Tampilkan postingan dengan label Poor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Short Reviews: ALVIN AND THE CHIPMUNKS 3, JACK & JILL, CONTAGION, THE ADVENTURES OF TINTIN


Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked

Saya tidak habis pikir, dengan buruknya kualitas film kedua, mengapa jutaan orang masih saja berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan kelanjutan dari Alvin and the Chipmunks? Yang membuat saya lebih heran lagi, mengapa saya mau-maunya membuang waktu dan uang yang berharga demi menyaksikan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked? Jika Anda ingin melepaskan penat usai diserbu setumpuk pekerjaan, maka Anda lebih baik menghapus film ini dari daftar film yang ingin Anda tonton jika tak ingin menderita di dalam bioskop. Sungguh, jilid ketiga ini sangat membosankan, menjengkelkan, tak lucu sama sekali, dangkal, dan mudah untuk dilupakan. Ending semakin memperparah segalanya. Ini adalah pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini. (Poor)


Jack & Jill

Jack & Jill adalah sebuah film komedi dengan guyonan yang sangat kasar tanpa tedeng aling-aling, jorok, tak masuk akal, dan bodoh. Sepertinya Dennis Dugan terinspirasi oleh karya-karya The Farrelly Brothers karena aroma komedi mereka tercium cukup menyengat disini. Menyaksikan Jack & Jill bagaikan tengah menyaksikan film-film buatan KK Dheeraj, saya berhasil tertawa habis-habisan karena beberapa adegan yang terlampau tak bisa diterima akal sehat. Bergabungnya Al Pacino dan Johnny Depp dalam Jack & Jill patut dipertanyakan. Apakah bujet yang menggelembung hingga $79 juta sebagian besar lari ke dalam kantong mereka? Karena saya sama sekali tidak percaya jika alasan mereka bergabung dalam film ini disebabkan tertarik dengan naskahnya. (Poor)


Contagion

Film mengenai bencana tidak melulu harus digambarkan melalui sebuah film aksi berbujet raksasa dengan sentuhan efek khusus disana sini, Steven Soderbergh mempunyai caranya sendiri. Menyaksikan Contagion bagaikan tengah menyaksikan salah satu episode dari CSI. Ketegangan dibangun secara perlahan, misteri yang melingkupi dibuka satu demi satu, dan ini semua didukung dengan akting kelas wahid dari barisan pemainnya. Anda mungkin akan dibuat mengantuk dan pusing pada awalnya, terutama jika Anda memilih untuk tidak konsentrasi, namun seiring berjalannya durasi, Contagion kian menarik untuk disantap. Flu yang acapkali dianggap sebagai penyakit ringan, menjadi monster mengerikan disini. Sebuah film cerdas yang rasanya teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Outstanding)


The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn

Fans berat Tintin mungkin saja agak kecewa dengan cara Steven Spielberg menangani The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat Hollywood, tapi itu tak menutupi fakta bahwa ini adalah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Spielberg tahu benar bagaimana cara memanjakan penonton lewat suguhan petualangan yang menegangkan, misteri yang memancing rasa ingin tahu, humor yang menggelitik dan visualisasi yang tersaji dengan indah. Sang pionir dalam motion capture, Robert Zemeckis, agaknya perlu berguru kepada Spielberg yang berhasil menciptakan sebuah film animasi yang luar biasa indah, hidup dan mengasyikkan dalam debutnya di genre ini jauh melampaui pencapaian Zemeckis melalui The Polar Express dan Beowulf. (Exceeds Expectations)

Minggu, 13 November 2011

INAFFF 2011 : IMMORTALS


Sutradara asal India yang terkenal dengan imajinasi visualnya yang indah tapi rada nyeleneh, Tarsem Singh, kembali menggebrak layar lebar dengan karya terbarunya setelah lima tahun vakum. Film terbarunya yang bertajuk Immortals ini mengangkat Mitologi Yunani sebagai bahan dasar naskah. Dengan desain poster yang menggoda, trailer yang menjajikan serta dibubuhkannya tulisan 'from the producer of 300', mau tidak mau para penikmat film akan mengantisipasi Immortals sebagai film epik yang memiliki kekuatan sebesar Para Spartan dari 300, terlebih Tarsem Singh memperoleh kucuran dana yang lebih tinggi nominalnya ketimbang yang didapat oleh Zack Snyder. Tapi itu saja tentu tidak menjamin bahwa film ini akan lebih menggelegar ketimbang 300, apalagi masih segar di ingatan penonton bagaimana Louis Leterrier mengacak-acak Mitologi Yunani dalam Clash of the Titans dengan tambahan naskah yang 'mengerikan', akting yang mengkhawatirkan plus 3D yang membuat mata sakit. Rasa pesimis juga muncul disebabkan jejak rekam Tarsem Singh yang 'so-so' dan belum terasah menghasilkan film berbujet raksasa. Film perdananya, The Cell, biasa saja, dan The Fall, yang menjadi Closing Film di pagelaran INAFFF yang pertama, hanya sedikit lebih baik dari The Cell.

Raja Hyperion (Mickey Rourke) menyatakan perang kepada umat manusia menyusul kekecewaannya kepada Dewa karena doanya tidak dikabulkan. Demi mewujudkan rencananya, Raja Hyperion pun berburu Busur Epirus buatan Dewa Perang, Ares (Daniel Sherman), yang konon katanya mampu memberikan kekuatan yang luar biasa bagi siapapun yang memilikinya. Para dewa tidak bisa turut campur dalam masalah ini, maka jalan satu-satunya untuk menghentikan Raja Hyperion adalah dengan mengutus seorang manusia. Melalui Theseus (Henry Cavill), Zeus (Luke Evans) meminta pertolongan. Theseus sendiri diliputi rasa dendam yang membara kepada Raja Hyperion setelah ibunya dibantai di depan mata kepalanya sendiri. Dengan bantuan seorang peramal, Phaedra (Freida Pinto), dan seorang pencuri yang senasib dengannya, Stavros (Stephen Dorff), Theseus pun memburu Raja Hyperion. Tapi tentu saja segalanya tidak berjalan dengan mudah. Visi dari Phaedra yang seringkali membingungkan, jumlah pasukan yang tidak seimbang, hingga jatuhnya Busur Epirus ke tangan Raja Hyperion, menjadi masalah yang harus dihadapi oleh Theseus dan pasukannya.


Immortals adalah sebuah film epik fantasi yang bertumpu pada polesan CGI yang megah, visualisasi yang indah, serta adegan-adegan pembantaian penuh darah untuk menutupi naskah yang kosong. Vlas dan Charley Parlapanides tidak memberikan nyawa ke dalam tulisan mereka sehingga konflik yang dihadirkan hampir tidak memiliki greget. Sebuah titik balik yang terjadi ketika ibu dari Theseus dibantai seharusnya mampu menggugah emosi penonton, terutama untuk berempati kepada si karakter utama. Yang justru terjadi adalah adegan in berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan apapun seakan ini bukan menjadi sesuatu yang berpengaruh terhadap perkembangan karakter Theseus. Malahan, duo penulis naskah menambahkan adegan-adegan yang terasa kurang penting dan dipaksakan untuk masuk yang sayangnya justru mengacaukan ritme alih-alih memaniskan film. Dengan drama yang tidak memiliki dinamika yang baik, secara otomatis adegan laga pun dijadikan sebagai tameng penyelamat. Hanya saja, Tarsem Singh baru memasukannya di penghujung film. Penonton dipaksa untuk melewati fase-fase yang membosankan terlebih dahulu sebelum akhirnya menikmati perang akbar yang disuguhkan dalam durasi yang relatif singkat.

Satu-satunya yang bisa membuat saya melek hingga akhir adalah keberanian Tarsem Singh dalam mempertontonkan adegan-adegan penuh muncratan darah dan tubuh yang tercerai berai. Selain itu, parade kostum-kostum ajaib yang menjadi ciri khas Tarsem Singh kembali dimunculkan disini. Lihat saja bagaimana uniknya kostum yang dikenakan oleh para peramal, Raja Hyperion beserta pasukannya, dan para dewa. Khusus untuk para dewa, saya tidak sanggup untuk menahan ketawa setiap kali mereka muncul dengan balutan kostum yang sulit untuk saya ungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, saya tidak sendirian. Sebagian besar penonton pun terkejut saat melihat penampilan para Dewa Yunani versi Tarsem Singh ini. Unik sih, tapi kok jadi terkesan tidak berwibawa ya? Jika menilik performa para aktor dan aktrisnya, maka hanya Henry Cavill dan Mickey Rourke saja yang bermain cukup apik. Freida Pinto tak lebih dari sekadar pemanis saja. Sementara yang bisa diingat dari Stephen Dorff, Kellan Lutz dan Luke Evans adalah mereka nyaris selalu bertelanjang dada di sepanjang film. Dengan kualitas yang cukup memprihatinkan seperti ini, maka tujuan Immortals untuk menyamai kualitas 300 gagal tercapai. Bahkan Immortals tidak lebih baik dari Clash of the Titans.

Poor

2D atau 3D? Lebih baik berhemat dengan menonton versi 2D-nya saja.

Sabtu, 08 Oktober 2011

REVIEW : ABDUCTION


Saat rekan seperjuangannya di The Twilight Saga, Robert Pattinson dan Kristen Stewart, lebih memilih untuk mengembangkan kemampuan beraktingnya dengan memilih peran-peran yang berbeda nan menantang dalam berbagai genre film, maka Taylor Lautner justru sebaliknya. Sadar diri bahwa dia belum bisa berakting secara baik dan benar, maka cara paling aman adalah dengan memanfaatkan tubuh atletisnya sebagai jualan utama. Menggabungkan dengan keahliannya dalam karate, maka jalan satu-satunya untuk bisa memamerkannya adalah melalui film action. Akan sangat aneh jika Lautner memutuskan untuk bak bik buka seraya membuka kaos dan berjalan kemana-mana dengan bertelanjang dada dalam film drama. Valentine's Day adalah sebuah kesalahan, dan dia tidak bisa bergerak disana. Dalam Abduction, dia mencoba untuk melepas bayang-bayang Jacob Black sedikit demi sedikit dan mencoba untuk mengejar karir sebagai action hero papan atas. Lautner pun nekat untuk melakukan banyak adegan aksi tanpa bantuan stuntman di film arahan John Singleton, pembesut Shaft dan 2 Fast 2 Furious, ini. Premisnya mengenai identitas yang hilang cukup membuat penasaran dan mau tak mau akan membuat Anda untuk membandingkannya dengan triloginya mas Jason Bourne. Apakah Taylor Lautner akan menjadi versi muda dari Jason Bourne?

Tidak seperti film sejenis yang memulai segalanya dengan cepat, Abduction baru memasuki inti kisah setelah berceloteh kesana kemari sepanjang 15 menit. Saya paham bahwa Shawn Christensen ingin mengajak penonton untuk menyelami kehidupan Nathan Harper (Taylor Lautner) terlebih dahulu, tetapi apa yang disampaikan hampir tak bermakna. Semuanya dijelaskan secara sekilas saja dan selebihnya adalah kegilaan Nathan bersama konco-konconya plus adegan buka baju yang ditunggu-tunggu oleh fans Taylor Lautner. Kita juga akan menyaksikan usaha Nathan untuk menarik perhatian Karen (Lily Collins), gadis cantik yang sudah lama ditaksirnya. Untuk sesaat saya merasakan bahwa ini bukanlah sebuah film action thriller, melainkan drama romantis picisan. Saya mulai mengantuk dan rasanya ingin berteriak, dimana semua aksi seru yang digeber di trailer? Ketika Nathan dan Karen sedang mengerjakan tugas bersama dan menemukan sebuah website orang hilang, ketegangan mulai muncul. Ada foto masa kecil Nathan disana! Jika memang benar itu adalah foto dia, lantas siapa sebenarnya Kevin (Jason Isaacs) dan Mara (Maria Bello) yang selama ini mengaku sebagai orang tuanya? Dua orang tak dikenal lantas menyergap rumah Nathan malam itu juga dan menghabisi Kevin dan Mara. Dengan bantuan dari terapisnya, Geraldine Bennett (Sigourney Weaver), Nathan pun menelusuri masa lalunya.


Baiklah, satu lagi pelajaran penting yang saya dapatkan usai menyaksikan Abduction, jangan pernah memercayai trailer dari film Hollywood. Apa yang saya saksikan ternyata tidak seperti janji-janji yang diobral melalui trailer. Bagi yang Anda yang berminat untuk menyaksikan Abduction, saya sarankan untuk tidak menonton trailer-nya terlebih dahulu. Apa yang tersaji sepanjang 106 menit, hampir separuhnya sudah saya lihat melalui trailer-nya. Saya tidak lagi terperangah menontonnya, justru saya berulang kali mengintip arloji dan mengeluh, kapan film ini akan selesai? Agak mengejutkan Singleton dan Christensen tidak menghadirkan Abduction sebagai sebuah film aksi dengan ketegangan tiada henti. Menyebut Nathan Harper sebagai versi remaja dari Jason Bourne adalah sebuah kesalahan. Alih-alih menggedor jantung, Abduction malah membosankan dan menggelikan. Naskahnya sangat dangkal dan mudah ditebak sementara dialognya datar, cheesy dan sesekali terdengar bodoh. Bahkan film spionase remaja ringan semacam Agent Cody Banks dan Stormbreaker masih lebih menyenangkan untuk diikuti ketimbang Abduction.

Dengan minimnya adegan aksi yang seru, maka Abduction mau tak mau bertumpu pada akting para pemainnya karena naskahnya yang amburadul jelas tak bisa menjadi penyelamat. Sialnya, departemen akting pun tak memberikan sumbangsih yang baik. Taylor Lautner terlihat kesulitan mendalami perannya sedangkan Lily Collins membuat saya ingin menangis melihat aktingnya. Apakah saya sedang menyaksikan behind the scene dari sebuah pemotretan yang dikemas dalam bentuk film layar lebar? Kehadiran para aktor senior macam Alfred Molina, Sigourney Weaver, Jason Isaacs dan Maria Bello sama sekali tidak membantu. Bahkan ironisnya dua nama terakhir sekadar numpang lewat saja. Motif mereka dalam berpartisipasi meramaikan Abduction pun seketika dipertanyakan. Dengan sinematografi yang biasa saja dan soundtrack yang meh, membuat Abduction melaju kencang menuju Razzie Awards 2012. Hampir tak ada yang bisa dibanggakan dari film ini. Bisa tayang di bioskop secara luas saja sudah bersyukur banget. Sayang sekali memang karena sejatinya Abduction berpotensi menjadi sebuah film action yang menarik. Penanganan Singleton yang buruk dan lemahnya naskah Christensen menjadikan Abduction sebagai sebuah film action yang membosankan dan terasa seperti versi parodi dari The Bourne Identity. Namun seburuk apapun film ini, fans Taylor Lautner kemungkinan besar masih akan tetap mencintainya.

Poor

Rabu, 10 Agustus 2011

REVIEW : TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON



'Thank God!' itulah yang pertama kali terlontar dari mulut saya setelah menyaksikan Transformers: Dark of the Moon di bioskop. Setelah lampu bioskop dinyalakan, saya tidak sabar untuk segera pulang dan segera menyaksikan film lain ketimbang berlama-lama di dalam gedung bioskop menikmati credit title-nya. Menonton Dark of the Moon adalah sebuah pengalaman tersendiri karena sudah lama sejak The Last Airbender, saya tidak merasakan rasa lelah yang sedemikian dahsyat setelah menonton suatu film. Saya jadi teringat kembali pada pengakuan sang sutradara, Michael Bay, yang mengatakan bahwa seri kedua dari Transformers, Revenge of the Fallen, adalah sebuah film yang buruk dan berjanji akan memperbaiki kualitasnya di seri ketiganya kelak. Ya, Bay ternyata bukanlah tipe sutradara yang suka obral janji. Dia memenuhi janjinya. Namun perkara tidak lantas berakhir disitu saja. Ehren Kruger yang pernah khilaf menyajikan naskah kosong melompong di film kedua ternyata terlalu bersemangat untuk membuat film ketiga ini jadi lebih baik. Penulis skenario yang melahirkan film apik macam Arlington Road dan The Skeleton Key ini menimbun Dark of the Moon dengan plot bercabang yang niatnya ingin terlihat berisi namun malah membuat penonton tersiksa lahir batin.



Dark of the Moon mengawali kisahnya dengan menjanjikan. Kisah nyata dan fiksi dipadukan menjadi satu. Pemerintah Amerika Serikat ternyata mempunyai rencana lain seputar pendaratan manusia pertama di bulan. Kru Apollo 11 diminta untuk menyelidiki benda misterius yang terjatuh di bulan. Yang mereka temukan disana adalah sebuah pesawat alien bernama Ark yang berisi sejumlah bangkai robot. Konon, kapal yang membawa muatan penting ini berhasil melarikan diri tatkala terjadi perang besar di planet Cybertron. Pesawat ini sempat dinyatakan hilang hingga ditemukan oleh kru Apollo 11. Penemuan ini lantas dirahasiakan oleh pemerintah selama bertahun-tahun, termasuk kepada Autobots yang membantu mereka. Dan, sajian pembuka yang menarik itu pun diakhiri sampai disini. Apa yang tersaji selanjutnya adalah mengenai betapa ribetnya kehidupan Sam Witwicky (Shia LaBeouf) yang haus akan pengakuan dan kekasih barunya yang sekilas mengingatkan saya pada Cinta Laura, Carly (Rosie Huntington-Whiteley). Menjadi lulusan dari universitas yang tergabung dalam Ivy League dan dua kali menyelamatkan dunia ternyata tidak membuat Sam mendapat pekerjaan dengan mudah. Saat plot mulai bergelut dengan masalah pekerjaan Sam, saya mulai kebingungan. Apakah saat ini saya sedang menyaksikan Wall Street 3 : Dark of the Money? Kruger kelewat bertele-tele dalam menjabarkan permasalahan personal Sam dan apa yang akan dihadapi oleh manusia.





Rahasia pemerintah belakangan tercium oleh para robot. Autobots mengetahui keberadaan Sentinel Prime, sesepuh Autobots, yang tengah koma di bulan. Optimus pun menyambanginya dan membawanya ke bumi untuk kemudian dihidupkan dengan menggunakan energi 'Matrix of Leadership'. Sayangnya, air susu dibalas dengan air tuba. Alih-alih bergabung dengan Autobots untuk mewujudkan perdamaian dunia, Sentinel justru mengkhianati Optimus dengan mengumpulkan 'The Pillars' yang tercecer demi kepentingan pribadi. Hubungan antara manusia, Autobots, Decepticons dan Sentinel Prime pun merumit. Serumit naskah buatan Kruger. Harus diakui, menonton sebuah film dengan durasi melebihi 150 menit bukanlah perkara yang mudah dan menyenangkan. Jika tidak dilandasi naskah yang kuat, akan berakhir menjadi tontonan yang menjemukan. Dark of the Moon sungguh melelahkan. Apa yang dinanti-nantikan baru dihadirkan oleh Bay pada 30 menit terakhir. Ibaratnya seperti seseorang yang sedang makan di restoran dan menantikan makanan utama disajikan, namun sang pelayan tidak kunjung datang. Sembari menunggu, lagu pengantar tidur mengiringi. Seperti itulah yang saya alami. Sebelum penonton digiring menuju pertarungan keren dengan special effects yang mampu membuat mulut menganga, penonton diajak untuk menikmati kisahnya yang sangat membosankan terlebih dahulu. Saking membosankannya, saya menjadi saksi mata atas tumbangnya dua penonton di dalam bioskop (baca: tertidur lelap).



Duplikat Cinta Laura alias Rosie Huntington-Whiteley secara mengejutkan malah lebih pas untuk berada dalam film ini ketimbang Megan Fox. Aktingnya memang membuat saya segera mengambil tasbih dan membaca istighfar sebanyak mungkin dan chemistry-nya dengan LaBeouf sama sekali tidak nyambung, namun setidaknya dia tidak annoying seperti Fox, saya bahkan pernah berharap Mikaela ditelan hidup-hidup oleh Megatron di Revenge of the Fallen. Dia pun difungsikan dengan benar, tidak hanya sebagai pemanis belaka. Namun tentu dia tidak kalah ajaibnya dengan Fox. Saya tidak bisa berhenti tertawa saat melihatnya melewati semua petualangan yang mendebarkan dengan high heels yang masih melekat di kaki indahnya. Dia pun masih tetap terlihat cantik dan modis meski udah ketiban gedung dan kena ranjau berkali-kali. LaBeouf semakin terasah kemampuan aktingnya, namun Frances McDormand dan John Malkovich adalah bintang sesungguhnya. Mereka membuktikan bahwa mereka memang layak untuk disebut sebagai aktor papan atas. Apalagi mereka yang paling berjasa untuk membuat saya tetap melek hingga menit terakhir, selain tentunya karena saya memikirkan berapa duit yang harus saya korbankan. Jika ada yang tidak penting, maka itu adalah Ken Jeong, Patrick Dempsey dan John Turturro. Namun saya lebih berharap agar Bay menyingkirkan dua robot peliharaan Sam, yang saya tidak peduli siapa nama mereka, selama-lamanya. Gak lucu blas, malah annoying to the max!



Memberi kritikan pedas kepada seri Transformers berarti siap untuk menerima segala tuduhan dari fans-nya. Seperti halnya Twilight Saga, tuduhan tersebut biasanya akan berakhir pada kritik balik terhadap tulisan si pengritik atau film yang disukai oleh si pengritik. Salah besar jika Anda menganggap saya tidak suka dengan seri Transformers. Saya sangat menikmati seri pertama, namun seri-seri selanjutnya membuat hati ini pedih membayangkannya. Siapapun yang mengikuti tulisan Cinetariz tentu tahu meskipun saya sangat menggemari Harry Potter, tapi saya berulang kali melancarkan serangan kepada versi film Half-Blood Prince. Saya hanya berusaha jujur atas apa yang saya lihat. Dark of the Moon, pada kenyataannya, tidak lebih dari ajang pamer special effects dengan cerita yang dipaksakan. Saya tidak mengharapkan sebuah cerita berkelas Oscar, tapi mbok ya jangan menyepelekan cerita. Percuma saja megah tapi isinya kosong. Ada kepuasan yang lebih saat naskah, akting, tampilan visual dan efek megah berpadu menjadi satu. The Dark Knight, anyone? Seperti itulah seharusnya film blockbuster dibuat. Dark of the Moon mungkin menyenangkan untuk saat ini (mungkin lho ya!), tapi apakah akan tetap dikenang hingga 10 tahun ke depan? Jika Michael Bay adalah tipe sutradara yang menerima kritik, maka film berikutnya masih patut untuk dinantikan. Dark of the Moon, meskipun tetap tidak menarik, menunjukkan usahanya untuk memperbaiki diri setelah kecaman demi kecaman di film sebelumnya. Setidaknya dia tidak seperti sutradara di negeri kita yang menutup mata dan telinga sembari berkata dalam hati, "terserah apa kata lu, yang penting duit gue ngalir deres."



Poor

Senin, 25 Juli 2011

REVIEW : THE RESIDENT


The Resident memiliki sebuah formula yang cukup untuk menjadikannya sebuah film thriller yang sukses mencekam penonton. Film ini memiliki aktris peraih dua Oscar, Hillary Swank, dan didukung oleh para aktor hebat seperti Jeffrey Dean Morgan dan Christopher Lee. Premisnya pun menjual, seperti gabungan antara Psycho dengan Peeping Tom. Jika ada yang perlu diragukan, maka itu adalah sang sutradara, Antti Jokinen, yang baru memulai debut film panjangnya melalui The Resident ini. Sebelumnya, dia adalah sutradara video klip yang pernah menangani beberapa penyanyi besar semacam Celine Dion, Shania Twain, Kelly Clarkson hingga Westlife. Di atas kertas, The Resident tampak seperti sebuah proyek yang ideal dan memiliki kemungkinan gagal yang tipis. Namun apa yang terjadi di lapangan belum tentu sejalan. Sebuah proyek yang direncanakan dengan matang saja bisa mendadak hancur lebur saat eksekusi, apalagi yang asal-asalan. Nah, The Resident sendiri di Amerika Serikat langsung diterjunkan ke dalam bentuk home video pada akhir Maret 2011 lalu. Sudah bisa ditebak kan bagaimana hasil akhir dari film yang awalnya tampak menjanjikan ini?

Home Sweet Home. Inilah yang didambakan oleh Dr. Juliet Deverau (Hillary Swank) ketika menginjakkan kaki di New York. Tidak perlu tempat yang mewah, asalkan nyaman dan aman untuk ditempati. Tentu akan lebih menyenangkan jika semua itu dikombinasikan dengan murah. Maka ketika Max (Jeffrey Dean Morgan) menyewakan sebuah apartemen dengan harga yang miring, Juliet tidak kuasa untuk menolak. Logikanya, adalah sesuatu yang mencurigakan saat seseorang menawarkan sebuah tempat yang luas dan berada di lokasi strategis dengan harga yang murah. Akan tetapi, pada kenyataannya, saat berada dalam posisi yang kepepet, kita memang cenderung mengabaikan logika dan enggan untuk berpikir dua kali. Juliet dalam posisi ini. Apalagi sebelumnya dia harus tinggal di hotel setelah berpisah dengan kekasihnya, Jack (Lee Pace). Dokter cantik ini tidak menyadari jika kegegabahannya dalam mengambil keputusan akan membawanya ke sejumlah pengalaman yang tidak menyenangkan di apartemen barunya tersebut. Dari sini, penonton pun diajak oleh Antti Jokinen untuk ikut merasakan teror yang dihadapi oleh Juliet.

Sayangnya, teror yang saya maksud disini dalam artian negatif. The Resident adalah sebuah film thriller berpotensi yang berubah menjadi tontonan membosankan karena tidak dibidani naskah yang kuat. Setelah drama membosankan di menit-menit awal seputar Juliet yang mencari apartemen dan kisah kasih yang terjalin antara dia dengan Max, menit berikutnya bahkan menjadi semakin buruk saja. Teror di apartemen dan motif pelaku dibuka dengan gamblang oleh Jokinen saat film baru memasuki menit ke-30. Lantas apa yang menjadi daya tarik tatkala penonton sudah mengetahui segalanya sejak awal? Pada titik ini, ending telah terbaca dengan jelas. Berbagai peristiwa yang menimpa Juliet pun menjadi tidak lagi menarik dan mengejutkan. Hambarnya menit-menit pertama kembali terulang saat Jack kembali memasuki kehidupan Juliet dan membuat Max terbakar api cemburu. Saat rasa bosan mulai tak terbendung lagi, saya mulai berharap Jokinen membuat Juliet bernasib seperti Marion Crane, ditikam berkali-kali saat sedang mandi hingga mati. Otomatis, Norman Bates adalah Max. Atau Jokinen ingin memberi twist dengan menjadikan Jack sebagai Norman?

Beruntung, Hillary Swank bermain cukup baik sebagai Juliet. Karakter wanita yang tangguh memang telah menjadi ciri khasnya, seperti yang dia tampilkan dalam Million Dollar Baby, Amelia, bahkan Boys Don't Cry. Untuk sekali ini, dia bermurah hati mempertontonkan tubuh polosnya kepada penonton berulang kali. Panas dan menggoda jika disajikan dalam takaran yang pas, akan tetapi Swank malah justru keasyikkan dan membuat saya ingin memberinya pakaian sebagai kado ulang tahun. Jokinen pun sepertinya fans berat Nayato. Tidak terhitung berapa kali Juliet berada dalam kamar mandi. Seakan-akan apartemen Juliet ini hanya memiliki bathtub dan kasur saja. Rasa lelah, bosan dan kesal yang tercampur jadi satu sempat sedikit terobati saat apa yang saya harapkan dari sebuah film thriller akhirnya muncul. Cukup seru untuk dinikmati, meski durasinya tak lebih dari 15 menit. Tapi rasanya agak percuma membangun ketegangan di detik-detik terakhir tatkala penonton sudah tidak peduli lagi dengan nasib Juliet dan Max, serta kebosanan membuncah. Terlalu lama melewati fase drama yang lamban dan menjenuhkan membuat saya hanya ingin film ini selesai dan mencari film lain sebagai penawar. Pada akhirnya, The Resident tak ubahnya seperti proyek Antti Jokinen yang terlalu ambisius untuk meniru film thriller klasik.

Poor

Sabtu, 09 Juli 2011

REVIEW : SURAT KECIL UNTUK TUHAN


Saat menonton sebuah film yang mengadaptasi dari sebuah novel yang sukses luar biasa, saya tidak pernah memberi ekspektasi yang tinggi. Bagaimanapun, novel dan film adalah dua media yang berbeda. Imajinasi yang kita bayangkan mungkin saja berbeda dengan imajinasi dari sutradara. Film adaptasi bisa dikatakan sukses saat film tersebut mampu menceritakan kembali isi dari novel dengan caranya sendiri tanpa menghilangkan esensi cerita karya yang diangkat. Yang sering salah kaprah adalah film adaptasi harus sama persis dengan karya yang diadaptasi. Ini susah. Ketika Habiburrahman El Shirazy memutuskan untuk membuat Dalam Mihrab Cinta menjadi semirip mungkin dengan novelnya yang terjadi kemudian justru sebuah bumerang. Film menjadi tidak enak untuk diikuti. Beberapa film hasil adaptasi karya sastra yang bisa dikategorikan terpuji dalam satu dekade terakhir hanya berkutat pada Gie, Laskar Pelangi, Mereka Bilang Saya Monyet, Eiffel I'm In Love, Badai Pasti Berlalu dan Ayat-Ayat Cinta. Sisanya, sangat mudah untuk dilupakan.

Surat Kecil Untuk Tuhan berangkat dari novel sukses berjudul sama karangan Agnes Davonar yang mengangkat kisah perjuangan seorang gadis berusia 13 tahun bernama Gita Sesa Wanda Cantika atau Keke dalam melawan kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya. Sebuah kisah yang sangat inspiratif, mengingatkan saya pada perjuangan Aya dalam 1 Litre of Tears. Sama-sama gadis belia penuh semangat, sama-sama berjuang melawan penyakit langka, dan sama-sama menguras air mata. Artis pendatang baru, Dinda Hauw, bermain total dan cukup meyakinkan sebagai Keke. Dia bahkan merelakan rambut panjang indahnya untuk dibabat habis. Gadis cantik dengan akting yang mumpuni ini adalah satu-satunya yang menarik dari Surat Kecil Untuk Tuhan. Film drama ini gagal menghadirkan sebuah melodrama tearjerker yang terjalin apik. Naskahnya terlalu dangkal, konflik dihadirkan dengan hambar dan tak ada chemistry sama sekali diantara para pemain. Alex Komang yang berperan sebagai ayah dari Keke disia-siakan oleh naskah buatan Beby Hasibuan. Aktor berkualitas ini tak mampu membuat penonton bersimpati padanya, di beberapa adegan terkesan over acting.

Siapa nama sahabat-sahabat Keke? Bagaimana karakter mereka? Apa fungsi mereka? Sayangnya, Harris Nizam tidak memberikan jawaban atas segala pertanyaan ini kepada penonton. Sebuah kesalahan yang sangat fatal. Yang saya lihat di layar bioskop hanyalah sejumlah gadis SMP yang cengeng dan bikin ruang terlihat sesak. Saya tahu, mereka difungsikan sebagai penyemangat Keke. Mereka adalah sosok sahabat sejati. Mereka adalah salah satu alasan bagi Keke untuk tetap berjuang melawan kanker jaringan lunak yang dideritanya. Tapi kenapa para penyemangat ini malah justru selalu nangis di sepanjang film? Akibatnya, saya justru tertawa terpingkal-pingkal alih-alih menangis tersedu-sedu. Apalagi tidak ada chemistry diantara keenam sahabat karib ini dan mereka membawakan peran masing-masing dengan datar. Karena lemahnya naskah, kehadiran mereka menjadi terasa tak penting dan ditampilkan sekadar untuk menggugurkan kewajiban saja. Malahan, foto-foto yang muncul saat credit title bergulir justru lebih membuat hati merasa terenyuh.

Ya, sepanjang film kita hanya mengenal siapa itu Keke. Orang-orang terdekat dan berjasa di sekitarnya seakan tak penting untuk diceritakan karena ini adalah kisah tentang Keke. Padahal penonton perlu tahu lebih dalam mengenai sahabat Keke dan keluarga Keke. Tiba-tiba saja, ayah dan ibu Keke dikisahkan berpisah, kakaknya yang bernama Chika terlibat masalah dan air mata pun kembali tumpah. Bagaimana bisa saya ikut terharu dengan perjuangan Keke sementara saya tidak mengetahui latar belakang keluarga dan sahabatnya? Semua dimunculkan secara tiba-tiba. Harris Nizam dan Beby Hasibuan terlalu memaksa untuk membuat Surat Kecil Untuk Tuhan untuk menjadi tontonan penguras air mata yang malah membuatnya menjadi melelahkan dan membosankan. Presentasi visualnya pun tak jauh berbeda dengan apa yang biasa saya lihat di sinetron. Pada akhirnya, Surat Kecil Untuk Tuhan hanya menarik bagi mereka yang mudah tersentuh saat menyaksikan sinetron atau FTV. Jika Anda bukan termasuk golongan tersebut, maka film ini hanya akan membuat Anda tertidur pulas di dalam bioskop.

Poor

Trailer :

Kamis, 09 Juni 2011

REVIEW : BEASTLY

"You have a year to make someone love you, or stay like this for ever." - Kendra

Sementara Red Riding Hood masih ditahan oleh pihak bea cukai, Beastly melenggang masuk dengan mudah. Bisa dimengerti karena distribusi Beastly ditangani oleh importir yang sudah melunasi kewajibannya. Mungkin yang membuat bertanya-tanya adalah, kenapa saya membandingkan Beastly dengan Red Riding Hood? Mudah, karena keduanya berasal dari dongeng anak yang terkenal. Beastly memang mengadaptasi novel berjudul sama karangan Alex Flinn, namun sejatinya ini adalah adaptasi modern dari Beauty and the Beast. Perombakan dilakukan disana sini untuk memuaskan target penonton yang mengincar remaja usia belasan. Para pemainnya pun dipilih yang memiliki wajah yang rupawan. Jika gadis bertudung merah mengandalkan Amanda Seyfried yang sensual, maka si buruk rupa didukung Alex Pettyfer, Vanessa Hudgens dan aktris favorit saya, Mary-Kate Olsen. Sampai sini, Beastly lebih unggul. Menilik raihan box office, Hood terbang lebih tinggi. Lantas bagaimana dengan kualitasnya? Baik Hood dan Beastly tidak memuaskan, tetapi tentu ada yang sedikit lebih baik. Kesalahan tak termaafkan dari sebuah film adalah jika menghadirkan tontonan yang membosankan. Sayangnya, Beastly melakukannya.

Bagi yang pernah menyaksikan Beauty and the Beast, dapat dengan mudah menebak akan dibawa kemana film ini oleh Daniel Barnz. Bayangkan saja petualangan cinta Belle dan Beast dengan setting Manhattan yang padat dan penuh kesibukan. Hilangkan pemikiran bahwa Beast akan ditampilkan dalam sosok monster besar berbulu yang mengerikan dan gantikan dengan pemuda bertubuh atletis yang lebih terlihat seperti penderita kanker alih-alih penerima kutukan berwajah buruk rupa. Dan, tentu saja dia bukan seorang bangsawan. Hanya seorang pemuda kaya yang sombong dan manja yang haus akan kasih sayang orang tua. Kyle (Alex Pettyfer) dianugerahi oleh Tuhan dengan bentuk tubuh yang nyaris sempurna serta otak yang cemerlang. Tetapi dia tidak bisa menyelaraskan pemakaian otak dengan hati. Kerap memandang rendah mereka yang memiliki fisik tidak menarik dan menjadikannya sebagai bahan hinaan. Kendra (Mary-Kate Olsen) menjadi salah satu korbannya. Pilihan yang salah, Kyle, pilihan yang salah. Kendra membuktikan bahwa dirinya bukanlah gadis biasa. Sebagai balasan atas perlakuan Kyle, Kendra menghadiahinya sebuah kutukan yang mengubah Kyle menjadi pemuda buruk rupa. Untuk menghilangkannya, dia kudu mencari seseorang yang mengatakan 'I Love You' dengan tulus kepadanya sebelum satu tahun. Apakah orang tersebut adalah Lindy (Vanessa Hudgens), teman lamanya? Tidak perlu menjadi jenius untuk bisa menebaknya. Ayah Lindy terlibat dalam suatu kasus kriminal dan Kyle 'memerasnya'. Dia ingin Lindy tinggal bersamanya selama beberapa bulan dengan dalih untuk melindunginya.

Beastly adalah sebuah film drama romantis yang penuh dengan hal-hal bercita rasa klise. Tidak ada yang salah dengan klise, penanganan yang tepat akan menghadirkan tontonan dengan dasar naskah yang klise menjadi sesuatu yang menyenangkan. Barnz gagal melakukannya. Film pun berjalan dengan datar, membosankan dan anti-klimaks. Lindy digambarkan sebagai gadis yang bersahaja, menolak pemberian barang-barang mahal nan bermerk dari Kyle. Kyle diperlihatkan sebagai pemuda yang perkasa, mampu membangun sebuah rumah kaca tanpa bantuan siapapun. Oh, please. Norak dan menjengkelkan. Ini terjadi berulang kali, Barnz mencoba untuk berlindung di balik tameng pakem yang harus dipenuhi oleh drama romantis. Dengan minimnya konflik yang dimunculkan, saya menyesali keputusan untuk tidak membawa bantal dan selimut ke gedung bioskop (atau memilih untuk menontonnya di kelas VIP). Siksaan demi siksaan diluncurkan bertubi-tubi. Kelopak mata terasa sangat berat. Berada dalam kelas Contemporary of English Drama menjadi pilihan yang lebih menyenangkan saat itu. Sungguh, saya ingin seseorang menampar saya kala itu.

Yang lebih menjengkelkan, saya ingin menelepon seorang kawan dari klub teater di pertengahan film. Sudah jelas, Alex Pettyfer adalah versi cowok dari Megan Fox. Mengandalkan wajah tampan dan tubuh atletisnya sebagai bahan jualan. Dari Stormbreaker, Tormented, I Am Number Four hingga Beastly, tidak ada perkembangan signifikan yang ditunjukkan oleh Pettyfer, kecuali dia menjadi semakin tampan saja. Duh. Apakah ini berarti saya harus mengirimkan kartu nama Didi Petet kepada dia untuk mengajarinya cara mengolah ekspresi wajah yang baik dan benar? Oh, tunggu dulu, saya harus mengopi kartu namanya dulu karena saya juga harus mengirimkannya kepada Vanessa Hudgens. Astaga, apa yang dilakukan oleh jeung Gabriella Montez disana? Apakah dia telah mengkhianati Troy Bolton yang dianggapnya tidak cukup kaya? Sepertinya, penolakan hadiah itu hanyalah basa-basi semata. Dih. Mari kita langsung temui Mary-Kate Olsen dan Neil Patrick Harris saja. Saran untuk Barnz, kisah cinta antara seorang penyihir dengan pria buta agaknya lebih menarik untuk diangkat. Setidaknya Olsen dan Harris tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Maklum, mereka memiliki jam terbang yang lebih tinggi. Tapi tentu saja itu bukan alasan yang bisa diterima. Chemistry hambar yang ditunjukkan oleh jeng Montez dan pak Rider 'dipermanis' dengan naskah buatan Barnz yang lebih cocok disebut lullaby ketimbang script. Dan, saya pun lebih memilih untuk tidur. Terima kasih.

Poor

Trailer :


Sabtu, 23 April 2011

REVIEW : THE LAST SONG

"Sometimes you have to be apart from the people you love, but that doesn't make you love them any less. Sometimes it makes you love them more." - Steve

Ada tiga hal yang kerap kita temui saat menonton film yang diadaptasi dari novel buatan Nicholas Sparks. Pertama, kisah cinta yang terlarang antara dua insan 'beda kelas sosial'. Kedua, seseorang yang memiliki arti penting dalam kehidupan sang tokoh utama harus menemui ajalnya sebelum sang tokoh utama mencapai kebahagiaannya. Terakhir, adanya kesalahpahaman yang sebenarnya sederhana namun dibuat terlihat seakan mustahil untuk diselesaikan. Setidaknya ini kita temui dalam The Notebook, A Walk to Remember dan The Last Song. Adaptasi yang lain juga memiliki kesamaan (pada dasarnya semua novel Nicholas Sparks memiliki inti kisah yang sama. Duh.) namun ketiga film tersebut yang kemiripannya paling 'mengerikan'. Untunglah The Notebook dan A Walk to Remember memiliki penggarapan yang apik sehingga penonton masih sanggup dibuai, namun bagaimana dengan The Last Song ? Ditangani oleh sutradara debutan, Julie Anne Robinson, jelas sekali terlihat bahwa film ini mencoba menjual dua bintang utamanya, Miley Cyrus dan Liam Hemsworth, yang memang tengah menjalin hubungan asmara.

Setelah kedua orang tuanya bercerai, Ronnie (Miley Cyrus) berubah. Dia menyalahkan sang ayah, Steve (Greg Kinnear), yang pergi meninggalkannya. Dalam pemberontakannya, dia berhenti bermain piano dan menolak beasiswa ke Julliard karena ingin melepas kenangannya bersama sang ayah. Bahkan surat - surat yang dikirimkan Steve kepadanya tak ada yang digubrisnya. Saat ibunya, Kim (Kelly Preston), mengirim Ronnie dan adiknya, Jonah (Bobby Coleman), ke rumah Steve untuk berlibur musim panas, mau tak mau keduanya mulai berhubungan. Steve mencoba bersikap lunak kepada anak perempuannya ini, tapi Ronnie justru bersikap dingin kepadanya. Jika saja Ronnie tidak bertemu dengan Will (Liam Hemsworth), seorang atlet voli pantai, mungkin musim panas ini akan menjadi mimpi buruk baginya. Setelah sejumlah pendekatan yang dilakukan Will tidak berhasil, gayung akhirnya bersambut tatkala Ronnie menyadari bahwa dia dan Will memiliki banyak kesamaan. Ronnie juga merasa tersentuh melihat perjuangan gigih Will demi mendapatkan cintanya. Pertemuannya dengan Will membuat hubungan Ronnie dan Steve berangsur membaik. Namun tentu dalam film drama romantis semuanya tidak akan berjalan mulus. Orang tua Will yang kaya tampak tidak menyukai Ronnie, mantan pacar Will yang mencoba untuk menjauhkan Ronnie dari Will dan sebuah kenyataan pahit mengenai Steve.


Satu - satunya yang menarik dari film ini adalah settingnya, Georgia. Beruntunglah sang sinematografer, John Lindley, pintar dalam mencari sudut - sudut menarik untuk ditangkap sehingga mata yang lelah menyaksikan The Last Song ini menjadi sedikit melek. Jujur sejujur jujurnya, The Last Song ternyata sama sekali tidak menarik dan jauh dari harapan saya. Selain kecantikan Georgia, tidak ada yang bisa dibanggakan dari film ini. Departemen kasting harus bertanggung jawab karena telah menunjuk Miley Cyrus dan Liam Hemsworth sebagai bintang utama. Jelas sekali Cyrus dan Hemsworth bukanlah pilihan yang tepat untuk mengisi peran Ronnie dan Will. Hemsworth mungkin masih lebih baik, tapi Cyrus tampil mengenaskan dan terlihat kebingungan. Ronnie yang meledak - ledak dan susah diatur ini menjadi datar di tangan Cyrus. Imej Hannah Montana masih melekat kuat dalam dirinya, hanya saja kali ini dia tampil agak sedikit 'nakal'. 'Percikan unsur kimia' antara Cyrus dan Hemsworth yang seharusnya menjadi kekuatan film malah loyo tak berdaya. Astaga, apakah benar mereka berdua pacaran ? Karena yang terlihat dalam film adalah seperti dua orang yang tak pernah saling bertemu dan dipaksa untuk menjadi sepasang kekasih. "Kamu Miley Cyrus ya ? Mari menjadi kekasihku dalam film ini."

The Last Song mungkin sudah tenggelam ke dasar samudra jika Billy Ray Cyrus muncul menggantikan Greg Kinnear, syukurlah itu tidak terjadi. Kinnear adalah malaikat penyelamat yang membawakan peran Steve dengan baik dan mampu mengundang simpati penonton. Meski hanya sebagai peran pembantu, untungnya porsi peran cukup banyak. Kesalahan terbesar dari The Last Song adalah keputusan Nicholas Sparks untuk menangani naskahnya sendiri. Dia memang lihai merangkai kata - kata romantis nan gombal dalam novel, tapi Sparks kewalahan saat diberi tanggung jawab membuat skenario. Ini menjadi bukti lain bahwa novel dan film adalah media yang berbeda. Seorang penulis novel handal sekalipun belum tentu sanggup mengerjakan skenario film, begitu juga sebaliknya. The Last Song berpijak dari sebuah skenario yang lemah dengan plot yang luar biasa klise, menjemukan dan mudah ditebak. Kegagalan Julie Anne Robinson dalam eksekusi berujung pada hasil akhir yang sama buruknya dengan naskah, lebih parah lagi menjadi film yang membosankan. Apabila ditangani oleh sutradara yang tepat, The Last Song mungkin bisa menjadi sedikit lebih baik. Nights in Rodanthe yang semrawut itu bahkan masih lebih lumayan dibandingkan The Last Song.

Poor

Trailer :


Jumat, 18 Maret 2011

REVIEW : DRIVE ANGRY

Entah apa yang terjadi dengan Nicolas Cage hingga dirinya terjebak dalam film - film berkualitas mengecewakan dalam beberapa tahun terakhir. Memang tak semua filmnya buruk karena masih ada yang bisa dikategorikan layak tonton macam Knowing, Kick Ass dan Bad Lieutenant : Port of Call New Orleans. Namun jumlah filmnya yang kacau balau berkali kali lipat lebih banyak dan bahkan untuk tahun ini saja, dia sudah memulainya lewat Season of the Witch. Seakan belum cukup, dia kembali mengulanginya dalam Drive Angry. Kepercayaan saya terhadap Nicolas Cage pun perlahan - lahan mulai hilang. Yang menyedihkan, saking seringnya Cage bermain di film dengan kualitas semenjana, banyak orang mengira bahwa dirinya tidak memiliki film yang bagus. Padahal selama dia mendapatkan naskah yang tepat dan brilian, Cage pun bisa bermain apik di film yang dibintanginya.

Ditangani oleh sutradara yang catatan rekornya tak meyakinkan, Patrick Lussier, dan hasil box office di Amerika Utara yang rusak parah, firasat saya akan Drive Angry sama sekali tak bagus. Tak ada satupun film buatan Lussier yang bisa saya nikmati. Kembali berkolaborasi dengan Todd Farmer setelah sebelumnya menciptakan remake My Bloody Valentine yang sangat mengecewakan itu, saya sama sekali tak menaruh harapan lebih kepada Drive Angry. Lussier menciptakan Drive Angry layaknya film kelas B dengan tambahan embel - embel 3D agar terkesan lebih menjual. Tidak ada yang salah dengan film kelas B karena jika ditangani dengan tepat bisa menjadi tontonan yang menyenangkan. Coba saja cicipi karya Robert Rodriguez dan sutradara favorit saya, Quentin Tarantino. Drive Angry mencoba keras untuk menjadi tontonan yang mengasyikkan dengan begitu dermawannya menggelontorkan sejumlah kekerasan brutal dan ketelanjangan. Tapi apakah itu berhasil ? Bagi saya, cukup berhasil di bagian awal, namun setelah berulang kali diulang malah menjadikannya sebagai boomerang.

Nicolas Cage adalah John Milton, penghuni neraka yang kabur ke bumi demi menyelamatkan sang cucu yang diculik oleh sebuah kelompok pemuja setan. Dalam perjalanannya memburu kelompok ini, dia ditemani oleh seorang gadis cantik nan seksi dari film All the Boys Love Mandy Lane, Amber Heard. Formula yang sangat mudah ditebak dan untungnya kehadiran Heard atau Piper disini sama sekali tak mengganggu, malahan berhasil membuat mata saya terus tetap melek hingga akhir film walau sebenarnya sudah sangat menderita dan ingin film ini cepat selesai. Perburuan juga diperumit dengan kehadiran The Accountant, diperankan dengan cukup baik oleh William Fichtner, yang bertugas untuk menyeret Milton kembali ke neraka. Meski ditampilkan sebagai karakter abu - abu yang menyebalkan, kehadiran The Accountant sepertinya dimanfaatkan oleh Lussier untuk memancing tawa penonton dengan perilakunya yang susah ditebak. Sesekali humor yang ditawarkan cukup efektif, tapi semakin ke belakang saat kekerasan dijadikan sebagai bahan guyonan, segalanya menjadi tak lucu lagi.

Naskah Drive Angry memang tak bisa diandalkan mengingat begitu dangkalnya plot dan dialog - dialog menggelikan bertebaran di sepanjang film. Special effects-nya bolehlah walaupun tak terlampau istimewa. Untuk pemakaian 3D sendiri terkesan dipaksakan karena tanpa ini pun Drive Angry tak akan terasa berbeda. Menyebalkan rasanya memakai kacamata 3D yang mengganggu untuk menonton sebuah film berdurasi 100 menit yang tak kalah mengganggunya. Jelas sekali 3D, kebrutalan, ketelanjangan dan Nicolas Cage yang menjadi jualan utama film ini karena selain itu tak ada yang bisa dibanggakan dari Drive Angry. Perasaan tersiksa sepanjang film dengan menyaksikan sejumlah adegan aksi yang membosankan semakin ditambah melihat bagaimana LSF memotong film ini dengan kasar. Jika kalian memang menggemari tontonan aksi tanpa otak yang menjual kekerasan dan boobs mungkin akan sangat menikmati Drive Angry, tapi jika tidak mending pilih film lain saja daripada menyesal telah membuang - buang uang dan waktu untuk tontonan dangkal macam ini.

Poor

Trailer :


Sabtu, 29 Januari 2011

2 IN 1 REVIEWS : UNSTOPPABLE + YOGI BEAR

UNSTOPPABLE


Tony Scott dan Denzel Washington kembali bersatu dalam sebuah film aksi yang lagi - lagi berhubungan dengan kereta api. Kali ini Washington, untungnya, tidak lagi dipasangkan dengan John Travolta pasca The Taking of Pelham 123 yang ternyata sama sekali tidak menggigit dan cenderung membosankan itu. Partner barunya adalah Chris Pine, aktor muda yang namanya melambung berkat Star Trek versi baru. Melihat susunan pemain ini, sudah bisa ditebak akan terjadi hubungan antara rookie dan senior-nya serta ketidakcocokan diantara mereka. Unstoppable memang sejatinya menawarkan sesuatu yang klise dan mudah ditebak, namun meski begitu film yang terinspirasi dari kisah nyata kecelakaan kereta api di Ohio tahun 2001 ini begitu lezat untuk disantap. Scott membuka film tanpa basa basi dan langsung masuk ke dalam inti permasalahan dimana karena keteledoran Dewey (Ethan Suplee), sebuah kereta bernomor 777 yang menarik puluhan gerbong, termasuk bahan kimia berbahaya, melaju kencang tanpa awak menuju pemukiman padat penduduk. Kisah lain menceritakan tentang hubungan seorang masinis baru, Will Colson (Chris Pine), dengan sang ahli mesin kawakan, Frank Barnes (Denzel Washington). Sering diwarnai cekcok di awal film, namun menjelang pertengahan, tatkala keduanya telah saling memahami dan kereta 777 ternyata satu jalur dengan mereka, keduanya dituntut untuk bekerja sama. Mengesampingkan masalah pribadi demi menyelamatkan nyawa ribuan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Hampir tidak pernah terbayangkan Unstoppable akan menyajikan sebuah suguhan yang sangat menyenangkan dan menegangkan seperti ini. Dengan lemahnya The Talking of Pelham 123, saya menduga film ini akan mengalami hal yang sama, bahkan trailernya pun tak membuat saya optimis. Satu - satunya yang bikin saya penasaran adalah kisahnya mengenai kereta api tanpa awak yang meluncur ke pemukiman padat penduduk, terdengar menjanjikan. Jika dalam Pelham Scott agak lambat dalam membangun ketegangan, maka disini dia main hajar tanpa ampun. Tak ada kesempatan buat penonton untuk permisi ke kamar kecil, bahkan datang terlambat 10 menit pun bisa berakibat fatal. Ouch. Ya, Unstoppable memang sungguh mengasyikkan untuk ditonton, walaupun naskahnya tergolong biasa saja. Chemistry antara Washington dan Pine memang tidak begitu kuat tapi masih mending daripada apa yang ditunjukkan Washington bersama John Travolta. Jika kalian mencari film popcorn ringan yang menegangkan, maka Unstoppable adalah jawabannya. Menurut saya, inilah film terbaik dari Tony Scott dalam periode 2000-an setelah sebelumnya menghasilkan sejumlah film aksi yang kurang menggigit. Sungguh disayangkan Unstoppable baru tayang di Semarang tahun 2011 ini, padahal jika film ini tayang serentak 2 bulan yang lalu, jelas akan masuk 20 Film Terbaik 2010 versi saya! Gah.

Exceeds Expectations

YOGI BEAR


Mungkin anak kecil jaman sekarang jarang ada yang mengetahui siapa beruang cerdas bertopi berdasi bernama Yogi ini. Maklum, karakter ini berasal dari serial animasi jadul berjudul The Yogi Bear Show yang mengudara di sekitar tahun 1960-an. Bagi pecinta animasi mungkin mengenalinya apalagi Yogi Bear ternyata sempat pula ditayangkan di Indonesia tatkala animasi bikinan Hanna-Barbera sedang jaya - jayanya disini. Dibuat film layar lebar dalam versi live-action dengan polesan CGI disana sini plus teknologi 3D, Yogi Bear terkesan kurang meyakinkan. Maklum, film adaptasi Hanna Barbera sebelumnya memiliki kualitas yang memprihatinkan meski jika ditilik dari segi komersil bisa dibilang cukup sukses. Eric Brevig yang pernah menyutradarai Journey to the Center of the Earth-nya Brendan Fraser, ditunjuk untuk mengomandoi film ini. Jellystone terancam ditutup karena keserakahan dari walikota (Andrew Daly) yang menganggap taman dimana Yogi Bear (Dan Aykroyd) dan Boo-Boo (Justin Timberlake) tinggal tersebut pendapatannya kurang menguntungkan. Bersama dengan Ranger Smith (Tom Cavanagh) yang sejatinya merupakan musuh bebuyutan Yogi, mereka pun bahu membahu untuk menyelamatkan taman tersebut dibantu oleh Rachel (Anna Faris), pembuat film dokumenter sekaligus love interest dari Ranger Smith.

Mencoba bernostalgia dan menyetting pikiran seperti layaknya pemikiran penonton cilik, rupanya masih tidak berhasil. Yogi Bear adalah film yang 'mengerikan' karena saking buruknya. Memang tidak separah apa yang dihadirkan oleh Vampires Sucks atau The Last Airbender, tapi cukup untuk membuat para produser serakah di Hollywood untuk berpikir ulang sebelum membuat adaptasi dari animasi Hanna-Barbera. Dibandingkan dengan pendahulunya macam The Flinstones beserta sekuelnya serta Scooby-Doo beserta sekuelnya, Yogi Bear adalah yang terparah. Tidak lucu sama sekali. Entah bagi para penonton cilik atau fans dari animasi ini, tapi bagi saya ini adalah sebuah lelucon yang tidak seharusnya dibuat dengan plot yang setipis kertas. Humornya garing, tidak segar dan merupakan pengulangan yang ke sekian dari film keluarga sebelumnya. Untungnya Aykroyd dan Timberlake cukup sukses membawakan suara Yogi Bear dan Boo-Boo, jika tidak mungkin saya akan menyandingkan film keluarga ini dengan dua film buruk di atas. Dengan CGI dan 3D yang juga biasa - biasa saja, alangkah lebih bijak jika Yogi Bear langsung diterjunkan ke dalam bentuk DVD atau film TV saja.

Poor

Sabtu, 25 Desember 2010

REVIEW : TRON LEGACY (3D)

"Out there is a new world! Out there... is our destiny!" - Clu

Inilah salah satu film yang paling ditunggu - tunggu kehadirannya oleh para penikmat film di akhir tahun, Tron Legacy. Sekadar info, Tron Legacy merupakan sekuel dari film sci-fi tahun 1982, Tron, bikinan Walt Disney yang disebut - sebut sebagai cikal bakal munculnya CGI. Jangan bandingkan dengan film zaman sekarang, gabungan live action dengan animasi berformat CGI yang terkesan ala kadarnya ini terlihat begitu memukau pada saat itu. Meski tidak mendapat tempat di hati para kritikus film, Tron lumayan sukses dalam meraup dollar dan bahkan ada yang menyebutnya sebagai cult classic. 28 tahun berselang, Walt Disney berniat me-remake Tron, namun atas permintaan banyak pihak dan dipikir secara matang, akhirnya niatan untuk me-remake diubah menjadi membuat sekuel. Jeff Bridges dan Bruce Boxleitner yang menjadi bintang utama Tron, diajak kembali untuk bergabung untuk mendukung para pemain anyar seperti Garrett Hedlund, Olivia Wilde dan aktor spesialis peran antagonis, Michael Sheen. Joseph Kosinski yang dikenal sebagai penggarap iklan TV papan atas diserahi tanggung jawab untuk mengomando film berbujet $170 juta ini.

Seorang kreator video game populer Tron, Kevin Flynn (Jeff Bridges), mendadak hilang tanpa jejak meninggalkan anak lelakinya hidup penuh kesedihan bersama kakek dan neneknya. Setelah kedua walinya wafat, Sam Flynn (Garrett Hedlund), hidup mandiri di sebuah garasi dan tumbuh menjadi remaja yang pemberontak. Suatu malam, setelah sukses menyabotase sebuah operasi di ENCOM untuk melindungi warisan sang ayah, Sam ditemui sahabat baik ayahnya yang juga merupakan konsultan di ENCOM, Alan Bradley (Bruce Boxleitner). Alan mengaku telah mendapatkan pesan dari Kevin yang menunjukkan lokasi keberadaan Kevin. Tanpa pikir panjang, malam itu juga Sam menyambangi sebuah markas tempat dimana Tron diciptakan. Setelah mengutak atik sebuah komputer lawas milik Kevin, Sam langsung tersedot dan mendadak muncul kembali di The Grid, dunia rekaan sang ayah. Untuk bisa bertahan disini, Sam harus mengikuti 'permainan' rancangan kloningan ayahnya, Clu (Jeff Bridges). Jika kalah dalam permainan ini, maka Sam akan tewas. Untungnya saat dalam posisi terjepit dia diselamatkan oleh sebuah program berwujud gadis cantik kepercayaan Kevin, Quorra (Olivia Wilde), yang mempertemukannya kembali dengan Kevin. Tidak ada waktu untuk saling melepas rindu karena Kevin, Sam dan Quorra harus mencari cara untuk mencapai portal agar bisa kembali ke dunia nyata sembari menghindari Clu yang terus memburu mereka.


Pelajaran penting yang saya dapatkan setelah menyaksikan film ini adalah jangan berekspektasi terlalu tinggi serta jangan terlena dengan trailer yang terlihat keren karena pada akhirnya hal itu akan membuat rasa kecewa menjadi berkali kali lipat. Itulah yang saya alami dengan Tron Legacy ini. Film yang digadang - gadang bakal jadi film penutup tahun 2010 yang spektakuler nyatanya malah melempem. Kosinski hanya fokus terhadap bagaimana menciptakan adegan aksi yang keren dengan balutan special effect canggih sementara plotnya cenderung diabaikan. Naskah buatan duo Adam Horowitz dan Edward Kitsis yang juga pernah meracik naskah serial TV paling menggetarkan dekade ini, Lost, sangat datar dan lemah, jika tidak mau dikatakan melompong. Alurnya mudah ditebak dan konflik yang dimunculkan juga garing, bisa jadi kalian yang bosan dengan plot seklise ini bisa tertidur, seperti yang dialami oleh beberapa penonton. Untunglah saya sedang dalam mood yang sangat baik sehingga bisa mengikutinya dengan baik hingga akhir meski harus diakui, paruh akhir dari Tron Legacy cukup menyiksa.

Entah bagaimana jadinya Tron Legacy tanpa Daft Punk dan jajaran cast yang tepat. Bisa jadi bakalan bernasib seperti The Last Airbender. Selain special effect yang memang harus saya akui sangat menawan, music score gubahan Daft Punk juga begitu cemerlang. Ajib! Saya yang bukan penikmat music score, berhasil terkesan dibuatnya. Terasa menyatu dengan setiap adegan yang ada, membuat berbagai adegan 'kurang darah' tersebut menjadi lumayan enak untuk dinikmati. Oh iya, Daft Punk dan Cillian Murphy juga tampil cameo lho disini. Bisakah kalian menemukan mereka ? Untuk jajaran cast, saya terpikat dengan Olivia Wilde yang tampil mengesankan sebagai Quorra dan Michael Sheen dengan gayanya yang eksentrik sebagai Zeus. Bagi saya, merekalah bintang sesungguhnya di Tron Legacy tanpa harus mengesampingkan akting apiknya Jeff Bridges. Sementara untuk Garrett Hedlund sendiri malah bermain biasa saja, karakter Sam Flynn masih kurang hidup.

3D yang dihasilkan oleh Tron Legacy biasa saja, tidak terlampau istimewa. Tidak masalah jika ingin menyaksikkannya dalam tampilan 2D, setting futuristik sudah cukup memanjakan mata. Tron Legacy pada akhirnya tidak berhasil membuat saya terpuaskan terlebih dengan segala ekspektasi yang saya bawa. Gagal menghadirkan hiburan yang berkualitas, untungnya Tron Legacy tidak lantas menjadi film yang buruk berkat special effect yang menawan, kejeniusan Daft Punk dan kehebatan departemen casting dalam memilih pemain yang tepat. Sekarang tergantung kalian ingin tetap menyaksikan film ini atau lebih memilih untuk menabung saja. Tidak ada salahnya juga kok buat dicicipi, bisa jadi Tron Legacy akan menjadi hiburan ringan bagi kalian yang tengah penat dengan tugas akhir tahun yang bejibun.

Nilai = 5/10 (Poor)

Sabtu, 25 September 2010

REVIEW : DARAH GARUDA


Darah Garuda adalah bagian kedua dari rangkaian film Trilogi Merdeka sekaligus merupakan kelanjutan dari Merah Putih yang dirilis setahun silam. Proyek ini bisa dibilang ambisius terlebih jika kita menilik dari jumlah uang yang dikucurkan demi mewujudkan sebuah proyek yang digadang - gadang menjadi The Lord of the Rings-nya Indonesia. Rp 60 Miliar bukan jumlah yang kecil untuk ukuran film Indonesia apalagi jika Production House yang menangani relatif tidak terkenal. Bayangan akan film perang yang megah pun serta merta melintas di benak setiap penonton jika mengetahui fakta ini. Namun akankah ini menjadi kenyataan atau malah hanya menjadi semacam angan - angan semata ? Bagi yang sudah menyaksikan Merah Putih tentu mudah untuk menjawabnya dan sejauh yang saya amati, pihak yang pro dan kontra terhadap Trilogi Merdeka terbagi cukup merata.

Jajaran kru dan pemain masih diperkuat oleh orang - orang yang sama dari Merah Putih, hanya mendapat tambahan beberapa nama baru saja. Penyutradaraan masih dipegang oleh Yadi Sugandi yang kali ini mendapat bantuan dari Conor Allyn, sementara penulisan skenario juga tetap ditangani duo bule, Conor Allyn dan Rob Allyn. Jika memperhatikan susunan kru inti sebenarnya mampu membuat kita mengerutkan dahi. Bagaimana tidak ? Alih - alih menyerahkannya pada sutradara yang lebih berpengalaman, film kolosal ini malah ditangani seorang sinematografer handal yang kemampuannya dalam mengarahkan film belum sepenuhnya teruji. Ironisnya, meski tujuan film ini adalah untuk mengobarkan semangat nasionalisme generasi masa kini yang berangsur padam, penulisan skenario justru diserahkan kepada warga asing. Rasanya masih banyak sekali penulis skenario berbakat di negeri ini.

Melanjutkan kisah pertamanya yang berakhir menggantung, Darah Garuda memulai kisahnya dengan cukup meyakinkan saat empat sekawan yang baru saja lulus dari sekolah tentara, Amir (Lukman Sardi), Dayan (Teuku Rifnu Wikana), Marius (Darius Sinathrya) dan Tomas (Donny Alamsyah), berusaha menyelamatkan Melati (Astri Nurdin), Senja (Rahayu Sarawati) dan seorang wanita penghibur bernama Lastri (Atiqah Hasiholan) dari tangan Belanda yang keji. Setelah misi ini berhasil, mereka kemudian melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan pasukan Jenderal Sudirman. Mereka mendapat tugas rahasia untuk menghancurkan pangkalan udara milik Belanda. Disinilah keadaan mulai menjadi semakin kompleks tatkala muncul sikap saling tidak percaya diantara sesama pribumi hanya karena beda suku dan agama hingga hadirnya seorang pengkhianat diantara mereka.
Harus saya akui bahwa Darah Garuda memang lebih menyenangkan untuk ditonton ketimbang Merah Putih. Hal ini lebih disebabkan karena porsi adegan action dua kali lebih banyak dari apa yang telah ditampilkan oleh prekuelnya yang cenderung garing. Desingan peluru dan ledakan berulang kali kita dengar disini, utamanya di 30 menit terakhir. Tidak terlampau wah memang, tapi cukup menghibur untuk ditonton. Meski begitu, tetap saja jangan mengharapkan Darah Garuda akan memompa jantung kalian sepanjang film karena selain adegan action yang memekakkan telinga nan seru di detik - detik terakhir tadi, tak ada lagi yang bisa ditemukan disini. Opening cukup menggebrak namun setelah itu dilanjutkan dengan drama panjang membosankan yang kali ini disisipi romansa yang 'awkward' dan humor yang sangat garing. Kriuk. Untunglah musik indah dari Thorsie Argeswara mampu membuat hati ini terasa lebih tenang.

Jika ada yang harus disalahkan, maka saya akan mengajukan Conor Allyn dan Rob Allyn selaku penulis skenario sebagai terdakwa utama. Dialog yang mereka tulis sungguh membuat saya tertawa terpingkal - pingkal hingga gegulingan di depan layar bioskop, sangat aneh. Masalahnya adalah skrip asli Darah Garuda (dan juga Merah Putih, tentunya) awalnya berbahasa Inggris, tentu rasanya menjadi berbeda saat harus diterjemahkan ke dalam bahasa kita. Serasa tidak sedang menonton film, melainkan menyaksikan pertunjukkan di sebuah sanggar. Dialognya baku. Parahnya, intonasi yang diucapkan oleh para pemainnya juga tidak enak didengar, membuat saya menjadi semakin yakin ini adalah hasil adaptasi dari buku teks Sejarah *berbusa* Lanjut ke akting para pemainnya. Dari seabrek bintang ternama yang muncul berdesak - desakkan disini, hanya Teuku Rifku Wikana, Atiqah Hasiholan dan Ario Bayu yang patut mendapat perhatian lebih. Hasiholan bermain apik dan itu tidak mengejutkan karena filmnya yang sangat teatrikal, dia banget. Ario Bayu juga konsisten. Wikana adalah satu - satunya pemain lama yang berakting dengan baik, terutama saat adegan Dayan disiksa oleh Van Gaartner (Rudy Wowor) dan anak buahnya, begitu meyakinkan.

Sekalipun Darah Garuda lebih baik dari Merah Putih, saya masih belum bisa mengategorikannya sebagai film bagus. Biasa saja. Masalah yang dihadapi oleh Darah Garuda dan Sang Pencerah cenderung sama, dialog. Hanya saja Darah Garuda mengalami masalah yang lebih serius karena dialognya sama sekali tidak enak didengar dan membosankan. Adegan action yang diharapkan oleh penonton pun baru dimunculkan di ending. Bisa - bisa mereka yang tidak sabaran atau yang sudah dibuat mati kebosanan berbaris dengan rapi menuju pintu keluar untuk mencari udara segar. Secara penggarapan memang jauh lebih bagus ketimbang puluhan film kancut tak layak tayang yang akhir - akhir ini, namun Darah Garuda tetap tidak meninggalkan kesan apapun. Semoga saja Hati Merdeka, jilid pamungkas Trilogi Merdeka, mampu menambal lubang - lubang dari dua film pertamanya.

Nilai = 5/10 (Poor)