Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

REVIEW : LOVE IS U

“Nggak, nggak, nggak kuat… Nggak, nggak, nggak kuat…” Lho, lho, itu kan kutipan lirik ‘Playboy’ tembang milik 7 Icons? Tenang, jangan keburu protes dulu. Sepenggal lirik ini bukan bermaksud untuk membandingkan siapa yang lebih superior antara 7 Icons dengan Cherrybelle, melainkan hanya ungkapan hati saya saat menyaksikan film debut dari Cherrybelle di bioskop, Love is U. Saking tidak kuatnya, saya sampai ingin menggigit kursi yang ada di depan saya. Sial sekali waktu itu saya memutuskan untuk tidak memiliki segelas minuman bersoda dan berondong jagung yang bisa saya telan bulat-bulat ketika jengkel. Dan lebih sial lagi, pulsa di handphone sedang menipis. Maka satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa bosan yang sudah mencapai ubun-ubun adalah memandangi personil Cherybelle satu persatu secara cermat. Strategi jitu? Nampaknya, apalagi setelah menyaksikan film ini saya mendadak jatuh cinta setengah mati dengan girlband ini, seolah-olah mereka adalah sekumpulan bidadari yang baru saja turun dari langit.

Menyaksikan Love is U membuat saya tidak tahan untuk segera menyandingkannya dengan Fantasi, Spice World, Purple Love hingga Baik-Baik Sayang yang memiliki tujuan yang senada, memanfaatkan sejumlah orang atau sebuah band yang tengah naik daun demi menumpuk pundi-pundi. Sekalipun empat film tersebut memiliki kualitas yang pas-pasan, jalinan ceritanya yang menghibur membuatnya menjadi semacam ‘guilty pleasure’ bagi sebagian orang, termasuk non-fans. Sayangnya, ini tidak terjadi pada Love is U. Naskah buatan Jamil Aurora kelewat datar, sementara Hanny R. Saputra tidak bisa berbuat banyak. Alhasil, dengan dialog yang membosankan, akting yang ‘begitu deh’, setting yang melulu disitu-situ saja dan nyaris tidak dihiasi dengan percikan konflik yang bikin gregetan, tentu Anda sudah bisa membayangkan betapa menyiksanya film ini. Jika memang sejak awal tujuan dibuatnya film ini adalah sebagai media promosi, sepertinya dikemas dalam bentuk film konser seperti Hannah Montana atau Glee adalah pilihan yang lebih baik. Memaksakannya muncul sebagai sebuah film layar lebar sementara hampir seluruh aspek belum siap hanya akan mempermalukan diri sendiri.

Agak mengherankan sutradara sekelas Hanny R. Saputra bersedia menerima tawaran film dengan naskah yang bahkan lebih lemah dari FTV sekalipun ini. Para personil Cherybelle dikisahkan tengah dikarantina menyusul kegagalan mereka tampil secara kompak dalam sebuah pertunjukkan. Layaknya Akademi Fantasi Indosiar, kita pun disuguhi dengan tayangan seputar kehidupan sehari-hari para personil Cherybelle saat mereka berlatih koreografi, vokal, hingga bersantai bersama di tempat karantina. Agar tidak monoton, maka sejumlah bumbu penyedap berupa konflik antar personil, konflik dengan anggota keluarga dan konflik dengan para pelatih pun dicemplungkan. Apakah bumbu-bumbu ini membuat Love is U menjadi terasa lezat? Oh, sayang sekali tidak. Menyebalkan, ya. Serentetan konflik yang berpotensi memanaskan suasana, dimunculkan sepotong-sepotong dengan penyelesaian yang serba mudah. Penyelesaian konflik selalu ditandai dengan personil Cherybelle yang saling berpelukan, menangis bersama, lalu melantunkan tembang “Beautiful”, “Love is You”, dan “I’ll Be There For You” berulang-ulang hingga saat Anda keluar dari gedung bioskop, tanpa sadar Anda telah hafal dengan lirik tiga lagu tersebut. Saya tidak sedang menonton salah satu episode Teletubbies kan?

Pada akhirnya, kemunculan Love is U di layar lebar memang hanya untuk memuaskan dahaga para ‘Twibi’ dan ‘Twiboy’ yang seakan belum puas melihat idolanya bersliweran di layar kaca setiap hari. Love is U adalah bentuk pengkultusan terhadap Cherybelle. Hanya para fans yang akan jejeritan atau bertepuk tangan setelah film berakhir. Sementara mereka yang tidak terlalu mengenal girlband ini, atau malah membencinya, akan menepuk jidat mereka berulang-ulang dan mengacak-acak rambut, kecuali mereka tahu cara mengatasi kebosanan. Menyaksikan sembilan gadis dengan cara berbusana, cara berbicara, menangis, marah, hingga tertawa dengan cara yang nyaris serupa ditambah perilaku kekanak-kanakan yang dibuat-dibuat tentu bukan pemandangan yang menyenangkan, meski mereka luar biasa cantik. Jika ada yang bergembira ria, maka sekali lagi itu hanyalah fans Chibi, (dan anehnya) saya. Karena saya sudah luar biasa putus asa mencari kegembiraan di tengah gurun yang gersang. Ketika rasa haus dan lapar mulai menyerang, apapun terlihat lezat.

Troll

Senin, 19 Maret 2012

REVIEW : HUGO


" If you've ever wondered where your dreams come from, you look around... this is where they're made."

Sulit untuk tidak mencintai Hugo. Ini adalah sebuah surat cinta yang ditujukan oleh Martin Scorsese khusus untuk sinema. Isinya berupa ungkapa
n hati dari seseorang yang sangat mengagumi keindahan dan magis dari sebuah film. Sebagai pecinta film, rasanya hampir mustahil tidak terpukau dengan film terbaru dari sineas spesialis film-film bertemakan gangster dan kekerasan ini. Wujud kecintaannya terhadap sinema, dan untuk pertama kalinya setelah hampir 50 tahun berkarir, diwujudkan dalam bentuk film untuk segala umur! Tidak tanggung-tanggung, Hugo hadir dalam versi 3D! Selalu ada pertama kali bagi setiap orang. Keputusan Scorsese untuk menjajal ranah baru tentu bukannya tanpa alasan atau sekadar mengikuti tren belaka. Dengan membesut film keluarga, tentu pasarnya akan lebih luas sehingga pesan yang ingin disebarkan dapat diterima oleh banyak orang dari setiap lapisan usia. Pemakaian 3D pun bukan hanya sekadar gimmick, melainkan dibutuhkan untuk membuat Hugo terasa lebih emosional, lebih nyata, dan dekat dengan hati. Simak saja opening scene-nya yang luar biasa cantik. Sekalipun ini film debutnya dalam 3D, Scorsese telah terlihat seperti maestro. Dia memerlihatkan kepada dunia bagaimana seharusnya sebuah film 3D dibuat.

Naskah dari John Logan berpijak pada novel unik karangan Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret. Yang perlu dicatat, petualangan yang diusung oleh Hugo ini tidak sedikitpun mendekati Harry Potter, justru lebih mirip dengan Oliver Twist. Maka mengharapkan Hugo Cabret berpetualang di dunia fantasi hanya akan membuat Anda mendengus kecewa. Alurnya cenderung realistis. Bisa dikatakan, Hugo adalah cerminan hidup dari sang pembesutnya, dan bisa jadi Anda. Bukan mengenai kehidupan sebagai bocah yatim tunawisma, melainkan bagaimana sihir dari sinema mengubah jalan hidup seseorang. Hugo Cabret (Asa Butterfield) tidak memiliki siapapun dalam hidupnya. Ayahnya (Jude Law) tewas dalam sebuah kebakaran di museum saat sedang bekerja. Setelah sang ayah tiada, Hugo diasuh oleh pamannya yang pemabuk, Claude (Ray Winstone). Dia dipaksa tinggal di stasiun, lebih tepatnya diantara dinding-dinding stasiun, dan membantu Claude merawat jam-jam yang berada di stasiun Gare Montparnasse, Paris, Prancis. Belum reda duka Hugo atas kepergian sang ayah, Claude pun pergi tak tahu rimbanya. Jadilah Hugo yang kini bertanggung jawab atas jalannya jarum-jarum jam secara teratur.

Hidup seorang diri di sebuah stasiun yang besar tentu bukanlah perkara mudah. Untuk menyambung hidup, Hugo menjadi pencuri. Inspektur Gustave (Sascha Baron Cohen) menjadi musuh bebuyutannya. Bagaikan Tom dalam Tom & Jerry, Gustave seakan tak pernah mengenal kata menyerah untuk menangkap Hugo dan mengirimkannya ke panti asuhan seperti yang telah dia lakukan kepada anak jalanan sebelumnya. Selain Gustave, Hugo pun harus berhadapan dengan pemilik toko mainan yang sinis (Ben Kingsley) yang mengambil paksa buku catatan miliknya. Demi mendapatkannya kembali, si bocah gelandangan ini meminta bantuan kepada Isabelle (Chloe Grace Moretz). Isabelle menyanggupi, dengan satu syarat, dia ingin Hugo mengajaknya bertualang. Petualangan inilah yang dinanti-nanti oleh para pecinta film. Martin Scorsese mengajak para penonton untuk memelajari sejarah sinema awal. Ayah Hugo dikisahkan pernah terkesima dengan sebuah film berjudul Voyage to the Moon buatan George Méliès. Sutradara asal Prancis ini merupakan salah satu pionir lahirnya sinema. Voyage to the Moon menjadi karyanya yang paling terkenal dan merupakan film fiksi ilmiah pertama yang dibuat. Karakter Méliès ini memegang peranan yang sangat penting dalam Hugo.

Tujuan utama dari Hugo Cabret adalah menemukan satu komponen yang hilang dari automaton, robot berbentuk manusia yang menjadi proyek ambisius sang ayah. Apabila Hugo mampu mendapatkannya, maka sebuah tabir misteri terungkap. Untuk ukuran film keluarga, sayangnya, Hugo masih terbilang cukup berat untuk dinikmati bagi anak-anak sekalipun Scorsese sangat terampil dalam menyatukan nuansa drama yang menyentuh, romansa yang syahdu, komedi yang menggelitik, dan sedikit aksi dengan dukung efek khusus yang memesona. Paruh awalnya terasa kurang menggigit, namun memasuki babak petualangan Hugo dan Isabelle, plot mulai terasa cihuy. Yang menjadikan Hugo menarik adalah ketepatan dalam memasukkan serangkaian kejadian bersejarah ke dalam sebuah kisah fiksi. Perkenalan dengan George Méliès adalah bagian terbaik dari film ini. Awalnya, beliau adalah seorang pesulap dan pembuat mainan. Tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Lumiere bersaudara dalam Arrival of a Train at La Ciotat, Méliès banting setir menjadi sineas. Jatuh bangun dari sang pionir digambarkan cukup akurat oleh Scorsese, termasuk dengan memasukkan potongan-potongan film buatan Méliès. Sebuah suguhan yang menakjubkan dari sutradara peraih Oscar melalui The Departed ini. Hugo menunjukkan bagaimana indahnya sebuah film tatkala dikerjakan dengan segenap rasa cinta. Bersanding dengan The Artist yang tidak kalah cantiknya, Hugo adalah sebuah pilihan yang tepat bagi Anda yang ingin merayakan sinema.

Outstanding

Kamis, 15 Maret 2012

REVIEW : NEGERI 5 MENARA


"Man Jadda Wajada!"

Negeri 5 Menara
memberikan secercah harapan kepada perfilman lokal yang lesu dalam mendulang penonton. Tahun lalu, Surat Kecil Untuk Tuhan yang
dinobatkan sebagai film terlaris tak sanggup menggapai angka 800 ribu penonton. Sungguh memprihatinkan. Berangkat dari sebuah novel laris yang mengumpulkan jutaan pembaca dari berbagai pelosok negeri, Negeri 5 Menara berpotensi mengulang kesuksesan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Jika harapan itu dirasa terlalu muluk-muluk, setidaknya mampu mengimbangi raihan Sang Pencerah. Dikomandoi oleh Affandi Abdul Rachman yang pernah menghasilkan beberapa film apik, Pencarian Terakhir, Heart-Break.com, Aku atau Dia? dan The Perfect House, dan naskah ditangani oleh penulis naskah jempolan, Salman Aristo, film yang mengisahkan tentang perjuangan enam santri di sebuah pondok di Ponorogo ini berpotensi menjadi sebuah tontonan yang berkualitas. Namun tentu saja duo ini mengemban tugas berat mengingat mereka harus memadatkan novel setebal 416 halaman menjadi sebuah film berdurasi 120 menit saja. Apabila mereka sanggup membuat para penggemar novelnya merasa terpuaskan dan penonton yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai novel karya Ahmad Fuadi mendadak tertarik untuk membaca novelnya, maka tujuan berhasil tercapai. Yang menjadi pertanyaan, apakah tujuan tersebut berhasil tercapai?

Affandi Abdul Rachman memulai film dari sebuah desa di pinggir Danau Maninjau dengan memerlihatkan kehidupan Alif (Gazza Zubizareta) yang serba sederhana dengan Amak (Lulu Tobing) dan Ayah (David Chalik). Sekalipun hidup dalam struktur sosial konvensional, Alif dan sahabatnya, Randai (Sakurta Ginting), tidak berpikiran seperti rekan-rekan sebayanya, mereka memiliki mimpi yang tinggi. Alif berniat melanjutkan pendidikan ke sebuah SMA di Bandung, dilanjut dengan memasuki kampus idamannya, ITB. Sayangnya, Amak tidak sepemikiran dengan putra sulungnya ini. Amak menginginkan Alif untuk memasuki pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Pondok Madani. Walau terasa berat harus merelakan mimpinya terkubur, Alif merasa wajib mendengarkan perkataan orang tuanya. Bagaimanapun, orang tua mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya. Ditemani sang Ayah, Alif berangkat mengikuti ujian ke Ponorogo. Hatinya remuk mengetahui keadaan pondok yang jauh dari kesan ideal, belum lagi dengan keharusan mundur setahun demi mengikuti kelas adaptasi. Alif mencoba untuk bertahan, setidaknya hingga tahun pertama berlalu. Surat-surat yang dikirim oleh Randai semakin menggoda iman Alif untuk segera kabur ke Bandung. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Pondok Madani terasa bagaikan rumah kedua yang nyaman bagi Alif terlebih dengan kehadiran Baso (Billy Sandy), Atang (Rizky Ramdani), Said (Ernest Samudera), Raja (Jiofani Lubis), dan Dulmajid (Aris Putra). Mereka berenam kerap berkumpul di bawah menara masjid dan menamakan diri mereka sebagai “Sahibul Menara”.

Tidak seperti Laskar Pelangi yang mempunyai grafik konflik yang tergambar dengan tegas, Negeri 5 Menara cenderung adem ayem dalam bertutur, mengalir dengan tenang bagaikan tengah menaiki sebuah perahu yang melintasi sungai dengan pemandangan yang menyejukkan mata ditemani dengan rekan-rekan yang menyenangkan. Meski tenang tanpa tantangan, perjalanan tersebut tak terasa membosankan. Konflik batin yang dihadapi Alif pun tidak lama-lama dibahas, segera terselesaikan ketika film memasuki menit ke-20. Selebihnya, Affandi Abdul Rachman menyuguhkan tentang suka duka menjadi santri pondok yang sejujurnya cukup membuat saya tergoda untuk menjajalnya. Demi mempertahankan mood penonton, maka dirasa perlu membuat cabang cerita baru. Baso yang tidak terlalu pandai dalam Bahasa Inggris diminta rekan-rekannya untuk mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, atau ketika Alif menjadi wartawan di Koran pondok dan terkesima dengan kecantikan Sarah (Eriska Rein), keponakan dari Kyai Rais (Ikang Fawzi). Ditampilkan secara jujur nan polos, cabang-cabang ini sanggup menggelitik penonton. Kedekatannya dengan kehidupan kita menjadikan Negeri 5 Menara terasa membumi dan lezat untuk disantap. Tertawa geli melihat para santri dihukum oleh Ustadz mereka lantaran telat ke masjid, grogi saat berhadapan dengan santriwati, atau the power of kepepet, ide-ide cerdas yang muncul saat kepepet. Ada dua kemungkinan saat penonton tergelak; heran melihat kelakuan para santri atau pengalaman pribadi.

Namun dari semua itu, Negeri 5 Menara memberikan sebuah mentera sakti bagi siapapun yang ingin mencapai kesuksesan. Di kelas hari pertamanya, Alif dikenalkan dengan mantera “Man Jadda Wajada!” oleh Ustad Salman (Donny Alamsyah), yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Disinilah yang membedakan Negeri 5 Menara dengan film sejenis bertema “zero to hero” yang menyoroti perjuangan siswa dari kampung menjadi orang sukses. Segala sesuatu yang ada di dunia tidak dapat diraih secara instan, butuh perjuangan yang seringkali penuh lika liku. Sahibul Menara memiliki impian untuk menaklukkan dunia. “Kita bikin janji di menara ini, nanti kita akan bertemu dan foto dengan menara kita masing-masing,” kata Baso kepada rekan-rekannya. Impian dari Sahibul Menara tidak diperlihatkan mendadak tercapai begitu saja. Beberapa kali mereka meneriakkan mantra “Man Jadda Wajada” tatkala hati mulai dipenuhi dengan keraguan.

Sekalipun berasal dari sebuah pesantren yang tidak terlalu terkenal, Sahibul Menara tidak segan memiliki impian yang besar. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang bijak, “jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar.” Sayangnya, keterbatasan durasi memaksa Affandi Abdul Rachman memangkas proses perjuangan tokoh-tokoh kesayangan kita ini dalam menggapai sukses. Endingnya muncul secara prematur. Saat layar tiba-tiba menghitam memunculkan nama-nama di jajaran pemain dan kru, secara spontan saya nyeletuk, “gitu doang?”. Endingnya terasa datar dan janggal. Bagaikan tengah menaiki roller coaster yang memacu adrenalin, ternyata kita hanya dibawa dalam satu putaran saja. Tak puas, menginginkan lebih. Pun begitu, Affandi Abdul Rachman dan Salman Aristo telah berhasil menyuguhkan salah satu tontonan terbaik di awal tahun. Lucu, mengharukan, dan inspiratif. Negeri 5 Menara sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Acceptable

Minggu, 11 Maret 2012

REVIEW : THE ARTIST


"I won't talk! I won't say a word!" - George Valentin

Sesuatu yang wajar jika kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting. Bagaimana tidak, di era ketika para sineas dunia mengeksplorasi kecanggihan teknologi dengan pemanfaatan 3D serta efek khusus secara gila-gilaan, Hazanavicius justru nekat membesut sebuah film bisu dan hitam putih. Sebuah pertaruhan yang sangat berani. Siapa yang rela menyisakan waktu dan uangnya demi menyaksikan sebuah film hitam putih nan bisu selain para kritikus dan penggila film? Rasanya, The Artist pun tidak akan sepopuler sekarang apabila Academy tidak mengganjarnya dengan 5 piala Oscar, termasuk
Film Terbaik. Bukan bermaksud pesimis, hanya mencoba untuk bersikap realistis. Ketika 21 Cineplex merilisnya di bioskop-bioskop besar jaringannya, masih dirasa perlu bagi mereka untuk mencantumkan peringatan kepada calon penonton melalui poster, “film ini hitam putih dan tanpa dialog”, sebagai antisipasi agar peristiwa “ganti rugi karena merasa tertipu” seperti yang terjadi di Inggris tidak kembali terulang. Dengan peringatan seperti ini, belum apa-apa banyak masyarakat yang merasa terintimidasi. Sungguh disayangkan, padahal The Artist adalah sebuah film yang luar biasa indah.

The Artist membahas mengenai era kejayaan film bisu, masa transisi ke film bersuara hingga bagaimana seorang aktor film bisu menyikapi masa transisi ini. Aktor film bisu yang dimaksud adalah George Valentin (Jean Dujardin), seorang aktor yang menyerupai George Clooney di masa kini yang film-filmnya senantiasa mencetak box office dan para penggemar mengelu-elukannya. Hidupnya bisa dibilang sempurna, dia telah memiliki semua apa yang dibutuhkan. Entah karena sombong atau tak siap, ketika pemilik studio, Al Zimmer (John Goodman), mengutarakan niatnya untuk membuat film bersuara, Geroge Valentin justru tak menganggapnya serius. Dia tetap keukeuh bahwa film bisu masih diminati. Didepak dari studio, George Valentin membuat film bisunya sendiri di tengah terjangan film bersuara yang digila-gilai. Anak didiknya, Peppy Miller (Berenice Bejo), kian melejit karirnya, sementara Valentin perlahan mulai dilupakan setelah filmnya flop. “Saatnya memberi jalan pada yang muda,” begitu ujar Peppy. Hidupnya pun hancur. Istri yang dicintainya, Doris (Penelope Ann Miller) pergi meninggalkannya. Hanya anjing peliharaannya, Jack, dan si supir, Clifton (James Cromwell) yang masih setia mendampingi.

Pernahkah Anda menitikkan air mata saat menonton sebuah film karena saking indahnya? Saya pernah beberapa kali, dan The Artist adalah salah satunya. Film arahan sutradara Prancis, Michel Hazanavicius, ini tidak hanya indah, tetapi juga unik, cerdas, lucu, lembut, dan menyentuh. Tanpa perlu memaksa para pemainnya merengek-rengek sesenggukan, air mata penonton tetap berhasil tumpah. Bahkan untuk pertama kalinya, di bioskop Semarang, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana The Artist sanggup membuat sebagian besar penonton terharu dan, yang lebih luar biasa lagi, memberikan standing ovation setelah film berakhir! Sebuah pemandangan yang langka. Tidak menyangka efeknya akan sebesar itu. Hanya dengan bermodalkan cerita yang sederhana dan intertitle sebagai pengganti dialog, Hazanavicius sanggup membuat penonton terkoneksi dengan film arahannya. Sekalipun ini adalah film bisu, bukan berarti The Artist sepi total yang menyebabkan suara Anda saat berbisik di dalam studio terdengar bagaikan Dolby Digital. Musik gubahan Ludovic Bource yang menawan menemani sepanjang perjalanan Anda menyaksikan sekelumit sejarah film bisu.

Beruntung The Artist diperkuat oleh pemain-pemain yang hebat. Jean Dujardin sanggup mengaduk-aduk emosi penonton, memberikan perasaan yang tidak menentu kepada Valentin. Terkadang dia adalah sebuah karakter yang menyenangkan, tetapi terkadang menyebalkan luar biasa terutama saat dia menolak bergabung dengan generasi anyar, namun dia pun sebenarnya patut dikasihani. Pesonanya yang kuat mengingatkan pada Humphrey Bogart dan Douglas Fairbanks. Sementara Berenice Bejo tampil enerjik sebagai gadis muda penuh mimpi yang ceria dan menyenangkan, Peppy Miller. Bintang pendukungnya tidak terlalu menonjol karena tertutup oleh pesona Dujardin dan Bejo, kecuali Uggie yang memerankan Jack si anjing yang sangat setia kepada majikannya. Mungkin bagi sebagian penonton akting dari Dujardin maupun Bejo terkesan berlebihan, dan naskahnya pun klise tiada tara bak melodrama kebanyakan. Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya menjajal ‘film bisu beneran’ terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Artist. Ini adalah sebuah homage terhadap era film bisu yang terbungkus elegan dan berusaha untuk setia kepada ‘tuannya’ layaknya Clifton dan Jack.

Salah satu wujud kesetiaan Hazanavicius nampak pada tempo film yang mengalir ringan menyenangkan bak film bisu Hollywood tahun 1920-an, sekalipun ini sebenarnya adalah produksi Prancis yang terkenal lambat dalam menuturkan alur film-filmnya. Selain itu, film ini pun dibuat menggunakan aspek rasio layar 1.33:1 yang umum digunakan oleh film bisu. Dan saya ingin mengatakan kepada para pembaca yang budiman bahwa saya tidak sekalipun mengintip jam tangan! Bukti bahwa saya sangat menikmati film ini. Rasanya saya ingin menontonnya lagi, lagi, dan lagi. Sayangnya belum sempat saya mewujudkan keinginan saya, The Artist sudah tergusur dari bioskop. Menontonnya ulang di layar laptop atau televisi tidak akan memberikan pengalaman menonton yang sama. The Artist lebih enak dinikmati di layar bioskop. Sungguh pedih melihat film sebrilian ini kurang diminati oleh masyarakat hanya karena ini adalah ‘film bisu dan hitam putih’. Cobalah terlebih dahulu, Anda dijamin tidak akan menyesalinya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘silence is golden’? Dan pepatah itu cocok sekali diberikan kepada The Artist. What a wonderful movie to celebrate cinema!

Outstanding



Sabtu, 14 Januari 2012

REVIEW : UMMI AMINAH



"Percuma kamu kaya raya jika iman kamu rendah."
- Ummi Aminah


Miris, ketika saya membeli tiket untuk menonton Ummi Aminah, layar monitor didominasi oleh warna hijau. Pun ketika film telah memasuki menit ke-30, jumlah penonton yang memenuhi gedung bioskop pun tak mencapai angka 25. Nampaknya banyak masyarakat yang belum ‘ngeh’ terhadap film ini. Ummi Aminah memang adem ayem soal urusan promosi. Secara otomatis, hanya publik yang akrab dengan stasiun televisi milik Surya Paloh dan website resmi jaringan bioskop terbesar di Indonesia saja yang mengetahui ‘kedatangan’ Ummi Aminah. Di media jejaring sosial pun, tak ada yang memberikan testimoninya. Sepi promo, sepi penonton, apakah itu berarti film ini juga sepi secara kualitas? Syukurlah saya bisa menjawabnya dengan “tidak!”. Aditya Gumay yang pernah menghasilkan film bersahaja macam Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela, tidak merias film terbarunya ini dengan menor. Semuanya digarap serba sederhana. Namun bukan berarti naskah buatan Aditya Gumay dan Adenin Adlan digarap seadanya. Secara filmis, Ummi Aminah tak menggugah selera, penampilannya tak jauh berbeda dengan film televisi. Akan tetapi, naskahnya cukup bernas.


Ummi Aminah (Nani Widjaya) adalah seorang ustadzah yang memiliki ribuan jamaah setia. Sebagai seorang ustadzah, bukan berarti Ummi terbebas dari permasalahan-permasalahan dunia. Berbagai cobaan terus mendera keluarganya seakan tak mau berhenti. Suaminya, Abah (Rasyid Karim), ditipu dan harus merelakan uang ratusan juta rupiah. Ketujuh anaknya; Umar (Gatot Brajamusti), Aisyah (Cahya Kamila), Zarika (Paramitha Rusady), Zainal (Ali Zainal), Zubaidah (Genta Widi), Zidan (Ruben Onsu), dan Ziah (Zee Zee Shahab), pun tak luput dari masalah. Umar harus menghadapi istrinya, Risma (Yessy Gusman), yang sinis dan enggan untuk menjalin hubungan harmonis dengan keluarga Umar, Zarika jatuh cinta dengan rekan kerjanya yang telah beristri, kondisi keuangan Zainal yang nyaris serba kekurangan sementara dia harus memberi sandang pangan papan untuk anak dan istrinya (Revalina S. Temat), dan Zidan sulit untuk diterima oleh Abah karena sifatnya yang seperti perempuan. Ujian sesungguhnya bagi keluarga Ummi Aminah datang tatkala Zainal dibui lantaran dikira sebagai kurir narkoba. Berita dengan cepat menyebar, satu persatu jamaah Ummi Aminah meninggalkannya.

Sekalipun dibungkus dalam bentuk film reliji, Ummi Aminah memuat pesan universal tentang cinta kasih dalam keluarga. Menunjukkan bahwasanya tidak ada harta di dunia ini yang lebih berharga dari keluarga. Ketika masyarakat termakan oleh hasutan media dan satu persatu pergi meninggalkan Ummi, Ummi tergoncang. Di saat inilah anggota keluarganya datang seraya menggandeng tangan Ummi yang membuat Ummi berhasil kembali berdiri tegak. Dukungan yang diberikan oleh keluarga tulus adanya, tanpa pamrih. Aditya Gumay dan Adenin Adlan turut menyentil terhadap perilaku masyarakat yang dengan mudah menghakimi seseorang hanya dengan berlandaskan pada pemberitaan di media dan apa yang tampak dari luar. Bagi mereka, publik figur dituntut untuk selalu berperilaku sempurna dan haram hukumnya melakukan kesalahan. Melalui sosok Abah dan Zidan, penonton kembali dihadapkan pada permasalahan yang tidak jauh berbeda, penghakiman terhadap kaum LGBT. Tidak pernah dijelaskan secara eksplisit apakah Zidan adalah seorang gay, namun dapat ditafsirkan dari cara Abah memperlakukan Zidan. Dari sini muncul pertanyaan, apakah menjadi berbeda itu salah? Apakah tokoh masyarakat harus senantiasa sempurna dalam setiap kesempatan? Apakah kita lebih baik dari mereka sehingga layak untuk memberi penghakiman?

Aditya Gumay tidak hanya mengajak penonton untuk tertawa, menangis dan terharu, tetapi juga berkontemplasi setelah menontonnya. Ini adalah film yang sangat tepat bagi Anda yang ingin mencari pesan moral dari sebuah film. Bagusnya, Aditya Gumay menyampaikan pesan tersebut tanpa ada kesan menggurui. Tapi tetap saja sebagai sebuah film, Ummi Aminah tidak lantas mulus sempurna tanpa memiliki cacat. Terlalu banyaknya karakter serta konflik yang bercabang-cabang memberi ruang sempit terhadap perkembangan karakter. Rasanya perlu penonton diberi bekal lebih seputar latar belakang keluarga Ummi. Sebagai tokoh utama, Ummi Aminah tidak diberikan porsi yang memadai. Malah, posisi Abah, Zainal, Zarika dan Zubaidah dalam film justru lebih kuat dan memberi sumbangsih terhadap pergerakan cerita. Nah lho. Bukankah seharusnya Ummi yang menjadi sentral cerita? Beruntung, kejanggalan ini berhasil sedikit tertutupi dengan akting apik dari ensemble cast-nya. Setidaknya Ummi Aminah mampu menyampaikan pesan baiknya kepada penonton dengan bersahaja. Endingnya yang berbeda menjadi daya tarik tersendiri. Sebuah suguhan yang indah bagi penikmat film Indonesia di awal tahun 2012.

Acceptable

Jumat, 06 Januari 2012

Short Reviews: ALVIN AND THE CHIPMUNKS 3, JACK & JILL, CONTAGION, THE ADVENTURES OF TINTIN


Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked

Saya tidak habis pikir, dengan buruknya kualitas film kedua, mengapa jutaan orang masih saja berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan kelanjutan dari Alvin and the Chipmunks? Yang membuat saya lebih heran lagi, mengapa saya mau-maunya membuang waktu dan uang yang berharga demi menyaksikan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked? Jika Anda ingin melepaskan penat usai diserbu setumpuk pekerjaan, maka Anda lebih baik menghapus film ini dari daftar film yang ingin Anda tonton jika tak ingin menderita di dalam bioskop. Sungguh, jilid ketiga ini sangat membosankan, menjengkelkan, tak lucu sama sekali, dangkal, dan mudah untuk dilupakan. Ending semakin memperparah segalanya. Ini adalah pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini. (Poor)


Jack & Jill

Jack & Jill adalah sebuah film komedi dengan guyonan yang sangat kasar tanpa tedeng aling-aling, jorok, tak masuk akal, dan bodoh. Sepertinya Dennis Dugan terinspirasi oleh karya-karya The Farrelly Brothers karena aroma komedi mereka tercium cukup menyengat disini. Menyaksikan Jack & Jill bagaikan tengah menyaksikan film-film buatan KK Dheeraj, saya berhasil tertawa habis-habisan karena beberapa adegan yang terlampau tak bisa diterima akal sehat. Bergabungnya Al Pacino dan Johnny Depp dalam Jack & Jill patut dipertanyakan. Apakah bujet yang menggelembung hingga $79 juta sebagian besar lari ke dalam kantong mereka? Karena saya sama sekali tidak percaya jika alasan mereka bergabung dalam film ini disebabkan tertarik dengan naskahnya. (Poor)


Contagion

Film mengenai bencana tidak melulu harus digambarkan melalui sebuah film aksi berbujet raksasa dengan sentuhan efek khusus disana sini, Steven Soderbergh mempunyai caranya sendiri. Menyaksikan Contagion bagaikan tengah menyaksikan salah satu episode dari CSI. Ketegangan dibangun secara perlahan, misteri yang melingkupi dibuka satu demi satu, dan ini semua didukung dengan akting kelas wahid dari barisan pemainnya. Anda mungkin akan dibuat mengantuk dan pusing pada awalnya, terutama jika Anda memilih untuk tidak konsentrasi, namun seiring berjalannya durasi, Contagion kian menarik untuk disantap. Flu yang acapkali dianggap sebagai penyakit ringan, menjadi monster mengerikan disini. Sebuah film cerdas yang rasanya teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Outstanding)


The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn

Fans berat Tintin mungkin saja agak kecewa dengan cara Steven Spielberg menangani The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat Hollywood, tapi itu tak menutupi fakta bahwa ini adalah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Spielberg tahu benar bagaimana cara memanjakan penonton lewat suguhan petualangan yang menegangkan, misteri yang memancing rasa ingin tahu, humor yang menggelitik dan visualisasi yang tersaji dengan indah. Sang pionir dalam motion capture, Robert Zemeckis, agaknya perlu berguru kepada Spielberg yang berhasil menciptakan sebuah film animasi yang luar biasa indah, hidup dan mengasyikkan dalam debutnya di genre ini jauh melampaui pencapaian Zemeckis melalui The Polar Express dan Beowulf. (Exceeds Expectations)

Sabtu, 24 Desember 2011

REVIEW : GARUDA DI DADAKU 2


"Kita jatuh bukan karena batu besar, tapi karena kerikil!" - Wisnu

Sepakbola merupakan olahraga yang sangat populer di Indonesia. Anehnya, hanya segelintir sineas di Indonesia yang berani membesut film yang bersentuhan olahraga ini bahkan ketika film buatan Ifa Isfansyah, Garuda di Dadaku, secara mengejutk
an berhasil menorehkan angka di atas 1,4 juta penonton pada tahun 2009 silam sekalipun. Kebanyakan cenderung memilih untuk menelurkan karya-karya yang aman, dalam artian proses produksinya mudah, murah, dan cepat. Tidak mengherankan jika perfilman lokal didominasi oleh film yang bertema seragam. Hasrat para pecinta olahraga untuk menyaksikan olahraga favoritnya diwujudkan ke dalam bentuk film layar lebar pun tak tersalurkan. Beruntung masih ada beberapa pekerja film yang cermat melihat peluang. Rudi Soedjarwo dan Hanung Bramantyo yang disebut-sebut sebagai salah satu sineas terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, bersaing di tahun 2011 ini dalam menghasilkan sebuah film tentang sepakbola. Jika Hanung Bramantyo memulainya dari awal, maka Rudi Soedjarwo menerima tongkat estafet dari Ifa Isfansyah untuk melanjutkan kisah Bayu (Emir Mahira) dalam Garuda di Dadaku 2. Naskah masih tetap ditangani oleh Salman Aristo yang baru-baru ini menggarap naskah Sang Penari.

Impian Bayu untuk menjadi bagian dari timnas sepakbola Indonesia U-13 berhasil terwujud. Tidak tanggung-tanggung, dia turut diangkat menjadi kapten tim karena dinilai memiliki kemampuan bermain yang handal. Tentu saja Salman Aristo tidak akan selamanya membiarkan Bayu untuk bersuka cita. Proses pendewasaan diri Bayu menjadi konflik utama yang disuguhkan dalam Garuda di Dadaku 2. Berbagai cobaan mendera Bayu dari segala arah, seakan tak mengenal ampun. Tim yang dipimpinnya berulang kali menghadapi kegagalan yang berakibat pada dipecatnya sang pelatih, Harri Dotto (Dorman Boerisman). Penggantinya adalah seorang pelatih muda yang sangat disiplin, ambisius dan keras, Wisnu (Rio Dewanto) yang cara melatihnya membuat Bayu merasa tidak nyaman. Wisnu pun mendatangkan seorang pemain berbakat dari Makassar, Yusuf (Muhammad Ali), yang dalam waktu singkat mencuri perhatian banyak pihak, termasuk sahabat Bayu, Heri (Aldo Tansani), yang semakin lama semakin akrab dengan Yusuf. Ketika lapangan tidak lagi menyenangkan bagi Bayu, rumah pun turut berasa seperti neraka terlebih dengan hadirnya Rudi (Rendi Krisna) yang merenggangkan hubungan Bayu dengan sang ibu, Wahyuni (Maudy Koesnadi). Di sekolah, permasalahan datang dari ketua kelompok belajarnya, Anya (Monica Sayangbati), yang ‘meneror’ Bayu dengan deadline tugas dan tidak mau tahu posisi Bayu sebagai kapten timnas.


Garuda di Dadaku 2 dihadirkan dalam alur dan stuktur cerita yang padat, dialog yang bernas, serta penggarapan dari Rudi Soedjarwo yang tidak kalah menarik dari Ifa Isfansyah. Salman Aristo memasukkan sindiran-sindiran halus kepada pemerintah, dan tak lupa menjumput beberapa referensi dari apa yang tengah hangat di dunia sepakbola Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, semisal kisruh kongres PSSI, pelatih timnas yang diberhentikan secara tidak hormat, hingga atlit sepakbola yang menjadi artis infotainment. Politisasi Sepakbola yang disuntikkan ke dalam film bisa jadi akan sulit dicerna bagi penonton cilik, namun ini menjadi hiburan tersendiri bagi penonton yang akrab dengan dunia sepakbola lokal. Jika dalam prekuelnya penonton melihat bagaimana perjuangan Bayu demi menggapai impiannya, maka disini penonton melihat upaya Bayu menyikapi berbagai macam problematika kehidupan sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Rudi Soedjarwo dan Salman Aristo memutar balik apa yang terjadi di film sebelumnya, sehingga formula ‘hero to zero’ diterapkan disini. Bayu dituntut untuk bersikap dewasa dan membuang sikap egois yang menghinggapinya dalam menghadapi setiap rintangan yang ada.

Ada konsekuensi yang harus diterima ketika tim memutuskan untuk menumpuk sejumlah konflik agar film menjadi padat. Terlalu banyaknya lapisan konflik justru membuat Rudi Soedjarwo kebingungan dalam menentukan prioritas. Penggaliannya terasa kurang dalam dan tidak ada dinamika pada hubungan antar karakter. Setiap karakter yang memiliki koneksi dengan Bayu ditampilkan selewat saja, tak berkesan. Bromance antara Bayu, Heri, dan Yusuf, bagi saya, ditampilkan agak berlebihan karena terkesan terlalu cengeng. Malah menggelikan. Namun yang paling saya sesalkan, pertandingan sepakbola yang seharusnya menjadi momen penting, tidak begitu ditonjolkan. Gegap gempita dalam Tendangan Dari Langit, tidak saya temukan disini. Beruntung, Rudi Soedjarwo memiliki tim yang solid di sisi teknis dan akting. Garuda di Dadaku 2 terbantu editing yang dinamis, pengambilan gambar yang indah dan kekuatan akting setiap pemainnya. Emir Mahira sanggup menampilkan emosi yang dibutuhkan dengan pas, luwes dan believable, sementara Rio Dewanto membuktikan kepada khalayak ramai bahwa dia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Masih segar di ingatan bagaimana Rio Dewanto tampil begitu kemayu di Arisan! 2 dan sekarang dia menjelma menjadi pelatih yang macho, tegas dan berwibawa. Kelemahan memang masih ditemukan disana sini, itu sangat manusiawi. Sekalipun tak bisa menyaingi jilid pertamanya yang sedemikian renyah, Garuda di Dadaku 2 menutup tahun 2011 ini dengan indah. Saya masih percaya, masa depan cerah menanti perfilman Indonesia.

Acceptable

Jumat, 16 Desember 2011

REVIEW : SUNNY


"Teman ada saat masa-masa sulit." - Lim Na-Mi

Film mengenai persahabatan sejumlah gadis ABG sudah jamak dibuat. Dari Indonesia, Ada Apa Dengan Cinta? adalah yang paling populer, menjadi salah satu tonggak kebangkitan perfilman nasional. Baru-baru ini pun kita disodori sebuah film persahabatan dari Thailand yang mendapatkan sambutan hangat pula di Indonesia, Crazy Little Thing Called Love. Ada sebuah benang merah yang bisa ditarik dari kedua film tersebut. Sama-sama menyoal romansa yang memorak morandakan persahabatan. Sebuah plot yang sesungguhnya telah basi tanpa sesuatu yang baru, berulang kali mengalami bongkar pasang dengan sedikit modifikasi disana-sini namun uniknya tidak pernah membosankan untuk disimak. Jika diteliti lebih dekat, sesungguhnya Ada Apa Dengan Cinta? dan Crazy Little Thing Called Love saling bertolak belakang. Film yang satu tentang cewek cantik dari geng populer yang jatuh cinta pada cowok kutu buku, maka yang satu tentang cewek culun yang kesengsem dengan cowok tampan populer. Korea Selatan yang tanpa henti menghasilkan film bermutu dan diprediksi mampu menjelma sebagai pusat perfilman Asia, tak mau kalah. Kang Hyung-chul, pembesut film komedi seru yang laris, Scandal Makers, melahirkan Sunny sebagai tandingan. Secara tema, Sunny tak berbeda jauh dengan dua film di atas. Maka, dimana posisi Sunny diantara Ada Apa Dengan Cinta? dan Crazy Little Thing Called Love?

Sunny tak membicarakan cinta dengan ceriwis layaknya para pendahulu. Dari segi penuturan, Sunny mengingatkan pada Now and Then-nya Demi Moore dengan memakai alur maju mundur yang mencampur begitu saja masa lalu dan masa kini. Kang Hyung-chul tidak pernah memberikan detail yang banyak untuk menggambarkan setting. Petunjuk yang diberikan kepada penonton hanya berupa lagu yang sering diperdengarkan di sejumlah adegan. Saat seorang penyiar radio sekolah menyebut tembang milik Cyndi Lauper, “Girls Just Want to Have Fun” sebagai lagu paling populer kala itu, penonton tentu sudah bisa menebak Sunny mengambil setting di tahun berapa. Film dibuka dengan pertemuan tidak sengaja dari dua sahabat lama, Lim Na-Mi (Yoo Ho-Jeong) dan Ha Chun-Hwa (Jin Hee-Kyung) di sebuah rumah sakit setelah 25 tahun lamanya berpisah. Ha Chun-Hwa mengidap kanker dan usianya diperkirakan tidak melebihi dua bulan. Satu keinginan terakhir yang dititipkan Chun-Hwa kepada Na-Mi sebelum dia tutup usia adalah bertemu dengan anggota “Sunny”, geng yang dipimpinnya kala SMA. Sepanjang kurang lebih 124 menit, penonton diajak untuk mengikuti petualangan Na-Mi dalam mencari anggota Sunny yang lain. Di sela-sela pencarian, masa lalu Sunny diungkap. Na-Mi remaja (Shim Eun-Kyung) adalah siswi pindahan dari sebuah kota kecil di Korea Selatan. Dengan kepribadiannya yang menyenangkan, tidak sulit bagi Na-Mi untuk segera berbaur dengan siswi-siswi lain.


Sekalipun memiliki gaya bertutur yang nyaris serupa dengan Now and Then, kedua film ini jauh berbeda. Now and Then cenderung optimis dalam memandang kehidupan, dibuktikan dengan masa dewasa dari setiap tokoh yang digambarkan mampu menggapai apa yang disebut sebagai American Dreams. Sunny mencoba untuk realistis, yang berarti berjalan suram dan kemungkinan besar akan berjalan tidak sesuai dengan harapan mayoritas penonton. Konflik yang dihadapi oleh Chun-Hwa remaja (Kang So-Ra) pun jauh lebih berat ketimbang Samantha Albertson (Gaby Hoffman). Jika Now and Then adalah versi perempuan dari Stand by Me, maka Sunny adalah versi perempuan dari Friend. Para anggota Sunny tidak dihadapkan pada permasalahan seputar menstruasi, cinta pertama, urban legend, atau payudara yang membesar, tetapi kenakalan remaja. Mereka tidak segan-segan melakukan tawuran dengan geng cewek lain. Ujian persahabatan yang disodorkan oleh Kang Hyung-Chul tidak bersinggungan dengan masalah asmara, melainkan bagaimana mereka menyikapi persoalan internal karena kesalahpahaman atau ketika pihak luar mengintervensi. Romantisme hanya dijadikan sebagai bumbu penyedap saja. Ancaman sesungguhnya bagi Sunny adalah Sang-Mi (Cheon Woo-Hee), teman sekelas mereka yang bermasalah. Rupanya Sang-Mi pernah memiliki masa lalu yang suram dengan Ha Chun-Hwa.

Sunny adalah tipikal film drama Korea kebanyakan yang memulai kisahnya dengan penuh keceriaan, namun seiring berjalannya film menjadi kian suram dan mengharu biru. Tapi, Sunny tidak sesederhana itu. Humornya renyah dan berkelas, tidak jarang pula menjadikan budaya populer Korea sebagai referensi. Konflik yang dihadirkan mengena, menyentuh dan sanggup mengaduk-aduk emosi. Sunny tidak hanya sekadar membawa kita untuk tertawa, tersentuh, dan menangis, tetapi juga menghendaki setiap penontonnya untuk berkontemplasi setelah menyaksikannya. Sesuatu yang jarang ditemukan dalam sebuah film remaja. Seperti sebuah ungkapan, “manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.” Mungkin itu yang ingin disampaikan oleh Kang Hyung-Chul melalui film yang terinspirasi dari masa remaja sang ibunda ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, 1 minggu kemudian, apalagi 25 tahun kemudian. Adegan yang memerlihatkan Na-Mi dewasa sedang menonton sebuah video yang dibuat ketika dia masih SMA adalah momen paling menyentuh sekaligus menyakitkan dari film ini. Impian gagal terwujud. Prestasi akademik tidak selamanya menjadi penentu kesuksesan di masa mendatang. Na-Mi, Chun-Hwa, dan Jin-Hee (Hong Jin-Hee) membuktikan bahwa kesuksesan seseorang lebih ditentukan pada nasib baik, keberuntungan, dan kerja keras. Saya jadi teringat ketika berkumpul bersama teman-teman seperjuangan di sebuah organisasi kampus. Salah satu dari kami nyeletuk, “seperti apa ya kita di 10 tahun mendatang?”. Only God knows what will happen to us.

Exceeds Expectations

Minggu, 04 Desember 2011

REVIEW : ARISAN! 2


"Teman datang dan pergi. Tapi sahabat sejati, selalu di hati." - Meimei

Saat seseorang menyebut arisan, pikiran kita secara otomatis melanglang buana kepada sejumlah ibu-ibu yang tengah asyik ngerumpi, membicarakan semua hal dengan ceriwis, sok tahu, sinis dan tak jarang, pedas. Arisan merupakan salah satu acara yang paling saya sukai, selain resepsi pernikahan. Bukan arisan ibu-ibu tentu saja, tetapi arisan keluarga. Bertemu sanak saudara, saling melepas rindu, curhat, dan bercanda ria, mampu menghilangkan kepenatan hidup yang seakan tiada habisnya menerjang. Di era dimana nyaris tiada lagi ruang pribadi, arisan telah berkembang menjadi berbagai macam bentuk. Bagi sosialita di Jakarta, arisan mampu bernilai miliaran rupiah hingga tidak terhingga nilainya. Arisan bukanlah merupakan sebuah kebutuhan, melainkan hanya untuk menguatkan eksistensi mereka. Inilah yang mencoba untuk dikulik oleh Nia Dinata melalui Arisan!, delapan tahun silam. Bersama dengan Joko Anwar, Nia Dinata membongkar sisi kelam dari ibukota melalui sudut pandang lain. Bukan mengintip kehidupan masyarakat kelas sosial bawah yang berjuang menggapai impian, tetapi masyarakat kelas atas yang glamor dan bergelimangan harta yang hidup dalam kepalsuan.

Kepalsuan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para sosialita di ibu kota, setidaknya itu menurut Nia Dinata melalui Arisan! 2. Tidak ada yang alami dalam kehidupan mereka, baik itu wajah, ciuman hingga persahabatan. Semuanya palsu, fake. Menarik rasanya melongok kehidupan lima sahabat dari Arisan! menjalani kehidupan sebagai sosialita setelah delapan tahun. Lita (Rachel Maryam) yang menjadi seorang ibu tunggal memutuskan untuk terjun ke ranah politik, Andien (Aida Nurmala) menjanda setelah kematian suaminya dan mencari ‘mangsa’ untuk dinikmati setiap malam, Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) telah berpisah, sementara Meimei (Cut Mini) menyepi ke Lombok. Dalam Arisan! 2, storyline dari Andien dan Lita tidak dijadikan sebagai prioritas utama, malah terasa hanya sekadar sempilan belaka demi memberi ruang lebih kepada Meimei, Nino, dan Sakti. Problematika yang dihadapi oleh Meimei merupakan pokok permasalahan dari Arisan! 2. Sebuah rahasia disimpan rapat oleh Meimei kepada keempat sahabatnya. Kepergiannya ke Lombok bukan hanya untuk menikmati hidup, namun lebih dari itu.


Dipenuhi dengan dialog-dialog cerdas berisi nan menohok, akting yang memukau dan bahasa gambar yang terangkai dengan indah, Arisan! 2 adalah sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton. Kepalsuan ibukota dipaparkan secara gamblang disini. Hanya saja sepeninggal Joko Anwar, Arisan! 2 terasa kurang nyinyir dan sinis dalam urusan mengkritisi kehidupan masyarakat perkotaan zaman sekarang. Pun begitu, naskah olahan Nia Dinata tetap menohok. Beberapa kali saya merasa tertampar dengan dialog-dialog yang diucapkan oleh tokoh-tokoh rekaannya. Sisi kelam Jakarta (atau bahkan malah Indonesia?) dari berbagai tingkatan sosial dan usia diungkap satu persatu dengan gaya yang manis, tanpa adanya kesan menceramahi. Gorengan yang dicampur dengan plastik, suntik botox, kepo, hingga generasi eksis yang merasa perlu apapun dipamerkan melalui situs jejaring sosial. Kekasih Nino yang kemayu, Okta (Rio Dewanto), merupakan perwakilan dari generasi eksis. Citra cowok macho yang melekat pada Rio Dewanto berhasil dilepaskan demi menghidupkan karakter Okta yang kemayu, manja dan menyebalkan. Berulang kali Rio Dewanto berhasil memancing tawa penonton, terlebih karakternya mengingatkan perilaku anak muda zaman sekarang. Setiap momen indah diabadikan, lalu dipamerkan melalui jejaring sosial. Seakan dunia perlu tahu apa yang sedang dia lakukan.

Jika ada yang menyebut Arisan! 2 sebagai versi Indonesia dari Sex and the City 2, maka itu sangat bisa dimaklumi. Pameran busana yang glamor, mewah, dan penuh warna tersebar di sepanjang film. Nia Dinata pun tidak memberikan asupan konflik yang mencukupi. Konflik yang dihadapi oleh Meimei dan keempat sahabatnya dihadirkan dengan sangat ringan, kelewat ringan malah. Bahkan untuk sekali ini, Nia Dinata lebih senang mengajak grup rumpi ini jalan-jalan ketimbang asyik bergosip dalam arisan. Ya, sekalipun masih memakai judul Arisan!, kegiatan arisan sedikit sekali dimunculkan. Nyaris tidak ada. Beruntung Nia Dinata tidak melakukan blunder yang sama dengan Michael Patrick King yang justru mengeksploitasi sekumpulan wanita tidak sadar umur dalam perjalanan tanpa tujuan yang jelas. Para pemain tetap solid. Mereka telah melebur dengan karakter masing-masing. Tujuan ke Gili Trawangan pun didasari motif yang kuat. Sekalipun Nia Dinata kurang berhasil untuk mengoneksikan penonton dengan perjalanan spiritual Meimei secara emosional yang seharusnya menjadi poin penting dari Arisan! 2, Nia Dinata mampu menyuguhkan sebuah tontonan yang menghibur. Agaknya Nia Dinata hanya ingin mengajak kita bersenang-senang tanpa perlu memikirkan jalan cerita yang berat dan berfilosofis.

Exceeds Expectations

Rabu, 16 November 2011

REVIEW : SANG PENARI


"Ronggeng itu bukan cuma perkara nari, tetapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur," begitu ujar Nyai Kartareja (Dewi Irawan) kepada Srintil (Prisia Nasution). Inilah yang kemudian membuat Srintil mengalami pergolakan batin. Menjadi ronggeng ternyata tidaklah seindah bayangan Srintil. Sejatinya, dia hanya ingin menari, tidak ingin menjalani upacara 'buka kelambu.' Namun ini telah menjadi konsekuensi yang harus diterima oleh Srintil atas keputusannya untuk memilih menjadi ronggeng. Sebuah keputusan yang dibuat untuk menebus kesalahan kedua orang tuanya yang tanpa sengaja meracuni penduduk Dukuh Paruh dengan tempe bongkrek. Sang kekasih, Rasus (Oka Antara), tidak sepaham dengan Srintil. Dia menentang keputusan Srintil untuk menjadi ronggeng. Menjadi ronggeng, berarti Srintil menjadi milik Dukuh Paruk, bukan hanya Rasus seorang. Siapapun yang mampu membayar mahal, mampu 'mencicipi' tubuh Srintil dengan bebas. Sebelum 'buka kelambu' dimulai, Srintil secara sembunyi-sembunyi melepaskan keperawanannya kepada Rasus. Sayangnya ini tidak memiliki arti apapun bagi mereka berdua. Rasus minggat ke kota setelah berhubungan badan dengan Srintil.

Rasa simpati pun tersemat kepada Srintil yang dengan bertanggung jawab menjalani kehidupan sebagai ronggeng sekalipun hati kecilnya menangis dan menginginkan kebebasan. Ketika Rasus mengajaknya untuk melarikan diri, dia menolak. Srintil merasa perlu untuk mengabdi kepada Dukuh Paruh, walau itu berarti harus berpisah dengan orang yang dikasihinya. Sementara itu, Rasus memiliki jalan hidup yang berbeda setelah diterima menjadi tentara oleh Sersan Binsar (Tio Pakusadewo). Intensitas pertemuan dua sejoli ini kian berkurang. Seiring berjalannya waktu, Srintil makin moncer sebagai ronggeng. Akan tetapi bukan ini yang menggerakkan hati Rasus untuk menemui kekasihnya, melainkan ketika Sersan Binsar mengabarkan Dukuh Paruh telah 'merah'. Perlu diingat, Sang Penari mengambil setting di tahun 1960-an, ketika komunis menjadi ancaman utama. Sang sutradara, Ifa Isfansyah, tidak perlu secara gamblang menyebutkan nama PKI karena setting dan aktivitas-aktivitas yang dilancarkan oleh Bakar (Lukman Sardi) telah cukup menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Noda hitam dalam sejarah Indonesia ini dituturkan dengan cukup mendalam, sekalipun Ifa Isfansyah masih terlalu berhati-hati. Bisa dimengerti, terlebih masyarakat Indonesia masih belum siap untuk dicekoki sejarah bangsa yang kelam dengan jelas. Tidak terbayang bagaimana kejamnya LSF dalam memainkan guntingnya apabila permasalahan yang sensitif ini disampaikan secara blak-blakan
.
Kartareja (Slamet Rahardjo) pun tak berkutik. Selama 'bisnis' ronggengnya berjalan dengan mulus, cara apapun dia tempuh. Dengan mudahnya warga Dukuh Paruk masuk dalam perangkap, nihilnya kemampuan baca tulis menjadi penyebab utama. Srintil tak luput menjadi korban. Begitu mendengar kekasihnya ditangkap, Rasus segera mengambil cuti demi menyelamatkan sang pujaan hati. Ifa Isfansyah merangkum novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, menjadi sebuah film yang padat berdurasi 109 menit. Naskahnya yang ringkas tangkas ditangani langsung oleh Ifa Isfansyah beserta sang penulis novel, Ahmad Tohari. Mereka berdua mendapat bantuan dari Salman Aristo dan Shanty Harmayn untuk memolesnya agar lebih cantik. Sang Penari tidak mengadaptasi ketiga novel Ahmad Tohari tersebut secara langsung, plot utama hanya sekadar terinspirasi saja sehingga film ini tidak lebih dari interpretasi dari si pembuat film. Penonton tidak bisa protes ketika bagian yang dianggap penting terpangkas karena bagaimanapun ini adalah penafsiran dari Ifa Isfansyah dan tim penulis naskah.

Ketika Oka Antara bermain nyaris tanpa cela sebagai pemuda desa lugu yang kemudian bertransformasi sebagai aparat negara, Prisia Nasution juga tak kalah gemilangnya berperan sebagai Srintil yang sebatang kara. Permainan cantik mereka berdua menutup performa apik dari barisan aktor pendukung. Untuk sekali ini, Lukman Sardi tak termaafkan. Sementara Oka Antara berusaha mati-matian untuk berbicara Ngapak dengan fasih, Lukman Sardi dan beberapa aktor lainnya terlalu malas untuk memelajarinya. Bahasa Indonesia yang dilogat Jawa-kan masih terdengar dimana-mana, dan ini sangat mengganggu. Tidak adanya penjelasan yang jelas mengenai setting tempat juga menjadi masalah lainnya. Seberapa jauh jarak antara Dukuh Paruk, Pasar Dawuan dan markas tentara tidak terjelaskan hingga akhir film. Beberapa karakter nampak mudah sekali berpindah-pindah tempat, sehingga muncul pertanyaan, apakah ini satu kompleks?. Ifa Isfanyah pun terkesan terlalu terburu-buru untuk mengakhiri film. Ada rasa tidak puas ketika credit title mulai bergulir. Dengan banyaknya permasalahan yang tak terjelaskan, rasanya tak ada yang keberatan jika durasi diperpanjang hingga 20 menit lebih lama. Beruntung adegan terakhir yang cantik hasil bidikan Yadi Sugandi lumayan mengobati kekecewaan. Sepanjang film, Yadi Sugandi bermain-main dengan kamera menghasilkan gambar yang tidak hanya indah tetapi juga efektif. Ditingkahi dengan tata busana cantik buatan Chitra Subiyanto serta tata musik yang menghanyutkan oleh Aksan dan Titi Sjuman sekalipun hanya mengandalkan cello dan denting calung, Sang Penari pun sedap dipandang. Ifa Isfanyah memang masih melakukan cukup banyak blunder di film keenamnya ini, akan tetapi itu tidak menutupi fakta bahwa Sang Penari adalah film Indonesia terbaik di tahun 2011.

Exceeds Expectations

Selasa, 06 September 2011

REVIEW : TEMPLE GRANDIN


"My name is Temple Grandin. I'm not like other people. I think in pictures and I connect them." - Temple Grandin

Ada yang mencuri perhatian di perhelatan Emmy Awards tahun lalu. Bukan mengenai kemenangan Modern Family atas Glee atau kemenangan besar The Pacific, tetapi Temple Grandin. Film Televisi (FTV) produksi HBO ini menggondol 7 piala yang menjadikannya sebagai pemenang terbesar kedua setelah The Pacific. Bahkan Temple Grandin asli menyempatkan diri untuk hadir. Setelah kemenangan besar di Emmy Awards, Temple Grandin agak terseok-seok di beberapa penghargaan berikutnya. Akan tetapi piala untuk Claire Danes selalu tersedia. Akting luar biasanya sebagai penyandang autis yang jenius mendapat pengakuan banyak pihak. Mendampingi Danes dalam FTV apik ini adalah pemain-pemain watak seperti Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn. Sementara yang ditunjuk sebagai nahkoda adalah pembesut Volcano dan The Bodyguard, Mick Jackson. FTV yang memulai syuting sejak bulan Oktober 2008 ini pertama kali tayang di kanal HBO pada 6 Februari 2010.

Mick Jackson kerap menggunakan teknik flashback untuk menjabarkan serangkaian peristiwa yang dialami oleh Grandin di masa mudanya. Yang perlu dicermati, Jackson terkadang menerapkannya sesuka hati sehingga dibutuhkan sedikit ekstra konsentrasi untuk menikmati FTV ini. Leo Trombetta memang berhasil menyambungkan potongan-potongan gambar dengan luar biasa, namun perpindahan setting waktu acapkali tanpa didampingi oleh penjelasan sehingga cukup membingungkan terlebih banyak lompatan waktu disini. Christopher Monger dan Merritt Johnson memulai kisah Grandin pada musim panas di tahun 1960-an saat Temple Grandin (Claire Danes) dikirim oleh ibunya, Eustacia (Julia Ormond), ke peternakan sang bibi, Anne (Catherine O'Hara) untuk menghabiskan libur musim panas. Seraya memikirkan akan melanjutkan pendidikan kemana, Grandin menemukan ketertarikan dengan hewan-hewan ternak. Sebuah kejadian yang membuatnya terserang rasa panik yang luar biasa menjadi semacam langkah awal Grandin untuk menemui kesuksesannya. Sementara orang-orang sekitar tak berhenti mencemoohnya karena tingkah lakunya yang berbeda dan Eustacia cenderung kurang memercayai kemampuan putrinya, Professor Carlock (David Strathairn), guru Grandin di sekolah asrama, justru memberi dukungan penuh. "Setiap pintu adalah sebuah kesempatan," kata Carlock pada Grandin. Pintu diartikan secara harfiah oleh Grandin. Tapi ini pun tidak sepenuhnya salah. Di balik pintu ada sesuatu yang baru yang mungkin saja kita tidak pernah sangka-sangka isinya, Grandin berani mengambil resiko untuk membukanya karena dia ingin melangkah maju.


Pintu-pintu inilah yang kemudian membawa Grandin kepada kesuksesan. Keberaniannya dalam mempertahankan pendapat, memelajari kesalahan dan terus melangkah ke depan menjadi kunci kesuksesannya. Kekurangan tidak menjadi hambatan baginya. Di dunia peternakan dimana para pria berkuasa, Grandin justru berjaya dan menaklukkan para pria yang semula meremehkannya dan segala penemuannya. Grandin menciptakan sebuah revolusi terhadap dunia peternakan di Amerika Serikat. Jackson memakai sudut pandang orang pertama dalam menuturkan kisah. Karakter pendukung mempunyai peranan penting dalam hidup Grandin, namun tidak bagi penonton. Yang harus penonton perhatikan hanyalah narasi Grandin. Itu pun tidak disampaikan dengan panjang lebar. Trio Jackson, Monger dan Johnson ingin agar Anda mendapatkan sensasi bagaimana rasanya menjadi Temple Grandin selama 2 jam. Bahkan terkadang apa yang dipikirkan oleh Grandin divisualisasikan ke dalam bentuk adegan yang unik. Naskah yang kuat bukanlah satu-satunya cara agar penonton merasa dilibatkan dalam film. Akting cemerlang dari Claire Danes adalah kuncinya. Ini adalah penampilan terbaik dari Danes dalam sejarah karir aktingnya. Temple Grandin memang film yang bagus, namun film ini tidak akan ada artinya tanpa akting Claire Danes yang luar biasa.

Rasanya juri Emmy Awards tak perlu menonton FTV ini hingga selesai untuk menobatkan Danes sebagai aktris terbaik. Hanya butuh 15 menit pertama bagi saya untuk segera berlari menemui Danes dan memberinya sejumlah piala. Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn pun bermain hebat dan hampir tanpa cela. Departemen akting yang begitu gagah perkasa ini untungnya memperoleh dukungan penuh dari departemen teknis yang memberi sumbangsih berupa editing yang rapi, sinematografi yang memikat dan tata kostum yang cantik. Ini adalah kombinasi yang tepat untuk menghasilkan sebuah film yang berkelas tinggi. Pada akhirnya Temple Grandin menjadi sebuah film yang sangat layak ditonton bukan hanya karena kualitasnya yang mumpuni, namun juga kisahnya yang menginspirasi disampaikan dengan halus tanpa kesan menceramahi. Grandin telah membuktikan kepada dunia bahwa kesuksesan seseorang berasal dari tekad yang kuat. Kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk menghambat seseorang untuk maju. Dibalik sebuah kekurangan pasti ada sebuah kelebihan. Temple Grandin juga menunjukkan bahwasanya tidak mudah hidup sebagai penyandang autis, beban yang dipikul sangat berat. Maka alangkah bijaknya jika kata 'autis' tidak lagi disematkan sebagai bahan tertawaan.

Outstanding

Senin, 29 Agustus 2011

REVIEW : DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH



"Sampai kapanpun, emas takkan setara dengan loyang dan sutra tak sebangsa dengan kapas." - Emak



Seandainya saja product placement (iklan dalam film) tidak berseliweran kesana kemari. Seandainya saja tidak ada dubbing yang menggelikan. Seandainya saja subtitle Inggris yang disisipkan tidak ngawur dan menggunakan susunan gramatikal yang baik. Seandainya saja aksentuasi para tokoh patuh pada setting tempat. Seandainya saja tulisan 'based on Buya Hamka's novel' pada poster dihilangkan dan diganti menjadi 'adaptasi bebas'. Seandainya saja tidak ada sesumbar yang mengatakan bahwa Di Bawah Lindungan Ka'bah diberi kucuran dana raksasa sebesar Rp 25 Miliar dan digadang-gadang sebagai 'Titanic versi Indonesia'. Di Bawah Lindungan Ka'bah mungkin saja menjadi film yang memuaskan banyak kalangan. Seperti yang diucapkan Emak (Yenny Rachman) kepada Hamid (Herjunot Ali), "makin tinggi harapan, makin sakit jatuhnya." Dengan janji-janji manis yang ditawarkan, tentu tidak mengherankan jika kemudian penonton berharap banyak terhadap karya terbaru Hanny R. Saputra ini. Apalagi versi novelnya merupakan salah satu karya sastra lokal terbaik dari salah satu sastrawan terbaik dalam angkatan pujangga Balai Pustaka. Ekspektasi pun membuncah.



Pada tahun 1981, Asrul Sani telah mengadaptasi bebas novel Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film berjudul Para Perintis Kemerdekaan. Alih-alih memilih untuk setia 100% pada novel Hamka tersebut, film justru dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial terhadap pemerintah tanpa menghilangkan esensi dari cerita. Misi Asrul Sani berjalan sukses dan dihadiahi banyak puja puji dari berbagai kalangan. Hanny R. Saputra tidak mengikuti jejak Asrul Sani dan tetap teguh pada ciri khasnya. Dibantu oleh dua penulis skenario langganannya, Armantono dan Titien Wattimena, Di Bawah Lindungan Ka'bah menjelma menjadi sebuah film metal alias mellow total. Sepanjang durasi film, saya mencatat hanya ada satu adegan Hamid dan Zainab (Laudya Cynthia Bella) yang tak melibatkan air mata, yakni ketika mereka saling sapa dari balik pagar kayu. Sialnya, adegan yang seharusnya bisa manis itu tercoreng lantaran durasinya yang kelewat lama dan dubbing yang sangat kasar. Saya pun langsung mual dibuatnya.





Menerjemahkan sebuah novel dengan halaman yang tipis (konon, novel Hamka ini hanya setebal 66 halaman) ke dalam layar lebar sama susahnya dengan mengejewantahkan tulisan beratus-ratus halaman. Untuk mengakalinya, Armantono dan Titien pun menambahkan sejumlah konflik yang tidak ditemukan dalam novel. Konflik yang sangat dramatis, menghadirkan kenyataan hidup yang pahit. Bagaimanapun juga, Hamid dan Zainab tidak akan pernah bisa disatukan. Plot kreasi duo penulis naskah ini diyakini mampu menguras air mata penonton. Tak peduli sekonyol apapun pengarahan Hanny R. Saputra dan bagaimana logika penonton tersakiti, air mata penonton perempuan akan tetap tumpah. Bukan bermaksud genderisasi, namun seperti inilah kenyataannya. Saya menyaksikannya sendiri. Begitu pula ketika saya menyaksikan film dengan dramatisasi yang gagal, Surat Kecil Untuk Tuhan. Walau begitu, Di Bawah Lindungan Ka'bah tercatat beberapa kali sukses membuat saya terharu. Bukan perihal kisah cinta tak sampai Hamid dan Zainab, namun seputar hubungan Hamid dengan ibunya. Akting Yenny Rahman sungguh memukau. Herjunot Ali juga mampu mengimbangi akting artis senior ini dengan apik. Ada chemistry diantara mereka berdua. Apabila saya diminta untuk memaknai arti dari ironis, maka itu adalah Laudya Cynthia Bella yang tidak nyambung dengan Herjunot Ali. Lempeng. Menunjukkan sebuah romantisme yang banal.



Bersetting di tahun 1920-an di Sumatera Barat, Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah mengenai dua sejoli yang sedang dirundung asmara namun terpaksa tak bisa bersatu karena perbedaan kelas sosial. Konflik memuncak tatkala Hamid melakukan sesuatu yang dianggap tak pantas kepada Zainab hingga dirinya diusir dari kampung. Untuk menghidupkan nuansa Minangkabau pada zaman dahulu, dibangun set yang megah plus tidak ketinggalan kincir air ciri khas sang sutradara. Sinematografi arahan Rachmat Syaiful sanggup menghadirkan gambar-gambar cantik yang menyejukkan mata. Special Effects yang dipakai pun layak diacungi jempol, sekalipun penggunaannya di adegan terakhir kentara sekali palsunya. Jika ada yang mengganjal di hati saya selain tidak adanya chemistry, dubbing plus subtitle yang membuat kepala terasa cenat cenut dan product placement yang muncul seenak udel, maka itu adalah aksentuasi dari para pemain. Saya sebenarnya sudah bosan membahas masalah ini karena ini adalah sesuatu yang klise namun tak ada upaya dari para sineas untuk membenahinya. Apakah bujet sebesar itu tidak sanggup untuk mendatangkan dialect coach? Terkadang terdengar sangat Jakarta, terlalu Sunda atau malah campur baur. Semrawut. Bukti bahwa sineas kita masih menyepelekan detail. Pada akhirnya upaya untuk menjadikan Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film romantis yang megah layak untuk diapresiasi. Masih banyak ditemukan kekurangan, tapi jelas merupakan suatu kemajuan dibanding film sejenis semacam Ayat-Ayat Cinta dan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih. Sebenarnya Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah sebuah film yang berpotensi menjadi sebuah suguhan yang apik, namun ternodai oleh keteledoran tim produksi yang kurang cermat dalam mengurus detail. Sungguh disayangkan.



Acceptable