Rabu, 16 Juni 2010

REVIEW : PRINCE OF PERSIA : THE SANDS OF TIME

Di mata pecinta film, film adaptasi video game telah memiliki citra buruk lantaran dari sekian banyak adaptasi tak satupun yang bisa dikategorikan sebagai film bagus. Ada satu dua yang bisa dibilang lumayan, tapi jumlahnya kalah telak jika dibandingnkan dengan yang gagal. Masih teringat di benak kita betapa buruknya kualitas Street Fighter : The Legend of Chun Li, Max Payne hingga yang disutradarai oleh Uwe Boll macam House of the Dead. Seperti sudah menjadi adaptasi kutukan karena hingga saat ini belum ada satupun yang bisa menyajikan film adaptasi video game yang memuaskan bagi penikmat game-nya, atau setidaknya bagi para penonton awam. Bisa dibilang hanya Resident Evil dan Tomb Raider yang lumayan sukses. Di tahun 2010 ini kembali hadir sebuah film yang diadaptasi dari video game populer, Prince of Persia. Disokong oleh Walt Disney dan munculnya nama Jerry Bruckheimer sebagai produser serta Mike Newell bertindak sebagai sutradara, muncul secercah harapan akan kebangkitan dari genre ini. Tapi, apakah kenyataannya seperti itu ?

Pada abad ke-6 Kerajaan Persia memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas dan terkenal memiliki tentara yang kejam. Selain memiliki raja yang bijaksana, kerajaan Persia saat itu memiliki para pangeran yang gagah berani dan menjunjung tinggi hukum. Dastan (Jake Gyllenhaal) adalah anak yatim piatu yang tiba-tiba berubah nasibnya setelah diadopsi oleh raja Persia. Walau telah memiliki dua orang putra, sang raja tetap memutuskan membawa Dastan kecil ke dalam istananya raja yang megah. Ada sesuatu dalam diri Dastan sehingga Raja mengangkatnya jadi putra ketiganya. Seiring waktu, para pangeran yang dulu kecil kini telah menjadi dewasa dan siap memimpin salah satu tentara yang paling ditakuti saat itu. Pangeran Tus (Richard Coyle) yang bakal mewarisi kursi sang ayah akhirnya memimpin pasukan Persia untuk menyerang kota suci Alamut yang dipimpin oleh seorang putri cantik bernama Tamina (Gemma Arterton). Ternyata penyerangan ke kota suci Alamut ditentang sang Ayah yang juga Raja Persia. Karena menurutnya, Raja Sharaman (Ronald Pickup), butuh lebih dari sekedar petunjuk untuk menyerang kota suci itu. Tapi pesta kemenangan tetap berlanjut dan petaka muncul pada hari perayaan jamuan besar untuk sang raja. Kematian menjemput Raja Sharaman yang dikenal bijaksana itu. Dastan yang merasa dijebak oleh Tus akhirnya diburu dan dikejar-kejar oleh pangeran Garsiv (Toby Kebbell). Dengan bantuan putri Tamina akhirnya Dastan berhasil kabur dan mencoba menjelaskan kepada sang paman Nizam (Sir Ben Kingsley) bahwa ia tidak bersalah. Kunci kebenaran Dastan terdapat pada sebuah belati milik putri Tamina yang ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar. Berhasilkah Dastan mengungkap siapa pembunuh Sharaman dan bagaimana nasib kerajaan Persia selanjutnya?

Mengharapkan Prince of Persia : The Sands of Time sebagai sebuah film adaptasi video game yang bagus adalah suatu kesalahan yang besar. Film ini memang tidak seburuk film yang telah disebutkan di atas, tapi masih jauh jika dibandingkan dengan Resident Evil maupun Tomb Raider, setidaknya bagi saya. Dari segi special effect dan adegan aksi, Prince of Persia memang unggul. Adegan Parkour yang ditampilkan dalam sebuah scene juga lumayan memukau. Hanya saja naskah garapan tim penulis skenario, Jordan Mechner – Boaz Yakin – Doug Miro – Carlo Bernard, terasa sangat dangkal dan datar. Parahnya, hal ini berimbas ke hampir semua sektor, kecuali adegan aksi tentunya. Menonton sebuah film petualangan dengan sajian aksi yang memukau tapi didukung naskah yang lemah bukanlah suatu pengalaman yang menyenangkan. Meski saya dibuat terpukau di beberapa scene, tapi tetap saja terasa ada yang kurang.

Departemen akting, sayangnya, juga tidak membantu banyak. Bisa dibilang hanya Alfred Molina yang bermain bagus disini, sementara Ben Kingsley seperti kehilangan pesonanya. Jake Gyllenhaal dan Gemma Arterton hanya bagus saat mereka berpasangan, cukup menghibur. Tapi setelah berpisah, mereka seperti kebingungan memainkan karakter mereka, bahkan Gemma masih terlihat seperti Gemma, alih – alih Princess Tamina. Nuansa romantis di film ini nyatanya juga gagal diwujudkan oleh Mike Newell. Padahal selama ini om Newell dikenal jago dalam meracik adegan romantis dalam film besutannya. Ketimbang sibuk memikirkan naskah yang penuh dengan lubang dan membuat adegan romantis, Mike Newell justru sibuk memikirkan cara menghadirkan adegan aksi yang spektakuler. Sepertinya beliau enggan menyia-nyiakan bujet yang sedemikian besar hanya untuk sajian drama romantis. Akibatnya, Prince of Persia hanyalah menjadi bagian dari pembuka sajian summer movies biasa yang mudah dilupakan. Saat ini mungkin kita dibuat terpukau olehnya, tapi beberapa tahun ke depan mungkin tak ada yang mengingat film ini. Harapan pecinta film dan game akan hadirnya film adaptasi video game yang bagus sekali lagi gugur. Sepertinya, adaptasi gim memang lahan terlarang yang harus dijauhi oleh para filmmaker yang ingin menghadirkan hiburan berkualitas ke penonton.

Nilai = 5/10

Kamis, 10 Juni 2010

REVIEW : MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK


Tidak pernah terlintas di pikiran Mayang (Lola Amaria) untuk menjadi TKW. Namun atas desakan dari sang ayah, Mayang berangkat ke Hongkong dengan tujuan untuk mencari adiknya, Sekar (Titi Sjuman) yang lebih dahulu menjadi TKW dan sekarang entah berada di mana. Mayang sendiri cenderung tidak ikhlas dalam mencari adiknya mengingat hubungan keduanya yang tidak baik. Sekar adalah anak kebanggaan sang ayah dan hampir semua orang menyayangi Sekar sementara Mayang cenderung terpinggirkan. Adalah Vincent (Donny Alamsyah), orang pertama yang mengatakan bahwa Mayang lebih cantik dari Sekar. Pada awalnya kehadiran Vincent bagi Mayang sangatlah mengganggu, tapi belakangan dia menyadari ketulusan hati Vincent dan bersedia menerima pertolongannya. Minggu Pagi di Victoria Park tidak melulu berkisah tentang Mayang yang mencari adiknya. Sejatinya film ini ingin memaparkan kehidupan TKW di Hong Kong yang bisa dibilang kehidupannya lebih beruntung jika dibandingkan dengan TKW di negara lain. Tidak mudah untuk bisa menjadi TKW di negara ini, dibutuhkan pendidikan dan keterampilan khusus.

Satu kata yang terlontar dari mulut saya seusai menonton film ini, "dahsyat!" Perfilman Indonesia tengah dilanda kekeringan yang teramat mengerikan dan sangat sulit untuk menemukan film yang kualitasnya layak tonton. Jadi jangan salahkan saya jika kemudian saya dibuat terpukau oleh Minggu Pagi di Victoria Park. Film ini memiliki kualitas jauh di atas film Indonesia lain yang dirilis 4 bulan terakhir ini. Lola Amaria mencoba menyuguhkan sebuah film dengan tema yang berbeda dan berani melawan arus dengan tidak menampilkan setan serta seks di film besutannya ini. Apa yang menjadi topik bahasan utama film ini dibahas dengan natural dan tidak berlebihan. Bahkan Lola Amaria sanggup menjadikan Minggu Pagi di Victoria Park sebagai sajian drama yang memikat meski tema yang diangkat bisa dibilang cukup berat. Ada kalanya film ini terlalu berapi - api dalam membahas permasalahan TKW dan cenderung menyindir pemerintah, tapi untungnya Lola Amaria dan Titien Wattimena, selaku penulis skenario, tidak membiarkan hal itu berlarut - larut sehingga film ini tetap enak untuk dinikmati.

Kekuatan terbesar Minggu Pagi di Victoria Park datang dari departemen akting. Titi Sjuman berhasil menunjukkan kelasnya karena berhasil membawakan karakter Sekar dengan sangat mengagumkan. Ekspresi yang dia tampilkan dalam film ini sangat luar biasa meyakinkan sehingga kita lupa bahwa dia adalah Titi Sjuman, bukan Sekar. Yang membuat saya kagum adalah cara dia melepaskan emosi kala karakter yang diperankannya ditekan masalah yang bertubi - tubi. Natural dan jauh dari kesan over-acting. Mantab! sepertinya Titi sudah memesan satu tempat untuk nominasi FFI tahun depan. Tidak hanya Titi yang berakting maksimal di film ini. Lola Amaria juga sukses membawakan peran Mayang. Meski apa yang dia tampilkan masih di bawah Titi, tapi kualitas akting yang dia tampilkan disini jelas di atas rata - rata. Penonton berhasil dibuat simpati dengan karakter yang dia perankan. Mereka seakan tak punya kesulitan berarti dalam membawakan peran ini. Sementara itu, supporting cast ternyata juga bermain dengan baik. Para aktris yang berperan sebagai TKW berakting dengan baik dan tidak kaku seperti kebanyakan aktris baru. Mereka tidak terlihat canggung meski harus adu akting dengan aktris sekelas Titi dan Lola. Donny Alamsyah juga menunjukkan kualitas aktingnya yang bagus di film ini. Sayangnya, Donny Damara justru merusak komposisi "Cast yang sempurna" ini. Ekspresi wajahnya terlalu tenang, kalau tidak mau dibilang datar, dan terlalu emosional dalam menunjukkan emosi. Segalanya dia tampilkan dengan terlalu berlebihan sehingga karakter Gandi cukup membuat saya antipati.

Tidak ditemukan masalah teknis yang cukup serius dalam film ini. Berikan pujian kepada Yadi Sugandi yang berhasil memotret keindahan Hong Kong dengan sangat manis sehingga turut membantu film ini secara keseluruhan. Penempatan lagu latar juga sangat pas dengan adegannya, membuat adegan - adegan tersebut mampu berbicara lebih banyak ke penonton.

Mengesampingkan beberapa kekurangan kecil yang ada, Minggu Pagi di Victoria Park adalah sebuah film yang menawan yang hadir di tengah keringnya film lokal yang berkualitas. Lola Amaria berhasil meraciknya menjadi tontonan drama yang berkelas dan memikat. Kepuasan berhasil saya dapatkan setelah menonton film ini. Bahkan kepuasannya melebihi kepuasan saat menonton Sex and the City 2 dan Prince of Persia setelah digabungkan. Skrip ciamik, akting yang memukau dan pengarahan yang menawan adalah kekuatan dari Minggu Pagi di Victoria Park. Jadi, apa lagi yang kalian tunggu ? segera ke bioskop dan saksikan film yang bagus ini.

Nilai = 8/10

Jumat, 04 Juni 2010

REVIEW : SEX AND THE CITY 2



The girls are back! (Ooopppsss, girls) Setelah dua tahun lalu sukses menggila di tangga box office dunia, empat sekawan dari serial TV populer yang bermigrasi ke layar lebar kembali mengunjungi fans setianya di tahun ini. New Line Cinema mengucurkan dana yang tidak tanggung - tanggung, sebesar $95 juta, untuk pembuatan sekuel Sex and the City. Dengan bujet sebesar ini, tentu kita mengharapkan sajian yang lebih mewah, meriah dan spektakuler dari Sex and the City 2. Untuk memeriahkan suasana, direkrut kembali empat cast utama serta beberapa cast dari serial TV-nya yang belum sempat tampil di prekuelnya, hadir pula Penelope Cruz, Miley Cyrus dan Liza Minnelli sebagai cameo.

Film dibuka dengan flashback bagaimana Carrie (Sarah Jessica Parker) pertama kali bertemu dengan Charlotte (Kristin Davis), Miranda (Cynthia Nixon) dan Samantha (Kim Cattrall). Setelah Carrie sedikit bernostalgia di akhir tahun 80-an, setting berpindah ke masa kini, tepatnya dua tahun setelah ending film pertama. Carrie telah menikah dengan Mr. Big (Chris Noth), Charlotte menjadi seorang ibu, Miranda adalah wanita karir dan Samantha tetap saja lajang yang menikmati petualangan memburu berondong tampan.

Keempat sahabat ini menjalani kehidupan yang lebih berat dan penuh tekanan. Carrie merasa pernikahannya dengan Mr. Big berada di ujung tanduk setelah keduanya mengalami serangkaian perbedaan pendapat, Charlotte tertekan dalam mengurus dua anaknya yang merepotkan sementara sang suami sepertinya tertarik dengan sang nanny yang gemar memakai kaus tanpa bra, Miranda menghadapi masalah dengan karirnya dan Samantha ketakutan saat menopause mulai datang menghampirinya. Di tengah tekanan yang mereka hadapi, Samantha mendapat undangan bisnis ke Abu Dhabi. Yah, namanya juga Samantha, tak akan menyenangkan perjalanan ini bagi dirinya jika tidak mengajak ketiga sahabatnya untuk turut serta. Alhasil, keempat wanita mapan yang tengah dilanda masalah ini pun terbang dan siap untuk mengguncang Abu Dhabi.

Namun sepertinya masalah enggan pergi dari mereka. Carrie bertemu kembali dengan mantan pacarnya, Aidan (John Corbett) saat berkunjung ke pasar tradisional. Masalah yang dihadapinya dengan Mr. Big membuat Carrie menjadikan Aidan sebagai pelarian. Kebudayaan yang jauh berbeda memaksa mereka menghadapi Culture Clash dimana hal ini merupakan siksaan yang teramat berat bagi Samantha. Bahkan Samantha sempat diseret ke penjara lantaran berbuat mesum di tempat umum!

Sex and the City 2 bertutur tidak jauh berbeda dengan prekuelnya, hanya saja kali ini masalah dibuat sedikit lebih kompleks. Sepertinya Abu Dhabi (syuting dilaksanakan di Moroko, pihak Abu Dhabi tidak memberi ijin syuting bagi kru Sex and the City 2) memang sengaja dijadikan jualan utama film ini. Terlihat dari kurang seriusnya penggarapan di sektor naskah dan Abu Dhabi yang mendominasi di paruh akhir film. Bisa dikatakan paruh pertama film ini berjalan cukup lambat, bertele - tele dan cenderung membosankan. Sex and the City 2 baru bisa saya nikmati setelah keempat sekawan ini menginjakkan kaki di Abu Dhabi. Plotnya teramat dangkal, padahal masalah yang dihadapi para tokoh utama ini lebih kompleks. Tim penulis skenario seakan enggan untuk menggali lebih dalam dan lebih berfokus pada kisah liburan di negeri orang. Untungnya kebosanan saya sedikit tersembuhkan dengan humornya yang lumayan menggelitik. Seperti biasa, tingkah polah dan celetukan Samantha berhasil menyegarkan saya yang sudah mulai terkantuk - kantuk. Karakter Charlotte juga dibuat lebih kocak, terutama saat dia dengan sok tahu berbicara Bahasa Arab padahal hanya mengerti sedikit.

Chemistry diantara keempat pemeran utama terjalin dengan sangat baik, malah bisa dikatakan jauh berkembang dari film pertama. Meski ada selentingan yang mengatakan bahwa hubungan mereka di lokasi syuting tidak berjalan baik, nyatanya hal ini tidak berpengaruh pada hasil akhir. Inilah yang dinamakan profesionalitas, salut! Penelope Cruz dan Miley Cyrus mendapat porsi yang sangat minim sebagai cameo, cenderung mudah dilupakan. Malah Liza Minnelli yang berhasil mencuri perhatian. Perhatikan saat dia membawakan lagunya Beyonce, Single Ladies. sangat enerjik! tak terlihat seperti wanita berusia 60-an. Dari cast pria, semua bermain lumayan bagus. Tak ada yang mencuri perhatian, mungkin pemeran Guarau yang sedikit menonjol.

Sulit rasanya bagi penonton pria untuk bisa menikmati film ini, kecuali fans beratnya. Sex and the City 2 memang ditujukan untuk penonton wanita dan para fans. Namun bukan itu yang membuat saya sebal, karena saya sudah hafal betul bagaimana chick-flick bertutur. Kedangkalan naskah yang digarap oleh tim penulis skenario membuat saya dongkol. Saya tahu film ini ditujukan buat film hiburan di musim panas, tapi bukan berarti naskah bisa digarap seenaknya. Padahal saya mengharapkan konflik yang lebih greget dan nendang dari masalah yang dihadapi empat sekawan. Yang lebih unik lagi, ketimbang sibuk memikirkan lubang naskah, tim penulis malah sibuk mengritik cara berpakaian wanita Muslim di Timur Tengah. Mungkin mereka tidak ada maksud untuk mengritik, namun apa yang mereka sajikan ini telah menyinggung isu yang sangat sensitif. Ah, lupakan saja hal ini dan anggaplah sebagai hiburan semata. Sementara itu, untuk parade fashion, jelas Sex and the City adalah jagoannya. Bagi kalian penikmat fashion mungkin akan betah menikmati film berdurasi 146 menit ini hingga akhir. Secara keseluruhan, Sex and the City 2 sebenarnya cukup menyenangkan untuk ditonton kala senggang. Hanya dibutuhkan mood yang baik dan sedikit pengetahuan mengenai franchise Sex and the City.

Nilai = 5/10

REVIEW : SEHIDUP (TAK) SEMATI

Titan (Winky Wiryawan) dan Helena (Fanny Fabriana) adalah pasangan suami istri yang saling mencintai dengan kehidupan yang mapan namun sayangnya belum dikaruniai momongan. Ulang tahun pernikahan pertama mereka yang diharapkan akan menjadi malam yang indah berubah menjadi musibah tatkala asma Helena kambuh sementara dia lupa membawa obat hirup miliknya. Helena meregang nyawa di toilet restauran. Namun sebuah janji yang diucapkan Helena sebelum dia meninggal membuat arwahnya tertinggal di dunia dan menghantui Titan. Hanya Titan seorang yang bisa melihat Helena sementara orang di sekeliling Titan menganggapnya berhalusinasi lantaran terpukul atas kematian istrinya. Anak buahnya di kantor bahkan menyarankan Titan untuk berkonsultasi ke psikiater yang mana justru mengirimkan seorang mahasiswi bernama Olin (Joanna Alexandra) untuk observasi. Pada awalnya, kehadiran Olin menjadi gangguan bagi Titan lantaran Olin terus mengikuti Titan kemanapun Titan pergi sehingga tak ada lagi ruang privasi bagi dia. Seiring berjalannya waktu, Titan mulai menerima kehadiran Olin yang ternyata diam - diam memiliki perasaan terhadap Titan. Sementara itu, arwah Helena justru mendorong Titan untuk merebut hati Irene (Astri Nurdin), bos Helena. Meski keduanya baru bertemu beberapa kali, Titan dan Irene cepat akrab karena Irene memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan Helena. Hati Titan mantap, Irene adalah sosok yang tepat untuk menggantikan Helena. Cincin pernikahan siap untuk disematkan ke jari Irene dan arwah Helena pun sudah siap untuk meninggalkan dunia karena tugasnya untuk mencarikan istri bagi sang suami dirasa telah selesai. Tapi, mengapa Helena tidak kunjung bisa meninggalkan Titan ? apa Helena telah melakukan kesalahan karena menjodohkan suaminya dengan Irene ?

Sepertinya sulit bagi film lokal bergenre non komedi seks dan horror menggelikan untuk bisa meraup banyak penonton selama peredarannya di bioskop. Saat saya menonton film ini, tercatat hanya ada 6 orang (termasuk saya dan teman) yang memenuhi gedung bioskop berkapasitas 150 kursi tersebut. Di teater sebelah yang memutar Dendam Pocong Mupeng malah dipenuhi penonton meski versi home video sudah dirilis. Ironis, bukan ? Menonton film dengan ditemani segelintir orang memang cukup menyenangkan karena bebas gangguan, tapi di sisi lain saya juga merinding lantaran dalam satu scene diceritakan arwah Helena mengikuti suaminya yang sedang kencan di bioskop (hiiiiii....) Oke, sudah cukup curhatnya. Mari kita bahas saja filmnya.

Sehidup (tak) Semati sejatinya menawarkan ide yang fresh bagi perfilman Indonesia yang tengah digempur oleh banyaknya komedi seks dan horror yang tidak masuk akal meski sudah tidak lagi menjanjikan banyak penonton. Niat duo Hilman Mutasi dan Lanri Jaya untuk menghadirkan kisah yang berbeda dalam skenario buatan mereka patut diapresiasi lebih meski pada kenyataannya hasil akhir tidak seperti yang diharapkan. Iqbal Rais yang naik daun berkat The Tarix Jabrix kurang berhasil mengejewantahkan tulisan duo penulis skenario ke dalam bentuk film. Padahal dari segi ide cerita, Sehidup (tak) Semati cukup menarik. Entah apa yang salah, namun film ini tak ubahnya FTV yang biasa kita saksikan tiap hari lewat layar kaca. Memang sih ada beberapa scene yang mengingatkan kita kepada film romantic comedy buatan Hollywood, namun itu saja tidak cukup untuk mengantarkan film ini ke jajaran film terpuji. Saya merasa dialog yang ada dalam film ini terlalu cheesy, mengingatkan kepada dialog yang sering dilontarkan dalam FTV. Kehadiran duo pelawak Faqih - Rina yang diharapkan bisa membawa nuansa konyol justru menodai film ini. Humornya sangat garing dan sering kita temui dalam sinetron, lawakan antara supir dan pembantu rumah tangga. Sungguh menyebalkan! Justru H. Bolot tampil lumayan lucu di film ini meski perannya tak jauh berbeda dengan peran - peran dia sebelumnya.

Fanny Fabriana yang tampil manis di Hari Untuk Amanda sekali lagi membuktikan kepiawaian aktingnya di film bergenre romcom. Memang aktingnya kali ini tak sebagus saat dia menjadi Amanda, tapi masih lebih bagus ketimbang akting Dewi Perssik, Cynthiara Alonara dan Rahma Azhari disatukan. Pemilihan peran yang tepat bisa membuat Fanny menjadi artis besar nantinya. Chemistry dia dengan Winky juga cukup berhasil meski (lagi - lagi) tidak senendang saat dia dipasangkan dengan Oka Antara di Hari Untuk Amanda. Ah, Fanny membuat saya terus membandingkan film ini dengan Hari Untuk Amanda. Winky Wiryawan bermain bagus sebagai Titan, begitu pula Joanna yang membawakan peran Olin dengan pas. Justru dandanan Olin yang terkesan dipaksakan. Scene stealer kali ini saya serahkan kepada Astri Nurdin yang membawakan peran Irene dengan manis dan kalem. Bisa jadi dia adalah salah satu alasan utama mengapa saya bisa terus melek hingga akhir film, hehe..

Usaha duo penulis skenario dan Iqbal Rais untuk memberi sajian yang berbeda ke penonton Indonesia memang patut diacungi dua jempol. Sehidup (tak) Semati bebas dari adegan seks maupun terror hantu dengan make-up yang berlebihan. Sayangnya, film ini berusaha terlalu keras untuk menjadi tayangan romcom yang berkualitas sehingga hasil akhir yang didapat kurang memuaskan. Film ini memang bertutur dengan cukup manis di beberapa bagian, namun unsur komedinya yang kelewat banyak justru merusak esensi cerita romantisnya. Seandainya saja duo pelawak dan humor dituturkan dengan lebih lembut, bukan tidak mungkin Sehidup (tak) Semati menjadi film romcom yang manis.

nilai = 4/10

Sabtu, 29 Mei 2010

REVIEW : EUROPE ON SCREEN 2009

Sembari menunggu saya bisa mendapatkan waktu untuk nonton film di bioskop atau DVD tercinta, saya posting dulu review saya hasil impor dari blog seberang tentang Europe On Screen 2009. Oke? tak apalah terlambat daripada tidak sama sekali. hehe..

Europe On Screen kembali digelar tahun ini. Dengan tema "Faces of Europe", EOS menghadirkan 42 film dari negara-negara Eropa. Acaranya sendiri sudah digelar sejak 30 Oktober hingga 29 November 2009 di 9 kota besar Indonesia. Beruntung banget Semarang kembali disinggahi roadshow EOS sehingga saya bisa menikmati film-film Eropa yang berkualitas tinggi dengan gaya penuturan yang cenderung unik. Di Semarang sendiri EOS digelar di Magister Manajemen Universitas Diponegoro selama 2 hari, 24 - 25 November 2009. Kebetulan saya menjadi salah satu panitia acara sehingga bisa menikmati semua film yang diputar dalam 2 hari itu Hmpfh


Seperti halnya kota lain di luar Jakarta, hanya beberapa film saja yang diputar di Semarang, tepatnya ada 6 film. Tidak seperti tahun lalu, kali ini Semarang mendapat jatah banyak film bagus yang tidak hanya bermutu tetapi juga menghibur. Hebatnya, hampir semua film yang diputar di Semarang merupakan film Box Office di negaranya. Bahkan FC Venus sendiri tercatat sebagai film lokal terlaris 2005 di Finlandia.

Film" yang diputar di Semarang :

HOW TO SURVIVE MYSELF (Belanda, 2007, Drama)

Film ini berkisah tentang seorang gadis berusia 13 tahun bernama Rosa yang terpaksa pindah ke rumah barunya bersama dengan ibu dan adik tirinya untuk tinggal bersama ayah barunya. Rosa yang punya imajinasi tinggi ini mengalami krisis percaya diri seperti yang dialami remaja pada umumnya dan ia berusaha untuk mengubah dirinya. Di tempat tinggal barunya ini Rosa menghadapi masalah" seputar teman, cinta, perasaan minder, ayah tirinya dan alter egonya yang bernama Rooz.

How to Survive Myself (HTSM) memang cocok dijadikan sebagai film pembuka. Kisahnya cenderung sangat remaja dengan taburan soundtrack yang easy listening. Film ini sangat asyik ditonton terlebih saat Rooz mulai hadir dan imajinasi" Rosa yang sangat aneh semakin sering dimunculkan. Problem yang dihadapi Rosa terasa nyata karena apa yang terjadi padanya sangat mungkin terjadi kepada remaja lain. Meski bergenre drama, nyatanya unsur komedi disini juga sangat kuat. Lucu, seru dan mengharukan. Pada akhirnya, solusi terbaik bagi Rosa adalah "Be Yourself!"

nilai = 7/10

IL PAPA DI GIOVANNA (Italia, 2008, Drama)

Bersetting di Bologna pada tahun 1938 hingga 1953 selama tahun" kekuasaan Fasisme, film ini menceritakan tentang Michele Casali yang dihadapkan pada situasi yang sangat tidak terduga dan membuatnya putus asa. Putri semata wayangnya, Giovanna, telah membunuh sahabat baiknya karena cemburu. Dia diputuskan mengidap penyakit kejiwaan dan dikirim ke rumah sakit jiwa. Satu"nya orang yang peduli terhadap Giovanna hanyalah ayahnya sendiri. Ibunya menjauh dan Giovanna menjadi sampah masyarakat.

Butuh kesabaran ekstra untuk menikmati film ini lantaran alurnya yang sangat lambat dan dialog na pun kelas berat. Meski demikian, inilah film favorit saya di EOS 2009. Permainan akting trio Silvio Orlando, Francesca Neri dan Alba Rohrwacher bener" jempolan dan kelas wahid! Akting yang ciamik masih didukung dengan sisi teknis yang mengenaskan dimana sinematografi dan tata artistik na begitu indah, naskah yang kuat dan penyutradaraan yang baik. Il Papa di Giovanna memang bukan film untuk semua orang, tapi itulah keistimewaan film ini. Tidak hanya ibu yang memiliki kasih sayang yang tulus, ayah juga bisa melakukannya.

nilai = 9/10 Love Struck

FLY BY ROSSINANT (Bulgaria, 2007, Komedi)

Dari semua film yang diputar di EOS 2009, inilah yang memiliki jalinan kisah paling simple. Inti ceritanya hanyalah sejumlah musisi Bulgaria yang melakukan pertunjukkan di seluruh Eropa. Suatu pagi mereka melakukan konser di Graz dan malam harinya harus berada di Wina untuk acara gala.

Sangat menghibur. Selama 84 menit kita disuguhi aksi" kocak para musisi dalam perjalanan mereka ke Wina. Para musisi berbagi pengalaman" seru mereka sebelum atau saat bergabung dengan grup ini. Semuanya aneh, tidak masuk akal, konyol dan seru. Pokoknya sangat liar dan tidak terduga deh! Ada saja kejadian yang mereka alami, dari terjebak di pertengkaran antar pendukung tim sepakbola hingga terjebak di sebuah gubuk yang berada di tengah hutan dan disertai dengan hujan deras serta mati lampu. Film ini sukses membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Sayangnya, penokohan di film ini sangat lemah sehingga kita kurang mengenal para tokohnya yang sangat banyak itu.

nilai = 7/10

WONDERFUL AND LOVED BY ALL (Swedia, 2007, Komedi)

Isabella Eklof hampir selalu mengalami ketidakberuntungan saat mencoba ikut casting. Dia bermimpi menjadi seorang aktris, tapi ternyata mendapat sebuah peran tidak semudah yang ia bayangkan. Dengan memalsukan CV, Isabella secara tidak terduga mendapat peran di sebuah drama yang ditangani oleh sutradara terkenal. Awalnya ini bagaikan mendapat durian runtuh, menyabet peran yang menjadi impian semua aktris, berkencan dengan aktor terkenal dan kesuksean yang di depan mata. Sayangnya semua tidak berjalan sesuai rencana. Isabella mendapat masalah dengan CV yang ia palsukan dan mengetahui sosok sebenarnya dari sang kekasih.

Komedi romantis yang menghibur dan sangat manis. Unsur komedinya dominan, humor-humor yang segar dan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Pemandangan indah kota Stockholm yang menjadi daya tarik film ini. Chemistry antara Martina Haag dan Nikolaj Coster-Waldau juga terjalin dengan baik. Alurnya berjalan dengan cepat sehingga film ini terasa tidak membosankan meski hal ini mengakibatkan beberapa masalah kurang digali secara mendalam sehingga menyebabkan kebingungan penonton. Nilai plus buat endingnya sangat kocak dan tak terlupakan LOL

nilai = 7/10

FC VENUS (Finlandia, 2005, Komedi)

Anna dan Pete adalah pasangan yang hidup bahagia di Helsinki. Pete sangat menggemari olahraga sepakbola dan bermain dilam tim bernama FC HeMan yang merupakan liga sepakbola yang paling rendah. Timnya buruk, tetapi tetap saja para pemainnya bermain dan hidup dari sepakbola. Anna sangat membenci olahraga ini namun ia tidak ikut campur dengan hobi suaminya ini karena dia mencintai suaminya. Kesabaran Anna mulai mencapai batas tatkala suaminya telah memesan tiket ke Jerman bersama teman-teman timnya untuk menonton Piala Dunia. Tercetuslah ide gila di pikiran Anna, dia menantang tim suaminya untuk bertanding sepakbola. Tim yang diberi nama FC Venus ini terdiri dari istri/kekasih dari anggota tim FC HeMan. Jika Anna dkk bisa menang, Pete dkk harus berhenti bemain bola. Sebaliknya, jika HeMan yg menang, para istri harus berhenti komplain.

Pada awalnya FC Venus tidak ada dalam jadwal tayang di Semarang, namun karena problem teknis FC Venus dijadikan sebagai film pengganti. Komedi non-stop dari awal hingga akhir, sukses membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal tanpa henti LaughingSangat kocak, cocok dijadikan sebagai tontonan di kala sedang bete atau stres. Dijamin 100 % kocak! Ceritanya sangat klise tetapi pengemasannya yang menarik membuat film ini terasa segar dan seru buat diikuti. Menyaksikan sekumpulan wanita yang sama sekali nol soal sepakbola harus berlatih dan bertanding sepakbola bener" bikin perut sakit, kocak banget! Bahkan anggota timnya juga ga ada yang beres ; wanita yang naif dan polos, gay yang sangat lebay (yg ini beneran kocak LOL) sampai anggota yang sok tau. Sulit menemukan kelemahan film ini karena saya sendiri sangat terhibur dengan kisahnya.

nilai = 8/10

NOAH'S ARK (Hungaria, 2007, Drama)

Tentang seorang kakek bernama Ede Stock yang hidup bersama cucu perempuannya serta seorang sahabat di sebuah blok bangunan di Budapest. Penghuni blok yang sangat padat ini saling membenci satu sama lain, bahkan cucu Ede juga tidak menyukai Ede. Suatu ketika, Ede bersama cucunya mendaftar sebuah acara bertajuk "Kakek terhebat" dimana pemenangnya mendapat hadiah uang yang sangat banyak. Para penyewa mulai bekerja sama menyiapkan duo kakek-cucu untuk acara tersebut. Tanpa disadari, hal ini mampu menyatukan seluruh penghuni blok yang awalnya saling membenci sehingga menciptakan suatu komunitas.

Jujur, inilah satu-satunya film yang gak saya pahami d EOS. Komentar dari para penonton pun senada, mereka tidak memahami film ini dan beberapa meninggalkan gedung di pertengahan film. Ceritanya sangat kompleks dan cenderung absurd, sepertinya banyak sekali simbol bermunculan di sepanjang film. Hal ini diperparah dengan lambatnya alur serta banyaknya tokoh yang harus diperhatikan satu persatu. Noah's Ark dimulai dengan unsur komedi yang kuat namun menginjak pertengahan film tone mulai suram dan gelap. Film yang sangat berat dan tidak cocok dijadikan sebagai tontonan hiburan. Akting Dezco Garas dan Ferenc Kallai yang ciamik nyatanya tak mampu menyelamatkan film ini. Sialnya, Noah's Ark dijadikan film penutup Headache

Btw, cucu Ede mengingatkanku pada Allison Iraheta Giggle

nilai = 5/10

Itulah kesan-kesan saya terhadap film yang diputer di EOS Semarang tahun ini. Bagaimana dengan kalian, adakah yang memiliki film favorit yang sama denganku? Atau kalian terlalu asyik mengantri buat 2012 dan New Moon sehingga melupakan sajian berkualitas yang gratis ini? Hip

Ah, tak sabar rasanya menunggu EOS tahun depan, penasaran dengan film" yang akan disajikan.

REVIEW : HARI UNTUK AMANDA


Pernikahan Amanda (Fanny Fabriana) dan Doddy (Reza Rahardian) akan berlangsung sepuluh hari lagi, sedangkan Doddy masih disibukkan dengan pekerjaannya dan hampir tidak membantu Amanda dalam persiapan pernikahan yang membuat Amanda harus mengurus semuanya sendirian. Di tengah kesibukannya itu, mantan pacar Amanda, Hari (Oka Antara), kembali muncul dalam kehidupan Amanda. Karena Doddy tak bisa diandalkan, akhirnya Amanda meminta Hari untuk mengantarnya membagikan undangan. Dalam perjalanan inilah, kenangan - kenangan indah Hari dengan Amanda selama delapan tahun bersama, bangkit kembali. Hari berusaha meyakinkan Amanda bahwa dirinya bukanlah Hari yang dulu dan dia pantas untuk mendampingi Amanda. Hati Amanda mulai bimbang. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih mencintai Hari. Namun tak mungkin untuk membatalkan pernikahannya dengan Doddy yang juga sangat dicintainya meski Doddy telah membuatnya kesal karena membatalkan janji demi pekerjaan. Hari atau Doddy ?

Setelah ditunda beberapa bulan, akhirnya Hari Untuk Amanda resmi dirilis pada bulan Januari 2010. Rilis tanpa promosi yang gila - gilaan di tengah gempuran banyak film besar membuat Hari Untuk Amanda hampir tak terlihat bahkan film ini hanya bertahan beberapa hari saja di bioskop dan saya pun belum berkesempatan untuk menyaksikannya kala itu. Untunglah MNC berbaik hati dengan merilisnya dalam format home video sehingga saya pun bisa menontonnya dan mengoleksinya.

Tidak pernah terbersit di pikiran saya untuk menonton Hari Untuk Amanda terlebih setelah melihat judul dan desain posternya yang terkesan sinetron banget. Bahkan saat teman saya gembar - gembor mengenai film ini, saya juga tidak kunjung tertarik. Setelah membaca komen dari beberapa teman, akhirnya saya luluh juga dan menjajal film ini. Hasilnya ? Wow, Hari Untuk Amanda jelas bukan sebuah film drama romantis biasa, Excellent ! Saya hampir tidak bisa berkata - kata setelah menonton film ini. Rasanya sudah lama saya belum menonton film drama romantis buatan dalam negeri yang sedemikian bagusnya. Kisahnya sangat simple dan tidak jauh dari kehidupan sehari - hari dikemas dengan sangat manis dan menyentuh. Tidakimenyuguhkan sebuah kisah romantis yang picisan, sebaliknya Hari Untuk Amanda bertutur dengan realistis dan dewasa. Dialognya pun cerdas dan nendang, tidak cheesy apalagi gombal. Dua jempol buat Salman Aristo dan Ginatri S. Noer yang berhasil meracik sebuah skenario yang simple nan cerdas. Angga Dwimas Sasongko juga perlu kita beri tepukan tangan setelah belajar dari kesalahan Jelangkung 3 dan berhasil membuat film seindah ini.

Namun skenario yang ciamik dan pengarahan yang menawan tidak akan berhasil tanpa dukungan cast yang mumpuni. Semua cast dalam film ini bermain dengan sangat baik, meski tampil hanya sekadar sebagai cameo. Pujian tertinggi patut dialamatkan pada Oka Antara yang bermain dengan sangat gemilang dalam film ini, mungkin ini adalah akting terbaik dia. Oka berakting sangat meyakinkan sehingga sulit bagi kita untuk tidak bersimpati atau malah jatuh cinta pada karakter Hari. Chemistry Oka Antara dengan Fanny Fabriana juga luar biasa. Fanny yang notabene pendatang baru, mampu mengimbangi akting Oka Antara dan chemistry yang mereka ciptakan begitu natural. Reza Rahardian juga bermain bagus, sayangnya porsi tampil yang sedikit membuat dia kurang bisa menunjukkan kemampuan aktingnya lebih dalam. Para cameo semacam Kinaryosih, Indra Herlambang dan Ida Kusumah tampil tidak mengecewakan meski hanya sebentar. Bahkan kemunculan Kinaryosih cukup menarik perhatian (ehemmm...) Kehebatan di sektor naskah dan akting masih ditunjang dengan musiknya yang keren. Hari Untuk Amanda memiliki soundtrack yang bagus. Penggunaan lagu sebagai background juga sangat pas. Bahkan hal ini membuat beberapa adegan terasa bernyawa dan menyentuh. Tercatat ada tiga band yang menyumbangkan lagunya ; Alexa, Pure Saturday dan Music ForSale. Favorit saya adalah tembang So Right dari Music For Sale. Ah, sangat manis...

Nilai = 9/10
Tak pelak lagi, Hari Untuk Amanda adalah salah satu film drama lokal terbaik yang pernah dibuat. Akting dan pengarahan yang menawan, skrip yang cerdas dan soundtrack yang pas membuat Hari Untuk Amanda sayang buat dilewatkan. Sedikit saran dari saya, siapin tissue saat menonton film ini siapa tahu kalian nangis bombay (hiksss...)

Sabtu, 15 Mei 2010

REVIEW : ALICE IN WONDERLAND


Alice Kingsleigh (Mia Wasikowska) yang kini berusia 19 tahun berada dalam situasi yang tidak menyenangkan setelah ayahnya meninggal. Sang ibu sangat terobsesi ingin memiliki menantu bangsawan sampai merancang sebuah pesta pertunangan Alice dengan Hamish Ascot tanpa sepengetahuan Alice. Ketika Hamish hendak melamar Alice, Alice melihat kelinci putih yang sering dia temui dalam mimpinya. Alice memutuskan untuk mengejar kelinci tersebut ke labirin hingga ia terperosok ke dalam lubang kelinci yang membawanya ke Underland. Alice merasa pernah mengunjungi negeri ini, namun ia sama sekali tidak mengingatnya. Dengan bantuan dari sahabat lama, seperti Tweedledee dan Tweedledum, Cheshire Cat, Caterpillar hingga Mad Hatter (Johnny Depp), Alice bisa mengingat kembali apa yang terjadi dengannya sepuluh tahun yang lalu. Saat ini Alice menjadi satu - satunya harapan penghuni Underland untuk membantu The White Queen (Anne Hathaway) menyingkirkan The Red Queen (Helena Bonham Carter) dari tampuk kepemimpinan.

Alice in Wonderland ternyata hadir dengan sangat mengecewakan. Tim Burton seolah kehilangan sentuhan magisnya saat membesut film ini. Alurnya sangat predictable, kita sudah tahu akan digiring ke mana sejak menit - menit awal, dan memang endingnya tidak memberikan kejutan sama sekali terkesan terburu - buru malah. CGI yang digunakan juga dirasa terlalu berlebihan, saya mencatat ada beberapa adegan yang kentara sekali CGI-nya alias kasar. Dengan bujet sekitar $200 juta, sangat disayangkan adegan semacam ini masih tertangkap oleh penonton awam. Tapi bukan berarti CGI yang ada dalam film ini buruk, hanya saja pengerjaannya kurang maksimal untuk beberapa adegan. Tetap saja saya masih dibuat terpukau oleh pameran CGI yang menghiasi sepanjang film. Tim Burton juga mempertahankan ciri khasnya, gambar yang penuh warna nan misterius. Saya cukup yakin Alice in Wonderland akan mendapat nominasi Oscar untuk kategori tata artistik. Untuk yang satu ini Tim Burton memang jagonya dan jujur saja, ciri khasnya inilah salah satu alasan mengapa saya "jatuh cinta" dengan Tim Burton. Visualisasi yang ciamik dan CGI yang bertaburan di sepanjang film mampu sedikit menambal lubang di sektor naskah.

Dari segi akting, Helena Bonham Carter adalah yang terkuat. Dua jempol saya acungkan atas kehebatan Helena memerankan The Red Queen dengan sangat ciamik. Menurut saya, inilah peran terbaik dia di film garapan sang kekasih. Saya tidak bisa membayangkan The Red Queen diperankan oleh artis lain, sungguh, akting Helena membuat saya terpesona. Semoga saja juri Oscar meliriknya. Johnny Depp seperti biasa berakting dengan cemerlang. Terbiasa dengan peran semacam ini, Mad Hatter dibawakannya dengan sangat luwes. Tak ada kesulitan berarti. Hanya saja untuk kali ini Johnny Depp terpaksa menyerahkan predikat "scene stealer" kepada Helena Bonham Carter. Anne Hathaway juga cukup lucu berperan sebagai The White Queen. Beberapa kali saya dibuat tertawa ngakak melihat tingkat polah si Ratu Putih yang "ajaib". Semakin membuktikan bahwa Anne Hathaway adalah artis serba bisa. Jika pemilihan perannya tepat, bukan tidak mungkin dia akan menjadi artis besar nantinya. Sementara itu, Mia Wasikowska tampil sangat mengecewakan. Entah atas pertimbangan apa Tim Burton memercayakan peran Alice kepada Mia, tapi yang jelas dia tidak bisa akting. Mungkin saya sedikit kejam, tapi pada kenyataannya Mia gagal total membawakan peran Alice. Terlalu kaku. Sorry, Mia...

Meski ternyata Alice in Wonderland tidak seperti ekspektasi kebanyakan orang, bukan berarti film ini tidak bisa dinikmati. Untuk hiburan ditonton bersama keluarga, Alice in Wonderland bisa dikatakan sebagai pilihan yang tepat. Unsur hiburan dan fun dari film ini masih terbilang lumayan, meski dari segi cerita sangat biasa dan cenderung datar. Sepertinya, Alice in Wonderland memang ditujukan untuk hiburan keluarga dan ditonton kala senggang. Karena jika kita mencari film berkualitas yang menghibur, akan dibuat kecewa olehnya. Tidak seburuk Mars Attack, tapi juga belum bisa dikatakan bagus. So so..

Nilai = 6/10