Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fantasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

REVIEW : THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN PART 1


"No measure of time with you will be long enough. But we'll start with forever."

Akhirnya, Bella Swan (Kristen Stewart) dan Edward Cullen (Robert Pattinson) bersatu dalam tali pernikahan setelah hubungan keduanya selalu mengalami tarik ulur selama tiga seri lamanya. Tapi tentu saja pernikahan bukan menjadi tujuan akhir dari The Twilight Saga. Stephenie Meyer, dengan kejamnya, tidak begitu saja membiarkan pasangan paling lebay dalam sejarah sastra dunia ini menikmati kehidupan rumah tangga dengan damai sentosa. Dalam Breaking Dawn, masih ada badai-badai yang menghadang mencoba untuk memisahkan Bella dan Edward. Manusia dan vampir tidak akan bisa bersatu dengan mudah. Terlebih banyak pihak yang tidak memberikan restu terhadap hubungan dua sejoli ini. Jacob Black (Taylor Lautner) adalah yang paling terang-terangan menyatakan keberatannya. Apakah kisah cinta segitiga yang melibatkan Bella, Edward, dan Jacob kembali terulang sekalipun Bella dan Edward telah menikah? Sebuah pertanyaan retoris sebenarnya. Anda yang hafal dengan seluk beluk The Twilight Saga atau pecandu opera sabun, tentu mengetahui jawabannya. Hanya saja, gangguan dari Jacob tidak seintensif sebelumnya. Tidak ada lagi alasan bagi Bella untuk bergalau ria memikirkan calon pendamping hidup yang tepat. Lagipula, dia masih 18 tahun. Ada apa dengan anak muda zaman sekarang?

The Twilight Saga: Breaking Dawn dibagi menjadi dua bagian menyusul permintaan Stephenie Meyer kepada Summit Entertainment yang meminta agar jilid terakhir ini dibuat dalam dua bagian karena kisahnya yang panjang dinilai tidak akan cukup apabila disampaikan dalam 120 menit. Oh, come on! Katakan saja jika alasan utamanya adalah demi mengeruk keuntungan yang lebih besar. Ditangani oleh Bill Condon, sutradara Dreamgirls sekaligus penulis naskah Chicago, Breaking Dawn Part I diharapkan bisa tampil lebih baik ketimbang prekuek-prekuelnya. Film dibuka dengan adegan pernikahan Edward dan Bella yang harus diakui digarap dengan sangat cantik. Dekorasi altar dan tempat resepsi yang indah, sinematografi yang aduhai, hingga tata rias dan busana yang melenakan mata, mampu mewujudkan impian para twihards untuk melihat acara pernikahan sakral dua tokoh favorit mereka. Sebelum menuju ke momen yang romantis ini, kita dibuat terlelap terlebih dahulu oleh naskah buatan Melissa Rosenberg dengan dialog yang super cheesy dan adegan yang dipanjang-panjangkan. Namun ini masih belum seberapa dengan apa yang terjadi di menit-menit selanjutnya.

Bagian pertama dari Breaking Dawn adalah mengenai pernikahan, bulan madu, masa-masa kehamilan, dan kelahiran. Bagi siapapun yang mengharapkan Breaking Dawn part I akan disesaki dengan aksi laga dan adegan yang mencekam, maka bersiaplah untuk kecewa. Demi menggambarkan betapa indahnya bulan madu yang dilalui oleh Bella dan Edward saja memakan waktu sekitar separuh dari durasi film. Apa yang diceritakan disini hanya berputar-putar mengenai malam pertama Bella dan Edward, bermain catur, berhubungan seks lagi, bermain catur lagi, berhubungan seks lagi, bermain catur lagi. Bukankah lebih tepat jika film ini diberi judul “The Neverending Honeymoon” atau “The Neverending Intercourse”? Demi mencegah terjadinya kebosanan pada penonton, disisipkan humor-humor menggelitik yang secara mengejutkan cukup efektif. Adegan seks yang digembar-gemborkan bakal panas ternyata biasa saja dan cenderung tidak natural. Agaknya usaha Summit Entertainment untuk mempertahankan agar Breaking Dawn tetap mengantongi rating PG-13 (Remaja) turut berpengaruh terhadap penggambaran adegan bulan madu. Selama satu jam pertama, Breaking Dawn Part I tidak memberikan lonjakan yang berarti dalam alur penceritaan. Dengan romansa yang serba berlebihan plus minimnya konflik, film terasa sangat lambat dan cenderung monoton. Condon dan Rosenberg terlalu berlama-lama dalam menyajikan porsi bulan madu yang seharusnya bisa dipersingkat. Maka jangan heran jika kemudian ada penonton menggorok lehernya sendiri saking tersiksanya melihat Bella dan Edward berasyik masyuk.

Bulan madu belum juga selesai, Bella sudah ketahuan berbadan dua. Keluarga Cullen mendadak panik, terlebih Alice (Ashley Greene) tidak mendapatkan visi tentang apa yang akan terjadi kepada Bella. Melihat kondisi Bella yang semakin lama semakin lemah, Edward dan Jacob memiliki inisiatif untuk mengaborsi janin yang tumbuh di dalam perut Bella. Akan tetapi, Bella menolak. Di lain pihak, kawanan werewolf menyusun rencana untuk membunuh Bella yang dianggap membawa ‘makhluk’ yang membahayakan bagi mereka. Jacob membelot. Dia memutuskan untuk membela Bella, yang artinya dia bersekutu dengan Edward, musuh abadinya. Ketika perut Bella sudah siap untuk ‘meledak’, film baru mulai enak diikuti. Secara perlahan, tensi ketegangan terus dinaikkan. Kristen Stewart mulai terlihat melebur dengan karakter yang dimainkannya sedangkan Robert Pattinson dan Taylor Lautner tetap tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Taylor Lautner gagal memancarkan emosi ketika Jacob dipaksa untuk memilih keluarga atau musuhnya. Menit-menit terakhir di Breaking Dawn Part I adalah momen terbaik dari film ini. Menegangkan, menyeramkan, sekaligus memilukan. Tampaknya The Twilight Saga telah menemukan sutradara yang tepat. Adegan terakhir dari Breaking Dawn Part I adalah favorit saya, selain adegan pernikahan di awal film. Tak pelak lagi, ini adalah seri terbaik dari The Twilight Saga, sejauh ini. Seandainya saja Bill Condon tidak berlama-lama dengan adegan resepsi pernikahan dan bulan madu, maka Breaking Dawn Part I akan lebih mengena. Lagi-lagi hanya twihards saja yang akan bertepuk tangan setelah film usai.

Acceptable

Note : Jangan terburu-buru keluar setelah film usai, ada adegan tersembunyi yang layak untuk ditunggu di pertengahan closing credit.

Minggu, 13 November 2011

INAFFF 2011 : IMMORTALS


Sutradara asal India yang terkenal dengan imajinasi visualnya yang indah tapi rada nyeleneh, Tarsem Singh, kembali menggebrak layar lebar dengan karya terbarunya setelah lima tahun vakum. Film terbarunya yang bertajuk Immortals ini mengangkat Mitologi Yunani sebagai bahan dasar naskah. Dengan desain poster yang menggoda, trailer yang menjajikan serta dibubuhkannya tulisan 'from the producer of 300', mau tidak mau para penikmat film akan mengantisipasi Immortals sebagai film epik yang memiliki kekuatan sebesar Para Spartan dari 300, terlebih Tarsem Singh memperoleh kucuran dana yang lebih tinggi nominalnya ketimbang yang didapat oleh Zack Snyder. Tapi itu saja tentu tidak menjamin bahwa film ini akan lebih menggelegar ketimbang 300, apalagi masih segar di ingatan penonton bagaimana Louis Leterrier mengacak-acak Mitologi Yunani dalam Clash of the Titans dengan tambahan naskah yang 'mengerikan', akting yang mengkhawatirkan plus 3D yang membuat mata sakit. Rasa pesimis juga muncul disebabkan jejak rekam Tarsem Singh yang 'so-so' dan belum terasah menghasilkan film berbujet raksasa. Film perdananya, The Cell, biasa saja, dan The Fall, yang menjadi Closing Film di pagelaran INAFFF yang pertama, hanya sedikit lebih baik dari The Cell.

Raja Hyperion (Mickey Rourke) menyatakan perang kepada umat manusia menyusul kekecewaannya kepada Dewa karena doanya tidak dikabulkan. Demi mewujudkan rencananya, Raja Hyperion pun berburu Busur Epirus buatan Dewa Perang, Ares (Daniel Sherman), yang konon katanya mampu memberikan kekuatan yang luar biasa bagi siapapun yang memilikinya. Para dewa tidak bisa turut campur dalam masalah ini, maka jalan satu-satunya untuk menghentikan Raja Hyperion adalah dengan mengutus seorang manusia. Melalui Theseus (Henry Cavill), Zeus (Luke Evans) meminta pertolongan. Theseus sendiri diliputi rasa dendam yang membara kepada Raja Hyperion setelah ibunya dibantai di depan mata kepalanya sendiri. Dengan bantuan seorang peramal, Phaedra (Freida Pinto), dan seorang pencuri yang senasib dengannya, Stavros (Stephen Dorff), Theseus pun memburu Raja Hyperion. Tapi tentu saja segalanya tidak berjalan dengan mudah. Visi dari Phaedra yang seringkali membingungkan, jumlah pasukan yang tidak seimbang, hingga jatuhnya Busur Epirus ke tangan Raja Hyperion, menjadi masalah yang harus dihadapi oleh Theseus dan pasukannya.


Immortals adalah sebuah film epik fantasi yang bertumpu pada polesan CGI yang megah, visualisasi yang indah, serta adegan-adegan pembantaian penuh darah untuk menutupi naskah yang kosong. Vlas dan Charley Parlapanides tidak memberikan nyawa ke dalam tulisan mereka sehingga konflik yang dihadirkan hampir tidak memiliki greget. Sebuah titik balik yang terjadi ketika ibu dari Theseus dibantai seharusnya mampu menggugah emosi penonton, terutama untuk berempati kepada si karakter utama. Yang justru terjadi adalah adegan in berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan apapun seakan ini bukan menjadi sesuatu yang berpengaruh terhadap perkembangan karakter Theseus. Malahan, duo penulis naskah menambahkan adegan-adegan yang terasa kurang penting dan dipaksakan untuk masuk yang sayangnya justru mengacaukan ritme alih-alih memaniskan film. Dengan drama yang tidak memiliki dinamika yang baik, secara otomatis adegan laga pun dijadikan sebagai tameng penyelamat. Hanya saja, Tarsem Singh baru memasukannya di penghujung film. Penonton dipaksa untuk melewati fase-fase yang membosankan terlebih dahulu sebelum akhirnya menikmati perang akbar yang disuguhkan dalam durasi yang relatif singkat.

Satu-satunya yang bisa membuat saya melek hingga akhir adalah keberanian Tarsem Singh dalam mempertontonkan adegan-adegan penuh muncratan darah dan tubuh yang tercerai berai. Selain itu, parade kostum-kostum ajaib yang menjadi ciri khas Tarsem Singh kembali dimunculkan disini. Lihat saja bagaimana uniknya kostum yang dikenakan oleh para peramal, Raja Hyperion beserta pasukannya, dan para dewa. Khusus untuk para dewa, saya tidak sanggup untuk menahan ketawa setiap kali mereka muncul dengan balutan kostum yang sulit untuk saya ungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, saya tidak sendirian. Sebagian besar penonton pun terkejut saat melihat penampilan para Dewa Yunani versi Tarsem Singh ini. Unik sih, tapi kok jadi terkesan tidak berwibawa ya? Jika menilik performa para aktor dan aktrisnya, maka hanya Henry Cavill dan Mickey Rourke saja yang bermain cukup apik. Freida Pinto tak lebih dari sekadar pemanis saja. Sementara yang bisa diingat dari Stephen Dorff, Kellan Lutz dan Luke Evans adalah mereka nyaris selalu bertelanjang dada di sepanjang film. Dengan kualitas yang cukup memprihatinkan seperti ini, maka tujuan Immortals untuk menyamai kualitas 300 gagal tercapai. Bahkan Immortals tidak lebih baik dari Clash of the Titans.

Poor

2D atau 3D? Lebih baik berhemat dengan menonton versi 2D-nya saja.

Sabtu, 12 November 2011

INAFFF 2011 : OPENING NIGHT


Saya sama sekali tidak menduga jika akan menjadi salah satu dari sekian blogger yang beruntung mendapatkan undangan untuk datang ke Opening & Closing Night INAFFF11. Sesuatu yang membahagiakan tentu saja. Sebenarnya saya sudah ingin menghadiri INAFFF (Indonesia International Fantastic Film Festival) sejak gelaran pertama di tahun 2007, tapi karena jarak yang cukup jauh, biaya transportasi yang tinggi, dan kesibukan sekolah / kuliah serta tetek bengeknya, saya pun selalu gagal untuk menikmati film-film yang diputar di INAFFF. Tahun lalu sempat berencana untuk menghadiri INAFFF di Bandung bersama seorang teman, tapi sekali lagi rencana tidak berhasil diwujudkan. Ketika tahun ini saya tidak lagi mengharapkan apapun, sebuah keajaiban datang. Saya mendapatkan undangan! Wuhuuuuu... Tentu saja saya tidak membuang kesempatan ini begitu saja, sekalipun dihadang dengan tugas kuliah dan organisasi yang seabrek. Meski hanya bisa mencicipi film yang diputar saat Opening dan Closing, saya sudah sangat bahagia. Apalagi film yang dijadikan penutup adalah Serbuan Maut (The Raid) karya Gareth Evans yang baru saja menggondol People's Choice Award di Midnight Madness, Toronto Film Festival.

INAFFF di tahun kelimanya ini akan memutar lebih dari 40 film bergenre horror, thriller, sci-fi, dan fantasi, dari seluruh dunia. Selain pemutaran film seperti biasa, tahun ini juga akan dimeriahkan dengan acara Film Making Session bersama Lala Timothy, produser Pintu Terlarang. Sebagai film pembuka, INAFFF memilih film fantasi anyar bikinan Tarsem Singh, Immortals. Film ini dirilis di Indonesia pada tanggal yang sama dengan jadwal edar di Amerika Serikat, 11 November 2011. Masih segar banget, baru keluar dari oven *halah*. Jumat malam, 11 November 2011, pukul 20.30, lobby Blitz Megaplex Grand Indonesia sudah dipadati ratusan calon penonton yang sudah tidak sabar untuk segera menerjang auditorium 2, salah satu audi besar di Blitz GI yang digunakan untuk pembukaan INAFFF. Diantara tamu undangan dan penonton yang antri rapi memanjang, saya sempat melihat beberapa artis, sineas serta produser berpengaruh di Indonesia, seperti Rio Dewanto, Sigi Wimala, Alex Abbad, Affandi Abdul Rachman, Joko Anwar, Aming, Gareth Evans, Putrama Tuta, Joe Taslim, hingga Vera Lasut, turut hadir.

Sebelum Immortals dimulai, dua orang penting dibalik penyelenggaraan festival ini, Rusli Eddy dan Trisiska Putri, terlebih dahulu menyapa penonton. "Semua yang berada disini, ayo mengacungkan tangan!," teriak Trisiska Putri yang disambut penonton dengan mengacungkan jari ke atas. Wanita yang akrab disapa Noni ini metransfer energi positif kepada para penonton yang tampak sangat antusias dan penuh semangat. Setelah Trisiska Putri turun dari panggung, Direktur Festival INAFFF, Rusli Eddy mengambil alih untuk menyampaikan sambutannya. Disela-sela opening speech-nya, Rusli Eddy juga sedikit membeberkan sejarah singkat INAFFF yang dulunya bernama Screamfest Indonesia. Ternyata pemerintah sempat meragukan festival ini. "Kok bikin festival yang isinya film horror semua? Kan film horror jelek-jelek?," ujar Rusli Eddy menirukan ucapan salah satu petinggi kita kala itu. Namun itu tidak mengendurkan semangatnya untuk menghadirkan festival yang berbeda di negeri ini. Terbukti, resistensi pemerintah ternyata salah. Basis penggemar INAFFF semakin bertambah dari tahun ke tahun. INAFFF juga memberikan bukti bahwa tidak semua film horror itu memiliki kualitas yang buruk.

Yang membanggakan dari pagelaran INAFFF kelima ini adalah kehadiran tiga film Indonesia yang akan turut meramaikan festival yang berlangsung selama 10 hari dari 11 hingga 20 November 2011. Ketiga film tersebut adalah Serbuan Maut (The Raid), The Perfect House, dan FISFiC VOL. 1. Bahkan The Raid dan FISFiC VOL. 1 menjadi film yang paling diminati oleh para penonton. Tiketnya terjual habis hanya dalam hitungan menit! Semoga saja ini pertanda bahwa masyarakat Indonesia masih mengharapkan adanya film horror/thriller Indonesia yang berkualitas. Acara kemudian dilanjut dengan bagi-bagi hadiah secara gratis. Penonton diminta untuk mengecek apakah ada isolasi hitam atau amplop di samping kursi, di bawah kursi atau di dalam majalah Total Film Indonesia yang dibagikan secara gratis. Penonton yang tidak beruntung masih mendapatkan kesempatan untuk memperoleh kaos dan poster yang dilemparkan oleh panitia. Benar-benar seru. Seorang rekan sesama movie blogger, sigilahoror, disambut oleh panitia secara khusus karena niat banget datang jauh-jauh dari Bali hanya untuk INAFFF. Salut!

Acara inti pun dimulai, pemutaran film 'Immortals' yang menandai dimulainya INAFFF11. Namun sebelumnya penonton disuguhi cuplikan dari Modus Anomali, FISFiC VOL. 1, LA Lights Indie Movie, dan Serbuan Maut (The Raid). Riuh tepuk tangan dan sorak sorai pun menggema. Setelah film utama diputar, secara serempak penonton pun dengan khidmat menyaksikannya. Di bawah arahan Tarsem Singh, Immortals menyajikan visualisasi yang indah. Review lengkap mengenai film ini, akan saya posting kemudian. Yang membuat saya puas malam itu bukanlah Immortals, tetapi kesempatan bertemu dengan rekan sesama movie blogger yang luar biasa serta 'orang film' secara langsung. Untuk berkumpul seperti ini sangatlah sulit karena kesibukan masing-masing. Tanpa INAFFF, mungkin kita akan kesulitan untuk bisa 'kopi darat'. Bagi saya, disinilah menariknya festival ini. Memberikan hiburan menyenangkan dengan film-film seru yang akan membuat kita menjerit, bersorak dan bertepuk tangan, dan setelahnya dibahas secara ringan bersama teman-teman. Sebuah festival film yang sangat menyenangkan untuk dihadiri. Tidak perlu berpikir berat untuk bisa menikmati suguhannya. Just having fun!

Sabtu, 15 Oktober 2011

REVIEW : THE SMURFS


"Oh My Smurf!"

Hanya tinggal menunggu waktu bagi sekumpulan makhluk kecil berwarna biru bernama Smurfs untuk berkeliaran di layar lebar setelah Scooby Doo, Alvin and the Chipmunks hingga Transformers terbukti ampuh sebagai mesin pengeruk Dollar hingga melahirkan franchise sekalipun dihujat para kritikus. Berangkat dari sebuah komik berseri klasik asal Belgia karangan Peyo yang laris manis, The Smurfs lantas berkembang menjadi sebuah serial animasi di tahun 1980-an. Dengan mengombinasikan tokoh-tokoh berwarna biru yang imut dan menggemaskan dengan cerita yang mudah dicerna plus humor-humor slapstick, The Smurfs berhasil mengumpulkan jutaan fans dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Serialnya sendiri memang tidak lagi ditayangkan di stasiun televisi nasional di negeri kita, namun komik The Smurfs masih banyak dijumpai tertata manis di toko-toko buku. Seraya menyambut datangnya The Smurfs ke layar lebar, tidak ada salahnya jika kita berkenalan lebih dahulu dengan makhluk-makhluk ini melalui komiknya agar lebih memahami semangat The Smurfs yang diusung oleh Raja Gosnell. Sebagai seorang sutradara, Raja Gosnell memiliki catatan yang terbilang kurang menggembirakan. Selain Big Momma’s House, dwilogi Scooby-Doo, Beverly Hills Chihuahua dan The Smurfs, film buatannya kurang mendapat respons positif dari penonton. Begitupun dengan yang laris manis, kritikus menanggapinya dengan sinis.

Mengingat The Smurfs adalah sebuah adaptasi dari komik anak-anak dan Gosnell yang menanganinya, tentu Anda jangan terlalu serius dalam menilai film ini. Sejak awal pangsa pasar yang ditarget adalah keluarga. Maka jangan heran jika plot yang klise, villain yang kelewat bodoh dan humor slapstick khas film keluarga akan Anda temukan dengan sangat mudah disini. The Smurfs berkisah tentang Gargamel (Hank Azaria), seorang penyihir jahat, yang merusak kedamaian Desa Smurf tatkala para Smurf sedang sibuk mempersiapkan Blue Moon Festival. Desa Smurf porak poranda sementara para penduduknya lari menyelamatkan diri dari kejaran Gargamel yang mematikan. Di tengah pelarian, Clumsy (disuarakan oleh Anton Yelchin), terpisah dari rombongan dan menuntunnya ke sebuah gua misterius. Mengandalkan visi yang didapat sebelum serangan dari Gargamel, Papa Smurf (Jonathan Winter) memutuskan untuk menyusul Clumsy. Bergabung dengan Papa Smurf ada Grouchy (George Lopez), Brainy (Fred Armisen), Smurfette (Katy Perry), dan Gutsy (Alan Cumming). Sialnya, Gargamel dan kucingnya yang menggemaskan, Azrael (Frank Welker), berhasil mengejar mereka. Dalam kondisi terpojok, keenam jagoan kita ini nekat terjun ke sebuah pusaran raksasa yang melempar mereka ke New York. Disini, mereka tinggal bersama dengan pasangan muda, Patrick (Neil Patrick Harris) dan Grace (Jayma Mays), yang tengah menantikan momongan. Tentu Gargamel tidak membiarkan para Smurf ini bebas begitu saja. Perburuan terhadap Smurf terus dilakukan hingga memaksa Patrick dan Grace mau tak mau untuk terlibat.

Raja Gosnell memanfaatkan The Smurfs sebagai sebuah kesempatan baginya untuk menebus kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat kepada dwilogi Scooby-Doo yang mengecewakan itu. Elemen pondasi klasik yang dipergunakan untuk menciptakan sebuah film keluarga tetap dipertahankan, namun sekali ini Gosnell terbantu dengan naskah yang ditulis keroyokan oleh para penulis naskah yang beberapa diantaranya merupakan fans berat dari The Smurfs. Gosnell memang tidak lantas membuat The Smurfs sebagai sebuah masterpiece dan adaptasi terbaik di genrenya, tapi ini jelas merupakan sebuah peningkatan dan setidaknya tidak mengecewakan fans The Smurfs. Yang membuat saya senang, Gosnell dan tim penulis naskah tidak melupakan para penonton dewasa non fans sekalipun mereka bukanlah target utama. Humor yang bersinggungan dengan pop culture beberapa kali diselipkan dan cukup mampu membuat saya setidaknya menyunggingkan senyum. Memiliki kedekatan serta pengetahuan yang luas mengenai The Smurfs turut membantu tim penulis naskah dalam menyampaikan kisah. Mereka setia dengan gaya bertutur Peyo sehingga para fans pun tak merasa terkhianati meskipun ini akan membuat para penonton dewasa yang tidak akrab dengan The Smurfs mengernyitkan dahi menyaksikan sejumlah adegan yang dikreasi secara childish dengan humor-humor slapstick.

Naskah digarap serius, tidak hanya menyoal tentang petualangan para Smurf di Big Apple namun juga membahas hubungan antar karakter yang menjadikannya terasa sedikit sentimentil di beberapa adegan. Ini menjadi kekuatan The Smurfs tatkala kebanyakan film sejenis cenderung mengabaikan kekuatan naskah. Dari jajaran pemain pun sama sekali tidak mengecewakan. Ketiga bintang utama The Smurfs yang masing-masing berasal dari serial komedi yang berbeda (Glee, How I Met Your Mother dan Modern Family) tampil pas dan tidak berlebihan. Neil Patrick Harris menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor komedi berbakat, sementara Sofia Vergara yang berperan sebagai atasan Patrick yang memiliki karakteristik layaknya Cruella de Vil sekalipun tidak secemerlang seperti saat di Modern Family akan tetapi tetap mencuri perhatian dengan aksennya yang khas. Jayma Mays bermain terlalu aman, posisinya diuntungkan dengan karakter Grace yang memiliki peranan penting dalam kehidupan Patrick. Sementara untuk pengisi suara dari para Smurf nyaris tanpa cela. Jonathan Winter yang pernah mengisi suara dalam versi animasi The Smurfs selama beberapa episode berhasil menjiwai karakter Papa Smurf dengan baik. Barisan pendukungnya pun patut mendapat acungan jempol. Andai saja saya tidak mengetahui siapa saja yang ambil bagian sebagai dubber, maka saya tidak akan menyadari Katy Perry ikut meramaikan suasana. Maka, Raja Gosnell pun patut melayangkan beribu ucapan berterima kasih kepada para pemain dan penulis naskah yang telah berjasa membawa The Smurfs setingkat lebih tinggi derajatnya ketimbang film sejenis sehingga karir Gosnell di Hollwood pun masih bisa terselamatkan. Yah, setidaknya pihak Sony Pictures tidak ragu untuk mengontaknya kembali demi The Smurfs 2.

Acceptable

2D atau 3D? Saya lebih menyarankan Anda untuk berhemat dengan menontonnya dalam versi 2D saja karena tidak ada perbedaan yang signifikan dalam versi 3D-nya.

Selasa, 04 Oktober 2011

REVIEW : PIRATES OF THE CARIBBEAN: ON STRANGER TIDES


"Better to not know which moment may be your last. Every morsel of your entire being alive to the infinite mystery of it all." - Jack Sparrow

Absennya Black Pearl dan pasangan romantis nan menggemaskan, Will (Orlando Bloom) dan Elizabeth (Keira Knightley), tidak menyurutkan niat Walt Disney untuk melanjutkan Pirates of the Carribean menuju ke instalmen keempat. Selama Johnny Depp alias Jack Sparrow masih berada dalam genggaman, maka franchise ini masih bisa terus berlayar mengarungi layar-layar bioskop demi membajak harta karun berupa pundi-pundi Dollar dari penonton. Maka tak heran jika ada kabar bahwa Depp mendapat bayaran sebesar $55 juta untuk melanjutkan perannya sebagai bajak laut slebor ini. Akibatnya, bujet produksi pun membengkak hingga mencapai $250 juta. Dengan angka sebesar ini, agaknya wajar bagi para penonton untuk sedikit berekspektasi lebih terhadap adegan-adegan aksi yang dijual di Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides. Gore Verbinski yang mengarahkan tiga film sebelumnya bergabung bersama Orlando Bloom dan Keira Knightley untuk meninggalkan franchise yang telah berjasa melambungkan nama mereka ini. Rob Marshall pun dipilih untuk mengambil alih kemudi kapal dan melanjutkan perjalanan bersama Jack Sparrow. Dengan hilangnya Bloom dan Knightley, maka didatangkan beberapa wajah baru dalam franchise untuk mengisi kekosongan. Ucapkan selamat datang kepada Penelope Cruz, Ian McShane, Sam Claflin dan Àstrid Bergès-Frisbey yang jelita berseri-seri.

Jack Sparrow tidak berjuang sendirian untuk melanjutkan petualangannya karena dia masih setia didampingi oleh Gibbs (Kevin McNally) dan musuh bebuyutannya, Hector Barbossa (Geoffrey Rush). Mengambil kisah dari novel berjudul sama karangan Tim Powers, On Stranger Tides bertutur mengenai usaha Jack Sparrow dalam menemukan Fountain of Youth. Sekalipun plot cenderung berjalan lurus dan mudah ditebak, namun perjalanan Sparrow tetap saja penuh lika liku. Sparrow diculik oleh kekasihnya yang telah lama hilang, Angelica (Penelope Cruz), dan terpaksa bergabung ke dalam kapal Queen Anne's Revenge milik bajak laut misterius yang mematikan, Blackbeard (Ian McShane), yang berambisi untuk menemukan Fountain of Youth. Sementara itu, Gibbs bergabung bersama dengan Barbossa untuk memburu Blackbeard. Rupanya Barbossa memiliki dendam pribadi terhadap Blackbeard setelah Barbossa kehilangan Black Pearl dan salah satu kakinya. Petualangan yang seru ini juga diwarnai dengan romansa unik yang terjalin antara seorang misionaris, Philip (Sam Claflin) dengan salah satu putri duyung yang memiliki posisi penting dalam film, Syrenna (Àstrid Bergès-Frisbey).


Berbeda dengan ketiga film sebelumnya, On Stranger Tides cenderung mudah untuk diikuti dan tidak berbelit-belit dalam menuturkan kisah. Terry Rossio dan Ted Elliott memasukkan lebih banyak unsur hiburan dan tidak terlalu berusaha untuk menampilkan intrik kelas tinggi yang terkadang sulit untuk dicerna bagi para penonton yang tidak mengikuti petualangan Jack Sparrow sejak awal. Segalanya dimulai lagi dari awal mengingat On Stranger Tides dicanangkan sebagai jilid pertama dari sebuah trilogi baru. Dengan jalan cerita yang jauh lebih ringan ketimbang pendahulunya, menjadikan On Stranger Tides enak untuk diikuti tanpa harus mengerutkan dahi dan memutar otak memikirkan apa yang telah terjadi di ketiga film sebelumnya. Rob Marshall mengemasnya dengan baik. Sayangnya ini berdampak pada dialog dan humor-humor cerdas khas Pirates of the Caribbean yang terpaksa dikorbankan untuk diganti dengan eksploitasi adegan-adegan bertaburkan special effects dan humor yang menyentuh ranah slapstick. Namun dari sekian banyak adegan yang memanfaatkan CGI, murni hanya adegan penyerangan putri duyung di pantai yang berhasil membuat saya cukup terpukau. Selebihnya hanya pengulangan.

Tidak salah rasanya keputusan untuk menggaji Depp sedemikian tinggi karena Jack Sparrow masih tetap tampil sangat menghibur dan mampu menghindarkan film dari kata membosankan. Adu akting Depp dengan Ian McShane dan Geoffrey Rush adalah salah satu bagian terbaik dari On Stranger Tides. McShane menghidupkan Blackbeard dengan sangat meyakinkan dan Rush membuat saya seolah tak percaya bahwa dia adalah orang yang sama yang berperan di The King's Speech tempo hari. Claflin dan Bergès-Frisbey bermain sesuai dengan porsinya dan sesekali mencuri perhatian. Chemistry yang terjalin diantara mereka berdua malah cenderung lebih believable ketimbang apa yang coba dihadirkan oleh Depp dan Cruz. Penelope Cruz sebenarnya lumayan menghibur, hanya saja pesona Àstrid Bergès-Frisbey yang kuat dan chemistry-nya yang lemah dengan Depp, membuat dia menjadi sedikit terpinggirkan.

Beberapa penggemar Pirates of the Caribbean mungkin akan sedikit kecewa melihat franchise favorit mereka ini disajikan sedemikian ringan. Para kritikus film pun melayangkan kritikan pedas untuk On Stranger Tides. Namun tetap saja, On Stranger Tides melaju dengan kencang di tangga box office sekaligus memecahkan beberapa rekor. Agaknya penonton awam lebih menyukai tampilan baru dari franchise ini. Meskipun belum bisa menyamai jilid pertama dan keduanya yang sangat menghibur, akan tetapi On Stranger Tides berkali-kali lipat lebih mengasyikkan ketimbang At World's End yang melelahkan itu. Dengan durasi 30 menit lebih pendek, On Stranger Tides terasa pas dan tidak bertele-tele. Special effects dimanfaatkan dengan sangat baik dan departemen aktingnya jempolan. Pada akhirnya, Rob Marshall berhasil menjalankan misinya dengan baik untuk menjadikan On Stranger Tides sebagai sebuah summer movie yang menghibur.

2D atau 3D? Sekalipun film ini disyut memakai kamera 3D, tampilan 3D-nya tidak terlampau istimewa. Jika bujet Anda terbatas, maka sebaiknya jangan memaksakan untuk menonton versi 3D-nya.

Acceptable

Rabu, 10 Agustus 2011

REVIEW : TRANSFORMERS: DARK OF THE MOON



'Thank God!' itulah yang pertama kali terlontar dari mulut saya setelah menyaksikan Transformers: Dark of the Moon di bioskop. Setelah lampu bioskop dinyalakan, saya tidak sabar untuk segera pulang dan segera menyaksikan film lain ketimbang berlama-lama di dalam gedung bioskop menikmati credit title-nya. Menonton Dark of the Moon adalah sebuah pengalaman tersendiri karena sudah lama sejak The Last Airbender, saya tidak merasakan rasa lelah yang sedemikian dahsyat setelah menonton suatu film. Saya jadi teringat kembali pada pengakuan sang sutradara, Michael Bay, yang mengatakan bahwa seri kedua dari Transformers, Revenge of the Fallen, adalah sebuah film yang buruk dan berjanji akan memperbaiki kualitasnya di seri ketiganya kelak. Ya, Bay ternyata bukanlah tipe sutradara yang suka obral janji. Dia memenuhi janjinya. Namun perkara tidak lantas berakhir disitu saja. Ehren Kruger yang pernah khilaf menyajikan naskah kosong melompong di film kedua ternyata terlalu bersemangat untuk membuat film ketiga ini jadi lebih baik. Penulis skenario yang melahirkan film apik macam Arlington Road dan The Skeleton Key ini menimbun Dark of the Moon dengan plot bercabang yang niatnya ingin terlihat berisi namun malah membuat penonton tersiksa lahir batin.



Dark of the Moon mengawali kisahnya dengan menjanjikan. Kisah nyata dan fiksi dipadukan menjadi satu. Pemerintah Amerika Serikat ternyata mempunyai rencana lain seputar pendaratan manusia pertama di bulan. Kru Apollo 11 diminta untuk menyelidiki benda misterius yang terjatuh di bulan. Yang mereka temukan disana adalah sebuah pesawat alien bernama Ark yang berisi sejumlah bangkai robot. Konon, kapal yang membawa muatan penting ini berhasil melarikan diri tatkala terjadi perang besar di planet Cybertron. Pesawat ini sempat dinyatakan hilang hingga ditemukan oleh kru Apollo 11. Penemuan ini lantas dirahasiakan oleh pemerintah selama bertahun-tahun, termasuk kepada Autobots yang membantu mereka. Dan, sajian pembuka yang menarik itu pun diakhiri sampai disini. Apa yang tersaji selanjutnya adalah mengenai betapa ribetnya kehidupan Sam Witwicky (Shia LaBeouf) yang haus akan pengakuan dan kekasih barunya yang sekilas mengingatkan saya pada Cinta Laura, Carly (Rosie Huntington-Whiteley). Menjadi lulusan dari universitas yang tergabung dalam Ivy League dan dua kali menyelamatkan dunia ternyata tidak membuat Sam mendapat pekerjaan dengan mudah. Saat plot mulai bergelut dengan masalah pekerjaan Sam, saya mulai kebingungan. Apakah saat ini saya sedang menyaksikan Wall Street 3 : Dark of the Money? Kruger kelewat bertele-tele dalam menjabarkan permasalahan personal Sam dan apa yang akan dihadapi oleh manusia.





Rahasia pemerintah belakangan tercium oleh para robot. Autobots mengetahui keberadaan Sentinel Prime, sesepuh Autobots, yang tengah koma di bulan. Optimus pun menyambanginya dan membawanya ke bumi untuk kemudian dihidupkan dengan menggunakan energi 'Matrix of Leadership'. Sayangnya, air susu dibalas dengan air tuba. Alih-alih bergabung dengan Autobots untuk mewujudkan perdamaian dunia, Sentinel justru mengkhianati Optimus dengan mengumpulkan 'The Pillars' yang tercecer demi kepentingan pribadi. Hubungan antara manusia, Autobots, Decepticons dan Sentinel Prime pun merumit. Serumit naskah buatan Kruger. Harus diakui, menonton sebuah film dengan durasi melebihi 150 menit bukanlah perkara yang mudah dan menyenangkan. Jika tidak dilandasi naskah yang kuat, akan berakhir menjadi tontonan yang menjemukan. Dark of the Moon sungguh melelahkan. Apa yang dinanti-nantikan baru dihadirkan oleh Bay pada 30 menit terakhir. Ibaratnya seperti seseorang yang sedang makan di restoran dan menantikan makanan utama disajikan, namun sang pelayan tidak kunjung datang. Sembari menunggu, lagu pengantar tidur mengiringi. Seperti itulah yang saya alami. Sebelum penonton digiring menuju pertarungan keren dengan special effects yang mampu membuat mulut menganga, penonton diajak untuk menikmati kisahnya yang sangat membosankan terlebih dahulu. Saking membosankannya, saya menjadi saksi mata atas tumbangnya dua penonton di dalam bioskop (baca: tertidur lelap).



Duplikat Cinta Laura alias Rosie Huntington-Whiteley secara mengejutkan malah lebih pas untuk berada dalam film ini ketimbang Megan Fox. Aktingnya memang membuat saya segera mengambil tasbih dan membaca istighfar sebanyak mungkin dan chemistry-nya dengan LaBeouf sama sekali tidak nyambung, namun setidaknya dia tidak annoying seperti Fox, saya bahkan pernah berharap Mikaela ditelan hidup-hidup oleh Megatron di Revenge of the Fallen. Dia pun difungsikan dengan benar, tidak hanya sebagai pemanis belaka. Namun tentu dia tidak kalah ajaibnya dengan Fox. Saya tidak bisa berhenti tertawa saat melihatnya melewati semua petualangan yang mendebarkan dengan high heels yang masih melekat di kaki indahnya. Dia pun masih tetap terlihat cantik dan modis meski udah ketiban gedung dan kena ranjau berkali-kali. LaBeouf semakin terasah kemampuan aktingnya, namun Frances McDormand dan John Malkovich adalah bintang sesungguhnya. Mereka membuktikan bahwa mereka memang layak untuk disebut sebagai aktor papan atas. Apalagi mereka yang paling berjasa untuk membuat saya tetap melek hingga menit terakhir, selain tentunya karena saya memikirkan berapa duit yang harus saya korbankan. Jika ada yang tidak penting, maka itu adalah Ken Jeong, Patrick Dempsey dan John Turturro. Namun saya lebih berharap agar Bay menyingkirkan dua robot peliharaan Sam, yang saya tidak peduli siapa nama mereka, selama-lamanya. Gak lucu blas, malah annoying to the max!



Memberi kritikan pedas kepada seri Transformers berarti siap untuk menerima segala tuduhan dari fans-nya. Seperti halnya Twilight Saga, tuduhan tersebut biasanya akan berakhir pada kritik balik terhadap tulisan si pengritik atau film yang disukai oleh si pengritik. Salah besar jika Anda menganggap saya tidak suka dengan seri Transformers. Saya sangat menikmati seri pertama, namun seri-seri selanjutnya membuat hati ini pedih membayangkannya. Siapapun yang mengikuti tulisan Cinetariz tentu tahu meskipun saya sangat menggemari Harry Potter, tapi saya berulang kali melancarkan serangan kepada versi film Half-Blood Prince. Saya hanya berusaha jujur atas apa yang saya lihat. Dark of the Moon, pada kenyataannya, tidak lebih dari ajang pamer special effects dengan cerita yang dipaksakan. Saya tidak mengharapkan sebuah cerita berkelas Oscar, tapi mbok ya jangan menyepelekan cerita. Percuma saja megah tapi isinya kosong. Ada kepuasan yang lebih saat naskah, akting, tampilan visual dan efek megah berpadu menjadi satu. The Dark Knight, anyone? Seperti itulah seharusnya film blockbuster dibuat. Dark of the Moon mungkin menyenangkan untuk saat ini (mungkin lho ya!), tapi apakah akan tetap dikenang hingga 10 tahun ke depan? Jika Michael Bay adalah tipe sutradara yang menerima kritik, maka film berikutnya masih patut untuk dinantikan. Dark of the Moon, meskipun tetap tidak menarik, menunjukkan usahanya untuk memperbaiki diri setelah kecaman demi kecaman di film sebelumnya. Setidaknya dia tidak seperti sutradara di negeri kita yang menutup mata dan telinga sembari berkata dalam hati, "terserah apa kata lu, yang penting duit gue ngalir deres."



Poor

Sabtu, 30 Juli 2011

REVIEW : HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2


"Do not pity the dead, Harry. Pity the living and above all, especially those who live without love." - Albus Dumbledore

Penantian panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Setelah keran film MPA ditutup, kesempatan untuk menyaksikan jilid terakhir dari Harry Potter nyaris tidak ada. Setelah masyarakat terus diombang-ambingkan oleh pemerintah yang nampaknya sedang asyik main kucing-kucingan dengan pihak MPA dan importir, secercah harapan turun dari langit. Berita yang membahagiakan menyeruak ke publik. Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 dipastikan tayang di Indonesia. Ini mungkin adalah berita paling membahagiakan bagi siapapun yang mencintai film, khususnya pecinta film Harry Potter, di bulan Juli ini. Rilis telat tidak lagi menjadi soal, selama bisa menyaksikannya di layar lebar. Bagi fans fanatik Harry Potter, menyaksikan perjalanan terakhir dari sebuah legenda melalui DVD bajakan adalah sesuatu yang memalukan dan tidak bisa diterima. Mereka yang tidak menyukai franchise ini mungkin beranggapan ini adalah sesuatu yang gila dan berlebihan. Tidak sedikit yang mencemooh para fans yang rela berdesak-desakkan demi bisa menikmati Harry Potter and the Deathly Hallows part 2. Ini bukan masalah demi mendapat sebuah prestige atau agar dianggap keren. Menanti selama bertahun-tahun demi melihat 'sang sahabat' yang telah menemani selama 10 tahun untuk mengucapkan selamat tinggal adalah sesuatu yang melelahkan dan menyiksa. Ketika akhirnya kesempatan itu datang, maka tidak heran jika kemudian diserbu di kesempatan pertama. Sesuatu yang tidak akan mungkin bisa dipahami oleh mereka yang tidak tumbuh bersama Harry Potter. Saya rasa tidak hanya Harry Potter yang mengalami ini. Franchise lain semacam Star Wars dan The Lord of the Rings juga menciptakan euphoria yang sama ketika jilid terakhirnya dilempar ke bioskop. Apa yang terjadi saat ini mungkin tidak akan segila seperti ini seandainya summer movies masuk dengan lancar. Haus akan film blockbuster dari Hollywood turut menciptakan keadaan ini.

Untungnya, ini adalah sebuah akhir yang luar biasa dari petualangan Harry Potter. David Yates sukses menuntaskan franchise ini dengan penyelesaian yang sangat memuaskan. Entah bagaimana pendapat para Potterhead, tapi saya pribadi mengacungi dua jempol atas kinerja Yates yang apik. Kesalahannya dalam mengacaukan Harry Potter and the Half-Blood Prince pun seketika termaafkan. Saya susah untuk memercayai bahwa film yang memukau ini adalah hasil buatan dari sutradara yang sama yang telah mengecewakan saya tempo hari. Emosi saya membuncah ketika akhirnya closing credits bergulir. Ini saatnya bagi saya untuk merelakan kepergian Harry, Ron, Hermione, dan seluruh penghuni Hogwarts. Tidak sedahsyat saat saya ditinggal pergi oleh Woody dan kawan-kawan melalui Toy Story 3, namun tetap saja air mata susah dibendung. Saya sungguh berterima kasih kepada J.K. Rowling yang telah menciptakan sebuah karya sastra yang memukau seperti ini. Sangat jarang ada sebuah karya sastra bergenre fantasi yang mampu membuat pembacanya terasa ikut terlibat dengan petualangan para tokohnya selama berseri-seri. Tandingan Harry Potter untuk hal ini hanyalah The Lord of the Rings yang tak pelak merupakan karya sastra terbaik di genrenya. Mereka berdua sanggup menciptakan sebuah cerita yang sangat dalam, detail, runtut dan terjalin sangat rapi. Maka bukan perkara yang mudah untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk pita seluloid.


Steve Kloves tidak secanggih Fran Walsh, Philippa Boyens dan Peter Jackson dalam menuangkan novel ke dalam naskah. Jarang sekali Kloves bisa memuaskan semua kalangan. Namun bisa jadi itu disebabkan karena hampir setiap seri Harry Potter ditangani oleh sutradara yang berbeda. Pangkas memangkas dalam film adaptasi sebenarnya merupakan hal yang sangat wajar, karena seperti yang saya tekankan berulang kali, film dan novel adalah media yang berbeda. Ketika ada beberapa bagian dari novel Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 yang hilang di versi film, saya tidak terkejut. Selama inti utama cerita tidak ikut terpangkas, itu bukan sesuatu yang dipermasalahkan. Kloves dan Yates sudah berhasil menceritakan kembali apa yang seharusnya diceritakan. Jika menuntut untuk setia 100 % kepada novel maka akan susah. Selain durasi akan menjadi melar, belum tentu penonton yang tak pernah membaca versi novelnya akan suka. Memuaskan semua pihak memang bukan perkara yang mudah. Namun untuk sebuah adaptasi, Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 ini sudah digarap dengan sangat baik. Sinematografinya cantik, special effect-nya megah dan musik gubahan Alexandre Desplat sangat indah. Musik dari Desplat yang terkadang membuat saya emosional ini membantu tiap scene terasa lebih hidup.

Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint menunjukkan performa terbaik mereka disini. Kemampuan akting mereka semakin terasah dan akting Radcliffe sebagai Potter pun mulai bisa diterima. Malangnya, usaha keras mereka untuk berakting dengan sempurna dilibas oleh akting memukau Maggie Smith. Professor Minerva McGonagall tidak pernah semenarik ini sebelumnya. Penampilannya singkat, namun membekas. Rasanya tidak ada yang keberatan jika saya mengatakan bahwa Maggie Smith adalah scene stealer di film ini. Selain penampilan apik Smith, rata-rata pemeran pendukung menunjukkan kemampuan akting kaliber atas. Alan Rickman, Ralph Fiennes, Michael Gambon dan Helena Bonham Carter membuktikan bahwa mereka layak disebut sebagai aktor papan atas. Rickman membuat saya iba sekaligus kesal terhadap Severus Snape, sementara Carter tak pernah gagal membuat saya tertawa terbahak-bahak. Lihat saja aksinya saat memainkan Bellatrix Lestrange palsu. Salah satu adegan favorit saya di film ini. Fiennes juga bermain sangat kuat saat memerankan Voldemort. Dia sukses menunjukkan sisi rapuh dari Voldemort, namun tetap terlihat menyeramkan. Disinilah salah satu letak kekuatan dari franchise ini. Setiap tokoh memiliki alasan kehadiran di dalam cerita dan karakternya kuat nan manusiawi. Banyak sekali 'life lessons' yang bisa dipetik dari setiap tindak tanduk para tokoh disini. J.K. Rowling tidak mencoba untuk menguliahi pembacanya, pesan itu akan secara langsung terserap jika pembaca memahami apa yang disampaikan oleh Rowling. Sungguh menakjubkan.

Bagian penutup dari franchise paling menguntungkan ini menyoroti petualangan Harry, Ron dan Hermione, dalam mencari tiga Horcrux terakhir yang harus dihancurkan. Pencarian menjadi semakin tidak mudah lantaran Lord Voldemort telah menemukan salah satu tongkat sihir terkuat, Elder Wand, dan bersama pasukannya, "He-Who-Must-Not-Be-Named" merapatkan diri ke Hogwarts. Peperangan terbesar dalam dunia sihir pun tak terelakkan. Kemerdekaan dunia sihir ada di tangan remaja berusia 17 tahun, Harry Potter. Saya tidak perlu menceritakan bagian apa saja yang menarik di film ini. Anda harus menyaksikannya sendiri. Yang pasti, ini adalah adaptasi terbaik dari semua versi film Harry Potter. Adegan peperangan di akhir film mungkin terkesan dibuat terburu-buru, namun tetap terasa megah. Kematian Dumbledore yang datar dan hilangnya peperangan Hogwarts dari Half-Blood Prince, ditebus disini. Meskipun tidak bisa melampaui pencapaian akhir dari The Lord of the Rings atau Toy Story yang sangat menakjubkan, David Yates telah memberi sebuah akhir yang sangat memuaskan dan layak bagi salah satu franchise terbaik dekade ini. Rasanya akan sulit menemukan sebuah seri yang begitu megah dan digarap secara apik seperti ini dalam beberapa tahun ke depan. J.K. Rowling adalah seorang yang jenius.

Outstanding

Sabtu, 11 Desember 2010

REVIEW : THE CHRONICLES OF NARNIA : THE VOYAGE OF THE DAWN TREADER

"So, if there are no wars to fight, then why are we here ?" - Edmund

Setelah memberikan hasil penjualan tiket yang kurang memuaskan dalam Prince Caspian, Walt Disney akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang versi film dari The Chronicles of Narnia dan menyerahkan sepenuhnya kepada Walden Media selaku pemegang hak perilisan. Yang beruntung menggantikan Disney dalam memegang hak distribusi adalah 20th Century Fox. Perubahan juga terjadi di kursi penyutradaraan dan tim penulis naskah dimana yang sebelumnya dikomandoi oleh Andrew Adamson kali ini dipegang oleh Michael Apted. Dengan adanya beberapa perubahan ini publik tentu berharap hasil akhir dari The Voyage of the Dawn Treader bisa lebih baik dari film sebelumnya terlebih dengan durasi yang lebih pendek kemungkinan besar Apted akan lebih memfokuskan pada kisah petualangannya.

Bersetting satu tahun setelah serangkaian kejadian di film kedua, Lucy (Georgie Henley) dan Edmund (Skandar Keynes) 'dititipkan' di rumah sepupu mereka yang manja dan menyebalkan, Eustace (Will Poulter) sementara orang tua dan kakak mereka sibuk dengan urusan masing - masing. Tinggal satu atap dengan seseorang yang menunjukkan kebenciannya kepada kita secara terang - terangan tentu bukanlah hal yang menyenangkan dan itulah yang dialami oleh Lucy dan Edmund. Di saat mereka bertiga meributkan tentang keberadaan Narnia, mendadak sebuah lukisan di kamar mereka 'hidup' dan memindahkan mereka secara sekejap ke dalam dunia Narnia. Terdampar di lautan luas, mereka ditolong oleh Caspian (Ben Barnes) yang saat ini telah menjadi raja di Narnia. Eustace yang tak tahu menahu soal Narnia tentu menjadi sangat kebingungan, bahkan Lucy dan Edmund yang sudah akrab saja masih tak mengerti mengapa mereka bisa kembali ke negeri ini. Pada akhirnya mereka bertiga pun bergabung bersama awak kru kapal Dawn Treader, kapal warisan ayah Caspian, untuk membantu Caspian menemukan tujuh bangsawan yang menghilang. Tujuan menemukan para bangsawan ini tidak lain karena mereka memiliki pedang yang bisa menyelamatkan Narnia dari kekuatan magis jahat yang tengah mengintai. Perjalanan tentu tak berlangsung mudah karena sejumlah cobaan menguji kekuatan fisik, mental dan persahabatan mereka.


Apakah The Voyage of the Dawn Treader berakhir memuaskan ? Sayangnya, tidak terlalu. Saya akui memang dibandingkan Prince Caspian, The Voyage of the Dawn Treader jauh lebih enak buat diikuti. Tapi, setiap menit yang bergulir, terutama di paruh awal, masih terasa begitu membosankan meskipun kali ini durasinya 30 menit lebih pendek. Bergerak dengan cepat, ringan dan cerah nyatanya tidak membantu sama sekali. Berkali – kali saya berusaha dengan sangat keras untuk mencegah agar mata saya tidak menutup karena saking mengantuknya. Humor pun bisa dibilang gagal mengenai sasaran, terasa garing, aneh dan terkesan childish, hanya beberapa yang bisa membuat saya menyunggingkan senyum. Keputusan Christopher Markus dan tim untuk ‘menyederhanakan’ isi novel tampaknya merupakan keputusan yang kurang bijak. Bagi mereka yang belum pernah membaca novelnya tentu akan merasa kebingungan terhadap beberapa bagian karena tidak mendapatkan penjelasan yang lebih detail. Ya, saya rasa naskah adalah kelemahan utama dari The Voyage of the Dawn Treader. Naskahnya terasa begitu dangkal dan monoton, sialnya Markus dan tim baru menyadari kesalahan mereka di 30 menit terakhir.


Dewa penyelamat dari The Voyage of the Dawn Treader adalah special effects yang dimanfaatkan dengan sangat baik. Bujet sebesar $150 juta tidak disia – siakan begitu saja, Angus Bickerton dan Jim Rygiel berusaha agar duit sebanyak itu tidak terbuang percuma. Kerja keras mereka berdua bersama tim special fx menghasilkan sebuah visualisasi yang menakjubkan dan sanggup penonton tercengang. Sepanjang film The Voyage of the Dawn Treader memang banyak bergantung pada pemanfaatan special effects, namun tak bisa disanggah bahwa adegan di saat kapal Dawn Treader diserang oleh ‘makhluk misterius’ di penghujung film adalah kinerja terbaik. Two thumbs up. Pujian juga patut disematkan kepada David Arnold atas music score yang indah, megah dan menggugah hati. Berkat dia, setiap adegan di The Voyage of the Dawn Treader yang lembek terasa lebih hidup. Georgie Henley dan Skandar Keynes semakin matang disini. Chemistry antara keduanya menjadi semakin kuat dan pendalaman karakternya juga layak dipuji. Namun yang mencuri perhatian justru Will Poulter yang berperan sebagai sepupu manja nan menyebalkan. Kadang terlihat agak lebay, namun dia sukses membuat penonton gemas dan ingin menceburkannya ke lautan.


Bagaimanapun juga, The Lion, The Witch and The Wardrobe masih tetap menjadi yang terbaik dari seri film The Chronicles of Narnia. Dengan naskah yang lebih berisi dan kompleks, film pertama tersebut tidak jatuh menjadi membosankan malahan sebaliknya. Namun memasuki Prince Caspian, nilai hiburannya menjadi memudar dan walaupun The Voyage of the Dawn Treader terdapat peningkatan, masih belum bisa menandingi apa yang dihasilkan oleh The Lion, The Witch and The Wardrobe. Overall, hanya pemanfaatan special effects super canggih dan teknologi 3D sajalah yang menjadi kekuatan dari film ini. Meski sudah berusaha untuk tampil lebih cerah dengan alur yang cepat, pada kenyataannya The Voyage of the Dawn Treader masih menjadi film yang membosankan terkecuali di 30 menit terakhir.

Nilai = 6/10 (Acceptable)


Sabtu, 04 Desember 2010

REVIEW : RAPUNZEL (TANGLED)

"Let's just assume that everyone in here hates me !" - Flynn Rider

"Bukannya Rapunzel itu film kartun buat cewek ya ?" atau "Ihhh, itu kan temennya Barbie !". Itulah komentar yang paling sering saya dengar sebelum dan sesudah menyaksikan Rapunzel (di Amerika Utara, lebih dikenal dengan judul Tangled). Membutuhkan kesabaran ekstra karena saya harus menjelaskan panjang lebar perihal film ini, bahkan di Twitter dan Facebook pun sempat promosi habis - habisan agar para teman saya tahu bahwa Rapunzel bisa dinikmati oleh siapapun (berasa menjadi tim publikasinya Disney, LOL). Awalnya keraguan juga sempat menghinggapi diri ini, namun tak mungkin rasanya Disney akan menjadikannya sebagai film super cheesy dan girly seperti versi adaptasi yang sering kita saksikan di layar televisi. Apalagi disini ada nama John Lasseter yang menjadi jaminan akan kualitas sebuah film. Duduk sebagai sutradara adalah Nathan Greno dan Byron Howard, sementara jajaran pengisi suara diisi oleh Mandy Moore, Zachary Levi dan Donna Murphy. Berangkat dari salah satu dongeng klasik Jerman buatan Grimm Bersaudara, Rapunzel merupakan film animasi ke-50 dalam seri Walt Disney Animated Classic.

Demi menyelamatkan ratu dan putri yang dikandungnya, seorang pengawal kerajaan mengambil sebuah tanaman ajaib yang rupanya juga menjadi incaran Mother Gothel (Donna Murphy). Bayi perempuan sang ratu, Rapunzel, memiliki sebuah rambut dengan kekuatan khusus berkat tanaman tersebut. Tidak ingin kekuatannya menghilang, Gothel pun menculik Rapunzel dan mengurungnya di sebuah menara selama bertahun - tahun. Untuk menemukan Rapunzel, kerajaan mengadakan festival lampion setiap hari ulang tahun Rapunzel (Mandy Moore). Saat usianya menginjak 18 tahun, Rapunzel menyadari ada sesuatu yang khusus dengan lampion tersebut dan meminta izin kepada Gothel untuk bisa mengunjungi kerajaan. Tentu saja Gothel menolak memberi izin. Namun Rapunzel tidak begitu saja menyerah, dia memiliki ide untuk menyingkirkan 'ibunya' tersebut selama beberapa hari agar dia bisa kabur dari menara. Setelah Gothel pergi, menara kedatangan seorang 'tamu', seorang pencuri tampan bernama Flynn Rider (Zachary Levi). Saking takutnya, Rapunzel menyerang Flynn dan menyanderanya serta menyembunyikan tas berisi hasil curian. Mereka berdua pun membuat perjanjian, Rapunzel akan melepaskan Flynn dan mengembalikan tas tersebut asalkan Flynn mengantarnya menuju festival lampion, dan Flynn menyetujuinya. Pelarian yang seru dan berliku ditemani Maximus, seekor kuda yang bertekad menangkap Flynn, dan Pascal, bunglon perliharaan Rapunzel, pun dimulai.


Keajaiban Disney yang sempat sirna akhirnya kembali lagi berkat kekuatan magis dari Rapunzel. Terkecuali The Princess and The Frog, bisa dikatakan produk animasi Disney dalam beberapa tahun terakhir ini kualitasnya anjlok. Dimulai dari Treasure Planet, Disney berulang kali membuat kecewa para pecinta film animasi dengan film buatan mereka yang hasilnya jauh dari harapan. Memang tidak sampai menelurkan film yang buruk, namun untuk ukuran Disney, film - film semisal Bolt, Home on the Range, Chicken Little dan Meet the Robinsons, tergolong sangat mengecewakan. Saat Disney memutuskan untuk kembali ke ciri khas lama mereka, membuat animasi klasik yang menampilkan dongeng tentang putri cantik, banyak yang menyambutnya dengan antusias. Namun pada akhirnya, jumlah dollar yang didapat oleh The Princess and the Frog jauh dari harapan. Muncul dugaan kuat gagalnya film ini karena judulnya yang terlalu menonjolkan tokoh sang putri dan belajar dari 'kesalahan' inilah, Rapunzel diubah judulnya menjadi Tangled. Keputusan yang tepat kah ? Hmmm, entahlah. Meskipun tokoh utamanya seorang putri cantik, karakter Flynn disini juga sama kuatnya sehingga para pria tidak perlu khawatir filmnya akan menjadi terlalu girly.

Memang disinilah letak kekuatan Disney yaitu saat menggarap sebuah animasi klasik yang memakai tokoh putri sebagai karakter utamanya. Dan Fogelman berhasil meracik naskah Rapunzel dengan amat baik. Kombinasi yang pas antara petualangan yang seru, humor yang menyegarkan dan drama yang menyentuh mampu menghasilkan sebuah film animasi yang cantik. Yang patut diacungi jempol adalah keberhasilan Fogelman dalam memoles sebuah dongeng klasik yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh para gadis cilik menjadi sebuah kisah bagi semua orang. Meski dibuat dengan bantuan CG disana sini dan hadir dalam format animasi 3D, jika kita perhatikan lebih jauh Rapunzel sebenarnya mencoba tampil klasik dengan animasinya yang dibuat seperti dilukis menggunakan tangan. Sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Tidak memakai nama populer pun tak masalah, yang penting adalah ketepatan dalam memilih cast. Itulah yang membedakan Disney dengan studio sebelah yang kerap memajang artis - artis beken untuk menyumbang suara. Mandy Moore cukup berhasil membawakan Rapunzel, malahan rasanya dia lebih cocok sebagai dubber ketimbang pelakon. Namun Zachary Levi dan Donna Murphy lah yang paling mencuri perhatian. Murphy sanggup membuat para penonton menjadi kesal dengan Gothel yang super kejam sementara Levi berulang kali memancing tawa penonton karena kekonyolan Flynn. Pascal dan Maximus memang tak memiliki suara disini, akan tetapi tingkah polah mereka selalu mencuri perhatian di setiap scene. Komposer langganan Disney, Alan Menken, berhasil membuat setiap adegan dalam Rapunzel gregetnya lebih terasa berkat score-nya yang indah. Lagu gubahan dia juga cukup menarik untuk disimak meskipun sayangnya cenderung mudah dilupakan.

Akhirnya Disney kembali ke arena permainan setelah cukup lama gagal menghadirkan film - film animasi yang berkualitas tinggi. Beberapa pihak sudah pesimis dengan nasib Disney, cukup beralasan memang karena tanpa Pixar, Disney bukanlah apa - apa. Namun mereka yang telah meremehkan kekuatan Disney sepertinya harus malu karena Disney tetap sanggup membuktikan bahwa mereka masih layak disebut sebagai rajanya film animasi. Rapunzel memang tidak sedahsyat animasi klasik Disney lainnya semacam Snow White and the Seven Dwarfs, Cinderella atau Beauty and the Beast, namun Rapunzel jelas sangat sayang untuk dilewatkan, terutama bagi mereka yang menggemari produk Disney dan film animasi. Sebuah film yang sangat menghibur dengan animasi yang mengagumkan dan score yang indah, Rapunzel dengan cepat melesat ke jajaran film terbaik tahun ini.

Nilai = 8/10 (Exceeds Expectations)

Minggu, 21 November 2010

REVIEW : HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART I


"What a beautiful place to be with friends and Harry Potter is a friend of Dobby." - Dobby

Harry Potter telah mencapai babak akhir. Dengan dalih untuk memuaskan para fans bukunya, produser David Heyman dan Warner Bros. pun memutuskan untuk membagi Harry Potter and the Deathly Hallows menjadi dua bagian. Untuk babak pertama dilempar ke pasaran pada bulan November 2010 sementara bagian penutup baru menyusul sekitar 8 bulan kemudian. Bangku penyutradaraan masih dipegang oleh David Yates begitu pula dengan naskah yang masih tetap digarap oleh Steve Kloves. Tak ada perubahan signifikan dalam jajaran pemain, hanya ada beberapa tambahan pemain baru plus kembalinya para pemain lama yang sebelumnya sempat absen di beberapa film terakhir. Berita yang cukup mengejutkan fans Harry Potter adalah saat pihak Warner Bros. membatalkan 3D dari bagian I karena dinilai tak memuaskan, sepertinya trauma akan hasil Clash of the Titans masih membayangi. Untungnya, untuk seri kedua akan tetap diluncurkan dalam format 3D. Setelah gembar gembor masalah 3D ini berakhir, saya dan para fans kembali pada pertanyaan lama, akankah babak terakhir dari perjalanan Harry Potter dan dua sahabatnya ini digarap dengan memuaskan mengingat David Yates telah menghancurkan Harry Potter and Order of Phoenix dan Harry Potter and the Half-Blood Prince dengan sukses ? Kekhawatiran yang cukup beralasan, namun Yates sudah menjanjikan dirinya akan lebih setia terhadap buku dan memasukkan cukup banyak adegan intens ke dalamnya. Well, let's see!

Setelah kematian Dumbledore (Michael Gambon), dunia sihir menjadi kacau balau dengan ancaman dan teror dari Voldemort (Ralph Fiennes) dan para pasukan Death Eaters. Kementrian Sihir lumpuh, begitu halnya dengan Hogwarts yang bukan lagi merupakan tempat yang aman. Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson) memutuskan untuk keluar dari sekolah demi membantu sahabat mereka, Harry Potter (Daniel Radcliffe), dalam usahanya untuk menghancurkan rahasia kekebalan Voldemort, Horcruxes. Petualangan ini lebih sulit dari sebelumnya mengingat mereka tak lagi mendapat bantuan dari Dumbledore dan serangan dari Death Eaters yang sewaktu - waktu bisa membahayakan jiwa mereka. Tak ada lagi tempat yang aman bagi mereka. Harry sebelumnya ingin rehat sejenak di The Burrow bersama keluarga Weasley dan anggota Orde Phoenix yang tersisa, namun serangan dari Death Eaters di malam pernikahan Bill (Domhnall Gleeson) dan Fleur (Clemence Poesy) membuat Harry dan kedua sahabatnya itu kabur. Petunjuk mengenai keberadaan Horcrux lainnya mengarah pada sebuah liontin yang dikenakan oleh Dolores Umbridge (Imelda Staunton). Harry, Ron dan Hermione dengan bantuan ramuan Polijus mendobrak masuk ke Kementrian Sihir. Liontin berhasil didapatkan, namun siapa yang menduga bahwa efek dari liontin ini begitu dahsyat sehingga sempat meretakkan persahabatan antara Ron dengan Harry dan Hermione. Tak ada ide mengenai bagaimana cara menghancurkan liontin ini, mereka mendatangi Bathilda Bagshot (Hazel Douglas) yang bahkan belum sempat buka mulut sudah keburu dibunuh oleh Nagini. Keadaan menjadi semakin bertambah sulit saat Death Eaters berhasil melacak keberadaan mereka dan beberapa orang terkasih pun harus tewas demi menyelamatkan Harry Potter.

Saya pribadi lupa - lupa ingat mengenai jalan cerita dari Harry Potter and the Deathly Hallows karena saya membacanya sekitar dua tahun silam ditambah tebalnya novel sehingga beberapa detail sudah terlupakan. Untungnya, keputusan Warner Bros. untuk membelahnya menjadi dua bagian yang membuat banyak detail berhasil masuk, membuat ingatan saya segar kembali. Untuk sekali ini, pujian patut disematkan kepada David Yates dan tim. Entah bagaimana bisa Yates membuat dua film sebelumnya menjadi begitu buruk sementara Deathly Hallows bisa dia bikin dengan sangat apik. Agaknya Yates mempelajari kesalahannya sendiri saat membesut Harry Potter and the Half-Blood Prince yang meskipun mengantongi banyak pujian dari para kritikus dunia, nyatanya justru mengecewakan para fans Harry Potter. Babak paling tragis tersebut seakan hanya lewat saja, tak meninggalkan kesan apapun. Beruntunglah Warner Bros. kali ini memberi lampu hijau terhadap pembuatan versi film Harry Potter yang dibagi ke dalam dua bagian setelah sebelumnya beberapa kali ditolak. Meski banyak yang menuduh langkah ini hanya sebagai penambah pundi - pundi dollar semata (ya, saya juga sangat yakin akan hal itu, ini semua demi duit) tapi banyak kenyataannya ini merupakan keputusan yang tepat. Plot hole di Harry Potter and the Deathly Hallows tidak begitu besar, malahan hasil akhirnya ini sangat memuaskan dan diluar dugaan.

Dalam Half-Blood Prince, Yates gagal bermain di jalur romantis, namun tidak kali ini. Dia berhasil menyampaikannya dan tidak diumbar secara berlebihan. Adegan drama dan penuh dialog panjang tidak terasa menjemukan, justru sebaliknya, sangat membantu mereka yang belum pernah membaca bukunya. Bahkan beberapa kali Yates sanggup membuat saya emosional, feel-nya dapet banget! Tidak ada lagi adegan tak penting yang dimasukkan. Yah, ada untungnya Yates berkonsultasi kepada J.K. Rowling jika melihat hasilnya akan sebaik ini. Bagus dalam drama, menakjubkan saat Yates mencoba untuk bermain di jalur action dan horror. Kucuran dana sebesar $250 juta dimanfaatkan dengan sangat baik menghasilkan berbagai adegan aksi yang menegangkan. Salut kepada tim special effects atas hasil kerjanya yang luar biasa, mulus sekali. Lihat saja karakter Dobby, Goblin dan Kreacher yang terlihat nyata. Bahkan adegan di awal film juga digarap dengan bagus, sanggup membuat penonton menahan nafas. Nuansa suram dan mencekam coba dihadirkan disini. Inilah kekuatan utama dari Harry Potter and the Deathly Hallows. Yates sanggup menyaingi Alfonso Cuaron soal menciptakan adegan yang mencekam, tak terhitung berapa kali sound mengejutkan saya. Tidak disarankan bagi yang memiliki penyakit jantung untuk menyaksikan film ini. Sinematografi dari Eduardo Sera tampil cantik dan memikat sementara score gubahan Alexandre Desplat terasa megah.

Akan terlihat lucu dan aneh jika selama 9 tahun lamanya Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint belum juga melebur dengan karakter yang mereka perankan. Emma Watson dan Rupert Grint berakting dengan kualitas jempolan disini, kemajuannya sungguh mengagumkan. Sebaliknya, Daniel Radcliffe masih berjalan di tempat meskipun aktingnya tak buruk, standar. Akibatnya, Watson dan Grint lebih mencuri perhatian ketimbang Radcliffe meski porsi akting mereka tidak sebesar Radcliffe. Sepertinya Radcliffe terlalu memikirkan beban yang harus dipikulnya sehingga menyebabkan aktingnya kurang lepas. Bagi yang sudah membaca bukunya tentu tahu bagaimana karakter Harry Potter begitu dominan sampai - sampai Ron dan Hermione terkesan sebagai tempelan semata. Hal ini tidak berlaku dalam versi filmnya berkat kekuatan akting dari Grint dan Watson. Untuk pemeran pendukung tentu tak perlu diragukan lagi karena diisi para aktor aktris Inggris kelas wahid dengan kualitas akting yang brilian. Imelda Staunton, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter hingga Jason Isaacs bermain di atas rata - rata seperti biasanya. Sungguh menyenangkan melihat sejumlah aktor aktris ternama bermain bersama dan bersaing satu sama lain untuk menyuguhkan akting terbaik kepada publik.

So far, inilah film terbaik dari Harry Potter saga. Setelah kegagalannya dalam mengejewantahkan dua seri sebelumnya, David Yates mencoba untuk menebus kesalahannya dan terbukti sekali ini dia tidak sekadar umbar janji. Prisoner of Azkaban yang selama ini bertengger di posisi puncak sebagai hasil adaptasi terbaik terpaksa harus menyingkir dan menyerahkan tahtanya kepada Deathly Hallows part I. Pemenggalannya pun terasa pas dan membuat penonton tidak sabar untuk segera menyaksikannya 8 bulan lagi. Entah bagaimana hasil part II nanti, tapi satu hal yang pasti David Yates telah memenuhi janjinya kepada para pecinta Harry Potter untuk tetap setia kepada novelnya dan menyuguhkan banyak adegan yang menarik.

Nilai = 8/10 (Exceeds Expectations)