Tampilkan postingan dengan label Acceptable. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acceptable. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

REVIEW : HI5TERIA



"Jika kepala terlepas dari ragamu, carilah wanita berbadan dua. Atau bayi yang masih suci.." - Vita

Lima sutradara, lima rasa takut, lima mimpi buruk. Proyek impian dari Upi Avianto ini mungkin akan mengingatkan Anda pada Phobia 2 dari Thailand atau Takut dari dalam negeri. Film bergenre horror dengan konsep omnibus. Namun pada dasarnya, Hi5teria memiliki semangat yang sama dengan FISFiC Vol. 1 yang lahir dari INAFFF tahun lalu, sutradara-sutradara pendatang baru memegang kendali di setiap segmen sementara Upi Avianto memantau dari bangku produser. Lagi-lagi, seperti halnya FISFiC, Hi5teria tidak memiliki benang merah yang mengaitkan antar satu segmen dengan segmen lainnya, kesamaan hanya terletak pada karakter utama yang didera terror adalah wanita, dan adanya twist yang terselip di penyelesaian masalah. Kelima wanita yang ‘sial’ tersebut adalah Tara Basro, Maya Otos, Luna Maya, Imelda Therinne, dan Ichi Nuraini, sedangkan posisi ‘algojo’ ditempati oleh Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, dan Harvan Agustriansyah. Premisnya menarik, mencoba mengangkat kisah-kisah mistis yang beredar di sekitar kita.

Tara Basro dijadikan sebagai tumbal pertama. Dia adalah Sari, dalam segmen Pasar Setan, yang terpisah dari kekasihnya saat mendaki gunung. Tersesat di hutan, Sari bertemu dengan Zul (Dion Wiyoko). Mereka berdua terus menerus melewati jalan yang sama, tidak kunjung menemukan jalan setapak yang membawa mereka keluar dari hutan. Suara-suara aneh mulai menghantui. Sebagai sebuah pembuka, Pasar Setan menjanjikan. Ketegangan dibangun secara perlahan-lahan. Adriyanto Dewo sanggup mengimbangi kepiawaian Affandi Abdul Rachman saat menggarap Pencarian Terakhir. Endingnya pun terasa pas, malah saya menganggapnya ini adalah ending terbaik dari semua segmen. Meski tidak semencekam segmen-segmen berikutnya, Pasar Setan memberikan kengerian yang nyata terutama bagi para pendaki gunung. Secara personal, saya memilih segmen ini sebagai favorit saya karena pengalaman pribadi dimana saya beberapa kali mengalami sebuah mimpi buruk dimana saya selalu kembali ke tempat yang sama sekalipun telah berjalan jauh. Sulit untuk tidak jatuh cinta dengan Pasar Setan jika menyukai Pencarian Terakhir maupun Dead End.

Sementara Wajang Koelit buatan Chairun Nissa yang memasang Maya Otos sebagai wartawan asing yang tengah melakukan riset mengenai wayang kulit di sebuah daerah di Jawa Tengah malah kurang menggigit. Kedekatan setting seharusnya mampu menegakkan bulu roma saya, namun pada kenyataannya segmen ini tidak berjalan sesuai harapan, jalan ceritanya mudah sekali ditebak. Jika ada yang membuatnya terasa menakutkan, maka itu berkat instrumen musiknya. Wajang Koelit seperti berusaha untuk mengikuti jejak Titisan Naya, dan twist yang disisipkan membuatnya terkesan dipaksakan. Permasalahan yang sama juga menimpa dua segmen berikutnya, Kotak Musik dan Loket. Dalam Kotak Musik, Luna Maya mengalami serangkaian peristiwa aneh yang memaksanya untuk mau tidak mau memercayai hal-hal gaib. Billy Christian menawarkan sebuah premis biasa yang dieksekusi dengan cukup apik, tetapi tensi ketegangan mulai merosot semenjak Luna Maya diikuti oleh hantu anak kecil. Jika ada yang membuat segmen ini menonjol adalah Luna Maya yang terlihat lebih cantik dari biasanya serta sanggup berakting menawan. Dan saya suka sekali setiap dia melontarkan dialog, “mbok, bikin kaget!”.

Palasik dari Nicho Yudifar menebar kengerian kepada penonton melalui mitos supernatural masyarakat Minangkabau. Diantara segmen-segmen lainnya, Palasik adalah yang terkuat. Imelda Therinne yang sedang hamil besar diajak berlibur oleh suaminya yang sabar dan anak tirinya, Poppy Sovia, yang keras ke sebuah villa. Liburan yang seharusnya damai, menenangkan, dan membuat pikiran terasa jernih justru membuat Imelda Therinne tergoncang setelah dia melihat sebuah kepala terbang. Setelah pembukaan yang memancing rasa penasaran, Nicho Yudifar lantas menggiring kita ke dalam teror yang kian mengerikan setiap menitnya. Visualisasi setan yang menyeramkan namun tidak banci tampil menambah daya tarik tersendiri. Pun begitu, penonton dituntut untuk mencari tahu sendiri apa makna dari ‘Palasik’ karena selama film berlangsung, hanya secuil informasi yang diberikan. Menginjak segmen terakhir, Loket, tingkat kesulitan permainan ditingkatkan. Harvan Agustriansyah menyajikan sebuah tayangan yang mendebarkan, dan membuat penonton harap-harap cemas. Wanita sial di segmen ini adalah Ichi Nuraini, petugas penjaga loket parkiran basement di sebuah gedung yang mengalami malam yang tidak mengenakkan. Tidak banyak dialog disini. Kengerian dibangun melalui suasana parkiran yang sunyi sepi nan gelap. Cukup lama penonton ditempatkan dalam posisi yang tidak menyenangkan, dibiarkan menduga-duga sendiri kapan teror yang sebenarnya akan datang. Ketika apa yang dinanti-nantikan oleh penonton akhirnya datang, tensi segera saja menukik turun. Penyelesaiannya membuat saya tidak habis pikir. Haruskah diberi twist?

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi setiap segmen di Hi5teria, kenapa twist ending menjadi sesuatu yang wajib dipergunakan? Tidak masalah jika pemakaiannya tepat seperti dalam kasus Pasar Setan atau Palasik, tapi itu akan menjadi bumerang bagi filmnya sendiri apabila dipaksakan untuk tampil, seperti yang terjadi dalam Wajang Koelit, Kotak Musik, dan Loket. Malah akan lebih terasa mencekam, dan tentunya riil, apabila dibiarkan apa adanya. Tidak semua film horror perlu diberi twist ending. Pun begitu, saya cukup puas dengan kinerja dari sutradara-sutradara muda di Hi5teria yang terlepas dari hasil akhirnya yang bagus atau mengecewakan. Langkah seperti yang dilakukan oleh Upi Avianto ini patut mendapat apresiasi lebih mengingat ini merupakan sebuah kesempatan baik untuk menemukan sutradara muda yang memiliki bakat terpendam. Apabila ada kekurangan disana-sini, tentu masih dapat dimaklumi. Setidaknya, Hi5teria telah memberikan sebuah angin segar kepada masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur bersikap skeptis terhadap film horor lokal yang semakin lama kian tak berotak.

Acceptable


Rabu, 21 Maret 2012

REVIEW : JOHN CARTER


"When I saw you, I believed it was a sign... that something new can come into this world."

Ketika rekan seperjuangannya di Pixar, Brad Bird, melewati masa transisi dari film animasi 3D ke film live action dengan mulus melalui Mission: Impossible
– Ghost Protocol, maka tidak halnya dengan Andrew Stanton. Film live action perdananya, John Carter, adalah adaptasi dari Princess of Mars yang merupakan bagian dari novel berseri, Barsoom, karangan Edgar Rice Burroughs yang selama ini Anda kenal sebagai pencipta Tarzan. Berbeda dengan “saudaranya” yang mengalami nasib baik dalam hal adaptasi, John Carter justru terseok-seok. Sempat menjadi proyek yang selalu mengembara dari satu tangan ke tangan lain, dan pada akhirnya tercatat sebagai salah satu “development hell” terlama dalam sepanjang sejarah sinema, proyek mendapatkan lampu hijau setelah Disney mengakuisisi hak ciptanya. Disuntik dana sebesar $250 juta, Andrew Stanton membidani sebuah proyek yang megah. Belum apa-apa, banyak kalangan mencibir. Disney dinilai terlalu percaya diri mengingat John Carter tidak terlalu dikenal oleh publik di luar Amerika. Dengan dana sebesar itu, dan melihat kondisi ekonomi saat ini, apa sanggup John Carter balik modal? Pertanyaan yang lebih penting, akankah hasil akhirnya semegah yang diharapkan oleh para penonton?

Secara garis besar dapat dituliskan bahwa John Carter berkisah tentang veteran Perang Sipil bernama John Carter (Taylor Kitsch) yang ‘terlempar’ ke Mars setelah berusaha menghindari kejaran suku Indian. Saat sesosok makhluk asing datang dari planet seberang, rupawan, perkasa, dan bisa terbang, maka tidak ada alasan untuk menyiksanya. Carter yang menjalin hubungan baik dengan makhluk Mars berkulit hijau yang membuat saya jijik, Tars Tarkas (Willem Dafoe), dan putri Mars yang aduhai, Dejah Thoris (Lynn Collins), langsung mengubah statusnya dari tawanan menjadi pahlawan dalam waktu sekejap. Misinya, menyelamatkan Mars dari Sab Than (Dominic West), penguasa Zodanga yang kejam yang mengancam akan menyulut peperangan apabila Dejah dari Helium menolak untuk menikahinya. Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai mengemuka setelah Carter menjelajahi Mars. Apakah masyarakat Barsoom (Mars) selain kekurangan air juga kekurangan kain? Kasihan John Carter yang sepanjang film harus rela bertelanjang dada sehingga dituduh sebagai eksibisionis. Dan sebagai sebuah planet dimana teknologi telah jauh berkembang pesat melewati Jarsoom (Bumi), Barsoom enggak banget. Lihat saja cara mereka berperang, masih memakai pedang cuy! Yang membuat saya tidak habis pikir, mengapa hewan super lamban masih dijadikan alat transportasi? Saya mengerti jika bangsa Tharks menolak untuk terbang, tapi mbok ya bikin alat transportasi darat yang memadai.

Untuk ukuran sebuah film dengan bujet raksasa, efek khusus dari John Carter tergolong kurang bombastis dan telah kita lihat berulang kali di film-film fiksi ilmiah sebelum ini. Tidak ada inovasi. Bandingkan dengan Transformers: Dark of the Moon yang memiliki beberapa adegan yang mencengangkan. Di beberapa bagian pengerjaannya masih tampak kasar walaupun tampilan Helium dan adegan peperangannya terasa megah, dan 3D-nya pun tak sehebat Hugo. Sekalipun di lini teknis tak sehebat yang diharapkan, Stanton mampu mewujudkan tujuan utama John Carter, yakni menghibur penonton. Ya, saya mengakui bahwa film ini ternyata mampu membawa saya ke beberapa momen menyenangkan dan kepenatan dalam memikirkan beban hidup yang kian menumpuk pun hilang. Bukan yang terbaik dalam hal memuaskan penonton, namun John Carter ternyata tidak seburuk yang diperkirakan. Tentu saja ini belum termasuk dengan sektor naskah. Jika Anda berusaha untuk menilai film ini dari sudut pandang cerita, maka kemungkinan besar Anda akan langsung putus asa. Naskah yang dikerjakan secara keroyokan oleh Stanton, Mark Andrews, dan Michael Chabon, luar biasa menggelikan. Jika mengutip ucapan yang sering terlontar dari mulut salah satu teman, “film iki absurd tenan!” Tapi toh bukan ini yang dicari oleh penonton kebanyakan. Keanehan jalan cerita dari John Carter malah menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Memasang ekspektasi yang serendah mungkin terhadap film ini ternyata membawa keuntungan. Apabila Anda ingin bersantai menghabiskan waktu luang di bioskop bersama teman atau orang terkasih, maka John Carter adalah pilihan yang tepat. Semrawut, tanpa otak, namun menghibur.

Acceptable


Kamis, 15 Maret 2012

REVIEW : NEGERI 5 MENARA


"Man Jadda Wajada!"

Negeri 5 Menara
memberikan secercah harapan kepada perfilman lokal yang lesu dalam mendulang penonton. Tahun lalu, Surat Kecil Untuk Tuhan yang
dinobatkan sebagai film terlaris tak sanggup menggapai angka 800 ribu penonton. Sungguh memprihatinkan. Berangkat dari sebuah novel laris yang mengumpulkan jutaan pembaca dari berbagai pelosok negeri, Negeri 5 Menara berpotensi mengulang kesuksesan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Jika harapan itu dirasa terlalu muluk-muluk, setidaknya mampu mengimbangi raihan Sang Pencerah. Dikomandoi oleh Affandi Abdul Rachman yang pernah menghasilkan beberapa film apik, Pencarian Terakhir, Heart-Break.com, Aku atau Dia? dan The Perfect House, dan naskah ditangani oleh penulis naskah jempolan, Salman Aristo, film yang mengisahkan tentang perjuangan enam santri di sebuah pondok di Ponorogo ini berpotensi menjadi sebuah tontonan yang berkualitas. Namun tentu saja duo ini mengemban tugas berat mengingat mereka harus memadatkan novel setebal 416 halaman menjadi sebuah film berdurasi 120 menit saja. Apabila mereka sanggup membuat para penggemar novelnya merasa terpuaskan dan penonton yang tidak mengetahui seluk beluk mengenai novel karya Ahmad Fuadi mendadak tertarik untuk membaca novelnya, maka tujuan berhasil tercapai. Yang menjadi pertanyaan, apakah tujuan tersebut berhasil tercapai?

Affandi Abdul Rachman memulai film dari sebuah desa di pinggir Danau Maninjau dengan memerlihatkan kehidupan Alif (Gazza Zubizareta) yang serba sederhana dengan Amak (Lulu Tobing) dan Ayah (David Chalik). Sekalipun hidup dalam struktur sosial konvensional, Alif dan sahabatnya, Randai (Sakurta Ginting), tidak berpikiran seperti rekan-rekan sebayanya, mereka memiliki mimpi yang tinggi. Alif berniat melanjutkan pendidikan ke sebuah SMA di Bandung, dilanjut dengan memasuki kampus idamannya, ITB. Sayangnya, Amak tidak sepemikiran dengan putra sulungnya ini. Amak menginginkan Alif untuk memasuki pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Pondok Madani. Walau terasa berat harus merelakan mimpinya terkubur, Alif merasa wajib mendengarkan perkataan orang tuanya. Bagaimanapun, orang tua mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya. Ditemani sang Ayah, Alif berangkat mengikuti ujian ke Ponorogo. Hatinya remuk mengetahui keadaan pondok yang jauh dari kesan ideal, belum lagi dengan keharusan mundur setahun demi mengikuti kelas adaptasi. Alif mencoba untuk bertahan, setidaknya hingga tahun pertama berlalu. Surat-surat yang dikirim oleh Randai semakin menggoda iman Alif untuk segera kabur ke Bandung. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Pondok Madani terasa bagaikan rumah kedua yang nyaman bagi Alif terlebih dengan kehadiran Baso (Billy Sandy), Atang (Rizky Ramdani), Said (Ernest Samudera), Raja (Jiofani Lubis), dan Dulmajid (Aris Putra). Mereka berenam kerap berkumpul di bawah menara masjid dan menamakan diri mereka sebagai “Sahibul Menara”.

Tidak seperti Laskar Pelangi yang mempunyai grafik konflik yang tergambar dengan tegas, Negeri 5 Menara cenderung adem ayem dalam bertutur, mengalir dengan tenang bagaikan tengah menaiki sebuah perahu yang melintasi sungai dengan pemandangan yang menyejukkan mata ditemani dengan rekan-rekan yang menyenangkan. Meski tenang tanpa tantangan, perjalanan tersebut tak terasa membosankan. Konflik batin yang dihadapi Alif pun tidak lama-lama dibahas, segera terselesaikan ketika film memasuki menit ke-20. Selebihnya, Affandi Abdul Rachman menyuguhkan tentang suka duka menjadi santri pondok yang sejujurnya cukup membuat saya tergoda untuk menjajalnya. Demi mempertahankan mood penonton, maka dirasa perlu membuat cabang cerita baru. Baso yang tidak terlalu pandai dalam Bahasa Inggris diminta rekan-rekannya untuk mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris, atau ketika Alif menjadi wartawan di Koran pondok dan terkesima dengan kecantikan Sarah (Eriska Rein), keponakan dari Kyai Rais (Ikang Fawzi). Ditampilkan secara jujur nan polos, cabang-cabang ini sanggup menggelitik penonton. Kedekatannya dengan kehidupan kita menjadikan Negeri 5 Menara terasa membumi dan lezat untuk disantap. Tertawa geli melihat para santri dihukum oleh Ustadz mereka lantaran telat ke masjid, grogi saat berhadapan dengan santriwati, atau the power of kepepet, ide-ide cerdas yang muncul saat kepepet. Ada dua kemungkinan saat penonton tergelak; heran melihat kelakuan para santri atau pengalaman pribadi.

Namun dari semua itu, Negeri 5 Menara memberikan sebuah mentera sakti bagi siapapun yang ingin mencapai kesuksesan. Di kelas hari pertamanya, Alif dikenalkan dengan mantera “Man Jadda Wajada!” oleh Ustad Salman (Donny Alamsyah), yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Disinilah yang membedakan Negeri 5 Menara dengan film sejenis bertema “zero to hero” yang menyoroti perjuangan siswa dari kampung menjadi orang sukses. Segala sesuatu yang ada di dunia tidak dapat diraih secara instan, butuh perjuangan yang seringkali penuh lika liku. Sahibul Menara memiliki impian untuk menaklukkan dunia. “Kita bikin janji di menara ini, nanti kita akan bertemu dan foto dengan menara kita masing-masing,” kata Baso kepada rekan-rekannya. Impian dari Sahibul Menara tidak diperlihatkan mendadak tercapai begitu saja. Beberapa kali mereka meneriakkan mantra “Man Jadda Wajada” tatkala hati mulai dipenuhi dengan keraguan.

Sekalipun berasal dari sebuah pesantren yang tidak terlalu terkenal, Sahibul Menara tidak segan memiliki impian yang besar. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang bijak, “jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar.” Sayangnya, keterbatasan durasi memaksa Affandi Abdul Rachman memangkas proses perjuangan tokoh-tokoh kesayangan kita ini dalam menggapai sukses. Endingnya muncul secara prematur. Saat layar tiba-tiba menghitam memunculkan nama-nama di jajaran pemain dan kru, secara spontan saya nyeletuk, “gitu doang?”. Endingnya terasa datar dan janggal. Bagaikan tengah menaiki roller coaster yang memacu adrenalin, ternyata kita hanya dibawa dalam satu putaran saja. Tak puas, menginginkan lebih. Pun begitu, Affandi Abdul Rachman dan Salman Aristo telah berhasil menyuguhkan salah satu tontonan terbaik di awal tahun. Lucu, mengharukan, dan inspiratif. Negeri 5 Menara sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Acceptable

Jumat, 09 Maret 2012

Short Reviews: SAFE HOUSE & GHOST RIDER: SPIRIT OF VENGEANCE

Safe House

Film keempat dari Daniel Espinosa, Safe House, berkisah mengenai mantan anggota CIA yang membelot, Tobin (Denzel Washington), yang diboyong ke rumah perlindungan setelah secara tiba-tiba memerlihatkan batang hidungnya di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Cape Town, Afrika Selatan. Kemunculannya menimbulkan tanda tanya besar. Belum sempat pihak CIA mengorek informasi lebih dalam dari Tobin, sebuah kelompok bersenjata mendobrak masuk dan mengobrak abrik rumah perlindungan. Sang penjaga rumah, Matt (Ryan Reynolds), pun ikut terseret ke dalam kasus dan terpaksa melindungi Tobin dari berbagai pihak yang mengincarnya. Beruntung, jajaran pemainnya solid terutama Denzel Washington yang berakting meyakinkan sebagai Tobin, sehingga mampu menyelamatkan Safe House dari kebosanan lantaran naskahnya yang klise dengan alur yang mudah ditebak.

Acceptable
Ghost Rider : Spirit of Vengeance

Hasil box office seluruh dunia Ghost Rider yang lumayan membuat Marvel Knights dan Nicolas Cage kelewat percaya diri untuk melanjutkan kisah si tengkorak penunggang motor sekalipun para kritikus mencercanya. Dalam Ghost Rider : Spirit of Vengeance, sebuah sekuel yang seharusnya tidak perlu dibuat, Johnny Blaze (Nicolas Cage) bertugas untuk melindungi seorang bocah, Danny (Fergus Riordan), yang diburu oleh iblis (Ciaran Hinds) karena diyakini sebagai objek keturunan setan. Sepanjang film, rasanya saya ingin sekali melemparkan minuman karbonasi saya ke layar. Neveldine/Taylor membuat film pertamanya terasa seperti sebuah mahakarya. Ghost Rider : Spirit of Vengeance yang dibentuk dari sebuah naskah yang nampaknya dibuat oleh seseorang yang sedang teler dipenuhi dengan adegan-adegan dan humor-humor bodoh menyebalkan, alih-alih menyenangkan, kian “dipermanis” dengan efek khusus yang memprihatinkan serta para aktor yang bermain canggung. Film yang saya rekomendasikan bagi siapapun yang kebingungan dalam menghabiskan setumpuk uangnya. Dan saya bahkan belum menyebutkan 3D-nya yang palsu.

Troll

Jumat, 02 Maret 2012

REVIEW : THIS MEANS WAR



"Don't choose the better man, choose the man who makes you a better woman." - Trish

Bisa dimafhumi jika calon penonton berpikiran bahwa This Means War adalah sebuah film aksi komedi berbasis spionase apabila menilik dari tampilan poster, trailer, maupun sang pembesut, McG. Tidak keliru memang, hanya saja yang tidak mereka ketahui, ini juga merupakan sebuah film romantis. Tagline-nya yang menyebut “It’s Spy Against Spy” sesungguhnya telah mengindikasikan akan dibawa kemana film ini jika Anda jeli mengam
ati poster terutama pada penekanan kata Spy. Dengan mengintip jejak rekam dari sutradara bernama lengkap Joseph McGinty Nichol, ada baiknya Anda tak menaruh harapan yang muluk-muluk terhadap film ini. Kehadiran Reese Witherspoon dan Tom Hardy tidak menjamin apapun. Jika sejak awal Anda sudah terlanjur memasang ekspektasi yang tinggi, segera turunkan. Jangan mengharapkan sebuah tontonan cerdas menghibur dari sini karena Anda berada di tempat yang salah. This Means War adalah sebuah tempat bagi penonton yang mengharapkan tontonan menghibur tanpa harus memutar otak dengan keras, yang berarti dipenuhi dengan adegan-adegan klise nan bodoh.

Apakah itu berarti This Means War adalah sebuah film yang buruk? Itu tergantung dari sudut mana Anda menilainya. Yang jelas, film buatan McG ini bukanlah jenis film yang dibuat untuk memuaskan kritikus film. Naskah buatan duo Timothy Dowling dan Simon Kinberg cenderung dangkal dan tidak beraturan, namun terbilang lumayan karena masih menyimpan cukup banyak dialog cerdas. Sarat akan adegan yang menghibur, namun jauh dari kesan logis. Akan tetapi tentu saja Anda tidak berharap film ini akan memberikan susunan adegan yang menghindari pelecehan terhadap akal sehat, bukan? Plot utamanya saja sudah menggelikan. Seorang wanita mapan bernama Lauren Scott (Reese Witherspoon) secara tidak sengaja menjalin cinta dengan dua agen CIA, FDR (Chris Pine) dan Tuck (Tom Hardy), yang ternyata bersahabat baik. Terlalu banyak kebetulan. Tapi, hey, film Hollywood mana yang tidak dipenuhi dengan kebetulan, apalagi ini merupakan film komedi romantis dan sutradaranya adalah McG? Maka, ini masih bisa dimaafkan. Niat saya sejak awal terhadap film ini memang hanya sekadar mencari hiburan, jangan heran jika berbagai kelemahan dari This Means War masih bisa saya tolerir.

Pertemuan antara Lauren, FDR dan Tuck dimulai dari sahabat baik Lauren, Trish (Chelsea Handler), yang mendaftarkan Lauren ke sebuah situs kencan online menyusul kekesalan Lauren melihat mantan kekasihnya telah bertunangan. Di saat yang sama, Tuck pun mencoba mendaftar setelah melihat iklan situs kencan online di televisi. Disinilah Lauren dan Tuck berjumpa. Setelah merasa cocok satu sama lain, keduanya memutuskan untuk melakukan kopi darat. Entah sial atau beruntung, beberapa saat setelah Lauren menemui Tuck, secara kebetulan dia bertemu FDR yang menggodanya di sebuah rental video tanpa mengetahui bahwa Lauren adalah teman kencan sahabatnya. Dan, Lauren pun berada dalam posisi sulit. Dia kepincut dengan kedua pria ini. Tidak heran, karena mereka berdua adalah pria-pria yang seksi, menyenangkan, dan mapan. Seandainya Anda adalah Lauren, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan mengikuti langkah Lauren dengan mengencani mereka berdua? Atau Anda memutuskan untuk memilih salah satu pada saat itu juga? Yang Lauren tidak sadari, baik FDR maupun Tuck sama-sama telah mengetahui bahwa mereka mengencani wanita yang sama. Dan ini berarti perang!

Jika ada yang tidak bisa saya terima, maka itu adalah Reese Witherspoon. Jangan salah paham, saya bukan termasuk hater dari mantan istri Ryan Phillippe ini, justru sebaliknya, saya fans berat. Keberadaannya disini terasa tidak pas dilihat dari segi manapun. Setelah memenangkan Oscar berkat akting menawannya di Walk the Line, Reese Witherspoon justru mengalami stagnansi karir dengan memilih peran-peran aman bernada sama. Apa yang membedakan Lauren disini dengan Elizabeth di Just Like Heaven atau Lisa di How Do You Know? Nyaris tidak ada. Chemistry-nya dengan Tom Hardy dan Chris Pine pun kurang meyakinkan. Malahan, bromance antara Hardy dan Pine terasa lebih greget. Seandainya Witherspoon digantikan oleh aktris lain, rasanya tidak akan berdampak apapun terhadap film toh Lauren Scott seakan hanya difungsikan sebagai penggembira oleh tim penulis. This Means War, sekalipun tidak seburuk film-film komedi romantis Witherspoon paska Walk the Line, hanya akan membuat catatan karir Witherspoon terasa tak sedap untuk dipandang.

Acceptable

Sabtu, 14 Januari 2012

REVIEW : UMMI AMINAH



"Percuma kamu kaya raya jika iman kamu rendah."
- Ummi Aminah


Miris, ketika saya membeli tiket untuk menonton Ummi Aminah, layar monitor didominasi oleh warna hijau. Pun ketika film telah memasuki menit ke-30, jumlah penonton yang memenuhi gedung bioskop pun tak mencapai angka 25. Nampaknya banyak masyarakat yang belum ‘ngeh’ terhadap film ini. Ummi Aminah memang adem ayem soal urusan promosi. Secara otomatis, hanya publik yang akrab dengan stasiun televisi milik Surya Paloh dan website resmi jaringan bioskop terbesar di Indonesia saja yang mengetahui ‘kedatangan’ Ummi Aminah. Di media jejaring sosial pun, tak ada yang memberikan testimoninya. Sepi promo, sepi penonton, apakah itu berarti film ini juga sepi secara kualitas? Syukurlah saya bisa menjawabnya dengan “tidak!”. Aditya Gumay yang pernah menghasilkan film bersahaja macam Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela, tidak merias film terbarunya ini dengan menor. Semuanya digarap serba sederhana. Namun bukan berarti naskah buatan Aditya Gumay dan Adenin Adlan digarap seadanya. Secara filmis, Ummi Aminah tak menggugah selera, penampilannya tak jauh berbeda dengan film televisi. Akan tetapi, naskahnya cukup bernas.


Ummi Aminah (Nani Widjaya) adalah seorang ustadzah yang memiliki ribuan jamaah setia. Sebagai seorang ustadzah, bukan berarti Ummi terbebas dari permasalahan-permasalahan dunia. Berbagai cobaan terus mendera keluarganya seakan tak mau berhenti. Suaminya, Abah (Rasyid Karim), ditipu dan harus merelakan uang ratusan juta rupiah. Ketujuh anaknya; Umar (Gatot Brajamusti), Aisyah (Cahya Kamila), Zarika (Paramitha Rusady), Zainal (Ali Zainal), Zubaidah (Genta Widi), Zidan (Ruben Onsu), dan Ziah (Zee Zee Shahab), pun tak luput dari masalah. Umar harus menghadapi istrinya, Risma (Yessy Gusman), yang sinis dan enggan untuk menjalin hubungan harmonis dengan keluarga Umar, Zarika jatuh cinta dengan rekan kerjanya yang telah beristri, kondisi keuangan Zainal yang nyaris serba kekurangan sementara dia harus memberi sandang pangan papan untuk anak dan istrinya (Revalina S. Temat), dan Zidan sulit untuk diterima oleh Abah karena sifatnya yang seperti perempuan. Ujian sesungguhnya bagi keluarga Ummi Aminah datang tatkala Zainal dibui lantaran dikira sebagai kurir narkoba. Berita dengan cepat menyebar, satu persatu jamaah Ummi Aminah meninggalkannya.

Sekalipun dibungkus dalam bentuk film reliji, Ummi Aminah memuat pesan universal tentang cinta kasih dalam keluarga. Menunjukkan bahwasanya tidak ada harta di dunia ini yang lebih berharga dari keluarga. Ketika masyarakat termakan oleh hasutan media dan satu persatu pergi meninggalkan Ummi, Ummi tergoncang. Di saat inilah anggota keluarganya datang seraya menggandeng tangan Ummi yang membuat Ummi berhasil kembali berdiri tegak. Dukungan yang diberikan oleh keluarga tulus adanya, tanpa pamrih. Aditya Gumay dan Adenin Adlan turut menyentil terhadap perilaku masyarakat yang dengan mudah menghakimi seseorang hanya dengan berlandaskan pada pemberitaan di media dan apa yang tampak dari luar. Bagi mereka, publik figur dituntut untuk selalu berperilaku sempurna dan haram hukumnya melakukan kesalahan. Melalui sosok Abah dan Zidan, penonton kembali dihadapkan pada permasalahan yang tidak jauh berbeda, penghakiman terhadap kaum LGBT. Tidak pernah dijelaskan secara eksplisit apakah Zidan adalah seorang gay, namun dapat ditafsirkan dari cara Abah memperlakukan Zidan. Dari sini muncul pertanyaan, apakah menjadi berbeda itu salah? Apakah tokoh masyarakat harus senantiasa sempurna dalam setiap kesempatan? Apakah kita lebih baik dari mereka sehingga layak untuk memberi penghakiman?

Aditya Gumay tidak hanya mengajak penonton untuk tertawa, menangis dan terharu, tetapi juga berkontemplasi setelah menontonnya. Ini adalah film yang sangat tepat bagi Anda yang ingin mencari pesan moral dari sebuah film. Bagusnya, Aditya Gumay menyampaikan pesan tersebut tanpa ada kesan menggurui. Tapi tetap saja sebagai sebuah film, Ummi Aminah tidak lantas mulus sempurna tanpa memiliki cacat. Terlalu banyaknya karakter serta konflik yang bercabang-cabang memberi ruang sempit terhadap perkembangan karakter. Rasanya perlu penonton diberi bekal lebih seputar latar belakang keluarga Ummi. Sebagai tokoh utama, Ummi Aminah tidak diberikan porsi yang memadai. Malah, posisi Abah, Zainal, Zarika dan Zubaidah dalam film justru lebih kuat dan memberi sumbangsih terhadap pergerakan cerita. Nah lho. Bukankah seharusnya Ummi yang menjadi sentral cerita? Beruntung, kejanggalan ini berhasil sedikit tertutupi dengan akting apik dari ensemble cast-nya. Setidaknya Ummi Aminah mampu menyampaikan pesan baiknya kepada penonton dengan bersahaja. Endingnya yang berbeda menjadi daya tarik tersendiri. Sebuah suguhan yang indah bagi penikmat film Indonesia di awal tahun 2012.

Acceptable

Sabtu, 31 Desember 2011

REVIEW : SHERLOCK HOLMES: A GAME OF SHADOWS


"Slow and steady wins the race." - Sherlock Holmes

Guy Ritchie mengakhiri Sherlock Holmes dengan sebuah adegan yang membuat para penggemar tidak sabar untuk menantikan kelanjutannya, Irene Adler (Rachel McAdams) rupanya bekerja untuk Professor Moriarty. Tak ada penampakan wajah dari sang professor, hanya suaranya saja. Berbagai spekulasi mengenai siapa yang akan memerankan musuh abadi Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.) pun bermunculan. Yang paling santer terdengar adalah Brad Pitt. Pasangan dari Angelina Jolie ini merupakan salah satu yang paling vokal mengenai ketertarikannya untuk terlibat dalam proyek sekuel dari Sherlock Holmes, apalagi bintang Troy ini pernah bekerjasama dengan Ritchie di Snatch. Sang sutradara enggan untuk memberikan banyak komentar mengenai kepastian apakah Pitt adalah Professor Moriarty. Dan, ketika akhirnya Jared Harris terpilih, banyak pihak yang merasa kecewa karena kadung mengharapkan Brad Pitt. Namun saya pribadi tidak mempermasalahkan hal ini, selama sang aktor bisa bermain bagus, kenapa tidak? Harris pun pada akhirnya mampu membuktikan bahwa dia layak memerankan Professor Moriarty dalam Sherlock Holmes: A Game of Shadows. Jika pada akhirnya terasa kurang greget, maka naskah buatan Kieran Mulroney dan Michele Mulroney dianggap yang paling bertanggung jawab.

Bagi yang mengharapkan Sherlock Holmes: A Game of Shadows sebagai sebuah film yang sarat dengan aksi, Guy Ritchie akan memuaskan Anda dengan berbagai adegan aksi yang ditampilkan dengan elegan, bergaya, dan tentunya Ritchie banget. Tapi akan sangat mengecewakan bagi siapapun yang berharap jilid kedua ini akan menjadi lebih kelam, lebih banyak misteri, dan lebih mencekam, dengan kehadiran Professor Moriarty (Jared Harris). A Game of Shadows sebenarnya memiliki premis yang menarik lantaran jalan ceritanya terinspirasi dari cerpen karya Arthur Conan Doyle yang berjudul The Final Problem, akan tetapi kenyataan yang terjadi ternyata tak berbanding lurus, setidaknya bagi saya. Misteri yang ditawarkan kurang menarik karena sejak awal penonton telah mengetahui siapa yang menjadi dalang di balik semua kejadian. Dengan dibongkarnya identitas pelaku sejak dini, maka tumpuan satu-satunya untuk menjadikan film ini menarik adalah cat-and-mouse chase antara Holmes dan Moriarty yang sayangnya tidak diberi porsi yang cukup oleh tim penulis skenario dan Ritchie. Mereka justru lebih asyik menyoroti fluktuasi hubungan antara Holmes dengan Dr. John Watson (Jude Law) yang kian lama menjadi kian mirip pasangan ketimbang sahabat. Mencoba untuk menyaingi pasangan Brokeback, eh?


Sherlock Holmes khawatir, pernikahan Watson dengan Mary Morstan (Kelly Reilly) akan membuat sang BFF (Best Friend Forever-Red) meninggalkannya sendiri dalam memecahkan berbagai kasus. Dan ya, Watson memang memiliki rencana seperti itu. Akan tetapi Watson mengurungkan niatnya setelah dia dan sang mempelai perempuan turut menjadi target pembunuhan dari Professor Moriarty. Mau tak mau, mereka berdua pun ikut serta membantu Holmes untuk menggagalkan rencana sang professor yang berniat menciptakan krisis di industri senjata Eropa yang memungkinkan terciptanya perang dalam skala besar. Dalam kasus teranyarnya ini, duo paling keren dalam sejarah karya sastra detektif ini tidak berjuang sendirian. Mereka mendapatkan bantuan penuh dari kakak Sherlock, Mycroft Holmes (Stephen Fry), serta Simza (Noomi Rapace), wanita gypsy yang saudaranya disinyalir memiliki hubungan dengan komplotan yang dibentuk oleh Moriarty. Sepanjang 128 menit, penonton diajak untuk mengikuti petualangan konyol dari Holmes, Watson, dan Simza. Saya sebut konyol lantaran Holmes versi Ritchie ini digambarkan seperti telah hilang kewarasannya, menjadi kian eksentrik, dan berlebihan. A Game of Shadows pun menjelma menjadi sebuah perjalanan panjang yang melelahkan.

Pun begitu, A Game of Shadows masih memiliki sejumlah amunisi yang membuat saya rela untuk tetap duduk manis hingga film berakhir. Slow motion sequences yang menjadi ciri khas dari film pertama, kembali dihadirkan dengan frekuensi kemunculan yang lebih banyak. Beberapa terkesan sebagai sempilan semata, tapi adegan kejar-kejaran di hutan Jerman berhasil divisualisasikan dengan cantik. Gabungan antara efek khusus, sinematografi serta editing yang cantik, membuat adegan ini sulit untuk dilupakan begitu saja. Di luar sektor teknis yang memang menjadi andalan dwilogi ini, departemen akting pun turut berjasa dalam menyelamatkan A Game of Shadows. Robert Downey Jr. dan Jude Law yang telah melebur dengan karakter masing-masing mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam urusan membangun chemistry, sementara Stephen Fry nampak santai membawakan perannya. Jared Harris tak mengecewakan, hanya saja tim penulis naskah tidak memberinya ruang lebih untuk mengeksplor karakter salah satu penjahat paling berbahaya ini. Rachel McAdams yang menggoda hanya tampil selewat saja dan selebihnya diserahkan kepada Noomi Rapace yang kehadirannya tak lebih dari sekadar tempelan semata. Nampaknya, usaha untuk tampil bermewah-mewahan dengan memperbanyak sajian laga berbuntut pada pengorbanan terhadap sektor naskah. Misteri tak menarik, karakterisasi beberapa karakter terasa dangkal, dan jalan cerita pun monoton.

Acceptable

Sabtu, 24 Desember 2011

REVIEW : GARUDA DI DADAKU 2


"Kita jatuh bukan karena batu besar, tapi karena kerikil!" - Wisnu

Sepakbola merupakan olahraga yang sangat populer di Indonesia. Anehnya, hanya segelintir sineas di Indonesia yang berani membesut film yang bersentuhan olahraga ini bahkan ketika film buatan Ifa Isfansyah, Garuda di Dadaku, secara mengejutk
an berhasil menorehkan angka di atas 1,4 juta penonton pada tahun 2009 silam sekalipun. Kebanyakan cenderung memilih untuk menelurkan karya-karya yang aman, dalam artian proses produksinya mudah, murah, dan cepat. Tidak mengherankan jika perfilman lokal didominasi oleh film yang bertema seragam. Hasrat para pecinta olahraga untuk menyaksikan olahraga favoritnya diwujudkan ke dalam bentuk film layar lebar pun tak tersalurkan. Beruntung masih ada beberapa pekerja film yang cermat melihat peluang. Rudi Soedjarwo dan Hanung Bramantyo yang disebut-sebut sebagai salah satu sineas terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, bersaing di tahun 2011 ini dalam menghasilkan sebuah film tentang sepakbola. Jika Hanung Bramantyo memulainya dari awal, maka Rudi Soedjarwo menerima tongkat estafet dari Ifa Isfansyah untuk melanjutkan kisah Bayu (Emir Mahira) dalam Garuda di Dadaku 2. Naskah masih tetap ditangani oleh Salman Aristo yang baru-baru ini menggarap naskah Sang Penari.

Impian Bayu untuk menjadi bagian dari timnas sepakbola Indonesia U-13 berhasil terwujud. Tidak tanggung-tanggung, dia turut diangkat menjadi kapten tim karena dinilai memiliki kemampuan bermain yang handal. Tentu saja Salman Aristo tidak akan selamanya membiarkan Bayu untuk bersuka cita. Proses pendewasaan diri Bayu menjadi konflik utama yang disuguhkan dalam Garuda di Dadaku 2. Berbagai cobaan mendera Bayu dari segala arah, seakan tak mengenal ampun. Tim yang dipimpinnya berulang kali menghadapi kegagalan yang berakibat pada dipecatnya sang pelatih, Harri Dotto (Dorman Boerisman). Penggantinya adalah seorang pelatih muda yang sangat disiplin, ambisius dan keras, Wisnu (Rio Dewanto) yang cara melatihnya membuat Bayu merasa tidak nyaman. Wisnu pun mendatangkan seorang pemain berbakat dari Makassar, Yusuf (Muhammad Ali), yang dalam waktu singkat mencuri perhatian banyak pihak, termasuk sahabat Bayu, Heri (Aldo Tansani), yang semakin lama semakin akrab dengan Yusuf. Ketika lapangan tidak lagi menyenangkan bagi Bayu, rumah pun turut berasa seperti neraka terlebih dengan hadirnya Rudi (Rendi Krisna) yang merenggangkan hubungan Bayu dengan sang ibu, Wahyuni (Maudy Koesnadi). Di sekolah, permasalahan datang dari ketua kelompok belajarnya, Anya (Monica Sayangbati), yang ‘meneror’ Bayu dengan deadline tugas dan tidak mau tahu posisi Bayu sebagai kapten timnas.


Garuda di Dadaku 2 dihadirkan dalam alur dan stuktur cerita yang padat, dialog yang bernas, serta penggarapan dari Rudi Soedjarwo yang tidak kalah menarik dari Ifa Isfansyah. Salman Aristo memasukkan sindiran-sindiran halus kepada pemerintah, dan tak lupa menjumput beberapa referensi dari apa yang tengah hangat di dunia sepakbola Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, semisal kisruh kongres PSSI, pelatih timnas yang diberhentikan secara tidak hormat, hingga atlit sepakbola yang menjadi artis infotainment. Politisasi Sepakbola yang disuntikkan ke dalam film bisa jadi akan sulit dicerna bagi penonton cilik, namun ini menjadi hiburan tersendiri bagi penonton yang akrab dengan dunia sepakbola lokal. Jika dalam prekuelnya penonton melihat bagaimana perjuangan Bayu demi menggapai impiannya, maka disini penonton melihat upaya Bayu menyikapi berbagai macam problematika kehidupan sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Rudi Soedjarwo dan Salman Aristo memutar balik apa yang terjadi di film sebelumnya, sehingga formula ‘hero to zero’ diterapkan disini. Bayu dituntut untuk bersikap dewasa dan membuang sikap egois yang menghinggapinya dalam menghadapi setiap rintangan yang ada.

Ada konsekuensi yang harus diterima ketika tim memutuskan untuk menumpuk sejumlah konflik agar film menjadi padat. Terlalu banyaknya lapisan konflik justru membuat Rudi Soedjarwo kebingungan dalam menentukan prioritas. Penggaliannya terasa kurang dalam dan tidak ada dinamika pada hubungan antar karakter. Setiap karakter yang memiliki koneksi dengan Bayu ditampilkan selewat saja, tak berkesan. Bromance antara Bayu, Heri, dan Yusuf, bagi saya, ditampilkan agak berlebihan karena terkesan terlalu cengeng. Malah menggelikan. Namun yang paling saya sesalkan, pertandingan sepakbola yang seharusnya menjadi momen penting, tidak begitu ditonjolkan. Gegap gempita dalam Tendangan Dari Langit, tidak saya temukan disini. Beruntung, Rudi Soedjarwo memiliki tim yang solid di sisi teknis dan akting. Garuda di Dadaku 2 terbantu editing yang dinamis, pengambilan gambar yang indah dan kekuatan akting setiap pemainnya. Emir Mahira sanggup menampilkan emosi yang dibutuhkan dengan pas, luwes dan believable, sementara Rio Dewanto membuktikan kepada khalayak ramai bahwa dia adalah aktor yang patut diperhitungkan. Masih segar di ingatan bagaimana Rio Dewanto tampil begitu kemayu di Arisan! 2 dan sekarang dia menjelma menjadi pelatih yang macho, tegas dan berwibawa. Kelemahan memang masih ditemukan disana sini, itu sangat manusiawi. Sekalipun tak bisa menyaingi jilid pertamanya yang sedemikian renyah, Garuda di Dadaku 2 menutup tahun 2011 ini dengan indah. Saya masih percaya, masa depan cerah menanti perfilman Indonesia.

Acceptable

Sabtu, 03 Desember 2011

REVIEW : POCONGGG JUGA POCONG


"Cinta itu seperti kentut. Ditahan sakit, dikeluarin malu." - Dimas

Mengapa industri perfilman Indonesia memiliki obsesi yang berlebihan terhadap makhluk bernama pocong? Entah sudah berapa ratus judul film tentang pocong yang telah dibuat di Indonesia. Baik itu yang digarap dengan serius, biasa-biasa saja hingga semrawut tidak karuan. Bagi pelaku perfilman di Indonesia, pocong merupakan komoditas panas yang sangat dipuja karena mampu mempertebal isi dompet. Seandainya saja pocong bisa menuntut, maka ratusan orang akan digiring ke meja hijau. Eksploitasi terhadap pocong semakin lama semakin tidak bisa diterima. Makhluk ini telah kehilangan wibawanya di hadapan jutaan umat manusia. Bahkan, pocong pun sekarang merambah ke dunia maya dan dunia tulis menulis. Nah lho! Pocong atau @poconggg yang eksis di jagad jejaring sosial, sama sekali tidak menyeramkan. Cenderung konyol malah. Kicauannya diikuti jutaan pengguna Twitter. Pocong masa kini ini digandrungi remaja karena kicauannya yang lucu dan seringkali mewakili isi hati pengikutnya. Setelah sukses dengan akun jejaring sosial, @poconggg atau Arief Muhammad, menjajal dunia tulis menulis melalui sebuah novel berjudul Poconggg Juga Pocong, yang menjadi cikal bakal munculnya film berjudul sama. Jujur saja, saya tidak pernah tertarik untuk mengikuti kicauan dari @poconggg. Namun ketika novelnya dilempar ke pasaran, saya penasaran. Seperti apa sih isi novel paling fenomenal saat ini? Tidak perlu dibahas panjang lebar, yang pasti tidak menarik sama sekali. Meminjam istilah anak muda zaman sekarang, garing dan jayus. Pun begitu, saya mengakui idenya lumayan kreatif.

Saat Maxima Pictures berniat untuk menuangkan tulisan Arief Muhammad ke dalam layar lebar, belum apa-apa saya sudah pusing. Terlebih Maxima menggandeng Chiska Doppert, anak emas dari Nayato Fio Nuala. Mereka memiliki jejak rekam yang kurang bagus di industri. Untuk urusan skenario, Maxima menyerahkannya kepada sang penulis novel, Arief Muhammad, dan dibantu oleh Haqi Ahmad, dengan harapan film tidak terlalu melenceng dari novel. Pertanyaan yang timbul sekarang, bagaimana Poconggg Juga Pocong diperlakukan oleh Chiska Doppert? Secara garis besar, Poconggg Juga Pocong bertutur mengenai kisah cinta dua anak muda yang tidak bisa bersatu lantaran berbeda dunia. Dunia dalam arti sesungguhnya. Dalam perjalanan pulang setelah menonton di bioskop, Dimas (Ajun Perwira) berniat untuk mengutarakan isi hatinya kepada Sheila (Saphira Indah). Sayangnya kedua belah pihak masih malu-malu untuk mengakui yang sebenarnya. Sebuah kesalahpahaman pun tercipta yang berujung kepada kecelakaan naas yang menewaskan Dimas. Di alam baka, Dimas berubah wujud menjadi pocong. Dia berkenalan dengan Kuntilanak Bondol (Nycta Gina) dan geng pocong keren pimpinan Anjaw (Rizky Mocil). Berpindah ke alam lain ternyata tidak menyurutkan cinta Dimas kepada Sheila. Dimas berniat untuk menyatakan cintanya. Ketika mengetahui Sheila didekati oleh Adit (Guntur Triyoga), Dimas galau setengah mati. Kunti yang selalu setia menemani Dimas dalam perjuangannya mendekati Sheila mencoba mengingatkan, bagaimanapun Dimas dan Sheila tidak akan pernah bisa bersatu karena alam mereka berdua sudah jauh berbeda. Satu-satunya cara untuk mendamaikan hati adalah dengan mengikhlaskan. Namun Dimas pantang mundur, sebelum dia bisa menyatakan cintanya kepada Sheila.

Mengadaptasi bukanlah perkara mudah. Ini bukan hanya mengenai memindahkan tulisan dari sumber asli ke bentuk baru secara utuh. Diperlukan pula sedikit bumbu disana sini dan penyesuaian dengan medium baru sehingga hasil akhir mampu diterima oleh masyarakat. Itulah mengapa film adaptasi dari karya sastra seringkali sedikit berbeda dengan sumber yang diadaptasi. Ketika dipaksakan untuk sesetia mungkin dengan sumber, maka yang terjadi adalah Poconggg Juga Pocong the Movie. Naskah yang diolah Arief Muhammad dan Haqi Ahmad nyaris tidak memiliki perbedaan dengan versi novel. Ini menjadi masalah lantaran versi novel tidak memiliki kronologi alur yang jelas dan seringkali melompat kesana kemari bak pocong kepanasan. Dan ini terjadi pula dalam film. Beberapa kali saya menemukan adegan yang tidak memiliki keterkaitan dengan adegan sebelum atau sesudahnya. Humornya pun masih tetap kriuk kriuk, garing bukan kepalang. Susah sekali untuk tertawa terbahak-bahak sepanjang 78 menit. Bukankah film komedi itu seharusnya mampu mengundang tawa renyah penonton? Jika gagal, siapa yang patut dipersalahkan? Sejumlah adegan yang difungsikan untuk memicu tawa, malah berakhir hambar dan tak membekas. Beruntung, tim memiliki Nycta Gina. Ketika Ajun Perwira dan Rizky Mocil membuat saya mengernyitkan dahi, Nycta Gina dengan luwes mencuri perhatian. Dia paham betul apa yang seharusnya dia lakukan.

Dunia absurd rekaan Arief Muhammad ini mampu diterjemahkan ke dalam bahasa visual dengan cantik oleh Chiska Doppert. Harus diakui sutradara yang sempat dikira sebagai alter ego dari Nayato Fio Nuala ini memang mengalami kemajuan yang cukup baik disini. Untuk sekali ini, Chiska Doppert beruntung ketiban naskah yang digarap cukup baik, sekalipun memiliki masalah dalam konjugasi. Ketika komedi yang diluncurkan ternyata gagal meledak dengan dahsyat, maka sisi romantis pun menjadi tumpuan harapan. Ajaibnya, Poconggg Juga Pocong malah lebih terasa sisi romantisnya ketimbang komedinya. Terima kasih kepada Ian Aprianto atas sinematografi indahnya. Momen-momen indah Dimas dengan Sheila berhasil terekam dengan baik, begitu pula ketika Dimas menyaksikan Sheila sedang asyik berduaan dengan Adit. Romantis, getir, tapi tetap konyol. Yang cukup disayangkan, Ajun Perwira gagal menghidupkan karakter Dimas baik ketika masih menjadi manusia maupun setelah bertransformasi menjadi pocong. Nyaris tidak ada emosi. Simpati penonton pun gagal tertanam kepada Dimas. Poconggg Juga Pocong juga tidak memberikan latar belakang yang jelas terhadap tokoh-tokoh inti, terutama Dimas. Kita hanya mengetahui sedikit biodatanya melalui batu nisan, sementara Sheila hanya diperlihatkan memiliki rumah yang megah. Pondasi naskah akan terasa lebih kokoh seandainya Chiska Doppert dan tim lebih memperhatikan hal ini. Sekalipun demikian, Poconggg Juga Pocong secara mengejutkan ternyata cukup menghibur bagi saya. Setidaknya bayang-bayang kelam terhadap Kambing Jantan the Movie seketika sirna. Komedinya memang kurang berhasil memancing tawa renyah, akan tetapi atmosfir romantis dapat diciptakan dengan baik.

Acceptable

Jumat, 18 November 2011

REVIEW : THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN PART 1


"No measure of time with you will be long enough. But we'll start with forever."

Akhirnya, Bella Swan (Kristen Stewart) dan Edward Cullen (Robert Pattinson) bersatu dalam tali pernikahan setelah hubungan keduanya selalu mengalami tarik ulur selama tiga seri lamanya. Tapi tentu saja pernikahan bukan menjadi tujuan akhir dari The Twilight Saga. Stephenie Meyer, dengan kejamnya, tidak begitu saja membiarkan pasangan paling lebay dalam sejarah sastra dunia ini menikmati kehidupan rumah tangga dengan damai sentosa. Dalam Breaking Dawn, masih ada badai-badai yang menghadang mencoba untuk memisahkan Bella dan Edward. Manusia dan vampir tidak akan bisa bersatu dengan mudah. Terlebih banyak pihak yang tidak memberikan restu terhadap hubungan dua sejoli ini. Jacob Black (Taylor Lautner) adalah yang paling terang-terangan menyatakan keberatannya. Apakah kisah cinta segitiga yang melibatkan Bella, Edward, dan Jacob kembali terulang sekalipun Bella dan Edward telah menikah? Sebuah pertanyaan retoris sebenarnya. Anda yang hafal dengan seluk beluk The Twilight Saga atau pecandu opera sabun, tentu mengetahui jawabannya. Hanya saja, gangguan dari Jacob tidak seintensif sebelumnya. Tidak ada lagi alasan bagi Bella untuk bergalau ria memikirkan calon pendamping hidup yang tepat. Lagipula, dia masih 18 tahun. Ada apa dengan anak muda zaman sekarang?

The Twilight Saga: Breaking Dawn dibagi menjadi dua bagian menyusul permintaan Stephenie Meyer kepada Summit Entertainment yang meminta agar jilid terakhir ini dibuat dalam dua bagian karena kisahnya yang panjang dinilai tidak akan cukup apabila disampaikan dalam 120 menit. Oh, come on! Katakan saja jika alasan utamanya adalah demi mengeruk keuntungan yang lebih besar. Ditangani oleh Bill Condon, sutradara Dreamgirls sekaligus penulis naskah Chicago, Breaking Dawn Part I diharapkan bisa tampil lebih baik ketimbang prekuek-prekuelnya. Film dibuka dengan adegan pernikahan Edward dan Bella yang harus diakui digarap dengan sangat cantik. Dekorasi altar dan tempat resepsi yang indah, sinematografi yang aduhai, hingga tata rias dan busana yang melenakan mata, mampu mewujudkan impian para twihards untuk melihat acara pernikahan sakral dua tokoh favorit mereka. Sebelum menuju ke momen yang romantis ini, kita dibuat terlelap terlebih dahulu oleh naskah buatan Melissa Rosenberg dengan dialog yang super cheesy dan adegan yang dipanjang-panjangkan. Namun ini masih belum seberapa dengan apa yang terjadi di menit-menit selanjutnya.

Bagian pertama dari Breaking Dawn adalah mengenai pernikahan, bulan madu, masa-masa kehamilan, dan kelahiran. Bagi siapapun yang mengharapkan Breaking Dawn part I akan disesaki dengan aksi laga dan adegan yang mencekam, maka bersiaplah untuk kecewa. Demi menggambarkan betapa indahnya bulan madu yang dilalui oleh Bella dan Edward saja memakan waktu sekitar separuh dari durasi film. Apa yang diceritakan disini hanya berputar-putar mengenai malam pertama Bella dan Edward, bermain catur, berhubungan seks lagi, bermain catur lagi, berhubungan seks lagi, bermain catur lagi. Bukankah lebih tepat jika film ini diberi judul “The Neverending Honeymoon” atau “The Neverending Intercourse”? Demi mencegah terjadinya kebosanan pada penonton, disisipkan humor-humor menggelitik yang secara mengejutkan cukup efektif. Adegan seks yang digembar-gemborkan bakal panas ternyata biasa saja dan cenderung tidak natural. Agaknya usaha Summit Entertainment untuk mempertahankan agar Breaking Dawn tetap mengantongi rating PG-13 (Remaja) turut berpengaruh terhadap penggambaran adegan bulan madu. Selama satu jam pertama, Breaking Dawn Part I tidak memberikan lonjakan yang berarti dalam alur penceritaan. Dengan romansa yang serba berlebihan plus minimnya konflik, film terasa sangat lambat dan cenderung monoton. Condon dan Rosenberg terlalu berlama-lama dalam menyajikan porsi bulan madu yang seharusnya bisa dipersingkat. Maka jangan heran jika kemudian ada penonton menggorok lehernya sendiri saking tersiksanya melihat Bella dan Edward berasyik masyuk.

Bulan madu belum juga selesai, Bella sudah ketahuan berbadan dua. Keluarga Cullen mendadak panik, terlebih Alice (Ashley Greene) tidak mendapatkan visi tentang apa yang akan terjadi kepada Bella. Melihat kondisi Bella yang semakin lama semakin lemah, Edward dan Jacob memiliki inisiatif untuk mengaborsi janin yang tumbuh di dalam perut Bella. Akan tetapi, Bella menolak. Di lain pihak, kawanan werewolf menyusun rencana untuk membunuh Bella yang dianggap membawa ‘makhluk’ yang membahayakan bagi mereka. Jacob membelot. Dia memutuskan untuk membela Bella, yang artinya dia bersekutu dengan Edward, musuh abadinya. Ketika perut Bella sudah siap untuk ‘meledak’, film baru mulai enak diikuti. Secara perlahan, tensi ketegangan terus dinaikkan. Kristen Stewart mulai terlihat melebur dengan karakter yang dimainkannya sedangkan Robert Pattinson dan Taylor Lautner tetap tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Taylor Lautner gagal memancarkan emosi ketika Jacob dipaksa untuk memilih keluarga atau musuhnya. Menit-menit terakhir di Breaking Dawn Part I adalah momen terbaik dari film ini. Menegangkan, menyeramkan, sekaligus memilukan. Tampaknya The Twilight Saga telah menemukan sutradara yang tepat. Adegan terakhir dari Breaking Dawn Part I adalah favorit saya, selain adegan pernikahan di awal film. Tak pelak lagi, ini adalah seri terbaik dari The Twilight Saga, sejauh ini. Seandainya saja Bill Condon tidak berlama-lama dengan adegan resepsi pernikahan dan bulan madu, maka Breaking Dawn Part I akan lebih mengena. Lagi-lagi hanya twihards saja yang akan bertepuk tangan setelah film usai.

Acceptable

Note : Jangan terburu-buru keluar setelah film usai, ada adegan tersembunyi yang layak untuk ditunggu di pertengahan closing credit.

Sabtu, 29 Oktober 2011

REVIEW : THE PERFECT HOUSE


Saya yakin, Julie (Cathy Sharon), membatin “aku adalah perempuan paling sial di dunia ini,” ketika diminta oleh atasannya untuk menggantikan rekan kerjanya yang hilang sebagai guru privat di rumah Madame Rita (Bella Esperance). Rencana Julie untuk cuti selama sebulan pun hanyalah tinggal rencana. Mau tidak mau dia harus menerima pekerjaan ini agar dapurnya bisa terus mengebulkan asap. Diantar oleh asistennya, Dwi (Wanda Nizar), Julie menuju ke rumah Madame Rita yang lokasinya terpencil di daerah Puncak. Sejak pertama kali bertemu dengan Madame Rita, Julie hanya memperoleh kesan yang tidak menyenangkan. Madame Rita adalah seorang wanita paruh baya yang dingin, disiplin dan keras. Beliau melarang keras cucunya, Januar (Endy Arfian), untuk keluar dari rumah. Julie tidak pernah mendapatkan penjelasan yang jelas dan logis mengenai larangan-larangan yang diberlakukan kepada Januar. Secara diam-diam, Julie pun mengajak Januar untuk melakukan ‘aktivitas terlarang’ karena tak tega melihat perlakuan Madame Rita kepada Januar. Namun semakin lama Julie menetap di rumah tersebut, semakin dia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres di rumah ini. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh para penghuni rumah ini.

The Perfect House menandai kembalinya Affandi Abdul Rachman ke ranah thriller setelah sebelumnya asyik dengan proyek film-film komedi romantisnya. Seperti halnya film debutnya yang bergenre serupa, Pencarian Terakhir, The Perfect House pun menawarkan premis yang menarik dan mampu mengundang rasa penasaran. Ketika Pencarian Terakhir mengupas tentang sekelompok pendaki gunung yang hilang arah di sebuah gunung, maka The Perfect House mencoba untuk menyingkap tabir misteri di balik sebuah rumah antik yang megah. Sedikit banyak The Perfect House mengingatkan saya pada Rumah Dara, hanya saja The Perfect House cenderung lebih lembut dan bermain aman. Bisa dimengerti karena The Perfect House tidak merangkul genre horror slasher, melainkan psychological thriller. Pada titik tertentu saya sempat mempertanyakan kewarasan Julie. Memiliki masa lalu yang suram, bisa jadi apa yang dialaminya di rumah Madame Rita hanyalah imajinasinya belaka. Namun apa memang benar seperti itu? Nyatanya, Affandi Abdul Rachman malah menjadikan The Perfect House tidak hanya lembut tetapi juga mudah ditebak. Alurnya cenderung lurus tanpa ada twist yang berarti.


Tidak ada usaha untuk menutup-nutupi apa yang sesungguhnya terjadi di rumah tersebut. Lewat tingkah laku yang tidak normal yang dilakukan oleh salah satu karakter serta sepenggal dialog di pertengahan film, Affandi Abdul Rachman secara tidak langsung telah membuka segalanya. Seketika itu, The Perfect House menjadi kurang menarik untuk diikuti terlebih momen-momen menegangkan yang dimunculkan pun minim jumlahnya. Tensinya terus menurun hingga akhirnya sedikit menggeliat menjelang ending. Naskah yang diolah Affandi dan Alim Sudio tidak bisa dibilang buruk, hanya saja terlalu lempeng untuk ukuran film thriller. Kalau saja duo penulis naskah ini lebih banyak menyisipkan adegan penggedor jantung dan menutup misterinya rapat-rapat, apa yang dimunculkan di ending bisa saja tampak brilian. Tokoh yang diperankan oleh Mike Lucock, Yadi, tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi lebih banyak kepada perkembangan cerita. Padahal Yadi digambarkan tidak kalah misterius dan menyeramkan dari Madame Rita. Posisinya seakan hanya sebagai pelengkap saja. Beruntung naskah yang lemah ini berhasil sedikit ditutupi oleh sinematografi dari Faozan Rizal dan musik latar gubahan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang mampu dihadirkan dengan tepat di setiap adegan.

Kekuatan utama dari The Perfect House sesungguhnya datang dari Bella Esperance yang membawakan peran Madame Rita dengan amat baik. Aktris watak yang angkat nama lewat Catatan Si Boy III ini selalu mencuri perhatian di setiap kesempatan. Agak mengingatkan pada Shareefa Daanish di Rumah Dara memang, namun tak pelak lagi akting Bella Esperance adalah salah satu yang terkuat tahun ini. Dominasinya membuat Cathy Sharon nyaris tak berkutik meskipun kemampuan akting Cathy Sharon sendiri terus mengalami peningkatan. Sementara Mike Lucock dan Endy Arfian juga sama sekali tidak mengecewakan. Mike Lucock bisa saja menjadi ‘scene stealer’ seandainya ruang geraknya tidak dibatasi oleh naskah. Pun begitu, The Perfect House masih layak untuk mendapatkan apresiasi lebih dan saya pun merekomendasikan Anda untuk menontonnya di bioskop. Sekalipun bukan film yang mengesankan, The Perfect House terlihat jelas digarap secara serius oleh Affandi Abdul Rachman. Akan sangat ironis jika film yang mendapatkan sambutan yang cukup meriah di Puchon International Fantastic Film Festival ini justru ditanggapi dingin oleh penonton lokal.

Acceptable

Sabtu, 22 Oktober 2011

REVIEW : CARS 2


"He who finds a friend finds a treasure."

Cars 2 menjadi semacam pembenaran bahwasanya tiada gading yang tak retak. Sang dewa animasi, Pixar, akhirnya melakukan blunder setelah konsisten menghasilkan karya-karya yang berkualitas ciamik. Sejujurnya, saya sudah ragu Cars 2 akan tampil memukau mengingat prekuelnya sendiri bukanlah tergolong salah satu karya terbaik Pixar sekalipun memiliki popularitas yang tinggi di kalangan anak-anak. Yang menjadi daya tarik dari Cars adalah para karakternya yang memesona, jalan ceritanya yang heartwarming beserta pemandangan Radiator Springs dan Route 66 yang cantik. Keunikan lainnya, semua benda hidup dalam film animasi ini digantikan dengan mobil yang bisa berbicara. Jadi jangan berharap melihat adanya manusia yang wara wiri. Konsep yang terdengar absurd ini tentu saja berhasil di tangan Pixar yang serba bisa. Penonton cilik pun mudah menyukainya terutama karena faktor Lightning McQueen yang bisa jadi merupakan salah satu karakter terbaik yang pernah diciptakan oleh Pixar. Pun begitu, saya kurang menyukai Cars. Jikalau tidak diiringi dengan lagu-lagu Country yang renyah itu dan para karakternya tak menarik, saya mungkin tidak akan berhasil mencapai ending. Bagi saya, Cars adalah sebuah film yang menjemukan. Maka ketika sekuelnya muncul, saya kurang antusias menyambutnya. Namun saya yakin bahwa Pixar bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu.

Lightning McQueen (Owen Wilson) kini tidak lagi didapuk menjadi bintang utama. Posisinya digeser oleh Matter (Larry the Cable Guy), sahabat McQueen yang berbentuk mobil derek tua yang tolol. Seusai menjalani sejumlah perlombaan, McQueen berniat untuk berlibur sejenak bersama kawan-kawannya di Radiator Springs. Namun ketenangannya terusik tatkala pembalap sombong, Francesco Bernoulli (John Turturro) menantangnya melalui sebuah program TV. Dengan dukungan dari geng Radiator Springs, McQueen mengikuti World Grand Prix yang digelar di tiga negara oleh pengusaha sukses, Miles Axlerod (Eddie Izzard). Di tengah perlombaan yang seru, terjadi kesalahpahaman yang membuat Matter terlibat dalam aksi spionase. Finn (Michael Caine) dan Holley (Emily Mortimer) salah mengira Matter sebagai agen dari Amerika. Dengan tololnya, Matter menerima begitu saja tugas yang diberikan oleh Finn dan Holley tanpa berpikir panjang terlebih setelah hubungannya dengan McQueen merenggang karena berbagai kecerobohan yang disulut oleh Matter. Saat Cars bertutur sederhana tentang memaknai arti persahabatan dan kehidupan, maka Cars 2 lebih rumit. Sejak opening scene, kentara sekali bahwa Cars 2 akan diarahkan ke ranah film spionase yang penuh dengan intrik alih-alih sekadar film keluarga yang menceramahi penontonnya dengan setumpuk pesan moral.

John Lasseter dan Brad Lewis mencoba untuk merangkul penonton dewasa yang kebanyakan mencemooh Cars. Sebuah usaha yang patut mendapat apresiasi lebih, namun dengan adanya dua plot utama yang saling bertumpukan membuat penonton cilik agak kesulitan dalam mencerna Cars 2. Selain film menjadi lebih rumit, Cars 2 terasa agak kedodoran di beberapa bagian. Maka Lasseter dan Lewis pun terpaksa mengorbankan salah satu plot demi menyelamatkan film. Sialnya, justru bagian Lightning McQueen yang dipangkas alih-alih Matter. Maka Cars 2 tidak lagi menyorot sepak terjang McQueen di arena balap dan beralih menyoroti usaha Matter dalam menyesuaikan diri dengan ‘profesi barunya’ sebagai mata-mata. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ini, tapi perlu diperhatikan bahwa mayoritas penonton Cars 2 datang ke bioskop dengan harapan mendapat sajian adegan balapan yang seru. Maka ketika yang muncul adalah kisah spionase yang serba rumit, ada sedikit rasa kecewa sekalipun plot baru ini sama sekali tidak mengecewakan.

Yang menjadi masalah sesungguhnya adalah keputusan Lasseter dan Lewis mengalihkan posisi poros utama dari McQueen kepada Matter. Dari sekian banyak karakter yang muncul, kenapa harus Matter yang mendapat porsi lebih? Matter adalah tipe karakter yang sulit untuk dicintai oleh penonton. Bahkan saya sendiri sangat sebal dengan karakter ini. Ketololannya tidak bisa ditolerir. Tanpa menjadi tolol pun, Matter sulit untuk mendapatkan simpati. Konsekuensi dari pilihan ini adalah McQueen tergeser, begitu pula dengan karakter lain. Selama 100 menit rasanya sangat tersiksa menyaksikan Matter menguasai layar. Beruntung ada dua karakter anyar keren, Finn dan Holley, yang ditempatkan sebagai penetralisir atas kebodohan-kebodohan Matter sehingga mual penonton pun dapat segera teratasi. Michael Caine dan Emily Mortimer sangat pas sekali membawakan suara dua karakter ini. Gaya Finn dan Holley yang berkelas menjadi daya tarik tersendiri dari Cars 2. Tentu saja Cars 2 masih memanfaatkan animasi khas Pixar yang cantik, tata visual dan suara yang mengesankan sebagai jualan utama. Adegan McQueen dan lawan-lawannya menggila di arena balap digarap sangat serius sehingga terasa lebih greget dan nampol. Disisipkan di sela-sela plot spionase yang memusingkan, adegan balapan ini pun menjadi wake up call yang efektif bagi penonton yang kebosanan. Pada akhirnya, usaha Lasseter dan Lewis dalam memaksakan dua plot besar untuk membaur menjadi satu ternyata berbuah bumerang. Cars 2 memang tidak menjadi sebuah film animasi yang buruk, tapi tetap saja mengejutkan melihat Pixar menelurkan sebuah film animasi berkualitas so-so.
Acceptable

2D atau 3D? Silahkan jajal saja 3D-nya karena Pixar serius dalam menanganinya. Tata visualnya menjadi terlihat ciamik di layar 3D. Adegan balapannya pun flawless.