernah bekerjasama dengan Ritchie di Snatch. Sang sutradara enggan untuk memberikan banyak komentar mengenai kepastian apakah Pitt adalah Professor Moriarty. Dan, ketika akhirnya Jared Harris terpilih, banyak pihak yang merasa kecewa karena kadung mengharapkan Brad Pitt. Namun saya pribadi tidak mempermasalahkan hal ini, selama sang aktor bisa bermain bagus, kenapa tidak? Harris pun pada akhirnya mampu membuktikan bahwa dia layak memerankan Professor Moriarty dalam Sherlock Holmes: A Game of Shadows. Jika pada akhirnya terasa kurang greget, maka naskah buatan Kieran Mulroney dan Michele Mulroney dianggap yang paling bertanggung jawab.

Bagi yang mengharapkan Sherlock Holmes: A Game of Shadows sebagai sebuah film yang sarat dengan aksi, Guy Ritchie akan memuaskan Anda dengan berbagai adegan aksi yang ditampilkan dengan elegan, bergaya, dan tentunya Ritchie banget. Tapi akan sangat mengecewakan bagi siapapun yang berharap jilid kedua ini akan menjadi lebih kelam, lebih banyak misteri, dan lebih mencekam, dengan kehadiran Professor Moriarty (Jared Harris). A Game of Shadows sebenarnya memiliki premis yang menarik lantaran jalan ceritanya terinspirasi dari cerpen karya Arthur Conan Doyle yang berjudul The Final Problem, akan tetapi kenyataan yang terjadi ternyata tak berbanding lurus, setidaknya bagi saya. Misteri yang ditawarkan kurang menarik karena sejak awal penonton telah mengetahui siapa yang menjadi dalang di balik semua kejadian. Dengan dibongkarnya identitas pelaku sejak dini, maka tumpuan satu-satunya untuk menjadikan film ini menarik adalah cat-and-mouse chase antara Holmes dan Moriarty yang sayangnya tidak diberi porsi yang cukup oleh tim penulis skenario dan Ritchie. Mereka justru lebih asyik menyoroti fluktuasi hubungan antara Holmes dengan Dr. John Watson (Jude Law) yang kian lama menjadi kian mirip pasangan ketimbang sahabat. Mencoba untuk menyaingi pasangan Brokeback, eh?


Sherlock Holmes khawatir, pernikahan Watson dengan Mary Morstan (Kelly Reilly) akan membuat sang BFF (Best Friend Forever-Red) meninggalkannya sendiri dalam memecahkan berbagai kasus. Dan ya, Watson memang memiliki rencana seperti itu. Akan tetapi Watson mengurungkan niatnya setelah dia dan sang mempelai perempuan turut menjadi target pembunuhan dari Professor Moriarty. Mau tak mau, mereka berdua pun ikut serta membantu Holmes untuk menggagalkan rencana sang professor yang berniat menciptakan krisis di industri senjata Eropa yang memungkinkan terciptanya perang dalam skala besar. Dalam kasus teranyarnya ini, duo paling keren dalam sejarah karya sastra detektif ini tidak berjuang sendirian. Mereka mendapatkan bantuan penuh dari kakak Sherlock, Mycroft Holmes (Stephen Fry), serta Simza (Noomi Rapace), wanita gypsy yang saudaranya disinyalir memiliki hubungan dengan komplotan yang dibentuk oleh Moriarty. Sepanjang 128 menit, penonton diajak untuk mengikuti petualangan konyol dari Holmes, Watson, dan Simza. Saya sebut konyol lantaran Holmes versi Ritchie ini digambarkan seperti telah hilang kewarasannya, menjadi kian eksentrik, dan berlebihan. A Game of Shadows pun menjelma menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan.

Pun begitu, A Game of Shadows masih memiliki sejumlah amunisi yang membuat saya rela untuk tetap duduk manis hingga film berakhir. Slow motion sequences yang menjadi ciri khas dari film pertama, kembali dihadirkan dengan frekuensi kemunculan yang lebih banyak. Beberapa terkesan sebagai sempilan semata, tapi adegan kejar-kejaran di hutan Jerman berhasil divisualisasikan dengan cantik. Gabungan antara efek khusus, sinematografi serta editing yang cantik, membuat adegan ini sulit untuk dilupakan begitu saja. Di luar sektor teknis yang memang menjadi andalan dwilogi ini, departemen akting pun turut berjasa dalam menyelamatkan A Game of Shadows. Robert Downey Jr. dan Jude Law yang telah melebur dengan karakter masing-masing mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam urusan membangun chemistry, sementara Stephen Fry nampak santai membawakan perannya. Jared Harris tak mengecewakan, hanya saja tim penulis naskah tidak memberinya ruang lebih untuk mengeksplor karakter salah satu penjahat paling berbahaya ini. Rachel McAdams yang menggoda hanya tampil selewat saja dan selebihnya diserahkan kepada Noomi Rapace yang kehadirannya tak lebih dari sekadar tempelan semata. Nampaknya, usaha untuk tampil bermewah-mewahan dengan memperbanyak sajian laga berbuntut pada pengorbanan terhadap sektor naskah. Misteri tak menarik, karakterisasi beberapa karakter terasa dangkal, dan jalan cerita pun monoton.

Acceptable

Senin, 26 Desember 2011

REVIEW : MISSION: IMPOSSIBLE - GHOST PROTOCOL


Mission: Impossible jilid 4? Melihat seorang Tom Cruise yang tahun depan berusia kepala 5 adu jotos dengan sekumpulan penjahat tengik dan bergelantungan di gedung pencakar langit? Hmmm.. setidaknya masih lebih bisa diterima ketimbang menyaksikan opa Harrison Ford beraksi kembali sebagai Indiana Jones tempo hari. Dengan sambutan hangat yang diterima Mission: Impossible III dari kritikus maupun penonton, maka sekuel dirasa perlu untuk dibuat. Saya mafhum, selama tim memiliki bekal yang cukup untuk meneruskan misi tak masuk akal dari Ethan Hunt (Tom Cruise). Beruntung, Cruise memiliki alasan yang kuat karena berhasil menemukan sutradara, naskah, dan tim produksi yang solid. Mission: Impossible – Ghost Protocol berhasil menyajikan sebuah hiburan kelas atas yang menyenangkan. Berdiri tegap di atas dua prekuelnya, hanya sedikit di bawah film pertama yang cerdas itu. Di bawah penanganan Brad Bird, sutradara film animasi terpuji; Iron Giant, The Incredibles, dan Ratatouille, seri Mission: Impossible kembali cemerlang setelah sebelumnya sedikit ternoda saat John Woo dan J.J. Abrams agak sedikit berlebihan memerlakukan instalmen ini.

Brad Bird nyaris tidak memberikan kesempatan bagi penonton untuk menghela nafas lega selama 132 menit. Sajian aksi yang memacu adrenalin ditimpangi dengan intrik spionase yang memikat dan humor yang renyah, saya dipaksa untuk tetap bertahan di kursi bioskop seraya menikmati popcorn asin yang gurih serta Cola yang menyegarkan. Nikmat tiada duanya. Sejak menit pertama, Mission: Impossible – Ghost Protocol digeber dengan serangkaian adegan yang mengasyikkan plus mengundang penasaran. Di Budapest, seorang agen IMF bernama Trevor Hanaway (Josh Holloway) diketahui telah dibunuh oleh pembunuh bayaran yang dingin, Sabine Moreau (Lea Seydoux). Belum sempat saya mencerna apa yang sesungguhnya terjadi, dengan sigap adegan melompat jauh ke Moscow, ke sebuah penjara dimana kita bertemu dengan Ethan Hunt. Apa yang telah dia lakukan sehingga mendekam di penjara Russia yang dingin? Anda harus mencari tahu sendiri. Sedikit petunjuk, ini masih memiliki keterkaitan dengan film sebelumnya. Misi penyelamatan Hunt dilakukan oleh Jane Carter (Paula Patton) dan Benji Dunn (Simon Pegg). IMF (Impossible Mission Forces) memerintahkan ketiga agen ini untuk menemukan seorang teroris asal Rusia, Kurt Hendricks (Michael Nyqvist), yang berencana mewujudkan perang nuklir.


Belum sempat Hendricks ditemukan, tim IMF pimpinan Hunt difitnah yang berujung pada munculnya Ghost Protocol, keberadaan IMF beserta seluruh operasinya disangkal oleh pemerintah Amerika Serikat. Namun Ethan Hunt tidak menyerah begitu saja. Dengan bantuan dari seorang analis intelijen, William Brandt (Jeremy Renner), Hunt memburu Hendricks hingga ke belahan dunia lainnya, dari Dubai hingga Mumbai. Dan kita pun patut bersyukur atas kemajuan teknologi serta berterima kasih kepada Brad Bird yang bersikeras untuk mengambil gambar dengan IMAX untuk adegan-adegan tertentu alih-alih kamera 3D. Adegan yang memperlihatkan Ethan Hunt ‘memanjat’ Burj Khalifa dan bergelantungan di ketinggian ratusan meter dari permukaan tanah, berhasil terekam dengan sangat apik dan sesuatu banget. Mengetahui fakta bahwa Tom Cruise melakukan sendiri adegan ini membuatnya terasa lebih spesial. Saya memang menyaksikan film ini di layar bioskop biasa, akan tetapi efek yang dihasilkan dari adegan Burj Khalifa ini sungguh terasa. Berulang kali ratusan penonton lain berteriak miris, dan saya yang memiliki Aeroacrophobia (takut akan tempat tinggi terbuka) sukses mengucurkan keringat dingin. Robert Elswit, sang sinematografer, mampu memunculkan serangan vertigo ringan kepada penonton.

Sekali ini, Mission: Impossible – Ghost Protocol mempunyai tim yang mengagumkan, baik on screen maupun off screen. Betapa beruntungnya Tom Cruise mempunyai rekan-rekan yang hebat; Jeremy Renner yang cerdas, Paula Patton yang cantik namun berbahaya, serta Simon Pegg yang tidak pernah gagal membuat saya tertawa. Chemistry yang terjalin diantara para personil terasa padu, hangat, dan mengasyikkan. Seandainya instalmen ini dilanjutkan, semoga mereka berempat plus Ving Rhames kembali bersatu. Tentu saja dengan penggalian karakter yang lebih dalam. Karena ini adalah film tentang kembalinya Ethan Hunt ke dunia spionase, maka Andre Nemec dan Josh Appelbaum tidak memberikan porsi yang memadai bagi berkembangnya karakter lain. William Brandt mendapatkan porsi minim yang efektif, sementara Jane Carter dan Benji Dunn sedikit terlupakan. Padahal akan sangat menarik jika mengetahui latar belakang dua karakter seru ini secara lebih mendalam. Ah, agaknya saya terlalu rakus dengan mengharapkan kesempurnaan dari berbagai lini untuk film ini. Bagaimanapun, Mission: Impossible – Ghost Protocol telah berhasil menjalankan misinya untuk menghibur penonton dengan amat baik. Cepat, cerdas, seru, penuh intrik, ledakan disana-sini, lucu, menegangkan, dan keren. Sebuah paket komplit yang secara mengejutkan datang dari sebuah film yang pada awalnya dianggap tidak perlu keberadaannya.

Exceeds Expectations

Minggu, 27 November 2011

REVIEW : THE RAID


"Nggak semua polisi bisa dibeli." - Rama

The Raid
atau dikenal terlebih dahulu dengan judul Serbuan Ma
ut, telah menggemparkan dunia maya ketika film ini diberitakan telah menggondol People’s Choice Award di Midnight Madness Toronto Film Festival. Menjadi semakin heboh saat Sony Pictures dikabarkan telah membeli hak distribusinya untuk peredaran dunia dan Mike Shinoda (Linkin Park) diajak untuk mengisi musik latar. Belum juga beredar secara luas, kabar mengenai The Raid akan dibuat remake oleh Hollywood telah kencang berhembus. Sesuatu yang sangat membanggakan bagi perfilman Indonesia tentu saja. Apa yang begitu istimewa dari film ini sehingga banyak penonton dan kritikus film asing berdecak kagum dibuatnya? Maka ketika film keempat dari sutradara asal Wales, Gareth Evans, ini direncanakan untuk diputar sebagai film penutup dari pagelaran INAFFF, ribuan penonton pun berbondong-bondong menyerbu Blitz Megaplex Grand Indonesia untuk mendapatkan tiketnya. Dengan jumlah tiket yang dicetak terbatas, tidak semua penonton kebagian jatah. Beruntung sekali Cinetariz bisa menjadi salah satu dari sedikit penonton yang memperoleh kesempatan untuk menyaksikan The Raid jauh sebelum filmnya dirilis secara resmi di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 2012 nanti.

Dengan trailer yang telah cukup banyak menyuguhkan sejumlah adegan kekerasan yang brutal dan memompa adrenalin, saya pun bertanya-tanya, apa lagi yang akan ditawarkan oleh Gareth Evans? Maksud saya, trailer-nya yang sedemikian komplit bisa saja merusak kenikmatan saat menyaksikan The Raid. Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak penonton yang menurunkan ekspektasinya guna menghindari kekecewaan. Dan, Gareth Evans tidak mengecewakan siapapun. The Raid dibuka dengan Rama (Iko Uwais) yang tengah mempersiapkan diri untuk misi besar pertamanya. Setelah sepersekian menit penonton menikmati adegan yang syahdu bersama Rama dan keluarganya, Gareth Evans langsung menyeret kita pada sejumlah adegan yang memiliki ritme bertolak belakang dengan opening sequence tadi. Rama bergabung bersama pasukan elit pimpinan Sersan Jaka (Joe Taslim) dan Letnan Wahyu (Pierre Gruno) yang berusaha untuk mendobrak markas besar seorang bandar narkoba bernama Tama (Ray Sahetapy) yang konon belum terjamah oleh siapapun, termasuk para penegak hukum. Operasi kemanusiaan ini pun seketika berubah menjadi operasi bunuh diri tatkala terbongkar fakta bahwa para penghuni markas besar ini bukanlah sekumpulan penjahat kelas teri biasa. Mereka memiliki kemampuan bela diri yang tinggi dan siap membantai siapapun yang berani menginjakkan kaki di rumah mereka.


Hanya ada dua kata yang bisa menggambarkan seperti apa performa The Raid secara keseluruhan, keren gila! Siapapun yang mengatakan Indonesia tidak akan pernah bisa membuat film aksi sekelas Hollywood, sebaiknya tutup mulut sedari sekarang. Inilah bukti bahwa film Indonesia pun mampu bertarung di taraf internasional. Dibandingkan dengan Merantau, The Raid cenderung tidak peduli dengan naskah. Bisa dibilang, apa yang hendak dituturkan oleh Gareth Evans bisa dirangkum hanya ke dalam satu kalimat saja. Yang menjadi fokus adalah adegan tarungnya yang dikemas sedemikian rupa. Sejak pasukan elit memasuki area kekuasaan Tama, jangan harap Anda bisa bernafas. It’s filled with many breathtaking sequences. Saya sarankan Anda untuk ke toilet terlebih dahulu sebelum film dimulai karena The Raid tidak memberikan jeda untuk beristirahat. The Raid jelas bukan jenis tontonan yang cocok bagi Anda yang tidak tahan melihat kekerasan. Suara tembakan, desingan peluru, pukulan maupun tendangan bertubi-tubi menjadi pemandangan yang wajar selama satu jam pertama. Sisanya, Anda akan dihadapkan pada pemandangan yang lebih indah dengan mayat bergelimpangan, darah yang bercucuran dan tubuh yang tersayat-sayat. Semuanya disajikan dengan realistis. Kamera handheld pun dimanfaatkan, dan sang sinematografer, Matt Flannery, mampu beberapa kali menyajikan momen yang membuat ngilu.

Tentu kurang afdol jika pertarungan antara pasukan elit dengan kroni-kroni Tama disajikan lewat adu senjata. Iko Uwais dan Yayan Ruhian kembali berduet dengan manis menghasilkan gerakan-gerakan pencak silat yang memesona. Adegan klimaks yang memertemukan Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Doni Alamsyah, dalam satu ruang adalah bukti kejeniusan Iko Uwais dan Yayan Ruhian dalam mengolah koreografi laga. Sangat menegangkan. Selama kurang lebih 101 menit, Gareth Evans memang tidak membiarkan para penonton untuk duduk tenang. Jika Anda tidak bisa menahan diri, maka kata-kata kotor akan dengan mudah mengalir dari mulut. Dan ya, naskah racikan Gareth Evans pun dipenuhi dengan dialog yang kasar. Serangkaian kata-kata kotor tapi cerdas kerap meluncur dari Ray Sahetapy, Yayan Ruhian, Doni Alamsyah, dan kawan-kawan, yang secara efektif mampu membuat penonton terpingkal-pingkal. Ray Sahetapy menunjukkan tajinya sebagai aktor watak yang berkelas disini. Tanpa perlu berakting berlebihan, rasa ngeri sudah menyebar kemanapun setiap dia hadir. Para aktor lain pun bermain pas sesuai dengan porsinya. Yang justru saya khawatirkan dari The Raid adalah ketika film ini dikirim ke LSF. Sedikit saja potongan, maka buyar segalanya. The Raid lebih enak untuk dinikmati apa adanya.

Outstanding

Selasa, 01 November 2011

REVIEW : REAL STEEL


Di tahun 2011 ini, perfilman Hollywood memberikan cukup banyak kejutan manis kepada para pecinta film. Sekalipun teknologi, khususnya pemanfaatan kamera 3D, semakin berkuasa, beberapa produser tampaknya mulai sadar bahwa mereka tidak akan bisa bertahan jika selamanya bergantung pada teknologi. Beberapa film yang dirilis tahun ini, secara mengejutkan hadir dengan kualitas yang apik. Bahkan banyak diantaranya justru berasal dari film yang sama sekali tidak disangka-sangka. Dari paruh pertama tahun 2011, tersebutlah judul-judul seperti Unknown, Insidious, Source Code, Fast Five hingga Thor, yang sukses mengeruk pundi-pundi dollar serta mencuri hati penonton. Memasuki musim panas, kejutan lain datang. Disamping special effect yang jor-joran dengan bujet raksasa yang digelontorkan oleh produser, dramalurgi mulai diperhatikan. Setelah hingar bingar summer movies berakhir, bukan berarti tidak ada lagi film yang menarik untuk ditonton. Ini saatnya untuk berburu kenikmatan tak terduga lainnya. Dan, saya kembali mendapatkannya melalui sebuah film yang trailer-nya saya cibir, Real Steel. Film yang terinspirasi dari cerpen karangan Richard Matheson bertajuk Steel ini, diarahkan oleh sutradara tak meyakinkan, Shawn Levy, dan didukung oleh Hugh Jackman, Evangeline Lily, Dakota Goyo, dan Kevin Durand. Sebagai komoditas utama di Real Steel adalah para robot petinju. Nampaknya kesuksesan luar biasa dari trilogi Transformers telah membuat robot dianggap sebagai ladang yang menguntungkan di Hollywood.

Di tahun 2020, olahraga tinju telah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Tidak ada lagi manusia yang bertarung di atas ring tinju demi memperebutkan gelar sebagai World Boxing Champions. Sebagai gantinya, para robot yang berlaga. Perubahan ini tentu bukannya tanpa alasan. Dengan digantikannya manusia oleh robot, maka pertandingan tinju yang berlangsung akan semakin seru, brutal dan gila-gilaan. Charlie Kenton (Hugh Jackman), mantan petinju hebat di zamannya, beralih profesi menjadi ‘pelatih tinju’ para robot. Dengan modal pas-pasan serta menumpuknya hutang, Charlie berpindah dari satu arena ke arena yang lain bersama robot andalannya, Ambush, untuk menyambung hidup. Ketika Ambush akhirnya hancur, Charlie menghabiskan seluruh tabungannya demi robot lain, Noisy Boy. Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan Noisy Boy, Charlie mendapatkan sebuah warisan dari mantan kekasihnya telah meninggal, seorang bocah berusia 11 tahun bernama Max (Dakota Goyo). Karena merasa tak mampu mengurusnya, Charlie melakukan perjanjian dengan paman dari Max. Selama musim panas, Charlie akan mengurus Max bersama dengan sahabatnya, Bailley (Evangeline Lily). Bisa diduga, hubungan ayah dan anak yang terpisah selama 10 tahun ini tidak berjalan mulus. Ketika Noisy Boy ‘tewas’ secara mengenaskan, Charlie dihadapkan pada pilihan yang sulit. Max menemukan sebuah robot rongsokan bernama Atom yang memiliki kemampuan istimewa. Max melihat potensi Atom sebagai robot petinju yang hebat, akan tetapi dalam pandangan Charlie, Atom tidak lebih dari robot rongsokan.

Sangat mengejutkan ketika saya mengetahui fakta bahwa pembesut film aksi yang emosional ini adalah Shawn Levy, sutradara spesialis film ringan yang telah menghasilkan dwilogi Night at the Museum, Date Night, Cheaper by the Dozen, dan The Pink Panther. Tentu bukan hal yang aneh jika banyak calon penonton yang pesimis dengan Real Steel jika mengintip jejak rekam dari Levy yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam mengarahkan film bergenre aksi fiksi ilmiah. Namun Levy berhasil membuktikan kepada mereka yang skeptis terhadap film arahannya bahwa dia bukanlah sutradara kacangan. Setelah melewati fase sebagai sutradara yang biasa-biasa saja, Levy akhirnya menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya melalui Real Steel yang tak pelak lagi merupakan film terbaik yang pernah dia buat. Real Steel didukung dengan naskah berisi hasil racikan secara keroyokan dari John Gatins, Dan Gilroy, dan Jeremy Leven. Dengan durasi yang terbentang panjang hingga melebihi dua jam, Real Steel tidak hanya menyoroti kebuasan para robot dalam menghabisi lawannya di atas ring tinju. Sisi emosionil dari hubungan personal antar karakter terasa perlu untuk ditonjolkan. Ikatan yang terjalin diantara Charlie dan Max serta Max dan Atom terasa kuat, nyata, indah dan mengharukan. Dipadukan dengan sajian aksi yang menakjubkan, Real Steel telah membuat sang sesepuh, Transformers: Dark of the Moon, terlihat seperti kaleng kosong bekas.

Untuk sekali ini, Hugh Jackman terlihat sangat pas dengan karakter yang dimainkannya. Pesonanya berhasil terpancarkan. Di awal film, saya dibuat kesal dengan tingkah lakunya yang cenderung semau gue dan pengecut, namun ketika menjelang akhir, saat Max dipaksa untuk berpisah dari Charlie, saya berempati kepadanya. Chemistry antara Hugh Jackman dan Dakota Goyo memang sangat meyakinkan, sampai-sampai saya menitikkan air mata di penghujung film. Usaha keras Shawn Levy dan timnya untuk menghasilkan sebuah film fiksi ilmiah berbobot patut mendapat acungan dua jempol. Real Steel dengan sukses turut membawa para penontonnya untuk terlibat secara emosional. Adegan di ring tinju membuat saya dan puluhan penonton yang lain bertepuk tangan setelah menyaksikan pertandingan yang menegangkan. Tidak sedikit pula yang matanya terlihat basah saat meninggalkan gedung bioskop. Segala kekhawatiran yang tercipta saat menyaksikan trailer-nya yang tidak meyakinkan ternyata sama sekali tidak terwujud. Real Steel hadir sebagai sebuah film yang tidak hanya sangat seru tetapi juga mampu mengaduk-aduk perasaan serta memberikan pelajaran yang berharga tentang kehidupan tanpa terkesan menggurui.

Exceeds Expectations

Sabtu, 08 Oktober 2011

REVIEW : ABDUCTION


Saat rekan seperjuangannya di The Twilight Saga, Robert Pattinson dan Kristen Stewart, lebih memilih untuk mengembangkan kemampuan beraktingnya dengan memilih peran-peran yang berbeda nan menantang dalam berbagai genre film, maka Taylor Lautner justru sebaliknya. Sadar diri bahwa dia belum bisa berakting secara baik dan benar, maka cara paling aman adalah dengan memanfaatkan tubuh atletisnya sebagai jualan utama. Menggabungkan dengan keahliannya dalam karate, maka jalan satu-satunya untuk bisa memamerkannya adalah melalui film action. Akan sangat aneh jika Lautner memutuskan untuk bak bik buka seraya membuka kaos dan berjalan kemana-mana dengan bertelanjang dada dalam film drama. Valentine's Day adalah sebuah kesalahan, dan dia tidak bisa bergerak disana. Dalam Abduction, dia mencoba untuk melepas bayang-bayang Jacob Black sedikit demi sedikit dan mencoba untuk mengejar karir sebagai action hero papan atas. Lautner pun nekat untuk melakukan banyak adegan aksi tanpa bantuan stuntman di film arahan John Singleton, pembesut Shaft dan 2 Fast 2 Furious, ini. Premisnya mengenai identitas yang hilang cukup membuat penasaran dan mau tak mau akan membuat Anda untuk membandingkannya dengan triloginya mas Jason Bourne. Apakah Taylor Lautner akan menjadi versi muda dari Jason Bourne?

Tidak seperti film sejenis yang memulai segalanya dengan cepat, Abduction baru memasuki inti kisah setelah berceloteh kesana kemari sepanjang 15 menit. Saya paham bahwa Shawn Christensen ingin mengajak penonton untuk menyelami kehidupan Nathan Harper (Taylor Lautner) terlebih dahulu, tetapi apa yang disampaikan hampir tak bermakna. Semuanya dijelaskan secara sekilas saja dan selebihnya adalah kegilaan Nathan bersama konco-konconya plus adegan buka baju yang ditunggu-tunggu oleh fans Taylor Lautner. Kita juga akan menyaksikan usaha Nathan untuk menarik perhatian Karen (Lily Collins), gadis cantik yang sudah lama ditaksirnya. Untuk sesaat saya merasakan bahwa ini bukanlah sebuah film action thriller, melainkan drama romantis picisan. Saya mulai mengantuk dan rasanya ingin berteriak, dimana semua aksi seru yang digeber di trailer? Ketika Nathan dan Karen sedang mengerjakan tugas bersama dan menemukan sebuah website orang hilang, ketegangan mulai muncul. Ada foto masa kecil Nathan disana! Jika memang benar itu adalah foto dia, lantas siapa sebenarnya Kevin (Jason Isaacs) dan Mara (Maria Bello) yang selama ini mengaku sebagai orang tuanya? Dua orang tak dikenal lantas menyergap rumah Nathan malam itu juga dan menghabisi Kevin dan Mara. Dengan bantuan dari terapisnya, Geraldine Bennett (Sigourney Weaver), Nathan pun menelusuri masa lalunya.


Baiklah, satu lagi pelajaran penting yang saya dapatkan usai menyaksikan Abduction, jangan pernah memercayai trailer dari film Hollywood. Apa yang saya saksikan ternyata tidak seperti janji-janji yang diobral melalui trailer. Bagi yang Anda yang berminat untuk menyaksikan Abduction, saya sarankan untuk tidak menonton trailer-nya terlebih dahulu. Apa yang tersaji sepanjang 106 menit, hampir separuhnya sudah saya lihat melalui trailer-nya. Saya tidak lagi terperangah menontonnya, justru saya berulang kali mengintip arloji dan mengeluh, kapan film ini akan selesai? Agak mengejutkan Singleton dan Christensen tidak menghadirkan Abduction sebagai sebuah film aksi dengan ketegangan tiada henti. Menyebut Nathan Harper sebagai versi remaja dari Jason Bourne adalah sebuah kesalahan. Alih-alih menggedor jantung, Abduction malah membosankan dan menggelikan. Naskahnya sangat dangkal dan mudah ditebak sementara dialognya datar, cheesy dan sesekali terdengar bodoh. Bahkan film spionase remaja ringan semacam Agent Cody Banks dan Stormbreaker masih lebih menyenangkan untuk diikuti ketimbang Abduction.

Dengan minimnya adegan aksi yang seru, maka Abduction mau tak mau bertumpu pada akting para pemainnya karena naskahnya yang amburadul jelas tak bisa menjadi penyelamat. Sialnya, departemen akting pun tak memberikan sumbangsih yang baik. Taylor Lautner terlihat kesulitan mendalami perannya sedangkan Lily Collins membuat saya ingin menangis melihat aktingnya. Apakah saya sedang menyaksikan behind the scene dari sebuah pemotretan yang dikemas dalam bentuk film layar lebar? Kehadiran para aktor senior macam Alfred Molina, Sigourney Weaver, Jason Isaacs dan Maria Bello sama sekali tidak membantu. Bahkan ironisnya dua nama terakhir sekadar numpang lewat saja. Motif mereka dalam berpartisipasi meramaikan Abduction pun seketika dipertanyakan. Dengan sinematografi yang biasa saja dan soundtrack yang meh, membuat Abduction melaju kencang menuju Razzie Awards 2012. Hampir tak ada yang bisa dibanggakan dari film ini. Bisa tayang di bioskop secara luas saja sudah bersyukur banget. Sayang sekali memang karena sejatinya Abduction berpotensi menjadi sebuah film action yang menarik. Penanganan Singleton yang buruk dan lemahnya naskah Christensen menjadikan Abduction sebagai sebuah film action yang membosankan dan terasa seperti versi parodi dari The Bourne Identity. Namun seburuk apapun film ini, fans Taylor Lautner kemungkinan besar masih akan tetap mencintainya.

Poor