Jumat, 09 September 2011

REVIEW : TRANSSIBERIAN


"With lies, you may go ahead in the world, but you may never go back." - Grinko

Seperti pesan orang tua kepada anaknya, "jangan pernah berbicara dengan orang asing." Bukan bermaksud untuk mengajarkan si anak untuk menjadi seseorang yang sombong, tapi untuk menjaga diri. Penampilan yang terlihat baik dan menyenangkan terkadang hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi jati diri yang sebenarnya. Sutradara penghasil The Machinist dan Session 9, Brad Anderson, menyinggung masalah ini di Transsiberian. Sebuah thriller yang sedikit banyak akan mengingatkan kita pada film yang dibintangi oleh Brad Pitt di awal karirnya, Kalifornia. Total hanya dibutuhkan sekitar lima pemain utama saja untuk menghadirkan sebuah tontonan yang mencekam selama 111 menit. Susunannya cukup menggiurkan karena ada nama-nama seperti Woody Harrelson, Emily Mortimer, dan Ben Kingsley. Ini mengenai teror yang dialami pasangan menikah tatkala mereka sedang berlibur. Plot semacam ini memang sudah kerap dibongkar pasang oleh berbagai sutradara dari seluruh dunia. Berencana untuk menghabiskan liburan dengan menyenangkan, namun berakhir petaka saat hadir pasangan misterius.

Kesalahan utama pasangan ini adalah Roy (Woody Harrelson), sang suami, kelewat ramah dalam menyambut teman sekabin mereka di kereta Trans-Siberia. Istrinya, Jessie (Emily Mortimer), merasa tidak nyaman, terlebih Carlos (Eduardo Noriega) nampaknya tertarik dengan Jessie. Roy dan Jessie pergi ke Beijing dalam rangka mengikuti program yang dijalankan oleh gereja mereka. Saat hendak kembali ke Amerika, Roy berinisiatif mengajak istrinya berlibur sejenak mengingat mereka belum pernah melihat dunia luar sebelumnya. Roy adalah seseorang yang tergila-gila dengan kereta api. Maka pilihan berlibur di atas kereta Trans-Siberia yang melaju dari Beijing ke Moskow adalah sesuatu yang wajar. Di tengah perjalanan, Carlos dan kekasihnya, Abby (Kate Mara), bergabung. Tak ada kecurigaan apapun terhadap pasangan yang mengaku bekerja sebagai guru bahasa ini. Hingga kemudian, setelah kereta berhenti sejenak di Irkutsk, Roy menghilang. Belum terjadi apapun pada tahap ini, namun kita sudah mencium adanya kejanggalan terhadap Carlos dan Abby. Mereka bertiga pun memutuskan untuk menginap di sebuah hotel sembari menunggu kabar dari Roy.


Tak butuh waktu lama bagi Jessie untuk menunggu telepon dari Roy. Keesokan harinya, Roy datang bersama detektif narkoba, Grinko (Ben Kingsley). Karena Carlos dan Abby telah 'turun', Grinko secara otomatis menggantikan posisi mereka di kabin. Apa yang telah terjadi kepada Carlos dan Abby saat menunggu kabar dari Roy rasanya tak perlu saya ceritakan agar Anda bisa menikmati Transsiberian. Dengan perginya pasangan tersebut, bukan berarti Roy dan Jessie bisa melanjutkan perjalanan tanpa gangguan. Grinko menyimpan rahasia dan jelas dia adalah tokoh yang lebih berbahaya ketimbang pasangan muda tersebut. Brad Anderson tidak terburu-buru menggiring penonton ke akar permasalahan. Dengan alur yang lambat, terkadang gaya penceritaannya sedikit banyak mengingatkan saya pada Alfred Hitchcock, Anderson membangun ketegangan setahap demi setahap. Setidaknya diperlukan 30 menit bagi Anderson untuk memperkenalkan para karakter utama di Transsiberian. Sebelum misteri demi misteri terbongkar, berbagai pertanyaan muncul di benak saya. Apakah saya harus percaya pada Grinko, Carlos dan Abby? Apakah benar Roy dan Jessie adalah korban? Apakah Abby adalah gadis baik-baik? Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Carlos dan Abby dari Jessie?

Brad Anderson dan Will Conroy berhasil menyimpan setiap misteri yang ada di Transsiberian dengan rapat. Meskipun kejutannya bukan sesuatu yang baru dan hampir bisa dipastikan sudah berhasil ditebak oleh sebagian besar penonton semenjak Grinko hadir, tensi ketegangan Transsiberian tidak serta merta menukik turun, justru pada saat inilah apa yang ditunggu-tunggu oleh penonton muncul. Roy dan Jessie terbangun di suatu pagi dan menyadari bahwa mereka adalah satu-satunya penumpang di kereta. Kemana perginya penumpang lain? Sementara itu, kereta masih melaju kencang dan Jessie hampir saja terlempar karena membuka pintu yang salah. Dengan durasi yang terbilang panjang, minim setting (mayoritas bersetting di dalam kereta) dan minim tokoh, maka Transsiberian bertumpu pada kekuatan naskah dan akting para pemainnya. Emily Mortimer adalah yang terkuat. Jessie yang selalu dilanda kegelisahan, terlihat rapuh meski sesungguhnya adalah wanita yang kuat dimainkan dengan apik oleh Mortimer. Sementara itu, Harrelson bersenang-senang sebagai Roy dan Sir Ben Kingsley dengan aksen Russia-nya yang kental tampil misterius sebagai Grinko. Pun begitu dengan Eduardo Noriega dan Kate Mara yang berakting meyakinkan dan membuat gemas. Transsiberian tergolong berhasil dalam misinya menyajikan sebuah tontonan thriller yang memikat. Diawali dengan lambat yang bisa jadi menyebabkan sebagian penonton yang mengharapkan adegan aksi penuh kejutan kecewa, ketegangan dibangun dengan perlahan dan menarik. Setelah sebelumnya Brad Anderson memuaskan saya dengan The Machinist, maka kali ini dia kembali membuat saya memberi acungan jempol untuk Transsiberian.

Exceeds Expectations

Selasa, 06 September 2011

REVIEW : TEMPLE GRANDIN


"My name is Temple Grandin. I'm not like other people. I think in pictures and I connect them." - Temple Grandin

Ada yang mencuri perhatian di perhelatan Emmy Awards tahun lalu. Bukan mengenai kemenangan Modern Family atas Glee atau kemenangan besar The Pacific, tetapi Temple Grandin. Film Televisi (FTV) produksi HBO ini menggondol 7 piala yang menjadikannya sebagai pemenang terbesar kedua setelah The Pacific. Bahkan Temple Grandin asli menyempatkan diri untuk hadir. Setelah kemenangan besar di Emmy Awards, Temple Grandin agak terseok-seok di beberapa penghargaan berikutnya. Akan tetapi piala untuk Claire Danes selalu tersedia. Akting luar biasanya sebagai penyandang autis yang jenius mendapat pengakuan banyak pihak. Mendampingi Danes dalam FTV apik ini adalah pemain-pemain watak seperti Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn. Sementara yang ditunjuk sebagai nahkoda adalah pembesut Volcano dan The Bodyguard, Mick Jackson. FTV yang memulai syuting sejak bulan Oktober 2008 ini pertama kali tayang di kanal HBO pada 6 Februari 2010.

Mick Jackson kerap menggunakan teknik flashback untuk menjabarkan serangkaian peristiwa yang dialami oleh Grandin di masa mudanya. Yang perlu dicermati, Jackson terkadang menerapkannya sesuka hati sehingga dibutuhkan sedikit ekstra konsentrasi untuk menikmati FTV ini. Leo Trombetta memang berhasil menyambungkan potongan-potongan gambar dengan luar biasa, namun perpindahan setting waktu acapkali tanpa didampingi oleh penjelasan sehingga cukup membingungkan terlebih banyak lompatan waktu disini. Christopher Monger dan Merritt Johnson memulai kisah Grandin pada musim panas di tahun 1960-an saat Temple Grandin (Claire Danes) dikirim oleh ibunya, Eustacia (Julia Ormond), ke peternakan sang bibi, Anne (Catherine O'Hara) untuk menghabiskan libur musim panas. Seraya memikirkan akan melanjutkan pendidikan kemana, Grandin menemukan ketertarikan dengan hewan-hewan ternak. Sebuah kejadian yang membuatnya terserang rasa panik yang luar biasa menjadi semacam langkah awal Grandin untuk menemui kesuksesannya. Sementara orang-orang sekitar tak berhenti mencemoohnya karena tingkah lakunya yang berbeda dan Eustacia cenderung kurang memercayai kemampuan putrinya, Professor Carlock (David Strathairn), guru Grandin di sekolah asrama, justru memberi dukungan penuh. "Setiap pintu adalah sebuah kesempatan," kata Carlock pada Grandin. Pintu diartikan secara harfiah oleh Grandin. Tapi ini pun tidak sepenuhnya salah. Di balik pintu ada sesuatu yang baru yang mungkin saja kita tidak pernah sangka-sangka isinya, Grandin berani mengambil resiko untuk membukanya karena dia ingin melangkah maju.


Pintu-pintu inilah yang kemudian membawa Grandin kepada kesuksesan. Keberaniannya dalam mempertahankan pendapat, memelajari kesalahan dan terus melangkah ke depan menjadi kunci kesuksesannya. Kekurangan tidak menjadi hambatan baginya. Di dunia peternakan dimana para pria berkuasa, Grandin justru berjaya dan menaklukkan para pria yang semula meremehkannya dan segala penemuannya. Grandin menciptakan sebuah revolusi terhadap dunia peternakan di Amerika Serikat. Jackson memakai sudut pandang orang pertama dalam menuturkan kisah. Karakter pendukung mempunyai peranan penting dalam hidup Grandin, namun tidak bagi penonton. Yang harus penonton perhatikan hanyalah narasi Grandin. Itu pun tidak disampaikan dengan panjang lebar. Trio Jackson, Monger dan Johnson ingin agar Anda mendapatkan sensasi bagaimana rasanya menjadi Temple Grandin selama 2 jam. Bahkan terkadang apa yang dipikirkan oleh Grandin divisualisasikan ke dalam bentuk adegan yang unik. Naskah yang kuat bukanlah satu-satunya cara agar penonton merasa dilibatkan dalam film. Akting cemerlang dari Claire Danes adalah kuncinya. Ini adalah penampilan terbaik dari Danes dalam sejarah karir aktingnya. Temple Grandin memang film yang bagus, namun film ini tidak akan ada artinya tanpa akting Claire Danes yang luar biasa.

Rasanya juri Emmy Awards tak perlu menonton FTV ini hingga selesai untuk menobatkan Danes sebagai aktris terbaik. Hanya butuh 15 menit pertama bagi saya untuk segera berlari menemui Danes dan memberinya sejumlah piala. Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn pun bermain hebat dan hampir tanpa cela. Departemen akting yang begitu gagah perkasa ini untungnya memperoleh dukungan penuh dari departemen teknis yang memberi sumbangsih berupa editing yang rapi, sinematografi yang memikat dan tata kostum yang cantik. Ini adalah kombinasi yang tepat untuk menghasilkan sebuah film yang berkelas tinggi. Pada akhirnya Temple Grandin menjadi sebuah film yang sangat layak ditonton bukan hanya karena kualitasnya yang mumpuni, namun juga kisahnya yang menginspirasi disampaikan dengan halus tanpa kesan menceramahi. Grandin telah membuktikan kepada dunia bahwa kesuksesan seseorang berasal dari tekad yang kuat. Kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk menghambat seseorang untuk maju. Dibalik sebuah kekurangan pasti ada sebuah kelebihan. Temple Grandin juga menunjukkan bahwasanya tidak mudah hidup sebagai penyandang autis, beban yang dipikul sangat berat. Maka alangkah bijaknya jika kata 'autis' tidak lagi disematkan sebagai bahan tertawaan.

Outstanding

Senin, 29 Agustus 2011

REVIEW : DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH



"Sampai kapanpun, emas takkan setara dengan loyang dan sutra tak sebangsa dengan kapas." - Emak



Seandainya saja product placement (iklan dalam film) tidak berseliweran kesana kemari. Seandainya saja tidak ada dubbing yang menggelikan. Seandainya saja subtitle Inggris yang disisipkan tidak ngawur dan menggunakan susunan gramatikal yang baik. Seandainya saja aksentuasi para tokoh patuh pada setting tempat. Seandainya saja tulisan 'based on Buya Hamka's novel' pada poster dihilangkan dan diganti menjadi 'adaptasi bebas'. Seandainya saja tidak ada sesumbar yang mengatakan bahwa Di Bawah Lindungan Ka'bah diberi kucuran dana raksasa sebesar Rp 25 Miliar dan digadang-gadang sebagai 'Titanic versi Indonesia'. Di Bawah Lindungan Ka'bah mungkin saja menjadi film yang memuaskan banyak kalangan. Seperti yang diucapkan Emak (Yenny Rachman) kepada Hamid (Herjunot Ali), "makin tinggi harapan, makin sakit jatuhnya." Dengan janji-janji manis yang ditawarkan, tentu tidak mengherankan jika kemudian penonton berharap banyak terhadap karya terbaru Hanny R. Saputra ini. Apalagi versi novelnya merupakan salah satu karya sastra lokal terbaik dari salah satu sastrawan terbaik dalam angkatan pujangga Balai Pustaka. Ekspektasi pun membuncah.



Pada tahun 1981, Asrul Sani telah mengadaptasi bebas novel Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film berjudul Para Perintis Kemerdekaan. Alih-alih memilih untuk setia 100% pada novel Hamka tersebut, film justru dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial terhadap pemerintah tanpa menghilangkan esensi dari cerita. Misi Asrul Sani berjalan sukses dan dihadiahi banyak puja puji dari berbagai kalangan. Hanny R. Saputra tidak mengikuti jejak Asrul Sani dan tetap teguh pada ciri khasnya. Dibantu oleh dua penulis skenario langganannya, Armantono dan Titien Wattimena, Di Bawah Lindungan Ka'bah menjelma menjadi sebuah film metal alias mellow total. Sepanjang durasi film, saya mencatat hanya ada satu adegan Hamid dan Zainab (Laudya Cynthia Bella) yang tak melibatkan air mata, yakni ketika mereka saling sapa dari balik pagar kayu. Sialnya, adegan yang seharusnya bisa manis itu tercoreng lantaran durasinya yang kelewat lama dan dubbing yang sangat kasar. Saya pun langsung mual dibuatnya.





Menerjemahkan sebuah novel dengan halaman yang tipis (konon, novel Hamka ini hanya setebal 66 halaman) ke dalam layar lebar sama susahnya dengan mengejewantahkan tulisan beratus-ratus halaman. Untuk mengakalinya, Armantono dan Titien pun menambahkan sejumlah konflik yang tidak ditemukan dalam novel. Konflik yang sangat dramatis, menghadirkan kenyataan hidup yang pahit. Bagaimanapun juga, Hamid dan Zainab tidak akan pernah bisa disatukan. Plot kreasi duo penulis naskah ini diyakini mampu menguras air mata penonton. Tak peduli sekonyol apapun pengarahan Hanny R. Saputra dan bagaimana logika penonton tersakiti, air mata penonton perempuan akan tetap tumpah. Bukan bermaksud genderisasi, namun seperti inilah kenyataannya. Saya menyaksikannya sendiri. Begitu pula ketika saya menyaksikan film dengan dramatisasi yang gagal, Surat Kecil Untuk Tuhan. Walau begitu, Di Bawah Lindungan Ka'bah tercatat beberapa kali sukses membuat saya terharu. Bukan perihal kisah cinta tak sampai Hamid dan Zainab, namun seputar hubungan Hamid dengan ibunya. Akting Yenny Rahman sungguh memukau. Herjunot Ali juga mampu mengimbangi akting artis senior ini dengan apik. Ada chemistry diantara mereka berdua. Apabila saya diminta untuk memaknai arti dari ironis, maka itu adalah Laudya Cynthia Bella yang tidak nyambung dengan Herjunot Ali. Lempeng. Menunjukkan sebuah romantisme yang banal.



Bersetting di tahun 1920-an di Sumatera Barat, Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah mengenai dua sejoli yang sedang dirundung asmara namun terpaksa tak bisa bersatu karena perbedaan kelas sosial. Konflik memuncak tatkala Hamid melakukan sesuatu yang dianggap tak pantas kepada Zainab hingga dirinya diusir dari kampung. Untuk menghidupkan nuansa Minangkabau pada zaman dahulu, dibangun set yang megah plus tidak ketinggalan kincir air ciri khas sang sutradara. Sinematografi arahan Rachmat Syaiful sanggup menghadirkan gambar-gambar cantik yang menyejukkan mata. Special Effects yang dipakai pun layak diacungi jempol, sekalipun penggunaannya di adegan terakhir kentara sekali palsunya. Jika ada yang mengganjal di hati saya selain tidak adanya chemistry, dubbing plus subtitle yang membuat kepala terasa cenat cenut dan product placement yang muncul seenak udel, maka itu adalah aksentuasi dari para pemain. Saya sebenarnya sudah bosan membahas masalah ini karena ini adalah sesuatu yang klise namun tak ada upaya dari para sineas untuk membenahinya. Apakah bujet sebesar itu tidak sanggup untuk mendatangkan dialect coach? Terkadang terdengar sangat Jakarta, terlalu Sunda atau malah campur baur. Semrawut. Bukti bahwa sineas kita masih menyepelekan detail. Pada akhirnya upaya untuk menjadikan Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film romantis yang megah layak untuk diapresiasi. Masih banyak ditemukan kekurangan, tapi jelas merupakan suatu kemajuan dibanding film sejenis semacam Ayat-Ayat Cinta dan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih. Sebenarnya Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah sebuah film yang berpotensi menjadi sebuah suguhan yang apik, namun ternodai oleh keteledoran tim produksi yang kurang cermat dalam mengurus detail. Sungguh disayangkan.



Acceptable

Jumat, 26 Agustus 2011

REVIEW : TENDANGAN DARI LANGIT



"Indonesia itu jagonya main di kandang sendiri. Kalo di kandang lawan? Mandul!! " - Mitro



Film Indonesia yang dirilis menjelang libur Lebaran rata-rata memiliki kualitas yang apik dan dapat dipertanggungjawabkan. Tahun ini pun tidak berbeda jauh. Tendangan Dari Langit, film kedua dari Hanung Bramantyo di tahun 2011 ini, langsung mencuri hati saya. Sebagai sebuah film olahraga, Tendangan Dari Langit masih menerapkan plot yang klise. Seorang remaja miskin dari desa yang ingin menjadi pemain sepak bola, sang ayah yang tidak memberi restu, kisah cinta dengan gadis tercantik di sekolah yang tidak berjalan mulus, hingga sahabat yang setia mendukung dan difungsikan sebagai pelawak. Struktur semacam ini sering kita temui dalam film olahraga manapun, termasuk King dan Garuda di Dadaku dari Indonesia. Apa lagi yang bisa ditawarkan? Rasanya kebanyakan penonton pun tertarik untuk menyaksikan film ini karena faktor Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan. Skenario racikan Fajar Nugroho memang bertutur sangat sederhana dan klise, namun secara mengejutkan tetap efektif. Hanung Bramantyo mengemasnya dengan menarik, sekaligus sebagai sebuah pembuktian kepada khalayak luas bahwa dia adalah sutradara yang serba bisa. Film olahraga pun bukan menjadi masalah besar baginya.



Jangan tertipu dengan tampilan posternya yang seolah mengisyaratkan bahwa Bachdim-lah yang menjadi pemain utama disini. Bachdim tampil tak lebih dari 30 menit dan itupun hanya baru muncul di paruh akhir. Pemain baru, Yosie Kristanto, yang berperan sebagai Wahyu adalah sentral dari film ini. Dia adalah sebuah karakter stereotip dari film olahraga. Berasal dari sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Bromo, Langitan, dan memiliki bakat yang besar terhadap sepak bola. Mungkin saja bakat besar dari Wahyu hanya akan tertutupi oleh debu pasir Bromo jikalau Pak Lek Hasan (Agus Kuncoro), seorang manajer sepak bola amatiran, tidak memintanya untuk bermain bagi klub kecamatan Karang Sari. Sang ayah, Pak Darto (Sudjiwo Tejo), diposisikan sebagai sebuah karakter antagonis bagi impian Wahyu karena beliau tidak mengizinkan putra kesayangannya itu bermain bola. Tapi tentu saja larangan itu bukan tanpa suatu alasan. Masa lalu yang kelam membuatnya terpaksa untuk menghalangi Wahyu meraih mimpinya. Sekeras apapun Pak Darto melarang, Wahyu tak gentar. Pertemuan secara tak sengaja dengan Timo Scheunemann di Malang kala hendak mendukung gadis yang disukainya di lomba debat menjadi titik terang.







Segalanya tidak lantas menjadi mudah sekalipun Pak Darto kemudian berbalik mendukung Wahyu sepenuhnya. Kisah cinta monyet Wahyu dengan Indah (Maudy Ayunda) turut merumit. Saat semua permasalahan ini menemukan jalan pemecahannya sendiri-sendiri, Hanung mengakhiri Tendangan Dari Langit dengan sebuah adegan pertandingan sepak bola yang gegap gempita. Bukan sebuah pertandingan palsu yang hanya menyorot para pemain utama dan sebagian penonton saja, Faozan Rizal memindahkan apa yang biasa kita saksikan secara live di stadion dan televisi ke dalam bentuk tayangan untuk layar lebar. Sekalipun hanya sebuah fiksi, efek dramatis nan menegangkan yang biasa kita alami saat menyaksikan pertandingan sepak bola bisa ditemukan disini. Secara tidak sadar Anda akan turut berteriak 'Gol!!!' dan bertepuk tangan dengan meriah saat pahlawan kita berhasil mencetak angka. Dengan durasi yang hampir mencapai dua jam, film berjalan dengan menghibur. Tak sekalipun ditemukan momen yang membosankan. Drama, komedi dan adegan pertandingannya yang seru ditakar dengan pas sehingga menghasilkan sebuah film yang gurih.



Naskah apik dari Fajar Nugroho yang banyak disisipi dengan dialog cerdas nan menggelitik yang khas Jawa Timuran serta kritik sosial yang acapkali menyinggung bobroknya manajemen sepak bola di negeri kita tercinta ini ditingkahi dengan akting apik dari para pemainnya. Agus Kuncoro, Sudjiwo Tejo, Toro Margens dan Yati Surachman menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor papan atas dengan permainan yang layak mendapat acungan dua jempol. Yosie Kristanto pun tak membuat malu Hanung Bramantyo. Kehadiran Joshua Suherman dan Jordi Onsu yang ditempatkan di gardu penghibur masih dalam batasan yang wajar, justru tanpa kehadiran mereka film mungkin akan terasa sepi. Selain menawarkan adegan pertandingan yang terbilang epik untuk ukuran film Indonesia, Faozan Rizal tentu tak lupa mengeksplor keindahan alam Bromo. Tampilan visual Tendangan Dari Langit lebih cantik dan memesona ketimbang King. Rasa kekecewaan saya terhadap film-film terakhir buatan Hanung Bramantyo pun terbayarkan. Nyatanya sebuah film dengan ide sederhana malah justru lebih bermakna ketimbang film besar yang ambisius. Pesan untuk tidak pernah menyerah terhadap mimpi kita walaupun berbagai cobaan mendera tersalurkan dengan baik melalui sebuah film keluarga yang dibungkus sederhana namun cantik. Tendangan Dari Langit adalah sebuah pengalaman sinematik yang menyenangkan.



Exceeds Expectations

Sabtu, 20 Agustus 2011

REVIEW : KUNG FU PANDA 2



"The only thing that matters is what you choose to be now." - Po



Apa yang membuat Kung Fu Panda menjadi begitu istimewa hingga film pertamanya bisa mengeruk $631 juta dari peredaran di seluruh dunia padahal film animasi ini mengandalkan formula yang sama seperti kebanyakan animasi lainnya, hewan yang bisa berbicara dan kisah tentang zero to hero? Keputusan pintar tim penulis skenario menggabungkan ide klise ini dengan martial art menjadikannya menarik. Saat menyaksikan Panda, kita seakan sedang menyaksikan film kung fu lawas, namun dalam bentuk animasi dan lebih komikal. Aksi Po (Jack Black) juga sedikit banyak mengingatkan saya pada Stephen Chow di Kung Fu Hustle. Namun ternyata saya tidak berhasil klik dengan film animasi bikinan pesaing Pixar, DreamWorks, ini. Saya masih lebih menyukai Shrek dan Shrek 2 yang menurut saya jauh lebih menghibur. Saat sekuelnya dilempar ke pasaran, saya tidak begitu antusias untuk menyaksikannya. Namun melihat respon positif dari para kritikus sedikit banyak membuat saya penasaran. Ekspektasi rendah dipasang untuk Kung Fu Panda 2, demi menghindari kekecewaan. Secara mengejutkan, Panda 2 ternyata sukses mencuri hati saya. Melebihi dari apa yang saya harapkan terhadap film ini.



Saat kebanyakan sekuel cenderung hanya merupakan pengulangan dari film sebelumnya, Kung Fu Panda 2 mengeksplor lebih dalam dari apa yang telah diceritakan di prekuelnya. Sutradara debutan, Jennifer Yuh Nelson, beruntung dibekali naskah yang kuat untuk film perdananya ini. Panda 2 memiliki tokoh jahat yang mematikan, meskipun kemampuan bela dirinya tidak begitu hebat. Shen Long (Gary Oldman), seekor merak yang gila kekuasaan, menggunakan senjata api untuk menaklukkan China. Ketika Soothsayer (Michelle Yeoh) meramalkan bahwa akan ada ksatria berkulit hitam dan putih yang mengalahkannya, Shen pun membasmi seluruh populasi panda yang ada di China. Shen digambarkan ahli dalam melontarkan belati, persis seperti pemain sirkus. Penampilannya cantik, namun terlihat angkuh. Jika dilihat sekilas, Shen bukanlah tandingan yang sepadan bagi Po, Tigress (Angelina Jolie), Mantis (Seth Rogen), Viper (Lucy Liu), Monkey (Jackie Chan), dan Crane (David Cross). Senjata ciptaannya lah yang menjadi lawan sesungguhnya bagi The Furious Five. Selain kisah epik mengenai pertarungan penuh dendam, penonton juga diajak untuk menyelami masa lalu dari Po.





Tentu Anda tidak benar-benar berfikir bahwa ayah kandung Po adalah Mr. Ping (James Hong) yang merupakan seekor angsa, bukan? Dalam sebuah kilas balik yang dimunculkan dalam bahasa gambar yang sangat cantik, terungkap fakta mengenai orang tua Po. Penjelasan singkat ini rupanya efektif untuk membuat mata berkaca-kaca. Jika dalam prekuelnya penuh dengan kegilaan, maka sekuel ini tampil lebih kelam. Apakah ini karena pengaruh bergabungnya Guillermo del Toro dan Charlie Kaufman? Bisa jadi. Adegan-adegan pemancing tawa tentu masih banyak disisipkan disana sini, akan tetapi intensitasnya jauh berkurang. Kung Fu Panda 2 lebih serius dalam bertutur. Plot utama mengenai pemimpin lalim, Shen Long, yang epik disampaikan dengan sedikit seram (untuk penonton cilik) sementara kisah masa lalu Po lebih mengharu biru. Justru inilah yang membuat saya menyukai Kung Fu Panda 2. Film ini hadir dalam paket yang komplit dengan kombinasi antara drama yang menyentuh, aksi yang seru serta komedi yang segar. Koreografi pertarungannya lebih menarik dan menegangkan ketimbang sebelumnya. Aksi Furious Five saat menyergap istana Shen sanggup membuat saya menahan nafas.



Poin paling positif yang membuat saya berdecak kagum adalah animasinya yang terlihat sangat halus dan mulus. Nyaris sempurna. Konon, setiap bulu Po ini di-render dengan susah payah. Bayi Po membuat para penonton dengan serempak berkata "imut banget!" Ya, setelah menyaksikan Panda 2, saya jadi ingin memelihara seekor panda. Kemajuan dalam animasi tidak hanya ditampilkan melalui sosok Po, tetapi juga diwujudkan dalam tampilan hujan, pemandangan alam pedesaan di China serta pertarungan di istana. Semua ini akan terasa lebih menakjubkan jika disaksikan dalam bentuk 3D. Seperti halnya dalam tradisi film animasi DreamWorks, bintang-bintang terkenal pun dikerahkan untuk menyumbang suara. Jack Black, Gary Oldman dan Dustin Hoffman (sebagai Master Shifu) sanggup menyatu dengan tokoh yang mereka suarakan. Sementara Jackie Chan dan Jean-Claude Van Damme sepertinya dipanggil hanya untuk menaikkan gengsi film. Seandainya digantikan oleh dubber lain pun tak masalah, rasanya hanya sedikit yang mengenali suara Chan dan Van Damme di film ini. Menjelang akhir, tanda-tanda akan hadirnya sekuel mulai nampak. Setelah kepuasan yang saya dapatkan ketika menyaksikan hiburan yang menyenangkan dari Kung Fu Panda 2 ini, maka Kung Fu Panda 3 sangat saya nantikan. Semoga saja franchise Panda ini tidak bernasib sama dengan franchise Shrek yang semakin lama semakin mengecewakan.



Exceeds Expectations

Rabu, 17 Agustus 2011

REVIEW : FAST FIVE



"You only live once, lets do this!" - Roman



Siap untuk kembali mengikuti petualangan di jalanan bersama Dominic Toretto (Vin Diesel)? Maka, kencangkan sabuk pengaman Anda karena kali ini Dominic melakukan aksinya dengan lebih kencang, liar, menegangkan, dan tentunya tanpa otak. Franchise ini pun terus melanglang buana, setelah mengobrak abrik Amerika, Jepang, dan Mexico, kali ini Brazil siap untuk ditaklukkan. Mungkin pertanyaan terbesar dari calon penonton adalah, apa lagi yang bisa ditawarkan oleh franchise ini? Film sebelumnya, Fast & Furious, terbukti hanya menyajikan sebuah tontonan aksi yang kosong dan mudah dilupakan. Seperti halnya Dominic, saya pun lelah. Lelah jika franchise ini terus dilanjutkan tanpa ada perubahan yang berarti. Justin Lin dan Chris Morgan menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat di Tokyo Drift dan Fast & Furious. Maka jika Anda berpikir bahwa sudah saatnya franchise ini diakhiri karena telah kehabisan bahan bakar, coba pikir lagi. Lin enggan untuk menutupnya dengan pahit. Fast Five atau Fast & Furious 5: Rio Heist (judul yang dipakai di Indonesia) mampu menawarkan sebuah hiburan yang sangat menyenangkan. Berkali-kali lipat lebih enak untuk dinikmati ketimbang Transformers 3 yang terlalu ribet.


Langsung melanjutkan dari ending Fast & Furious, Lin kembali membuka film dengan aksi di jalanan yang mengasyikkan. Sutradara yang satu ini tahu betul bagaimana cara memulai sebuah film aksi. Brian O’Conner (Paul Walker) dan Mia Toretto (Jordana Brewster) tidak akan membiarkan Dominic dikirim ke penjara. Dalam sebuah pembukaan yang singkat namun mendebarkan, mereka berhasil menggulingkan bis penjara. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, kecuali hilangnya satu narapidana paling diburu. Siapa lagi jika bukan Dominic. Akibat atas perbuatan mereka ini, Brian, Mia, dan Dom, pun menjadi buronan paling dicari. Mereka pun melarikan diri ke Rio de Janeiro, Brazil. Belum sempat merasakan kehidupan yang tenang, seorang kawan lama menawari pekerjaan yang berbahaya untuk mencuri tiga mobil dari kereta yang berjalan. Dalam keadaan tidak memiliki uang, mereka menerima pekerjaan ini. Namun segalanya menjadi tidak terkendali tatkala Zizi (Michael Irby), anak buah dari pemimpin kartel narkoba di Brazil, Hernan Reyes (Joaquim de Almeida), membunuh tiga agen DEA di kereta. Sementara Zizi berhasil lolos, ketiga jagoan kita ini malah menjadi tersangka utama. Pihak FBI pun meminta bantuan agen DSS, Luke Hobbs (Dwayne Johnson), untuk menangkap mereka.

Dalam pelarian, Mia mengaku kepada Brian dan Dominic bahwa dia sedang hamil. Dominic pun turut memberi pengakuan bahwa dia juga sudah lelah terus melarikan diri. Sebuah keputusan pun dibuat. Mereka akan melakukan aksi terakhir dengan merampok harta milik Hernan yang mencapai $100 juta. Tentu perampokan dengan skala besar ini tidak mungkin dilakukan dengan bermodalkan tiga orang saja. Maka film pun menjadi ajang reuni ketika anggota yang direkrut adalah tokoh-tokoh dari film sebelumnya. Film menjadi ramai dan tampaknya keluarga Toretto telah menjadi besar, bahkan sebelum Mia melahirkan. Hebatnya, Chris Morgan memberi setiap tokoh dengan porsi yang layak. Kehadiran muka-muka lama ini difungsikan dengan benar, bukan hanya sekadar untuk membuat Fast Five menjadi terlihat meriah. Ada kontribusi yang mereka sumbangkan terhadap film. Tyrese Gibson dan Ludacris, serta Tego Calderon dan Don Omar, mempunyai tujuan yang sama untuk memancing tawa penonton dengan celetukan mereka yang konyol dan segar. Tidak ada unsur dominasi atau karakter yang malah nampak menyebalkan ketimbang lucu. Tapi tetap saja selucu apapun Tyrese Gibson, bintang sesungguhnya di Fast Five adalah Dwayne Johnson atau The Rock. Kehadirannya disambut meriah oleh para penonton. Dia berhasil menciptakan klik dengan para sesepuh franchise. Jika ada yang terasa kurang nendang, maka itu adalah Elsa Pataky yang berperan sebagai Elena Neves. Chemistry-nya dengan Dominic terasa hambar. Belum mampu mengimbangi pesona Michelle Rodriguez. Sementara untuk villain-nya sendiri, digambarkan seperti di film aksi pada umumnya. Bengis dan menyebalkan, tapi bodoh.

Durasi 130 menit dimanfaatkan oleh Lin dengan bijaksana. Rio de Janeiro terlihat indah, meski Stephen F. Windon seharusnya bisa mengeksplor lebih. Windon terlalu asyik menyoroti pantat para gadis berbikini sih. Tapi setidaknya apa yang menjadi inti dari franchise ini tidak dilupakan, kebut-kebutan di jalanan dengan mobil bagus. Yang membuatnya menjadi terasa istimewa dibanding film-film sebelumnya adalah kali ini tidak hanya menyoal adu cepat dan perlawanan dengan pemimpin kartel saja, tetapi ada plot lain tentang perampokan. Ini seperti menyaksikan gabungan antara The Fast & The Furious dengan The Italian Job. Bagusnya, untuk bisa mendapat ketegangan ini penonton tidak perlu menunggunya di 30 menit terakhir karena Lin dan Morgan dengan sangat murah hati telah menggebernya sejak menit awal. Tapi tentu saja klimaks yang melibatkan sebuah brankas adalah yang paling mendebarkan. Untuk menciptakan adegan seseru ini yang membuat Rio de Janeiro terlihat seperti puing, tidak membutuhkan sentuhan special effects yang berlebihan. Dalam sebuah video yang dirilis oleh pihak studio, adegan aksi yang terjadi menjelang ending ini dilakukan tanpa bantuan dari tim special effects. Sungguh mengesankan. Setelah kekacauan demi kekacauan yang terjadi sepanjang film, dalam artian positif, Fast Five langsung menyeruak ke posisi puncak dengan label sebagai film terbaik dalam seri The Fast & The Furious. Penuh dengan aksi yang seru, humor yang lucu, twist yang bagus dan tentu saja para pemain yang solid. Inilah hiburan yang sesungguhnya, meskipun terlalu banyak kemustahilan disana sini. Jika Anda menyaksikan film ini di bioskop, bersabarlah sedikit saat closing credit mulai bergulir. Ada kejutan manis bagi Anda yang menonton film ini dengan tuntas.

Exceeds Expectations

Minggu, 14 Agustus 2011

REVIEW : SECONDS APART



Apapun bisa dijadikan film oleh Hollywood, termasuk mengenai saudara kembar. Film yang melibatkan saudara kembar, baik identik maupun tidak, banyak ditemukan di Hollywood. Genrenya pun beragam dan rasanya hampir semua genre film pernah memakainya. Hal ini sama sekali tidak mengherankan mengingat anak kembar memang memiliki daya tarik tersendiri. Saya pun sebenarnya memiliki minat yang lebih terhadap anak kembar karena terkadang saya berharap memiliki saudara kembar. Sepertinya menyenangkan. Dan film yang menggunakan anak kembar sebagai bintang utama kebanyakan selalu asyik untuk ditonton. Entah sudah berapa kali saya menyaksikan The Parent Trap. Film-film dari si kembar Olsen, seberapa buruknya itu, tak pernah saya lewatkan. Yang paling mengesankan saya selain The Parent Trap tentunya Adaptation. Sementara dari genre horror, siapa yang bisa melupakan si kembar Grady dari The Shining dan si kembar Mantle dari Dead Ringers? Dua film dari era 80-an ini sukses membuat bulu kuduk saya bergidik ngeri. Memasuki era millenium ternyata sulit menemukan film yang serupa. Kejutan hadir saat Seconds Apart muncul. Film yang diperkenalkan melalui After Dark Horrorfest pada awal tahun 2011 ini ternyata cukup menarik untuk disimak.



Kematian misterius sejumlah atlet dalam sebuah pesta menjelang pertandingan besar menarik perhatian Detektif Lampkin (Orlando Jones) yang masih menyimpan trauma atas tewasnya sang istri dalam sebuah kebakaran. Pengakuan dari seorang saksi mata yang kekasihnya menjadi salah satu korban menuntun Lampkin pada dua remaja kembar yang aneh dan anti sosial, Seth (Gary Entin) dan Jonah (Edmund Entin). Memang ada yang tidak yang beres dengan si kembar Trimble, namun Lampkin selalu kesulitan mengumpulkan bukti. Sementara itu, korban terus berjatuhan. Tidak ada kesamaan diantara para korban, kecuali Seth dan Jonah selalu berada di tempat kejadian perkara. Siapa sebenarnya si kembar Trimble ini? Seperti halnya Dead Ringers dan kebanyakan film lain, konflik dipicu oleh kehadiran seorang gadis. Eve (Samantha Droke), seorang siswi baru, menarik perhatian Jonah. Hubungan si kembar pun merenggang. 'The Project' yang sejak awal film menjadi misi utama mereka pun terbengkalai. Lampkin melihat kekacauan ini sebagai sebuah celah untuk menuntaskan kasus.





Saya sama sekali tidak menduga akan mendapat sebuah tontonan menegangkan yang digarap secara apik melalui Seconds Apart. Tulisan buatan George Richards berhasil dituangkan Antonio Negret ke dalam bentuk pita seluloid dengan menarik. Premisnya mungkin terlihat sangat klise dan mudah ditebak, namun Seconds Apart ternyata tidak seperti itu. Adegan pembukanya dikemas dengan baik dan menegangkan serta sanggup membuat saya tercekat. Rasa pesimis saya terhadap film ini pun mendadak sirna dan saya memutuskan untuk duduk manis menyaksikan film ini hingga akhir. Ah, ternyata duduk manis saat menyaksikan sebuah film horror memang hampir mustahil untuk dilakukan. Tanpa memaksa memedi untuk tampil di layar, Seconds Apart memanfaatkan atmosfir dan akting para pemainnya untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Memasuki rumah keluarga Trimble bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan rasanya manusia normal manapun enggan untuk menjejakkan kaki di rumah tersebut setelah melihat apa yang ada di dalamnya. Ini bukan rumah berhantu dimana pintu mendadak tertutup dengan sendirinya. Kengerian dipicu oleh tindak tanduk si kembar dan orang tua mereka yang ganjil. Desain interior rumah yang antik turut membuat atmosfir menjadi semakin tidak menyenangkan.



Itu semua tentu tidak akan terwujud jika para pemainnya tidak mengerahkan kemampuan akting terbaik mereka. Si kembar Entin memainkan peran mereka dengan sempurna. Tanpa perlu berkata-kata, hanya dengan ekspresi muka saja sudah mampu membuat saya merinding. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Orlando Jones dan Morgana Shaw yang berperan sebagai ibu dari si kembar. Lampkin yang rapuh dan tertekan dimainkan dengan cemerlang oleh Jones yang sebelumnya kerap tampil buruk di film yang dibintanginya. Ini sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa dia tidak hanya bisa melawak, yang bagi saya sama sekali tidak lucu, namun juga bisa berakting dengan baik. Peran yang tepat adalah kuncinya. Seconds Apart juga sedikit banyak disisipi oleh adegan yang penuh darah (gore). Hebatnya, hampir semua kekejian itu hanyalah fantasi dari para tokohnya semata. Karena itulah efek psikologisnya malah lebih terasa. Tidak diumbar secara berlebihan, namun sanggup membuat saya ngilu melihatnya. Apa yang menjadi misteri di Seconds Apart memang beberapa telah dibeberkan sejak awal film, namun bukan berarti film menjadi tak menarik. Negret tahu betul bagaimana caranya membuat penonton tetap betah hingga akhir. Tensi terus ditingkatkan di setiap menitnya. Ending yang cukup mengejutkan diolah dengan sangat baik dan tidak terkesan membodohi penonton. Dan, Seconds Apart pun berhasil mengawali dan mengakhiri kisahnya dengan memesona. Tidak sabar rasanya untuk melihat apa yang akan ditawarkan oleh Negret di film ketiganya nanti.



Acceptable