Minggu, 25 September 2011

REVIEW : FINAL DESTINATION 5



"Death doesn't like to be cheated." - Bludworth

Cara paling mudah dalam mengeruk keuntungan dari penjualan tiket bioskop adalah dengan membuat ulang atau melanjutkan sebuah film yang sukses besar di tangga box office. Franchise Final Destination memang bukan tergolong ke dalam franchise yang meraih kesuksesan luar biasa, namun sanggup mencapai Breakeven Point di setiap serinya dan masih menyisakan duit lebih untuk ditabung. Final Destination pertama adalah sebuah sleeper hit di tahun 2000. Di saat film horror remaja pada masa itu didominasi oleh teror pembunuhan berantai, Final Destination menawarkan sebuah ide berbeda yang cukup segar tentang mencurangi kematian. Menerima respon yang positif dari penonton dan beberapa kritikus melayangkan pujian, sudah bisa ditebak jika kemudian Final Destination terus melaju dengan dibuatnya beberapa sekuel. Berbeda dengan Saw yang kualitas penerusnya semakin lama kian menurun, Final Destination berhasil stabil di setiap serinya dan tetap menyenangkan untuk ditonton sekalipun inti ceritanya sebenarnya sama saja. Dengan rentang waktu yang lebih pendek, 2 tahun dari The Final Destination (umumnya tiap seri Final Destination berjarak 3 tahun), Final Destination 5 dirilis. Dikomandoi sutradara anyar, Steven Quale, seri ini menggunakan format 3D seperti prekuelnya yang menjanjikan sebuah tontonan yang lebih seram dan menegangkan.

Dalam sebuah perjalanan bisnis, Sam Lawton (Nicholas D'Agosto) mendapat penglihatan bahwa jembatan yang dilalui oleh bis yang ditumpanginya akan roboh dan menewaskan semua penumpang. Dengan didukung bujet $40 juta, Quale sanggup menampilkan adegan robohnya jembatan dengan cukup rapi. Ditangani dengan cekatan dan tampilan 3D yang sangat nyata, ini menjadi adegan pembuka paling menegangkan dalam seri Final Destination. Saya dipaksa untuk menahan nafas dan rasanya sangat menyenangkan saat mendengar beberapa penonton wanita berteriak ketakutan. Belum apa-apa, adegan kematian yang sadis nan mengejutkan sudah digeber dari sini. Sam yang merasakan keanehan saat bis mencapai jembatan, mulai panik dan meminta penumpang lain untuk turun. Hanya kekasihnya, Molly (Emma Bell), sahabat baiknya yang memiliki wajah mirip Christian Bale, Peter (Milles Fisher), kekasih Peter, Candice (Ellen Wroe), serta beberapa rekan kerja, termasuk atasan Sam, Dennis (David Koechner) yang mengikuti Sam. Benar saja, jembatan roboh beberapa saat setelah mereka turun dari bis dan menewaskan semua penumpang bis. Sam dan ketujuh rekannya yang berhasil selamat tidak begitu saja bisa bernafas lega. Seperti kata Bludworth (Tony Todd), "death doesn't like to be cheated." Satu persatu dari mereka yang selamat pun harus menemui ajalnya dengan cara yang sama sekali tidak disangka-sangka.


Bagi yang tidak menyukai atau tidak tahan tontonan yang penuh dengan darah dan dikemas dengan sadis, maka sebaiknya Final Destination 5 Anda hindari. Quale lebih berani dalam mengumbar adegan-adegan kematian yang sadis ketimbang rekan-rekan pendahulunya. Eric Heisserer yang kebagian jatah untuk menggarap naskah tidak hanya membuat semuanya menjadi lebih berdarah dan sadis semata, namun juga menyelipkan beberapa kejutan. Saya jamin Anda tidak akan bisa menebak bagaimana kedelapan tokoh ini menemui ajalnya. Quale dan Heisserer berhasil mengelabui penonton. Selain satu tokoh yang tewas dengan cepat namun sanggup mengejutkan penonton karena kejadiannya tidak terduga, kematian tokoh-tokoh lain cenderung membuat harap-harap cemas. Lihat saja bagaimana kematian pertama terjadi. Seperti menyaksikan pertandingan sepak bola saat bola sudah berada di dekat gawang dan seorang pemain hendak menciptakan gol tetapi berulang kali tertunda karena berbagai sebab. Persis seperti itulah yang terjadi dilengkapi dengan riuh rendah teriakan histeris penonton yang membuatnya menjadi terasa lebih menegangkan.

Yang patut mendapat apresiasi lebih adalah 3D dari Final Destination 5. Produser Craig Perry ternyata adalah seorang yang 'jujur' karena 3D yang dihasilkan disini benar-benar terasa nyata, bukan tipuan belaka layaknya kebanyakan film Hollywood akhir-akhir ini yang memakai 3D palsu (alias hasil konvert dari 2D, tidak di-shoot langsung dalam 3D). Hasilnya, Anda akan melihat gelimangan darah dan potongan-potongan tubuh menjadi lebih jelas. Segalanya menjadi pop-up. Itulah kenapa jika Anda mudah muntah saat melihat adegan-adegan sadis dan berdarah-darah saya sangat menyarankan agar Anda mengosongkan perut sebelum menyaksikan Final Destination 5. Menonton film ini dalam 3D sambil membawa cemilan sekarung sama sekali bukanlah pilihan yang tepat. Big No No. Setelah Insidious berhasil menghibur saya dengan horror klasiknya yang mencekam, Final Destination 5 pun menyajikan sebuah hiburan yang menyenangkan. Alur yang tidak mudah ditebak, 3D yang nyata, penggunaan special effect yang efektif serta penggarapan yang baik. Inilah film terbaik dari seri Final Destination.

2D atau 3D? Disarankan untuk menontonnya dalam versi 3D karena 3D-nya yang sangat nyata. Final Destination 5 menjadi berkali-kali lipat lebih menegangkan karena faktor 3D. Namun jika Anda tidak menyukai tontonan sadis namun tetap ingin menyaksikan film ini, maka lebih baik pilih versi 2D-nya saja.

Exceeds Expectations

Sabtu, 24 September 2011

REVIEW : CAPTAIN AMERICA THE FIRST AVENGER


"You don't win wars by being nice." - Col. Chester Phillips

Menikmati Captain America: The First Avenger baiknya menggunakan pendekatan dan cara tersendiri. Dari persperktif cerita, Anda harus paham dahulu bahwa Captain America bisa dikatakan tokoh penyemangat di masa perang. Mengambil setting Perang Dunia ke II, jangan bayangkan Engkong Stan Lee menggambarkan Captain America seheroik Superman atau 'semanusiawi' Tony Stark karena Joe Johnston menurut saya mengangkat cerita Steve Rogers (Chris Evans) dengan mempertahankan cita rasa komik hasil dari menerjemahkan karya Stan Lee. Chris Evans yang kita kenal sebagai si “panas” The Torch dalam Fantastic Four disulap menjadi orang yang akan ditolak resimen manapun kala dia mendaftar wajib militer karena dianggap terlalu lemah. Steve Rogers bisa jadi bahan tertawaan bagi penonton di awal cerita karena penampilan fisiknya yang merupakan hasil rekayasa CGI, namun berkat bantuan dari tampilan 3D yang lumayan apik sanggup membantu tampilan fisik Steve Rogers menjadi lebih nyata. Saya sedikit membayangkan jika dalam versi DVD 2D, mungkin rekayasa CGI ini sedikit terlihat aneh karena proporsi dan sebagainya.

Joe Johnston mengusung tema moral melalui tokoh Captain America. Sifat Steve Rogers yang membuat dia dipilih sebagai percobaan proyek rahasia militer yang kemudian merubahnya menjadi Captain America, senjata utama dalam melawan HYDRA, sebuah organisasi yang dipimpin oleh Johann Schmidt (Hugo Weaving). Hubungan Captain America dengan Peggy Carter (Hayley Atwell) dijalin dengan apik oleh Joe Johnston karena Peggy Carter disini bukan Denzel in the stress macam Mary Jane Watson yang sedikit-sedikit harus diselamatkan. Namun Peggy Carter (Hayley Atwell) selalu muncul (entah jabatannya setinggi apa) bersama Colonel Phillips (Tommy Lee Jones) untuk memberikan bantuan dalam pertempuran Captain America. Salah satu misi Captain America adalah menyelamatkan James Barnes (Sebastian Stan) dan banyak pasukan Amerika dari tahanan Hydra. Secara fisik Chris Evans memang cukup besar, namun selain dia terlihat lebih besar ketika menjadi Captain America dengan tambahan protein dan otot, pemilihan lawan main seperti Sebastian Stan, Tommy Lee Jones, dan Dominic Cooper yang tidak terlalu besar juga berpengaruh. Jika lawan mainnya Hugh Jackman, tentu Captain America akan terlihat biasa saja.

Banyak hal yang akan membuat Anda tertawa atau bingung dalam Captain America: The First Avenger ini. Jika anda mengikuti komik Captain America, the cube atau kubus biru yang muncul dalam film mungkin terasa asing, seasing kehadiran Howard Stark (Dominic Cooper). The cube dan Howard Stark (Dominic Cooper) disini selain sebagai bumbu cerita juga dimaksudkan sebagai penghubung nantinya dalam The Avenger. Rasanya ada si Narsis Robert “Iron Man” Downey Jr. dalam Captain America: The First Avenger, yaitu karena Howard Stark. Lompatan alur cerita Captain America: The First Avenger tidak terlalu jauh kecuali bagian awal dan akhir. Efek 3D di beberapa scene sangat terasa, paling tidak Anda tidak terlalu rugi menonton versi 3D. Saya menilai Captain America adalah superhero yang paling polos, lebih polos dari Spiderman yang memang tidak teralu baik nasibnya. Maka Anda perlu menonton Captain America: The First Avenger untuk mengetahuinya.

Note : Jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop setelah film ini usai karena ada adegan tersembunyi di penghujung film. Anda sama sekali tidak akan rugi untuk sedikit bersabar menunggu.

2D atau 3D? Di beberapa bagian 3D-nya sangat terasa, meskipun secara keseluruhan masih kurang memuaskan. Jika Anda bukan penggila 3D atau memang kurang nyaman dengan 3D, lebih baik pilih versi 2D saja.

Acceptable

Oleh Anisa Caesar (link: http://www.facebook.com/anisacaesar )

Minggu, 18 September 2011

REVIEW : THE HANGOVER PART II


"There is a reason its called Bangkok, sweetie." - Kimmy

Setelah sukses mengumpulkan pundi-pundi sebanyak $467 juta dari peredaran seluruh dunia dan piala Golden Globe untuk Film Komedi/Musikal Terbaik dari hasil mengobrak abrik kota dosa, Las Vegas, kali ini The Wolfpack kembali mengunjungi layar lebar dengan petualangan yang tentunya diharapkan lebih gila dan tak bermoral dari sebelumnya. Sasaran empuknya tidak lagi Las Vegas, bahkan mereka juga tidak lagi berada di Amerika Serikat. Melanglang buana sejauh puluhan ribu kilometer, Thailand menjadi korban selanjutnya. Di Negeri Gajah Putih ini, The Wolfpack siap menebarkan ranjau-ranjau. Tim sukses dari The Hangover beberapa masih dipertahankan untuk menceriakan suasana. Todd Phillips ditunjuk kembali sebagai nahkoda utama, sementara Bradley Cooper, Ed Helms, Zach Galifianakis, Justin Bartha dan Ken Jeong juga kembali hadir. Heather Graham yang difungsikan sebagai pemanis di film sebelumnya absen hadir dan digantikan oleh Jamie Cheung yang berperan sebagai tunangan Stu (Ed Helms). Dengan dukungan dari tim sukses yang kurang lebih sama, The Hangover Part II siap untuk meledakkan bioskop dengan candaan fisik dan humor-humor kasar nan jorok yang lebih 'mengerikan'.

"It happened again!," teriak Phil (Bradley Cooper) saat terbangun dalam keadaan tidak karuan di sebuah hotel kumuh di Bangkok, Thailand. Kondisinya sama persis seperti dua tahun lalu di Las Vegas, hanya saja kali ini semakin gila. Phil, Stu, dan Alan (Zach Galifianakis) tidak ingat apa yang telah terjadi semalam. Sebelumnya, mereka berada di sebuah resor mewah dalam rangka merayakan pernikahan Stu, namun kemudian mereka terbangun di sebuah hotel kumuh yang berantakan. Apa yang telah terjadi? Jika dalam film sebelumnya ada harimau dan bayi, maka kali ini digantikan oleh seekor monyet cerdas dan Leslie Chow (Ken Jeong), seorang kriminal lucu yang menghebohkan The Hangover. Stu tidak kehilangan giginya, namun hadir tato yang mirip dengan milik Mike Tyson di kepalanya, dan Alan kehilangan rambutnya alias gundul. Sebenarnya ini tidak akan menjadi masalah besar karena bisa saja mereka bertiga hanya tinggal meninggalkan hotel tersebut dan kembali ke resor. Hanya saja, The Wolfpack tidak sendirian. Mereka membawa serta Teddy (Mason Lee), calon adik ipar Stu, dan Teddy menghilang! Jika Stu tidak bisa menemukan Teddy, maka tamat sudah riwayatnya terlebih Teddy adalah anak kesayangan ayah mertuanya. Bisa-bisa pernikahan Stu dan Lauren (Jamie Chung) terancam dibatalkan.


Maka, The Hangover Part II ini adalah mengenai petualangan The Wolfpack menelusuri gang-gang sempit di Bangkok dalam usahanya menemukan Teddy. Karena ini adalah sebuah sekuel, tentu Todd Philips tidak akan bersantai ria menikmati perjalanan ke Thailand. Dosis kegilaan harus ditambahkan hingga titik klimaks. Phillips turun tangan sendiri mengurus naskahnya dan dia mengajak duo penulis yang telah menghasilkan naskah untuk film-film sinting, Scot Armstrong dan Craig Mazin, untuk membantunya memoles naskah hingga menjadi tak karuan tingkat kebodohannya. The Hangover Part II pun menjelma menjadi sebuah tontonan tak berotak yang penuh dengan kegilaan dan sangat ngawur sejak menit pertama hingga ending. Pada dasarnya, film ini tak dimodali ide cerita yang luar biasa karena apa yang dituturkan disini hanyalah copy paste dari prekuelnya dengan kegilaan yang dilipatgandakan. Tak ada sesuatu yang baru untuk ditawarkan, tapi jelas masih efektif untuk mengundang tawa renyah penonton. Misteri kemana menghilangnya Teddy pun sejatinya sudah bisa ditebak sejak awal, sehingga untuk membuat penonton betah duduk di kursi hingga menit terakhir murni mengandalkan petualangan gila The Wolfpack.

Siapapun yang telah menyaksikan The Hangover tentu mengerti bahwa untuk bisa menikmatinya berarti harus menyingkirkan logika akal sehat untuk sejenak. Dalam The Hangover Part II, segalanya menjadi semakin tidak masuk akal saja. Jika Anda menginginkan adegan-adegannya relevan dan masuk akal, ada baiknya film ini dihindari. Tujuan Phillips jelas, menghadirkan sebuah tontonan yang mampu membuat penontonnya tertawa tiada henti. Komedinya tidak lagi secerdas prekuelnya, karena disini Phillips lebih banyak bermain-main dalam area slapstick. Ketololan Alan yang dikisahkan semakin menjadi jadi dan porsi Ken Jeong yang diperbesar adalah sarana efektif, kalau tidak mau disebut murahan, untuk memancing tawa. Meskipun The Hangover Part II tetap menjadi sajian hiburan yang menyenangkan, namun kesegarannya menjadi jauh berkurang karena faktor copy paste tadi. Apa yang akan terjadi selanjutnya menjadi mudah ditebak. Padahal yang membuat The Hangover jilid pertama terasa lezat adalah komedinya yang berisi dan banyaknya kejutan. Semoga saja di sekuelnya nanti, yang menurut rencana akan menjadi jilid penutup, Phillips dan tim tidak melakukan kesalahan yang sama. Sungguh disayangkan sekali karena The Hangover Part II ini bisa berpotensi menjadi film yang lebih sinting dan menyenangkan seandainya tidak terjadi pengulangan plot.

Acceptable


Kamis, 15 September 2011

REVIEW : RISE OF THE PLANET OF THE APES


"Apes alone weak. Apes together strong."

Apa revolusi yang paling menggemparkan dunia? Bukan revolusi Perancis, revolusi Russia, revolusi Iran, apalagi revolusi industri. Ini benar-benar sesuatu yang tidak biasa dan aneh. Revolusi kera. Nah lho, bisa dibayangkan bagaimana kekacauan yang terjadi, bukan? Sekelompok primata mengamuk, menghancurkan bangunan-bangunan di perkotaan dengan membabi buta menuntut kebebasan dan perlakuan yang layak terhadap manusia. Walaupun hanya terjadi di film Hollywood terbaru, namun tidak menutup kemungkinan hal ini bisa terjadi di masa mendatang terutama ketika hari kiamat telah mendekat. Revolusi kera ini terjadi dalam film garapan Rupert Wyatt, Rise of the Planet of the Apes, yang merupakan film ketujuh dari franchise Apes. Mengingat Rise of the Planet of the Apes (selanjutnya akan saya sebut dengan ROTPOTA) adalah sebuah reboot, maka ROTPOTA tidak memiliki keterkaitan dengan Planet of the Apes garapan Tim Burton yang dikecam para kritikus tersebut. Apabila melihat dari sejarah franchise-nya, ROTPOTA sedikit banyak memiliki kemiripan alur dengan Conquest of the Planet of the Apes (1972). Menjadi semacam pertanda bahwa franchise ini akan kembali dilanjutkan.

Protagonis kita adalah Will Rodman (James Franco), seorang ilmuwan yang tengah melakukan eksperimen terhadap sejumlah simpanse demi menemukan cara untuk mengobati penyakit Alzheimer. Gen-Sys, perusahaan tempat Will bernaung, enggan memberikan suntikan dana pada eksperimen ini setelah salah satu simpanse bernama Bright Eyes mendadak menjadi liar dan membuat para investor merugi. Will yang putus asa kemudian merawat anak Bright Eyes, Caesar (Andy Serkis), seraya mencoba untuk menemukan ramuan obat Alzheimer yang lebih pas. Caesar pun dijadikannya sebagai kelinci percobaan. Tak dinyana, obat yang dikembangkan oleh Will ini memberi dampak yang luar biasa kepada Caesar. Dia tidak lagi menjadi simpanse biasa. Tingkah lakunya menyerupai manusia dan Caesar memahami bahasa isyarat. Semakin hari, Caesar menjadi semakin cerdas dan cerdas. Melihat respon yang positif seperti ini, Will menjajalnya pada sang ayah, Charles (John Lithgow) yang mengidap Alzheimer. Penyakitnya seketika lenyap dalam semalam. Atasan Will, Steven (David Oyewolo), yang semula mendepaknya langsung mengutusnya untuk mengembangkan obat ini. Namun keserakahan para manusia yang bertindak seolah-olah sebagai Tuhan ini akhirnya harus dibayar mahal. Caesar mulai memberontak dan kondisi Charles justru kembali memburuk. Setelah menyerang seorang pria yang memaki Charles, Caesar dikirim ke semacam tempat penampungan hewan yang lebih mirip seperti sebuah penjara. Dikomandoi oleh seseorang yang mirip Hannibal Lecter dan hadirnya Draco Malfoy versi kucel, ini jelas bukan tempat yang tepat bagi Caesar yang emosinya tengah labil.

Saya sama sekali tidak menduga ROTPOTA akan menjadi sebuah sajian yang sangat memuaskan. Diremehkan oleh banyak pihak ketika proyek ini pertama kali didengungkan, Rupert Wyatt sukses membungkam siapa saja yang awalnya memandang film buatannya ini dengan sebelah mata, termasuk saya. Saat materi promosinya dipublikasikan, ROTPOTA sudah terlihat menjanjikan. Film ini langsung bercokol di urutan pertama film yang paling saya nantikan kehadirannya di bulan Agustus lalu. Setelah berminggu-minggu lamanya mengalami kegalauan mengkhawatirkan ROTPOTA yang mungkin saja tidak akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia, minggu lalu saya bisa bernafas lega setelah 21 Cineplex dan Blitz memberi lampu hijau untuk film ini. Penantian saya pun terbayar lunas. Seperti halnya Star Trek garapan J.J. Abrams, ROTPOTA versi Wyatt ini telah membuat saya jatuh hati pada franchise Apes. Sebelumnya, saya tidak tertarik sama sekali. Naskah racikan Rick Jaffa dan Amanda Silver sebetulnya sederhana, akan tetapi penanganan Wyatt yang tepat adalah kuncinya. Wyatt tidak memusingkan penontonnya dengan istilah-istilah yang rumit agar ROTPOTA bisa disebut sebagai film science fiction berkualitas tinggi. Alur berjalan dengan menarik dan tidak bertele-tele. Saat Caesar berjuang untuk mendapatkan kebebasannya, tensi meningkat. Pada titik ini yang berkeliaran di pikiran saya adalah, “apakah ROTPOTA bisa disebut sebagai film horror?” Penjara primata ini tidak hanya menjadi momok bagi para primata, tetapi juga penonton. Kita turut merasakan apa yang mereka rasakan. Saat revolusi mulai bergejolak, kita dihadapkan pilihan antara membenarkan tindakan primata-primata ini atau justru mengutuknya. Wyatt dan tim berada dalam posisi netral, tidak membiarkan kita memihak salah satu pihak meski terkadang ada kalanya penonton akan lebih memilih mendukung tindakan para primata.

Sanjungan juga patut untuk dilayangkan kepada Andy Serkis dan CGI buatan WETA yang memesona. Andy Serkis bisa dikatakan sebagai dewa penyelamat. Departemen aktingnya sama sekali tidak istimewa. Cenderung datar malah. James Franco bermain di zona yang terlalu aman, Freida Pinto terasa sama sekali tidak penting dan duo Brian Cox plus Tom Felton tak ada bedanya dengan villain di film sejenis yang sangat menyebalkan yang adegan kematiannya dirancang untuk membuat penonton bersorak sorai. Beruntung, Wyatt memiliki Serkis. Setelah bermain apik sebagai Gollum di trilogy The Lord of the Rings dan menghidupkan kembali tokoh legendaris, King Kong, Serkis tampil mengesankan sebagai Caesar. Dia adalah bintang sesungguhnya di ROTPOTA. Apakah penampilan briliannya disini sudah cukup untuk membuat Serkis mendapatkan piala Oscar? We’ll see. Special effect dalam ROTPOTA memang tidak semewah seperti apa yang ditunjukkan oleh Transformers 3, namun tetap digarap rapi dan porsinya tidak berlebihan karena difungsikan hanya sebagai penunjang, bukan sebagai kebutuhan utama. Sesuatu yang sudah sangat jarang ditemukan dalam film-film berbujet besar saat ini. Wyatt dan tim tidak manja. Sekalipun difasilitasi dengan special effect yang canggih, naskah tetap diperhatikan dengan baik. Dengan kepuasan tiada tara yang saya dapatkan seusai menonton film ini, pantaslah rasanya saya menempatkan ROTPOTA ke dalam jajaran film terbaik tahun ini.

Exceeds Expectations

Jumat, 09 September 2011

REVIEW : TRANSSIBERIAN


"With lies, you may go ahead in the world, but you may never go back." - Grinko

Seperti pesan orang tua kepada anaknya, "jangan pernah berbicara dengan orang asing." Bukan bermaksud untuk mengajarkan si anak untuk menjadi seseorang yang sombong, tapi untuk menjaga diri. Penampilan yang terlihat baik dan menyenangkan terkadang hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi jati diri yang sebenarnya. Sutradara penghasil The Machinist dan Session 9, Brad Anderson, menyinggung masalah ini di Transsiberian. Sebuah thriller yang sedikit banyak akan mengingatkan kita pada film yang dibintangi oleh Brad Pitt di awal karirnya, Kalifornia. Total hanya dibutuhkan sekitar lima pemain utama saja untuk menghadirkan sebuah tontonan yang mencekam selama 111 menit. Susunannya cukup menggiurkan karena ada nama-nama seperti Woody Harrelson, Emily Mortimer, dan Ben Kingsley. Ini mengenai teror yang dialami pasangan menikah tatkala mereka sedang berlibur. Plot semacam ini memang sudah kerap dibongkar pasang oleh berbagai sutradara dari seluruh dunia. Berencana untuk menghabiskan liburan dengan menyenangkan, namun berakhir petaka saat hadir pasangan misterius.

Kesalahan utama pasangan ini adalah Roy (Woody Harrelson), sang suami, kelewat ramah dalam menyambut teman sekabin mereka di kereta Trans-Siberia. Istrinya, Jessie (Emily Mortimer), merasa tidak nyaman, terlebih Carlos (Eduardo Noriega) nampaknya tertarik dengan Jessie. Roy dan Jessie pergi ke Beijing dalam rangka mengikuti program yang dijalankan oleh gereja mereka. Saat hendak kembali ke Amerika, Roy berinisiatif mengajak istrinya berlibur sejenak mengingat mereka belum pernah melihat dunia luar sebelumnya. Roy adalah seseorang yang tergila-gila dengan kereta api. Maka pilihan berlibur di atas kereta Trans-Siberia yang melaju dari Beijing ke Moskow adalah sesuatu yang wajar. Di tengah perjalanan, Carlos dan kekasihnya, Abby (Kate Mara), bergabung. Tak ada kecurigaan apapun terhadap pasangan yang mengaku bekerja sebagai guru bahasa ini. Hingga kemudian, setelah kereta berhenti sejenak di Irkutsk, Roy menghilang. Belum terjadi apapun pada tahap ini, namun kita sudah mencium adanya kejanggalan terhadap Carlos dan Abby. Mereka bertiga pun memutuskan untuk menginap di sebuah hotel sembari menunggu kabar dari Roy.


Tak butuh waktu lama bagi Jessie untuk menunggu telepon dari Roy. Keesokan harinya, Roy datang bersama detektif narkoba, Grinko (Ben Kingsley). Karena Carlos dan Abby telah 'turun', Grinko secara otomatis menggantikan posisi mereka di kabin. Apa yang telah terjadi kepada Carlos dan Abby saat menunggu kabar dari Roy rasanya tak perlu saya ceritakan agar Anda bisa menikmati Transsiberian. Dengan perginya pasangan tersebut, bukan berarti Roy dan Jessie bisa melanjutkan perjalanan tanpa gangguan. Grinko menyimpan rahasia dan jelas dia adalah tokoh yang lebih berbahaya ketimbang pasangan muda tersebut. Brad Anderson tidak terburu-buru menggiring penonton ke akar permasalahan. Dengan alur yang lambat, terkadang gaya penceritaannya sedikit banyak mengingatkan saya pada Alfred Hitchcock, Anderson membangun ketegangan setahap demi setahap. Setidaknya diperlukan 30 menit bagi Anderson untuk memperkenalkan para karakter utama di Transsiberian. Sebelum misteri demi misteri terbongkar, berbagai pertanyaan muncul di benak saya. Apakah saya harus percaya pada Grinko, Carlos dan Abby? Apakah benar Roy dan Jessie adalah korban? Apakah Abby adalah gadis baik-baik? Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Carlos dan Abby dari Jessie?

Brad Anderson dan Will Conroy berhasil menyimpan setiap misteri yang ada di Transsiberian dengan rapat. Meskipun kejutannya bukan sesuatu yang baru dan hampir bisa dipastikan sudah berhasil ditebak oleh sebagian besar penonton semenjak Grinko hadir, tensi ketegangan Transsiberian tidak serta merta menukik turun, justru pada saat inilah apa yang ditunggu-tunggu oleh penonton muncul. Roy dan Jessie terbangun di suatu pagi dan menyadari bahwa mereka adalah satu-satunya penumpang di kereta. Kemana perginya penumpang lain? Sementara itu, kereta masih melaju kencang dan Jessie hampir saja terlempar karena membuka pintu yang salah. Dengan durasi yang terbilang panjang, minim setting (mayoritas bersetting di dalam kereta) dan minim tokoh, maka Transsiberian bertumpu pada kekuatan naskah dan akting para pemainnya. Emily Mortimer adalah yang terkuat. Jessie yang selalu dilanda kegelisahan, terlihat rapuh meski sesungguhnya adalah wanita yang kuat dimainkan dengan apik oleh Mortimer. Sementara itu, Harrelson bersenang-senang sebagai Roy dan Sir Ben Kingsley dengan aksen Russia-nya yang kental tampil misterius sebagai Grinko. Pun begitu dengan Eduardo Noriega dan Kate Mara yang berakting meyakinkan dan membuat gemas. Transsiberian tergolong berhasil dalam misinya menyajikan sebuah tontonan thriller yang memikat. Diawali dengan lambat yang bisa jadi menyebabkan sebagian penonton yang mengharapkan adegan aksi penuh kejutan kecewa, ketegangan dibangun dengan perlahan dan menarik. Setelah sebelumnya Brad Anderson memuaskan saya dengan The Machinist, maka kali ini dia kembali membuat saya memberi acungan jempol untuk Transsiberian.

Exceeds Expectations

Selasa, 06 September 2011

REVIEW : TEMPLE GRANDIN


"My name is Temple Grandin. I'm not like other people. I think in pictures and I connect them." - Temple Grandin

Ada yang mencuri perhatian di perhelatan Emmy Awards tahun lalu. Bukan mengenai kemenangan Modern Family atas Glee atau kemenangan besar The Pacific, tetapi Temple Grandin. Film Televisi (FTV) produksi HBO ini menggondol 7 piala yang menjadikannya sebagai pemenang terbesar kedua setelah The Pacific. Bahkan Temple Grandin asli menyempatkan diri untuk hadir. Setelah kemenangan besar di Emmy Awards, Temple Grandin agak terseok-seok di beberapa penghargaan berikutnya. Akan tetapi piala untuk Claire Danes selalu tersedia. Akting luar biasanya sebagai penyandang autis yang jenius mendapat pengakuan banyak pihak. Mendampingi Danes dalam FTV apik ini adalah pemain-pemain watak seperti Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn. Sementara yang ditunjuk sebagai nahkoda adalah pembesut Volcano dan The Bodyguard, Mick Jackson. FTV yang memulai syuting sejak bulan Oktober 2008 ini pertama kali tayang di kanal HBO pada 6 Februari 2010.

Mick Jackson kerap menggunakan teknik flashback untuk menjabarkan serangkaian peristiwa yang dialami oleh Grandin di masa mudanya. Yang perlu dicermati, Jackson terkadang menerapkannya sesuka hati sehingga dibutuhkan sedikit ekstra konsentrasi untuk menikmati FTV ini. Leo Trombetta memang berhasil menyambungkan potongan-potongan gambar dengan luar biasa, namun perpindahan setting waktu acapkali tanpa didampingi oleh penjelasan sehingga cukup membingungkan terlebih banyak lompatan waktu disini. Christopher Monger dan Merritt Johnson memulai kisah Grandin pada musim panas di tahun 1960-an saat Temple Grandin (Claire Danes) dikirim oleh ibunya, Eustacia (Julia Ormond), ke peternakan sang bibi, Anne (Catherine O'Hara) untuk menghabiskan libur musim panas. Seraya memikirkan akan melanjutkan pendidikan kemana, Grandin menemukan ketertarikan dengan hewan-hewan ternak. Sebuah kejadian yang membuatnya terserang rasa panik yang luar biasa menjadi semacam langkah awal Grandin untuk menemui kesuksesannya. Sementara orang-orang sekitar tak berhenti mencemoohnya karena tingkah lakunya yang berbeda dan Eustacia cenderung kurang memercayai kemampuan putrinya, Professor Carlock (David Strathairn), guru Grandin di sekolah asrama, justru memberi dukungan penuh. "Setiap pintu adalah sebuah kesempatan," kata Carlock pada Grandin. Pintu diartikan secara harfiah oleh Grandin. Tapi ini pun tidak sepenuhnya salah. Di balik pintu ada sesuatu yang baru yang mungkin saja kita tidak pernah sangka-sangka isinya, Grandin berani mengambil resiko untuk membukanya karena dia ingin melangkah maju.


Pintu-pintu inilah yang kemudian membawa Grandin kepada kesuksesan. Keberaniannya dalam mempertahankan pendapat, memelajari kesalahan dan terus melangkah ke depan menjadi kunci kesuksesannya. Kekurangan tidak menjadi hambatan baginya. Di dunia peternakan dimana para pria berkuasa, Grandin justru berjaya dan menaklukkan para pria yang semula meremehkannya dan segala penemuannya. Grandin menciptakan sebuah revolusi terhadap dunia peternakan di Amerika Serikat. Jackson memakai sudut pandang orang pertama dalam menuturkan kisah. Karakter pendukung mempunyai peranan penting dalam hidup Grandin, namun tidak bagi penonton. Yang harus penonton perhatikan hanyalah narasi Grandin. Itu pun tidak disampaikan dengan panjang lebar. Trio Jackson, Monger dan Johnson ingin agar Anda mendapatkan sensasi bagaimana rasanya menjadi Temple Grandin selama 2 jam. Bahkan terkadang apa yang dipikirkan oleh Grandin divisualisasikan ke dalam bentuk adegan yang unik. Naskah yang kuat bukanlah satu-satunya cara agar penonton merasa dilibatkan dalam film. Akting cemerlang dari Claire Danes adalah kuncinya. Ini adalah penampilan terbaik dari Danes dalam sejarah karir aktingnya. Temple Grandin memang film yang bagus, namun film ini tidak akan ada artinya tanpa akting Claire Danes yang luar biasa.

Rasanya juri Emmy Awards tak perlu menonton FTV ini hingga selesai untuk menobatkan Danes sebagai aktris terbaik. Hanya butuh 15 menit pertama bagi saya untuk segera berlari menemui Danes dan memberinya sejumlah piala. Catherine O'Hara, Julia Ormond dan David Strathairn pun bermain hebat dan hampir tanpa cela. Departemen akting yang begitu gagah perkasa ini untungnya memperoleh dukungan penuh dari departemen teknis yang memberi sumbangsih berupa editing yang rapi, sinematografi yang memikat dan tata kostum yang cantik. Ini adalah kombinasi yang tepat untuk menghasilkan sebuah film yang berkelas tinggi. Pada akhirnya Temple Grandin menjadi sebuah film yang sangat layak ditonton bukan hanya karena kualitasnya yang mumpuni, namun juga kisahnya yang menginspirasi disampaikan dengan halus tanpa kesan menceramahi. Grandin telah membuktikan kepada dunia bahwa kesuksesan seseorang berasal dari tekad yang kuat. Kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk menghambat seseorang untuk maju. Dibalik sebuah kekurangan pasti ada sebuah kelebihan. Temple Grandin juga menunjukkan bahwasanya tidak mudah hidup sebagai penyandang autis, beban yang dipikul sangat berat. Maka alangkah bijaknya jika kata 'autis' tidak lagi disematkan sebagai bahan tertawaan.

Outstanding

Senin, 29 Agustus 2011

REVIEW : DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH



"Sampai kapanpun, emas takkan setara dengan loyang dan sutra tak sebangsa dengan kapas." - Emak



Seandainya saja product placement (iklan dalam film) tidak berseliweran kesana kemari. Seandainya saja tidak ada dubbing yang menggelikan. Seandainya saja subtitle Inggris yang disisipkan tidak ngawur dan menggunakan susunan gramatikal yang baik. Seandainya saja aksentuasi para tokoh patuh pada setting tempat. Seandainya saja tulisan 'based on Buya Hamka's novel' pada poster dihilangkan dan diganti menjadi 'adaptasi bebas'. Seandainya saja tidak ada sesumbar yang mengatakan bahwa Di Bawah Lindungan Ka'bah diberi kucuran dana raksasa sebesar Rp 25 Miliar dan digadang-gadang sebagai 'Titanic versi Indonesia'. Di Bawah Lindungan Ka'bah mungkin saja menjadi film yang memuaskan banyak kalangan. Seperti yang diucapkan Emak (Yenny Rachman) kepada Hamid (Herjunot Ali), "makin tinggi harapan, makin sakit jatuhnya." Dengan janji-janji manis yang ditawarkan, tentu tidak mengherankan jika kemudian penonton berharap banyak terhadap karya terbaru Hanny R. Saputra ini. Apalagi versi novelnya merupakan salah satu karya sastra lokal terbaik dari salah satu sastrawan terbaik dalam angkatan pujangga Balai Pustaka. Ekspektasi pun membuncah.



Pada tahun 1981, Asrul Sani telah mengadaptasi bebas novel Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film berjudul Para Perintis Kemerdekaan. Alih-alih memilih untuk setia 100% pada novel Hamka tersebut, film justru dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial terhadap pemerintah tanpa menghilangkan esensi dari cerita. Misi Asrul Sani berjalan sukses dan dihadiahi banyak puja puji dari berbagai kalangan. Hanny R. Saputra tidak mengikuti jejak Asrul Sani dan tetap teguh pada ciri khasnya. Dibantu oleh dua penulis skenario langganannya, Armantono dan Titien Wattimena, Di Bawah Lindungan Ka'bah menjelma menjadi sebuah film metal alias mellow total. Sepanjang durasi film, saya mencatat hanya ada satu adegan Hamid dan Zainab (Laudya Cynthia Bella) yang tak melibatkan air mata, yakni ketika mereka saling sapa dari balik pagar kayu. Sialnya, adegan yang seharusnya bisa manis itu tercoreng lantaran durasinya yang kelewat lama dan dubbing yang sangat kasar. Saya pun langsung mual dibuatnya.





Menerjemahkan sebuah novel dengan halaman yang tipis (konon, novel Hamka ini hanya setebal 66 halaman) ke dalam layar lebar sama susahnya dengan mengejewantahkan tulisan beratus-ratus halaman. Untuk mengakalinya, Armantono dan Titien pun menambahkan sejumlah konflik yang tidak ditemukan dalam novel. Konflik yang sangat dramatis, menghadirkan kenyataan hidup yang pahit. Bagaimanapun juga, Hamid dan Zainab tidak akan pernah bisa disatukan. Plot kreasi duo penulis naskah ini diyakini mampu menguras air mata penonton. Tak peduli sekonyol apapun pengarahan Hanny R. Saputra dan bagaimana logika penonton tersakiti, air mata penonton perempuan akan tetap tumpah. Bukan bermaksud genderisasi, namun seperti inilah kenyataannya. Saya menyaksikannya sendiri. Begitu pula ketika saya menyaksikan film dengan dramatisasi yang gagal, Surat Kecil Untuk Tuhan. Walau begitu, Di Bawah Lindungan Ka'bah tercatat beberapa kali sukses membuat saya terharu. Bukan perihal kisah cinta tak sampai Hamid dan Zainab, namun seputar hubungan Hamid dengan ibunya. Akting Yenny Rahman sungguh memukau. Herjunot Ali juga mampu mengimbangi akting artis senior ini dengan apik. Ada chemistry diantara mereka berdua. Apabila saya diminta untuk memaknai arti dari ironis, maka itu adalah Laudya Cynthia Bella yang tidak nyambung dengan Herjunot Ali. Lempeng. Menunjukkan sebuah romantisme yang banal.



Bersetting di tahun 1920-an di Sumatera Barat, Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah mengenai dua sejoli yang sedang dirundung asmara namun terpaksa tak bisa bersatu karena perbedaan kelas sosial. Konflik memuncak tatkala Hamid melakukan sesuatu yang dianggap tak pantas kepada Zainab hingga dirinya diusir dari kampung. Untuk menghidupkan nuansa Minangkabau pada zaman dahulu, dibangun set yang megah plus tidak ketinggalan kincir air ciri khas sang sutradara. Sinematografi arahan Rachmat Syaiful sanggup menghadirkan gambar-gambar cantik yang menyejukkan mata. Special Effects yang dipakai pun layak diacungi jempol, sekalipun penggunaannya di adegan terakhir kentara sekali palsunya. Jika ada yang mengganjal di hati saya selain tidak adanya chemistry, dubbing plus subtitle yang membuat kepala terasa cenat cenut dan product placement yang muncul seenak udel, maka itu adalah aksentuasi dari para pemain. Saya sebenarnya sudah bosan membahas masalah ini karena ini adalah sesuatu yang klise namun tak ada upaya dari para sineas untuk membenahinya. Apakah bujet sebesar itu tidak sanggup untuk mendatangkan dialect coach? Terkadang terdengar sangat Jakarta, terlalu Sunda atau malah campur baur. Semrawut. Bukti bahwa sineas kita masih menyepelekan detail. Pada akhirnya upaya untuk menjadikan Di Bawah Lindungan Ka'bah menjadi sebuah film romantis yang megah layak untuk diapresiasi. Masih banyak ditemukan kekurangan, tapi jelas merupakan suatu kemajuan dibanding film sejenis semacam Ayat-Ayat Cinta dan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih. Sebenarnya Di Bawah Lindungan Ka'bah adalah sebuah film yang berpotensi menjadi sebuah suguhan yang apik, namun ternodai oleh keteledoran tim produksi yang kurang cermat dalam mengurus detail. Sungguh disayangkan.



Acceptable