Tampilkan postingan dengan label Outstanding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Outstanding. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2012

REVIEW : HUGO


" If you've ever wondered where your dreams come from, you look around... this is where they're made."

Sulit untuk tidak mencintai Hugo. Ini adalah sebuah surat cinta yang ditujukan oleh Martin Scorsese khusus untuk sinema. Isinya berupa ungkapa
n hati dari seseorang yang sangat mengagumi keindahan dan magis dari sebuah film. Sebagai pecinta film, rasanya hampir mustahil tidak terpukau dengan film terbaru dari sineas spesialis film-film bertemakan gangster dan kekerasan ini. Wujud kecintaannya terhadap sinema, dan untuk pertama kalinya setelah hampir 50 tahun berkarir, diwujudkan dalam bentuk film untuk segala umur! Tidak tanggung-tanggung, Hugo hadir dalam versi 3D! Selalu ada pertama kali bagi setiap orang. Keputusan Scorsese untuk menjajal ranah baru tentu bukannya tanpa alasan atau sekadar mengikuti tren belaka. Dengan membesut film keluarga, tentu pasarnya akan lebih luas sehingga pesan yang ingin disebarkan dapat diterima oleh banyak orang dari setiap lapisan usia. Pemakaian 3D pun bukan hanya sekadar gimmick, melainkan dibutuhkan untuk membuat Hugo terasa lebih emosional, lebih nyata, dan dekat dengan hati. Simak saja opening scene-nya yang luar biasa cantik. Sekalipun ini film debutnya dalam 3D, Scorsese telah terlihat seperti maestro. Dia memerlihatkan kepada dunia bagaimana seharusnya sebuah film 3D dibuat.

Naskah dari John Logan berpijak pada novel unik karangan Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret. Yang perlu dicatat, petualangan yang diusung oleh Hugo ini tidak sedikitpun mendekati Harry Potter, justru lebih mirip dengan Oliver Twist. Maka mengharapkan Hugo Cabret berpetualang di dunia fantasi hanya akan membuat Anda mendengus kecewa. Alurnya cenderung realistis. Bisa dikatakan, Hugo adalah cerminan hidup dari sang pembesutnya, dan bisa jadi Anda. Bukan mengenai kehidupan sebagai bocah yatim tunawisma, melainkan bagaimana sihir dari sinema mengubah jalan hidup seseorang. Hugo Cabret (Asa Butterfield) tidak memiliki siapapun dalam hidupnya. Ayahnya (Jude Law) tewas dalam sebuah kebakaran di museum saat sedang bekerja. Setelah sang ayah tiada, Hugo diasuh oleh pamannya yang pemabuk, Claude (Ray Winstone). Dia dipaksa tinggal di stasiun, lebih tepatnya diantara dinding-dinding stasiun, dan membantu Claude merawat jam-jam yang berada di stasiun Gare Montparnasse, Paris, Prancis. Belum reda duka Hugo atas kepergian sang ayah, Claude pun pergi tak tahu rimbanya. Jadilah Hugo yang kini bertanggung jawab atas jalannya jarum-jarum jam secara teratur.

Hidup seorang diri di sebuah stasiun yang besar tentu bukanlah perkara mudah. Untuk menyambung hidup, Hugo menjadi pencuri. Inspektur Gustave (Sascha Baron Cohen) menjadi musuh bebuyutannya. Bagaikan Tom dalam Tom & Jerry, Gustave seakan tak pernah mengenal kata menyerah untuk menangkap Hugo dan mengirimkannya ke panti asuhan seperti yang telah dia lakukan kepada anak jalanan sebelumnya. Selain Gustave, Hugo pun harus berhadapan dengan pemilik toko mainan yang sinis (Ben Kingsley) yang mengambil paksa buku catatan miliknya. Demi mendapatkannya kembali, si bocah gelandangan ini meminta bantuan kepada Isabelle (Chloe Grace Moretz). Isabelle menyanggupi, dengan satu syarat, dia ingin Hugo mengajaknya bertualang. Petualangan inilah yang dinanti-nanti oleh para pecinta film. Martin Scorsese mengajak para penonton untuk memelajari sejarah sinema awal. Ayah Hugo dikisahkan pernah terkesima dengan sebuah film berjudul Voyage to the Moon buatan George Méliès. Sutradara asal Prancis ini merupakan salah satu pionir lahirnya sinema. Voyage to the Moon menjadi karyanya yang paling terkenal dan merupakan film fiksi ilmiah pertama yang dibuat. Karakter Méliès ini memegang peranan yang sangat penting dalam Hugo.

Tujuan utama dari Hugo Cabret adalah menemukan satu komponen yang hilang dari automaton, robot berbentuk manusia yang menjadi proyek ambisius sang ayah. Apabila Hugo mampu mendapatkannya, maka sebuah tabir misteri terungkap. Untuk ukuran film keluarga, sayangnya, Hugo masih terbilang cukup berat untuk dinikmati bagi anak-anak sekalipun Scorsese sangat terampil dalam menyatukan nuansa drama yang menyentuh, romansa yang syahdu, komedi yang menggelitik, dan sedikit aksi dengan dukung efek khusus yang memesona. Paruh awalnya terasa kurang menggigit, namun memasuki babak petualangan Hugo dan Isabelle, plot mulai terasa cihuy. Yang menjadikan Hugo menarik adalah ketepatan dalam memasukkan serangkaian kejadian bersejarah ke dalam sebuah kisah fiksi. Perkenalan dengan George Méliès adalah bagian terbaik dari film ini. Awalnya, beliau adalah seorang pesulap dan pembuat mainan. Tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Lumiere bersaudara dalam Arrival of a Train at La Ciotat, Méliès banting setir menjadi sineas. Jatuh bangun dari sang pionir digambarkan cukup akurat oleh Scorsese, termasuk dengan memasukkan potongan-potongan film buatan Méliès. Sebuah suguhan yang menakjubkan dari sutradara peraih Oscar melalui The Departed ini. Hugo menunjukkan bagaimana indahnya sebuah film tatkala dikerjakan dengan segenap rasa cinta. Bersanding dengan The Artist yang tidak kalah cantiknya, Hugo adalah sebuah pilihan yang tepat bagi Anda yang ingin merayakan sinema.

Outstanding

Minggu, 11 Maret 2012

REVIEW : THE ARTIST


"I won't talk! I won't say a word!" - George Valentin

Sesuatu yang wajar jika kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting. Bagaimana tidak, di era ketika para sineas dunia mengeksplorasi kecanggihan teknologi dengan pemanfaatan 3D serta efek khusus secara gila-gilaan, Hazanavicius justru nekat membesut sebuah film bisu dan hitam putih. Sebuah pertaruhan yang sangat berani. Siapa yang rela menyisakan waktu dan uangnya demi menyaksikan sebuah film hitam putih nan bisu selain para kritikus dan penggila film? Rasanya, The Artist pun tidak akan sepopuler sekarang apabila Academy tidak mengganjarnya dengan 5 piala Oscar, termasuk
Film Terbaik. Bukan bermaksud pesimis, hanya mencoba untuk bersikap realistis. Ketika 21 Cineplex merilisnya di bioskop-bioskop besar jaringannya, masih dirasa perlu bagi mereka untuk mencantumkan peringatan kepada calon penonton melalui poster, “film ini hitam putih dan tanpa dialog”, sebagai antisipasi agar peristiwa “ganti rugi karena merasa tertipu” seperti yang terjadi di Inggris tidak kembali terulang. Dengan peringatan seperti ini, belum apa-apa banyak masyarakat yang merasa terintimidasi. Sungguh disayangkan, padahal The Artist adalah sebuah film yang luar biasa indah.

The Artist membahas mengenai era kejayaan film bisu, masa transisi ke film bersuara hingga bagaimana seorang aktor film bisu menyikapi masa transisi ini. Aktor film bisu yang dimaksud adalah George Valentin (Jean Dujardin), seorang aktor yang menyerupai George Clooney di masa kini yang film-filmnya senantiasa mencetak box office dan para penggemar mengelu-elukannya. Hidupnya bisa dibilang sempurna, dia telah memiliki semua apa yang dibutuhkan. Entah karena sombong atau tak siap, ketika pemilik studio, Al Zimmer (John Goodman), mengutarakan niatnya untuk membuat film bersuara, Geroge Valentin justru tak menganggapnya serius. Dia tetap keukeuh bahwa film bisu masih diminati. Didepak dari studio, George Valentin membuat film bisunya sendiri di tengah terjangan film bersuara yang digila-gilai. Anak didiknya, Peppy Miller (Berenice Bejo), kian melejit karirnya, sementara Valentin perlahan mulai dilupakan setelah filmnya flop. “Saatnya memberi jalan pada yang muda,” begitu ujar Peppy. Hidupnya pun hancur. Istri yang dicintainya, Doris (Penelope Ann Miller) pergi meninggalkannya. Hanya anjing peliharaannya, Jack, dan si supir, Clifton (James Cromwell) yang masih setia mendampingi.

Pernahkah Anda menitikkan air mata saat menonton sebuah film karena saking indahnya? Saya pernah beberapa kali, dan The Artist adalah salah satunya. Film arahan sutradara Prancis, Michel Hazanavicius, ini tidak hanya indah, tetapi juga unik, cerdas, lucu, lembut, dan menyentuh. Tanpa perlu memaksa para pemainnya merengek-rengek sesenggukan, air mata penonton tetap berhasil tumpah. Bahkan untuk pertama kalinya, di bioskop Semarang, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana The Artist sanggup membuat sebagian besar penonton terharu dan, yang lebih luar biasa lagi, memberikan standing ovation setelah film berakhir! Sebuah pemandangan yang langka. Tidak menyangka efeknya akan sebesar itu. Hanya dengan bermodalkan cerita yang sederhana dan intertitle sebagai pengganti dialog, Hazanavicius sanggup membuat penonton terkoneksi dengan film arahannya. Sekalipun ini adalah film bisu, bukan berarti The Artist sepi total yang menyebabkan suara Anda saat berbisik di dalam studio terdengar bagaikan Dolby Digital. Musik gubahan Ludovic Bource yang menawan menemani sepanjang perjalanan Anda menyaksikan sekelumit sejarah film bisu.

Beruntung The Artist diperkuat oleh pemain-pemain yang hebat. Jean Dujardin sanggup mengaduk-aduk emosi penonton, memberikan perasaan yang tidak menentu kepada Valentin. Terkadang dia adalah sebuah karakter yang menyenangkan, tetapi terkadang menyebalkan luar biasa terutama saat dia menolak bergabung dengan generasi anyar, namun dia pun sebenarnya patut dikasihani. Pesonanya yang kuat mengingatkan pada Humphrey Bogart dan Douglas Fairbanks. Sementara Berenice Bejo tampil enerjik sebagai gadis muda penuh mimpi yang ceria dan menyenangkan, Peppy Miller. Bintang pendukungnya tidak terlalu menonjol karena tertutup oleh pesona Dujardin dan Bejo, kecuali Uggie yang memerankan Jack si anjing yang sangat setia kepada majikannya. Mungkin bagi sebagian penonton akting dari Dujardin maupun Bejo terkesan berlebihan, dan naskahnya pun klise tiada tara bak melodrama kebanyakan. Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya menjajal ‘film bisu beneran’ terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Artist. Ini adalah sebuah homage terhadap era film bisu yang terbungkus elegan dan berusaha untuk setia kepada ‘tuannya’ layaknya Clifton dan Jack.

Salah satu wujud kesetiaan Hazanavicius nampak pada tempo film yang mengalir ringan menyenangkan bak film bisu Hollywood tahun 1920-an, sekalipun ini sebenarnya adalah produksi Prancis yang terkenal lambat dalam menuturkan alur film-filmnya. Selain itu, film ini pun dibuat menggunakan aspek rasio layar 1.33:1 yang umum digunakan oleh film bisu. Dan saya ingin mengatakan kepada para pembaca yang budiman bahwa saya tidak sekalipun mengintip jam tangan! Bukti bahwa saya sangat menikmati film ini. Rasanya saya ingin menontonnya lagi, lagi, dan lagi. Sayangnya belum sempat saya mewujudkan keinginan saya, The Artist sudah tergusur dari bioskop. Menontonnya ulang di layar laptop atau televisi tidak akan memberikan pengalaman menonton yang sama. The Artist lebih enak dinikmati di layar bioskop. Sungguh pedih melihat film sebrilian ini kurang diminati oleh masyarakat hanya karena ini adalah ‘film bisu dan hitam putih’. Cobalah terlebih dahulu, Anda dijamin tidak akan menyesalinya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘silence is golden’? Dan pepatah itu cocok sekali diberikan kepada The Artist. What a wonderful movie to celebrate cinema!

Outstanding



Jumat, 06 Januari 2012

Short Reviews: ALVIN AND THE CHIPMUNKS 3, JACK & JILL, CONTAGION, THE ADVENTURES OF TINTIN


Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked

Saya tidak habis pikir, dengan buruknya kualitas film kedua, mengapa jutaan orang masih saja berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan kelanjutan dari Alvin and the Chipmunks? Yang membuat saya lebih heran lagi, mengapa saya mau-maunya membuang waktu dan uang yang berharga demi menyaksikan Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked? Jika Anda ingin melepaskan penat usai diserbu setumpuk pekerjaan, maka Anda lebih baik menghapus film ini dari daftar film yang ingin Anda tonton jika tak ingin menderita di dalam bioskop. Sungguh, jilid ketiga ini sangat membosankan, menjengkelkan, tak lucu sama sekali, dangkal, dan mudah untuk dilupakan. Ending semakin memperparah segalanya. Ini adalah pengalaman menonton paling menyiksa tahun ini. (Poor)


Jack & Jill

Jack & Jill adalah sebuah film komedi dengan guyonan yang sangat kasar tanpa tedeng aling-aling, jorok, tak masuk akal, dan bodoh. Sepertinya Dennis Dugan terinspirasi oleh karya-karya The Farrelly Brothers karena aroma komedi mereka tercium cukup menyengat disini. Menyaksikan Jack & Jill bagaikan tengah menyaksikan film-film buatan KK Dheeraj, saya berhasil tertawa habis-habisan karena beberapa adegan yang terlampau tak bisa diterima akal sehat. Bergabungnya Al Pacino dan Johnny Depp dalam Jack & Jill patut dipertanyakan. Apakah bujet yang menggelembung hingga $79 juta sebagian besar lari ke dalam kantong mereka? Karena saya sama sekali tidak percaya jika alasan mereka bergabung dalam film ini disebabkan tertarik dengan naskahnya. (Poor)


Contagion

Film mengenai bencana tidak melulu harus digambarkan melalui sebuah film aksi berbujet raksasa dengan sentuhan efek khusus disana sini, Steven Soderbergh mempunyai caranya sendiri. Menyaksikan Contagion bagaikan tengah menyaksikan salah satu episode dari CSI. Ketegangan dibangun secara perlahan, misteri yang melingkupi dibuka satu demi satu, dan ini semua didukung dengan akting kelas wahid dari barisan pemainnya. Anda mungkin akan dibuat mengantuk dan pusing pada awalnya, terutama jika Anda memilih untuk tidak konsentrasi, namun seiring berjalannya durasi, Contagion kian menarik untuk disantap. Flu yang acapkali dianggap sebagai penyakit ringan, menjadi monster mengerikan disini. Sebuah film cerdas yang rasanya teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Outstanding)


The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn

Fans berat Tintin mungkin saja agak kecewa dengan cara Steven Spielberg menangani The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn yang sangat Hollywood, tapi itu tak menutupi fakta bahwa ini adalah film yang sangat menyenangkan untuk ditonton. Spielberg tahu benar bagaimana cara memanjakan penonton lewat suguhan petualangan yang menegangkan, misteri yang memancing rasa ingin tahu, humor yang menggelitik dan visualisasi yang tersaji dengan indah. Sang pionir dalam motion capture, Robert Zemeckis, agaknya perlu berguru kepada Spielberg yang berhasil menciptakan sebuah film animasi yang luar biasa indah, hidup dan mengasyikkan dalam debutnya di genre ini jauh melampaui pencapaian Zemeckis melalui The Polar Express dan Beowulf. (Exceeds Expectations)

Minggu, 27 November 2011

REVIEW : THE RAID


"Nggak semua polisi bisa dibeli." - Rama

The Raid
atau dikenal terlebih dahulu dengan judul Serbuan Ma
ut, telah menggemparkan dunia maya ketika film ini diberitakan telah menggondol People’s Choice Award di Midnight Madness Toronto Film Festival. Menjadi semakin heboh saat Sony Pictures dikabarkan telah membeli hak distribusinya untuk peredaran dunia dan Mike Shinoda (Linkin Park) diajak untuk mengisi musik latar. Belum juga beredar secara luas, kabar mengenai The Raid akan dibuat remake oleh Hollywood telah kencang berhembus. Sesuatu yang sangat membanggakan bagi perfilman Indonesia tentu saja. Apa yang begitu istimewa dari film ini sehingga banyak penonton dan kritikus film asing berdecak kagum dibuatnya? Maka ketika film keempat dari sutradara asal Wales, Gareth Evans, ini direncanakan untuk diputar sebagai film penutup dari pagelaran INAFFF, ribuan penonton pun berbondong-bondong menyerbu Blitz Megaplex Grand Indonesia untuk mendapatkan tiketnya. Dengan jumlah tiket yang dicetak terbatas, tidak semua penonton kebagian jatah. Beruntung sekali Cinetariz bisa menjadi salah satu dari sedikit penonton yang memperoleh kesempatan untuk menyaksikan The Raid jauh sebelum filmnya dirilis secara resmi di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 2012 nanti.

Dengan trailer yang telah cukup banyak menyuguhkan sejumlah adegan kekerasan yang brutal dan memompa adrenalin, saya pun bertanya-tanya, apa lagi yang akan ditawarkan oleh Gareth Evans? Maksud saya, trailer-nya yang sedemikian komplit bisa saja merusak kenikmatan saat menyaksikan The Raid. Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak penonton yang menurunkan ekspektasinya guna menghindari kekecewaan. Dan, Gareth Evans tidak mengecewakan siapapun. The Raid dibuka dengan Rama (Iko Uwais) yang tengah mempersiapkan diri untuk misi besar pertamanya. Setelah sepersekian menit penonton menikmati adegan yang syahdu bersama Rama dan keluarganya, Gareth Evans langsung menyeret kita pada sejumlah adegan yang memiliki ritme bertolak belakang dengan opening sequence tadi. Rama bergabung bersama pasukan elit pimpinan Sersan Jaka (Joe Taslim) dan Letnan Wahyu (Pierre Gruno) yang berusaha untuk mendobrak markas besar seorang bandar narkoba bernama Tama (Ray Sahetapy) yang konon belum terjamah oleh siapapun, termasuk para penegak hukum. Operasi kemanusiaan ini pun seketika berubah menjadi operasi bunuh diri tatkala terbongkar fakta bahwa para penghuni markas besar ini bukanlah sekumpulan penjahat kelas teri biasa. Mereka memiliki kemampuan bela diri yang tinggi dan siap membantai siapapun yang berani menginjakkan kaki di rumah mereka.


Hanya ada dua kata yang bisa menggambarkan seperti apa performa The Raid secara keseluruhan, keren gila! Siapapun yang mengatakan Indonesia tidak akan pernah bisa membuat film aksi sekelas Hollywood, sebaiknya tutup mulut sedari sekarang. Inilah bukti bahwa film Indonesia pun mampu bertarung di taraf internasional. Dibandingkan dengan Merantau, The Raid cenderung tidak peduli dengan naskah. Bisa dibilang, apa yang hendak dituturkan oleh Gareth Evans bisa dirangkum hanya ke dalam satu kalimat saja. Yang menjadi fokus adalah adegan tarungnya yang dikemas sedemikian rupa. Sejak pasukan elit memasuki area kekuasaan Tama, jangan harap Anda bisa bernafas. It’s filled with many breathtaking sequences. Saya sarankan Anda untuk ke toilet terlebih dahulu sebelum film dimulai karena The Raid tidak memberikan jeda untuk beristirahat. The Raid jelas bukan jenis tontonan yang cocok bagi Anda yang tidak tahan melihat kekerasan. Suara tembakan, desingan peluru, pukulan maupun tendangan bertubi-tubi menjadi pemandangan yang wajar selama satu jam pertama. Sisanya, Anda akan dihadapkan pada pemandangan yang lebih indah dengan mayat bergelimpangan, darah yang bercucuran dan tubuh yang tersayat-sayat. Semuanya disajikan dengan realistis. Kamera handheld pun dimanfaatkan, dan sang sinematografer, Matt Flannery, mampu beberapa kali menyajikan momen yang membuat ngilu.

Tentu kurang afdol jika pertarungan antara pasukan elit dengan kroni-kroni Tama disajikan lewat adu senjata. Iko Uwais dan Yayan Ruhian kembali berduet dengan manis menghasilkan gerakan-gerakan pencak silat yang memesona. Adegan klimaks yang memertemukan Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Doni Alamsyah, dalam satu ruang adalah bukti kejeniusan Iko Uwais dan Yayan Ruhian dalam mengolah koreografi laga. Sangat menegangkan. Selama kurang lebih 101 menit, Gareth Evans memang tidak membiarkan para penonton untuk duduk tenang. Jika Anda tidak bisa menahan diri, maka kata-kata kotor akan dengan mudah mengalir dari mulut. Dan ya, naskah racikan Gareth Evans pun dipenuhi dengan dialog yang kasar. Serangkaian kata-kata kotor tapi cerdas kerap meluncur dari Ray Sahetapy, Yayan Ruhian, Doni Alamsyah, dan kawan-kawan, yang secara efektif mampu membuat penonton terpingkal-pingkal. Ray Sahetapy menunjukkan tajinya sebagai aktor watak yang berkelas disini. Tanpa perlu berakting berlebihan, rasa ngeri sudah menyebar kemanapun setiap dia hadir. Para aktor lain pun bermain pas sesuai dengan porsinya. Yang justru saya khawatirkan dari The Raid adalah ketika film ini dikirim ke LSF. Sedikit saja potongan, maka buyar segalanya. The Raid lebih enak untuk dinikmati apa adanya.

Outstanding

Jumat, 28 Oktober 2011

REVIEW : SUPER 8


"Bad things happen... but you can still live." - Joe Lamb

Dalam Cloverfield, enam anak muda menggunaka
n handheld camera untuk mendokumentasikan sebuah serangan monster di New York. Lari kesana kemari menyebabkan kamera terus berguncang, alhasil penonton pun mual melihatnya. Sekalipun mampu menyebabkan pusing, Cloverfield dinilai berhasil dalam menyampaikan kisah dan ketegangannya terjaga hingga ending. Ingin mengulang kesuksesan yang serupa, J.J. Abrams kembali bermain-main dengan kamera, anak muda atau errrr… lebih tepat disebut bocah, dan monster. Untuk kali ini, tidak lagi bersetting di sebuah kota metropolitan namun di sebuah kota kecil yang aman dan tentram. Settingnya pun tidak lagi di masa kini, namun mundur jauh ke akhir tahun 1970-an. Ketika mengintip trailernya, sejenak pikiran saya pun melanglang buana. Super 8 sedikit banyak mengingatkan saya pada E.T. the Extra-Terrestrial. Bisa dimaklumi karena Steven Spielberg turut mendukung proyek ini dengan duduk di bangku produser. Agaknya Abrams pun ingin memberi penghormatan kepada Spielberg dengan memasukkan cukup banyak elemen yang jelas terlihat terinspirasi dari film Spielberg yang indah itu.

Para jagoan dari Super 8 adalah sekumpulan bocah SMP yang tengah menggarap sebuah film zombie menggunakan kamera Super 8. Dengan bujet yang terbatas, mereka pun harus memutar otak untuk bisa syuting tanpa harus mengeluarkan biaya. Sang sutradara, Charles (Riley Griffiths) digambarkan sebagai seorang bocah gemuk yang memiliki semangat luar biasa dan bossy. Joe (Joel Courtney), Alice (Elle Fanning), Preston (Zach Mills), dan rekan satu geng lainnya, terkadang gemas dengan Charles yang kelewat otoriter. Terobsesi menghasilkan sebuah film yang bagus agar bisa mengikuti festival film, tidak jarang Charles agak kelewat batas. Mereka mengendap-endap di tengah malam demi bisa mendapatkan gambar bagus di stasiun kereta api. Saat tengah melakukan syuting inilah, mereka terjebak dalam sebuah peristiwa yang mengerikan. Sebuah truk yang belakangan diketahui dikendarai oleh guru biologi para bocah ini (Glynn Turman) menghadang sebuah kereta yang tengah melaju kencang. Tabrakan maut pun tak terhindarkan. Namun peristiwa ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang terjadi kemudian. Berbagai serangan misterius meneror kota bersamaan dengan raibnya sejumlah penduduk. Pasukan militer dibawah komando Kolonel Nelec yang menginvasi kota (Noah Emmerich) semakin memperburuk suasana. Dengan menghilangnya Sheriff, Deputi Jack Lamb (Kyle Chandler) yang juga ayah dari Joe, pun menjadi tumpuan masyarakat yang ketakutan.


Penonton yang mengharapkan Super 8 akan mengulang ketegangan yang ditonjolkan oleh Cloverfield mungkin akan sedikit kecewa. Pasalnya, J.J. Abrams menyuntikkan cukup banyak drama dalam film terbarunya ini. Hadirnya Steven Spielberg di bangku produser rupanya turut berpengaruh terhadap Super 8 yang nuansanya lebih terasa Spielberg ketimbang Abrams. Tidak hanya E.T. seperti yang telah saya sebutkan di atas, tetapi hawa Close Encounter of the Third Kind plus War of the Worlds juga sangatlah terasa. Dengan masuknya drama, khususnya yang fokus menyoroti hubungan Jack Lamb dengan Joe yang memburuk, tentu saja membuat jenuh penonton yang mengharapkan Abrams akan menyuguhkan tontonan yang penuh dengan hingar bingar dan misteri. Akan tetapi justru disinilah poin plus Super 8. Abrams tidak melupakan ramuan-ramuan film bagus yang sudah hampir disingkirkan oleh kebanyakan film blockbuster dewasa ini. Dalam Super 8, kita akan menemukan chemistry yang terjalin kuat, naskah yang berisi serta karakter yang bernyawa. Larry Fong turut berkontribusi dalam menampilkan gambar-gambar yang cantik dan membekas untuk Super 8. Special effect-nya tidak usah ditanya lagi, nyaris tanpa cela. Ketegangan demi ketegangan sanggup dibangun oleh Abrams dengan rapi sekalipun penyelesaiannya yang cenderung terlalu sederhana membuat hati ini dongkol. I want more! Ah, tapi saya masih bisa memaafkannya toh endingnya tidak bodoh seperti War of the Worlds.

Dan saya suka sekali melihat sepak terjang para jagoan kita di Super 8 ini. Dengan chemistry yang sangat kuat, mereka terasa nyata dan dekat dengan penonton. Joel Courtney, Riley Griffiths, Ryan Lee, Zach Mills, Gabriel Basso, dan Elle Fanning, berakting secara natural dan pesonanya mampu melibas para aktor yang lebih berpengalaman macam Kyle Chandler dan Noah Emmerich. Akting prima yang ditunjukkan oleh para aktor ABG ini memberikan energi lebih bagi Super 8 yang telah kuat di sektor naskah, teknis dan penggarapan. Sekalipun banyak penonton yang mengeluhkan bahwa Super 8 tidak seepik Cloverfield, tidak menjadi soal bagi saya. Super 8 adalah salah satu film terbaik dari J.J. Abrams dan tentunya kontender kuat untuk menduduki posisi 3 besar film yang paling saya suka tahun ini. Super 8 memiliki resep yang tepat dalam menjadikannya sebagai sebuah film yang mengagumkan. Dikerjakan dengan sangat baik, memiliki naskah dengan alur yang rapi, special effect di atas rata-rata serta akting para pemainnya yang cantik. Sesuatu yang sudah sangat sulit ditemukan dari film-film blockbuster keluaran Hollywood.

Note : Jangan terburu-buru meninggalkan teater setelah film berakhir. Saat credit title bergulir, film pendek buatan Joe dan kawan-kawan turut ditampilkan. Sayang sekali jika Anda melewatkannya.

Outstanding

Kamis, 29 September 2011

REVIEW : X-MEN: FIRST CLASS


"Listen to me very carefully, my friend: Killing will not bring you peace." - Charles Xavier

Apakah Anda memiliki segudang pertanyaan mengenai bagaimana awal mula terbentuknya X-Men dan Brotherhood of Mutants? Apakah Anda penasaran dengan sejarah rumitnya hubungan antara Charles Xavier (James McAvoy), Erik Lehnsherr (Michael Fassbender), dan Raven alias Mystique (Jennifer Lawrence)? Atau Anda ingin melihat penampilan Professor X dan Magneto di masa muda? Jika jawabannya ya, maka X-Men: First Class harus berada dalam urutan teratas film yang tidak boleh Anda lewatkan. Selama Anda menginginkan semua jawaban atas apa yang terjadi dalam seri film X-Men, maka tidak menjadi soal apakah Anda adalah fans dari X-Men atau bukan. X-Men: First Class ini bagaikan Star Trek versi J.J. Abrams. Mengungkap masa lalu dari beberapa karakter utama dari film-film sebelumnya. Anda boleh menyebutnya sebagai reboot. Tapi yang jelas, First Class direncanakan menjadi awal dari sebuah trilogi baru X-Men. Bukan sesuatu yang baru memang karena sebelumnya Star Trek, Batman Begins dan Star Wars Episode I – The Phantom Menace sudah pernah melakukannya. Namun yang menjadi tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengembalikan kepercayaan penonton. X-Men: The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine jelas bukan film yang bagus. Bahkan judul yang terakhir disebut adalah sebuah kesalahan besar dan seharusnya tidak pernah dibuat. Hanya menjadi noda hitam bagi X-Men.

Setelah dianggap sebagai ‘pengkhianat’ karena membesut Superman Returns yang berada di bawah payung DC Comics, musuh utama Marvel Comics (tempat dimana X-Men bernaung), Bryan Singer kembali lagi ke dalam keluarga besar X-Men. Tidak lagi sebagai sutradara, melainkan duduk manis sebagai produser. Matthew Vaughn yang angkat nama lewat Kick-Ass didapuk menjadi sutradara. Dengan bantuan duo hebat ini, First Class diharapkan mampu mengangkat lagi nama X-Men yang sebelumnya sempat tercoreng. Mengingat ini adalah sebuah reboot, maka First Class memulai segalanya dari awal, mengambil setting waktu jauh sebelum X-Men pertama terjadi. Ada tiga plot utama yang dimunculkan oleh tim penulis naskah pada awal film sebelum akhirnya nanti dilebur menjadi satu menjelang babak kedua. Erik mengalami masa lalu yang suram saat masa kecilnya dihabiskan di kamp konsentrasi Nazi dan ibunya dibunuh tepat di depannya, suatu kejadian yang membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang pendendam. Charles jauh lebih beruntung karena hidup bergelimangan harta dan memiliki otak yang encer. Lalu kita juga akan berkenalan dengan seorang agen CIA yang cantik, Moira (Rose Byrne), yang tengah menyelidiki Sebastian Shaw (Kevin Bacon) yang disinyalir tengah menyusun rencana memanfaatkan krisis misil Kuba untuk memicu Perang Dunia Ketiga. Sebastian Shaw inilah yang mempertemukan ketiga tokoh utama ini ke dalam satu ‘ruangan’.

Harus diakui tahun 2011 ini merupakan salah satu tahun terbaik bagi film adaptasi komik. Walaupun masih ditemukan beberapa film yang kualitasnya mengecewakan, namun secara keseluruhan apa yang disajikan di layar bioskop tahun ini terbilang memuaskan. X-Men: First Class adalah salah satunya. Apa yang disajikan oleh Vaughn disini sudah lebih dari cukup, saya tidak bisa lagi meminta lebih. Dengan durasi sepanjang 130 menit, First Class sama sekali tidak melelahkan. Naskahnya yang padat berisi ditingkahi dengan ritme penceritaan yang berjalan cepat. Durasinya yang panjang tidak disebabkan tim penulis naskah yang sengaja ingin memanjang-manjangkan plot agar terkesan berkualitas atau untuk memberi kesempatan bagi tim special effects untuk pamer kemampuan, akan tetapi apa yang hendak disampaikan kepada penonton memang sangat banyak. Hebatnya, Vaughn mampu mengejewantahkan naskah dengan cekatan sehingga kosa kata seperti membosankan dan berantakan mampu terhindarkan. Untuk sekali ini, First Class digarap dalam tonal warna yang sedikit suram. Adegan kematian bukan menjadi sesuatu yang langka disini. Puncaknya adalah ketika Sebastian Shaw dan anak buahnya menyerang markas Divisi X.


Tidak ada yang lebih membuat saya terpukau ketika menyaksikan First Class selain adu akting James McAvoy dan Michael Fassbender. Chemistry yang berpadu dengan manis menjadikannya sebagai salah satu bromance terbaik yang pernah ada. McAvoy dan Fassbender tidak berusaha mereka ulang apa yang telah dilakukan oleh Patrick Stewart dan Ian McKellen. Professor X dan Magneto diterjemahkan ulang dengan cara mereka sendiri. Hubungan unik yang berkembang diantara mereke berdua sepanjang film menjadi salah satu kunci mengapa First Class sangat nikmat untuk diikuti. Jajaran pemain pendukung pun tak kalah memikat. Kevin Bacon memainkan peran Sebastian Shaw yang tenang namun dingin dan tak berperasaan dengan memikat, Jennifer Lawrence membuat saya bersimpati sekaligus sebal terhadap Raven, dan Nicholas Hoult sanggup menghidupkan Hank dan Beast yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengan sama baiknya. Sementara dari mutan-mutan yang belum pernah tampil di seri X-Men sebelumnya, Banshee (Caleb Landry Jones), Azazel (Jason Flemyng) dan Alex Summers (Lucas Till) adalah yang paling mencuri perhatian. Keputusan Vaughn dan tim penulis naskah untuk fokus pada hubungan Erik dan Charles berdampak pada kurang tergalinya tokoh-tokoh pendukung. Emma Frost (January Jones) dan Angel (Zoe Kravitz) sebenarnya memiliki potensi lebih sebagai femme fatale saingan Mystique, namun kehadiran mereka justru hambar.


X-Men: First Class adalah cerminan ideal dari sebuah summer movie. Mayoritas produser film di Hollywood berpedoman bahwa untuk menciptakan sebuah film sukses adalah dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal dan naskah kacangan tidak menjadi masalah. Dollar menumpuk, penonton bersorak sorai menyaksikan ledakan-ledakan dan pertempuran seru, namun setelah itu menghilang tak berbekas dari ingatan. Tahun ini cukup berbeda karena tampaknya beberapa produser dan sutradara sudah menyadari bahwa mereka khilaf, kecuali Michael Bay tentunya, sehingga cukup banyak summer movies yang memuaskan lahir dan batin. Agaknya Matthew Vaughn akan segera menjadi komoditi panas Hollywood setelah X-Men: First Class muncul dengan hampir tanpa cela. Vaughn menyajikan First Class dengan adegan aksi dan tampilan visual yang terangkai dengan cantik berpadu bersama drama yang emosional yang dibumbui humor yang segar dan cast yang tepat. Sebuah film aksi superhero yang sangat memuaskan ditilik dari segala segi. X-Men: First Class benar-benar first class. Salut untuk Matthew Vaughn yang telah mengembalikan kepercayaan penonton terhadap franchise ini.

Outstanding

Selasa, 06 September 2011

REVIEW : TEMPLE GRANDIN


"My name is Temple Grandin. I'm not like other people. I think in pictures and I connect them." - Temple Grandin

Ada yang mencuri perhatian di perhelatan Emmy Awards tahun lalu. Bukan mengenai kemenangan Modern Family atas Glee atau kemenangan besar The Pacific, tetapi Temple Grandin. Film Televisi (FTV) produksi HBO ini menggondol 7 piala yang menjadikannya sebagai pemenang terbesar kedua setelah The Pacific. Bahkan Temple Grandin asli menyempatkan diri untuk hadir. Setelah kemenangan besar di Emmy Awards, Temple Grandin agak terseok-seok di beberapa penghargaan berikutnya. Akan tetapi piala untuk Claire Danes selalu tersedia. Akting luar biasanya sebagai penyandang autis yang jenius mendapat pengakuan banyak pihak. Mendampingi Danes dalam FTV apik ini adalah pemain-pemain watak seperti Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn. Sementara yang ditunjuk sebagai nahkoda adalah pembesut Volcano dan The Bodyguard, Mick Jackson. FTV yang memulai syuting sejak bulan Oktober 2008 ini pertama kali tayang di kanal HBO pada 6 Februari 2010.

Mick Jackson kerap menggunakan teknik flashback untuk menjabarkan serangkaian peristiwa yang dialami oleh Grandin di masa mudanya. Yang perlu dicermati, Jackson terkadang menerapkannya sesuka hati sehingga dibutuhkan sedikit ekstra konsentrasi untuk menikmati FTV ini. Leo Trombetta memang berhasil menyambungkan potongan-potongan gambar dengan luar biasa, namun perpindahan setting waktu acapkali tanpa didampingi oleh penjelasan sehingga cukup membingungkan terlebih banyak lompatan waktu disini. Christopher Monger dan Merritt Johnson memulai kisah Grandin pada musim panas di tahun 1960-an saat Temple Grandin (Claire Danes) dikirim oleh ibunya, Eustacia (Julia Ormond), ke peternakan sang bibi, Anne (Catherine O'Hara) untuk menghabiskan libur musim panas. Seraya memikirkan akan melanjutkan pendidikan kemana, Grandin menemukan ketertarikan dengan hewan-hewan ternak. Sebuah kejadian yang membuatnya terserang rasa panik yang luar biasa menjadi semacam langkah awal Grandin untuk menemui kesuksesannya. Sementara orang-orang sekitar tak berhenti mencemoohnya karena tingkah lakunya yang berbeda dan Eustacia cenderung kurang memercayai kemampuan putrinya, Professor Carlock (David Strathairn), guru Grandin di sekolah asrama, justru memberi dukungan penuh. "Setiap pintu adalah sebuah kesempatan," kata Carlock pada Grandin. Pintu diartikan secara harfiah oleh Grandin. Tapi ini pun tidak sepenuhnya salah. Di balik pintu ada sesuatu yang baru yang mungkin saja kita tidak pernah sangka-sangka isinya, Grandin berani mengambil resiko untuk membukanya karena dia ingin melangkah maju.


Pintu-pintu inilah yang kemudian membawa Grandin kepada kesuksesan. Keberaniannya dalam mempertahankan pendapat, memelajari kesalahan dan terus melangkah ke depan menjadi kunci kesuksesannya. Kekurangan tidak menjadi hambatan baginya. Di dunia peternakan dimana para pria berkuasa, Grandin justru berjaya dan menaklukkan para pria yang semula meremehkannya dan segala penemuannya. Grandin menciptakan sebuah revolusi terhadap dunia peternakan di Amerika Serikat. Jackson memakai sudut pandang orang pertama dalam menuturkan kisah. Karakter pendukung mempunyai peranan penting dalam hidup Grandin, namun tidak bagi penonton. Yang harus penonton perhatikan hanyalah narasi Grandin. Itu pun tidak disampaikan dengan panjang lebar. Trio Jackson, Monger dan Johnson ingin agar Anda mendapatkan sensasi bagaimana rasanya menjadi Temple Grandin selama 2 jam. Bahkan terkadang apa yang dipikirkan oleh Grandin divisualisasikan ke dalam bentuk adegan yang unik. Naskah yang kuat bukanlah satu-satunya cara agar penonton merasa dilibatkan dalam film. Akting cemerlang dari Claire Danes adalah kuncinya. Ini adalah penampilan terbaik dari Danes dalam sejarah karir aktingnya. Temple Grandin memang film yang bagus, namun film ini tidak akan ada artinya tanpa akting Claire Danes yang luar biasa.

Rasanya juri Emmy Awards tak perlu menonton FTV ini hingga selesai untuk menobatkan Danes sebagai aktris terbaik. Hanya butuh 15 menit pertama bagi saya untuk segera berlari menemui Danes dan memberinya sejumlah piala. Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn pun bermain hebat dan hampir tanpa cela. Departemen akting yang begitu gagah perkasa ini untungnya memperoleh dukungan penuh dari departemen teknis yang memberi sumbangsih berupa editing yang rapi, sinematografi yang memikat dan tata kostum yang cantik. Ini adalah kombinasi yang tepat untuk menghasilkan sebuah film yang berkelas tinggi. Pada akhirnya Temple Grandin menjadi sebuah film yang sangat layak ditonton bukan hanya karena kualitasnya yang mumpuni, namun juga kisahnya yang menginspirasi disampaikan dengan halus tanpa kesan menceramahi. Grandin telah membuktikan kepada dunia bahwa kesuksesan seseorang berasal dari tekad yang kuat. Kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk menghambat seseorang untuk maju. Dibalik sebuah kekurangan pasti ada sebuah kelebihan. Temple Grandin juga menunjukkan bahwasanya tidak mudah hidup sebagai penyandang autis, beban yang dipikul sangat berat. Maka alangkah bijaknya jika kata 'autis' tidak lagi disematkan sebagai bahan tertawaan.

Outstanding