Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

REVIEW : LOVE IS U

“Nggak, nggak, nggak kuat… Nggak, nggak, nggak kuat…” Lho, lho, itu kan kutipan lirik ‘Playboy’ tembang milik 7 Icons? Tenang, jangan keburu protes dulu. Sepenggal lirik ini bukan bermaksud untuk membandingkan siapa yang lebih superior antara 7 Icons dengan Cherrybelle, melainkan hanya ungkapan hati saya saat menyaksikan film debut dari Cherrybelle di bioskop, Love is U. Saking tidak kuatnya, saya sampai ingin menggigit kursi yang ada di depan saya. Sial sekali waktu itu saya memutuskan untuk tidak memiliki segelas minuman bersoda dan berondong jagung yang bisa saya telan bulat-bulat ketika jengkel. Dan lebih sial lagi, pulsa di handphone sedang menipis. Maka satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa bosan yang sudah mencapai ubun-ubun adalah memandangi personil Cherybelle satu persatu secara cermat. Strategi jitu? Nampaknya, apalagi setelah menyaksikan film ini saya mendadak jatuh cinta setengah mati dengan girlband ini, seolah-olah mereka adalah sekumpulan bidadari yang baru saja turun dari langit.

Menyaksikan Love is U membuat saya tidak tahan untuk segera menyandingkannya dengan Fantasi, Spice World, Purple Love hingga Baik-Baik Sayang yang memiliki tujuan yang senada, memanfaatkan sejumlah orang atau sebuah band yang tengah naik daun demi menumpuk pundi-pundi. Sekalipun empat film tersebut memiliki kualitas yang pas-pasan, jalinan ceritanya yang menghibur membuatnya menjadi semacam ‘guilty pleasure’ bagi sebagian orang, termasuk non-fans. Sayangnya, ini tidak terjadi pada Love is U. Naskah buatan Jamil Aurora kelewat datar, sementara Hanny R. Saputra tidak bisa berbuat banyak. Alhasil, dengan dialog yang membosankan, akting yang ‘begitu deh’, setting yang melulu disitu-situ saja dan nyaris tidak dihiasi dengan percikan konflik yang bikin gregetan, tentu Anda sudah bisa membayangkan betapa menyiksanya film ini. Jika memang sejak awal tujuan dibuatnya film ini adalah sebagai media promosi, sepertinya dikemas dalam bentuk film konser seperti Hannah Montana atau Glee adalah pilihan yang lebih baik. Memaksakannya muncul sebagai sebuah film layar lebar sementara hampir seluruh aspek belum siap hanya akan mempermalukan diri sendiri.

Agak mengherankan sutradara sekelas Hanny R. Saputra bersedia menerima tawaran film dengan naskah yang bahkan lebih lemah dari FTV sekalipun ini. Para personil Cherybelle dikisahkan tengah dikarantina menyusul kegagalan mereka tampil secara kompak dalam sebuah pertunjukkan. Layaknya Akademi Fantasi Indosiar, kita pun disuguhi dengan tayangan seputar kehidupan sehari-hari para personil Cherybelle saat mereka berlatih koreografi, vokal, hingga bersantai bersama di tempat karantina. Agar tidak monoton, maka sejumlah bumbu penyedap berupa konflik antar personil, konflik dengan anggota keluarga dan konflik dengan para pelatih pun dicemplungkan. Apakah bumbu-bumbu ini membuat Love is U menjadi terasa lezat? Oh, sayang sekali tidak. Menyebalkan, ya. Serentetan konflik yang berpotensi memanaskan suasana, dimunculkan sepotong-sepotong dengan penyelesaian yang serba mudah. Penyelesaian konflik selalu ditandai dengan personil Cherybelle yang saling berpelukan, menangis bersama, lalu melantunkan tembang “Beautiful”, “Love is You”, dan “I’ll Be There For You” berulang-ulang hingga saat Anda keluar dari gedung bioskop, tanpa sadar Anda telah hafal dengan lirik tiga lagu tersebut. Saya tidak sedang menonton salah satu episode Teletubbies kan?

Pada akhirnya, kemunculan Love is U di layar lebar memang hanya untuk memuaskan dahaga para ‘Twibi’ dan ‘Twiboy’ yang seakan belum puas melihat idolanya bersliweran di layar kaca setiap hari. Love is U adalah bentuk pengkultusan terhadap Cherybelle. Hanya para fans yang akan jejeritan atau bertepuk tangan setelah film berakhir. Sementara mereka yang tidak terlalu mengenal girlband ini, atau malah membencinya, akan menepuk jidat mereka berulang-ulang dan mengacak-acak rambut, kecuali mereka tahu cara mengatasi kebosanan. Menyaksikan sembilan gadis dengan cara berbusana, cara berbicara, menangis, marah, hingga tertawa dengan cara yang nyaris serupa ditambah perilaku kekanak-kanakan yang dibuat-dibuat tentu bukan pemandangan yang menyenangkan, meski mereka luar biasa cantik. Jika ada yang bergembira ria, maka sekali lagi itu hanyalah fans Chibi, (dan anehnya) saya. Karena saya sudah luar biasa putus asa mencari kegembiraan di tengah gurun yang gersang. Ketika rasa haus dan lapar mulai menyerang, apapun terlihat lezat.

Troll

Jumat, 30 Maret 2012

REVIEW : HI5TERIA



"Jika kepala terlepas dari ragamu, carilah wanita berbadan dua. Atau bayi yang masih suci.." - Vita

Lima sutradara, lima rasa takut, lima mimpi buruk. Proyek impian dari Upi Avianto ini mungkin akan mengingatkan Anda pada Phobia 2 dari Thailand atau Takut dari dalam negeri. Film bergenre horror dengan konsep omnibus. Namun pada dasarnya, Hi5teria memiliki semangat yang sama dengan FISFiC Vol. 1 yang lahir dari INAFFF tahun lalu, sutradara-sutradara pendatang baru memegang kendali di setiap segmen sementara Upi Avianto memantau dari bangku produser. Lagi-lagi, seperti halnya FISFiC, Hi5teria tidak memiliki benang merah yang mengaitkan antar satu segmen dengan segmen lainnya, kesamaan hanya terletak pada karakter utama yang didera terror adalah wanita, dan adanya twist yang terselip di penyelesaian masalah. Kelima wanita yang ‘sial’ tersebut adalah Tara Basro, Maya Otos, Luna Maya, Imelda Therinne, dan Ichi Nuraini, sedangkan posisi ‘algojo’ ditempati oleh Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, dan Harvan Agustriansyah. Premisnya menarik, mencoba mengangkat kisah-kisah mistis yang beredar di sekitar kita.

Tara Basro dijadikan sebagai tumbal pertama. Dia adalah Sari, dalam segmen Pasar Setan, yang terpisah dari kekasihnya saat mendaki gunung. Tersesat di hutan, Sari bertemu dengan Zul (Dion Wiyoko). Mereka berdua terus menerus melewati jalan yang sama, tidak kunjung menemukan jalan setapak yang membawa mereka keluar dari hutan. Suara-suara aneh mulai menghantui. Sebagai sebuah pembuka, Pasar Setan menjanjikan. Ketegangan dibangun secara perlahan-lahan. Adriyanto Dewo sanggup mengimbangi kepiawaian Affandi Abdul Rachman saat menggarap Pencarian Terakhir. Endingnya pun terasa pas, malah saya menganggapnya ini adalah ending terbaik dari semua segmen. Meski tidak semencekam segmen-segmen berikutnya, Pasar Setan memberikan kengerian yang nyata terutama bagi para pendaki gunung. Secara personal, saya memilih segmen ini sebagai favorit saya karena pengalaman pribadi dimana saya beberapa kali mengalami sebuah mimpi buruk dimana saya selalu kembali ke tempat yang sama sekalipun telah berjalan jauh. Sulit untuk tidak jatuh cinta dengan Pasar Setan jika menyukai Pencarian Terakhir maupun Dead End.

Sementara Wajang Koelit buatan Chairun Nissa yang memasang Maya Otos sebagai wartawan asing yang tengah melakukan riset mengenai wayang kulit di sebuah daerah di Jawa Tengah malah kurang menggigit. Kedekatan setting seharusnya mampu menegakkan bulu roma saya, namun pada kenyataannya segmen ini tidak berjalan sesuai harapan, jalan ceritanya mudah sekali ditebak. Jika ada yang membuatnya terasa menakutkan, maka itu berkat instrumen musiknya. Wajang Koelit seperti berusaha untuk mengikuti jejak Titisan Naya, dan twist yang disisipkan membuatnya terkesan dipaksakan. Permasalahan yang sama juga menimpa dua segmen berikutnya, Kotak Musik dan Loket. Dalam Kotak Musik, Luna Maya mengalami serangkaian peristiwa aneh yang memaksanya untuk mau tidak mau memercayai hal-hal gaib. Billy Christian menawarkan sebuah premis biasa yang dieksekusi dengan cukup apik, tetapi tensi ketegangan mulai merosot semenjak Luna Maya diikuti oleh hantu anak kecil. Jika ada yang membuat segmen ini menonjol adalah Luna Maya yang terlihat lebih cantik dari biasanya serta sanggup berakting menawan. Dan saya suka sekali setiap dia melontarkan dialog, “mbok, bikin kaget!”.

Palasik dari Nicho Yudifar menebar kengerian kepada penonton melalui mitos supernatural masyarakat Minangkabau. Diantara segmen-segmen lainnya, Palasik adalah yang terkuat. Imelda Therinne yang sedang hamil besar diajak berlibur oleh suaminya yang sabar dan anak tirinya, Poppy Sovia, yang keras ke sebuah villa. Liburan yang seharusnya damai, menenangkan, dan membuat pikiran terasa jernih justru membuat Imelda Therinne tergoncang setelah dia melihat sebuah kepala terbang. Setelah pembukaan yang memancing rasa penasaran, Nicho Yudifar lantas menggiring kita ke dalam teror yang kian mengerikan setiap menitnya. Visualisasi setan yang menyeramkan namun tidak banci tampil menambah daya tarik tersendiri. Pun begitu, penonton dituntut untuk mencari tahu sendiri apa makna dari ‘Palasik’ karena selama film berlangsung, hanya secuil informasi yang diberikan. Menginjak segmen terakhir, Loket, tingkat kesulitan permainan ditingkatkan. Harvan Agustriansyah menyajikan sebuah tayangan yang mendebarkan, dan membuat penonton harap-harap cemas. Wanita sial di segmen ini adalah Ichi Nuraini, petugas penjaga loket parkiran basement di sebuah gedung yang mengalami malam yang tidak mengenakkan. Tidak banyak dialog disini. Kengerian dibangun melalui suasana parkiran yang sunyi sepi nan gelap. Cukup lama penonton ditempatkan dalam posisi yang tidak menyenangkan, dibiarkan menduga-duga sendiri kapan teror yang sebenarnya akan datang. Ketika apa yang dinanti-nantikan oleh penonton akhirnya datang, tensi segera saja menukik turun. Penyelesaiannya membuat saya tidak habis pikir. Haruskah diberi twist?

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi setiap segmen di Hi5teria, kenapa twist ending menjadi sesuatu yang wajib dipergunakan? Tidak masalah jika pemakaiannya tepat seperti dalam kasus Pasar Setan atau Palasik, tapi itu akan menjadi bumerang bagi filmnya sendiri apabila dipaksakan untuk tampil, seperti yang terjadi dalam Wajang Koelit, Kotak Musik, dan Loket. Malah akan lebih terasa mencekam, dan tentunya riil, apabila dibiarkan apa adanya. Tidak semua film horror perlu diberi twist ending. Pun begitu, saya cukup puas dengan kinerja dari sutradara-sutradara muda di Hi5teria yang terlepas dari hasil akhirnya yang bagus atau mengecewakan. Langkah seperti yang dilakukan oleh Upi Avianto ini patut mendapat apresiasi lebih mengingat ini merupakan sebuah kesempatan baik untuk menemukan sutradara muda yang memiliki bakat terpendam. Apabila ada kekurangan disana-sini, tentu masih dapat dimaklumi. Setidaknya, Hi5teria telah memberikan sebuah angin segar kepada masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur bersikap skeptis terhadap film horor lokal yang semakin lama kian tak berotak.

Acceptable


Kamis, 15 Maret 2012

REVIEW : NEGERI 5 MENARA


"Man Jadda Wajada!"

Negeri 5 Menara
memberikan secercah harapan kepada perfilman lokal yang lesu dalam mendulang penonton. Tahun lalu, Surat Kecil Untuk Tuhan yang
dinobatkan sebagai film terlaris tak sanggup menggapai angka 800 ribu penonton. Sungguh memprihatinkan. Berangkat dari sebuah novel laris yang mengumpulkan jutaan pembaca dari berbagai pelosok negeri, Negeri 5 Menara berpotensi mengulang kesuksesan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Jika harapan itu dirasa terlalu muluk-muluk, setidaknya mampu mengimbangi raihan Sang Pencerah. Dikomandoi oleh Affandi Abdul Rachman yang pernah menghasilkan beberapa film apik, Pencarian Terakhir, Heart-Break.com, Aku atau Dia? dan The Perfect House, dan naskah ditangani oleh penulis naskah jempolan, Salman Aristo, film yang mengisahkan tentang perjuangan enam santri di sebuah pondok di Ponorogo ini berpotensi menjadi sebuah tontonan yang berkualitas. Namun tentu saja duo ini mengemban tugas berat mengingat mereka harus memadatkan novel setebal 416 halaman menjadi sebuah film berdurasi 120 menit saja. Apabila mereka sanggup membuat para penggemar novelnya merasa terpuaskan dan penonton yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai novel karya Ahmad Fuadi mendadak tertarik untuk membaca novelnya, maka tujuan berhasil tercapai. Yang menjadi pertanyaan, apakah tujuan tersebut berhasil tercapai?

Affandi Abdul Rachman memulai film dari sebuah desa di pinggir Danau Maninjau dengan memerlihatkan kehidupan Alif (Gazza Zubizareta) yang serba sederhana dengan Amak (Lulu Tobing) dan Ayah (David Chalik). Sekalipun hidup dalam struktur sosial konvensional, Alif dan sahabatnya, Randai (Sakurta Ginting), tidak berpikiran seperti rekan-rekan sebayanya, mereka memiliki mimpi yang tinggi. Alif berniat melanjutkan pendidikan ke sebuah SMA di Bandung, dilanjut dengan memasuki kampus idamannya, ITB. Sayangnya, Amak tidak sepemikiran dengan putra sulungnya ini. Amak menginginkan Alif untuk memasuki pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Pondok Madani. Walau terasa berat harus merelakan mimpinya terkubur, Alif merasa wajib mendengarkan perkataan orang tuanya. Bagaimanapun, orang tua mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya. Ditemani sang Ayah, Alif berangkat mengikuti ujian ke Ponorogo. Hatinya remuk mengetahui keadaan pondok yang jauh dari kesan ideal, belum lagi dengan keharusan mundur setahun demi mengikuti kelas adaptasi. Alif mencoba untuk bertahan, setidaknya hingga tahun pertama berlalu. Surat-surat yang dikirim oleh Randai semakin menggoda iman Alif untuk segera kabur ke Bandung. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Pondok Madani terasa bagaikan rumah kedua yang nyaman bagi Alif terlebih dengan kehadiran Baso (Billy Sandy), Atang (Rizky Ramdani), Said (Ernest Samudera), Raja (Jiofani Lubis), dan Dulmajid (Aris Putra). Mereka berenam kerap berkumpul di bawah menara masjid dan menamakan diri mereka sebagai “Sahibul Menara”.

Tidak seperti Laskar Pelangi yang mempunyai grafik konflik yang tergambar dengan tegas, Negeri 5 Menara cenderung adem ayem dalam bertutur, mengalir dengan tenang bagaikan tengah menaiki sebuah perahu yang melintasi sungai dengan pemandangan yang menyejukkan mata ditemani dengan rekan-rekan yang menyenangkan. Meski tenang tanpa tantangan, perjalanan tersebut tak terasa membosankan. Konflik batin yang dihadapi Alif pun tidak lama-lama dibahas, segera terselesaikan ketika film memasuki menit ke-20. Selebihnya, Affandi Abdul Rachman menyuguhkan tentang suka duka menjadi santri pondok yang sejujurnya cukup membuat saya tergoda untuk menjajalnya. Demi mempertahankan mood penonton, maka dirasa perlu membuat cabang cerita baru. Baso yang tidak terlalu pandai dalam Bahasa Inggris diminta rekan-rekannya untuk mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, atau ketika Alif menjadi wartawan di Koran pondok dan terkesima dengan kecantikan Sarah (Eriska Rein), keponakan dari Kyai Rais (Ikang Fawzi). Ditampilkan secara jujur nan polos, cabang-cabang ini sanggup menggelitik penonton. Kedekatannya dengan kehidupan kita menjadikan Negeri 5 Menara terasa membumi dan lezat untuk disantap. Tertawa geli melihat para santri dihukum oleh Ustadz mereka lantaran telat ke masjid, grogi saat berhadapan dengan santriwati, atau the power of kepepet, ide-ide cerdas yang muncul saat kepepet. Ada dua kemungkinan saat penonton tergelak; heran melihat kelakuan para santri atau pengalaman pribadi.

Namun dari semua itu, Negeri 5 Menara memberikan sebuah mentera sakti bagi siapapun yang ingin mencapai kesuksesan. Di kelas hari pertamanya, Alif dikenalkan dengan mantera “Man Jadda Wajada!” oleh Ustad Salman (Donny Alamsyah), yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Disinilah yang membedakan Negeri 5 Menara dengan film sejenis bertema “zero to hero” yang menyoroti perjuangan siswa dari kampung menjadi orang sukses. Segala sesuatu yang ada di dunia tidak dapat diraih secara instan, butuh perjuangan yang seringkali penuh lika liku. Sahibul Menara memiliki impian untuk menaklukkan dunia. “Kita bikin janji di menara ini, nanti kita akan bertemu dan foto dengan menara kita masing-masing,” kata Baso kepada rekan-rekannya. Impian dari Sahibul Menara tidak diperlihatkan mendadak tercapai begitu saja. Beberapa kali mereka meneriakkan mantra “Man Jadda Wajada” tatkala hati mulai dipenuhi dengan keraguan.

Sekalipun berasal dari sebuah pesantren yang tidak terlalu terkenal, Sahibul Menara tidak segan memiliki impian yang besar. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang bijak, “jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar.” Sayangnya, keterbatasan durasi memaksa Affandi Abdul Rachman memangkas proses perjuangan tokoh-tokoh kesayangan kita ini dalam menggapai sukses. Endingnya muncul secara prematur. Saat layar tiba-tiba menghitam memunculkan nama-nama di jajaran pemain dan kru, secara spontan saya nyeletuk, “gitu doang?”. Endingnya terasa datar dan janggal. Bagaikan tengah menaiki roller coaster yang memacu adrenalin, ternyata kita hanya dibawa dalam satu putaran saja. Tak puas, menginginkan lebih. Pun begitu, Affandi Abdul Rachman dan Salman Aristo telah berhasil menyuguhkan salah satu tontonan terbaik di awal tahun. Lucu, mengharukan, dan inspiratif. Negeri 5 Menara sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Acceptable

Sabtu, 14 Januari 2012

REVIEW : PULAU HANTU 3


"Bulan purnama gini paling enak renang telanjang di pantai."

Alasan utama saya rela meluangkan sedikit waktu demi menyaksikan Pulau Hantu 3 adalah karena saya menyukai jilid pertamanya yang sekalipun ide cerita yang diangkat terbilang usang, Jose Poernomo berhasil mengemasnya menjadi sebuah tontonan mencekam yang menyenangkan dengan balutan komedi yang lumayan segar. Sekuelnya yang rilis setahun kemudian gagal menghadirkan atmosfir yang serupa lantaran diberi suntikkan komedi lebih banyak tanpa ada perkembangan dalam jalan cerita. Setelah 3 tahun lamanya tidak ada kabar, saya pikir Jose Poernomo memutuskan untuk mengakhiri terror dari hantu yang memiliki wajah yang serupa tapi tak sama dengan Ghostface dari Scream ini. Ternyata, dugaan saya salah, saudara-saudara. Pulau Hantu tidak akan dibiarkan begitu saja menjadi pulau tak berpenghuni selama masih ada ratusan ribu penonton yang menggeruduk bioskop dengan senang hati. Seakan tidak belajar dari kesalahan yang didapat dari film sebelumnya, porsi komedi semakin diperbanyak di Pulau Hantu 3. Bahkan, film ini terasa lebih tepat disebut sebagai ‘softcore porn’ dengan bumbu komedi horror, ketimbang sebagai film horror komedi.

Tidak perlu berpanjang lebar untuk menjelaskan seperti apa plot dari Pulau Hantu 3, hanya dengan satu kalimat saja pun sebenarnya sudah cukup. Dua sahabat, Nero (Abdurrachman Arif) dan Kimo (Ricky Adi Putra), bersama dengan Gaby (Jenny Cortez) dan Octa (Reynavenzka), mendapat pekerjaan di sebuah resor baru milik Patigana (Boy Hamzah) yang berlokasi di Pulau Madara. Nah, Nero yang sudah dua kali mengunjungi pulau ini di dua jilid sebelumnya, baru menyadari bahwa ini adalah pulau yang juga menyebabkan teman-temannya terbunuh setelah ‘disambut dengan ramah’ oleh hantu penunggu pulau. Apa yang terjadi kemudian Anda tentu sudah bisa menebak, hanya saja kali ini ada terror lain yang disebabkan oleh Patigana. Sejak awal Nero sudah menaruh curiga pada Patigana lantaran gerak-geriknya yang aneh. Tidak ada satupun yang mempercayai omongan Nero, malah teman-temannya menganggap dia hanya iri dengan ketampanan si pemilik resor. Hanya setelah mereka melihat mayat istri Patigana secara langsung, mereka mulai percaya. Dan pada saat itu, segalanya telah terlambat.

Perlu untuk diingat, jika Anda memiliki rencana untuk menyaksikan Pulau Hantu 3 di bioskop, maka motif Anda haruslah untuk melihat (maaf) payudara di layar lebar. Apabila tidak, maka urungkan saja dan pilih film lain. Untuk sekali ini, Jose Poernomo dan Benny Ahmad Basuni merasa tidak perlu memberikan jalan cerita yang runut dan logis kepada penonton karena tujuan dibuatnya sekuel ini tidak lain adalah untuk mengeruk pundi-pundi rupiah dengan cara mengeksploitasi tubuh perempuan. Ya, Anda tidak akan mendapatkan apapun dari film ini, kecuali akting yang kaku, humor yang jauh dari kata lucu, dan (maaf) tetek putih mulus yang terus menerus diumbar tiada henti dengan cara yang nyaris sama. Ada apa dengan Anda, mas Jose? Padahal dulu Anda adalah salah satu sutradara berbakat di Indonesia yang pernah menelurkan film-film berkualitas macam Jelangkung dan Tak Biasa. Sekarang kok malah bergabung dengan ‘Komunitas Penghancur Film Indonesia’? Cimit-cimit telah berubah..

Apabila dihitung menggunakan persentase, maka 80% film hanya diisi dengan adegan seks panas di ranjang dan kolam renang, serta aksi pamer aurat. Plot tidak lagi menjadi sesuatu yang esensial. Tidak ada penjelasan seputar ritual yang dilakukan oleh Patigana, seakan Jose dan Benny mengondisikannya hanya sebagai tempelan belaka. Bukankah lebih tepat jika judul ‘Ghost Island’ diganti menjadi ‘Boobs Island’? Setidaknya, penonton tidak merasa ditipu. Inginnya mencari sebuah hiburan yang mencekam, justru disuguhi dengan payudara dan selangkangan. Yang menjadikannya semakin menyebalkan, Lembaga Sensor Film menikmati permainan gunting menggunting sehingga acapkali ditemukan adegan panas yang belum tuntas namun sudah melompat ke adegan lain. Tanggung banget sih, bo! Kenapa tak dibuat versi 3D-nya sekalian supaya bisa menyaingi Piranha 3D? Andaikan saja saya mendapatkan tiket film ini secara gratis, mungkin saya telah memutuskan untuk walkout sejak paruh pertama. Menuliskan review ini hanya membuat saya sakit hati karena harus mengingat lagi apa saja yang telah terjadi sepanjang 90 menit yang menggairahkan tersebut (heh!). Dan bisa-bisanya Pulau Hantu 3 lebih diminati ketimbang Ummi Aminah, tak habis pikir aku.

Troll

REVIEW : UMMI AMINAH



"Percuma kamu kaya raya jika iman kamu rendah."
- Ummi Aminah


Miris, ketika saya membeli tiket untuk menonton Ummi Aminah, layar monitor didominasi oleh warna hijau. Pun ketika film telah memasuki menit ke-30, jumlah penonton yang memenuhi gedung bioskop pun tak mencapai angka 25. Nampaknya banyak masyarakat yang belum ‘ngeh’ terhadap film ini. Ummi Aminah memang adem ayem soal urusan promosi. Secara otomatis, hanya publik yang akrab dengan stasiun televisi milik Surya Paloh dan website resmi jaringan bioskop terbesar di Indonesia saja yang mengetahui ‘kedatangan’ Ummi Aminah. Di media jejaring sosial pun, tak ada yang memberikan testimoninya. Sepi promo, sepi penonton, apakah itu berarti film ini juga sepi secara kualitas? Syukurlah saya bisa menjawabnya dengan “tidak!”. Aditya Gumay yang pernah menghasilkan film bersahaja macam Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela, tidak merias film terbarunya ini dengan menor. Semuanya digarap serba sederhana. Namun bukan berarti naskah buatan Aditya Gumay dan Adenin Adlan digarap seadanya. Secara filmis, Ummi Aminah tak menggugah selera, penampilannya tak jauh berbeda dengan film televisi. Akan tetapi, naskahnya cukup bernas.


Ummi Aminah (Nani Widjaya) adalah seorang ustadzah yang memiliki ribuan jamaah setia. Sebagai seorang ustadzah, bukan berarti Ummi terbebas dari permasalahan-permasalahan dunia. Berbagai cobaan terus mendera keluarganya seakan tak mau berhenti. Suaminya, Abah (Rasyid Karim), ditipu dan harus merelakan uang ratusan juta rupiah. Ketujuh anaknya; Umar (Gatot Brajamusti), Aisyah (Cahya Kamila), Zarika (Paramitha Rusady), Zainal (Ali Zainal), Zubaidah (Genta Widi), Zidan (Ruben Onsu), dan Ziah (Zee Zee Shahab), pun tak luput dari masalah. Umar harus menghadapi istrinya, Risma (Yessy Gusman), yang sinis dan enggan untuk menjalin hubungan harmonis dengan keluarga Umar, Zarika jatuh cinta dengan rekan kerjanya yang telah beristri, kondisi keuangan Zainal yang nyaris serba kekurangan sementara dia harus memberi sandang pangan papan untuk anak dan istrinya (Revalina S. Temat), dan Zidan sulit untuk diterima oleh Abah karena sifatnya yang seperti perempuan. Ujian sesungguhnya bagi keluarga Ummi Aminah datang tatkala Zainal dibui lantaran dikira sebagai kurir narkoba. Berita dengan cepat menyebar, satu persatu jamaah Ummi Aminah meninggalkannya.

Sekalipun dibungkus dalam bentuk film reliji, Ummi Aminah memuat pesan universal tentang cinta kasih dalam keluarga. Menunjukkan bahwasanya tidak ada harta di dunia ini yang lebih berharga dari keluarga. Ketika masyarakat termakan oleh hasutan media dan satu persatu pergi meninggalkan Ummi, Ummi tergoncang. Di saat inilah anggota keluarganya datang seraya menggandeng tangan Ummi yang membuat Ummi berhasil kembali berdiri tegak. Dukungan yang diberikan oleh keluarga tulus adanya, tanpa pamrih. Aditya Gumay dan Adenin Adlan turut menyentil terhadap perilaku masyarakat yang dengan mudah menghakimi seseorang hanya dengan berlandaskan pada pemberitaan di media dan apa yang tampak dari luar. Bagi mereka, publik figur dituntut untuk selalu berperilaku sempurna dan haram hukumnya melakukan kesalahan. Melalui sosok Abah dan Zidan, penonton kembali dihadapkan pada permasalahan yang tidak jauh berbeda, penghakiman terhadap kaum LGBT. Tidak pernah dijelaskan secara eksplisit apakah Zidan adalah seorang gay, namun dapat ditafsirkan dari cara Abah memperlakukan Zidan. Dari sini muncul pertanyaan, apakah menjadi berbeda itu salah? Apakah tokoh masyarakat harus senantiasa sempurna dalam setiap kesempatan? Apakah kita lebih baik dari mereka sehingga layak untuk memberi penghakiman?

Aditya Gumay tidak hanya mengajak penonton untuk tertawa, menangis dan terharu, tetapi juga berkontemplasi setelah menontonnya. Ini adalah film yang sangat tepat bagi Anda yang ingin mencari pesan moral dari sebuah film. Bagusnya, Aditya Gumay menyampaikan pesan tersebut tanpa ada kesan menggurui. Tapi tetap saja sebagai sebuah film, Ummi Aminah tidak lantas mulus sempurna tanpa memiliki cacat. Terlalu banyaknya karakter serta konflik yang bercabang-cabang memberi ruang sempit terhadap perkembangan karakter. Rasanya perlu penonton diberi bekal lebih seputar latar belakang keluarga Ummi. Sebagai tokoh utama, Ummi Aminah tidak diberikan porsi yang memadai. Malah, posisi Abah, Zainal, Zarika dan Zubaidah dalam film justru lebih kuat dan memberi sumbangsih terhadap pergerakan cerita. Nah lho. Bukankah seharusnya Ummi yang menjadi sentral cerita? Beruntung, kejanggalan ini berhasil sedikit tertutupi dengan akting apik dari ensemble cast-nya. Setidaknya Ummi Aminah mampu menyampaikan pesan baiknya kepada penonton dengan bersahaja. Endingnya yang berbeda menjadi daya tarik tersendiri. Sebuah suguhan yang indah bagi penikmat film Indonesia di awal tahun 2012.

Acceptable

Sabtu, 24 Desember 2011

REVIEW : GARUDA DI DADAKU 2


"Kita jatuh bukan karena batu besar, tapi karena kerikil!" - Wisnu

Sepakbola merupakan olahraga yang sangat populer di Indonesia. Anehnya, hanya segelintir sineas di Indonesia yang berani membesut film yang bersentuhan olahraga ini bahkan ketika film buatan Ifa Isfansyah, Garuda di Dadaku, secara mengejutk
an berhasil menorehkan angka di atas 1,4 juta penonton pada tahun 2009 silam sekalipun. Kebanyakan cenderung memilih untuk menelurkan karya-karya yang aman, dalam artian proses produksinya mudah, murah, dan cepat. Tidak mengherankan jika perfilman lokal didominasi oleh film yang bertema seragam. Hasrat para pecinta olahraga untuk menyaksikan olahraga favoritnya diwujudkan ke dalam bentuk film layar lebar pun tak tersalurkan. Beruntung masih ada beberapa pekerja film yang cermat melihat peluang. Rudi Soedjarwo dan Hanung Bramantyo yang disebut-sebut sebagai salah satu sineas terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, bersaing di tahun 2011 ini dalam menghasilkan sebuah film tentang sepakbola. Jika Hanung Bramantyo memulainya dari awal, maka Rudi Soedjarwo menerima tongkat estafet dari Ifa Isfansyah untuk melanjutkan kisah Bayu (Emir Mahira) dalam Garuda di Dadaku 2. Naskah masih tetap ditangani oleh Salman Aristo yang baru-baru ini menggarap naskah Sang Penari.

Impian Bayu untuk menjadi bagian dari timnas sepakbola Indonesia U-13 berhasil terwujud. Tidak tanggung-tanggung, dia turut diangkat menjadi kapten tim karena dinilai memiliki kemampuan bermain yang handal. Tentu saja Salman Aristo tidak akan selamanya membiarkan Bayu untuk bersuka cita. Proses pendewasaan diri Bayu menjadi konflik utama yang disuguhkan dalam Garuda di Dadaku 2. Berbagai cobaan mendera Bayu dari segala arah, seakan tak mengenal ampun. Tim yang dipimpinnya berulang kali menghadapi kegagalan yang berakibat pada dipecatnya sang pelatih, Harri Dotto (Dorman Boerisman). Penggantinya adalah seorang pelatih muda yang sangat disiplin, ambisius dan keras, Wisnu (Rio Dewanto) yang cara melatihnya membuat Bayu merasa tidak nyaman. Wisnu pun mendatangkan seorang pemain berbakat dari Makassar, Yusuf (Muhammad Ali), yang dalam waktu singkat mencuri perhatian banyak pihak, termasuk sahabat Bayu, Heri (Aldo Tansani), yang semakin lama semakin akrab dengan Yusuf. Ketika lapangan tidak lagi menyenangkan bagi Bayu, rumah pun turut berasa seperti neraka terlebih dengan hadirnya Rudi (Rendi Krisna) yang merenggangkan hubungan Bayu dengan sang ibu, Wahyuni (Maudy Koesnadi). Di sekolah, permasalahan datang dari ketua kelompok belajarnya, Anya (Monica Sayangbati), yang ‘meneror’ Bayu dengan deadline tugas dan tidak mau tahu posisi Bayu sebagai kapten timnas.


Garuda di Dadaku 2 dihadirkan dalam alur dan stuktur cerita yang padat, dialog yang bernas, serta penggarapan dari Rudi Soedjarwo yang tidak kalah menarik dari Ifa Isfansyah. Salman Aristo memasukkan sindiran-sindiran halus kepada pemerintah, dan tak lupa menjumput beberapa referensi dari apa yang tengah hangat di dunia sepakbola Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, semisal kisruh kongres PSSI, pelatih timnas yang diberhentikan secara tidak hormat, hingga atlit sepakbola yang menjadi artis infotainment. Politisasi Sepakbola yang disuntikkan ke dalam film bisa jadi akan sulit dicerna bagi penonton cilik, namun ini menjadi hiburan tersendiri bagi penonton yang akrab dengan dunia sepakbola lokal. Jika dalam prekuelnya penonton melihat bagaimana perjuangan Bayu demi menggapai impiannya, maka disini penonton melihat upaya Bayu menyikapi berbagai macam problematika kehidupan sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Rudi Soedjarwo dan Salman Aristo memutar balik apa yang terjadi di film sebelumnya, sehingga formula ‘hero to zero’ diterapkan disini. Bayu dituntut untuk bersikap dewasa dan membuang sikap egois yang menghinggapinya dalam menghadapi setiap rintangan yang ada.

Ada konsekuensi yang harus diterima ketika tim memutuskan untuk menumpuk sejumlah konflik agar film menjadi padat. Terlalu banyaknya lapisan konflik justru membuat Rudi Soedjarwo kebingungan dalam menentukan prioritas. Penggaliannya terasa kurang dalam dan tidak ada dinamika pada hubungan antar karakter. Setiap karakter yang memiliki koneksi dengan Bayu ditampilkan selewat saja, tak berkesan. Bromance antara Bayu, Heri, dan Yusuf, bagi saya, ditampilkan agak berlebihan karena terkesan terlalu cengeng. Malah menggelikan. Namun yang paling saya sesalkan, pertandingan sepakbola yang seharusnya menjadi momen penting, tidak begitu ditonjolkan. Gegap gempita dalam Tendangan Dari Langit, tidak saya temukan disini. Beruntung, Rudi Soedjarwo memiliki tim yang solid di sisi teknis dan akting. Garuda di Dadaku 2 terbantu editing yang dinamis, pengambilan gambar yang indah dan kekuatan akting setiap pemainnya. Emir Mahira sanggup menampilkan emosi yang dibutuhkan dengan pas, luwes dan believable, sementara Rio Dewanto membuktikan kepada khalayak ramai bahwa dia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Masih segar di ingatan bagaimana Rio Dewanto tampil begitu kemayu di Arisan! 2 dan sekarang dia menjelma menjadi pelatih yang macho, tegas dan berwibawa. Kelemahan memang masih ditemukan disana sini, itu sangat manusiawi. Sekalipun tak bisa menyaingi jilid pertamanya yang sedemikian renyah, Garuda di Dadaku 2 menutup tahun 2011 ini dengan indah. Saya masih percaya, masa depan cerah menanti perfilman Indonesia.

Acceptable

Minggu, 04 Desember 2011

REVIEW : ARISAN! 2


"Teman datang dan pergi. Tapi sahabat sejati, selalu di hati." - Meimei

Saat seseorang menyebut arisan, pikiran kita secara otomatis melanglang buana kepada sejumlah ibu-ibu yang tengah asyik ngerumpi, membicarakan semua hal dengan ceriwis, sok tahu, sinis dan tak jarang, pedas. Arisan merupakan salah satu acara yang paling saya sukai, selain resepsi pernikahan. Bukan arisan ibu-ibu tentu saja, tetapi arisan keluarga. Bertemu sanak saudara, saling melepas rindu, curhat, dan bercanda ria, mampu menghilangkan kepenatan hidup yang seakan tiada habisnya menerjang. Di era dimana nyaris tiada lagi ruang pribadi, arisan telah berkembang menjadi berbagai macam bentuk. Bagi sosialita di Jakarta, arisan mampu bernilai miliaran rupiah hingga tidak terhingga nilainya. Arisan bukanlah merupakan sebuah kebutuhan, melainkan hanya untuk menguatkan eksistensi mereka. Inilah yang mencoba untuk dikulik oleh Nia Dinata melalui Arisan!, delapan tahun silam. Bersama dengan Joko Anwar, Nia Dinata membongkar sisi kelam dari ibukota melalui sudut pandang lain. Bukan mengintip kehidupan masyarakat kelas sosial bawah yang berjuang menggapai impian, tetapi masyarakat kelas atas yang glamor dan bergelimangan harta yang hidup dalam kepalsuan.

Kepalsuan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para sosialita di ibu kota, setidaknya itu menurut Nia Dinata melalui Arisan! 2. Tidak ada yang alami dalam kehidupan mereka, baik itu wajah, ciuman hingga persahabatan. Semuanya palsu, fake. Menarik rasanya melongok kehidupan lima sahabat dari Arisan! menjalani kehidupan sebagai sosialita setelah delapan tahun. Lita (Rachel Maryam) yang menjadi seorang ibu tunggal memutuskan untuk terjun ke ranah politik, Andien (Aida Nurmala) menjanda setelah kematian suaminya dan mencari ‘mangsa’ untuk dinikmati setiap malam, Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) telah berpisah, sementara Meimei (Cut Mini) menyepi ke Lombok. Dalam Arisan! 2, storyline dari Andien dan Lita tidak dijadikan sebagai prioritas utama, malah terasa hanya sekadar sempilan belaka demi memberi ruang lebih kepada Meimei, Nino, dan Sakti. Problematika yang dihadapi oleh Meimei merupakan pokok permasalahan dari Arisan! 2. Sebuah rahasia disimpan rapat oleh Meimei kepada keempat sahabatnya. Kepergiannya ke Lombok bukan hanya untuk menikmati hidup, namun lebih dari itu.


Dipenuhi dengan dialog-dialog cerdas berisi nan menohok, akting yang memukau dan bahasa gambar yang terangkai dengan indah, Arisan! 2 adalah sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton. Kepalsuan ibukota dipaparkan secara gamblang disini. Hanya saja sepeninggal Joko Anwar, Arisan! 2 terasa kurang nyinyir dan sinis dalam urusan mengkritisi kehidupan masyarakat perkotaan zaman sekarang. Pun begitu, naskah olahan Nia Dinata tetap menohok. Beberapa kali saya merasa tertampar dengan dialog-dialog yang diucapkan oleh tokoh-tokoh rekaannya. Sisi kelam Jakarta (atau bahkan malah Indonesia?) dari berbagai tingkatan sosial dan usia diungkap satu persatu dengan gaya yang manis, tanpa adanya kesan menceramahi. Gorengan yang dicampur dengan plastik, suntik botox, kepo, hingga generasi eksis yang merasa perlu apapun dipamerkan melalui situs jejaring sosial. Kekasih Nino yang kemayu, Okta (Rio Dewanto), merupakan perwakilan dari generasi eksis. Citra cowok macho yang melekat pada Rio Dewanto berhasil dilepaskan demi menghidupkan karakter Okta yang kemayu, manja dan menyebalkan. Berulang kali Rio Dewanto berhasil memancing tawa penonton, terlebih karakternya mengingatkan perilaku anak muda zaman sekarang. Setiap momen indah diabadikan, lalu dipamerkan melalui jejaring sosial. Seakan dunia perlu tahu apa yang sedang dia lakukan.

Jika ada yang menyebut Arisan! 2 sebagai versi Indonesia dari Sex and the City 2, maka itu sangat bisa dimaklumi. Pameran busana yang glamor, mewah, dan penuh warna tersebar di sepanjang film. Nia Dinata pun tidak memberikan asupan konflik yang mencukupi. Konflik yang dihadapi oleh Meimei dan keempat sahabatnya dihadirkan dengan sangat ringan, kelewat ringan malah. Bahkan untuk sekali ini, Nia Dinata lebih senang mengajak grup rumpi ini jalan-jalan ketimbang asyik bergosip dalam arisan. Ya, sekalipun masih memakai judul Arisan!, kegiatan arisan sedikit sekali dimunculkan. Nyaris tidak ada. Beruntung Nia Dinata tidak melakukan blunder yang sama dengan Michael Patrick King yang justru mengeksploitasi sekumpulan wanita tidak sadar umur dalam perjalanan tanpa tujuan yang jelas. Para pemain tetap solid. Mereka telah melebur dengan karakter masing-masing. Tujuan ke Gili Trawangan pun didasari motif yang kuat. Sekalipun Nia Dinata kurang berhasil untuk mengoneksikan penonton dengan perjalanan spiritual Meimei secara emosional yang seharusnya menjadi poin penting dari Arisan! 2, Nia Dinata mampu menyuguhkan sebuah tontonan yang menghibur. Agaknya Nia Dinata hanya ingin mengajak kita bersenang-senang tanpa perlu memikirkan jalan cerita yang berat dan berfilosofis.

Exceeds Expectations

Sabtu, 03 Desember 2011

REVIEW : POCONGGG JUGA POCONG


"Cinta itu seperti kentut. Ditahan sakit, dikeluarin malu." - Dimas

Mengapa industri perfilman Indonesia memiliki obsesi yang berlebihan terhadap makhluk bernama pocong? Entah sudah berapa ratus judul film tentang pocong yang telah dibuat di Indonesia. Baik itu yang digarap dengan serius, biasa-biasa saja hingga semrawut tidak karuan. Bagi pelaku perfilman di Indonesia, pocong merupakan komoditas panas yang sangat dipuja karena mampu mempertebal isi dompet. Seandainya saja pocong bisa menuntut, maka ratusan orang akan digiring ke meja hijau. Eksploitasi terhadap pocong semakin lama semakin tidak bisa diterima. Makhluk ini telah kehilangan wibawanya di hadapan jutaan umat manusia. Bahkan, pocong pun sekarang merambah ke dunia maya dan dunia tulis menulis. Nah lho! Pocong atau @poconggg yang eksis di jagad jejaring sosial, sama sekali tidak menyeramkan. Cenderung konyol malah. Kicauannya diikuti jutaan pengguna Twitter. Pocong masa kini ini digandrungi remaja karena kicauannya yang lucu dan seringkali mewakili isi hati pengikutnya. Setelah sukses dengan akun jejaring sosial, @poconggg atau Arief Muhammad, menjajal dunia tulis menulis melalui sebuah novel berjudul Poconggg Juga Pocong, yang menjadi cikal bakal munculnya film berjudul sama. Jujur saja, saya tidak pernah tertarik untuk mengikuti kicauan dari @poconggg. Namun ketika novelnya dilempar ke pasaran, saya penasaran. Seperti apa sih isi novel paling fenomenal saat ini? Tidak perlu dibahas panjang lebar, yang pasti tidak menarik sama sekali. Meminjam istilah anak muda zaman sekarang, garing dan jayus. Pun begitu, saya mengakui idenya lumayan kreatif.

Saat Maxima Pictures berniat untuk menuangkan tulisan Arief Muhammad ke dalam layar lebar, belum apa-apa saya sudah pusing. Terlebih Maxima menggandeng Chiska Doppert, anak emas dari Nayato Fio Nuala. Mereka memiliki jejak rekam yang kurang bagus di industri. Untuk urusan skenario, Maxima menyerahkannya kepada sang penulis novel, Arief Muhammad, dan dibantu oleh Haqi Ahmad, dengan harapan film tidak terlalu melenceng dari novel. Pertanyaan yang timbul sekarang, bagaimana Poconggg Juga Pocong diperlakukan oleh Chiska Doppert? Secara garis besar, Poconggg Juga Pocong bertutur mengenai kisah cinta dua anak muda yang tidak bisa bersatu lantaran berbeda dunia. Dunia dalam arti sesungguhnya. Dalam perjalanan pulang setelah menonton di bioskop, Dimas (Ajun Perwira) berniat untuk mengutarakan isi hatinya kepada Sheila (Saphira Indah). Sayangnya kedua belah pihak masih malu-malu untuk mengakui yang sebenarnya. Sebuah kesalahpahaman pun tercipta yang berujung kepada kecelakaan naas yang menewaskan Dimas. Di alam baka, Dimas berubah wujud menjadi pocong. Dia berkenalan dengan Kuntilanak Bondol (Nycta Gina) dan geng pocong keren pimpinan Anjaw (Rizky Mocil). Berpindah ke alam lain ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas kepada Sheila. Dimas berniat untuk menyatakan cintanya. Ketika mengetahui Sheila didekati oleh Adit (Guntur Triyoga), Dimas galau setengah mati. Kunti yang selalu setia menemani Dimas dalam perjuangannya mendekati Sheila mencoba mengingatkan, bagaimanapun Dimas dan Sheila tidak akan pernah bisa bersatu karena alam mereka berdua sudah jauh berbeda. Satu-satunya cara untuk mendamaikan hati adalah dengan mengikhlaskan. Namun Dimas pantang mundur, sebelum dia bisa menyatakan cintanya kepada Sheila.

Mengadaptasi bukanlah perkara mudah. Ini bukan hanya mengenai memindahkan tulisan dari sumber asli ke bentuk baru secara utuh. Diperlukan pula sedikit bumbu disana sini dan penyesuaian dengan medium baru sehingga hasil akhir mampu diterima oleh masyarakat. Itulah mengapa film adaptasi dari karya sastra seringkali sedikit berbeda dengan sumber yang diadaptasi. Ketika dipaksakan untuk sesetia mungkin dengan sumber, maka yang terjadi adalah Poconggg Juga Pocong the Movie. Naskah yang diolah Arief Muhammad dan Haqi Ahmad nyaris tidak memiliki perbedaan dengan versi novel. Ini menjadi masalah lantaran versi novel tidak memiliki kronologi alur yang jelas dan seringkali melompat kesana kemari bak pocong kepanasan. Dan ini terjadi pula dalam film. Beberapa kali saya menemukan adegan yang tidak memiliki keterkaitan dengan adegan sebelum atau sesudahnya. Humornya pun masih tetap kriuk kriuk, garing bukan kepalang. Susah sekali untuk tertawa terbahak-bahak sepanjang 78 menit. Bukankah film komedi itu seharusnya mampu mengundang tawa renyah penonton? Jika gagal, siapa yang patut dipersalahkan? Sejumlah adegan yang difungsikan untuk memicu tawa, malah berakhir hambar dan tak membekas. Beruntung, tim memiliki Nycta Gina. Ketika Ajun Perwira dan Rizky Mocil membuat saya mengernyitkan dahi, Nycta Gina dengan luwes mencuri perhatian. Dia paham betul apa yang seharusnya dia lakukan.

Dunia absurd rekaan Arief Muhammad ini mampu diterjemahkan ke dalam bahasa visual dengan cantik oleh Chiska Doppert. Harus diakui sutradara yang sempat dikira sebagai alter ego dari Nayato Fio Nuala ini memang mengalami kemajuan yang cukup baik disini. Untuk sekali ini, Chiska Doppert beruntung ketiban naskah yang digarap cukup baik, sekalipun memiliki masalah dalam konjugasi. Ketika komedi yang diluncurkan ternyata gagal meledak dengan dahsyat, maka sisi romantis pun menjadi tumpuan harapan. Ajaibnya, Poconggg Juga Pocong malah lebih terasa sisi romantisnya ketimbang komedinya. Terima kasih kepada Ian Aprianto atas sinematografi indahnya. Momen-momen indah Dimas dengan Sheila berhasil terekam dengan baik, begitu pula ketika Dimas menyaksikan Sheila sedang asyik berduaan dengan Adit. Romantis, getir, tapi tetap konyol. Yang cukup disayangkan, Ajun Perwira gagal menghidupkan karakter Dimas baik ketika masih menjadi manusia maupun setelah bertransformasi menjadi pocong. Nyaris tidak ada emosi. Simpati penonton pun gagal tertanam kepada Dimas. Poconggg Juga Pocong juga tidak memberikan latar belakang yang jelas terhadap tokoh-tokoh inti, terutama Dimas. Kita hanya mengetahui sedikit biodatanya melalui batu nisan, sementara Sheila hanya diperlihatkan memiliki rumah yang megah. Pondasi naskah akan terasa lebih kokoh seandainya Chiska Doppert dan tim lebih memperhatikan hal ini. Sekalipun demikian, Poconggg Juga Pocong secara mengejutkan ternyata cukup menghibur bagi saya. Setidaknya bayang-bayang kelam terhadap Kambing Jantan the Movie seketika sirna. Komedinya memang kurang berhasil memancing tawa renyah, akan tetapi atmosfir romantis dapat diciptakan dengan baik.

Acceptable

Minggu, 27 November 2011

REVIEW : THE RAID


"Nggak semua polisi bisa dibeli." - Rama

The Raid
atau dikenal terlebih dahulu dengan judul Serbuan Ma
ut, telah menggemparkan dunia maya ketika film ini diberitakan telah menggondol People’s Choice Award di Midnight Madness Toronto Film Festival. Menjadi semakin heboh saat Sony Pictures dikabarkan telah membeli hak distribusinya untuk peredaran dunia dan Mike Shinoda (Linkin Park) diajak untuk mengisi musik latar. Belum juga beredar secara luas, kabar mengenai The Raid akan dibuat remake oleh Hollywood telah kencang berhembus. Sesuatu yang sangat membanggakan bagi perfilman Indonesia tentu saja. Apa yang begitu istimewa dari film ini sehingga banyak penonton dan kritikus film asing berdecak kagum dibuatnya? Maka ketika film keempat dari sutradara asal Wales, Gareth Evans, ini direncanakan untuk diputar sebagai film penutup dari pagelaran INAFFF, ribuan penonton pun berbondong-bondong menyerbu Blitz Megaplex Grand Indonesia untuk mendapatkan tiketnya. Dengan jumlah tiket yang dicetak terbatas, tidak semua penonton kebagian jatah. Beruntung sekali Cinetariz bisa menjadi salah satu dari sedikit penonton yang memperoleh kesempatan untuk menyaksikan The Raid jauh sebelum filmnya dirilis secara resmi di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 2012 nanti.

Dengan trailer yang telah cukup banyak menyuguhkan sejumlah adegan kekerasan yang brutal dan memompa adrenalin, saya pun bertanya-tanya, apa lagi yang akan ditawarkan oleh Gareth Evans? Maksud saya, trailer-nya yang sedemikian komplit bisa saja merusak kenikmatan saat menyaksikan The Raid. Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak penonton yang menurunkan ekspektasinya guna menghindari kekecewaan. Dan, Gareth Evans tidak mengecewakan siapapun. The Raid dibuka dengan Rama (Iko Uwais) yang tengah mempersiapkan diri untuk misi besar pertamanya. Setelah sepersekian menit penonton menikmati adegan yang syahdu bersama Rama dan keluarganya, Gareth Evans langsung menyeret kita pada sejumlah adegan yang memiliki ritme bertolak belakang dengan opening sequence tadi. Rama bergabung bersama pasukan elit pimpinan Sersan Jaka (Joe Taslim) dan Letnan Wahyu (Pierre Gruno) yang berusaha untuk mendobrak markas besar seorang bandar narkoba bernama Tama (Ray Sahetapy) yang konon belum terjamah oleh siapapun, termasuk para penegak hukum. Operasi kemanusiaan ini pun seketika berubah menjadi operasi bunuh diri tatkala terbongkar fakta bahwa para penghuni markas besar ini bukanlah sekumpulan penjahat kelas teri biasa. Mereka memiliki kemampuan bela diri yang tinggi dan siap membantai siapapun yang berani menginjakkan kaki di rumah mereka.


Hanya ada dua kata yang bisa menggambarkan seperti apa performa The Raid secara keseluruhan, keren gila! Siapapun yang mengatakan Indonesia tidak akan pernah bisa membuat film aksi sekelas Hollywood, sebaiknya tutup mulut sedari sekarang. Inilah bukti bahwa film Indonesia pun mampu bertarung di taraf internasional. Dibandingkan dengan Merantau, The Raid cenderung tidak peduli dengan naskah. Bisa dibilang, apa yang hendak dituturkan oleh Gareth Evans bisa dirangkum hanya ke dalam satu kalimat saja. Yang menjadi fokus adalah adegan tarungnya yang dikemas sedemikian rupa. Sejak pasukan elit memasuki area kekuasaan Tama, jangan harap Anda bisa bernafas. It’s filled with many breathtaking sequences. Saya sarankan Anda untuk ke toilet terlebih dahulu sebelum film dimulai karena The Raid tidak memberikan jeda untuk beristirahat. The Raid jelas bukan jenis tontonan yang cocok bagi Anda yang tidak tahan melihat kekerasan. Suara tembakan, desingan peluru, pukulan maupun tendangan bertubi-tubi menjadi pemandangan yang wajar selama satu jam pertama. Sisanya, Anda akan dihadapkan pada pemandangan yang lebih indah dengan mayat bergelimpangan, darah yang bercucuran dan tubuh yang tersayat-sayat. Semuanya disajikan dengan realistis. Kamera handheld pun dimanfaatkan, dan sang sinematografer, Matt Flannery, mampu beberapa kali menyajikan momen yang membuat ngilu.

Tentu kurang afdol jika pertarungan antara pasukan elit dengan kroni-kroni Tama disajikan lewat adu senjata. Iko Uwais dan Yayan Ruhian kembali berduet dengan manis menghasilkan gerakan-gerakan pencak silat yang memesona. Adegan klimaks yang memertemukan Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Doni Alamsyah, dalam satu ruang adalah bukti kejeniusan Iko Uwais dan Yayan Ruhian dalam mengolah koreografi laga. Sangat menegangkan. Selama kurang lebih 101 menit, Gareth Evans memang tidak membiarkan para penonton untuk duduk tenang. Jika Anda tidak bisa menahan diri, maka kata-kata kotor akan dengan mudah mengalir dari mulut. Dan ya, naskah racikan Gareth Evans pun dipenuhi dengan dialog yang kasar. Serangkaian kata-kata kotor tapi cerdas kerap meluncur dari Ray Sahetapy, Yayan Ruhian, Doni Alamsyah, dan kawan-kawan, yang secara efektif mampu membuat penonton terpingkal-pingkal. Ray Sahetapy menunjukkan tajinya sebagai aktor watak yang berkelas disini. Tanpa perlu berakting berlebihan, rasa ngeri sudah menyebar kemanapun setiap dia hadir. Para aktor lain pun bermain pas sesuai dengan porsinya. Yang justru saya khawatirkan dari The Raid adalah ketika film ini dikirim ke LSF. Sedikit saja potongan, maka buyar segalanya. The Raid lebih enak untuk dinikmati apa adanya.

Outstanding

Rabu, 16 November 2011

REVIEW : SANG PENARI


"Ronggeng itu bukan cuma perkara nari, tetapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur," begitu ujar Nyai Kartareja (Dewi Irawan) kepada Srintil (Prisia Nasution). Inilah yang kemudian membuat Srintil mengalami pergolakan batin. Menjadi ronggeng ternyata tidaklah seindah bayangan Srintil. Sejatinya, dia hanya ingin menari, tidak ingin menjalani upacara 'buka kelambu.' Namun ini telah menjadi konsekuensi yang harus diterima oleh Srintil atas keputusannya untuk memilih menjadi ronggeng. Sebuah keputusan yang dibuat untuk menebus kesalahan kedua orang tuanya yang tanpa sengaja meracuni penduduk Dukuh Paruh dengan tempe bongkrek. Sang kekasih, Rasus (Oka Antara), tidak sepaham dengan Srintil. Dia menentang keputusan Srintil untuk menjadi ronggeng. Menjadi ronggeng, berarti Srintil menjadi milik Dukuh Paruk, bukan hanya Rasus seorang. Siapapun yang mampu membayar mahal, mampu 'mencicipi' tubuh Srintil dengan bebas. Sebelum 'buka kelambu' dimulai, Srintil secara sembunyi-sembunyi melepaskan keperawanannya kepada Rasus. Sayangnya ini tidak memiliki arti apapun bagi mereka berdua. Rasus minggat ke kota setelah berhubungan badan dengan Srintil.

Rasa simpati pun tersemat kepada Srintil yang dengan bertanggung jawab menjalani kehidupan sebagai ronggeng sekalipun hati kecilnya menangis dan menginginkan kebebasan. Ketika Rasus mengajaknya untuk melarikan diri, dia menolak. Srintil merasa perlu untuk mengabdi kepada Dukuh Paruh, walau itu berarti harus berpisah dengan orang yang dikasihinya. Sementara itu, Rasus memiliki jalan hidup yang berbeda setelah diterima menjadi tentara oleh Sersan Binsar (Tio Pakusadewo). Intensitas pertemuan dua sejoli ini kian berkurang. Seiring berjalannya waktu, Srintil makin moncer sebagai ronggeng. Akan tetapi bukan ini yang menggerakkan hati Rasus untuk menemui kekasihnya, melainkan ketika Sersan Binsar mengabarkan Dukuh Paruh telah 'merah'. Perlu diingat, Sang Penari mengambil setting di tahun 1960-an, ketika komunis menjadi ancaman utama. Sang sutradara, Ifa Isfansyah, tidak perlu secara gamblang menyebutkan nama PKI karena setting dan aktivitas-aktivitas yang dilancarkan oleh Bakar (Lukman Sardi) telah cukup menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Noda hitam dalam sejarah Indonesia ini dituturkan dengan cukup mendalam, sekalipun Ifa Isfansyah masih terlalu berhati-hati. Bisa dimengerti, terlebih masyarakat Indonesia masih belum siap untuk dicekoki sejarah bangsa yang kelam dengan jelas. Tidak terbayang bagaimana kejamnya LSF dalam memainkan guntingnya apabila permasalahan yang sensitif ini disampaikan secara blak-blakan
.
Kartareja (Slamet Rahardjo) pun tak berkutik. Selama 'bisnis' ronggengnya berjalan dengan mulus, cara apapun dia tempuh. Dengan mudahnya warga Dukuh Paruk masuk dalam perangkap, nihilnya kemampuan baca tulis menjadi penyebab utama. Srintil tak luput menjadi korban. Begitu mendengar kekasihnya ditangkap, Rasus segera mengambil cuti demi menyelamatkan sang pujaan hati. Ifa Isfansyah merangkum novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, menjadi sebuah film yang padat berdurasi 109 menit. Naskahnya yang ringkas tangkas ditangani langsung oleh Ifa Isfansyah beserta sang penulis novel, Ahmad Tohari. Mereka berdua mendapat bantuan dari Salman Aristo dan Shanty Harmayn untuk memolesnya agar lebih cantik. Sang Penari tidak mengadaptasi ketiga novel Ahmad Tohari tersebut secara langsung, plot utama hanya sekadar terinspirasi saja sehingga film ini tidak lebih dari interpretasi dari si pembuat film. Penonton tidak bisa protes ketika bagian yang dianggap penting terpangkas karena bagaimanapun ini adalah penafsiran dari Ifa Isfansyah dan tim penulis naskah.

Ketika Oka Antara bermain nyaris tanpa cela sebagai pemuda desa lugu yang kemudian bertransformasi sebagai aparat negara, Prisia Nasution juga tak kalah gemilangnya berperan sebagai Srintil yang sebatang kara. Permainan cantik mereka berdua menutup performa apik dari barisan aktor pendukung. Untuk sekali ini, Lukman Sardi tak termaafkan. Sementara Oka Antara berusaha mati-matian untuk berbicara Ngapak dengan fasih, Lukman Sardi dan beberapa aktor lainnya terlalu malas untuk memelajarinya. Bahasa Indonesia yang dilogat Jawa-kan masih terdengar dimana-mana, dan ini sangat mengganggu. Tidak adanya penjelasan yang jelas mengenai setting tempat juga menjadi masalah lainnya. Seberapa jauh jarak antara Dukuh Paruk, Pasar Dawuan dan markas tentara tidak terjelaskan hingga akhir film. Beberapa karakter nampak mudah sekali berpindah-pindah tempat, sehingga muncul pertanyaan, apakah ini satu kompleks?. Ifa Isfanyah pun terkesan terlalu terburu-buru untuk mengakhiri film. Ada rasa tidak puas ketika credit title mulai bergulir. Dengan banyaknya permasalahan yang tak terjelaskan, rasanya tak ada yang keberatan jika durasi diperpanjang hingga 20 menit lebih lama. Beruntung adegan terakhir yang cantik hasil bidikan Yadi Sugandi lumayan mengobati kekecewaan. Sepanjang film, Yadi Sugandi bermain-main dengan kamera menghasilkan gambar yang tidak hanya indah tetapi juga efektif. Ditingkahi dengan tata busana cantik buatan Chitra Subiyanto serta tata musik yang menghanyutkan oleh Aksan dan Titi Sjuman sekalipun hanya mengandalkan cello dan denting calung, Sang Penari pun sedap dipandang. Ifa Isfanyah memang masih melakukan cukup banyak blunder di film keenamnya ini, akan tetapi itu tidak menutupi fakta bahwa Sang Penari adalah film Indonesia terbaik di tahun 2011.

Exceeds Expectations

Sabtu, 12 November 2011

INAFFF 2011 : OPENING NIGHT


Saya sama sekali tidak menduga jika akan menjadi salah satu dari sekian blogger yang beruntung mendapatkan undangan untuk datang ke Opening & Closing Night INAFFF11. Sesuatu yang membahagiakan tentu saja. Sebenarnya saya sudah ingin menghadiri INAFFF (Indonesia International Fantastic Film Festival) sejak gelaran pertama di tahun 2007, tapi karena jarak yang cukup jauh, biaya transportasi yang tinggi, dan kesibukan sekolah / kuliah serta tetek bengeknya, saya pun selalu gagal untuk menikmati film-film yang diputar di INAFFF. Tahun lalu sempat berencana untuk menghadiri INAFFF di Bandung bersama seorang teman, tapi sekali lagi rencana tidak berhasil diwujudkan. Ketika tahun ini saya tidak lagi mengharapkan apapun, sebuah keajaiban datang. Saya mendapatkan undangan! Wuhuuuuu... Tentu saja saya tidak membuang kesempatan ini begitu saja, sekalipun dihadang dengan tugas kuliah dan organisasi yang seabrek. Meski hanya bisa mencicipi film yang diputar saat Opening dan Closing, saya sudah sangat bahagia. Apalagi film yang dijadikan penutup adalah Serbuan Maut (The Raid) karya Gareth Evans yang baru saja menggondol People's Choice Award di Midnight Madness, Toronto Film Festival.

INAFFF di tahun kelimanya ini akan memutar lebih dari 40 film bergenre horror, thriller, sci-fi, dan fantasi, dari seluruh dunia. Selain pemutaran film seperti biasa, tahun ini juga akan dimeriahkan dengan acara Film Making Session bersama Lala Timothy, produser Pintu Terlarang. Sebagai film pembuka, INAFFF memilih film fantasi anyar bikinan Tarsem Singh, Immortals. Film ini dirilis di Indonesia pada tanggal yang sama dengan jadwal edar di Amerika Serikat, 11 November 2011. Masih segar banget, baru keluar dari oven *halah*. Jumat malam, 11 November 2011, pukul 20.30, lobby Blitz Megaplex Grand Indonesia sudah dipadati ratusan calon penonton yang sudah tidak sabar untuk segera menerjang auditorium 2, salah satu audi besar di Blitz GI yang digunakan untuk pembukaan INAFFF. Diantara tamu undangan dan penonton yang antri rapi memanjang, saya sempat melihat beberapa artis, sineas serta produser berpengaruh di Indonesia, seperti Rio Dewanto, Sigi Wimala, Alex Abbad, Affandi Abdul Rachman, Joko Anwar, Aming, Gareth Evans, Putrama Tuta, Joe Taslim, hingga Vera Lasut, turut hadir.

Sebelum Immortals dimulai, dua orang penting dibalik penyelenggaraan festival ini, Rusli Eddy dan Trisiska Putri, terlebih dahulu menyapa penonton. "Semua yang berada disini, ayo mengacungkan tangan!," teriak Trisiska Putri yang disambut penonton dengan mengacungkan jari ke atas. Wanita yang akrab disapa Noni ini metransfer energi positif kepada para penonton yang tampak sangat antusias dan penuh semangat. Setelah Trisiska Putri turun dari panggung, Direktur Festival INAFFF, Rusli Eddy mengambil alih untuk menyampaikan sambutannya. Disela-sela opening speech-nya, Rusli Eddy juga sedikit membeberkan sejarah singkat INAFFF yang dulunya bernama Screamfest Indonesia. Ternyata pemerintah sempat meragukan festival ini. "Kok bikin festival yang isinya film horror semua? Kan film horror jelek-jelek?," ujar Rusli Eddy menirukan ucapan salah satu petinggi kita kala itu. Namun itu tidak mengendurkan semangatnya untuk menghadirkan festival yang berbeda di negeri ini. Terbukti, resistensi pemerintah ternyata salah. Basis penggemar INAFFF semakin bertambah dari tahun ke tahun. INAFFF juga memberikan bukti bahwa tidak semua film horror itu memiliki kualitas yang buruk.

Yang membanggakan dari pagelaran INAFFF kelima ini adalah kehadiran tiga film Indonesia yang akan turut meramaikan festival yang berlangsung selama 10 hari dari 11 hingga 20 November 2011. Ketiga film tersebut adalah Serbuan Maut (The Raid), The Perfect House, dan FISFiC VOL. 1. Bahkan The Raid dan FISFiC VOL. 1 menjadi film yang paling diminati oleh para penonton. Tiketnya terjual habis hanya dalam hitungan menit! Semoga saja ini pertanda bahwa masyarakat Indonesia masih mengharapkan adanya film horror/thriller Indonesia yang berkualitas. Acara kemudian dilanjut dengan bagi-bagi hadiah secara gratis. Penonton diminta untuk mengecek apakah ada isolasi hitam atau amplop di samping kursi, di bawah kursi atau di dalam majalah Total Film Indonesia yang dibagikan secara gratis. Penonton yang tidak beruntung masih mendapatkan kesempatan untuk memperoleh kaos dan poster yang dilemparkan oleh panitia. Benar-benar seru. Seorang rekan sesama movie blogger, sigilahoror, disambut oleh panitia secara khusus karena niat banget datang jauh-jauh dari Bali hanya untuk INAFFF. Salut!

Acara inti pun dimulai, pemutaran film 'Immortals' yang menandai dimulainya INAFFF11. Namun sebelumnya penonton disuguhi cuplikan dari Modus Anomali, FISFiC VOL. 1, LA Lights Indie Movie, dan Serbuan Maut (The Raid). Riuh tepuk tangan dan sorak sorai pun menggema. Setelah film utama diputar, secara serempak penonton pun dengan khidmat menyaksikannya. Di bawah arahan Tarsem Singh, Immortals menyajikan visualisasi yang indah. Review lengkap mengenai film ini, akan saya posting kemudian. Yang membuat saya puas malam itu bukanlah Immortals, tetapi kesempatan bertemu dengan rekan sesama movie blogger yang luar biasa serta 'orang film' secara langsung. Untuk berkumpul seperti ini sangatlah sulit karena kesibukan masing-masing. Tanpa INAFFF, mungkin kita akan kesulitan untuk bisa 'kopi darat'. Bagi saya, disinilah menariknya festival ini. Memberikan hiburan menyenangkan dengan film-film seru yang akan membuat kita menjerit, bersorak dan bertepuk tangan, dan setelahnya dibahas secara ringan bersama teman-teman. Sebuah festival film yang sangat menyenangkan untuk dihadiri. Tidak perlu berpikir berat untuk bisa menikmati suguhannya. Just having fun!

Sabtu, 29 Oktober 2011

REVIEW : THE PERFECT HOUSE


Saya yakin, Julie (Cathy Sharon), membatin “aku adalah perempuan paling sial di dunia ini,” ketika diminta oleh atasannya untuk menggantikan rekan kerjanya yang hilang sebagai guru privat di rumah Madame Rita (Bella Esperance). Rencana Julie untuk cuti selama sebulan pun hanyalah tinggal rencana. Mau tidak mau dia harus menerima pekerjaan ini agar dapurnya bisa terus mengebulkan asap. Diantar oleh asistennya, Dwi (Wanda Nizar), Julie menuju ke rumah Madame Rita yang lokasinya terpencil di daerah Puncak. Sejak pertama kali bertemu dengan Madame Rita, Julie hanya memperoleh kesan yang tidak menyenangkan. Madame Rita adalah seorang wanita paruh baya yang dingin, disiplin dan keras. Beliau melarang keras cucunya, Januar (Endy Arfian), untuk keluar dari rumah. Julie tidak pernah mendapatkan penjelasan yang jelas dan logis mengenai larangan-larangan yang diberlakukan kepada Januar. Secara diam-diam, Julie pun mengajak Januar untuk melakukan ‘aktivitas terlarang’ karena tak tega melihat perlakuan Madame Rita kepada Januar. Namun semakin lama Julie menetap di rumah tersebut, semakin dia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres di rumah ini. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh para penghuni rumah ini.

The Perfect House menandai kembalinya Affandi Abdul Rachman ke ranah thriller setelah sebelumnya asyik dengan proyek film-film komedi romantisnya. Seperti halnya film debutnya yang bergenre serupa, Pencarian Terakhir, The Perfect House pun menawarkan premis yang menarik dan mampu mengundang rasa penasaran. Ketika Pencarian Terakhir mengupas tentang sekelompok pendaki gunung yang hilang arah di sebuah gunung, maka The Perfect House mencoba untuk menyingkap tabir misteri di balik sebuah rumah antik yang megah. Sedikit banyak The Perfect House mengingatkan saya pada Rumah Dara, hanya saja The Perfect House cenderung lebih lembut dan bermain aman. Bisa dimengerti karena The Perfect House tidak merangkul genre horror slasher, melainkan psychological thriller. Pada titik tertentu saya sempat mempertanyakan kewarasan Julie. Memiliki masa lalu yang suram, bisa jadi apa yang dialaminya di rumah Madame Rita hanyalah imajinasinya belaka. Namun apa memang benar seperti itu? Nyatanya, Affandi Abdul Rachman malah menjadikan The Perfect House tidak hanya lembut tetapi juga mudah ditebak. Alurnya cenderung lurus tanpa ada twist yang berarti.


Tidak ada usaha untuk menutup-nutupi apa yang sesungguhnya terjadi di rumah tersebut. Lewat tingkah laku yang tidak normal yang dilakukan oleh salah satu karakter serta sepenggal dialog di pertengahan film, Affandi Abdul Rachman secara tidak langsung telah membuka segalanya. Seketika itu, The Perfect House menjadi kurang menarik untuk diikuti terlebih momen-momen menegangkan yang dimunculkan pun minim jumlahnya. Tensinya terus menurun hingga akhirnya sedikit menggeliat menjelang ending. Naskah yang diolah Affandi dan Alim Sudio tidak bisa dibilang buruk, hanya saja terlalu lempeng untuk ukuran film thriller. Kalau saja duo penulis naskah ini lebih banyak menyisipkan adegan penggedor jantung dan menutup misterinya rapat-rapat, apa yang dimunculkan di ending bisa saja tampak brilian. Tokoh yang diperankan oleh Mike Lucock, Yadi, tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi lebih banyak kepada perkembangan cerita. Padahal Yadi digambarkan tidak kalah misterius dan menyeramkan dari Madame Rita. Posisinya seakan hanya sebagai pelengkap saja. Beruntung naskah yang lemah ini berhasil sedikit ditutupi oleh sinematografi dari Faozan Rizal dan musik latar gubahan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang mampu dihadirkan dengan tepat di setiap adegan.

Kekuatan utama dari The Perfect House sesungguhnya datang dari Bella Esperance yang membawakan peran Madame Rita dengan amat baik. Aktris watak yang angkat nama lewat Catatan Si Boy III ini selalu mencuri perhatian di setiap kesempatan. Agak mengingatkan pada Shareefa Daanish di Rumah Dara memang, namun tak pelak lagi akting Bella Esperance adalah salah satu yang terkuat tahun ini. Dominasinya membuat Cathy Sharon nyaris tak berkutik meskipun kemampuan akting Cathy Sharon sendiri terus mengalami peningkatan. Sementara Mike Lucock dan Endy Arfian juga sama sekali tidak mengecewakan. Mike Lucock bisa saja menjadi ‘scene stealer’ seandainya ruang geraknya tidak dibatasi oleh naskah. Pun begitu, The Perfect House masih layak untuk mendapatkan apresiasi lebih dan saya pun merekomendasikan Anda untuk menontonnya di bioskop. Sekalipun bukan film yang mengesankan, The Perfect House terlihat jelas digarap secara serius oleh Affandi Abdul Rachman. Akan sangat ironis jika film yang mendapatkan sambutan yang cukup meriah di Puchon International Fantastic Film Festival ini justru ditanggapi dingin oleh penonton lokal.

Acceptable