Kamis, 01 Juli 2010

REVIEW : ECLIPSE



Buruknya kualitas New Moon membuat para penonton, terutama yang bukan berasal dari kalangan Twi-hards, memandang rendah Twilight Saga dan emoh untuk menyaksikan kelanjutannya karena kadung dibuat kecewa. Tapi bagi para Twi-hards dan pecinta film, seburuk apapun kualitas versi film dari saga ini tetap wajib untuk disaksikan. Beberapa perubahan dilakukan supaya Eclipse terlihat lebih segar, terutama perubahan di bangku penyutradaraan serta jajaran cast. Chris Weitz tidak lagi bertindak sebagai sutradara, kali ini tampuk penyutradaraan diserahkan kepada David Slade. Beberapa nama baru ikut bergabung dalam Eclipse, seperti Bryce Dallas Howard, Catalina Sandino Moreno, Jodelle Ferland dan Xavier Samuel. Jika tiga nama terakhir masuk karena adanya penambahan karakter baru, maka posisi Bryce Dallas Howard disini sebagai pengganti Rachelle Lefevre untuk memerankan Victoria.

Isabella Swan (Kristen Stewart) sudah mantap untuk mengubah dirinya menjadi vampire demi menikahi kekasih idamannya, Edward Cullen (Robert Pattinson). Akan tetapi, Jacob Black (Taylor Lautner) masih saja membayangi kehidupan Bella dan meminta Bella untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Dasar Bella, sedikit saja masalah yang dibuat oleh Edward dan hadirnya kembali sosok Jacob dalam hidupnya membuat dia kembali mengalami kebimbangan. Di satu sisi dia sangat mencintai Edward sementara di sisi lain Bella tidak mau kehilangan Jacob. Alhasil, hubungan ketiga tokoh utama ini pun menjadi sangat ruwet hingga durasi film hampir seluruhnya dihabiskan hanya untuk menyoroti permasalahan mereka. Agar tidak kelihatan seperti chick-flick biasa, maka perlu ditambahkan pertarungan antara vampir baru dengan keluarga Cullen plus para werewolf. Dikisahkan Victoria (Bryce Dallas Howard) ingin membalas dendam atas kematian orang yang paling dicintainya. Untuk itu dia membentuk pasukan vampir baru yang dipimpin oleh Riley (Xavier Samuel) dengan tujuan membunuh Bella agar Edward merasakan penderitaan yang dialami oleh Victoria.

Sebelum menyutradarai Eclipse, David Slade tercatat pernah membesut film vampire berjudul 30 Days of Night yang sukses tidak hanya di tangga box office tetapi juga secara kualitas. Bersyukur Eclipse memiliki seorang David Slade sebagai sutradara. Berbeda dengan dua sutradara sebelumnya, David Slade seakan tidak begitu kesulitan dalam mengarahkan film ini. Dia menggunakan kembali formula yang telah ia terapkan dalam 30 Days of Night sehingga Eclipse tidak terlihat selembek dua pendahulunya. Kelam, keras, sadis dan sedikit mengandung muatan seksual. Semua ini membuat Eclipse menjadi lebih menarik untuk ditonton meski sayangnya dialog – dialog panjang nan gombal tetap saja menghiasi.

Trio pemain utama ; Kristen Stewart, Robert Pattinson dan Taylor Lautner, masih saja memainkan karakternya dengan datar meskipun Twilight Saga sudah memasuki babak ketiga. Bedanya, mereka sudah terlihat nyaman dengan karakter yang mereka perankan. Sebenarnya bukan salah mereka juga bermain datar karena pada dasarnya karakter rekaan Stephenie Meyer ini begini adanya. Tapi sekali lagi saya terpaksa membandingkan dengan akting dari para pendukungnya. Anna Kendrick meskipun hanya tampil secuil memerankan Jessica, nyatanya mampu menunjukkan kualitas akting yang lebih bagus. Dakota Fanning berhasil membuat penonton ketakutan dengan karakter Jane sementara Bryce Dallas Howard sukses membuat kita kesal terhadap Victoria. Bahkan Catalina Sandino Moreno, Xavier Samuel dan Jodelle Ferland aktingnya lebih hidup dan memorable meski ini pertama kalinya mereka gabung di saga ini. Sementara Stewart, Pattinson dan Lautner hanya bisa membuat penonton bosan dengan karakter mereka. Pertengkaran Edward dan Jacob terlihat tidak meyakinkan begitu pula dengan berbagai ekspresi yang ditunjukkan Bella. Flat.

Special effects juga tidak membantu banyak. Tapi werewolf yang ditunjukkan disini terasa lebih hidup ketimbang saat beraksi di New Moon yang terlihat sangat tidak nyata. Sepertinya sebagian besar bujet dihabiskan untuk membayar pemainnya sehingga special fx dikerjakan kurang maksimal. Saya juga merasa sedikit tidak nyaman dengan editing. Di beberapa scene potongannya terasa kasar, malahan ada yang terkesan jumping, seperti saat Bella mengunjungi ibunya. Entah dimaksudkan seperti itu atau tidak, tapi yang pasti lumayan mengganggu. Poin lebih dari Twilight Saga adalah pemilihan lagu untuk soundtrack-nya yang selalu enak. Muse masih menjadi ujung tombak soundtrack instalmen ketiga ini, disamping hadir pula Vampire Weekend, Florence + The Machine, Sia hingga The Black Keys.

Eclipse memang lebih baik ketimbang Twilight maupun New Moon, tetapi film ini rasanya masih sulit diterima bagi mereka yang kecewa dengan New Moon maupun penonton yang tidak akrab dengan novel garapan Stephenie Meyer. Memang Eclipse lebih man-friendly dengan menyuguhkan banyak adegan aksi serta nuansanya yang dibuat kelam, tetapi adegan romansanya yang kelewat lebay serta dialog panjang sok puitis yang jatuhnya malah jadi gombal berpotensi menciptakan kebosanan penonton. Penulis skrip, Melissa Rossenberg, tidak berusaha untuk meminimalisir adegan ini sepertinya karena takut akan mengecewakan Twi-hards. Mengesampingkan semua kekurangan ini, saya cukup puas dengan Eclipse. Meskipun adegan romantisnya membuat saya ingin muntah, tapi David Slade berhasil menghadirkan nuansa kelam dan adegan aksi yang lebih baik daripada dua sutradara sebelumnya yang jelas gagal total dalam mengejawantahkan isi novel ke dalam bentuk film.

Nilai = 5/10

Sabtu, 26 Juni 2010

REVIEW : MESSENGERS 2 : THE SCARECROW


John Rollins (Norman Reedus) harus berjuang untuk menyelamatkan ladang dan keluarganya di saat yang bersamaan. Padang jagungnya mengalami kekeringan lantaran sistem irigasi yang tidak bekerja, semakin bertambah parah dengan hadirnya serombongan burung gagak. John juga berhutang pada bank. Seorang kawan lamanya membujuk John untuk menjual ladangnya, namun ia menolak dengan tegas karena mencium gelagat tidak baik dari kawannya tersebut. Suatu ketika, John menemukan pintu di gudang gandum miliknya dimana dia menemukan sebuah orang - orangan sawah berbentuk aneh. Atas saran dari Jude Weatherby (Richard Riehle), tetangga baru yang misterius, John memasang orang - orangan sawah tersebut di ladang jagung. Semenjak itu, kehidupan John berubah. Padang jagungnya subur dengan irigasi yang lancar, burung gagak bertumbangan hingga kondisi finansial yang membaik. Bukannya senang, John justru merasa takut karena untuk mendapatkan semuanya ini memerlukan tumbal. Siapapun yang menghalangi John akan disingkirkan, tidak terkecuali keluarganya sendiri.



Messengers 2 : The Scarecrow adalah prekuel dari film besutan the Pang Brothers, The Messengers. Dibintangi oleh aktris utama dari The Twilight Saga, Kristen Stewart, film tersebut mendulang dollar dalam jumlah yang lumayan banyak pada tahun 2007 lalu. Berharap meraih kesuksesan yang sama, Stage 6 Films memutuskan untuk membuat prekuelnya 2 tahun kemudian dan langsung dirilis ke dalam bentuk home video tanpa melalui layar bioskop di US. Untuk kawasan di luar Amerika, termasuk Indonesia, Messengers 2 : The Scarecrow sempat mencicipi masa tayang beberapa minggu di bioskop sebelum akhirnya terjun ke DVD tidak lama setelahnya.

Mengetahui bahwa film ini langsung diterjunkan ke dalam format video membuat saya tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap film ini, bahkan cenderung meng-underestimate. Poster film dan premis ceritanya sebenarnya cukup lumayan mengundang penasaran, namun sayangnya film arahan sutradara Denmark ini tidak demikian. Opening scene-nya cukup menegangkan tapi sangat spoiler. Bisa dibilang satu - satunya adegan yang bisa membuat kita sedikit menahan nafas adalah opening scene yang spoiler ini. Sementara yang hadir dalam sekitar 91 menit ke depan hanyalah film pengantar tidur. Alurnya begitu datar, predictable dan bertele - tele. Saya tak menemukan satupun adegan yang bisa menggedor jantung, kalaupun ada bukan disebabkan oleh adegan horor yang mencekam, melainkan neng Darcy Fowers yang tercatat dua kali beradegan telanjang secara frontal disini.

Menonton Messengers 2 : The Scarecrow tak ubahnya menonton film horror bikinan sineas lokal, apalagi keduanya memiliki formula yang sama. Cerita datar yang ditutupi dengan sound yang mengagetkan, gambar yang gelap dan pameran aurat dari perempuan bertubuh aduhai. Kalau boleh sedikit spoiler, ending film ini terkesan sangat konyol dan menggelikan, jauh dari kesan menegangkan. Seperti belum cukup parah, akting para pemainnya juga minta ampun datarnya. Entah apa yang terjadi dalam diri saya, tapi rasanya saya ingin sekali melindas Claire Holt dengan traktor. Lindsey Rollins yang berada dalam posisi yang tidak diuntungkan seharusnya mampu membuat penonton simpati, tapi yang ada justru membuat saya ingin mencabut pistol milik Sheriff Milton dan menembakkannya ke semua karakter sehingga film bisa berakhir dengan bahagia. Kenyataannya film ini belum juga berakhir dan saya masih berjuang mendengar teriakan penuh 'makna' dari Claire Holt, mengasihani Darcy Fowers yang tidak memiliki pakaian di saat cuaca begitu dingin hingga Scarecrow yang membuat saya mulas karena bentuknya yang menggelikan alih - alih menyeramkan. 94 menit yang cukup menyiksa. Yang membuat saya tidak percaya, Messengers 2 : The Scarecrow adalah buatan Amerika. Setidaknya film ini cukup tahu diri dengan tidak dirilis di bioskop. Ironisnya, film "super dahsyat" ini justru bertahan cukup lama di bioskop - bioskop negara kita. What the...?

Sayangilah waktu dan uang kalian yang begitu berharga dengan menghindari film semacam ini sebagai tontonan di waktu senggang. Masih banyak film berkualitas di luar sana yang bisa dicicipi. Tujuan saya menonton film ini tidak lain sebagai pemanasan menyambut summer movies berikutnya di bulan Juli dan Agustus. Toy Story 3 rupanya telah meninggikan standar summer movies sehingga dirasa perlu bagi saya untuk menonton film kosong melompong ini sehingga jika saya kembali semangat untuk menanti film yang akan tayang berikutnya.

Nilai = 3/10
Setidaknya masih ada beberapa unsur yang bisa dibilang cukup baik. Tidak hancur seutuhnya.


Kamis, 24 Juni 2010

MODERN FAMILY (TV SERIES)


Wimbledon terlalu asyik untuk ditinggal sehingga saya terpaksa tidak menonton satu film pun minggu ini, kecuali Toy Story 3. Sebagai ganti ulasan film, saya mencoba untuk mengulas salah satu serial tv baru terbaik musim tayang 2009 - 2010 yang mulai tayang perdana di stasiun TV ABC pada tanggal 23 September 2009. Pihak ABC telah mengonfirmasi secara resmi akan melanjutkan serial ini ke season 2. Jika ditilik dari segi popularitas, Modern Family jelas kalah kalau dibandingkan dengan Glee yang sangat fenomenal. Tapi untuk urusan kualitas, bolehlah keduanya diadu. Serial yang rata - rata tiap minggunya disaksikan 9,47 juta pasang mata ini tercatat setidaknya telah mengantongi 5 penghargaan. Bahkan Modern Family disebut - sebut sebagai kandidat kuat untuk memenangkan penghargaan Best Comedy Series di ajang Emmy Awards, bersaing ketat dengan Glee.

Modern Family mengisahkan tentang kehidupan keluarga Jay Pritchett (Ed O'Neill), putrinya Claire Dunphy (Julia Bowen) dan putranya Mitchell Pritchett (Jesse Tyler Ferguson) yang tinggal di Los Angeles. Claire menikah dengan Phil Dunphy (Ty Burrell) dan dikaruniai tiga anak yang ajaib, Mitchell adalah seorang gay yang menjalin hubungan dengan Cameron Tucker (Eric Stonestreet), keduanya mengadopsi seorang bayi Vietnam bernama Lily, sedangkan Jay menikahi seorang janda Kolombia beranak satu yang usianya jauh lebih muda, Gloria (Sofia Vergara). Sepanjang 24 episode, Modern Family fokus pada permasalahan yang dihadapi oleh tiga keluarga ini. Tiap episode mengetengahkan masalah yang berbeda dan tidak memiliki kaitan sama sekali. Setting waktunya juga cenderung acak dan tidak runtut sehingga tidak masalah bagi penonton untuk melewatkan beberapa episode mengingat kisahnya juga tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Kalaupun ada, tidak berpengaruh pada keseluruhan episode karena setiap episode berdiri sendiri. Hanya saja lebih asyik jika ditonton secara berurutan.


Modern Family mengambil format mockumentary seperti halnya serial komedi bermutu lainnya, The Office. Berbeda dengan The Office, Modern Family cenderung bertutur dengan lebih ringan dan ceria. Setiap permasalahan yang dihadapi oleh anggota keluarga juga sangat realistis karena apa yang mereka alami sering kita jumpai dalam kehidupan sehari - hari. Salut buat tim penulis skenario yang berhasil membuat naskah yang cerdas dan berbobot. Permasalahan yang diangkat sebenarnya cenderung sederhana, namun berkat kelihaian tim penulis skenario berhasil diracik menjadi sebuah permasalahan yang memusingkan sekaligus konyol. Dalam episode Family Potrait, misalnya. Tiga keluarga dikisahkan berencana membuat sebuah foto keluarga. Jika kita yang menghadapinya, tinggal panggil juru foto, jepret, cetak dan pasang di dinding. Tapi hal sesederhana ini justru dibuat rumit oleh mereka. Claire ingin segalanya terlihat sempurna, Phil yang salah kostum hingga beberapa anggota keluarga yang mengalami hal yang buruk. Keributan menjelang pemotretan pun tak terelakkan terlebih ada sebuah insiden yang melibatkan Gloria dan Phil. Sangat seru.

Inilah yang membedakan Modern Family dan serial baru lainnya. Sejak episode Pilot, saya sudah langsung dibuat jatuh hati olehnya. Kedekatan karakter, cerita yang simple dan realistis serta humor yang sangat lucu membuat Modern Family langsung berada dalam posisi teratas serial TV favorit saya, menyingkirkan Glee. Sebenarnya Modern Family cenderung mengingatkan saya pada Friends jika melihat dari aspek karakter dan cerita. Hanya saja, Modern Family fokus pada permasalahan keluarga dan absennya rekaman tawa penonton sebagai backsound. Jika tim penulis skenario tetap solid menghadirkan naskah yang renyah serta rating yang tetap terjaga, bukan tidak mungkin Modern Family akan menjadi serial yang populer. Apalagi ini adalah pertama kalinya sejak Friends dimana saya selalu dibuat tertawa terpingkal - pingkal di setiap episodenya. Humornya sangat renyah, berkelas dan jauh dari kesan dipaksakan. Terkadang kita diajak juga diajak untuk menertawakan diri kita sendiri.

Untuk urusan akting, Modern Family memiliki barisan cast yang kuat. Dari sekitar 11 pemain utama, bisa dibilang Sofia Vergara dan Eric Stonestreet yang paling menonjol. Gloria dengan aksen Kolombia yang sangat kental berhasil dibawakan dengan sangat baik oleh Sofia Vergara. Mengingat Sofia memang asli berasal dari Kolombia, dia tidak memiliki kesulitan berarti dalam membawakan peran ini. Sementara Eric Stonestreet tampil kocak sebagai Cameron yang selalu membuat segalanya menjadi dramatis. Keduanya merupakan nyawa dari serial ini karena tanpa kehadiran mereka Modern Family mungkin tidak akan menjadi selucu dan seseru ini. Tunggu saja scene yang melibatkan Gloria atau Cam atau malah keduanya, dijamin membuat terhibur dan terpingkal - pingkal. Gloria tipe wanita yang emosional sementara Cam selalu membuat masalah sekecil apapun terlihat besar.

Merindukan serial komedi yang memiliki kualitas setara dengan Friends ? Modern Family adalah jawabannya. 24 episode hadir dengan kualitas jempolan, hampir tak cela. Kejeniusan tim penulis skenario dalam meracik skenario yang renyah dan lucu didukung pula oleh barisan cast yang bermain apik. Kedekatan kisah dan karakternya dengan penonton membuat serial ini mudah untuk disukai. Berbeda dengan Glee yang cenderung gelap, Modern Family jauh lebih ringan dan ceria. Bahkan setiap episode selalu didominasi oleh warna - warna yang cerah. Overall, Modern Family adalah sebuah serial komedi yang ciamik dengan dukungan naskah + akting jempolan. Sangat sayang rasanya untuk dilewatkan.

Nilai = 9/10
Naskah renyah, humor cerdas dan karakter yg cenderung loveable. Butuh apa lagi?

REVIEW : TOY STORY 3

Pixar mungkin adalah satu - satunya yang tidak pernah menghasilkan film yang mengecewakan bagi saya. Meski Up bisa dibilang kurang greget untuk film buatan Pixar, tapi secara keseluruhan Up tetaplah film yang bagus. Ghibli yang disebut sebagai Pixar versi Jepang bahkan masih memiliki 1 - 2 film yang kurang bagus, sementara Pixar sejauh ini track record-nya sempurna. Toy Story 3 sepertinya bakal memperkuat posisi Pixar dan memperpanjang rekornya sebagai penghasil film paling jempolan di muka bumi ini. Sebelum Toy Story 3 dirilis, saya sudah yakin film ini akan menjadi film yang bagus apalagi bisa dibilang saya tumbuh bersama Woody and the gank. Saya menyaksikan Toy Story 2 di usia 9 tahun dan langsung dibuat terperangah olehnya, seketika itu saya langsung melanjutkannya dengan Toy Story. Kisahnya sangat dekat dengan saya apalagi karakter Andy yang cenderung mirip dengan saya membuat Toy Story sebagai salah satu film animasi favorit saya. Ekspektasi yang tinggi mengiringi langkah saya menuju ke bioskop terdekat untuk menyaksikan Toy Story 3 dalam bentuk 3D.



Andy (John Morris) sudah berusia 17 tahun dan sebentar lagi memasuki perguruan tinggi. Saat usia beranjak dewasa, Andy tidak lagi bermain dengan mainannya dan hal ini membuat Woody (Tom Hanks) dan Buzz Lightyear (Tim Allen) serta mainan yang lain merasa sedih. Terlebih saat Andy memilih Woody untuk dibawanya turut serta sementara yang lain dimasukkan ke dalam kantong sampah. Niat awal Andy adalah menyimpan mainannya ini ke atas loteng, tapi tanpa sengaja oleh ibunya dibuang ke tempat sampah. Merasa bahwa mereka sudah dilupakan oleh tuannya, gerombolan mainan ini memutuskan untuk ikut dengan mainan yang akan disumbangkan ke tempat penitipan anak bernama Sunnyside. Woody sudah memperingatkan mereka bahwa Sunnyside bukanlah tempat yang aman, tapi tak digubris oleh teman - temannya. Sekilas Sunnyside memang terlihat seperti surga bagi para mainan dimana mereka akan diajak bermain setiap hari. Bahkan penghuni lama Sunnyside menyambut mereka dengan ramah. Namun itu hanyalah topeng yang mereka kenakan karena pada kenyataannya mereka tidak sebaik yang Buzz Lightyear and the gank kira.




Sungguh sulit bagi saya untuk mencari letak kelemahan Toy Story 3. Film ini tidak hanya bagus sebagai sebuah sekuel, tetapi juga sangat sempurna sebagai sebuah penutup. Selama satu dekade ini saya tidak menemukan film yang memiliki kualitas sebagus ini. Kalau saya dipaksa untuk menyebutkan kelemahan film ini, mungkin saya akan menyebutkan di beberapa adegan terasa terlalu suram dan menakutkan untuk anak - anak. Tapi sepertinya itu bukan masalah besar. Toy Story 3 adalah sebuah film yang sangat asyik untuk diikuti. Saya rasa tak akan jadi soal jika Pixar menambah durasinya menjadi 10 menit atau 15 menit lebih panjang karena saya merasa filmnya begitu cepat usai. Belum siap untuk berpisah dengan Woody and the gank.

Hingga akhir film, Toy Story 3 berjalan begitu seru. Kita akan diajak tertawa terbahak - bahak melihat tingkah polah Woody and the gank, tegang melihat usaha untuk melarikan diri hingga menangis beruraian air mata di 15 menit terakhir. Bagi yang memiliki ikatan khusus dengan film ini atau para penonton yang mudah menangis, saya sarankan untuk membawa tissue dan menyiapkan mood karena selain mengundang tawa, film ini juga mampu membuat air mata mengalir deras. Jujur, Toy Story 3 adalah film pertama yang membuat saya menangis hingga satu liter air mata. Untunglah kacamata 3D mampu menutupi mata saya sehingga tak seorang pun perlu mengetahuinya saat berada di bioskop, haha.

Disamping karakter lama dari Toy Story 1 & 2, diperkenalkan pula karakter - karakter baru disini, seperti Lotso, boneka beruang merah yang suka memeluk dan berbau strawbery, boneka bayi raksasa hingga Chatter Telephone. Yang paling mencuri perhatian adalah pasangan Ken dan Barbie yang sangat kocak. Maksud hati ingin terlihat romantis, tapi yang terlihat oleh penonton adalah pasangan aneh yang konyol. Dijamin kehadiran mereka akan membuat kalian terhibur. Belum lagi Buzz Lightyear versi Spanyol yang sanggup bikin perut saya sakit lantaran tertawa terbahak - bahak tiada henti melihat polahnya. Mr. Potato Head juga menyumbang satu scene yang mampu membuat mulut penonton terasa kram. Pixar menyajikan humor ini dengan sangat cerdas, tanpa harus kelihatan bodoh, dipaksakan atau malah terkesan murahan. Mereka juga mampu mengaduk - aduk perasaan penonton di paruh akhir film sehingga sulit rasanya untuk bisa membendung air mata, apalagi didukung music score dari Randy Newman yang jempolan. Untuk urusan animasinya saya rasa tak perlu dibahas. Siapapun tahu kalau Pixar adalah salah satu yang terbaik dalam urusan membuat animasi.

Saya sangat menyarankan buat para pecinta film untuk jangan sampai melewatkan film yang satu ini. Toy Story 3 adalah sebuah petualangan yang gila, seru, menakjubkan, fantastis, konyol dan mengharukan. Sepertinya sulit untuk menemukan film sebagus ini dalam waktu dekat. Bahkan saya ragu Pixar akan bisa menghasilkan karya yang jauh lebih bagus dari Toy Story 3. Ini adalah masterpiece mereka. Meski tahun 2010 belum berakhir, saya berani menjamin Toy Story 3 akan tetap berada di posisi puncak film terbaik 2010 versi saya hingga tahun berganti. Menonton Toy Story 3 sungguh menjadi pengalaman seru tak terlupakan.

Nilai = 10/10. Perfecto, excelente!

Selasa, 22 Juni 2010

10 FILM TERBAIK 2009 VERSI CINETARIZ

Tahun 2009 telah berlalu sejak sekitar 6 bulan yang lalu. Tapi baru sekarang saya berkesempatan untuk menulis artikel mengenai film terbaik sepanjang tahun 2009. Sebenarnya ide ini sudah ada sejak awal tahun, namun pada saat itu baru segelintir film yang sempat saya tonton. Setelah ngebut menyaksikan film buatan Hollywood yang dirilis sepanjang 2009 via DVD, akhirnya saya beranikan untuk membuat list ini.

Meski disebut sebagai salah satu tahun yang menghadirkan film dengan kualitas yang garing, nyatanya menyusun list 10 film terbaik bukanlah perkara yang mudah, cenderung sulit malah. Tercatat setidaknya ada 50 film lebih yang bisa dikategorikan bagus hanya dari Hollywood saja, belum termasuk film asing, misalnya Indonesia. Itulah mengapa butuh waktu cukup lama bagi saya untuk menyusun list ini dan menyingkirkan sekitar 40 film lain dari daftar. Saya terpaksa tidak memasukkan film non-Hollywood karena masih banyak yang belum saya saksikan, alasan lain adalah untuk mempermudah penyusunan list. Tidak terbayang banyaknya jika saya juga harus memasukkan film asing. Mungkin di kesempatan lain, apalagi ini adalah pertama kalinya saya membuat list semacam ini.


Mengingat banyaknya film bagus yang harus disingkirkan, untuk pembuatan list ini saya terpaksa sangat subjektif. Jika saya tetap memaksa untuk bersikap objektif, maka daftar yang akan muncul terasa aneh dan barangkali terkesan dipaksakan. Film terbaik yang masuk dalam daftar ini adalah film yang berhasil membuat saya puas setelah menontonnya bahkan beberapa diantaranya sanggup membuat saya takjub, meneteskan air mata hingga standing ovation. Jadi jangan heran jika beberapa film tidak sesuai dengan pilihan para kritikus film hebat di luar sana, karena list ini disusun oleh seorang pecinta film amatiran yang tidak paham mengenai film secara menyeluruh.

Saya yakin diantara kalian mungkin ada yang tidak sependapat dengan pilihan saya ini. Yah maklum, kembali lagi ke selera. Namanya saja "10 Film Terbaik Versi Cinetariz" jadi list ini sifatnya sangat subjektif, mencerminkan selera saya. Jadi kalau ada yang tidak sependapat, utarakan saja.

Inilah 10 Film Terbaik 2009 pilihan Cinetariz :

10. ZOMBIELAND

Sejak menit awal, Zombieland sudah menjanjikan bakal menjadi film yang bagus. Opening scene-nya begitu menarik dan kreatif, di sebuah blog bahkan disebut sebagai salah satu Opening Scene terbaik. Ya, saya setuju. Perpaduan komedi dan horror diramu dengan sangat pas. Kurang sadis untuk ukuran film zombie, namun Zombieland berhasil menyajikan sebuah film horror yang pintar dengan ide cerita yang tergolong unik. Siapa yang bisa melupakan 33 rules yang ajaib dan cameo dari Bill Murray ? Jenius!



9. UP

Ah, Pixar. Rasanya saya tidak pernah kecewa dengan film animasi buatan Pixar. Selalu memuaskan dengan kualitas di atas rata - rata. Up adalah film keluaran Pixar di tahun 2009. Sempat mengernyitkan dahi saat mengetahui tokoh utamanya seorang pria lansia. Huh? Ide cerita mereka memang selalu unik. Up berhasil membuat saya berlinangan air mata di menit awal, namun di menit selanjutnya saya justru tertawa terbahak - bahak melihat tingkah polah si bocah pramuka, Russell. Drama, komedi dan petualangan berpadu dengan baik. Sedikit keteteran di paruh akhir, namun tidak berlangsung lama. Animasinya halus, hampir tak ada cela. Tak salah rasanya jika saya menyebut Pixar sebagai Rajanya Animasi 3D.



8. STAR TREK

Jujur, saya bukan termasuk Trekkie. Bahkan saya tidak pernah bisa menikmati film sejenis Star Trek maupun Star Wars. Saat kritikus memuji film ini setinggi langit, saya masih tetap mencibirnya. Hingga akhirnya saya coba untuk menontonnya. Hasilnya ? hitung saya sebagai Trekkie. Jatuh cinta pada pandangan pertama. J.J. Abrams berhasil membuat Star Trek yang tidak segmented, sehingga bisa dinikmati oleh non-Trekkie. Pemilihan cast yang pas, visual efek yang dahsyat namun tidak berlebihan hingga plot yang kuat. Film ini berhasil membuat saya penasaran terhadap seri Star Trek. Sebuah prekuel yang bagus dan cemerlang!



7. SHERLOCK HOLMES

Sound system yang buruk dan gambar sedikit blur adalah masalah yang saya hadapi saat menyaksikan Sherlock Holmes di layar bioskop. Biasanya hal itu mengurangi mood saya dalam menonton, tapi pada kenyataannya saya tetap terpuaskan oleh Sherlock Holmes. Itu artinya, film ini memang sangat bagus, bagi saya. Bukan sebuah adaptasi yang sempurna, tapi Sherlock versi Guy Ritchie tetap berhasil menghadirkan hiburan yang menarik dengan joke - joke yang segar. Robert Downey Jr kembali menunjukkan kebolehan aktingnya disini, bahkan chemistry-nya dengan Jude Law saya bilang cukup manis. Misterinya membuat penasaran, adegan laganya seru, humornya segar, sinematografi & tata artistik menawan hingga akting yang memukau. Memuaskan ? tentu saja =)


6. DRAG ME TO HELL

Silahkan tidak setuju dengan pilihan saya ini, tapi bagi saya Drag Me to Hell adalah film horror terbaik sepanjang tahun 2009. Ciri khas Sam Raimi kembali dimunculkan dalam film besutannya ini. Bagi yang tidak terbiasa dengan style bung Raimi mungkin akan kesulitan menikmati film ini. Tidak hanya menyajikan horror yang seram, Drag Me to Hell juga merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton, lucu dan menghibur. Sepanjang film horror dan komedi tampil silih berganti bahkan terkadang malah saling berpadu sehingga yang terjadi adalah kita dibuat takut dan menjerit dan kemudian tertawa. Bisa dibayangkan ? saya mengalaminya sendiri. Haha. Sungguh, Drag Me to Hell sangat menghibur bagi saya. Opening scene film ini juga tergolong bagus, sangat mencekam.



5. THE HANGOVER

Setelah selesai dengan Drag Me to Hell, silahkan lanjutkan dengan The Hangover maka harimu akan menjadi indah. The Hangover adalah sebuah film komedi gila yang sangat cerdas, lucu, menyenangkan, menghibur sekaligus menegangkan. Premisnya saja sudah cukup menjanjikan. 100 menit paling menyenangkan dalam hidup saya saat menyaksikan film sinting ini. Chemistry trio Cooper - Galifianakis - Helms terasa sangat klop. Ken Jeong berhasil membawakan peran antagonis yang konyol dengan sangat baik. Misteri tentang apa yang terjadi semalam digulirkan dengan sangat baik sehingga membuat penonton penasaran. Film yang cocok ditonton sebagai penghilang stres.


4. AVATAR

Proyek raksasa James Cameron yang konon kabarnya disuntik dana hingga $500 juta ini berhasil menempati posisi puncak film terlaris sepanjang masa. Avatar memang cenderung lemah di sektor naskah, tapi special effect yang disajikan sangatlah menawan. Untuk bisa merasakan sensasinya, film ini memang kudu disaksikan dalam format 3D mengingat filmnya memang ditujukan untuk format tersebut. Sangat terasa sekali perbedaannya saat disaksikan dalam layar 2D, apalagi layar kaca. Avatar berhasil menyuguhkan tontonan aksi yang seru dan pameran special effect yang canggih dengan elegan. Pandora terlihat sangat menakjubkan dan indah.


3. INGLOURIOUS BASTERDS

Quentin Tarantino adalah sutradara favorit saya, selain Tim Burton. Saya menyukai semua film buatan QT, kecuali Kill Bill vol. 2 yang menurut saya kurang greget. Inglourious Basterds memakai gaya penuturan yang sedikit nge-pop dengan harapan bisa menarik lebih banyak penonton. Seperti biasa, film besutan QT memang jenius. Ide ceritanya fresh dan brilian didukung oleh ensemble cast yang menawan. Brad Pitt bermain sangat bagus disini, namun bintang sesungguhnya adalah Christoph Waltz yang berperan sebagai Hans Landa yang sadis. Akting Waltz sangat meyakinkan, dia adalah aktor terbaik tahun 2009! Dengan durasi yang panjang, film ini tidak terjebak sebagai drama yang membosankan karena banyak kejutan di setiap adegannya. Yang paling membuat saya shock adalah scene di bioskop pada paruh akhir menjelang ending. Salah satu adegan paling mengerikan yang pernah saya tonton dalam film.


2. (500) DAYS OF SUMMER

Bertutur dengan gaya yang non-linear, (500) Days of Summer menjadi film yang aneh bagi sebagian orang. Apalagi editing film ini juga tidak biasa, cenderung unik. Namun bagi saya itulah poin plus dari film ini. Ditambah dukungan skenario yang mempesona, duo Joseph Gordon-Levitt dan Zooey Deschanel yang bermain apik hingga soundtrack yang manis, membuat (500) Days of Summer menjadi sebuah film romcom yang sulit untuk dilupakan. Jauh dari kesan cheesy dan konyol, film ini dipenuhi dengan dialog yang yahud. Penempatan lagu sebagai background juga pas ditambah endingnya yang bagus. Bisa dikatakan, (500) Days of Summer adalah film romcom terbaik dekade ini.



1. UP IN THE AIR

Film favorit saya di tahun lalu. Up in the Air benar - benar membuat saya terkesan. Bahkan film ini langsung saya masukkan sebagai salah satu film favorit saya sepanjang masa. Film yang sangat bagus, sulit menemukan celanya. Naskahnya sangat brilian, permainan dari cast-nya mempesona hingga tata teknis yang digarap sangat baik. Sayangnya, juri Oscar memutuskan untuk tidak memberikan film ini satu piala pun di ajang Oscar awal tahun ini. Sadis! George Clooney menunjukkan akting terbaiknya disini, begitu pula Anna Kendrick yang tampil sangat baik. Scene saat Anna diputus oleh kekasihnya serta penolakan adik George merupakan scene terbaik di film ini, sangat berkelas. Jangan lupakan dialog - dialognya yang cerdas dan menyentil. Setelah sukses dengan Juno dan Thank You For Smoking, Sekali lagi Jason Reitman berhasil membesut film cerdas. Dengan pendekatan yang personal, Up in the Air adalah film terbaik sepanjang tahun 2009.


HONORABLE MENTION :

- DISTRICT 9
- CORALINE
- LAW ABIDING CITIZEN
- KNOWING
- THE PROPOSAL
- THE BLIND SIDE

- JULIE & JULIA

- WATCHMEN

- ANGELS & DEMONS
- ICE AGE : DAWN OF THE DINOSAURS

Senin, 21 Juni 2010

REVIEW : THE KARATE KID (2010)


The Karate Kid (1984) bisa dibilang adalah salah satu franchise yang sukses di tahun 80-an. Tidak hanya menelurkan tiga sekuel serta sebuah remake, The Karate Kid juga berhasil melambungkan nama Ralph Macchio serta almarhum Pat Morita. Setelah sekuelnya yang ketiga, The Karate Kid tidak dilanjutkan ke film keempat lantaran hasil box office-nya yang makin terpuruk. Butuh waktu sekitar 16 tahun untuk menghidupkan kembali The Karate Kid. Meski memakai embel - embel remake, nyatanya The Karate Kid versi tahun 2010 ini memiliki jalan cerita yang sama sekali berbeda dengan film aslinya. Bahkan pemakaian judul Karate Kid sebenarnya cukup dipertanyakan mengingat film ini lebih fokus pada Kungfu ketimbang Karate. Didapuk sebagai bintang utama adalah putra dari Will Smith, Jaden Smith, dan Jackie Chan yang mencoba untuk bermain serius disini.

Dre Parker (Jaden Smith) mengikuti ibunya (Taraji P. Henson) pindah ke Beijing dari Detroit untuk memulai hidup baru. Bukan hal yang mudah bagi Dre untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar mengingat budaya China yang jauh berbeda dengan Amerika. Belum apa - apa, Dre sudah mulai merasa tidak kerasan dengan tempat tinggal barunya dan minta kembali ke Amerika. Satu - satunya yang bikin Dre betah di Beijing adalah Mei Ying (Wen Wen Han), seorang gadis lokal yang lihai memainkan biola. Di saat Dre mulai menemukan sesuatu yang menarik baginya, dia kembali dihadapkan pada masalah. Cheng (Zhenwei Wang), seorang jagoan kungfu yang sebaya dengannya, suka mengganggu dan menghantuinya bahkan meminta Dre untuk tidak mendekati Mei Ying. Bentuk gangguan yang diterima Dre berupa fisik dan mental sampai - sampai ibu Dre ikutan mencak - mencak melihat anak semata wayangnya babak belur. Tidak tahan karena terus diganggu, Dre melakukan pembalasan dengan menyiram Cheng dan teman - temannya dengan air. Hal ini justru membuat Cheng and the gank naik pitam dan menghajar Dre habis - habisan tanpa ampun. Untungnya, Mr. Han (Jackie Chan), seorang teknisi di tempat Dre dan ibunya tinggal, datang di saat yang tepat. Cheng and the gank berhasil dilumpuhkan dan dengan keahlian medisnya, Mr. Han berhasil mengobati luka Dre. Setelah luka Dre sembuh, Mr. Han dan Dre menuju ke tempat Cheng belajar kungfu untuk membuat perdamaian. Alih - alih setuju, Master Li (Yu Rongguang) justru meminta agar Dre bertarung dengan Dre. Tanpa diduga, Mr. Han setuju dengan tantangan Master Li. Akan tetapi, mereka tidak akan bertarung di jalanan, melainkan dalam turnamen. Mr. Han juga meminta kepada mereka agar tidak mengganggu Dre hingga turnamen berakhir. Sepakat. Karena Dre sama sekali tidak memiliki kemampuan dalam kungfu, akhirnya Mr. Han turun tangan untuk memberinya pelatihan. Metode pelatihan kungfu yang diajarkan oleh Mr. Han ternyata berbeda dari kebanyakan hingga sempat membuat Dre merasa frustrasi.

Dengan cerita yang sama sekali baru, The Karate Kid (2010) justru terasa lebih fresh. Ide cerita yang ditawarkan sebenarnya sederhana dan cenderung klise, namun entah mengapa Christopher Murphey berhasil meraciknya menjadi sesuatu yang menarik. Di beberapa bagian memang terasa bertele - tele dan berlebihan, terutama saat menginjak pertengahan film, tapi begitu memasuki paruh akhir The Karate Kid kembali enak untuk dinikmati. Bagi yang mengharapkan The Karate Kid sebagai sebuah sajian komedi mungkin akan dibuat kecewa film ini memiliki tone yang serius dan cukup muram. Jackie Chan yang biasanya tampil energik dan humoris hampir tidak menunjukkan senyuman disini. Karakter yang dia bawakan disini cukup berbeda dengan karakter yang biasa dia perankan. Sebagai seorang teknisi ahli kungfu yang ternyata menyimpan masa lalu kelam, Jackie cukup berhasil membawakan perannya. Jackie Chan yang kita lihat di The Karate Kid sama sekali berbeda dengan Jackie yang biasa kita saksikan dalam film aksi - komedi. Saya pribadi cukup terkesan dengan usaha Jackie Chan dalam membawakan peran serius.

Jangan khawatir, unsur komedi tetap diselipkan dalam film ini. Jaden Smith berhasil mencairkan suasana dengan aksi tengilnya dan cenderung komikal. Beberapa kali saya dibuat terhibur olehnya. Tidak sebaik Will Smith, tentu saja, tapi bakat Jaden masih bisa terus diasah mengingat karirnya masih sangat panjang. Kemampuannya dalam kungfu juga membuat saya terpukau. Sebagai informasi, di kehidupan nyata, Jaden Smith memang memiliki kemampuan kungfu yang cukup baik. Aksinya saat duel dengan Cheng dan lawan - lawannya di kompetisi berjalan cukup seru dan saya berhasil tegang dibuatnya, meski apa yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak. Oia, chemistry antara Jaden dengan Taraji, Jaden dengan Jackie dan Jaden dengan Wen Wen juga berhasil dibangun dengan baik. Cukup disayangkan porsi tampil Taraji P. Henson tidak begitu besar disini. Semenjak aktingnya yang memukau di The Curious Case of Benjamin Button, saya selalu penasaran dengan apa yang akan dia tunjukkan di film berikutnya. Sayangnya naskah buatan Christopher Murphey membatasi ruang gerak Taraji untuk mengeksplor kemampuan aktingnya.

Membicarakan mengenai adegan laga. The Karate Kid tentu banyak menawarkan sajian yang satu ini. Hanya saja untuk versi terbaru ini lebih banyak didominasi oleh drama. Dengan durasi mencapai 140 menit, mungkin agak sedikit berat bagi penonton cilik untuk bisa menikmatinya terlebih drama yang disajikan cukup panjang dan mendominasi lebih dari separuh durasi film. Dibutuhkan kesabaran. Disinilah kelemahan utama The Karate Kid. Bagi penonton dewasa mungkin bukan masalah besar apalagi drama yang dihadirkan sebenarnya cukup menarik untuk diikuti walaupun cenderung bertele - tele, tapi bagi penonton cilik yang tidak terbiasa dan mengharapkan sajian yang seru akan dibuat bosan olehnya. Adegan laga yang sesungguhnya baru hadir di penghunjung film yang untungnya dibuat cukup seru. Hampir lupa, suguhan pemandangan kota Beijing yang padat serta pedesaan China cukup memanjakan mata dan membuat saya jadi ingin sekali pergi ke sana suatu saat, haha...

Overall, The Karate Kid bukanlah sebuah film keluarga biasa karena banyak sekali nilai - nilai serta pesan moral yang bisa diambil dari film ini. Dari deretan summer movies, The Karate Kid adalah film kedua setelah Iron Man 2 yang berhasil memuaskan saya setelah menontonnya. Sangat menghibur!

nilai = 7/10