Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

REVIEW : THE ARTIST


"I won't talk! I won't say a word!" - George Valentin

Sesuatu yang wajar jika kita menyebut Michel Hazanavicius sebagai sutradara sinting. Bagaimana tidak, di era ketika para sineas dunia mengeksplorasi kecanggihan teknologi dengan pemanfaatan 3D serta efek khusus secara gila-gilaan, Hazanavicius justru nekat membesut sebuah film bisu dan hitam putih. Sebuah pertaruhan yang sangat berani. Siapa yang rela menyisakan waktu dan uangnya demi menyaksikan sebuah film hitam putih nan bisu selain para kritikus dan penggila film? Rasanya, The Artist pun tidak akan sepopuler sekarang apabila Academy tidak mengganjarnya dengan 5 piala Oscar, termasuk
Film Terbaik. Bukan bermaksud pesimis, hanya mencoba untuk bersikap realistis. Ketika 21 Cineplex merilisnya di bioskop-bioskop besar jaringannya, masih dirasa perlu bagi mereka untuk mencantumkan peringatan kepada calon penonton melalui poster, “film ini hitam putih dan tanpa dialog”, sebagai antisipasi agar peristiwa “ganti rugi karena merasa tertipu” seperti yang terjadi di Inggris tidak kembali terulang. Dengan peringatan seperti ini, belum apa-apa banyak masyarakat yang merasa terintimidasi. Sungguh disayangkan, padahal The Artist adalah sebuah film yang luar biasa indah.

The Artist membahas mengenai era kejayaan film bisu, masa transisi ke film bersuara hingga bagaimana seorang aktor film bisu menyikapi masa transisi ini. Aktor film bisu yang dimaksud adalah George Valentin (Jean Dujardin), seorang aktor yang menyerupai George Clooney di masa kini yang film-filmnya senantiasa mencetak box office dan para penggemar mengelu-elukannya. Hidupnya bisa dibilang sempurna, dia telah memiliki semua apa yang dibutuhkan. Entah karena sombong atau tak siap, ketika pemilik studio, Al Zimmer (John Goodman), mengutarakan niatnya untuk membuat film bersuara, Geroge Valentin justru tak menganggapnya serius. Dia tetap keukeuh bahwa film bisu masih diminati. Didepak dari studio, George Valentin membuat film bisunya sendiri di tengah terjangan film bersuara yang digila-gilai. Anak didiknya, Peppy Miller (Berenice Bejo), kian melejit karirnya, sementara Valentin perlahan mulai dilupakan setelah filmnya flop. “Saatnya memberi jalan pada yang muda,” begitu ujar Peppy. Hidupnya pun hancur. Istri yang dicintainya, Doris (Penelope Ann Miller) pergi meninggalkannya. Hanya anjing peliharaannya, Jack, dan si supir, Clifton (James Cromwell) yang masih setia mendampingi.

Pernahkah Anda menitikkan air mata saat menonton sebuah film karena saking indahnya? Saya pernah beberapa kali, dan The Artist adalah salah satunya. Film arahan sutradara Prancis, Michel Hazanavicius, ini tidak hanya indah, tetapi juga unik, cerdas, lucu, lembut, dan menyentuh. Tanpa perlu memaksa para pemainnya merengek-rengek sesenggukan, air mata penonton tetap berhasil tumpah. Bahkan untuk pertama kalinya, di bioskop Semarang, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri bagaimana The Artist sanggup membuat sebagian besar penonton terharu dan, yang lebih luar biasa lagi, memberikan standing ovation setelah film berakhir! Sebuah pemandangan yang langka. Tidak menyangka efeknya akan sebesar itu. Hanya dengan bermodalkan cerita yang sederhana dan intertitle sebagai pengganti dialog, Hazanavicius sanggup membuat penonton terkoneksi dengan film arahannya. Sekalipun ini adalah film bisu, bukan berarti The Artist sepi total yang menyebabkan suara Anda saat berbisik di dalam studio terdengar bagaikan Dolby Digital. Musik gubahan Ludovic Bource yang menawan menemani sepanjang perjalanan Anda menyaksikan sekelumit sejarah film bisu.

Beruntung The Artist diperkuat oleh pemain-pemain yang hebat. Jean Dujardin sanggup mengaduk-aduk emosi penonton, memberikan perasaan yang tidak menentu kepada Valentin. Terkadang dia adalah sebuah karakter yang menyenangkan, tetapi terkadang menyebalkan luar biasa terutama saat dia menolak bergabung dengan generasi anyar, namun dia pun sebenarnya patut dikasihani. Pesonanya yang kuat mengingatkan pada Humphrey Bogart dan Douglas Fairbanks. Sementara Berenice Bejo tampil enerjik sebagai gadis muda penuh mimpi yang ceria dan menyenangkan, Peppy Miller. Bintang pendukungnya tidak terlalu menonjol karena tertutup oleh pesona Dujardin dan Bejo, kecuali Uggie yang memerankan Jack si anjing yang sangat setia kepada majikannya. Mungkin bagi sebagian penonton akting dari Dujardin maupun Bejo terkesan berlebihan, dan naskahnya pun klise tiada tara bak melodrama kebanyakan. Jika Anda termasuk salah satunya, ada baiknya menjajal ‘film bisu beneran’ terlebih dahulu sebelum menyaksikan The Artist. Ini adalah sebuah homage terhadap era film bisu yang terbungkus elegan dan berusaha untuk setia kepada ‘tuannya’ layaknya Clifton dan Jack.

Salah satu wujud kesetiaan Hazanavicius nampak pada tempo film yang mengalir ringan menyenangkan bak film bisu Hollywood tahun 1920-an, sekalipun ini sebenarnya adalah produksi Prancis yang terkenal lambat dalam menuturkan alur film-filmnya. Selain itu, film ini pun dibuat menggunakan aspek rasio layar 1.33:1 yang umum digunakan oleh film bisu. Dan saya ingin mengatakan kepada para pembaca yang budiman bahwa saya tidak sekalipun mengintip jam tangan! Bukti bahwa saya sangat menikmati film ini. Rasanya saya ingin menontonnya lagi, lagi, dan lagi. Sayangnya belum sempat saya mewujudkan keinginan saya, The Artist sudah tergusur dari bioskop. Menontonnya ulang di layar laptop atau televisi tidak akan memberikan pengalaman menonton yang sama. The Artist lebih enak dinikmati di layar bioskop. Sungguh pedih melihat film sebrilian ini kurang diminati oleh masyarakat hanya karena ini adalah ‘film bisu dan hitam putih’. Cobalah terlebih dahulu, Anda dijamin tidak akan menyesalinya. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘silence is golden’? Dan pepatah itu cocok sekali diberikan kepada The Artist. What a wonderful movie to celebrate cinema!

Outstanding



Jumat, 02 Maret 2012

REVIEW : THIS MEANS WAR



"Don't choose the better man, choose the man who makes you a better woman." - Trish

Bisa dimafhumi jika calon penonton berpikiran bahwa This Means War adalah sebuah film aksi komedi berbasis spionase apabila menilik dari tampilan poster, trailer, maupun sang pembesut, McG. Tidak keliru memang, hanya saja yang tidak mereka ketahui, ini juga merupakan sebuah film romantis. Tagline-nya yang menyebut “It’s Spy Against Spy” sesungguhnya telah mengindikasikan akan dibawa kemana film ini jika Anda jeli mengam
ati poster terutama pada penekanan kata Spy. Dengan mengintip jejak rekam dari sutradara bernama lengkap Joseph McGinty Nichol, ada baiknya Anda tak menaruh harapan yang muluk-muluk terhadap film ini. Kehadiran Reese Witherspoon dan Tom Hardy tidak menjamin apapun. Jika sejak awal Anda sudah terlanjur memasang ekspektasi yang tinggi, segera turunkan. Jangan mengharapkan sebuah tontonan cerdas menghibur dari sini karena Anda berada di tempat yang salah. This Means War adalah sebuah tempat bagi penonton yang mengharapkan tontonan menghibur tanpa harus memutar otak dengan keras, yang berarti dipenuhi dengan adegan-adegan klise nan bodoh.

Apakah itu berarti This Means War adalah sebuah film yang buruk? Itu tergantung dari sudut mana Anda menilainya. Yang jelas, film buatan McG ini bukanlah jenis film yang dibuat untuk memuaskan kritikus film. Naskah buatan duo Timothy Dowling dan Simon Kinberg cenderung dangkal dan tidak beraturan, namun terbilang lumayan karena masih menyimpan cukup banyak dialog cerdas. Sarat akan adegan yang menghibur, namun jauh dari kesan logis. Akan tetapi tentu saja Anda tidak berharap film ini akan memberikan susunan adegan yang menghindari pelecehan terhadap akal sehat, bukan? Plot utamanya saja sudah menggelikan. Seorang wanita mapan bernama Lauren Scott (Reese Witherspoon) secara tidak sengaja menjalin cinta dengan dua agen CIA, FDR (Chris Pine) dan Tuck (Tom Hardy), yang ternyata bersahabat baik. Terlalu banyak kebetulan. Tapi, hey, film Hollywood mana yang tidak dipenuhi dengan kebetulan, apalagi ini merupakan film komedi romantis dan sutradaranya adalah McG? Maka, ini masih bisa dimaafkan. Niat saya sejak awal terhadap film ini memang hanya sekadar mencari hiburan, jangan heran jika berbagai kelemahan dari This Means War masih bisa saya tolerir.

Pertemuan antara Lauren, FDR dan Tuck dimulai dari sahabat baik Lauren, Trish (Chelsea Handler), yang mendaftarkan Lauren ke sebuah situs kencan online menyusul kekesalan Lauren melihat mantan kekasihnya telah bertunangan. Di saat yang sama, Tuck pun mencoba mendaftar setelah melihat iklan situs kencan online di televisi. Disinilah Lauren dan Tuck berjumpa. Setelah merasa cocok satu sama lain, keduanya memutuskan untuk melakukan kopi darat. Entah sial atau beruntung, beberapa saat setelah Lauren menemui Tuck, secara kebetulan dia bertemu FDR yang menggodanya di sebuah rental video tanpa mengetahui bahwa Lauren adalah teman kencan sahabatnya. Dan, Lauren pun berada dalam posisi sulit. Dia kepincut dengan kedua pria ini. Tidak heran, karena mereka berdua adalah pria-pria yang seksi, menyenangkan, dan mapan. Seandainya Anda adalah Lauren, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan mengikuti langkah Lauren dengan mengencani mereka berdua? Atau Anda memutuskan untuk memilih salah satu pada saat itu juga? Yang Lauren tidak sadari, baik FDR maupun Tuck sama-sama telah mengetahui bahwa mereka mengencani wanita yang sama. Dan ini berarti perang!

Jika ada yang tidak bisa saya terima, maka itu adalah Reese Witherspoon. Jangan salah paham, saya bukan termasuk hater dari mantan istri Ryan Phillippe ini, justru sebaliknya, saya fans berat. Keberadaannya disini terasa tidak pas dilihat dari segi manapun. Setelah memenangkan Oscar berkat akting menawannya di Walk the Line, Reese Witherspoon justru mengalami stagnansi karir dengan memilih peran-peran aman bernada sama. Apa yang membedakan Lauren disini dengan Elizabeth di Just Like Heaven atau Lisa di How Do You Know? Nyaris tidak ada. Chemistry-nya dengan Tom Hardy dan Chris Pine pun kurang meyakinkan. Malahan, bromance antara Hardy dan Pine terasa lebih greget. Seandainya Witherspoon digantikan oleh aktris lain, rasanya tidak akan berdampak apapun terhadap film toh Lauren Scott seakan hanya difungsikan sebagai penggembira oleh tim penulis. This Means War, sekalipun tidak seburuk film-film komedi romantis Witherspoon paska Walk the Line, hanya akan membuat catatan karir Witherspoon terasa tak sedap untuk dipandang.

Acceptable

Jumat, 18 November 2011

REVIEW : THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN PART 1


"No measure of time with you will be long enough. But we'll start with forever."

Akhirnya, Bella Swan (Kristen Stewart) dan Edward Cullen (Robert Pattinson) bersatu dalam tali pernikahan setelah hubungan keduanya selalu mengalami tarik ulur selama tiga seri lamanya. Tapi tentu saja pernikahan bukan menjadi tujuan akhir dari The Twilight Saga. Stephenie Meyer, dengan kejamnya, tidak begitu saja membiarkan pasangan paling lebay dalam sejarah sastra dunia ini menikmati kehidupan rumah tangga dengan damai sentosa. Dalam Breaking Dawn, masih ada badai-badai yang menghadang mencoba untuk memisahkan Bella dan Edward. Manusia dan vampir tidak akan bisa bersatu dengan mudah. Terlebih banyak pihak yang tidak memberikan restu terhadap hubungan dua sejoli ini. Jacob Black (Taylor Lautner) adalah yang paling terang-terangan menyatakan keberatannya. Apakah kisah cinta segitiga yang melibatkan Bella, Edward, dan Jacob kembali terulang sekalipun Bella dan Edward telah menikah? Sebuah pertanyaan retoris sebenarnya. Anda yang hafal dengan seluk beluk The Twilight Saga atau pecandu opera sabun, tentu mengetahui jawabannya. Hanya saja, gangguan dari Jacob tidak seintensif sebelumnya. Tidak ada lagi alasan bagi Bella untuk bergalau ria memikirkan calon pendamping hidup yang tepat. Lagipula, dia masih 18 tahun. Ada apa dengan anak muda zaman sekarang?

The Twilight Saga: Breaking Dawn dibagi menjadi dua bagian menyusul permintaan Stephenie Meyer kepada Summit Entertainment yang meminta agar jilid terakhir ini dibuat dalam dua bagian karena kisahnya yang panjang dinilai tidak akan cukup apabila disampaikan dalam 120 menit. Oh, come on! Katakan saja jika alasan utamanya adalah demi mengeruk keuntungan yang lebih besar. Ditangani oleh Bill Condon, sutradara Dreamgirls sekaligus penulis naskah Chicago, Breaking Dawn Part I diharapkan bisa tampil lebih baik ketimbang prekuek-prekuelnya. Film dibuka dengan adegan pernikahan Edward dan Bella yang harus diakui digarap dengan sangat cantik. Dekorasi altar dan tempat resepsi yang indah, sinematografi yang aduhai, hingga tata rias dan busana yang melenakan mata, mampu mewujudkan impian para twihards untuk melihat acara pernikahan sakral dua tokoh favorit mereka. Sebelum menuju ke momen yang romantis ini, kita dibuat terlelap terlebih dahulu oleh naskah buatan Melissa Rosenberg dengan dialog yang super cheesy dan adegan yang dipanjang-panjangkan. Namun ini masih belum seberapa dengan apa yang terjadi di menit-menit selanjutnya.

Bagian pertama dari Breaking Dawn adalah mengenai pernikahan, bulan madu, masa-masa kehamilan, dan kelahiran. Bagi siapapun yang mengharapkan Breaking Dawn part I akan disesaki dengan aksi laga dan adegan yang mencekam, maka bersiaplah untuk kecewa. Demi menggambarkan betapa indahnya bulan madu yang dilalui oleh Bella dan Edward saja memakan waktu sekitar separuh dari durasi film. Apa yang diceritakan disini hanya berputar-putar mengenai malam pertama Bella dan Edward, bermain catur, berhubungan seks lagi, bermain catur lagi, berhubungan seks lagi, bermain catur lagi. Bukankah lebih tepat jika film ini diberi judul “The Neverending Honeymoon” atau “The Neverending Intercourse”? Demi mencegah terjadinya kebosanan pada penonton, disisipkan humor-humor menggelitik yang secara mengejutkan cukup efektif. Adegan seks yang digembar-gemborkan bakal panas ternyata biasa saja dan cenderung tidak natural. Agaknya usaha Summit Entertainment untuk mempertahankan agar Breaking Dawn tetap mengantongi rating PG-13 (Remaja) turut berpengaruh terhadap penggambaran adegan bulan madu. Selama satu jam pertama, Breaking Dawn Part I tidak memberikan lonjakan yang berarti dalam alur penceritaan. Dengan romansa yang serba berlebihan plus minimnya konflik, film terasa sangat lambat dan cenderung monoton. Condon dan Rosenberg terlalu berlama-lama dalam menyajikan porsi bulan madu yang seharusnya bisa dipersingkat. Maka jangan heran jika kemudian ada penonton menggorok lehernya sendiri saking tersiksanya melihat Bella dan Edward berasyik masyuk.

Bulan madu belum juga selesai, Bella sudah ketahuan berbadan dua. Keluarga Cullen mendadak panik, terlebih Alice (Ashley Greene) tidak mendapatkan visi tentang apa yang akan terjadi kepada Bella. Melihat kondisi Bella yang semakin lama semakin lemah, Edward dan Jacob memiliki inisiatif untuk mengaborsi janin yang tumbuh di dalam perut Bella. Akan tetapi, Bella menolak. Di lain pihak, kawanan werewolf menyusun rencana untuk membunuh Bella yang dianggap membawa ‘makhluk’ yang membahayakan bagi mereka. Jacob membelot. Dia memutuskan untuk membela Bella, yang artinya dia bersekutu dengan Edward, musuh abadinya. Ketika perut Bella sudah siap untuk ‘meledak’, film baru mulai enak diikuti. Secara perlahan, tensi ketegangan terus dinaikkan. Kristen Stewart mulai terlihat melebur dengan karakter yang dimainkannya sedangkan Robert Pattinson dan Taylor Lautner tetap tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Taylor Lautner gagal memancarkan emosi ketika Jacob dipaksa untuk memilih keluarga atau musuhnya. Menit-menit terakhir di Breaking Dawn Part I adalah momen terbaik dari film ini. Menegangkan, menyeramkan, sekaligus memilukan. Tampaknya The Twilight Saga telah menemukan sutradara yang tepat. Adegan terakhir dari Breaking Dawn Part I adalah favorit saya, selain adegan pernikahan di awal film. Tak pelak lagi, ini adalah seri terbaik dari The Twilight Saga, sejauh ini. Seandainya saja Bill Condon tidak berlama-lama dengan adegan resepsi pernikahan dan bulan madu, maka Breaking Dawn Part I akan lebih mengena. Lagi-lagi hanya twihards saja yang akan bertepuk tangan setelah film usai.

Acceptable

Note : Jangan terburu-buru keluar setelah film usai, ada adegan tersembunyi yang layak untuk ditunggu di pertengahan closing credit.

Rabu, 16 November 2011

REVIEW : SANG PENARI


"Ronggeng itu bukan cuma perkara nari, tetapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur," begitu ujar Nyai Kartareja (Dewi Irawan) kepada Srintil (Prisia Nasution). Inilah yang kemudian membuat Srintil mengalami pergolakan batin. Menjadi ronggeng ternyata tidaklah seindah bayangan Srintil. Sejatinya, dia hanya ingin menari, tidak ingin menjalani upacara 'buka kelambu.' Namun ini telah menjadi konsekuensi yang harus diterima oleh Srintil atas keputusannya untuk memilih menjadi ronggeng. Sebuah keputusan yang dibuat untuk menebus kesalahan kedua orang tuanya yang tanpa sengaja meracuni penduduk Dukuh Paruh dengan tempe bongkrek. Sang kekasih, Rasus (Oka Antara), tidak sepaham dengan Srintil. Dia menentang keputusan Srintil untuk menjadi ronggeng. Menjadi ronggeng, berarti Srintil menjadi milik Dukuh Paruk, bukan hanya Rasus seorang. Siapapun yang mampu membayar mahal, mampu 'mencicipi' tubuh Srintil dengan bebas. Sebelum 'buka kelambu' dimulai, Srintil secara sembunyi-sembunyi melepaskan keperawanannya kepada Rasus. Sayangnya ini tidak memiliki arti apapun bagi mereka berdua. Rasus minggat ke kota setelah berhubungan badan dengan Srintil.

Rasa simpati pun tersemat kepada Srintil yang dengan bertanggung jawab menjalani kehidupan sebagai ronggeng sekalipun hati kecilnya menangis dan menginginkan kebebasan. Ketika Rasus mengajaknya untuk melarikan diri, dia menolak. Srintil merasa perlu untuk mengabdi kepada Dukuh Paruh, walau itu berarti harus berpisah dengan orang yang dikasihinya. Sementara itu, Rasus memiliki jalan hidup yang berbeda setelah diterima menjadi tentara oleh Sersan Binsar (Tio Pakusadewo). Intensitas pertemuan dua sejoli ini kian berkurang. Seiring berjalannya waktu, Srintil makin moncer sebagai ronggeng. Akan tetapi bukan ini yang menggerakkan hati Rasus untuk menemui kekasihnya, melainkan ketika Sersan Binsar mengabarkan Dukuh Paruh telah 'merah'. Perlu diingat, Sang Penari mengambil setting di tahun 1960-an, ketika komunis menjadi ancaman utama. Sang sutradara, Ifa Isfansyah, tidak perlu secara gamblang menyebutkan nama PKI karena setting dan aktivitas-aktivitas yang dilancarkan oleh Bakar (Lukman Sardi) telah cukup menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi. Noda hitam dalam sejarah Indonesia ini dituturkan dengan cukup mendalam, sekalipun Ifa Isfansyah masih terlalu berhati-hati. Bisa dimengerti, terlebih masyarakat Indonesia masih belum siap untuk dicekoki sejarah bangsa yang kelam dengan jelas. Tidak terbayang bagaimana kejamnya LSF dalam memainkan guntingnya apabila permasalahan yang sensitif ini disampaikan secara blak-blakan
.
Kartareja (Slamet Rahardjo) pun tak berkutik. Selama 'bisnis' ronggengnya berjalan dengan mulus, cara apapun dia tempuh. Dengan mudahnya warga Dukuh Paruk masuk dalam perangkap, nihilnya kemampuan baca tulis menjadi penyebab utama. Srintil tak luput menjadi korban. Begitu mendengar kekasihnya ditangkap, Rasus segera mengambil cuti demi menyelamatkan sang pujaan hati. Ifa Isfansyah merangkum novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, menjadi sebuah film yang padat berdurasi 109 menit. Naskahnya yang ringkas tangkas ditangani langsung oleh Ifa Isfansyah beserta sang penulis novel, Ahmad Tohari. Mereka berdua mendapat bantuan dari Salman Aristo dan Shanty Harmayn untuk memolesnya agar lebih cantik. Sang Penari tidak mengadaptasi ketiga novel Ahmad Tohari tersebut secara langsung, plot utama hanya sekadar terinspirasi saja sehingga film ini tidak lebih dari interpretasi dari si pembuat film. Penonton tidak bisa protes ketika bagian yang dianggap penting terpangkas karena bagaimanapun ini adalah penafsiran dari Ifa Isfansyah dan tim penulis naskah.

Ketika Oka Antara bermain nyaris tanpa cela sebagai pemuda desa lugu yang kemudian bertransformasi sebagai aparat negara, Prisia Nasution juga tak kalah gemilangnya berperan sebagai Srintil yang sebatang kara. Permainan cantik mereka berdua menutup performa apik dari barisan aktor pendukung. Untuk sekali ini, Lukman Sardi tak termaafkan. Sementara Oka Antara berusaha mati-matian untuk berbicara Ngapak dengan fasih, Lukman Sardi dan beberapa aktor lainnya terlalu malas untuk memelajarinya. Bahasa Indonesia yang dilogat Jawa-kan masih terdengar dimana-mana, dan ini sangat mengganggu. Tidak adanya penjelasan yang jelas mengenai setting tempat juga menjadi masalah lainnya. Seberapa jauh jarak antara Dukuh Paruk, Pasar Dawuan dan markas tentara tidak terjelaskan hingga akhir film. Beberapa karakter nampak mudah sekali berpindah-pindah tempat, sehingga muncul pertanyaan, apakah ini satu kompleks?. Ifa Isfanyah pun terkesan terlalu terburu-buru untuk mengakhiri film. Ada rasa tidak puas ketika credit title mulai bergulir. Dengan banyaknya permasalahan yang tak terjelaskan, rasanya tak ada yang keberatan jika durasi diperpanjang hingga 20 menit lebih lama. Beruntung adegan terakhir yang cantik hasil bidikan Yadi Sugandi lumayan mengobati kekecewaan. Sepanjang film, Yadi Sugandi bermain-main dengan kamera menghasilkan gambar yang tidak hanya indah tetapi juga efektif. Ditingkahi dengan tata busana cantik buatan Chitra Subiyanto serta tata musik yang menghanyutkan oleh Aksan dan Titi Sjuman sekalipun hanya mengandalkan cello dan denting calung, Sang Penari pun sedap dipandang. Ifa Isfanyah memang masih melakukan cukup banyak blunder di film keenamnya ini, akan tetapi itu tidak menutupi fakta bahwa Sang Penari adalah film Indonesia terbaik di tahun 2011.

Exceeds Expectations

Jumat, 04 November 2011

REVIEW : 5 CENTIMETERS PER SECOND


"A chain of short stories about their distance."

Jepang tidak hanya dikenal sebagai pencetak film horror yang menyeramkan, tetapi juga pusatnya film animasi. Kedua genre ini telah melekat dan menjadi produk unggulan dari Negeri Sakura. Animasi Jepang, atau lebih dikenal sebagai Anime, telah tersohor di berbagai belahan dunia, setara dengan kepopuleran produk dari Amerika Serikat. Tidak hanya versi layar lebar saja yang mendunia, tetapi juga versi serial serta OVA (khusus dirilis dalam bentuk home video). Kekuatan dari anime adalah jalan cerita yang cenderung unik, animasi yang rapi serta penggarapan yang tidak main-main. Meski begitu, kebanyakan anime merupakan adaptasi dari manga (komik Jepang), hanya segelintir yang berani mengusung ide cerita asli. Makoto Shinkai adalah sedikit diantaranya. Nah, di tahun 2007 silam, Makoto Shinkai melalui CoMic Wave Inc. merilis film panjang keduanya yang masih berbau romantisme. Shinkai sensei menulis naskah serta memproduseri sendiri film arahannya yang berjudul 5 Centimeters Per Second ini. Setelah sukses dituangkan dalam bentuk film, 5 Centimeters Per Second lantas diangkat ke novel dan manga.

Shinkai sensei membagi kisah 5 Centimeters Per Second menjadi tiga segmen dimana setiap segmennya berpusat pada seorang tokoh bernama Takaki Tono. Dalam Cherry Blossom, Takaki terpaksa berpisah dengan sahabatnya, Akari Shinohara, karena pekerjaan orang tua Akari menuntut mereka untuk pindah ke kota lain. Setelah setahun berpisah, Takaki memutuskan untuk berjumpa dengan Akari. Reuni ini bukannya tanpa alasan. Takaki akan pindah ke kota yang sangat jauh sehingga kemungkinan Takaki dan Akari untuk berjumpa lagi sangat tipis. Dia ingin bertemu Akari untuk terakhir kalinya. Perjalanan Takaki pun mengalami banyak rintangan yang menguji kesetiaan masing-masing. Memasuki Cosmonaut, kisah bergulir semakin rumit. Takaki yang sekarang sudah kelas 3 SMA harus menentukan masa depannya seusai SMA. Teman sekelasnya, Kanae, menaruh perasaan kepada Takaki sejak pertama kali mereka bertemu di bangku SMP. Setelah beberapa tahun bersama, Kanae masih juga tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Yang menjadi masalah adalah, sekeras apapun Kanae berusaha memberi sinyal, Takaki tidak menghiraukannya. Ada wanita lain yang telah menempati hatinya. 5 Centimeters Per Second menjadi segmen penutup dalam film anime romantis berdurasi 65 menit ini. Segmen ini bersetting di masa kini dan menyoroti perkembangan hubungan Takaki dan Akari setelah mereka memasuki dunia kerja.


Artwork yang tersaji dalam 5 Centimeters Per Second digarap dengan sangat mengagumkan. Adegan hujan salju di segmen pertama, pedesaan Jepang di segmen kedua, dan bunga berguguran di segmen ketiga, tergambar indah dan terkesan nyata. Tata visual yang cantik ini turut didukung dengan para dubber yang melebur dengan karakter masing-masing. Musik gubahan Tenmon turut berperan dalam mengaduk-aduk emosi penonton. Pemilihan lagu lawas dari Masayoshi Yamazaki, 'One More Time, One More Chance', sebagai lagu penutup terasa pas mengiringi montage yang getir. Naskah racikan Shinkai sensei, sekalipun tidak menawarkan sesuatu yang baru, tetap layak dihujani pujian terutama dalam keberaniannya menyuguhkan topik yang berat mengenai kisah percintaan serta ending-nya yang berpotensi menimbulkan kontroversi, terutama diantara para penonton yang mengharapkan 'happily ever after' atau pemecahan yang memuaskan seputar hubungan Takaki dan Akari.

5 Centimenters Per Second menjadi bukti lain bahwasanya anime bukan hanya untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan jalan cerita yang cukup berat, 5 Centimeters Per Second menyasar segmentasi penonton dewasa yang memiliki pemikiran yang lebih terbuka mengenai cinta terlebih Shinkai sensei berusaha menghindarkan film ini dari kesan picisan. Pesan yang ingin disampaikan ternyata sedikit lebih berat dari yang saya kira. Ini bukan mengenai 'kalau jodoh tak kemana' atau cinta lama bersemi kembali, tetapi menyoal bagaimana 'moving on' setelah hubungan di masa lalu kandas. Ketiga segmen dalam film ini pun lebih tepat disebut sendu ketimbang romantis. Bukan film yang tepat bagi yang mencari tontonan romantis yang bikin meleleh. Layaknya film Jepang pada umumnya, 5 Centimeters Per Seconds pun berjalan dengan perlahan dan sunyi. Saat menontonnya, saya merasakan rasa sesak di dalam dada. Penonton pun akan diminta untuk memaknai kembali arti dari cinta, kebahagiaan, dan kedewasaan.

Exceeds Expectations

Senin, 29 Agustus 2011

REVIEW : DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH



"Sampai kapanpun, emas takkan setara dengan loyang dan sutra tak sebangsa dengan kapas." - Emak



Seandainya saja product placement (iklan dalam film) tidak berseliweran kesana kemari. Seandainya saja tidak ada dubbing yang menggelikan. Seandainya saja subtitle Inggris yang disisipkan tidak ngawur dan menggunakan susunan gramatikal yang baik. Seandainya saja aksentuasi para tokoh patuh pada setting tempat. Seandainya saja tulisan 'based on Buya Hamka's novel' pada poster dihilangkan dan diganti menjadi 'adaptasi bebas'. Seandainya saja tidak ada sesumbar yang mengatakan bahwa Di Bawah Lindungan Ka'bah diberi kucuran dana raksasa sebesar Rp 25 Miliar dan digadang-gadang sebagai 'Titanic versi Indonesia'. Di Bawah Lindungan Ka'bah mungkin saja menjadi film yang memuaskan banyak kalangan. Seperti yang diucapkan Emak (Yenny Rachman) kepada Hamid (Herjunot Ali), "makin tinggi harapan, makin sakit jatuhnya." Dengan janji-janji manis yang ditawarkan, tentu tidak mengherankan jika kemudian penonton berharap banyak terhadap karya terbaru Hanny R. Saputra ini. Apalagi versi novelnya merupakan salah satu karya sastra lokal terbaik dari salah satu sastrawan terbaik dalam angkatan pujangga Balai Pustaka. Ekspektasi pun membuncah.



Pada tahun 1981, Asrul Sani telah mengadaptasi bebas novel Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film berjudul Para Perintis Kemerdekaan. Alih-alih memilih untuk setia 100% pada novel Hamka tersebut, film justru dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial terhadap pemerintah tanpa menghilangkan esensi dari cerita. Misi Asrul Sani berjalan sukses dan dihadiahi banyak puja puji dari berbagai kalangan. Hanny R. Saputra tidak mengikuti jejak Asrul Sani dan tetap teguh pada ciri khasnya. Dibantu oleh dua penulis skenario langganannya, Armantono dan Titien Wattimena, Di Bawah Lindungan Ka'bah menjelma menjadi sebuah film metal alias mellow total. Sepanjang durasi film, saya mencatat hanya ada satu adegan Hamid dan Zainab (Laudya Cynthia Bella) yang tak melibatkan air mata, yakni ketika mereka saling sapa dari balik pagar kayu. Sialnya, adegan yang seharusnya bisa manis itu tercoreng lantaran durasinya yang kelewat lama dan dubbing yang sangat kasar. Saya pun langsung mual dibuatnya.





Menerjemahkan sebuah novel dengan halaman yang tipis (konon, novel Hamka ini hanya setebal 66 halaman) ke dalam layar lebar sama susahnya dengan mengejewantahkan tulisan beratus-ratus halaman. Untuk mengakalinya, Armantono dan Titien pun menambahkan sejumlah konflik yang tidak ditemukan dalam novel. Konflik yang sangat dramatis, menghadirkan kenyataan hidup yang pahit. Bagaimanapun juga, Hamid dan Zainab tidak akan pernah bisa disatukan. Plot kreasi duo penulis naskah ini diyakini mampu menguras air mata penonton. Tak peduli sekonyol apapun pengarahan Hanny R. Saputra dan bagaimana logika penonton tersakiti, air mata penonton perempuan akan tetap tumpah. Bukan bermaksud genderisasi, namun seperti inilah kenyataannya. Saya menyaksikannya sendiri. Begitu pula ketika saya menyaksikan film dengan dramatisasi yang gagal, Surat Kecil Untuk Tuhan. Walau begitu, Di Bawah Lindungan Ka'bah tercatat beberapa kali sukses membuat saya terharu. Bukan perihal kisah cinta tak sampai Hamid dan Zainab, namun seputar hubungan Hamid dengan ibunya. Akting Yenny Rahman sungguh memukau. Herjunot Ali juga mampu mengimbangi akting artis senior ini dengan apik. Ada chemistry diantara mereka berdua. Apabila saya diminta untuk memaknai arti dari ironis, maka itu adalah Laudya Cynthia Bella yang tidak nyambung dengan Herjunot Ali. Lempeng. Menunjukkan sebuah romantisme yang banal.



Bersetting di tahun 1920-an di Sumatera Barat, Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah mengenai dua sejoli yang sedang dirundung asmara namun terpaksa tak bisa bersatu karena perbedaan kelas sosial. Konflik memuncak tatkala Hamid melakukan sesuatu yang dianggap tak pantas kepada Zainab hingga dirinya diusir dari kampung. Untuk menghidupkan nuansa Minangkabau pada zaman dahulu, dibangun set yang megah plus tidak ketinggalan kincir air ciri khas sang sutradara. Sinematografi arahan Rachmat Syaiful sanggup menghadirkan gambar-gambar cantik yang menyejukkan mata. Special Effects yang dipakai pun layak diacungi jempol, sekalipun penggunaannya di adegan terakhir kentara sekali palsunya. Jika ada yang mengganjal di hati saya selain tidak adanya chemistry, dubbing plus subtitle yang membuat kepala terasa cenat cenut dan product placement yang muncul seenak udel, maka itu adalah aksentuasi dari para pemain. Saya sebenarnya sudah bosan membahas masalah ini karena ini adalah sesuatu yang klise namun tak ada upaya dari para sineas untuk membenahinya. Apakah bujet sebesar itu tidak sanggup untuk mendatangkan dialect coach? Terkadang terdengar sangat Jakarta, terlalu Sunda atau malah campur baur. Semrawut. Bukti bahwa sineas kita masih menyepelekan detail. Pada akhirnya upaya untuk menjadikan Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film romantis yang megah layak untuk diapresiasi. Masih banyak ditemukan kekurangan, tapi jelas merupakan suatu kemajuan dibanding film sejenis semacam Ayat-Ayat Cinta dan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih. Sebenarnya Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah sebuah film yang berpotensi menjadi sebuah suguhan yang apik, namun ternodai oleh keteledoran tim produksi yang kurang cermat dalam mengurus detail. Sungguh disayangkan.



Acceptable

Senin, 27 Juni 2011

REVIEW : MILLI & NATHAN


Sudah tak terhitung berapa jumlah film romantis yang mengangkat tentang kisah cinta anak SMA. Biasanya dimulai dengan permusuhan si cewek dengan si cowok, atau bisa saja mereka berdua adalah sahabat kental. Saling ledek dan caci maki, namun diam-diam sebenarnya saling lirik. Dalam hati berkata, “aku mencintaimu.” Karena tak bisa mengungkapkan, maka yang muncul berkebalikan dengan kata hati. Dan, formula ini selalu diulang di hampir semua film romantis, khususnya yang ditargetkan untuk remaja. Keahlian penulis naskah dalam meracik naskah sangat diperlukan disini karena premis yang diangkat sudah sangat umum dan jika tidak ditangani secara tepat, kisah romantis yang sangat klise dengan akhir yang sangat bisa ditebak adalah hasil akhirnya. Milli & Nathan, sebagai sebuah film romantis, memakai plot klasik tersebut. Titien Wattimena bersama Hanny R Saputra mengemban tugas berat agar Milli & Nathan tidak menjadi tontonan pengantar tidur dengan naskah yang basi.

Yang menjadi kekuatan utama dari Milli & Nathan adalah akting Olivia Lubis Jensen yang memesona. Karakter Milli terlihat begitu hidup dibawakan olehnya. Sulit untuk tidak mencintai Milli. Sepertinya asyik memiliki teman seperti Milli. Milli digambarkan sebagai seorang gadis yang ceria dan sangat santai dalam menikmati hidup. Sekolah bukan menjadi prioritasnya, hanya sekadar untuk mengisi waktu atau menghindari status pengangguran. Sifat Milli yang kelewat santai ini sering membuat gemas sahabatnya, Nathan (Chris Laurent), yang super serius. Tidak heran jika keduanya sering ribut. Walaupun Milli dan Nathan memiliki sifat yang saling bertolak belakang, cinta bersemi diantara keduanya. Kisah cinta antara Milli dan Nathan sedikit banyak mengingatkanku kepada Nam dan Shone dalam Crazy Little Thing Called Love. Bedanya, Nathan memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Milli tanpa harus menunggu bertahun-tahun. Disini, Hanny R Saputra menggiring penonton ke sejumlah adegan romantis nan cheesy yang memperlihatkan kemesraan hubungan Milli dan Nathan. Bagi yang pernah merasakan cinta monyet saat SMA akan tersipu malu dan tersenyum karena teringat dengan masa-masa pacaran yang indah.

Sayangnya, hubungan Milli dan Nathan tidak berlangsung lama. Saat masa SMA berakhir, mereka putus. Nathan fokus pada studinya, sementara Milli ingin meraih impiannya menjadi seorang penulis. Meski begitu, mereka tetap berkomunikasi dengan baik. Pada titik ini, Nathan terlihat seperti Hari dalam Hari Untuk Amanda. Setelah menjalani waktu yang menyenangkan bersama Milli, dia ingin mereka rujuk. Nathan memang tidak digambarkan sebagai cowok brengsek dan hanya menginginkan kesenangan saja layaknya Hari, tapi dia seperti tidak yakin dengan suara hatinya dan cenderung enggan mengambil resiko. Milli menolak kembali ke pelukan Nathan. Selain telah memiliki Oscar (Fendy Chow), dia juga tidak yakin apakah Nathan benar-benar telah yakin dengan pilihannya. Seakan ada pesan yang ingin disampaikan oleh Titien Wattimena sehubungan dengan perkembangan karakter Milli dan Nathan. Kesuksesan tidak selalu berbanding lurus dengan prestasi akademis. Yang terpenting adalah keberanian untuk mengambil resiko dan percaya dengan kemampuan diri sendiri. Nathan tentu tidak pernah menyangka jika Milli akan memiliki masa depan yang lebih baik darinya. Milli percaya dan mantap dengan kata hatinya, sementara Nathan dipenuhi keraguan.

Dengan chemistry yang terjalin apik antara Olivia Lubis Jensen dan Chris Lauren serta cukup banyaknya dialog-dialog cerdas, Milli & Nathan adalah sebuah tontonan yang cukup menyegarkan. Tidak kelewat membanyol dan tidak juga kelewat cengeng seperti Satu Jam Saja. Takarannya pas. Namun sayangnya, kesalahan yang terjadi di kebanyakan film Indonesia kembali terulang. Penyelesaian masalahnya terkesan terlalu terburu-buru dan digampangkan. Endingnya yang sangat klise membuat saya kesal. Apa tidak ada cara lain yang lebih segar, realistis dan greget? Penonton seolah dipermainkan. Maka jangan heran jika saya begitu memuja Hari Untuk Amanda. Salman Aristo dan Ginatri S. Noer mengakhiri kisahnya dengan dewasa dan manis. Seandainya Titien Wattimena sedikit lebih berani dalam mengambil resiko, mungkin Milli & Nathan akan lebih mengesankan. Penyelesaian kisah Milli sudah apik, sayang kisah Nathan diakhiri dengan klasik. Bahkan sejak pertengahan film sudah bisa ditebak bagaimana akhir dari kisah percintaan Milli dan Nathan. Ya, memang tidak ada gading yang tidak retak.

Acceptable

Trailer :

Kamis, 09 Juni 2011

REVIEW : BEASTLY

"You have a year to make someone love you, or stay like this for ever." - Kendra

Sementara Red Riding Hood masih ditahan oleh pihak bea cukai, Beastly melenggang masuk dengan mudah. Bisa dimengerti karena distribusi Beastly ditangani oleh importir yang sudah melunasi kewajibannya. Mungkin yang membuat bertanya-tanya adalah, kenapa saya membandingkan Beastly dengan Red Riding Hood? Mudah, karena keduanya berasal dari dongeng anak yang terkenal. Beastly memang mengadaptasi novel berjudul sama karangan Alex Flinn, namun sejatinya ini adalah adaptasi modern dari Beauty and the Beast. Perombakan dilakukan disana sini untuk memuaskan target penonton yang mengincar remaja usia belasan. Para pemainnya pun dipilih yang memiliki wajah yang rupawan. Jika gadis bertudung merah mengandalkan Amanda Seyfried yang sensual, maka si buruk rupa didukung Alex Pettyfer, Vanessa Hudgens dan aktris favorit saya, Mary-Kate Olsen. Sampai sini, Beastly lebih unggul. Menilik raihan box office, Hood terbang lebih tinggi. Lantas bagaimana dengan kualitasnya? Baik Hood dan Beastly tidak memuaskan, tetapi tentu ada yang sedikit lebih baik. Kesalahan tak termaafkan dari sebuah film adalah jika menghadirkan tontonan yang membosankan. Sayangnya, Beastly melakukannya.

Bagi yang pernah menyaksikan Beauty and the Beast, dapat dengan mudah menebak akan dibawa kemana film ini oleh Daniel Barnz. Bayangkan saja petualangan cinta Belle dan Beast dengan setting Manhattan yang padat dan penuh kesibukan. Hilangkan pemikiran bahwa Beast akan ditampilkan dalam sosok monster besar berbulu yang mengerikan dan gantikan dengan pemuda bertubuh atletis yang lebih terlihat seperti penderita kanker alih-alih penerima kutukan berwajah buruk rupa. Dan, tentu saja dia bukan seorang bangsawan. Hanya seorang pemuda kaya yang sombong dan manja yang haus akan kasih sayang orang tua. Kyle (Alex Pettyfer) dianugerahi oleh Tuhan dengan bentuk tubuh yang nyaris sempurna serta otak yang cemerlang. Tetapi dia tidak bisa menyelaraskan pemakaian otak dengan hati. Kerap memandang rendah mereka yang memiliki fisik tidak menarik dan menjadikannya sebagai bahan hinaan. Kendra (Mary-Kate Olsen) menjadi salah satu korbannya. Pilihan yang salah, Kyle, pilihan yang salah. Kendra membuktikan bahwa dirinya bukanlah gadis biasa. Sebagai balasan atas perlakuan Kyle, Kendra menghadiahinya sebuah kutukan yang mengubah Kyle menjadi pemuda buruk rupa. Untuk menghilangkannya, dia kudu mencari seseorang yang mengatakan 'I Love You' dengan tulus kepadanya sebelum satu tahun. Apakah orang tersebut adalah Lindy (Vanessa Hudgens), teman lamanya? Tidak perlu menjadi jenius untuk bisa menebaknya. Ayah Lindy terlibat dalam suatu kasus kriminal dan Kyle 'memerasnya'. Dia ingin Lindy tinggal bersamanya selama beberapa bulan dengan dalih untuk melindunginya.

Beastly adalah sebuah film drama romantis yang penuh dengan hal-hal bercita rasa klise. Tidak ada yang salah dengan klise, penanganan yang tepat akan menghadirkan tontonan dengan dasar naskah yang klise menjadi sesuatu yang menyenangkan. Barnz gagal melakukannya. Film pun berjalan dengan datar, membosankan dan anti-klimaks. Lindy digambarkan sebagai gadis yang bersahaja, menolak pemberian barang-barang mahal nan bermerk dari Kyle. Kyle diperlihatkan sebagai pemuda yang perkasa, mampu membangun sebuah rumah kaca tanpa bantuan siapapun. Oh, please. Norak dan menjengkelkan. Ini terjadi berulang kali, Barnz mencoba untuk berlindung di balik tameng pakem yang harus dipenuhi oleh drama romantis. Dengan minimnya konflik yang dimunculkan, saya menyesali keputusan untuk tidak membawa bantal dan selimut ke gedung bioskop (atau memilih untuk menontonnya di kelas VIP). Siksaan demi siksaan diluncurkan bertubi-tubi. Kelopak mata terasa sangat berat. Berada dalam kelas Contemporary of English Drama menjadi pilihan yang lebih menyenangkan saat itu. Sungguh, saya ingin seseorang menampar saya kala itu.

Yang lebih menjengkelkan, saya ingin menelepon seorang kawan dari klub teater di pertengahan film. Sudah jelas, Alex Pettyfer adalah versi cowok dari Megan Fox. Mengandalkan wajah tampan dan tubuh atletisnya sebagai bahan jualan. Dari Stormbreaker, Tormented, I Am Number Four hingga Beastly, tidak ada perkembangan signifikan yang ditunjukkan oleh Pettyfer, kecuali dia menjadi semakin tampan saja. Duh. Apakah ini berarti saya harus mengirimkan kartu nama Didi Petet kepada dia untuk mengajarinya cara mengolah ekspresi wajah yang baik dan benar? Oh, tunggu dulu, saya harus mengopi kartu namanya dulu karena saya juga harus mengirimkannya kepada Vanessa Hudgens. Astaga, apa yang dilakukan oleh jeung Gabriella Montez disana? Apakah dia telah mengkhianati Troy Bolton yang dianggapnya tidak cukup kaya? Sepertinya, penolakan hadiah itu hanyalah basa-basi semata. Dih. Mari kita langsung temui Mary-Kate Olsen dan Neil Patrick Harris saja. Saran untuk Barnz, kisah cinta antara seorang penyihir dengan pria buta agaknya lebih menarik untuk diangkat. Setidaknya Olsen dan Harris tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Maklum, mereka memiliki jam terbang yang lebih tinggi. Tapi tentu saja itu bukan alasan yang bisa diterima. Chemistry hambar yang ditunjukkan oleh jeng Montez dan pak Rider 'dipermanis' dengan naskah buatan Barnz yang lebih cocok disebut lullaby ketimbang script. Dan, saya pun lebih memilih untuk tidur. Terima kasih.

Poor

Trailer :


Sabtu, 14 Mei 2011

REVIEW : MY GIRL

Musim panas tahun 1972 mungkin menjadi saat yang akan selalu dikenang oleh Vada Sultenfuss (Anna Chlumsky). Inilah saat dimana si gadis tomboi ini mulai beranjak dewasa. Petualangan musim panasnya dimulai dengan hadirnya Shelley (Jamie Lee Curtis) yang melamar sebagai tukang rias mayat di rumah duka milik ayah Vada, Harry (Dan Aykroyd). Absennya sosok ibu dalam kehidupan Vada membuatnya cepat akrab dengan Shelley. Wanita modis ini tidak hanya membuat Vada tertarik, tetapi juga Harry dan sahabat baik Vada, Thomas (Macaulay Culkin). Saat Shelley mulai berkencan dengan Harry, persahabatan diantara Vada dan Shelley pun mulai mengendur. Sejak saat itu, berbagai masalah mulai datang menyerang Vada. Dimulai dari kebingungan Vada dalam menghadapi menstruasi pertamanya, pria idaman Vada hendak menikah dengan kekasihnya hingga kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Belum lagi Vada selalu merasa bahwa dia adalah penyebab kematian sang ibu. Seandainya dia tidak pernah dilahirkan, mungkin sang ibu masih hidup hingga kini. Harry tidak akan tertarik dengan Shelley. Namun tetap saja yang namanya takdir siapa yang tahu.

Ada yang ingat dengan film ini? Bagi yang merasakan masa-masa remaja di tahun 90-an rasanya hampir pasti mengetahui My Girl. Dulu salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia kerap memutarnya kala masa liburan. Bahkan saking seringnya, kakak saya sampai fasih dengan jalan ceritanya. My Girl berjasa meroketkan nama Anna Chlumsky ke jajaran artis cilik berpotensi pada masa itu. Sayangnya, nasib baik tak hinggap kepadanya. Nama Chlumsky tenggelam sesudahnya. Macaulay Culkin masih lebih beruntung. Sebelum My Girl, Culkin sudah angkat nama lewat Home Alone. Nama besarnya yang dijadikan sebagai jualan utama dari film yang dikomandoi oleh Howard Zieff ini. Dengan suntikan bujet sebesar $15 juta, My Girl tergolong sukses besar. Tak heran jika sekuelnya dibuat 2 tahun kemudian. Menurut saya, My Girl 2 tak perlu dibuat. Kisah petualangan musim panas Vada rasanya cukup dibuat dalam satu seri saja. Apalagi endingnya telah menegaskan semuanya.

Meskipun dibintangi oleh dua aktor cilik dan fokus cerita pada kehidupan Vada yang notabene masih berusia 11 tahun, My Girl bukanlah film untuk anak-anak. Bahkan di Amerika sendiri film ini mendapat rating PG-13 (13 tahun ke atas). Plotnya memang berat karena menyoal kehidupan dan kematian. Alur pun berjalan lambat, 102 menit terasa cukup lama terlebih tidak ada ledakan konflik yang membuat penonton penasaran. Kalaupun ada, itu disisipkan di bagian klimaks. Yang menjadikan My Girl menarik adalah Zieff dan penulis skenario, Laurice Elehwany, berusaha untuk tetap realistis dalam menuturkan kisah. Terkadang saya geli melihat tingkah polah Vada dan James yang mengingatkan saya pada 'petualangan' di masa kecil. Jatuh cinta pada orang yang lebih dewasa, takut berlebihan terhadap penyakit, 'menggoda' binatang hingga memanjat pohon. Vada mendapatkan ciuman pertamanya dari James.

Anna Chlumsky memulai debutnya di film layar lebar dengan cukup manis. Vada yang tomboi, ramah dan penuh semangat menjadi karakter yang sangat lovable. Sulit untuk tidak mencintai Vada. Sementara Macaulay Culkin tampil imut dan menggemaskan. Aktingnya biasa saja, tapi untungnya chemistry dengan Chlumsky mampu berpadu dengan baik sehingga hubungan keduanya tak terlihat aneh sepanjang film. Jamie Lee Curtis patut mendapat kredit tersendiri. Bukan penampilan terbaiknya, namun Shelley menjadi hidup di tangannya. Sebagai sebuah film, My Girl memang tak sempurna. Masih banyak kekurangan. Untuk dinikmati sebagai sebuah hiburan pun cukup berat menilik plotnya yang bolak balik menyinggung soal kematian. Namun bukan berarti My Girl bisa dilewatkan begitu saja. Sulit mencari film bertema coming of age semacam ini di tahun 2000-an. Tanpa mengumbar seks, tapi mampu menyampaikan pesannya dengan baik kepada penonton.

Jumat, 13 Mei 2011

REVIEW : CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE


Jika dulu membicarakan film Thailand berarti membicarakan film horror, maka sekarang tidak lagi. Ada tren baru yang berkembang di negara gajah putih ini paska kesuksesan luar biasa dari Bangkok's Traffic Love Story dan Hello Stranger. Setelah dua tahun berturut-turut film komedi romantis merajai tangga box office di Thailand, maka film horror yang selalu menjadi andalan Thailand harus mengalah sejenak. Mengambil pendekatan yang agak mirip dengan film romantis buatan Korea membuat Love Story dan Stranger mudah diterima oleh kalangan luas. Apalagi Korea sekarang lebih asyik membuat genre thriller / suspense ketimbang romantis. Para sineas Thailand jeli dalam mengambil kesempatan. Tidak hanya sukses di negerinya sendiri, Love Story dan Stranger pun sempat membuat heboh masyarakat Indonesia. Belakangan, demam Korea berubah menjadi demam Thailand. Jika sebelumnya Rain atau Won Bin dielu-elukan oleh para perempuan, maka sekarang giliran Mario Maurer yang naik daun. Maurer sudah cukup lama berkecimpung di dunia seni peran sebenarnya. Pernah berlakon secara apik dalam The Love of Siam, namanya baru melesat di negeri tercinta ini setelah tampil menggemaskan dalam Crazy Little Thing Called Love.

Plot yang dihadirkan oleh duo Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong terbilang sangat sederhana, atau lebih kasarnya, super klise. Melihat tampilan poster, mengintip trailer dan membaca sinopsisnya yang tampak biasa tak menggugah hati saya untuk segera menontonnya. Justru yang membuat saya penasaran adalah mengapa setiap orang membicarakan film ini. Kisahnya tak jauh berbeda dengan film romantis atau FTV kebanyakan. Nam (Fern Pimchanok Lerwisetpibol) menyukai seniornya yang tampan dan idola di sekolahnya, Shone (Mario Maurer). Bagi gadis dengan penampilan buruk seperti Nam, mendapatkan Shone bagaikan pungguk merindukan bulan. Mustahil. Belum lagi lawannya adalah gadis-gadis berparas ayu dan berbakat. Satu-satunya yang bisa dibanggakan oleh Nam adalah kemampuannya dalam berbahasa Inggris. Tapi bukan Nam namanya jika menyerah begitu saja. Sang ayah menawari Nam tiket ke Amerika jika dia bisa meraih ranking 1. Ini mencambuk semangat Nam. Dengan bantuan ketiga sahabatnya, Nam berusaha keras untuk mendapatkan Shone sekaligus ranking 1. Selesai begitu saja ? Tidak, perjalanan Nam masih panjang dan berliku. Ketika Nam yang gelap itu bertransformasi menjadi Nam dengan kulit bening, segalanya tidak menjadi lebih mudah. Top (Acharanat Ariyaritwikol), sahabat Shone yang menyukai Nam, menjadi penghalang antara Shone dan Nam. Hadirnya Pin juga turut membuatnya menjadi semakin rumit. Nah, nah, nah...

Melihat ulah Nam dan ketiga sahabatnya yang begitu polos sungguh membuat gemas. Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong membuat penonton kembali bernostalgia dengan kisah cinta monyet masing-masing saat masih duduk di bangku SMP. Ayo mengaku, siapa yang pernah naksir dengan kakak senior sampai rela mengikuti ekskul yang sebenarnya tak disukai dan membaca tips-tips mendapatkan cowok, lalu pura-pura ke toilet hanya untuk mengintip kelas orang yang disukai? Itulah yang dilakukan Nam dan konco-konconya ini. Saya dibuat tertawa terbahak-bahak melihat betapa polos dan konyolnya cara mereka, namun saya tertawa juga karena beberapa diantaranya pernah mengalaminya, hikikiki. Masih ditambah dengan ulah guru bahasa Inggris mereka yang galak namun sebenarnya baik hati dan konyol. Puttipong dan Wasin mencoba menghadirkannya dengan realistis dan santai sehingga film pun enak dinikmati. Tapi saya kurang sreg dengan transformasi Nam. Kerja departemen make-up memang sangat bagus karena bisa menyulap Fern Pimchanok Lerwisetpibol yang sedemikian cantiknya menjadi susah dikenali. Namun ketika Nam yang buruk rupa itu berubah menjadi gadis yang cantik dan modis, prosesnya terlalu cepat dan unbelievable. Mungkin terjadi, tapi tak secepat dan sedrastis itu. Pada akhirnya malah agak mengganggu plotnya itu sendiri, meski saya tak ingin munafik bahwa Fern Pimchanok Lerwisetpibol membuat saya klepek-klepek. Hihi. Tapi akang Mario Maurer tetap paling oke kok... *ah, jadi malu..

Menjelang ending, Puttipong dan Wasin langsung membelokkan stir. Dari awalnya berhaha hihi, menukik menjadi mendayu-dayu. Persahabatan Nam dengan ketiga sohibnya retak dan Shone juga tak kunjung mendekat. Saat segalanya terlihat mulai membaik, sebuah pernyataan meretakkan impian Nam. Bagi yang sensitif dengan adegan tearjerker seperti ini, siapkanlah tissue sebanyak mungkin. Bahkan saya pun berhasil dibuat bercucuran air mata olehnya. Bukan karena Nam-Shone, tapi melihat persahabatan yang terajut indah mendadak buyar karena masalah cinta. Chemistry yang terjalin diantara pemain memang kekuatan utama Crazy Little Thing Called Love. Syukurlah Pimchanok dan Maurer serta ketiga pemeran sahabat Nam bermain apik dan chemistry-nya terasa menyatu. Film romantis tanpa adanya chemistry sama saja dengan bohong. Setelah dibuat tertawa gegulingan karena lawakan khas Thailand yang cenderung cablak, penonton langsung digiring menuju adegan penguras air mata.

Crazy Little Thing Called Love berani menawarkan romansa yang beda, cinta monyet para ABG. Bosan lah ya kalau terus dijejali kisah roman dua insan yang sudah matang. Bagaimanapun, kisah kasih di sekolah memang lebih seru untuk diceritakan. Pahit manis konyol, semua bercampur aduk. Harus diakui, cinta pertama susah untuk dilupakan. Rasanya kita semua pasti pernah mengalami apa yang dialami oleh Nam. Menyukai lawan jenis untuk pertama kalinya tetapi tak berani untuk mengungkapkannya. Ada yang kemudian memilih untuk mengagumi dari jauh saja tetapi ada juga yang berusaha untuk mencuri perhatiannya dengan hal-hal konyol. Crazy Little Thing Called Love memang tidak menawarkan sesuatu yang baru, plotnya terbilang sangat sederhana dan sudah usang. Tapi eksekusi Puttipong dan Wasin lah yang menentukan. Butuh film romantis yang menghibur dan bisa membuat tertawa di kala stres menerjang? Maka film inilah yang menjadi jawabannya. Sangat menghibur.

Trailer :