Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 April 2012

REVIEW : LOVE IS U

“Nggak, nggak, nggak kuat… Nggak, nggak, nggak kuat…” Lho, lho, itu kan kutipan lirik ‘Playboy’ tembang milik 7 Icons? Tenang, jangan keburu protes dulu. Sepenggal lirik ini bukan bermaksud untuk membandingkan siapa yang lebih superior antara 7 Icons dengan Cherrybelle, melainkan hanya ungkapan hati saya saat menyaksikan film debut dari Cherrybelle di bioskop, Love is U. Saking tidak kuatnya, saya sampai ingin menggigit kursi yang ada di depan saya. Sial sekali waktu itu saya memutuskan untuk tidak memiliki segelas minuman bersoda dan berondong jagung yang bisa saya telan bulat-bulat ketika jengkel. Dan lebih sial lagi, pulsa di handphone sedang menipis. Maka satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa bosan yang sudah mencapai ubun-ubun adalah memandangi personil Cherybelle satu persatu secara cermat. Strategi jitu? Nampaknya, apalagi setelah menyaksikan film ini saya mendadak jatuh cinta setengah mati dengan girlband ini, seolah-olah mereka adalah sekumpulan bidadari yang baru saja turun dari langit.

Menyaksikan Love is U membuat saya tidak tahan untuk segera menyandingkannya dengan Fantasi, Spice World, Purple Love hingga Baik-Baik Sayang yang memiliki tujuan yang senada, memanfaatkan sejumlah orang atau sebuah band yang tengah naik daun demi menumpuk pundi-pundi. Sekalipun empat film tersebut memiliki kualitas yang pas-pasan, jalinan ceritanya yang menghibur membuatnya menjadi semacam ‘guilty pleasure’ bagi sebagian orang, termasuk non-fans. Sayangnya, ini tidak terjadi pada Love is U. Naskah buatan Jamil Aurora kelewat datar, sementara Hanny R. Saputra tidak bisa berbuat banyak. Alhasil, dengan dialog yang membosankan, akting yang ‘begitu deh’, setting yang melulu disitu-situ saja dan nyaris tidak dihiasi dengan percikan konflik yang bikin gregetan, tentu Anda sudah bisa membayangkan betapa menyiksanya film ini. Jika memang sejak awal tujuan dibuatnya film ini adalah sebagai media promosi, sepertinya dikemas dalam bentuk film konser seperti Hannah Montana atau Glee adalah pilihan yang lebih baik. Memaksakannya muncul sebagai sebuah film layar lebar sementara hampir seluruh aspek belum siap hanya akan mempermalukan diri sendiri.

Agak mengherankan sutradara sekelas Hanny R. Saputra bersedia menerima tawaran film dengan naskah yang bahkan lebih lemah dari FTV sekalipun ini. Para personil Cherybelle dikisahkan tengah dikarantina menyusul kegagalan mereka tampil secara kompak dalam sebuah pertunjukkan. Layaknya Akademi Fantasi Indosiar, kita pun disuguhi dengan tayangan seputar kehidupan sehari-hari para personil Cherybelle saat mereka berlatih koreografi, vokal, hingga bersantai bersama di tempat karantina. Agar tidak monoton, maka sejumlah bumbu penyedap berupa konflik antar personil, konflik dengan anggota keluarga dan konflik dengan para pelatih pun dicemplungkan. Apakah bumbu-bumbu ini membuat Love is U menjadi terasa lezat? Oh, sayang sekali tidak. Menyebalkan, ya. Serentetan konflik yang berpotensi memanaskan suasana, dimunculkan sepotong-sepotong dengan penyelesaian yang serba mudah. Penyelesaian konflik selalu ditandai dengan personil Cherybelle yang saling berpelukan, menangis bersama, lalu melantunkan tembang “Beautiful”, “Love is You”, dan “I’ll Be There For You” berulang-ulang hingga saat Anda keluar dari gedung bioskop, tanpa sadar Anda telah hafal dengan lirik tiga lagu tersebut. Saya tidak sedang menonton salah satu episode Teletubbies kan?

Pada akhirnya, kemunculan Love is U di layar lebar memang hanya untuk memuaskan dahaga para ‘Twibi’ dan ‘Twiboy’ yang seakan belum puas melihat idolanya bersliweran di layar kaca setiap hari. Love is U adalah bentuk pengkultusan terhadap Cherybelle. Hanya para fans yang akan jejeritan atau bertepuk tangan setelah film berakhir. Sementara mereka yang tidak terlalu mengenal girlband ini, atau malah membencinya, akan menepuk jidat mereka berulang-ulang dan mengacak-acak rambut, kecuali mereka tahu cara mengatasi kebosanan. Menyaksikan sembilan gadis dengan cara berbusana, cara berbicara, menangis, marah, hingga tertawa dengan cara yang nyaris serupa ditambah perilaku kekanak-kanakan yang dibuat-dibuat tentu bukan pemandangan yang menyenangkan, meski mereka luar biasa cantik. Jika ada yang bergembira ria, maka sekali lagi itu hanyalah fans Chibi, (dan anehnya) saya. Karena saya sudah luar biasa putus asa mencari kegembiraan di tengah gurun yang gersang. Ketika rasa haus dan lapar mulai menyerang, apapun terlihat lezat.

Troll

Jumat, 30 Maret 2012

REVIEW : HI5TERIA



"Jika kepala terlepas dari ragamu, carilah wanita berbadan dua. Atau bayi yang masih suci.." - Vita

Lima sutradara, lima rasa takut, lima mimpi buruk. Proyek impian dari Upi Avianto ini mungkin akan mengingatkan Anda pada Phobia 2 dari Thailand atau Takut dari dalam negeri. Film bergenre horror dengan konsep omnibus. Namun pada dasarnya, Hi5teria memiliki semangat yang sama dengan FISFiC Vol. 1 yang lahir dari INAFFF tahun lalu, sutradara-sutradara pendatang baru memegang kendali di setiap segmen sementara Upi Avianto memantau dari bangku produser. Lagi-lagi, seperti halnya FISFiC, Hi5teria tidak memiliki benang merah yang mengaitkan antar satu segmen dengan segmen lainnya, kesamaan hanya terletak pada karakter utama yang didera terror adalah wanita, dan adanya twist yang terselip di penyelesaian masalah. Kelima wanita yang ‘sial’ tersebut adalah Tara Basro, Maya Otos, Luna Maya, Imelda Therinne, dan Ichi Nuraini, sedangkan posisi ‘algojo’ ditempati oleh Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, dan Harvan Agustriansyah. Premisnya menarik, mencoba mengangkat kisah-kisah mistis yang beredar di sekitar kita.

Tara Basro dijadikan sebagai tumbal pertama. Dia adalah Sari, dalam segmen Pasar Setan, yang terpisah dari kekasihnya saat mendaki gunung. Tersesat di hutan, Sari bertemu dengan Zul (Dion Wiyoko). Mereka berdua terus menerus melewati jalan yang sama, tidak kunjung menemukan jalan setapak yang membawa mereka keluar dari hutan. Suara-suara aneh mulai menghantui. Sebagai sebuah pembuka, Pasar Setan menjanjikan. Ketegangan dibangun secara perlahan-lahan. Adriyanto Dewo sanggup mengimbangi kepiawaian Affandi Abdul Rachman saat menggarap Pencarian Terakhir. Endingnya pun terasa pas, malah saya menganggapnya ini adalah ending terbaik dari semua segmen. Meski tidak semencekam segmen-segmen berikutnya, Pasar Setan memberikan kengerian yang nyata terutama bagi para pendaki gunung. Secara personal, saya memilih segmen ini sebagai favorit saya karena pengalaman pribadi dimana saya beberapa kali mengalami sebuah mimpi buruk dimana saya selalu kembali ke tempat yang sama sekalipun telah berjalan jauh. Sulit untuk tidak jatuh cinta dengan Pasar Setan jika menyukai Pencarian Terakhir maupun Dead End.

Sementara Wajang Koelit buatan Chairun Nissa yang memasang Maya Otos sebagai wartawan asing yang tengah melakukan riset mengenai wayang kulit di sebuah daerah di Jawa Tengah malah kurang menggigit. Kedekatan setting seharusnya mampu menegakkan bulu roma saya, namun pada kenyataannya segmen ini tidak berjalan sesuai harapan, jalan ceritanya mudah sekali ditebak. Jika ada yang membuatnya terasa menakutkan, maka itu berkat instrumen musiknya. Wajang Koelit seperti berusaha untuk mengikuti jejak Titisan Naya, dan twist yang disisipkan membuatnya terkesan dipaksakan. Permasalahan yang sama juga menimpa dua segmen berikutnya, Kotak Musik dan Loket. Dalam Kotak Musik, Luna Maya mengalami serangkaian peristiwa aneh yang memaksanya untuk mau tidak mau memercayai hal-hal gaib. Billy Christian menawarkan sebuah premis biasa yang dieksekusi dengan cukup apik, tetapi tensi ketegangan mulai merosot semenjak Luna Maya diikuti oleh hantu anak kecil. Jika ada yang membuat segmen ini menonjol adalah Luna Maya yang terlihat lebih cantik dari biasanya serta sanggup berakting menawan. Dan saya suka sekali setiap dia melontarkan dialog, “mbok, bikin kaget!”.

Palasik dari Nicho Yudifar menebar kengerian kepada penonton melalui mitos supernatural masyarakat Minangkabau. Diantara segmen-segmen lainnya, Palasik adalah yang terkuat. Imelda Therinne yang sedang hamil besar diajak berlibur oleh suaminya yang sabar dan anak tirinya, Poppy Sovia, yang keras ke sebuah villa. Liburan yang seharusnya damai, menenangkan, dan membuat pikiran terasa jernih justru membuat Imelda Therinne tergoncang setelah dia melihat sebuah kepala terbang. Setelah pembukaan yang memancing rasa penasaran, Nicho Yudifar lantas menggiring kita ke dalam teror yang kian mengerikan setiap menitnya. Visualisasi setan yang menyeramkan namun tidak banci tampil menambah daya tarik tersendiri. Pun begitu, penonton dituntut untuk mencari tahu sendiri apa makna dari ‘Palasik’ karena selama film berlangsung, hanya secuil informasi yang diberikan. Menginjak segmen terakhir, Loket, tingkat kesulitan permainan ditingkatkan. Harvan Agustriansyah menyajikan sebuah tayangan yang mendebarkan, dan membuat penonton harap-harap cemas. Wanita sial di segmen ini adalah Ichi Nuraini, petugas penjaga loket parkiran basement di sebuah gedung yang mengalami malam yang tidak mengenakkan. Tidak banyak dialog disini. Kengerian dibangun melalui suasana parkiran yang sunyi sepi nan gelap. Cukup lama penonton ditempatkan dalam posisi yang tidak menyenangkan, dibiarkan menduga-duga sendiri kapan teror yang sebenarnya akan datang. Ketika apa yang dinanti-nantikan oleh penonton akhirnya datang, tensi segera saja menukik turun. Penyelesaiannya membuat saya tidak habis pikir. Haruskah diberi twist?

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi setiap segmen di Hi5teria, kenapa twist ending menjadi sesuatu yang wajib dipergunakan? Tidak masalah jika pemakaiannya tepat seperti dalam kasus Pasar Setan atau Palasik, tapi itu akan menjadi bumerang bagi filmnya sendiri apabila dipaksakan untuk tampil, seperti yang terjadi dalam Wajang Koelit, Kotak Musik, dan Loket. Malah akan lebih terasa mencekam, dan tentunya riil, apabila dibiarkan apa adanya. Tidak semua film horror perlu diberi twist ending. Pun begitu, saya cukup puas dengan kinerja dari sutradara-sutradara muda di Hi5teria yang terlepas dari hasil akhirnya yang bagus atau mengecewakan. Langkah seperti yang dilakukan oleh Upi Avianto ini patut mendapat apresiasi lebih mengingat ini merupakan sebuah kesempatan baik untuk menemukan sutradara muda yang memiliki bakat terpendam. Apabila ada kekurangan disana-sini, tentu masih dapat dimaklumi. Setidaknya, Hi5teria telah memberikan sebuah angin segar kepada masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur bersikap skeptis terhadap film horor lokal yang semakin lama kian tak berotak.

Acceptable


Rabu, 21 Maret 2012

REVIEW : JOHN CARTER


"When I saw you, I believed it was a sign... that something new can come into this world."

Ketika rekan seperjuangannya di Pixar, Brad Bird, melewati masa transisi dari film animasi 3D ke film live action dengan mulus melalui Mission: Impossible
– Ghost Protocol, maka tidak halnya dengan Andrew Stanton. Film live action perdananya, John Carter, adalah adaptasi dari Princess of Mars yang merupakan bagian dari novel berseri, Barsoom, karangan Edgar Rice Burroughs yang selama ini Anda kenal sebagai pencipta Tarzan. Berbeda dengan “saudaranya” yang mengalami nasib baik dalam hal adaptasi, John Carter justru terseok-seok. Sempat menjadi proyek yang selalu mengembara dari satu tangan ke tangan lain, dan pada akhirnya tercatat sebagai salah satu “development hell” terlama dalam sepanjang sejarah sinema, proyek mendapatkan lampu hijau setelah Disney mengakuisisi hak ciptanya. Disuntik dana sebesar $250 juta, Andrew Stanton membidani sebuah proyek yang megah. Belum apa-apa, banyak kalangan mencibir. Disney dinilai terlalu percaya diri mengingat John Carter tidak terlalu dikenal oleh publik di luar Amerika. Dengan dana sebesar itu, dan melihat kondisi ekonomi saat ini, apa sanggup John Carter balik modal? Pertanyaan yang lebih penting, akankah hasil akhirnya semegah yang diharapkan oleh para penonton?

Secara garis besar dapat dituliskan bahwa John Carter berkisah tentang veteran Perang Sipil bernama John Carter (Taylor Kitsch) yang ‘terlempar’ ke Mars setelah berusaha menghindari kejaran suku Indian. Saat sesosok makhluk asing datang dari planet seberang, rupawan, perkasa, dan bisa terbang, maka tidak ada alasan untuk menyiksanya. Carter yang menjalin hubungan baik dengan makhluk Mars berkulit hijau yang membuat saya jijik, Tars Tarkas (Willem Dafoe), dan putri Mars yang aduhai, Dejah Thoris (Lynn Collins), langsung mengubah statusnya dari tawanan menjadi pahlawan dalam waktu sekejap. Misinya, menyelamatkan Mars dari Sab Than (Dominic West), penguasa Zodanga yang kejam yang mengancam akan menyulut peperangan apabila Dejah dari Helium menolak untuk menikahinya. Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai mengemuka setelah Carter menjelajahi Mars. Apakah masyarakat Barsoom (Mars) selain kekurangan air juga kekurangan kain? Kasihan John Carter yang sepanjang film harus rela bertelanjang dada sehingga dituduh sebagai eksibisionis. Dan sebagai sebuah planet dimana teknologi telah jauh berkembang pesat melewati Jarsoom (Bumi), Barsoom enggak banget. Lihat saja cara mereka berperang, masih memakai pedang cuy! Yang membuat saya tidak habis pikir, mengapa hewan super lamban masih dijadikan alat transportasi? Saya mengerti jika bangsa Tharks menolak untuk terbang, tapi mbok ya bikin alat transportasi darat yang memadai.

Untuk ukuran sebuah film dengan bujet raksasa, efek khusus dari John Carter tergolong kurang bombastis dan telah kita lihat berulang kali di film-film fiksi ilmiah sebelum ini. Tidak ada inovasi. Bandingkan dengan Transformers: Dark of the Moon yang memiliki beberapa adegan yang mencengangkan. Di beberapa bagian pengerjaannya masih tampak kasar walaupun tampilan Helium dan adegan peperangannya terasa megah, dan 3D-nya pun tak sehebat Hugo. Sekalipun di lini teknis tak sehebat yang diharapkan, Stanton mampu mewujudkan tujuan utama John Carter, yakni menghibur penonton. Ya, saya mengakui bahwa film ini ternyata mampu membawa saya ke beberapa momen menyenangkan dan kepenatan dalam memikirkan beban hidup yang kian menumpuk pun hilang. Bukan yang terbaik dalam hal memuaskan penonton, namun John Carter ternyata tidak seburuk yang diperkirakan. Tentu saja ini belum termasuk dengan sektor naskah. Jika Anda berusaha untuk menilai film ini dari sudut pandang cerita, maka kemungkinan besar Anda akan langsung putus asa. Naskah yang dikerjakan secara keroyokan oleh Stanton, Mark Andrews, dan Michael Chabon, luar biasa menggelikan. Jika mengutip ucapan yang sering terlontar dari mulut salah satu teman, “film iki absurd tenan!” Tapi toh bukan ini yang dicari oleh penonton kebanyakan. Keanehan jalan cerita dari John Carter malah menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Memasang ekspektasi yang serendah mungkin terhadap film ini ternyata membawa keuntungan. Apabila Anda ingin bersantai menghabiskan waktu luang di bioskop bersama teman atau orang terkasih, maka John Carter adalah pilihan yang tepat. Semrawut, tanpa otak, namun menghibur.

Acceptable


Senin, 19 Maret 2012

REVIEW : HUGO


" If you've ever wondered where your dreams come from, you look around... this is where they're made."

Sulit untuk tidak mencintai Hugo. Ini adalah sebuah surat cinta yang ditujukan oleh Martin Scorsese khusus untuk sinema. Isinya berupa ungkapa
n hati dari seseorang yang sangat mengagumi keindahan dan magis dari sebuah film. Sebagai pecinta film, rasanya hampir mustahil tidak terpukau dengan film terbaru dari sineas spesialis film-film bertemakan gangster dan kekerasan ini. Wujud kecintaannya terhadap sinema, dan untuk pertama kalinya setelah hampir 50 tahun berkarir, diwujudkan dalam bentuk film untuk segala umur! Tidak tanggung-tanggung, Hugo hadir dalam versi 3D! Selalu ada pertama kali bagi setiap orang. Keputusan Scorsese untuk menjajal ranah baru tentu bukannya tanpa alasan atau sekadar mengikuti tren belaka. Dengan membesut film keluarga, tentu pasarnya akan lebih luas sehingga pesan yang ingin disebarkan dapat diterima oleh banyak orang dari setiap lapisan usia. Pemakaian 3D pun bukan hanya sekadar gimmick, melainkan dibutuhkan untuk membuat Hugo terasa lebih emosional, lebih nyata, dan dekat dengan hati. Simak saja opening scene-nya yang luar biasa cantik. Sekalipun ini film debutnya dalam 3D, Scorsese telah terlihat seperti maestro. Dia memerlihatkan kepada dunia bagaimana seharusnya sebuah film 3D dibuat.

Naskah dari John Logan berpijak pada novel unik karangan Brian Selznick, The Invention of Hugo Cabret. Yang perlu dicatat, petualangan yang diusung oleh Hugo ini tidak sedikitpun mendekati Harry Potter, justru lebih mirip dengan Oliver Twist. Maka mengharapkan Hugo Cabret berpetualang di dunia fantasi hanya akan membuat Anda mendengus kecewa. Alurnya cenderung realistis. Bisa dikatakan, Hugo adalah cerminan hidup dari sang pembesutnya, dan bisa jadi Anda. Bukan mengenai kehidupan sebagai bocah yatim tunawisma, melainkan bagaimana sihir dari sinema mengubah jalan hidup seseorang. Hugo Cabret (Asa Butterfield) tidak memiliki siapapun dalam hidupnya. Ayahnya (Jude Law) tewas dalam sebuah kebakaran di museum saat sedang bekerja. Setelah sang ayah tiada, Hugo diasuh oleh pamannya yang pemabuk, Claude (Ray Winstone). Dia dipaksa tinggal di stasiun, lebih tepatnya diantara dinding-dinding stasiun, dan membantu Claude merawat jam-jam yang berada di stasiun Gare Montparnasse, Paris, Prancis. Belum reda duka Hugo atas kepergian sang ayah, Claude pun pergi tak tahu rimbanya. Jadilah Hugo yang kini bertanggung jawab atas jalannya jarum-jarum jam secara teratur.

Hidup seorang diri di sebuah stasiun yang besar tentu bukanlah perkara mudah. Untuk menyambung hidup, Hugo menjadi pencuri. Inspektur Gustave (Sascha Baron Cohen) menjadi musuh bebuyutannya. Bagaikan Tom dalam Tom & Jerry, Gustave seakan tak pernah mengenal kata menyerah untuk menangkap Hugo dan mengirimkannya ke panti asuhan seperti yang telah dia lakukan kepada anak jalanan sebelumnya. Selain Gustave, Hugo pun harus berhadapan dengan pemilik toko mainan yang sinis (Ben Kingsley) yang mengambil paksa buku catatan miliknya. Demi mendapatkannya kembali, si bocah gelandangan ini meminta bantuan kepada Isabelle (Chloe Grace Moretz). Isabelle menyanggupi, dengan satu syarat, dia ingin Hugo mengajaknya bertualang. Petualangan inilah yang dinanti-nanti oleh para pecinta film. Martin Scorsese mengajak para penonton untuk memelajari sejarah sinema awal. Ayah Hugo dikisahkan pernah terkesima dengan sebuah film berjudul Voyage to the Moon buatan George Méliès. Sutradara asal Prancis ini merupakan salah satu pionir lahirnya sinema. Voyage to the Moon menjadi karyanya yang paling terkenal dan merupakan film fiksi ilmiah pertama yang dibuat. Karakter Méliès ini memegang peranan yang sangat penting dalam Hugo.

Tujuan utama dari Hugo Cabret adalah menemukan satu komponen yang hilang dari automaton, robot berbentuk manusia yang menjadi proyek ambisius sang ayah. Apabila Hugo mampu mendapatkannya, maka sebuah tabir misteri terungkap. Untuk ukuran film keluarga, sayangnya, Hugo masih terbilang cukup berat untuk dinikmati bagi anak-anak sekalipun Scorsese sangat terampil dalam menyatukan nuansa drama yang menyentuh, romansa yang syahdu, komedi yang menggelitik, dan sedikit aksi dengan dukung efek khusus yang memesona. Paruh awalnya terasa kurang menggigit, namun memasuki babak petualangan Hugo dan Isabelle, plot mulai terasa cihuy. Yang menjadikan Hugo menarik adalah ketepatan dalam memasukkan serangkaian kejadian bersejarah ke dalam sebuah kisah fiksi. Perkenalan dengan George Méliès adalah bagian terbaik dari film ini. Awalnya, beliau adalah seorang pesulap dan pembuat mainan. Tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Lumiere bersaudara dalam Arrival of a Train at La Ciotat, Méliès banting setir menjadi sineas. Jatuh bangun dari sang pionir digambarkan cukup akurat oleh Scorsese, termasuk dengan memasukkan potongan-potongan film buatan Méliès. Sebuah suguhan yang menakjubkan dari sutradara peraih Oscar melalui The Departed ini. Hugo menunjukkan bagaimana indahnya sebuah film tatkala dikerjakan dengan segenap rasa cinta. Bersanding dengan The Artist yang tidak kalah cantiknya, Hugo adalah sebuah pilihan yang tepat bagi Anda yang ingin merayakan sinema.

Outstanding

Kamis, 15 Maret 2012

REVIEW : NEGERI 5 MENARA


"Man Jadda Wajada!"

Negeri 5 Menara
memberikan secercah harapan kepada perfilman lokal yang lesu dalam mendulang penonton. Tahun lalu, Surat Kecil Untuk Tuhan yang
dinobatkan sebagai film terlaris tak sanggup menggapai angka 800 ribu penonton. Sungguh memprihatinkan. Berangkat dari sebuah novel laris yang mengumpulkan jutaan pembaca dari berbagai pelosok negeri, Negeri 5 Menara berpotensi mengulang kesuksesan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Jika harapan itu dirasa terlalu muluk-muluk, setidaknya mampu mengimbangi raihan Sang Pencerah. Dikomandoi oleh Affandi Abdul Rachman yang pernah menghasilkan beberapa film apik, Pencarian Terakhir, Heart-Break.com, Aku atau Dia? dan The Perfect House, dan naskah ditangani oleh penulis naskah jempolan, Salman Aristo, film yang mengisahkan tentang perjuangan enam santri di sebuah pondok di Ponorogo ini berpotensi menjadi sebuah tontonan yang berkualitas. Namun tentu saja duo ini mengemban tugas berat mengingat mereka harus memadatkan novel setebal 416 halaman menjadi sebuah film berdurasi 120 menit saja. Apabila mereka sanggup membuat para penggemar novelnya merasa terpuaskan dan penonton yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai novel karya Ahmad Fuadi mendadak tertarik untuk membaca novelnya, maka tujuan berhasil tercapai. Yang menjadi pertanyaan, apakah tujuan tersebut berhasil tercapai?

Affandi Abdul Rachman memulai film dari sebuah desa di pinggir Danau Maninjau dengan memerlihatkan kehidupan Alif (Gazza Zubizareta) yang serba sederhana dengan Amak (Lulu Tobing) dan Ayah (David Chalik). Sekalipun hidup dalam struktur sosial konvensional, Alif dan sahabatnya, Randai (Sakurta Ginting), tidak berpikiran seperti rekan-rekan sebayanya, mereka memiliki mimpi yang tinggi. Alif berniat melanjutkan pendidikan ke sebuah SMA di Bandung, dilanjut dengan memasuki kampus idamannya, ITB. Sayangnya, Amak tidak sepemikiran dengan putra sulungnya ini. Amak menginginkan Alif untuk memasuki pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Pondok Madani. Walau terasa berat harus merelakan mimpinya terkubur, Alif merasa wajib mendengarkan perkataan orang tuanya. Bagaimanapun, orang tua mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya. Ditemani sang Ayah, Alif berangkat mengikuti ujian ke Ponorogo. Hatinya remuk mengetahui keadaan pondok yang jauh dari kesan ideal, belum lagi dengan keharusan mundur setahun demi mengikuti kelas adaptasi. Alif mencoba untuk bertahan, setidaknya hingga tahun pertama berlalu. Surat-surat yang dikirim oleh Randai semakin menggoda iman Alif untuk segera kabur ke Bandung. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Pondok Madani terasa bagaikan rumah kedua yang nyaman bagi Alif terlebih dengan kehadiran Baso (Billy Sandy), Atang (Rizky Ramdani), Said (Ernest Samudera), Raja (Jiofani Lubis), dan Dulmajid (Aris Putra). Mereka berenam kerap berkumpul di bawah menara masjid dan menamakan diri mereka sebagai “Sahibul Menara”.

Tidak seperti Laskar Pelangi yang mempunyai grafik konflik yang tergambar dengan tegas, Negeri 5 Menara cenderung adem ayem dalam bertutur, mengalir dengan tenang bagaikan tengah menaiki sebuah perahu yang melintasi sungai dengan pemandangan yang menyejukkan mata ditemani dengan rekan-rekan yang menyenangkan. Meski tenang tanpa tantangan, perjalanan tersebut tak terasa membosankan. Konflik batin yang dihadapi Alif pun tidak lama-lama dibahas, segera terselesaikan ketika film memasuki menit ke-20. Selebihnya, Affandi Abdul Rachman menyuguhkan tentang suka duka menjadi santri pondok yang sejujurnya cukup membuat saya tergoda untuk menjajalnya. Demi mempertahankan mood penonton, maka dirasa perlu membuat cabang cerita baru. Baso yang tidak terlalu pandai dalam Bahasa Inggris diminta rekan-rekannya untuk mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, atau ketika Alif menjadi wartawan di Koran pondok dan terkesima dengan kecantikan Sarah (Eriska Rein), keponakan dari Kyai Rais (Ikang Fawzi). Ditampilkan secara jujur nan polos, cabang-cabang ini sanggup menggelitik penonton. Kedekatannya dengan kehidupan kita menjadikan Negeri 5 Menara terasa membumi dan lezat untuk disantap. Tertawa geli melihat para santri dihukum oleh Ustadz mereka lantaran telat ke masjid, grogi saat berhadapan dengan santriwati, atau the power of kepepet, ide-ide cerdas yang muncul saat kepepet. Ada dua kemungkinan saat penonton tergelak; heran melihat kelakuan para santri atau pengalaman pribadi.

Namun dari semua itu, Negeri 5 Menara memberikan sebuah mentera sakti bagi siapapun yang ingin mencapai kesuksesan. Di kelas hari pertamanya, Alif dikenalkan dengan mantera “Man Jadda Wajada!” oleh Ustad Salman (Donny Alamsyah), yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Disinilah yang membedakan Negeri 5 Menara dengan film sejenis bertema “zero to hero” yang menyoroti perjuangan siswa dari kampung menjadi orang sukses. Segala sesuatu yang ada di dunia tidak dapat diraih secara instan, butuh perjuangan yang seringkali penuh lika liku. Sahibul Menara memiliki impian untuk menaklukkan dunia. “Kita bikin janji di menara ini, nanti kita akan bertemu dan foto dengan menara kita masing-masing,” kata Baso kepada rekan-rekannya. Impian dari Sahibul Menara tidak diperlihatkan mendadak tercapai begitu saja. Beberapa kali mereka meneriakkan mantra “Man Jadda Wajada” tatkala hati mulai dipenuhi dengan keraguan.

Sekalipun berasal dari sebuah pesantren yang tidak terlalu terkenal, Sahibul Menara tidak segan memiliki impian yang besar. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang bijak, “jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar.” Sayangnya, keterbatasan durasi memaksa Affandi Abdul Rachman memangkas proses perjuangan tokoh-tokoh kesayangan kita ini dalam menggapai sukses. Endingnya muncul secara prematur. Saat layar tiba-tiba menghitam memunculkan nama-nama di jajaran pemain dan kru, secara spontan saya nyeletuk, “gitu doang?”. Endingnya terasa datar dan janggal. Bagaikan tengah menaiki roller coaster yang memacu adrenalin, ternyata kita hanya dibawa dalam satu putaran saja. Tak puas, menginginkan lebih. Pun begitu, Affandi Abdul Rachman dan Salman Aristo telah berhasil menyuguhkan salah satu tontonan terbaik di awal tahun. Lucu, mengharukan, dan inspiratif. Negeri 5 Menara sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Acceptable

Minggu, 11 Maret 2012

REVIEW : THE ARTIST


"I won't talk! I won't say a word!" - George Valentin

Sesuatu yang wajar jika kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting. Bagaimana tidak, di era ketika para sineas dunia mengeksplorasi kecanggihan teknologi dengan pemanfaatan 3D serta efek khusus secara gila-gilaan, Hazanavicius justru nekat membesut sebuah film bisu dan hitam putih. Sebuah pertaruhan yang sangat berani. Siapa yang rela menyisakan waktu dan uangnya demi menyaksikan sebuah film hitam putih nan bisu selain para kritikus dan penggila film? Rasanya, The Artist pun tidak akan sepopuler sekarang apabila Academy tidak mengganjarnya dengan 5 piala Oscar, termasuk
Film Terbaik. Bukan bermaksud pesimis, hanya mencoba untuk bersikap realistis. Ketika 21 Cineplex merilisnya di bioskop-bioskop besar jaringannya, masih dirasa perlu bagi mereka untuk mencantumkan peringatan kepada calon penonton melalui poster, “film ini hitam putih dan tanpa dialog”, sebagai antisipasi agar peristiwa “ganti rugi karena merasa tertipu” seperti yang terjadi di Inggris tidak kembali terulang. Dengan peringatan seperti ini, belum apa-apa banyak masyarakat yang merasa terintimidasi. Sungguh disayangkan, padahal The Artist adalah sebuah film yang luar biasa indah.

The Artist membahas mengenai era kejayaan film bisu, masa transisi ke film bersuara hingga bagaimana seorang aktor film bisu menyikapi masa transisi ini. Aktor film bisu yang dimaksud adalah George Valentin (Jean Dujardin), seorang aktor yang menyerupai George Clooney di masa kini yang film-filmnya senantiasa mencetak box office dan para penggemar mengelu-elukannya. Hidupnya bisa dibilang sempurna, dia telah memiliki semua apa yang dibutuhkan. Entah karena sombong atau tak siap, ketika pemilik studio, Al Zimmer (John Goodman), mengutarakan niatnya untuk membuat film bersuara, Geroge Valentin justru tak menganggapnya serius. Dia tetap keukeuh bahwa film bisu masih diminati. Didepak dari studio, George Valentin membuat film bisunya sendiri di tengah terjangan film bersuara yang digila-gilai. Anak didiknya, Peppy Miller (Berenice Bejo), kian melejit karirnya, sementara Valentin perlahan mulai dilupakan setelah filmnya flop. “Saatnya memberi jalan pada yang muda,” begitu ujar Peppy. Hidupnya pun hancur. Istri yang dicintainya, Doris (Penelope Ann Miller) pergi meninggalkannya. Hanya anjing peliharaannya, Jack, dan si supir, Clifton (James Cromwell) yang masih setia mendampingi.

Pernahkah Anda menitikkan air mata saat menonton sebuah film karena saking indahnya? Saya pernah beberapa kali, dan The Artist adalah salah satunya. Film arahan sutradara Prancis, Michel Hazanavicius, ini tidak hanya indah, tetapi juga unik, cerdas, lucu, lembut, dan menyentuh. Tanpa perlu memaksa para pemainnya merengek-rengek sesenggukan, air mata penonton tetap berhasil tumpah. Bahkan untuk pertama kalinya, di bioskop Semarang, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana The Artist sanggup membuat sebagian besar penonton terharu dan, yang lebih luar biasa lagi, memberikan standing ovation setelah film berakhir! Sebuah pemandangan yang langka. Tidak menyangka efeknya akan sebesar itu. Hanya dengan bermodalkan cerita yang sederhana dan intertitle sebagai pengganti dialog, Hazanavicius sanggup membuat penonton terkoneksi dengan film arahannya. Sekalipun ini adalah film bisu, bukan berarti The Artist sepi total yang menyebabkan suara Anda saat berbisik di dalam studio terdengar bagaikan Dolby Digital. Musik gubahan Ludovic Bource yang menawan menemani sepanjang perjalanan Anda menyaksikan sekelumit sejarah film bisu.

Beruntung The Artist diperkuat oleh pemain-pemain yang hebat. Jean Dujardin sanggup mengaduk-aduk emosi penonton, memberikan perasaan yang tidak menentu kepada Valentin. Terkadang dia adalah sebuah karakter yang menyenangkan, tetapi terkadang menyebalkan luar biasa terutama saat dia menolak bergabung dengan generasi anyar, namun dia pun sebenarnya patut dikasihani. Pesonanya yang kuat mengingatkan pada Humphrey Bogart dan Douglas Fairbanks. Sementara Berenice Bejo tampil enerjik sebagai gadis muda penuh mimpi yang ceria dan menyenangkan, Peppy Miller. Bintang pendukungnya tidak terlalu menonjol karena tertutup oleh pesona Dujardin dan Bejo, kecuali Uggie yang memerankan Jack si anjing yang sangat setia kepada majikannya. Mungkin bagi sebagian penonton akting dari Dujardin maupun Bejo terkesan berlebihan, dan naskahnya pun klise tiada tara bak melodrama kebanyakan. Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya menjajal ‘film bisu beneran’ terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Artist. Ini adalah sebuah homage terhadap era film bisu yang terbungkus elegan dan berusaha untuk setia kepada ‘tuannya’ layaknya Clifton dan Jack.

Salah satu wujud kesetiaan Hazanavicius nampak pada tempo film yang mengalir ringan menyenangkan bak film bisu Hollywood tahun 1920-an, sekalipun ini sebenarnya adalah produksi Prancis yang terkenal lambat dalam menuturkan alur film-filmnya. Selain itu, film ini pun dibuat menggunakan aspek rasio layar 1.33:1 yang umum digunakan oleh film bisu. Dan saya ingin mengatakan kepada para pembaca yang budiman bahwa saya tidak sekalipun mengintip jam tangan! Bukti bahwa saya sangat menikmati film ini. Rasanya saya ingin menontonnya lagi, lagi, dan lagi. Sayangnya belum sempat saya mewujudkan keinginan saya, The Artist sudah tergusur dari bioskop. Menontonnya ulang di layar laptop atau televisi tidak akan memberikan pengalaman menonton yang sama. The Artist lebih enak dinikmati di layar bioskop. Sungguh pedih melihat film sebrilian ini kurang diminati oleh masyarakat hanya karena ini adalah ‘film bisu dan hitam putih’. Cobalah terlebih dahulu, Anda dijamin tidak akan menyesalinya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘silence is golden’? Dan pepatah itu cocok sekali diberikan kepada The Artist. What a wonderful movie to celebrate cinema!

Outstanding



Jumat, 09 Maret 2012

Short Reviews: SAFE HOUSE & GHOST RIDER: SPIRIT OF VENGEANCE

Safe House

Film keempat dari Daniel Espinosa, Safe House, berkisah mengenai mantan anggota CIA yang membelot, Tobin (Denzel Washington), yang diboyong ke rumah perlindungan setelah secara tiba-tiba memerlihatkan batang hidungnya di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Cape Town, Afrika Selatan. Kemunculannya menimbulkan tanda tanya besar. Belum sempat pihak CIA mengorek informasi lebih dalam dari Tobin, sebuah kelompok bersenjata mendobrak masuk dan mengobrak abrik rumah perlindungan. Sang penjaga rumah, Matt (Ryan Reynolds), pun ikut terseret ke dalam kasus dan terpaksa melindungi Tobin dari berbagai pihak yang mengincarnya. Beruntung, jajaran pemainnya solid terutama Denzel Washington yang berakting meyakinkan sebagai Tobin, sehingga mampu menyelamatkan Safe House dari kebosanan lantaran naskahnya yang klise dengan alur yang mudah ditebak.

Acceptable
Ghost Rider : Spirit of Vengeance

Hasil box office seluruh dunia Ghost Rider yang lumayan membuat Marvel Knights dan Nicolas Cage kelewat percaya diri untuk melanjutkan kisah si tengkorak penunggang motor sekalipun para kritikus mencercanya. Dalam Ghost Rider : Spirit of Vengeance, sebuah sekuel yang seharusnya tidak perlu dibuat, Johnny Blaze (Nicolas Cage) bertugas untuk melindungi seorang bocah, Danny (Fergus Riordan), yang diburu oleh iblis (Ciaran Hinds) karena diyakini sebagai objek keturunan setan. Sepanjang film, rasanya saya ingin sekali melemparkan minuman karbonasi saya ke layar. Neveldine/Taylor membuat film pertamanya terasa seperti sebuah mahakarya. Ghost Rider : Spirit of Vengeance yang dibentuk dari sebuah naskah yang nampaknya dibuat oleh seseorang yang sedang teler dipenuhi dengan adegan-adegan dan humor-humor bodoh menyebalkan, alih-alih menyenangkan, kian “dipermanis” dengan efek khusus yang memprihatinkan serta para aktor yang bermain canggung. Film yang saya rekomendasikan bagi siapapun yang kebingungan dalam menghabiskan setumpuk uangnya. Dan saya bahkan belum menyebutkan 3D-nya yang palsu.

Troll

Kamis, 08 Maret 2012

REVIEW : THE GREY



"Live or Die on This Day"

Setelah mendapatkan kembali putri kesayangannya yang sempat raib, Liam Neeson berjuang untuk merebut identitas dirinya yang hilang di dataran Eropa yang dingin. Nah, ketika identitas diri telah berada dalam genggaman, apa yang kembali hilang dari Liam Neeson? Pertanyaan yang lebih penting, apakah Neeson masih berani kembali ke Eropa setelah dua peristiwa buruk tersebut menimpa dirinya? Dengan bantuan rekan lama, Joe Carnahan, yang pernah bekerja sama melalui The A-Team, Neeson akhirnya memutuskan untuk “move-on”. Tidak ada lagi yang hilang, tidak lagi tamasya ke Eropa, dan tidak lagi berhubungan dengan Luc Besson. Pesona Ridley Scott nampaknya lebih menggoda. Terlebih lagi, kali ini setting diboyong ke tempat yang jauh lebih ekstrim, Alaska. Untuk naskah, Joe Carnahan mengadaptasi dari cerita pendek karangan Ian Mackenzie Jeffers yang berjudul “Ghost Walker”. Dengan adanya Alaska, ditambah dengan kecelakaan pesawat, serigala liar nan buas dan badai salju, The Grey menjanjikan sebuah premis yang sama sekali berbeda dengan Taken maupun Unknown. Terornya terasa lebih nyata.

John Ottway (Liam Neeson) bekerja di Alaska melindungi tim pengebor minyak dari ancaman serigala. Di hari terakhirnya bekerja, ketika dia telah siap untuk pulang, pesawat yang dinaikinya beserta puluhan pekerja lain jatuh menghantam tanah dengan keras. Hanya tujuh orang yang berhasil selamat. Dan, teror baru saja akan dimulai. Seakan belum cukup dengan hawa dingin yang menusuk hingga tulang, Ottway dan konco-konconya mendapat ancaman lain, serigala buas. . Menunggu pertolongan dari tim SAR bagaikan mimpi di siang bolong apalagi melihat fakta kondisi medan yang berat, badai salju yang tidak henti-hentinya menerjang, dan status sosial dari para survivor. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan menjauhi bangkai pesawat dan mencari kehidupan di hutan. Namun yang menjadi permasalahan utama, mereka tidak mengetahui dimana sarang gerombolan serigala. Salah perhitungan bisa berakibat fatal. Terlebih jumlah kawanan semakin berkurang ketika satu persatu terserang hipotermia dan para serigala kian mengganas.

Suatu kejutan yang menyenangkan ketika mengetahui bahwa The Grey ternyata jauh lebih lezat untuk disantap ketimbang Taken dan Unknown. Jalan ceritanya sedikit banyak memang mengingatkan pada Alive yang diangkat dari kisah nyata, hanya saja The Grey tidak melangkah sejauh itu. Di menit-menit awal, kisahnya cenderung tidak menarik untuk disimak. Saat menonton film ini, saya sama sekali buta mengenai jalan ceritanya karena tak sekalipun mengintip review maupun trailer. Maka ketika melihat John Ottway yang galau, dengan ‘penampakan’ istrinya yang sering kali tiba-tiba, saya sempat merasa apa yang akan terjadi berikutnya hanyalah pengulangan dari film-film Liam Neeson berikutnya. Ketika Joe Carnahan menggiring penonton ke dalam pesawat, pada saat inilah tensi perlahan mulai dibangun. Cara Carnahan mengemas adegan kecelakaan pesawat sungguh mengerikan, berkali-kali lipat lebih traumatis ketimbang Final Destination. Sebagai seseorang yang memiliki phobia terhadap pesawat terbang, ini jelas bukan sebuah gambaran yang menyenangkan. Saya sempat panik, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak melihat ke layar selama beberapa detik.

Memasuki alam Alaska yang ganas, The Grey berubah menjadi film yang sebaiknya dihindari oleh pengidap sakit jantung. Terlalu banyak adegan yang diiringi dengan dentuman musik yang mengagetkan. Serigala mengancam kapanpun dan dimanapun, tanpa pandang bulu. Seiring berjalannya film, tidak susah sebenarnya menebak bagaimana cara Joe Carnahan mengakhiri film. Kecerdikannya dalam menjaga intensitas dengan rapi adalah yang menjadi kunci utama mengapa The Grey kian menarik untuk diikuti setiap menitnya. Tidak ada kesan usang atau sekadar reka ulang belaka saat Carnahan mempersembahkan sebuah adegan yang nampaknya merupakan homage terhadap Cliffhanger. Tetap membuat gregetan. Menonton The Grey memang tidak ubahnya tengah melakukan olahraga jantung. Seperti apa yang telah dilakukan oleh Insidious terhadap saya tempo hari, The Grey pun sanggup membuat saya lemas setelah menontonnya di bioskop. Bukan film dengan jalan cerita yang memukau memang, namun The Grey mampu menjalankan tugasnya dengan apik dalam hal memuaskan penonton dari awal hingga akhir dengan ketegangan yang tiada henti dan tersusun rapi.

Exceeds Expectations


Jumat, 02 Maret 2012

REVIEW : THIS MEANS WAR



"Don't choose the better man, choose the man who makes you a better woman." - Trish

Bisa dimafhumi jika calon penonton berpikiran bahwa This Means War adalah sebuah film aksi komedi berbasis spionase apabila menilik dari tampilan poster, trailer, maupun sang pembesut, McG. Tidak keliru memang, hanya saja yang tidak mereka ketahui, ini juga merupakan sebuah film romantis. Tagline-nya yang menyebut “It’s Spy Against Spy” sesungguhnya telah mengindikasikan akan dibawa kemana film ini jika Anda jeli mengam
ati poster terutama pada penekanan kata Spy. Dengan mengintip jejak rekam dari sutradara bernama lengkap Joseph McGinty Nichol, ada baiknya Anda tak menaruh harapan yang muluk-muluk terhadap film ini. Kehadiran Reese Witherspoon dan Tom Hardy tidak menjamin apapun. Jika sejak awal Anda sudah terlanjur memasang ekspektasi yang tinggi, segera turunkan. Jangan mengharapkan sebuah tontonan cerdas menghibur dari sini karena Anda berada di tempat yang salah. This Means War adalah sebuah tempat bagi penonton yang mengharapkan tontonan menghibur tanpa harus memutar otak dengan keras, yang berarti dipenuhi dengan adegan-adegan klise nan bodoh.

Apakah itu berarti This Means War adalah sebuah film yang buruk? Itu tergantung dari sudut mana Anda menilainya. Yang jelas, film buatan McG ini bukanlah jenis film yang dibuat untuk memuaskan kritikus film. Naskah buatan duo Timothy Dowling dan Simon Kinberg cenderung dangkal dan tidak beraturan, namun terbilang lumayan karena masih menyimpan cukup banyak dialog cerdas. Sarat akan adegan yang menghibur, namun jauh dari kesan logis. Akan tetapi tentu saja Anda tidak berharap film ini akan memberikan susunan adegan yang menghindari pelecehan terhadap akal sehat, bukan? Plot utamanya saja sudah menggelikan. Seorang wanita mapan bernama Lauren Scott (Reese Witherspoon) secara tidak sengaja menjalin cinta dengan dua agen CIA, FDR (Chris Pine) dan Tuck (Tom Hardy), yang ternyata bersahabat baik. Terlalu banyak kebetulan. Tapi, hey, film Hollywood mana yang tidak dipenuhi dengan kebetulan, apalagi ini merupakan film komedi romantis dan sutradaranya adalah McG? Maka, ini masih bisa dimaafkan. Niat saya sejak awal terhadap film ini memang hanya sekadar mencari hiburan, jangan heran jika berbagai kelemahan dari This Means War masih bisa saya tolerir.

Pertemuan antara Lauren, FDR dan Tuck dimulai dari sahabat baik Lauren, Trish (Chelsea Handler), yang mendaftarkan Lauren ke sebuah situs kencan online menyusul kekesalan Lauren melihat mantan kekasihnya telah bertunangan. Di saat yang sama, Tuck pun mencoba mendaftar setelah melihat iklan situs kencan online di televisi. Disinilah Lauren dan Tuck berjumpa. Setelah merasa cocok satu sama lain, keduanya memutuskan untuk melakukan kopi darat. Entah sial atau beruntung, beberapa saat setelah Lauren menemui Tuck, secara kebetulan dia bertemu FDR yang menggodanya di sebuah rental video tanpa mengetahui bahwa Lauren adalah teman kencan sahabatnya. Dan, Lauren pun berada dalam posisi sulit. Dia kepincut dengan kedua pria ini. Tidak heran, karena mereka berdua adalah pria-pria yang seksi, menyenangkan, dan mapan. Seandainya Anda adalah Lauren, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan mengikuti langkah Lauren dengan mengencani mereka berdua? Atau Anda memutuskan untuk memilih salah satu pada saat itu juga? Yang Lauren tidak sadari, baik FDR maupun Tuck sama-sama telah mengetahui bahwa mereka mengencani wanita yang sama. Dan ini berarti perang!

Jika ada yang tidak bisa saya terima, maka itu adalah Reese Witherspoon. Jangan salah paham, saya bukan termasuk hater dari mantan istri Ryan Phillippe ini, justru sebaliknya, saya fans berat. Keberadaannya disini terasa tidak pas dilihat dari segi manapun. Setelah memenangkan Oscar berkat akting menawannya di Walk the Line, Reese Witherspoon justru mengalami stagnansi karir dengan memilih peran-peran aman bernada sama. Apa yang membedakan Lauren disini dengan Elizabeth di Just Like Heaven atau Lisa di How Do You Know? Nyaris tidak ada. Chemistry-nya dengan Tom Hardy dan Chris Pine pun kurang meyakinkan. Malahan, bromance antara Hardy dan Pine terasa lebih greget. Seandainya Witherspoon digantikan oleh aktris lain, rasanya tidak akan berdampak apapun terhadap film toh Lauren Scott seakan hanya difungsikan sebagai penggembira oleh tim penulis. This Means War, sekalipun tidak seburuk film-film komedi romantis Witherspoon paska Walk the Line, hanya akan membuat catatan karir Witherspoon terasa tak sedap untuk dipandang.

Acceptable

Senin, 13 Februari 2012

REVIEW : CHRONICLE


"Boys will be boys"

Apabila Anda hanya mengandalkan tampilan promosi, macam poster dan trailer, sebelum menyaksikan Chronicle, maka besar kemungkinan Anda
tidak akan tergugah untuk segera menyaksikannya di bioskop. Cukup menunggu DVD-nya saja. Jika Anda melakukannya, maka itu merupakan kesalahan tak termaafkan di awal tahun. Film layar lebar pertama dari Josh Trank ini memang tidak menawarkan premis yang menggoda, tiga remaja mendadak memiliki kekuatan khusus setelah menyentuh sebuah benda tidak dikenal. Sangat biasa, kalau tidak mau disebut klise, bukan? Dengan penawaran yang sedemikian sederhana, bukan berarti barang jualan dari 20th Century Fox ini kurang lezat untuk disantap. Dikemas dengan gaya found footage menjadikan Chronicle terasa enak untuk diikuti. Dan saya pun bernafas lega, “akhirnya found footage tidak melulu mengenai penampakan atau kerasukan setan.” Ya, duo Josh Trank dan Max Landis tidak membuat sebuah film horror, melainkan fiksi ilmiah tentang manusia berkekuatan khusus.

Saya akan mencoba untuk menjabarkan plot Chronicle dalam kalimat yang lebih panjang. Chronicle berkisah mengenai kehidupan siswa SMA, Andrew Detmer (Dane DeHaan), yang jauh dari kata menyenangkan. Ibunya sekarat, ayahnya pemabuk, dan Andrew kerap mendapatkan perlakuan kasar baik di rumah maupun di sekolah. Satu-satunya teman bagi Andrew adalah kamera video yang baru dibelinya, "I bought a camera and I'm filming things." Sepupu sekaligus teman masa kecilnya, Matt (Alex Russell), merasa perlu untuk mengajak Andrew menikmati hidup, terlebih ini adalah tahun terakhir mereka di SMA. Matt membawa Andrew ke sebuah pesta dimana dengan cepat mereka berteman dengan siswa populer, Steve (Michael B. Jordan). Alih-alih menikmati pesta, ‘The Three Musketeers’ ini asyik bermain ke hutan dan menemukan sebuah lubang menganga di tanah. Dasar ABG, rasa penasaran begitu kuat menyelimuti diri mereka sehingga tanpa pikir panjang mereka masuk begitu saja ke dalam lubang tersebut tanpa mengetahui apa yang menanti di dalam.

Jadi, ada apa di dalam lubang misterius tersebut? Tidak begitu jelas, namun benda tersebut berukuran besar, berwarna biru, dan mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Entah tidak pernah nonton film fiksi ilmiah, bodoh, atau memang bandel, mereka malah mendekati benda tersebut. Yang terjadi selanjutnya, Anda tentu sudah bisa menebaknya sendiri. Ketiga sahabat ini mendapatkan kekuatan khusus. Bagusnya, Max Landis tidak menjadikan ketiga karakter ini berseru “mari kita selamatkan dunia!” beberapa saat setelah mereka mendapatkan anugerah (atau bencana?). Layaknya remaja cowok kebanyakan, mereka malah asyik memanfaatkan kekuatan baru mereka untuk bermain-main. Mengintip celana dalam perempuan, menerbangkan benda-benda di sekeliling, hingga mencoba untuk terbang. Paruh awal, Chronicle terasa lucu, ringan, dan menyenangkan. Titik kulminasi terjadi tatkala kekuatan khusus ini ternyata tidak memberikan dampak yang positif bagi Andrew. Kehidupannya tidak lantas menjadi lebih baik. Paruh berikutnya, film pun berubah menjadi mencekam.

Josh Trank dan Max Landis mencoba untuk tetap bersikap realistis dengan tidak memberikan karakter antagonis yang haus kekuasaan dan menjadi musuh utama bagi para jagoan kita. Dalam Chronicle, setiap tokoh ditempatkan dalam posisi abu-abu. Kemarahan Andrew dapat kita pahami. Bahkan ketika dia berbalik menjadi tokoh antagonis, simpati kepadanya masih tersemat. Chronicle tidak hanya menjual adegan-adegan seru, duo Trank dan Landis pun memberikan komentar perihal bagaimana kekerasan di dalam rumah tangga dapat mempengaruhi kondisi psikologis seorang anak. Ini menjadikan Chronicle terasa lebih istimewa. Jika ada yang membuat saya merasa tidak nyaman, maka itu adalah gaya found footage yang terkadang suka kebablasan. Sekalipun Andrew menganggap kamera video adalah soulmate-nya dan Casey (Ashley Hinshaw) menganggap setiap detik perlu didokumentasikan, rasanya kok berlebihan ya kemanapun mereka pergi selalu menenteng kamera? Tapi, film bergaya found footage mana sih yang tidak berlebihan? Paling tidak, Josh Trank tidak menggarap Chronicle seenak udelnya. Jalinan kisahnya tersusun rapi, akting para pemainnya natural, dan efek khusus pun diberikan sesuai dengan kebutuhan. Sekalipun bukan yang terbaik dari genrenya, Chronicle menjadi pembuka tahun 2012 yang manis. Trust me, go see it at the cinema!

Exceeds Expectations

Minggu, 29 Januari 2012

20 FILM TERBAIK 2011 VERSI CINETARIZ


Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa, kita sudah hampir menginjak bulan kedua di tahun 2012. Sepertinya baru kemarin saya menghirup udara pergantian tahun 2011 dan tiba-tiba saja sekarang saya sudah berada di tahun yang berbeda. Ada cukup banyak kesan manis serta pahit yang saya rasakan sepanjang tahun 2011, khususnya yang berkaitan dengan film. Anda tentu masih ingat bagaimana bioskop-bioskop Indonesia sempat mengalami masa-masa suram di kuartal pertama dan kedua tahun 2011 ketika pasokan film dari studio-studio raksasa Hollywood terhambat. Menikmati film seadanya, bioskop sepi, dan penjaja dvd bajakan bersorak bahagia. Menyesakkan. Semoga saja kejadian ini tidak akan pernah terulang kembali. Amin!

Lantas, bagaimana dengan film-film yang rilis tahun lalu? Apakah Anda merasa puas, biasa saja, atau justru sangat kecewa? Saya pribadi menilai tahun 2011 adalah tahun yang cukup menggembirakan bagi industri perfilman dunia. Sementara tidak ada film animasi yang meninggalkan kesan yang mendalam (bahkan Pixar pun melakukan blunder!), film adaptasi komik justru tampil gagah perkasa di layar lebar. Yang membuat tahun lalu kian menarik adalah cukup banyaknya kejutan dari film-film yang pada awalnya dipandang sebelah mata. Kejutan inilah yang membuat saya kebingungan ketika harus menyusun daftar 'Film Terbaik 2011 versi Cinetariz' karena ada puluhan judul yang secara tidak terduga membekas di hati. Karena daftar ini hanya memuat 20 film saja, maka saya pun terpaksa memangkas secara brutal film-film lain. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sekali ini saya turut memasukkan film Indonesia dalam satu postingan karena ada satu dan lain hal yang tidak memungkinkan saya untuk membuat daftar lain dalam waktu dekat. Jika pada akhirnya Anda tidak setuju dengan pilihan saya, maka itu sesuatu yang sangat wajar. Setiap orang memiliki selera yang berbeda-beda, bukankah begitu?

Sebelum menghitung mundur film-film terbaik 2011 pilihan Cinetariz, saya ingin meminta maaf kepada pembaca budiman atas keterlambatan tulisan ini diturunkan dan pasifnya blog dalam beberapa minggu terakhir. Tahun 2012 dimulai dengan awal yang sangat berat bagi saya. Dua hari sebelum menjalani KKN selama 35 hari yang memaksa saya untuk puasa nonton, ibu saya menghadap Sang Khalik setelah bertahun-tahun lamanya berjuang melawan kanker yang terus menerus menggerogoti tubuhnya. Meskipun telah siap dan ikhlas, tetap saja saya merasa sangat kehilangan. Dan, kepergian ibu berarti saya telah kehilangan satu-satunya orang yang bisa saya ajak untuk berbagi cerita dengan nyaman tanpa ada kesan menghakimi atau menggurui. Ya, mau bagaimana lagi, tidak ada yang abadi dunia ini. Semoga beliau mendapat tempat di sisi-Nya dan saya beserta keluarga diberi ketabahan. Amin!

Tanpa berpanjang lebar kesana kemari lagi, inilah film-film yang membekas di hati saya di sepanjang tahun 2011. Cekidot, gan!

Honorable Mentions :
Mission: Impossible - Ghost Protocol, Harry Potter and the Deathly Hallows Part II, The Fighter, The Adventures of Tintin, Animal Kingdom, Real Steel, Drive, 13 Assassins, Rango, Confessions (Kokuhaku), Catatan Harian Si Boy, Fast Five, Winnie the Pooh, Submarine, The Yellow Sea, Kung Fu Panda 2.

Top 20

#20 Source Code
Source Code menjadi angin segar bagi pecinta film tatkala keran film impor sempat tertutup selama beberapa bulan. Dengan gaya penuturan yang mengingatkan pada Vantage Point dan Groundhog Day, Duncan Jones mampu menampilkan sebuah thriller yang cerdas, menegangkan, dan memuaskan.

#19 X-Men: First Class
Lupakan saja Wolverine yang super garing itu dan nikmati X-Men: First Class yang segar. Secara mengejutkan, First Class sanggup tampil dengan adegan aksi dan tampilan visual yang terangkai dengan cantik berpadu bersama drama yang emosional yang dibumbui humor yang segar serta cast yang tepat. Inilah film superhero terbaik di tahun 2011.

#18 Crazy Stupid Love
Judulnya sih boleh saja terkesan murahan, tapi ini adalah sebuah film komedi romantis kelas atas yang lucu, manis, dan menggemaskan. Memiliki naskah yang trengginas dan ensemble cast yang kompak, Crazy Stupid Love memperlihatkan bagaimana cinta sanggup membuat orang menjadi gila tanpa peduli usia maupun status sosial.

#17 The King’s Speech
Drama historikal yang memboyong Oscar tahun lalu untuk Film Terbaik ini dihidangkan dengan cantik, santai, dan berkelas. The King’s Speech adalah bukti bahwa film sejarah pun dapat diolah menjadi sebuah suguhan yang menyenangkan.

#16 Incendies
Sekalipun bergenre drama, film buatan Denis Villeneuve ini mengasyikkan untuk diikuti. Bagaimana tidak? Lha wong di setiap chapter-nya selalu ada ledakan-ledakan mengejutkan yang menarik. Saya senantiasa dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi kemudian. Menontonnya sampai gregetan.

#15 Blue Valentine
Blue Valentine menyanggah konsep ‘happily ever after’ dengan memotret tentang perjalanan cinta dua insan manusia sejak berpacaran hingga menikah secara realistis. Ryan Gosling dan Michelle Williams memberikan sebuah performa yang mengagumkan.

#14 Senna
Senna adalah satu dari sedikit film dokumenter yang sanggup saya santap dengan lahap. Tim editing mengerjakan tugasnya dengan apik dalam menyatukan berbagai footage dari Ayrton Senna sehingga membentuk sebuah narasi yang mengalir dengan lancar dan renyah.

#13 Sang Penari
Masih meragukan film Indonesia? Itu artinya, Anda belum menonton Sang Penari. Terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk, film ini mengagumkan ditilik dari segi manapun. Dengan naskah dan sisi teknis yang kuat, akting dari pemainnya pun layak mendapatkan acungan dua jempol. Sebuah kemajuan yang melegakan bagi perfilman lokal.

#12 50/50
Penghargaan untuk ‘Film Paling Personal’ dari saya untuk tahun ini jatuh kepada 50/50. Berbeda dengan film sejenis yang juga mengangkat perihal penyakit kematian, 50/50 tidak cengeng dalam bertutur, melainkan mencoba untuk bersenda gurau sekalipun tetap menyesakkan dada. Ensemble cast yang hadir di film ini pun salah satu yang terbaik tahun lalu.

#11 Hello Ghost
Dimulai dengan sedikit lambat, Hello Ghost secara perlahan mem buat saya tertarik untuk mengikutinya. Humornya yang segar tak pernah gagal membuat saya tertawa terbahak-bahak. Yang membuat saya terbelalak adalah endingnya yang menjungkirbalikkan apa yang telah terjadi sebelumnya. Anda harus siap sedia tissue sebelum menyaksikannya.

#10 The Rise of the Planet of the Apes
Awalnya saya pandang sebelah mata, namun pada akhirnya saya malah jatuh hati dibuatnya. Versi Rupert Wyatt ini jelas jauh lebih keren ketimbang buatan Tim Burton. Jalan ceritanya tidak hanya seru dan mencekam, tetapi juga mampu memainkan emosi penonton. Parade efek khusus buatan WETA pun sangat ciamik.

#9 Black Swan
Darren Aronofsky sanggup menghadirkan sebuah tontonan thriller psikologi yang mencekam serta ‘memaksa’ Natalie Portman mengeluarkan performa terbaiknya. Dengan segala keindahan, kemisteriusan, serta kejutannya, rasanya sayang untuk melewatkan Black Swan begitu saja. Sebuah film yang mengagumkan sejak awal hingga akhir.

#8 Contagion
Menyaksikan Contagion bagaikan tengah menyaksikan salah satu episode dari CSI. Ketegangan dibangun secara perlahan, misteri yang melingkupi dibuka satu demi satu, dan ini semua didukung dengan akting kelas wahid dari barisan pemainnya. Setiap menitnya, Contagion kian menarik untuk disantap.

#7 Super 8
Dengan hadirnya Steven Spielberg di bangku produser, pengaruh E.T. kuat terasa. J.J. Abrams menghadirkan sebuah film yang layak diberi gelar “Film Musim Panas Terbaik 2011”. Super 8 mengombinasikan misteri yang seru dan senantiasa mengundang penasaran dengan drama keluarga yang emosional.

#6 When We Leave
Ini adalah potret sebuah keluarga dimana budaya patriarki diagungkan. Suami melakukan tindak kekerasan pada keluarganya dibenarkan apapun alasannya. Anak-anak pun turut menjadi korban. Film yang memiliki judul asli Die Fremde ini sungguh membuat hati terasa tercabik-cabik. Kebahagiaan nyaris alpa dari film ini.

#5 Sunny
Film tentang persahabatan sejumlah gadis ABG selalu menyenangkan untuk disimak. Sunny memiliki ritme penceritaan yang enak untuk diikuti. Komposisi antara drama dan komedinya diramu dengan tepat. Di paruh awal, Anda akan tertawa terbahak-bahak, sementara untuk paruh akhir, mungkin saja Anda menangis sesenggukan. Sekalipun saya telah menyaksikannya hingga 4 kali, Sunny tetap enak untuk dinikmati.

#4 The Tree of Life
Ini adalah film Terence Malick yang unik. Luar angkasa, makhluk hidup di laut, serta dinosaurus dalam film drama tentang kehidupan dari sebuah keluarga? Apa hubungannya? Jika Anda menonton film ini karena faktor Brad Pitt, maka tujuan Anda telah salah kaprah sejak awal. The Tree of Life memang bukan film yang mudah untuk diterima semua kalangan, namun film ini pun sulit untuk dilupakan begitu saja. Pengalaman sinematik yang diberikan sungguh luar biasa.

#3 Warrior
Ini adalah film paling emosional yang saya tonton di tahun 2011. Memiliki jalan cerita klise yang mudah ditebak, akan tetapi diarahkan dan diperankan dengan apik. Menit-menit terakhir dari Warrior tidak hanya menegangkan dan brutal, tetapi juga mengaduk-aduk emosi. Pada akhirnya, air mata pun tumpah. Memang tidak ada yang lebih seru dari film tentang keluarga.

#2 The Help
Southern period drama adalah salah satu genre yang saya sukai. Tema berat seputar segregasi di masa diberlakukannya Jim Crow dikemas oleh Tate Taylor menjadi sebuah film yang ringan, renyah dan menyentuh, sekalipun tetap pahit. Dengan ensemble cast yang brilian, The Help terangkat ke tingkatan yang lebih tinggi. Sebuah feel good movie yang sayang untuk dilewatkan.

#1 A Separation
Perfilman Iran memberi bukti bagaimana sebuah kisah yang sangat sederhana mampu menjelma menjadi film yang memukau. A Separation adalah salah satu film terbaik dari Iran selama satu dekade terakhir. Jalan ceritanya menarik, mengundang rasa ingin tahu, dan mendebarkan dengan para aktor yang bermain menawan. Cara Asghar Farhadi memulai dan mengakhiri film ini pun sungguh sempurna.