Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horror. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

REVIEW : HI5TERIA



"Jika kepala terlepas dari ragamu, carilah wanita berbadan dua. Atau bayi yang masih suci.." - Vita

Lima sutradara, lima rasa takut, lima mimpi buruk. Proyek impian dari Upi Avianto ini mungkin akan mengingatkan Anda pada Phobia 2 dari Thailand atau Takut dari dalam negeri. Film bergenre horror dengan konsep omnibus. Namun pada dasarnya, Hi5teria memiliki semangat yang sama dengan FISFiC Vol. 1 yang lahir dari INAFFF tahun lalu, sutradara-sutradara pendatang baru memegang kendali di setiap segmen sementara Upi Avianto memantau dari bangku produser. Lagi-lagi, seperti halnya FISFiC, Hi5teria tidak memiliki benang merah yang mengaitkan antar satu segmen dengan segmen lainnya, kesamaan hanya terletak pada karakter utama yang didera terror adalah wanita, dan adanya twist yang terselip di penyelesaian masalah. Kelima wanita yang ‘sial’ tersebut adalah Tara Basro, Maya Otos, Luna Maya, Imelda Therinne, dan Ichi Nuraini, sedangkan posisi ‘algojo’ ditempati oleh Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, dan Harvan Agustriansyah. Premisnya menarik, mencoba mengangkat kisah-kisah mistis yang beredar di sekitar kita.

Tara Basro dijadikan sebagai tumbal pertama. Dia adalah Sari, dalam segmen Pasar Setan, yang terpisah dari kekasihnya saat mendaki gunung. Tersesat di hutan, Sari bertemu dengan Zul (Dion Wiyoko). Mereka berdua terus menerus melewati jalan yang sama, tidak kunjung menemukan jalan setapak yang membawa mereka keluar dari hutan. Suara-suara aneh mulai menghantui. Sebagai sebuah pembuka, Pasar Setan menjanjikan. Ketegangan dibangun secara perlahan-lahan. Adriyanto Dewo sanggup mengimbangi kepiawaian Affandi Abdul Rachman saat menggarap Pencarian Terakhir. Endingnya pun terasa pas, malah saya menganggapnya ini adalah ending terbaik dari semua segmen. Meski tidak semencekam segmen-segmen berikutnya, Pasar Setan memberikan kengerian yang nyata terutama bagi para pendaki gunung. Secara personal, saya memilih segmen ini sebagai favorit saya karena pengalaman pribadi dimana saya beberapa kali mengalami sebuah mimpi buruk dimana saya selalu kembali ke tempat yang sama sekalipun telah berjalan jauh. Sulit untuk tidak jatuh cinta dengan Pasar Setan jika menyukai Pencarian Terakhir maupun Dead End.

Sementara Wajang Koelit buatan Chairun Nissa yang memasang Maya Otos sebagai wartawan asing yang tengah melakukan riset mengenai wayang kulit di sebuah daerah di Jawa Tengah malah kurang menggigit. Kedekatan setting seharusnya mampu menegakkan bulu roma saya, namun pada kenyataannya segmen ini tidak berjalan sesuai harapan, jalan ceritanya mudah sekali ditebak. Jika ada yang membuatnya terasa menakutkan, maka itu berkat instrumen musiknya. Wajang Koelit seperti berusaha untuk mengikuti jejak Titisan Naya, dan twist yang disisipkan membuatnya terkesan dipaksakan. Permasalahan yang sama juga menimpa dua segmen berikutnya, Kotak Musik dan Loket. Dalam Kotak Musik, Luna Maya mengalami serangkaian peristiwa aneh yang memaksanya untuk mau tidak mau memercayai hal-hal gaib. Billy Christian menawarkan sebuah premis biasa yang dieksekusi dengan cukup apik, tetapi tensi ketegangan mulai merosot semenjak Luna Maya diikuti oleh hantu anak kecil. Jika ada yang membuat segmen ini menonjol adalah Luna Maya yang terlihat lebih cantik dari biasanya serta sanggup berakting menawan. Dan saya suka sekali setiap dia melontarkan dialog, “mbok, bikin kaget!”.

Palasik dari Nicho Yudifar menebar kengerian kepada penonton melalui mitos supernatural masyarakat Minangkabau. Diantara segmen-segmen lainnya, Palasik adalah yang terkuat. Imelda Therinne yang sedang hamil besar diajak berlibur oleh suaminya yang sabar dan anak tirinya, Poppy Sovia, yang keras ke sebuah villa. Liburan yang seharusnya damai, menenangkan, dan membuat pikiran terasa jernih justru membuat Imelda Therinne tergoncang setelah dia melihat sebuah kepala terbang. Setelah pembukaan yang memancing rasa penasaran, Nicho Yudifar lantas menggiring kita ke dalam teror yang kian mengerikan setiap menitnya. Visualisasi setan yang menyeramkan namun tidak banci tampil menambah daya tarik tersendiri. Pun begitu, penonton dituntut untuk mencari tahu sendiri apa makna dari ‘Palasik’ karena selama film berlangsung, hanya secuil informasi yang diberikan. Menginjak segmen terakhir, Loket, tingkat kesulitan permainan ditingkatkan. Harvan Agustriansyah menyajikan sebuah tayangan yang mendebarkan, dan membuat penonton harap-harap cemas. Wanita sial di segmen ini adalah Ichi Nuraini, petugas penjaga loket parkiran basement di sebuah gedung yang mengalami malam yang tidak mengenakkan. Tidak banyak dialog disini. Kengerian dibangun melalui suasana parkiran yang sunyi sepi nan gelap. Cukup lama penonton ditempatkan dalam posisi yang tidak menyenangkan, dibiarkan menduga-duga sendiri kapan teror yang sebenarnya akan datang. Ketika apa yang dinanti-nantikan oleh penonton akhirnya datang, tensi segera saja menukik turun. Penyelesaiannya membuat saya tidak habis pikir. Haruskah diberi twist?

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi setiap segmen di Hi5teria, kenapa twist ending menjadi sesuatu yang wajib dipergunakan? Tidak masalah jika pemakaiannya tepat seperti dalam kasus Pasar Setan atau Palasik, tapi itu akan menjadi bumerang bagi filmnya sendiri apabila dipaksakan untuk tampil, seperti yang terjadi dalam Wajang Koelit, Kotak Musik, dan Loket. Malah akan lebih terasa mencekam, dan tentunya riil, apabila dibiarkan apa adanya. Tidak semua film horror perlu diberi twist ending. Pun begitu, saya cukup puas dengan kinerja dari sutradara-sutradara muda di Hi5teria yang terlepas dari hasil akhirnya yang bagus atau mengecewakan. Langkah seperti yang dilakukan oleh Upi Avianto ini patut mendapat apresiasi lebih mengingat ini merupakan sebuah kesempatan baik untuk menemukan sutradara muda yang memiliki bakat terpendam. Apabila ada kekurangan disana-sini, tentu masih dapat dimaklumi. Setidaknya, Hi5teria telah memberikan sebuah angin segar kepada masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur bersikap skeptis terhadap film horor lokal yang semakin lama kian tak berotak.

Acceptable


Sabtu, 14 Januari 2012

REVIEW : PULAU HANTU 3


"Bulan purnama gini paling enak renang telanjang di pantai."

Alasan utama saya rela meluangkan sedikit waktu demi menyaksikan Pulau Hantu 3 adalah karena saya menyukai jilid pertamanya yang sekalipun ide cerita yang diangkat terbilang usang, Jose Poernomo berhasil mengemasnya menjadi sebuah tontonan mencekam yang menyenangkan dengan balutan komedi yang lumayan segar. Sekuelnya yang rilis setahun kemudian gagal menghadirkan atmosfir yang serupa lantaran diberi suntikkan komedi lebih banyak tanpa ada perkembangan dalam jalan cerita. Setelah 3 tahun lamanya tidak ada kabar, saya pikir Jose Poernomo memutuskan untuk mengakhiri terror dari hantu yang memiliki wajah yang serupa tapi tak sama dengan Ghostface dari Scream ini. Ternyata, dugaan saya salah, saudara-saudara. Pulau Hantu tidak akan dibiarkan begitu saja menjadi pulau tak berpenghuni selama masih ada ratusan ribu penonton yang menggeruduk bioskop dengan senang hati. Seakan tidak belajar dari kesalahan yang didapat dari film sebelumnya, porsi komedi semakin diperbanyak di Pulau Hantu 3. Bahkan, film ini terasa lebih tepat disebut sebagai ‘softcore porn’ dengan bumbu komedi horror, ketimbang sebagai film horror komedi.

Tidak perlu berpanjang lebar untuk menjelaskan seperti apa plot dari Pulau Hantu 3, hanya dengan satu kalimat saja pun sebenarnya sudah cukup. Dua sahabat, Nero (Abdurrachman Arif) dan Kimo (Ricky Adi Putra), bersama dengan Gaby (Jenny Cortez) dan Octa (Reynavenzka), mendapat pekerjaan di sebuah resor baru milik Patigana (Boy Hamzah) yang berlokasi di Pulau Madara. Nah, Nero yang sudah dua kali mengunjungi pulau ini di dua jilid sebelumnya, baru menyadari bahwa ini adalah pulau yang juga menyebabkan teman-temannya terbunuh setelah ‘disambut dengan ramah’ oleh hantu penunggu pulau. Apa yang terjadi kemudian Anda tentu sudah bisa menebak, hanya saja kali ini ada terror lain yang disebabkan oleh Patigana. Sejak awal Nero sudah menaruh curiga pada Patigana lantaran gerak-geriknya yang aneh. Tidak ada satupun yang mempercayai omongan Nero, malah teman-temannya menganggap dia hanya iri dengan ketampanan si pemilik resor. Hanya setelah mereka melihat mayat istri Patigana secara langsung, mereka mulai percaya. Dan pada saat itu, segalanya telah terlambat.

Perlu untuk diingat, jika Anda memiliki rencana untuk menyaksikan Pulau Hantu 3 di bioskop, maka motif Anda haruslah untuk melihat (maaf) payudara di layar lebar. Apabila tidak, maka urungkan saja dan pilih film lain. Untuk sekali ini, Jose Poernomo dan Benny Ahmad Basuni merasa tidak perlu memberikan jalan cerita yang runut dan logis kepada penonton karena tujuan dibuatnya sekuel ini tidak lain adalah untuk mengeruk pundi-pundi rupiah dengan cara mengeksploitasi tubuh perempuan. Ya, Anda tidak akan mendapatkan apapun dari film ini, kecuali akting yang kaku, humor yang jauh dari kata lucu, dan (maaf) tetek putih mulus yang terus menerus diumbar tiada henti dengan cara yang nyaris sama. Ada apa dengan Anda, mas Jose? Padahal dulu Anda adalah salah satu sutradara berbakat di Indonesia yang pernah menelurkan film-film berkualitas macam Jelangkung dan Tak Biasa. Sekarang kok malah bergabung dengan ‘Komunitas Penghancur Film Indonesia’? Cimit-cimit telah berubah..

Apabila dihitung menggunakan persentase, maka 80% film hanya diisi dengan adegan seks panas di ranjang dan kolam renang, serta aksi pamer aurat. Plot tidak lagi menjadi sesuatu yang esensial. Tidak ada penjelasan seputar ritual yang dilakukan oleh Patigana, seakan Jose dan Benny mengondisikannya hanya sebagai tempelan belaka. Bukankah lebih tepat jika judul ‘Ghost Island’ diganti menjadi ‘Boobs Island’? Setidaknya, penonton tidak merasa ditipu. Inginnya mencari sebuah hiburan yang mencekam, justru disuguhi dengan payudara dan selangkangan. Yang menjadikannya semakin menyebalkan, Lembaga Sensor Film menikmati permainan gunting menggunting sehingga acapkali ditemukan adegan panas yang belum tuntas namun sudah melompat ke adegan lain. Tanggung banget sih, bo! Kenapa tak dibuat versi 3D-nya sekalian supaya bisa menyaingi Piranha 3D? Andaikan saja saya mendapatkan tiket film ini secara gratis, mungkin saya telah memutuskan untuk walkout sejak paruh pertama. Menuliskan review ini hanya membuat saya sakit hati karena harus mengingat lagi apa saja yang telah terjadi sepanjang 90 menit yang menggairahkan tersebut (heh!). Dan bisa-bisanya Pulau Hantu 3 lebih diminati ketimbang Ummi Aminah, tak habis pikir aku.

Troll

Sabtu, 12 November 2011

INAFFF 2011 : OPENING NIGHT


Saya sama sekali tidak menduga jika akan menjadi salah satu dari sekian blogger yang beruntung mendapatkan undangan untuk datang ke Opening & Closing Night INAFFF11. Sesuatu yang membahagiakan tentu saja. Sebenarnya saya sudah ingin menghadiri INAFFF (Indonesia International Fantastic Film Festival) sejak gelaran pertama di tahun 2007, tapi karena jarak yang cukup jauh, biaya transportasi yang tinggi, dan kesibukan sekolah / kuliah serta tetek bengeknya, saya pun selalu gagal untuk menikmati film-film yang diputar di INAFFF. Tahun lalu sempat berencana untuk menghadiri INAFFF di Bandung bersama seorang teman, tapi sekali lagi rencana tidak berhasil diwujudkan. Ketika tahun ini saya tidak lagi mengharapkan apapun, sebuah keajaiban datang. Saya mendapatkan undangan! Wuhuuuuu... Tentu saja saya tidak membuang kesempatan ini begitu saja, sekalipun dihadang dengan tugas kuliah dan organisasi yang seabrek. Meski hanya bisa mencicipi film yang diputar saat Opening dan Closing, saya sudah sangat bahagia. Apalagi film yang dijadikan penutup adalah Serbuan Maut (The Raid) karya Gareth Evans yang baru saja menggondol People's Choice Award di Midnight Madness, Toronto Film Festival.

INAFFF di tahun kelimanya ini akan memutar lebih dari 40 film bergenre horror, thriller, sci-fi, dan fantasi, dari seluruh dunia. Selain pemutaran film seperti biasa, tahun ini juga akan dimeriahkan dengan acara Film Making Session bersama Lala Timothy, produser Pintu Terlarang. Sebagai film pembuka, INAFFF memilih film fantasi anyar bikinan Tarsem Singh, Immortals. Film ini dirilis di Indonesia pada tanggal yang sama dengan jadwal edar di Amerika Serikat, 11 November 2011. Masih segar banget, baru keluar dari oven *halah*. Jumat malam, 11 November 2011, pukul 20.30, lobby Blitz Megaplex Grand Indonesia sudah dipadati ratusan calon penonton yang sudah tidak sabar untuk segera menerjang auditorium 2, salah satu audi besar di Blitz GI yang digunakan untuk pembukaan INAFFF. Diantara tamu undangan dan penonton yang antri rapi memanjang, saya sempat melihat beberapa artis, sineas serta produser berpengaruh di Indonesia, seperti Rio Dewanto, Sigi Wimala, Alex Abbad, Affandi Abdul Rachman, Joko Anwar, Aming, Gareth Evans, Putrama Tuta, Joe Taslim, hingga Vera Lasut, turut hadir.

Sebelum Immortals dimulai, dua orang penting dibalik penyelenggaraan festival ini, Rusli Eddy dan Trisiska Putri, terlebih dahulu menyapa penonton. "Semua yang berada disini, ayo mengacungkan tangan!," teriak Trisiska Putri yang disambut penonton dengan mengacungkan jari ke atas. Wanita yang akrab disapa Noni ini metransfer energi positif kepada para penonton yang tampak sangat antusias dan penuh semangat. Setelah Trisiska Putri turun dari panggung, Direktur Festival INAFFF, Rusli Eddy mengambil alih untuk menyampaikan sambutannya. Disela-sela opening speech-nya, Rusli Eddy juga sedikit membeberkan sejarah singkat INAFFF yang dulunya bernama Screamfest Indonesia. Ternyata pemerintah sempat meragukan festival ini. "Kok bikin festival yang isinya film horror semua? Kan film horror jelek-jelek?," ujar Rusli Eddy menirukan ucapan salah satu petinggi kita kala itu. Namun itu tidak mengendurkan semangatnya untuk menghadirkan festival yang berbeda di negeri ini. Terbukti, resistensi pemerintah ternyata salah. Basis penggemar INAFFF semakin bertambah dari tahun ke tahun. INAFFF juga memberikan bukti bahwa tidak semua film horror itu memiliki kualitas yang buruk.

Yang membanggakan dari pagelaran INAFFF kelima ini adalah kehadiran tiga film Indonesia yang akan turut meramaikan festival yang berlangsung selama 10 hari dari 11 hingga 20 November 2011. Ketiga film tersebut adalah Serbuan Maut (The Raid), The Perfect House, dan FISFiC VOL. 1. Bahkan The Raid dan FISFiC VOL. 1 menjadi film yang paling diminati oleh para penonton. Tiketnya terjual habis hanya dalam hitungan menit! Semoga saja ini pertanda bahwa masyarakat Indonesia masih mengharapkan adanya film horror/thriller Indonesia yang berkualitas. Acara kemudian dilanjut dengan bagi-bagi hadiah secara gratis. Penonton diminta untuk mengecek apakah ada isolasi hitam atau amplop di samping kursi, di bawah kursi atau di dalam majalah Total Film Indonesia yang dibagikan secara gratis. Penonton yang tidak beruntung masih mendapatkan kesempatan untuk memperoleh kaos dan poster yang dilemparkan oleh panitia. Benar-benar seru. Seorang rekan sesama movie blogger, sigilahoror, disambut oleh panitia secara khusus karena niat banget datang jauh-jauh dari Bali hanya untuk INAFFF. Salut!

Acara inti pun dimulai, pemutaran film 'Immortals' yang menandai dimulainya INAFFF11. Namun sebelumnya penonton disuguhi cuplikan dari Modus Anomali, FISFiC VOL. 1, LA Lights Indie Movie, dan Serbuan Maut (The Raid). Riuh tepuk tangan dan sorak sorai pun menggema. Setelah film utama diputar, secara serempak penonton pun dengan khidmat menyaksikannya. Di bawah arahan Tarsem Singh, Immortals menyajikan visualisasi yang indah. Review lengkap mengenai film ini, akan saya posting kemudian. Yang membuat saya puas malam itu bukanlah Immortals, tetapi kesempatan bertemu dengan rekan sesama movie blogger yang luar biasa serta 'orang film' secara langsung. Untuk berkumpul seperti ini sangatlah sulit karena kesibukan masing-masing. Tanpa INAFFF, mungkin kita akan kesulitan untuk bisa 'kopi darat'. Bagi saya, disinilah menariknya festival ini. Memberikan hiburan menyenangkan dengan film-film seru yang akan membuat kita menjerit, bersorak dan bertepuk tangan, dan setelahnya dibahas secara ringan bersama teman-teman. Sebuah festival film yang sangat menyenangkan untuk dihadiri. Tidak perlu berpikir berat untuk bisa menikmati suguhannya. Just having fun!

Selasa, 01 November 2011

25 FILM PALING MENCEKAM DEKADE LALU - BAGIAN 2

Dalam bagian 1, kita telah melongok film-film apa saja yang berhasil menempati posisi 'honorable mentions' serta 25 hingga 11 dalam Halloween Edition '25 Film Paling Mencekam Dekade Lalu'. Maka sekarang kita mengintip film apa saja yang berhasil menduduki posisi 10 besar. Perlu saya tegaskan kembali jika ini adalah daftar personal, jadi sangat mungkin apa yang menurut saya seram belum tentu Anda anggap seram. Penilaian ini bersifat subjektif. Selain itu, film yang menembus dalam daftar hanyalah film-film produksi tahun 2000 hingga 2009. Semoga saja apa yang saya sampaikan disini berguna bagi Anda yang tengah mencari referensi film horor/thriller yang apik.

Baiklah, tanpa perlu berpanjang lebar lagi, inilah 10 film teratas :))

#10
Battle Royale (Jepang, 2000)

Kesuksesan Battle Royale menyebabkan para filmmaker dunia latah mengikuti resepnya. Sekelompok orang ditempatkan di sebuah pulau terpencil untuk saling membunuh agar bisa mendapatkan hadiah utama. Kinji Fukasaku dengan berani menyuguhkan Battle Royale secara provokatif, memiliki tingkat kekerasan dan kesadisan yang tinggi, serta terror tiada henti. Sebuah film yang sangat menyenangkan bagi pecinta ‘film sakit’.

#9
Dark Water (Jepang, 2002)

Saat Hideo Nakata seperti kehilangan sentuhan magisnya ketika sekuel dari Ringu terasa kurang menggigit, Dark Water muncul ke permukaan. Masih berupa adaptasi dari karya sastra karangan Koji Suzuki, Dark Water sanggup menggedor jantung selama 100 menit. Formula yang dipakai dalam Ringu diterapkan kembali disini. Aura misterius dari apartemen membuat saya ngeri. Nakata membangun tensi ketegangan secara perlahan dengan menyuntikkan sugesti-sugesti kepada penonton, membuat penonton gregetan hingga akhirnya meledak di akhir.

#8
Let the Right One In (Swedia, 2008)

Let the Right One In mencoba untuk mengembalikan wibawa vampir yang dengan sukses diacak-acak oleh Stephanie Meyer melalui The Twilight Saga. Dengan jalan cerita yang sangat sederhana, lebih banyak mengandalkan ekspresi wajah ketimbang dialog, sinematografi yang aduhai plus penggarapan yang brilian, Let the Right One In dengan efektif menyampaikan kengerian yang mengganggu kepada penonton. Agak membosankan di paruh awal, namun memasuki paruh terakhir, film ini memberikan terror demi terror yang sampai membuat saya merasa sangat tidak nyaman.

#7
The Others (US, 2001)

Tanpa adanya gangguan misterius pun, rumah yang ditempati oleh Nicole Kidman sudah membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri. Bersetting beberapa saat setelah Perang Dunia II, tone nyaris selalu ditampilkan suram, gelap serta depresi oleh Alejandro Amenabar. Perasaan cemas dan takut pun dengan sendirinya terbangun. Akting yang meyakinkan dari Nicole Kidman membuat penonton percaya seolah-olah apa yang terjadi di layar memang benar-benar terjadi.

#6
Noroi : The Curse (Jepang, 2005)

Anda menyukai film bergenre mockumentary horror dan menganggap apa yang disajikan Paranormal Activity sama sekali tidak menyeramkan? Maka jajal film ini. Noroi bahkan lebih kuat secara penceritaan, lebih mencekam dan terkesan lebih realistis ketimbang sang pionir, The Blair Witch Project. Plotnya yang kompleks dimana setiap menit penonton disodorkan dengan misteri baru, menjadikan film berdurasi dua jam ini jauh dari kata membosankan. Rasanya gatal untuk tidak ikut menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi. Ketika misteri utama telah terbuka, penonton digiring pada ending yang mencekam.

#5
[REC] (Spanyol, 2007)

Ketika kebanyakan film horror bergaya found footage memulai segalanya dengan perlahan-lahan, maka [REC] tanpa basa-basi langsung mengarahkan pada inti cerita. Hebatnya, ketegangan mampu terjaga konstan hingga akhir tanpa goyah sedikitpun. Seperti halnya para karakter di film ini, saya pun kesulitan untuk kesulitan untuk bernafas karena penonton tidak diberi jeda untuk bersantai ria. Ketegangan yang satu disambung dengan ketegangan yang lain. Sang sutradara, dengan kejamnya, juga tidak memberi obat pencair ketegangan. Penderita penyakit jantung jelas harus menghindari film ini.

#4
Shaun of the Dead (Inggris, 2004)

Shaun of the Dead memang tidak menawarkan kengerian yang luar biasa bagi penontonnya, tetapi film ini sangatlah menyenangkan untuk ditonton. Film horror komedi terbaik dekade lalu. Cerdas, lucu dan menghibur. Edward Wright menggarapnya dengan berkelas. Melihat aksi dari tim yang dipimpin oleh Simon Pegg sanggup membuat saya melupakan kepenatan hidup sejenak. Penggemar zombie tentu tidak akan melewatkan film yang satu ini.

#3
Pan’s Labyrinth (Mexico, 2006)

Sebenarnya, Pan’s Labyrinth lebih cocok dikategorikan sebagai drama fantasy ketimbang horror. Akan tetapi, Pan’s Labyrinth memiliki elemen-elemen yang dibutuhkan oleh sebuah film horror. Makhluk yang menyeramkan, atmosfir yang senantiasa suram dan gelap, adegan-adegan penyiksaan yang keji, dan dunia rekaan. Terror yang dihadapi oleh penonton lebih bersifat ke psikologis. Pan’s Labyrinth memiliki plot seperti mimpi buruk yang sering saya alami di tengah malam. Itulah mengapa, Pan’s Labyrinth terasa begitu seram dan sulit untuk dilupakan.

#2
Ju-On (Jepang, 2000)

Jika Anda adalah pecandu J-Horror, tentu tidak akan melewatkan Ju-On. Seperti halnya [REC], Ju-On nyaris tidak memberikan jeda untuk bernafas sejenak setelah terror demi terror dihidangkan. Kekuatan dari Ju-On adalah pintarnya memanfaatkan suasana yang sunyi senyap tanpa banyak disisipi musik latar yang menghentak. Pagi hari yang cerah tak berarti Anda bisa duduk santai karena Takashi Shimizu menebar kengerian sesuka hatinya, kapanpun dan dimanapun. Ju-On juga memiliki beberapa tokoh yang menjadi ikon dalam jagad J-Horror mendampingi Sadako, perkenalkan Kayako dan Toshio.

#1
A Tale of Two Sisters (Korea Selatan, 2003)

Dan, inilah film paling mencekam dari dekade lalu versi Cinetariz. Diangkat dari sebuah cerita rakyat, A Tale of Two Sisters memberikan rasa takut yang luar biasa sejak awal hingga ending-nya yang mengejutkan. Berada dalam sebuah rumah yang besar namun terasa pengap, ayah yang tidak mau tahu, ibu tiri yang kejam dan gangguan dari makhluk misterius adalah masalah-masalah yang harus dihadapi oleh karakter utama kita. Kim Ji-woon sanggup menyajikan kengerian dengan takaran yang pas. Adegan-adegan pemicu rasa kaget masih menggunakan formula lawas, tapi hebatnya di bawah penanganan Kim-Ji Woon terasa tidak basi. Saat Anda bertanya kepada saya, apa film horror yang paling menakutkan, secara spontan saya akan menyebutkan A Tale of Two Sisters. Sebuah film horror yang memiliki naskah yang menggigit, akting para pemain yang prima dan penggarapan yang berkelas.

Apakah kalian setuju dengan daftar ini atau memiliki pilihan lain?

Minggu, 30 Oktober 2011

25 FILM PALING MENCEKAM DEKADE LALU - BAGIAN 1

Cinetariz kembali dengan edisi special, Halloween Edition. Yayyyy!!! Pasti kalian telah menanti-nantikannya sejak lama, ya kan? Ya kan? Ngaku sajooooooo *ceileh, GR bener* karena list yang saya buat ini keren luar biasa, seperti yang bikin *uhuk imut*. Rasanya kurang afdol ya jika saya menyusun 21 film paling romantis decade lalu untuk menyambut Valentine, tetapi tidak membuat 25 film paling mencekam untuk menyambut Halloween. Ugh, ternyata membuat list ini sama sekali tidak mudah, teman-teman. Awalnya saya kira sehari bisa tersusun dengan rapi, namun kenyataan berkata lain. Di tahun 2000 hingga 2009, ada sekitar 50 film yang mampu membuat saya melompat dari kursi, menggedor jantung hingga berteriak-teriak tak karuan. Tentu ini sulit karena pada awalnya saya hendak mempersempitnya hingga 13 film saja. Akan tetapi, karena galau yang tidak berkesudahan melihat banyak film horror yang saya depak, saya pun menambahkan 12 film lagi ke dalam daftar. Itupun masih banyak yang harus dikorbankan. Sedih sekali rasanya, hiks hiks.. Jalan keluar satu-satunya adalah dengan memasukkannya ke dalam ‘Honorable Mentions.’ Jadi maaf beribu maaf ya kalau film favorit kalian tidak bisa duduk dengan manis di posisi 25 besar. Sungguh, ini keputusan yang sulit. Saya sampai harus bertapa demi mendapatkan ilham film apa saja yang layak untuk menempati 25 besar.

Berbeda dengan sebelumnya, list ini nantinya akan saya bagi ke dalam dua bagian. Alasannya sederhana, biar tidak kelihatan penuh sesak dan kepanjangan. Saya khawatir para pembaca yang budiman bakal keliyengan kalau melihat tulisan terlalu banyak, hoho. Untuk bagian pertama akan menghadirkan 15 film, sementara bagian kedua berisi 10 film. Yang perlu digarisbawahi, film-film yang masuk ke dalam daftar adalah film horror / thriller yang dirilis di tahun 2000 hingga 2009. Dan karena ini adalah list yang saya buat secara personal, maka akan sangat wajar jika ada film horror bagus yang terlewatkan. Maklum udah tua, jadi mungkin saja kelupaan. Let me know, what I missed. Tak usah ragu untuk memberikan komentar atau koreksi untuk postingan ini, sehingga untuk list berikutnya biar semakin tertata rapi. Ocret mencret?

Sebelumnya, inilah 15 film mencekam yang terpaksa tidak saya loloskan ke top 25 :

- Uzumaki (Jepang, 2000)
- Jelangkung (Indonesia, 2001)
- Ginger Snaps (Kanada, 2000)
- Session 9 (US, 2001)
- Frailty (US, 2002)
- The Host (Korea Selatan, 2006)
- 28 Days Later (Inggris, 2002)
- The Mist (US, 2007)
- Martyrs (Prancis, 2008)
- Shutter (Thailand, 2004)

- Joy Ride (US, 2001)
- Kairo (Jepang, 2001)

- Bunian (Indonesia, 2004)

- High Tension (Prancis, 2003)
- What Lies Beneath (US, 2000)

Baiklah, tanpa perlu berbasa basi lagi, inilah 25 film paling mencekam dekade lalu versi Cinetariz. Cekidot!

#25
Trick ‘r Treat (US, 2009)

Inilah the most underrated horror movie di dekade lalu. Padahal filmnya sendiri sama sekali tidak buruk. Hanya saja karena langsung edar dalam bentuk DVD, banyak yang menduga Trick ‘r Treat tidak layak untuk ditonton. Dengan menggunakan 4 plot utama, Trick ‘r Treat sanggup menyebarkan kengerian khas film-film horror dari tahun 1990-an. Twist ending yang disisipkan oleh Michael Dougherty membuat film ini terasa istimewa.

#24
Dawn of the Dead (US, 2004)

Versi aslinya ditangani oleh George A. Romero dan merupakan salah satu film zombie terbaik yang pernah dibuat. Remake-nya dikomandoi oleh Zack Snyder dengan hasil yang sangat memuaskan. Tidak sebaik versi aslinya tentu saja, namun Zack Snyder menciptakan style-nya sendiri untuk Dawn of the Dead. Tidak berkesan kuno dan sangat menyenangkan untuk ditonton.

#23
Lake Mungo (Australia, 2008)

Hanya segelintir orang yang tahu mengenai film bergenre mockumentary horror asal Australia ini. Lake Mungo adalah salah satu yang terbaik di genre-nya. Sesi wawancara dan potongan-potongan video yang menyeramkan ditampilkan dengan meyakinkan. Tapi yang membuat saya melonjak kaget adalah ending-nya yang sama sekali tidak saya duga. Tidak ada persiapan sama sekali untuk adegan yang sangat mengerikan itu.

#22
Saw (US, 2004)

Lupakan saja sekuel-sekuelnya yang semakin lama semakin ngawur, Saw jilid pertama adalah film yang cerdas. Hanya dengan memanfaatkan ruang gerak yang sempit dan dua aktor yang berlakon, Saw tidak terjebak menjadi sebuah film yang monoton. Dilapisi dengan setumpuk misteri yang perlahan-lahan dibongkar hingga endingnya yang mencengangkan, ketegangan Saw terjaga konstan dan tidak mampu ditandingi oleh sekuel maupun penirunya.

#21
4bia (Thailand, 2008)

Antologi horror asal Negeri Gajah yang terdiri dari 4 segmen ini sejatinya hanya memiliki 2 segmen yang mencekam, segmen pertama dan terakhir. Terror yang terjadi di sebuah kamar dan pesawat terbang ini disampaikan perlahan dengan atmosfir yang menyeramkan. Saya sangat menyarankan Anda untuk menonton film ini sendirian di dalam kamar saat tengah malam dengan pintu terkunci. Dijamin bulu kuduk Anda langsung berdiri.

#20
Identity (US, 2003)

Pernah membaca novel Agatha Christie yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Sepuluh Anak Negro? Nah, Identity ini bisa dibilang adalah adaptasi bebas dari novel tersebut. 10 orang dari latar belakang yang berbeda terjebak di sebuah motel karena badai dan seorang pembunuh berantai bebas berkeliaran. Dibuka dengan opening sequence yang menarik, Identity berkembang menjadi sebuah film misteri yang mencekat dan penuh dengan ketegangan.

#19
The Eye (Hong Kong, 2002)

Apakah Anda memilih untuk tetap buta seandainya setelah memperoleh donor kornea justru mampu melihat hal-hal yang diinginkan? Pang Brothers mengajak kita untuk memasuki dunia baru dari seorang gadis yang baru saja bisa melihat. Layaknya film horror dari Asia kebanyakan, The Eye pun memulai segalanya dengan lamban hingga akhirnya adegan-adegan yang mengerikan pun digeber sesaat setelah sang gadis mendapatkan penglihatannya.

#18
The Exorcism of Emily Rose (US, 2005)

Sebenarnya film yang berangkat dari kisah nyata ini lebih banyak berputar-putar di ruang pengadilan ketimbang menyuguhkan adegan kerasukan setan. Scott Derrickson menyuguhkan segalanya dengan nyata, seolah-olah kita sedang menyaksikan rekaman video di sebuah acara talk show. Drama di pengadilan menegangkan dan horror di rumah Emily Rose pun menyeramkan. Sebuah kombinasi yang manis.

#17
Pocong 2 (Indonesia, 2006)

Film pertamanya dilarang untuk beredar dan sebagai gantinya Rudi Soedjarwo meluncurkan sekuel yang lebih menakutkan. Pocong 2 dijamin membuat para pocong tersenyum bangga dan mengirimkan kado untuk Rudi Soedjarwo. Disini, pocong diperlakukan dengan selayaknya. Kemunculan pocong selalu berhasil menimbulkan kengerian yang luar biasa. Skrip dan akting para pemainnya pun mumpuni. Kalau Anda jenuh dengan film-film pocong saat ini yang hancur lebur, maka tonton Pocong 2. Berani ke kamar sendirian malam-malam setelah menonton film ini, saya acungi jempol.

#16
The Orphanage (Spanyol, 2007)

The Orphanage bukanlah tipe film horror yang menakut-nakuti penontonnya melalui penampakan yang berulang kali atau sound memekakkan telinga. J.A. Bayona menawarkan sensasi suspense yang mendebarkan. Atmosfir rumah yang ‘creepy’ plus music gubahan Fernando Velázquez turut berpengaruh dalam membangun ketegangan. Bisa dibilang, The Orphanage adalah film horror modern dengan style kuno yang masih memperhatikan dramalurgi dan akting memikat para pemain sebagai salah satu komponen tak terpisahkan untuk menciptakan film horror yang baik.

#15
Drag Me to Hell (US, 2009)

Keasyikan menonton Drag Me to Hell memang tiada tara. Film ini mampu membuat saya menjerit dan tertawa di saat yang bersamaan. Sam Raimi adalah salah satu maestro penghasil film horror komedi. Jika ingin mengetahui bagaimana seharusnya sebuah film horror dipadukan dengan komedi, maka tontonlah Drag Me to Hell, sebuah film yang sangat menghibur, lucu dan menakutkan. Alih-alih stres karena ketakutan, Anda justru akan terhibur saat menyaksikan Drag Me to Hell. Fun as hell!

#14
Inside (Prancis, 2007)

Penggemar film horror yang berdarah-darah tentu tidak akan melewatkan Inside. Sebagai salah satu film terbaik dari generasi 'New Wave of Extreme French Horror Films'. Sangat brutal, tidak berperikemanusiaan, penuh dengan tumpahan darah dan potongan tubuh berceceran dimana-mana. Bahkan sebuah adegan di ending membuat saya tidak tahan menontonnya saking sadisnya. Pun begitu, Inside tidak hanya menjual kesadisan semata karena ditilik dari penggarapan, akting dan naskah, film ini pun tergolong jempolan.

#13
The Descent (Inggris, 2005)

Opening sequence dari The Descent berada dalam posisi atas sebagai adegan paling traumatik versi Cinetariz. Belum apa-apa, saya sudah dibuat tidak nyaman. Memasuki inti cerita ketika para gadis ini menjelajahi gua, The Descent semakin tidak menyenangkan untuk ditonton, dalam arti positif tentu saja. Makhluk misterius yang meneror para gadis ini ditampilkan sangat menyeramkan. Adegan ‘cat and mouse’ pun bergulir yang membuat saya berkali-kali menahan nafas dan jantung pun ikut berdegup kencang.

#12
The Ring (US, 2002)

The Ring versi Gore Verbinski hanyalah segelintir dari film horror dari Asia yang di-remake dengan sukses oleh Hollywood. Rasa ngeri yang teramat sangat ketika menyaksikan Ringu masih bisa ditemukan disini. Verbinski memulai segalanya dengan adegan yang sukses meneror penonton. Adegan-adegan selanjutnya pun tak kalah mengerikan. Imajinasi liar Koji Suzuki berhasil dijewantahkan Verbinski dengan apik, bahkan hanya setingkat lebih rendah dari Hideo Nakata.

#11
Keramat (Indonesia, 2009)

Oke, saya akui saya pernah meremehkan film ini dan sekarang saya kualat. Keramat ternyata lebih menyeramkan dari yang saya duga. Dibuat dengan gaya ‘found footage’, Keramat sanggup membuat saya sulit tidur beberapa hari dan parno terhadap suara gamelan. Dengan minimnya adegan penampakan-penampakan yang murahan, Keramat malah terasa lebih natural. Fakta bahwa setting dekat dengan rumah dan saya pernah mengalami secara langsung salah satu kejadian dalam film membuat kengeriannya berlipat ganda.

Bersambung...

Sabtu, 29 Oktober 2011

REVIEW : THE PERFECT HOUSE


Saya yakin, Julie (Cathy Sharon), membatin “aku adalah perempuan paling sial di dunia ini,” ketika diminta oleh atasannya untuk menggantikan rekan kerjanya yang hilang sebagai guru privat di rumah Madame Rita (Bella Esperance). Rencana Julie untuk cuti selama sebulan pun hanyalah tinggal rencana. Mau tidak mau dia harus menerima pekerjaan ini agar dapurnya bisa terus mengebulkan asap. Diantar oleh asistennya, Dwi (Wanda Nizar), Julie menuju ke rumah Madame Rita yang lokasinya terpencil di daerah Puncak. Sejak pertama kali bertemu dengan Madame Rita, Julie hanya memperoleh kesan yang tidak menyenangkan. Madame Rita adalah seorang wanita paruh baya yang dingin, disiplin dan keras. Beliau melarang keras cucunya, Januar (Endy Arfian), untuk keluar dari rumah. Julie tidak pernah mendapatkan penjelasan yang jelas dan logis mengenai larangan-larangan yang diberlakukan kepada Januar. Secara diam-diam, Julie pun mengajak Januar untuk melakukan ‘aktivitas terlarang’ karena tak tega melihat perlakuan Madame Rita kepada Januar. Namun semakin lama Julie menetap di rumah tersebut, semakin dia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres di rumah ini. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh para penghuni rumah ini.

The Perfect House menandai kembalinya Affandi Abdul Rachman ke ranah thriller setelah sebelumnya asyik dengan proyek film-film komedi romantisnya. Seperti halnya film debutnya yang bergenre serupa, Pencarian Terakhir, The Perfect House pun menawarkan premis yang menarik dan mampu mengundang rasa penasaran. Ketika Pencarian Terakhir mengupas tentang sekelompok pendaki gunung yang hilang arah di sebuah gunung, maka The Perfect House mencoba untuk menyingkap tabir misteri di balik sebuah rumah antik yang megah. Sedikit banyak The Perfect House mengingatkan saya pada Rumah Dara, hanya saja The Perfect House cenderung lebih lembut dan bermain aman. Bisa dimengerti karena The Perfect House tidak merangkul genre horror slasher, melainkan psychological thriller. Pada titik tertentu saya sempat mempertanyakan kewarasan Julie. Memiliki masa lalu yang suram, bisa jadi apa yang dialaminya di rumah Madame Rita hanyalah imajinasinya belaka. Namun apa memang benar seperti itu? Nyatanya, Affandi Abdul Rachman malah menjadikan The Perfect House tidak hanya lembut tetapi juga mudah ditebak. Alurnya cenderung lurus tanpa ada twist yang berarti.


Tidak ada usaha untuk menutup-nutupi apa yang sesungguhnya terjadi di rumah tersebut. Lewat tingkah laku yang tidak normal yang dilakukan oleh salah satu karakter serta sepenggal dialog di pertengahan film, Affandi Abdul Rachman secara tidak langsung telah membuka segalanya. Seketika itu, The Perfect House menjadi kurang menarik untuk diikuti terlebih momen-momen menegangkan yang dimunculkan pun minim jumlahnya. Tensinya terus menurun hingga akhirnya sedikit menggeliat menjelang ending. Naskah yang diolah Affandi dan Alim Sudio tidak bisa dibilang buruk, hanya saja terlalu lempeng untuk ukuran film thriller. Kalau saja duo penulis naskah ini lebih banyak menyisipkan adegan penggedor jantung dan menutup misterinya rapat-rapat, apa yang dimunculkan di ending bisa saja tampak brilian. Tokoh yang diperankan oleh Mike Lucock, Yadi, tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi lebih banyak kepada perkembangan cerita. Padahal Yadi digambarkan tidak kalah misterius dan menyeramkan dari Madame Rita. Posisinya seakan hanya sebagai pelengkap saja. Beruntung naskah yang lemah ini berhasil sedikit ditutupi oleh sinematografi dari Faozan Rizal dan musik latar gubahan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang mampu dihadirkan dengan tepat di setiap adegan.

Kekuatan utama dari The Perfect House sesungguhnya datang dari Bella Esperance yang membawakan peran Madame Rita dengan amat baik. Aktris watak yang angkat nama lewat Catatan Si Boy III ini selalu mencuri perhatian di setiap kesempatan. Agak mengingatkan pada Shareefa Daanish di Rumah Dara memang, namun tak pelak lagi akting Bella Esperance adalah salah satu yang terkuat tahun ini. Dominasinya membuat Cathy Sharon nyaris tak berkutik meskipun kemampuan akting Cathy Sharon sendiri terus mengalami peningkatan. Sementara Mike Lucock dan Endy Arfian juga sama sekali tidak mengecewakan. Mike Lucock bisa saja menjadi ‘scene stealer’ seandainya ruang geraknya tidak dibatasi oleh naskah. Pun begitu, The Perfect House masih layak untuk mendapatkan apresiasi lebih dan saya pun merekomendasikan Anda untuk menontonnya di bioskop. Sekalipun bukan film yang mengesankan, The Perfect House terlihat jelas digarap secara serius oleh Affandi Abdul Rachman. Akan sangat ironis jika film yang mendapatkan sambutan yang cukup meriah di Puchon International Fantastic Film Festival ini justru ditanggapi dingin oleh penonton lokal.

Acceptable

Minggu, 25 September 2011

REVIEW : FINAL DESTINATION 5



"Death doesn't like to be cheated." - Bludworth

Cara paling mudah dalam mengeruk keuntungan dari penjualan tiket bioskop adalah dengan membuat ulang atau melanjutkan sebuah film yang sukses besar di tangga box office. Franchise Final Destination memang bukan tergolong ke dalam franchise yang meraih kesuksesan luar biasa, namun sanggup mencapai Breakeven Point di setiap serinya dan masih menyisakan duit lebih untuk ditabung. Final Destination pertama adalah sebuah sleeper hit di tahun 2000. Di saat film horror remaja pada masa itu didominasi oleh teror pembunuhan berantai, Final Destination menawarkan sebuah ide berbeda yang cukup segar tentang mencurangi kematian. Menerima respon yang positif dari penonton dan beberapa kritikus melayangkan pujian, sudah bisa ditebak jika kemudian Final Destination terus melaju dengan dibuatnya beberapa sekuel. Berbeda dengan Saw yang kualitas penerusnya semakin lama kian menurun, Final Destination berhasil stabil di setiap serinya dan tetap menyenangkan untuk ditonton sekalipun inti ceritanya sebenarnya sama saja. Dengan rentang waktu yang lebih pendek, 2 tahun dari The Final Destination (umumnya tiap seri Final Destination berjarak 3 tahun), Final Destination 5 dirilis. Dikomandoi sutradara anyar, Steven Quale, seri ini menggunakan format 3D seperti prekuelnya yang menjanjikan sebuah tontonan yang lebih seram dan menegangkan.

Dalam sebuah perjalanan bisnis, Sam Lawton (Nicholas D'Agosto) mendapat penglihatan bahwa jembatan yang dilalui oleh bis yang ditumpanginya akan roboh dan menewaskan semua penumpang. Dengan didukung bujet $40 juta, Quale sanggup menampilkan adegan robohnya jembatan dengan cukup rapi. Ditangani dengan cekatan dan tampilan 3D yang sangat nyata, ini menjadi adegan pembuka paling menegangkan dalam seri Final Destination. Saya dipaksa untuk menahan nafas dan rasanya sangat menyenangkan saat mendengar beberapa penonton wanita berteriak ketakutan. Belum apa-apa, adegan kematian yang sadis nan mengejutkan sudah digeber dari sini. Sam yang merasakan keanehan saat bis mencapai jembatan, mulai panik dan meminta penumpang lain untuk turun. Hanya kekasihnya, Molly (Emma Bell), sahabat baiknya yang memiliki wajah mirip Christian Bale, Peter (Milles Fisher), kekasih Peter, Candice (Ellen Wroe), serta beberapa rekan kerja, termasuk atasan Sam, Dennis (David Koechner) yang mengikuti Sam. Benar saja, jembatan roboh beberapa saat setelah mereka turun dari bis dan menewaskan semua penumpang bis. Sam dan ketujuh rekannya yang berhasil selamat tidak begitu saja bisa bernafas lega. Seperti kata Bludworth (Tony Todd), "death doesn't like to be cheated." Satu persatu dari mereka yang selamat pun harus menemui ajalnya dengan cara yang sama sekali tidak disangka-sangka.


Bagi yang tidak menyukai atau tidak tahan tontonan yang penuh dengan darah dan dikemas dengan sadis, maka sebaiknya Final Destination 5 Anda hindari. Quale lebih berani dalam mengumbar adegan-adegan kematian yang sadis ketimbang rekan-rekan pendahulunya. Eric Heisserer yang kebagian jatah untuk menggarap naskah tidak hanya membuat semuanya menjadi lebih berdarah dan sadis semata, namun juga menyelipkan beberapa kejutan. Saya jamin Anda tidak akan bisa menebak bagaimana kedelapan tokoh ini menemui ajalnya. Quale dan Heisserer berhasil mengelabui penonton. Selain satu tokoh yang tewas dengan cepat namun sanggup mengejutkan penonton karena kejadiannya tidak terduga, kematian tokoh-tokoh lain cenderung membuat harap-harap cemas. Lihat saja bagaimana kematian pertama terjadi. Seperti menyaksikan pertandingan sepak bola saat bola sudah berada di dekat gawang dan seorang pemain hendak menciptakan gol tetapi berulang kali tertunda karena berbagai sebab. Persis seperti itulah yang terjadi dilengkapi dengan riuh rendah teriakan histeris penonton yang membuatnya menjadi terasa lebih menegangkan.

Yang patut mendapat apresiasi lebih adalah 3D dari Final Destination 5. Produser Craig Perry ternyata adalah seorang yang 'jujur' karena 3D yang dihasilkan disini benar-benar terasa nyata, bukan tipuan belaka layaknya kebanyakan film Hollywood akhir-akhir ini yang memakai 3D palsu (alias hasil konvert dari 2D, tidak di-shoot langsung dalam 3D). Hasilnya, Anda akan melihat gelimangan darah dan potongan-potongan tubuh menjadi lebih jelas. Segalanya menjadi pop-up. Itulah kenapa jika Anda mudah muntah saat melihat adegan-adegan sadis dan berdarah-darah saya sangat menyarankan agar Anda mengosongkan perut sebelum menyaksikan Final Destination 5. Menonton film ini dalam 3D sambil membawa cemilan sekarung sama sekali bukanlah pilihan yang tepat. Big No No. Setelah Insidious berhasil menghibur saya dengan horror klasiknya yang mencekam, Final Destination 5 pun menyajikan sebuah hiburan yang menyenangkan. Alur yang tidak mudah ditebak, 3D yang nyata, penggunaan special effect yang efektif serta penggarapan yang baik. Inilah film terbaik dari seri Final Destination.

2D atau 3D? Disarankan untuk menontonnya dalam versi 3D karena 3D-nya yang sangat nyata. Final Destination 5 menjadi berkali-kali lipat lebih menegangkan karena faktor 3D. Namun jika Anda tidak menyukai tontonan sadis namun tetap ingin menyaksikan film ini, maka lebih baik pilih versi 2D-nya saja.

Exceeds Expectations

Minggu, 14 Agustus 2011

REVIEW : SECONDS APART



Apapun bisa dijadikan film oleh Hollywood, termasuk mengenai saudara kembar. Film yang melibatkan saudara kembar, baik identik maupun tidak, banyak ditemukan di Hollywood. Genrenya pun beragam dan rasanya hampir semua genre film pernah memakainya. Hal ini sama sekali tidak mengherankan mengingat anak kembar memang memiliki daya tarik tersendiri. Saya pun sebenarnya memiliki minat yang lebih terhadap anak kembar karena terkadang saya berharap memiliki saudara kembar. Sepertinya menyenangkan. Dan film yang menggunakan anak kembar sebagai bintang utama kebanyakan selalu asyik untuk ditonton. Entah sudah berapa kali saya menyaksikan The Parent Trap. Film-film dari si kembar Olsen, seberapa buruknya itu, tak pernah saya lewatkan. Yang paling mengesankan saya selain The Parent Trap tentunya Adaptation. Sementara dari genre horror, siapa yang bisa melupakan si kembar Grady dari The Shining dan si kembar Mantle dari Dead Ringers? Dua film dari era 80-an ini sukses membuat bulu kuduk saya bergidik ngeri. Memasuki era millenium ternyata sulit menemukan film yang serupa. Kejutan hadir saat Seconds Apart muncul. Film yang diperkenalkan melalui After Dark Horrorfest pada awal tahun 2011 ini ternyata cukup menarik untuk disimak.



Kematian misterius sejumlah atlet dalam sebuah pesta menjelang pertandingan besar menarik perhatian Detektif Lampkin (Orlando Jones) yang masih menyimpan trauma atas tewasnya sang istri dalam sebuah kebakaran. Pengakuan dari seorang saksi mata yang kekasihnya menjadi salah satu korban menuntun Lampkin pada dua remaja kembar yang aneh dan anti sosial, Seth (Gary Entin) dan Jonah (Edmund Entin). Memang ada yang tidak yang beres dengan si kembar Trimble, namun Lampkin selalu kesulitan mengumpulkan bukti. Sementara itu, korban terus berjatuhan. Tidak ada kesamaan diantara para korban, kecuali Seth dan Jonah selalu berada di tempat kejadian perkara. Siapa sebenarnya si kembar Trimble ini? Seperti halnya Dead Ringers dan kebanyakan film lain, konflik dipicu oleh kehadiran seorang gadis. Eve (Samantha Droke), seorang siswi baru, menarik perhatian Jonah. Hubungan si kembar pun merenggang. 'The Project' yang sejak awal film menjadi misi utama mereka pun terbengkalai. Lampkin melihat kekacauan ini sebagai sebuah celah untuk menuntaskan kasus.





Saya sama sekali tidak menduga akan mendapat sebuah tontonan menegangkan yang digarap secara apik melalui Seconds Apart. Tulisan buatan George Richards berhasil dituangkan Antonio Negret ke dalam bentuk pita seluloid dengan menarik. Premisnya mungkin terlihat sangat klise dan mudah ditebak, namun Seconds Apart ternyata tidak seperti itu. Adegan pembukanya dikemas dengan baik dan menegangkan serta sanggup membuat saya tercekat. Rasa pesimis saya terhadap film ini pun mendadak sirna dan saya memutuskan untuk duduk manis menyaksikan film ini hingga akhir. Ah, ternyata duduk manis saat menyaksikan sebuah film horror memang hampir mustahil untuk dilakukan. Tanpa memaksa memedi untuk tampil di layar, Seconds Apart memanfaatkan atmosfir dan akting para pemainnya untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Memasuki rumah keluarga Trimble bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan rasanya manusia normal manapun enggan untuk menjejakkan kaki di rumah tersebut setelah melihat apa yang ada di dalamnya. Ini bukan rumah berhantu dimana pintu mendadak tertutup dengan sendirinya. Kengerian dipicu oleh tindak tanduk si kembar dan orang tua mereka yang ganjil. Desain interior rumah yang antik turut membuat atmosfir menjadi semakin tidak menyenangkan.



Itu semua tentu tidak akan terwujud jika para pemainnya tidak mengerahkan kemampuan akting terbaik mereka. Si kembar Entin memainkan peran mereka dengan sempurna. Tanpa perlu berkata-kata, hanya dengan ekspresi muka saja sudah mampu membuat saya merinding. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Orlando Jones dan Morgana Shaw yang berperan sebagai ibu dari si kembar. Lampkin yang rapuh dan tertekan dimainkan dengan cemerlang oleh Jones yang sebelumnya kerap tampil buruk di film yang dibintanginya. Ini sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa dia tidak hanya bisa melawak, yang bagi saya sama sekali tidak lucu, namun juga bisa berakting dengan baik. Peran yang tepat adalah kuncinya. Seconds Apart juga sedikit banyak disisipi oleh adegan yang penuh darah (gore). Hebatnya, hampir semua kekejian itu hanyalah fantasi dari para tokohnya semata. Karena itulah efek psikologisnya malah lebih terasa. Tidak diumbar secara berlebihan, namun sanggup membuat saya ngilu melihatnya. Apa yang menjadi misteri di Seconds Apart memang beberapa telah dibeberkan sejak awal film, namun bukan berarti film menjadi tak menarik. Negret tahu betul bagaimana caranya membuat penonton tetap betah hingga akhir. Tensi terus ditingkatkan di setiap menitnya. Ending yang cukup mengejutkan diolah dengan sangat baik dan tidak terkesan membodohi penonton. Dan, Seconds Apart pun berhasil mengawali dan mengakhiri kisahnya dengan memesona. Tidak sabar rasanya untuk melihat apa yang akan ditawarkan oleh Negret di film ketiganya nanti.



Acceptable