Tampilkan postingan dengan label Indie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2011

REVIEW : SECONDS APART



Apapun bisa dijadikan film oleh Hollywood, termasuk mengenai saudara kembar. Film yang melibatkan saudara kembar, baik identik maupun tidak, banyak ditemukan di Hollywood. Genrenya pun beragam dan rasanya hampir semua genre film pernah memakainya. Hal ini sama sekali tidak mengherankan mengingat anak kembar memang memiliki daya tarik tersendiri. Saya pun sebenarnya memiliki minat yang lebih terhadap anak kembar karena terkadang saya berharap memiliki saudara kembar. Sepertinya menyenangkan. Dan film yang menggunakan anak kembar sebagai bintang utama kebanyakan selalu asyik untuk ditonton. Entah sudah berapa kali saya menyaksikan The Parent Trap. Film-film dari si kembar Olsen, seberapa buruknya itu, tak pernah saya lewatkan. Yang paling mengesankan saya selain The Parent Trap tentunya Adaptation. Sementara dari genre horror, siapa yang bisa melupakan si kembar Grady dari The Shining dan si kembar Mantle dari Dead Ringers? Dua film dari era 80-an ini sukses membuat bulu kuduk saya bergidik ngeri. Memasuki era millenium ternyata sulit menemukan film yang serupa. Kejutan hadir saat Seconds Apart muncul. Film yang diperkenalkan melalui After Dark Horrorfest pada awal tahun 2011 ini ternyata cukup menarik untuk disimak.



Kematian misterius sejumlah atlet dalam sebuah pesta menjelang pertandingan besar menarik perhatian Detektif Lampkin (Orlando Jones) yang masih menyimpan trauma atas tewasnya sang istri dalam sebuah kebakaran. Pengakuan dari seorang saksi mata yang kekasihnya menjadi salah satu korban menuntun Lampkin pada dua remaja kembar yang aneh dan anti sosial, Seth (Gary Entin) dan Jonah (Edmund Entin). Memang ada yang tidak yang beres dengan si kembar Trimble, namun Lampkin selalu kesulitan mengumpulkan bukti. Sementara itu, korban terus berjatuhan. Tidak ada kesamaan diantara para korban, kecuali Seth dan Jonah selalu berada di tempat kejadian perkara. Siapa sebenarnya si kembar Trimble ini? Seperti halnya Dead Ringers dan kebanyakan film lain, konflik dipicu oleh kehadiran seorang gadis. Eve (Samantha Droke), seorang siswi baru, menarik perhatian Jonah. Hubungan si kembar pun merenggang. 'The Project' yang sejak awal film menjadi misi utama mereka pun terbengkalai. Lampkin melihat kekacauan ini sebagai sebuah celah untuk menuntaskan kasus.





Saya sama sekali tidak menduga akan mendapat sebuah tontonan menegangkan yang digarap secara apik melalui Seconds Apart. Tulisan buatan George Richards berhasil dituangkan Antonio Negret ke dalam bentuk pita seluloid dengan menarik. Premisnya mungkin terlihat sangat klise dan mudah ditebak, namun Seconds Apart ternyata tidak seperti itu. Adegan pembukanya dikemas dengan baik dan menegangkan serta sanggup membuat saya tercekat. Rasa pesimis saya terhadap film ini pun mendadak sirna dan saya memutuskan untuk duduk manis menyaksikan film ini hingga akhir. Ah, ternyata duduk manis saat menyaksikan sebuah film horror memang hampir mustahil untuk dilakukan. Tanpa memaksa memedi untuk tampil di layar, Seconds Apart memanfaatkan atmosfir dan akting para pemainnya untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Memasuki rumah keluarga Trimble bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan rasanya manusia normal manapun enggan untuk menjejakkan kaki di rumah tersebut setelah melihat apa yang ada di dalamnya. Ini bukan rumah berhantu dimana pintu mendadak tertutup dengan sendirinya. Kengerian dipicu oleh tindak tanduk si kembar dan orang tua mereka yang ganjil. Desain interior rumah yang antik turut membuat atmosfir menjadi semakin tidak menyenangkan.



Itu semua tentu tidak akan terwujud jika para pemainnya tidak mengerahkan kemampuan akting terbaik mereka. Si kembar Entin memainkan peran mereka dengan sempurna. Tanpa perlu berkata-kata, hanya dengan ekspresi muka saja sudah mampu membuat saya merinding. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Orlando Jones dan Morgana Shaw yang berperan sebagai ibu dari si kembar. Lampkin yang rapuh dan tertekan dimainkan dengan cemerlang oleh Jones yang sebelumnya kerap tampil buruk di film yang dibintanginya. Ini sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa dia tidak hanya bisa melawak, yang bagi saya sama sekali tidak lucu, namun juga bisa berakting dengan baik. Peran yang tepat adalah kuncinya. Seconds Apart juga sedikit banyak disisipi oleh adegan yang penuh darah (gore). Hebatnya, hampir semua kekejian itu hanyalah fantasi dari para tokohnya semata. Karena itulah efek psikologisnya malah lebih terasa. Tidak diumbar secara berlebihan, namun sanggup membuat saya ngilu melihatnya. Apa yang menjadi misteri di Seconds Apart memang beberapa telah dibeberkan sejak awal film, namun bukan berarti film menjadi tak menarik. Negret tahu betul bagaimana caranya membuat penonton tetap betah hingga akhir. Tensi terus ditingkatkan di setiap menitnya. Ending yang cukup mengejutkan diolah dengan sangat baik dan tidak terkesan membodohi penonton. Dan, Seconds Apart pun berhasil mengawali dan mengakhiri kisahnya dengan memesona. Tidak sabar rasanya untuk melihat apa yang akan ditawarkan oleh Negret di film ketiganya nanti.



Acceptable

Minggu, 20 Maret 2011

REVIEW : YOURS TRULY

Citra film horror lokal di mata masyarakat awam sudah tercemar lantaran banyaknya film asal jadi yang mengaku sebagai film horror yang tayang di bioskop. Saat Rumah Dara dirilis setahun silam, sambutannya pun tak seperti yang diharapkan padahal promosinya gencar dan review bagus menyertainya. Rupanya banyak masyarakat yang kadung trauma dan menganggap semua film horror lokal tak layak ditonton. Tentu ini bukan salah masyarakat karena pada kenyataannya memang seperti itu. Jujur, saya sebagai pecinta genre ini merasa sakit hati melihat para sineas tak bertanggung jawab tersebut 'memperkosa' genre horror dengan kasar. Setelah berbagai kecaman demi kecaman dan jumlah penonton yang kian merosot, ternyata sama sekali tak membuat mereka jera dan malah semakin menjadi - jadi. Di saat saya mulai pesimis, hadirlah duo Elvira Kusno dan Ian Salim yang menjadi bahan perbincangan di kalangan para movie blogger lantaran film pendek bikinan mereka, Yours Truly, secara tidak terduga memiliki kualitas yang bagus. Saya pun dibuat penasaran dengan Yours Truly dan langsung mencicipinya. Hasilnya ? Ulalaaaa, para pecinta film horror akan bersorak sorai menyambut mereka seperti halnya ketika The Mo Brothers memulai debut mereka.

Mengusung genre psycho - horror, Yours Truly memulai kisahnya dengan manis dan cenderung menipu penonton. Todi (Todi Pandapotan) adalah seorang pria pendiam dan kaku yang bekerja di toko bunga bernama Yours Truly. Yang unik dari toko ini adalah penerima bunga tidak akan mendapat kartu ucapan yang biasanya disematkan bersama bunga, melainkan sebuah nyanyian sebagai pengganti kartu. Ya, tugas Todi selain mengantar bunga adalah menyanyikan sebuah lagu yang berisi pesan dari sang pengantar bunga. Pekerjaan yang terkesan sederhana namun bagi seorang introvert macam Todi, hal ini sangat sulit untuk dilakukan. Belum lagi dia harus berhadapan dengan sejumlah orang yang memiliki karakter beragam seperti Olive, Anastasia hingga Mince Karmince (Cecep Reza) yang sangat ditakuti oleh Todi. Namun pekerjaan uniknya inilah yang kemudian mempertemukannya dengan seorang gadis cantik yang ramah bernama Kayla (Kyla Pisita White). Saking seringnya mereka bertemu, hubungan antara Todi dan Kayla semakin lama semakin dekat. Bermodalkan tape recorder, Todi mengutarakan isi hatinya kepada Kayla. Akankah Kayla yang cerewet dan selalu mendominasi percakapan menerima Todi yang sangat pendiam ? Ah, itu sama sekali tak penting. Elvira dan Ian mengakhiri Yours Truly dengan cara yang sangat jauh berbeda dari cara mereka memulainya.

Poster, judul dan menit - menit awal film ini sungguh menipu. Apa yang terjadi di akhir film sungguh berbeda dengan bayangan saya meskipun sebenarnya ending Yours Truly tidak menawarkan sesuatu yang baru. Ketegangan dibangun dengan perlahan, malahan Elvira dan Ian mencoba mengelabui penonton dengan memasukkan banyak elemen komedi romantis ke dalam film pendek berdurasi 16 menit saja ini. Siapapun yang mengira bahwa ini adalah film romantis yang manis atau film horror slasher yang berdarah - darah tentu akan tertipu. Apa yang sesungguhnya terjadi baru terbaca di 2 menit terakhir. Intinya sih, jangan menilai sesuatu dari permukaannya saja. Rupanya Elvira dan Ian tak hanya menerapkannya pada karakter buatan mereka, tapi juga terhadap film buatan mereka. Jangan percaya dengan posternya. Jangan percaya dengan judulnya. Jangan percaya dengan apa yang dituturkan di 12 menit pertama. Percayai saja bahwa Yours Truly adalah film pendek yang menarik.

Menyinggung masalah teknis, untuk ukuran film debut sudah cukup bagus. Tidak ada yang mengganggu secara signifikan, masih dalam batas kewajaran. Sementara dari akting, acungan dua jempol layak diberikan kepada Todi Pandapotan dan Kyla Pisita White yang bermain menawan disini. Dua nama yang memulai karir di panggung hiburan sebagai model ini tak dinyana berhasil menghidupkan karakter Todi dan Kayla, chemistry yang terjalin pun cukup believable. Rasanya begitu menyenangkan dan memuaskan melihat sebuah film indie pendek berbujet rendah dari sutradara debutan yang berhasil membuat para dedemit buatan sutradara populer bertekuk lutut. Meskipun tanpa mengumbar tubuh seksi para pemain dan setan - setan narsis yang menyebalkan, Yours Truly tetap enak dinikmati, malah berkali - kali lipat lebih bagus dan terlihat lebih profesional ketimbang Pocong Ngesot dan kawan - kawannya yang digarap super ngawur itu. Semoga saja ini bukan one-hit wonder dari Elvira Kusno dan Ian Salim serta makin banyak sineas muda yang mengikuti jejak mereka. Amin.

Bagi yang ingin menonton Yours Truly, silahkan kunjungi Official Website film ini. KLIK.

Exceeds Expectations

Trailer :


Sabtu, 18 September 2010

REVIEW (2 IN 1) : BEFORE SUNRISE / BEFORE SUNSET


Untuk sekali ini saya mencoba untuk mengulas dua film sekaligus dalam satu ulasan. Berhubung saya menontonnya secara marathon dan filmnya sendiri memiliki keterkaitan, maka tak ada salahnya jika digabungkan menjadi satu daripada harus dibahas secara terpisah. Bagi para pecinta film tentu tak asing dengan dwilogi matahari, Before Sunrise dan Before Sunset. Film yang disebut - sebut sebagai salah satu film romantis terbaik sepanjang masa ini bertutur secara minimalis, hanya berupa obrolan dua sejoli, tak terjadi apapun. Film yang cenderung dihindari bagi mereka yang tidak menyukai film penuh obrolan, namun bagi yang tidak memiliki pantangan, dwilogi ini mungkin akan meninggalkan kesan yang mendalam. Hanya ada dua pemeran disini, Ethan Hawke dan Julie Delpy. Untuk penyutradaraan ditangani oleh Richard Linklater, sedangkan penulisan skenario diserahkan kepada Kim Krizan serta Linklater sendiri. Khusus untuk Sunset, Hawke dan Delpy ikut turut serta menyumbangkan ide mereka.

Before Sunrise dirilis pada tahun 1995 dan mengenalkan kita kepada Jesse (Ethan Hawke), pemuda dari Amerika, dan Celine (Julie Delpy), cewek Prancis. Keduanya bertemu di sebuah kereta dari Budapest tatkala Celine merasa terganggu dengan pasangan yang sedang ribut. Jesse mengajak Celine ke gerbong makanan hanya untuk saling berbincang hingga mereka sampai di tujuan masing - masing. Bisa diduga, keduanya merasa cocok. Jesse menawari Celine sebuah ide gila untuk menemaninya berkeliling Wina sambil menunggu pesawatnya berangkat ke Amerika keesokan harinya. Awalnya agak sedikit ragu, namun pada akhirnya Celine menerima saja tawaran Jesse. Sepanjang malam di Wina mereka mengobrol mengenai berbagai hal, namun yang paling serius adalah tentang kehidupan dan cinta. Beberapa kejadian tak terduga juga menyertai malam paling berkesan dalam hidup mereka tersebut.

Kisah kemudian beralih 9 tahun kemudian di Before Sunset, kali ini mengambil latar kota Paris yang cantik. Jesse telah bekeluarga dan menjadi seorang penulis yang sukses sedangkan Celine bekerja untuk pemerintah dan memiliki kekasih yang berprofesi sebagai fotografer. Kedatangannya ke Paris merupakan salah satu agendanya dalam rangka tur keliling Eropa untuk mempromosikan bukunya. Kebetulan toko buku yang dikunjungi oleh Jesse adalah tempat favorit dari Celine sehingga keduanya bisa kembali bertemu setelah 9 tahun terpisah. Daripada menghabiskan waktu di hotel dan bandara saat menunggu pesawat, Jesse memilih untuk bernostalgia dengan Celine sambil mengelilingi kota Paris. Setting waktunya pun berbeda, jika Sunrise lebih banyak dihabiskan pada malam hari, maka Sunset berlatar di siang dan sore hari. Topik yang menjadi bahan obrolan tidak lagi berkisar pada kehidupan dan cinta, tetapi juga pekerjaan dan politik.


Dwilogi ini adalah tipe film "love it or hate it" Sebagian akan memujanya setinggi langit, namun yang lain akan mencacinya habis - habisan. Saya pribadi langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat menyaksikannya, utamanya kepada Before Sunset yang begitu manis. Walaupun dalam Before Sunrise kedua karakter utamanya adalah sepasang remaja yang tengah mencari jati diri dan masih berusaha memahami konsep cinta yang sebenarnya, alur tak otomatis menjadi lembek dan bertutur dengan menye - menye. Tak ada dialog gombal disini, pilihan katanya begitu cerdas dan berkelas. Celine memang digambarkan sebagai wanita yang mandiri dan cerdas sehingga apa yang dijadikannya sebagai topik pembicaraan tak melulu soal cinta, terkadang malah sesuatu yang berat. Kalaupun membahas cinta, bukan mengenai konsep cinta yang dangkal. Terkadang saya dibuat takjub dengan dialog - dialog yang diucapkan oleh karakter ini.

Mengikuti perkembangan karakternya, maka Before Sunset tak melulu menyajikan obrolan ringan, kali ini sudah mulai merambah ke topik yang lebih berat. Bahkan sudut pandang mereka mengenai cinta dan kehidupan juga berubah, walaupun tak sepenuhnya. Meski topik pembicaraan menjadi lebih berat, namun tak membuat Before Sunset menjadi film yang membosankan, justru sebaliknya. Begitu mengasyikkan. Bisa jadi karena karakternya telah tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan bijaksana. Jika Sunrise bertutur terlalu lama dengan durasi 100 menit lebih, maka Sunset hanya berlangsung selama 80 menit saja. Lee Daniel, selaku sinematografer, berhasil menangkap sudut - sudut kota Paris dengan amat sangat baik. Kecantikan Paris semakin membuat Sunset menjadi terasa lebih romantis. Ahhh, ingin sekali pergi ke sana dan bertemu dengan wanita seperti Celine yang tidak hanya cantik, cerdas dan mandiri, namun juga pribadi yang menyenangkan. Dua jempol untuk Linklater dan Krizan yang sanggup membuat naskah penuh dialog yang cerdas serta tambahan dua jempol lagi bagi Linklater yang mampu membuatnya jauh dari kata membosankan. Kontribusi Hawke dan Delpy dalam penulisan skenario justru membuat Sunset lebih apik. Jika ada sekuel lebih bagus dari prekuelnya, maka Before Sunset adalah salah satunya.

Chemistry yang terjalin antara Hawke dan Delpy disini begitu luar biasa. Masing - masing juga melakoni karakternya dengan sangat bagus, hampir tak ada cela. Sepanjang film saya sama sekali lupa jika Jesse dan Celine adalah karakter fiksi, Hawke dan Delpy melebur dengan karakter yang mereka perankan. Mengagumkan. Barangkali karena di Sunset mereka juga menulis skenarionya sehingga mereka bisa membuat Jesse dan Celine terasa lebih hidup. Ya, saya memang sedikit berlebihan, namun saya memang terkesima dengan penampilan mereka. Auranya bersinar terang, utamanya Julie Delpy. Jarang ada sebuah film romantis dimana kedua pemerannya memiliki koneksi yang begitu kuat. Tak salah jika ada yang menyebut Before Sunrise dan Before Sunset sebagai salah satu film paling romantis yang pernah dibuat, karena memang seperti itulah kenyataannya.

Nilai :

Before Sunrise : 8/10 (Exceeds Expectations)

Before Sunset : 9/10 (Outstanding)

Senin, 23 Agustus 2010

REVIEW : EXAM

How far would you go to win the ultimate job ?

Delapan kandidat berbakat akhirnya mencapai tahapan akhir untuk mendapatkan sebuah posisi penting di sebuah perusahaan besar nan misterius. Untuk menggapainya, mereka harus melalui sebuah ujian dan diberi waktu 80 menit saja untuk mendapatkan jawaban. Ada tiga peraturan yang haram hukumnya dilanggar jika tidak ingin didiskualifikasi ; dilarang berbicara kepada pengawas ujian dan petugas keamanan, dilarang merusak kertas dan dilarang meninggalkan ruangan. Sepintas terlihat tak ada bedanya dengan ujian yang diberikan oleh perusahaan lain, kecuali tak ada pertanyaan dalam ujian ini. Ya, mereka hanya diberi secarik kertas kosong dan sebuah pensil saja. Bagaimana bisa mereka mendapatkan jawaban dalam waktu 80 menit jika tak ada pertanyaan ? Disitulah intinya. Mereka habiskan waktu untuk mencari pertanyaan, bukan jawaban. Saking depresinya, salah seorang peserta nekat menulis essai di atas kertas kosong tersebut yang ujung - ujungnya dia malah dinyatakan gagal karena telah dianggap merusak kertas. Akhirnya peserta yang tersisa pun memutuskan untuk bekerja sama demi mendapatkan pertanyaan. Didera perasaan stres, frustrasi dan kebingungan karena tak kunjung memperoleh pertanyaan seiring dengan sisa waktu yang terbatas, sifat asli dari para peserta pun bermunculan. Mereka rela melakukan apapun demi menyingkirkan lawan termasuk berbuat tidak manusiawi.


Sejak awal kemunculannya Exam langsung menarik perhatian saya karena plotnya yang mengundang rasa penasaran. Bayangkan jika kita sedang ujian dan tak ada pertanyaan apapun sementara kita dipaksa untuk mendapat satu jawaban jika ingin lolos. Ide cerita dari Stuart Hazeldine dan Gareth Unwin ini terbilang unik meski tak seratus persen orisinil karena banyak film sejenis yang memiliki ide cerita yang hampir mirip, misal Saw. Ya, Exam memiliki alur yang hampir sama dengan film sadis tersebut. Hanya saja tak ada adegan penyiksaan penuh darah disini, meskipun masih ditemui beberapa scene yang terbilang bikin miris. Bergenre psychological horror, Exam lebih menyoroti kepada perilaku karakternya. Penonton diajak untuk melakukan studi karakter. Apa yang akan dilakukan oleh sekelompok manusia saat mereka berada dalam kondisi yang penuh tekanan demi mendapatkan sesuatu yang mereka idamkan ? Akankah kita melakukan hal yang sama dengan mereka jika kita berada dalam posisi yang sama ?

Menonton Exam adalah salah satu pengalaman yang menyenangkan bagi saya apalagi saya memang menggemari film bergenre ini. Sepanjang film kita dibuat penasaran dengan pertanyaan misterius tersebut, tegang saat melihat para kontestan berusaha memecahkan pertanyaan tersebut dengan berbagai cara namun semuanya berujung pada kegagalan dan gemas melihat kelakuan beberapa kontestan yang egois dan tak tahu terima kasih. Emosi kita terus diaduk hingga film berakhir. Hazeldine dan Unwin juga menyisipkan sedikit twist di beberapa bagian agar penonton tetap bertahan sampai misteri terpecahkan. Cara ini memang perlu dilakukan mengingat untuk sebagian orang Exam bukanlah film yang menyenangkan, cenderung membosankan malah. Namun itu tak berlaku bagi saya karena saya selalu menemukan sisi menarik dari film ini. Dengan mengandalkan 10 karakter dan satu setting saja, diperlukan keahlian seorang penulis dan sutradara untuk menjaga tensi film sehingga tidak jatuh menjadi film yang membosankan. Untuk ukuran sutradara baru, Hazeldine tergolong berhasil . Dia mampu menghadirkan atmosfir yang pas dan menjaga ketegangan dengan sangat baik. Tak heran jika kemudian mendapat nominasi sebagai sutradara pendatang baru terbaik di BAFTA.

Akting dari para pemainnya pun terbilang menawan. Luke Mably tampil sangat menyebalkan sebagai White, Colin Salmon berhasil menghidupkan karakter pengawas ujian yang misterius, Adar Beck bermain bagus sebagai Dark yang cerdas dan tentu saja Jimi Mistry yang berakting cemerlang sebagai Brown yang sulit ditebak karakternya. Semua pemain memberi kontribusi yang baik kepada film. Gemma Chan yang tampil sebentar pun bermain apik. Sulit mencari cela dari departemen akting karena semuanya kompak bermain bagus. Pujian kembali dialamatkan kepada duo penulis yang memberi porsi akting berimbang kepada tiap pemain sehingga mereka bisa mengeksplor kemampuan akting mereka. Siapa sangka Luke Mably yang bermain tanpa kesan di Prince & Me bisa terlihat sangat menonjol disini ? Para pemain sanggup mengeluarkan emosinya dengan pas, tepat sasaran dan tidak overacting. Mereka berhasil menyatu dengan karakter mereka dan terlihat memang seperti sedang berada dalam tekanan. Sebagai informasi tambahan, karakter di Exam tidak memiliki nama. Mereka dipanggil sesuai dengan warna kulit dan ras mereka, terkesan rasis memang.

Sebenarnya Exam berpotensi menjadi film yang sukses karena film ini memiliki cukup banyak faktor penunjang seperti trailer dan desain poster yang menarik, premis cerita yang membuat penasaran dan penggarapan yang bagus. Namun sayangnya Exam menjadi produk gagal, bahkan hanya segelintir orang yang menyadari keberadaannya. Film buatan Inggris ini memang dilirik oleh distributor dari US untuk ditayangkan di wilayahnya, tapi percuma saja jika pada akhirnya cuma dirilis untuk konsumsi DVD. Betapa mengenaskannya. Konon kabarnya, film panjang pertama dari Stuart Hazeldine ini memang dibikin dengan bujet yang kecil sehingga maklum saja promonya tak kencang. Satu hal yang pasti, Exam sangat sayang untuk dilewatkan bagi kalian yang menggemari genre psychological horror. Exam adalah salah satu yang terbaik di tahun ini.

Nilai = 7/10

Selasa, 17 Agustus 2010

REVIEW : LAKE MUNGO


Alice Palmer (Talia Zucker) menghilang saat sedang piknik bersama keluarganya di sebuah bendungan di kota kecil Ararat, Australia. Keluarganya berasumsi Alice tenggelam saat sedang berenang bersama adiknya, Matthew (Martin Sharpe). Pencarian pun segera dilakukan oleh pihak kepolisian selama beberapa hari hingga akhirnya ditemukan sesosok mayat dengan kondisi tubuh yang rusak parah dan terlihat mengerikan. Pihak keluarga diminta untuk mengidentifikasi mayat tersebut, namun June Palmer (Rosie Traynor), sang ibu, menolak karena tidak ingin nantinya kondisi terakhir Alice terus terngiang di pikirannya. Ayah Alice, Russell Palmer (David Pledger), meyakini bahwa mayat tersebut adalah anaknya. Dengan diliputi perasaan duka yang mendalam dan rasa tidak percaya jika Alice telah tiada, pihak keluarga akhirnya mengubur Alice dan mulai merelakan kepergiannya. Namun Alice sendiri nampaknya tidak ingin meninggalkan keluarganya secepat itu. Beberapa hari berselang setelah kematian Alice, keluarga Palmer mulai merasakan berbagai peristiwa aneh yang membuat mereka merasa tidak nyaman begitu pula dengan penduduk setempat yang menemukan keganjilan - keganjilan dalam rekaman video atau hasil jepretan foto mereka. Mereka melihat sosok Alice. June Palmer mulai meragukan kematian anaknya, dia yakin Alice masih hidup. Dipicu oleh keraguan itulah, keluarga Palmer mulai menyelidiki kembali kematian Alice yang menuntun mereka ke sejumlah bukti yang menunjukkan siapa sebenarnya Alice.


Mengejutkan. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan Lake Mungo. Dibuat dengan bujet rendah dan minim promo, Lake Mungo mungkin tak akan diketahui keberadaannya oleh para pecinta film jikalau tak diputar di After Dark Horrorfest pada Januari lalu. Tak pernah terbayangkan bagi saya akan menemukan sebuah sajian horror yang sangat mencekam dari sebuah film indie buatan Australia ini. Dibuat dengan gaya dokumentasi digabung found footage, Lake Mungo terlihat begitu nyata didukung dengan rekaman video yang sengaja dibuat agak rusak dan blur dan foto yang terlihat sudah lama. Joel Anderson memaksa kita untuk percaya bahwa film yang kabarnya diangkat dari kisah nyata ini memang benar terjadi dan itu cukup ampuh bagi saya karena ada beberapa momen yang membuat saya ragu bahwa ini hanyalah sebuah film.

Menonton Lake Mungo tak ubahnya saat kita sedang menyaksikan acara dokumentasi di layar televisi yang kerap ditayangkan saat sore hari. Cara bertuturnya sama, wawancara dengan keluarga korban serta masyarakat setempat dan disisipi dengan potongan - potongan video yang mendukung cerita dari para narasumber. Hal inilah yang membedakannya dengan Paranormal Activity yang berjalan runtut sesuai dengan rekaman video, Lake Mungo hanya mengambil yang dirasa penting saja. Joel Anderson tergolong berhasil mengarahkan film ini, dia tahu kapan persisnya adegan menyeramkan ditampilkan. Tak ada adegan hantu narsis disini atau adegan bersimbah darah, Lake Mungo mengalir pelan tapi pasti. Anderson tidak menumpahkan semua misteri sekaligus di awal film, dia mengeluarkannya secara perlahan - lahan hingga menumpuk dan kemudian mencoba untuk menjawabnya serta sesekali ditaburi twist saat adegan dirasa mulai membosankan. Membuat kita terus penasaran mengikuti film ini hingga akhir. Memang Lake Mungo tak melulu menghadirkan adegan yang mencekam karena film ini pun tak sepenuhnya horror, porsi drama yang dimunculkan juga lumayan banyak. Bahkan drama yang dihadirkan pun tergolong efektif, saya berhasil merasakan bagaimana perasaan keluarga Palmer. Penonton berhasil dibuat simpati terhadap mereka sehingga lupa ini hanyalah sebuah film (atau bukan ?)

Joel Anderson punya sejumlah amunisi untuk membuat kita ketakutan saat menonton Lake Mungo. Adegan di awal serta tampilan mayat yang rusak sudah berhasil membuat bulu kuduk kita merinding, tapi itu belum semuanya. Cara yang dipakai oleh Joel Anderson untuk menakuti penonton tidak kampungan dan berlebihan, dia tahu persis bagaimana cara yang efektif. Nuansa sunyi nan gelap serta potongan - potongan video dan bukti foto merupakan cara yang ampuh untuk menakuti penonton. Jika itu masih belum cukup, tunggu hingga film berakhir karena ada satu scene yang sukses membuat saya loncat dari kursi. Saking menyeramkannya, membuat saya sempat tidak bisa memejamkan mata malam harinya. Pujian juga patut disematkan kepada para aktor - aktrisnya yang bermain sangat natural seakan mereka memang terlibat dalam peristiwa yang menggegerkan itu. Lake Mungo mungkin bukan film horror paling orisinil, tapi jelas merupakan yang terseram dari genre horror yang mengusung gaya mockumentary dan found footage, melebihi tingkat keseraman The Blair Witch Project sekalipun. Kabarnya Lake Mungo saat ini tengah dibuat versi remake-nya dan segera dirilis pada tahun 2011.

Nilai = 8/10
Jika kalian menganggap Paranormal Activity sudah cukup menyeramkan, you should try this one.

Senin, 02 Agustus 2010

REVIEW : PUNCH-DRUNK LOVE


"I have a love in my life. It makes me stronger than anything you can imagine" - Barry

Apa yang pertama kali melintas di pikiran kalian saat mengetahui Adam Sandler membintangi sebuah film bergenre komedi romantis ? Pesimis, optimis, penasaran atau malah tidak tertarik untuk menontonnya sama sekali ? Saat saya mengetahui komedian yang satu ini bergabung dalam proyek film Paul Thomas Anderson yang terbaru dengan genre yang cenderung asing baginya, saya merasa pesimis sekaligus penasaran. Apakah bisa seorang Sandler melakoni peran yang cenderung serius mengingat selama ini dia seringnya memerankan karakter stereotip komedi yang bodoh dan kekanak - kanakan ? Itulah yang membuat saya penasaran dengan Punch-Drunk Love. Filmnya sendiri rilis tahun 2002 dan saya baru berkesempatan menyaksikannya minggu ini. Yah, maklumlah, saat itu saya masih duduk di bangku SMP dan tidak tertarik untuk menyaksikan film semacam ini.

Adam Sandler adalah Barry Egan, seorang eksekutif muda yang menjalankan perusahaan yang khusus membuat penyedot toilet dan perlengkapan kamar mandi lainnya. Barry memiliki tujuh saudara perempuan yang tidak menghargainya dan sering menjadikannya bahan olokan terutama saat mereka membahas masa kecil Barry. Hal inilah yang membuat Barry tumbuh menjadi pribadi yang kesepian dan memiliki masalah kejiwaan, sering menangis tanpa sebab dan ledakan emosinya tak terkontrol. Kehidupan Barry mulai berwarna saat menemukan sebuah harmonium yang dijatuhkan di jalanan dan berlanjut kepada perkenalan dengan Lena Leonard (Emily Watson), wanita misterius yang menitipkan mobilnya di perusahaan tempat Barry bekerja. Sebelum akhirnya Barry menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Lena, Barry iseng melakukan panggilan ke telepon seks untuk mencari seseorang yang bisa diajak ngobrol. Siapa yang kemudian menyangka jika ternyata jasa ini hanyalah sebuah kedok untuk melakukan penipuan. Barry diteror oleh si wanita telepon seks yang memaksa Barry untuk membantunya dengan sejumlah uang namun ditolak oleh Barry. Dari sinilah cerita mulai berkembang termasuk Barry yang awalnya hanyalah pria 'lemah' menemukan kekuatannya berkat cintanya kepada Lena.


Punch-Drunk Love bukanlah film komedi romantis sembarangan. Jauh dari kesan picisan dan tak akan ada dialog bergombal - gombal ria disini. Romantisnya beda. Justru dengan perbedaan itulah yang membuat Punch-Drunk Love terasa lebih romantis dan menggigit. Penonton yang terbiasa dengan film roman yang menye - menye dan lebay luar biasa mungkin akan kurang menyukai film ini, tapi bagi yang mencari film roman yang cerdas, maka film ini adalah pilihan yang sangat tepat. Dialog puitis nan gombal disingkirkan dan diganti dengan dialog cerdas serta cenderung aneh. Simak saja bagaimana Barry merayu Lena dari penggalan dialog berikut ini, "I'm lookin' at your face and I just wanna smash it. I just wanna fuckin' smash it with a sledgehammer and squeeze it. You're so pretty." Memang terkesan menyeramkan, tapi jika dipikir - pikir, romantis juga. Inilah salah satu keunikannya.

Sebelumnya, Paul Thomas Anderson sudah pernah menelurkan dua film bagus yang mendapat banyak pujian dari kritikus dan pecinta film, Boogie Nights dan Magnolia. Maka saat Paul mengumumkan akan membuat film baru, penggemar karyanya serta merta bersuka cita meski Adam Sandler cukup diragukan pada awalnya. Di Punch-Drunk Love, Paul tetap mempertahankan ciri khasnya, memasukkan rangkaian adegan yang aneh dan absurd. Bahkan sebenarnya kisah cinta Barry - Lena juga cenderung aneh, mereka mengungkapkan isi hati masing - masing dengan cara yang unik menuju tidak wajar. Paul juga menghadirkan bahasa gambar penuh makna dimana tidak cukup bagi kita untuk bisa memahaminya hanya dengan sekali tonton. Tidak berpengaruh memang terhadap endingnya, tapi akan sangat mengasyikkan jika kita bisa memecahkan misteri dibalik adegan tersebut. Ambil contoh, harmonium. Apa maksud dari hadirnya harmonium ini ? Dan, mengapa harus harmonium ? Beberapa pertanyaan mungkin tak bisa dijawab. Tapi mungkin juga bisa, dengan interpretasi sendiri. Ya, cukup membingungkan memang.

Sementara itu, apa yang dicemaskan oleh banyak pihak ternyata tak terjadi. Adam Sandler justru menunjukkan performa terbaiknya disini, hingga saat ini. Aktingnya sedikit mengingatkan kepada Jim Carrey di The Truman Show. Seorang pelawak yang mendapat peran serius tetapi tanpa harus menyingkirkan image lucunya karena baik Adam maupun Jim tidak dituntut untuk seratus persen serius, mereka masih diberi kesempatan untuk melawak, dengan cara yang berbeda. Humor di Punch-Drunk Love memang bukan humor slapstick seperti di film Adam Sandler kebanyakan, terkadang humornya malah pahit. Di satu sisi lucu, namun di sisi lain tak tega untuk menertawakannya. Beberapa sindiran juga digelontorkan disini. Kita diajak untuk menertawakan diri kita sendiri. Ah, betapa absurdnya dunia ini. Haha. Kembali ke akting, Emily Watson tampil manis sebagai Lena Leonard dan chemistry-nya dengan Adam Sandler juga terasa pas meski jika dilihat cenderung aneh, seperti karakter mereka yang aneh. Philip Seymour Hoffman tampil hanya sebentar namun mampu mencuri perhatian, terutama saat karakternya dikisahkan sedang adu mulut dengan Barry melalui telepon. Dua jempol!

Tak mudah untuk bisa memahami Punch-Drunk Love. Sebuah film komedi romantis yang sulit untuk dicerna. Akan tetapi, ajaibnya, saya menyukainya, eh salah, mencintainya. Ya, saya sangat mencintai film ini, bahkan sejak menit pertama bergulir. Inilah yang saya harapkan dari sebuah film roman, adegan romantis tanpa perlu dialog lebay nan panjang yang membosankan, cukup dengan dialog yang sederhana dan unik. Terkadang sesuatu yang sederhana malah jauh lebih bagus ketimbang sesuatu dengan kandungan yang dipermak sedemikian rupa agar terlihat menarik. Adam Sandler juga menunjukkan kehebatan aktingnya, mampu membuat semua orang yang awalnya mencerca dirinya tutup mulut dan mulai mengakuinya. At last but no least, Punch-Drunk Love is one of the greatest romantic comedy movie I've ever seen. No doubt.

Mengutip komen dari Joko Anwar, "Everytime I feel lost, this one always make me believe in movies, and in love again. I'm a punchdrunklover."

Nilai = 9/10

Sabtu, 03 April 2010

REVIEW : MARY & MAX



Mary & Max adalah film animasi stopmotion dari Australia yang skenario dan penyutradaraannya ditangani oleh Adam Elliot. Sejumlah nama besar di industri film semacam Toni Collette, Philip Seymour Hoffman dan Eric Bana turut menyumbang suara mereka di film animasi pemenang banyak penghargaan ini.

Film produksi tahun 2009 ini mengambil setting waktu dari tahun 1976 hingga 1994. Berkisah tentang seorang gadis cilik berusia 8 tahun bernama Mary yang hidupnya kesepian. Tak memiliki teman, bahkan kedua orangtuanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Kehidupan yang berat bagi seorang gadis cilik di Australia. Suatu ketika, Mary menuliskan surat ke Max yang dia dapat secara acak saat mencari nama di buku telepon. Kehidupan Max tak lebih baik dari Mary. Di usianya yang sudah memasuki kepala 4, Max hidup sendiri di apartemennya dan memiliki masalah obesitas yang cukup parah. Bahkan Max mengidap Asperger Syndrome yang mengakibatkan dia sulit berinteraksi dengan orang lain. Max membalas surat Mary dan tidak lupa menyertakan batangan cokelat seperti halnya Mary saat mengirimkan surata kepadanya. Persahabatan melalui surat ini terjalin hingga hampir 20 tahun lamanya dan sempat diwarnai dengan kesalahpahaman karena Max yang over sensitif sehingga sempat merenggangkan hubungan keduanya.

Sebagai sebuah film animasi, Mary & Max cenderung bertutur dengan lambat, suram dan gelap. Filmnya sendiri mengangkat masalah yang cukup berat seperti depresi, bunuh diri, kesepian hingga perasaan cemas. Itulah mengapa film ini sangat tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anak - anak, bahkan untuk ukuran remaja pun Mary & Max masih tergolong berat. Adam sering memakai simbol dalam filmnya ini terutama dalam menggambarkan kehidupan kedua tokoh utama, semisal New York City yang selalu terlihat suram mencerminkan kehidupan Max yang kesepian. Mary & Max bukanlah tipikal film yang bisa dinikmati dengan santai sambil menyantap snack, film ini membutuhkan pemikiran yang mendalam karena penonton diajak untuk merenungi arti dari kehidupan dan memahami apa yang terjadi terhadap Mary dan Max. Kita akan bersyukur dengan kehidupan kita setelah melihat bagaimana kehidupan yang dijalani oleh mereka. Persahabatan yang terjalin diantara mereka juga unik dan tidak biasa. Philip Seymour Hoffman dan Toni Collete berhasil dengan sukses mengisi suara Max dan Mary, bahkan saya hampir tak menyadari kalau suara dua tokoh utama ini dibawakan oleh mereka, terdengar sangat berbeda. Salut untuk Adam Elliott yang mampu membuat film animasi semenyentuh dan sedalam ini.

Nilai = 8/10