Rabu, 04 Agustus 2010

INDONESIA BOX OFFICE : 30 JULI - 1 AGUSTUS


1. Salt
2. The Sorcerer's Apprentice

3. Inception

4. Despicable Me

5. The Last Airbender


Note : Data hanya meliputi film buatan Hollywood dan UK yang diperoleh dari beberapa distributor saja, sebagian yang lain tidak diketahui hasilnya. Film Indonesia tidak memiliki data box office karena pihak produser yang tidak transparan.

Salt debut sangat baik di bioskop Indonesia, meraih angka $1 juta dalam 5 hari pemutaran. Sementara itu, pendapatan The Sorcerer's Apprentice berkurang lebih dari separuhnya di pekan kedua hingga membuatnya mengantungi $1,5 juta dalam 2 pekan. Rasa penasaran penonton terhadap Inception serta banyaknya yang menonton lebih dari sekali membuat Inception cukup stabil dalam pendapatan meski kali ini juga turun setengah dari minggu lalu. Setidaknya angka $2 juta sudah diraih hanya dalam 3 minggu penayangan. Hasil yang sangat baik mengingat Inception bukanlah tipe film yang disukai oleh masyarakat Indonesia.

The Last Airbender memperoleh $73 ribu dari pertunjukkan tengah malam. Melihat antusiasme masyarakat, tak sulit bagi film ini untuk menggeser kedudukan Salt minggu depan. Just wait & see.

Senin, 02 Agustus 2010

REVIEW : PUNCH-DRUNK LOVE


"I have a love in my life. It makes me stronger than anything you can imagine" - Barry

Apa yang pertama kali melintas di pikiran kalian saat mengetahui Adam Sandler membintangi sebuah film bergenre komedi romantis ? Pesimis, optimis, penasaran atau malah tidak tertarik untuk menontonnya sama sekali ? Saat saya mengetahui komedian yang satu ini bergabung dalam proyek film Paul Thomas Anderson yang terbaru dengan genre yang cenderung asing baginya, saya merasa pesimis sekaligus penasaran. Apakah bisa seorang Sandler melakoni peran yang cenderung serius mengingat selama ini dia seringnya memerankan karakter stereotip komedi yang bodoh dan kekanak - kanakan ? Itulah yang membuat saya penasaran dengan Punch-Drunk Love. Filmnya sendiri rilis tahun 2002 dan saya baru berkesempatan menyaksikannya minggu ini. Yah, maklumlah, saat itu saya masih duduk di bangku SMP dan tidak tertarik untuk menyaksikan film semacam ini.

Adam Sandler adalah Barry Egan, seorang eksekutif muda yang menjalankan perusahaan yang khusus membuat penyedot toilet dan perlengkapan kamar mandi lainnya. Barry memiliki tujuh saudara perempuan yang tidak menghargainya dan sering menjadikannya bahan olokan terutama saat mereka membahas masa kecil Barry. Hal inilah yang membuat Barry tumbuh menjadi pribadi yang kesepian dan memiliki masalah kejiwaan, sering menangis tanpa sebab dan ledakan emosinya tak terkontrol. Kehidupan Barry mulai berwarna saat menemukan sebuah harmonium yang dijatuhkan di jalanan dan berlanjut kepada perkenalan dengan Lena Leonard (Emily Watson), wanita misterius yang menitipkan mobilnya di perusahaan tempat Barry bekerja. Sebelum akhirnya Barry menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Lena, Barry iseng melakukan panggilan ke telepon seks untuk mencari seseorang yang bisa diajak ngobrol. Siapa yang kemudian menyangka jika ternyata jasa ini hanyalah sebuah kedok untuk melakukan penipuan. Barry diteror oleh si wanita telepon seks yang memaksa Barry untuk membantunya dengan sejumlah uang namun ditolak oleh Barry. Dari sinilah cerita mulai berkembang termasuk Barry yang awalnya hanyalah pria 'lemah' menemukan kekuatannya berkat cintanya kepada Lena.


Punch-Drunk Love bukanlah film komedi romantis sembarangan. Jauh dari kesan picisan dan tak akan ada dialog bergombal - gombal ria disini. Romantisnya beda. Justru dengan perbedaan itulah yang membuat Punch-Drunk Love terasa lebih romantis dan menggigit. Penonton yang terbiasa dengan film roman yang menye - menye dan lebay luar biasa mungkin akan kurang menyukai film ini, tapi bagi yang mencari film roman yang cerdas, maka film ini adalah pilihan yang sangat tepat. Dialog puitis nan gombal disingkirkan dan diganti dengan dialog cerdas serta cenderung aneh. Simak saja bagaimana Barry merayu Lena dari penggalan dialog berikut ini, "I'm lookin' at your face and I just wanna smash it. I just wanna fuckin' smash it with a sledgehammer and squeeze it. You're so pretty." Memang terkesan menyeramkan, tapi jika dipikir - pikir, romantis juga. Inilah salah satu keunikannya.

Sebelumnya, Paul Thomas Anderson sudah pernah menelurkan dua film bagus yang mendapat banyak pujian dari kritikus dan pecinta film, Boogie Nights dan Magnolia. Maka saat Paul mengumumkan akan membuat film baru, penggemar karyanya serta merta bersuka cita meski Adam Sandler cukup diragukan pada awalnya. Di Punch-Drunk Love, Paul tetap mempertahankan ciri khasnya, memasukkan rangkaian adegan yang aneh dan absurd. Bahkan sebenarnya kisah cinta Barry - Lena juga cenderung aneh, mereka mengungkapkan isi hati masing - masing dengan cara yang unik menuju tidak wajar. Paul juga menghadirkan bahasa gambar penuh makna dimana tidak cukup bagi kita untuk bisa memahaminya hanya dengan sekali tonton. Tidak berpengaruh memang terhadap endingnya, tapi akan sangat mengasyikkan jika kita bisa memecahkan misteri dibalik adegan tersebut. Ambil contoh, harmonium. Apa maksud dari hadirnya harmonium ini ? Dan, mengapa harus harmonium ? Beberapa pertanyaan mungkin tak bisa dijawab. Tapi mungkin juga bisa, dengan interpretasi sendiri. Ya, cukup membingungkan memang.

Sementara itu, apa yang dicemaskan oleh banyak pihak ternyata tak terjadi. Adam Sandler justru menunjukkan performa terbaiknya disini, hingga saat ini. Aktingnya sedikit mengingatkan kepada Jim Carrey di The Truman Show. Seorang pelawak yang mendapat peran serius tetapi tanpa harus menyingkirkan image lucunya karena baik Adam maupun Jim tidak dituntut untuk seratus persen serius, mereka masih diberi kesempatan untuk melawak, dengan cara yang berbeda. Humor di Punch-Drunk Love memang bukan humor slapstick seperti di film Adam Sandler kebanyakan, terkadang humornya malah pahit. Di satu sisi lucu, namun di sisi lain tak tega untuk menertawakannya. Beberapa sindiran juga digelontorkan disini. Kita diajak untuk menertawakan diri kita sendiri. Ah, betapa absurdnya dunia ini. Haha. Kembali ke akting, Emily Watson tampil manis sebagai Lena Leonard dan chemistry-nya dengan Adam Sandler juga terasa pas meski jika dilihat cenderung aneh, seperti karakter mereka yang aneh. Philip Seymour Hoffman tampil hanya sebentar namun mampu mencuri perhatian, terutama saat karakternya dikisahkan sedang adu mulut dengan Barry melalui telepon. Dua jempol!

Tak mudah untuk bisa memahami Punch-Drunk Love. Sebuah film komedi romantis yang sulit untuk dicerna. Akan tetapi, ajaibnya, saya menyukainya, eh salah, mencintainya. Ya, saya sangat mencintai film ini, bahkan sejak menit pertama bergulir. Inilah yang saya harapkan dari sebuah film roman, adegan romantis tanpa perlu dialog lebay nan panjang yang membosankan, cukup dengan dialog yang sederhana dan unik. Terkadang sesuatu yang sederhana malah jauh lebih bagus ketimbang sesuatu dengan kandungan yang dipermak sedemikian rupa agar terlihat menarik. Adam Sandler juga menunjukkan kehebatan aktingnya, mampu membuat semua orang yang awalnya mencerca dirinya tutup mulut dan mulai mengakuinya. At last but no least, Punch-Drunk Love is one of the greatest romantic comedy movie I've ever seen. No doubt.

Mengutip komen dari Joko Anwar, "Everytime I feel lost, this one always make me believe in movies, and in love again. I'm a punchdrunklover."

Nilai = 9/10

Kamis, 29 Juli 2010

REVIEW : SALT


Rupanya si bibir seksi Angelina Jolie sedang jenuh bermain di film drama kelas berat yang membutuhkan kemampuan akting dan penghayatan yang tinggi sehingga memutuskan untuk sedikit bersenang - senang di film aksi yang memaksanya untuk mengerahkan kemampuan fisiknya dan melakukan banyak adegan kekerasan. Setelah memerankan salah satu jagoan wanita paling populer, Lara Croft, sepertinya Jolie ketagihan untuk membintangi film aksi. Berturut - turut dia tampil di Sky Captain and the World of Tomorrow, Mr. & Mrs. Smith, Wanted dan Salt. Meski begitu dia tetap setia di genre drama dan belakangan malah mendapat nominasi Oscar berkat perannya di Changeling. Salt merupakan salah satu tanda kembalinya Jolie ke dunia seni peran setelah tahun lalu sempat vakum sementara dengan tidak membintangi satu film pun.

Who is Salt ? Tenang, tenang. Disini Angelina Jolie tidak memerankan garam dapur atau rekan sejenisnya, melainkan sebagai agen rahasia CIA bernama Evelyn Salt. Prestasinya sebagai seorang agen bisa dibilang membanggakan, dia merupakan salah satu yang terbaik di bidangnya. Kehidupan Salt hancur saat dia diminta untuk menginterogasi seorang pengkhianat dari Rusia, Orlov (Daniel Olbrychski). Secara mengejutkan Orlov menyebut Salt sebagai agen KGB dan mengatakan bahwa tujuan utama dari Salt adalah membunuh presiden Amerika Serikat. Tentu saja ini mengejutkan semua pihak, tak terkecuali Salt sendiri. Masalah ini mungkin akan cepat selesai jika saja Salt tidak melarikan diri saat hendak diinterogasi oleh sahabatnya, Ted Winter (Liev Schreiber). Seketika itu Salt menjadi buronan paling dicari oleh pemerintah Amerika. Kepercayaan Ted dan Peabody (Chiwetel Ejiofor) terhadap Salt perlahan mulai luntur terlebih setelah Salt melakukan banyak aksi tak terduga.


Tak hanya jago dalam berakting di genre drama, Angelina Jolie tak memiliki kesulitan berarti saat dituntut untuk melakukan adegan aksi penuh baku hantam dan tembakan. Bahkan Jolie sudah mulai terlihat nyaman dan ahli disini. Saya menyukai gayanya saat membantai musuh - musuhnya. Dingin, sadis dan tanpa ampun, namun uniknya terlihat begitu elegan dan sedikit anggun di mata saya. Entah mata saya yang salah atau memang seperti itu pada kenyataannya, namun yang pasti Jolie tetap terlihat menggoda meski perannya cenderung macho. Hanya sampai di situ saja kehebatan neng Jolie di Salt karena jika kita mengharapkan akting menawan darinya pasti akan dibuat kecewa berat. Selain kehebatannya melakukan sejumlah adegan keras, Jolie tidak menawarkan apapun untuk disaksikan. Dia bermain biasa saja, cenderung datar malah. Cast yang lain juga melakukan hal yang sama. Bisa dibilang tak ada yang bisa dijual dari departemen akting. Mungkin Daniel Olbrychski yang aktingnya cukup bagus bagi saya, tapi itu pun hanya sekadar cukup.

Sebenarnya Salt tidak menawarkan sesuatu yang baru bagi penonton karena apa yang disajikan oleh Phillip Noyce sudah sering kita saksikan di film spionase lain semacam trilogi Jason Bourne maupun James Bond. Bahkan adegan aksinya pun tidak terlampau wah. Hanya saja Kurt Wimmer dan Brian Helgeland sering memasukkan twist ke dalam naskah garapan mereka sehingga alurnya tidak begitu saja mudah ditebak. Saat kita mulai merasa 'sok tahu' dengan arah yang akan dituju film ini, mereka kembali membelokkannya hingga kita sanggup dibuat gregetan, tegang sekaligus penasaran. Siapa sosok Salt sebenarnya baru diungkap di akhir film, namun sepanjang film kita dibuat menebak - nebak mengenai jati diri Salt yang sesungguhnya. Sayangnya Kurt dan Brian terlalu asyik memikirkan cara mengejutkan penonton sehingga lupa bahwa twist yang mereka tuangkan sudah overdosis. Hal ini berakibat pada paruh akhir film yang lumayan keteteran dalam hal naskah bahkan endingnya kurang greget. Jikalau beberapa twist di pertengahan film dosisnya sedikit dikurangi untuk menambah dosis di akhir mungkin hasilnya akan lebih maknyus.

Tapi jika kalian adalah tipe penonton yang tidak mau peduli mengenai urusan teknis, naskah, akting dan tetek bengek lainnya, maka Salt tak akan mengecewakan kalian. Ya, saya tidak peduli bagaimana akting Jolie disini karena Salt adalah film yang menyenangkan untuk ditonton. Menegangkan dari awal hingga akhir dengan alur yang sulit ditebak. Ini merupakan film action pertama semenjak Iron Man 2 membuka parade summer movies 2010 yang membuat saya puas lahir dan batin. The A-Team memang menghibur, tapi Salt jauh lebih enak untuk ditonton. Setidaknya naskah Salt masih sedikit berisi. Angelina Jolie meski tidak tampil seksi dan menggoda seperti biasa tetapi kesan itu masih melekat bahkan di saat Jolie terlihat kumal sekalipun.

Film aksi spionase semacam ini memang selalu seru untuk ditonton, terlepas dari naskah dan aktingnya berbobot atau tidak. Salt memang tak ada bedanya dengan film spionase yang sudah saya sebutkan di atas tapi kadar fun tidak berkurang sedikit pun terlebih dengan banyaknya twist yang dijamin membuat kalian betah duduk di kursi bioskop hingga 100 menit bergulir. Salt adalah sajian aksi yang renyah dan dibalut dengan plot yang menarik dan alur yang susah ditebak.

Trivia = sebelum akhirnya diperankan oleh Angelina Jolie, peran Salt sedianya akan diberikan kepada Tom Cruise. Tapi karena memiliki proyek lain dan takut karakternya terlalu mirip dengan Ethan Hunt dari Mission Impossible, Cruise melepas proyek ini. Nama karakter diubah dari Edwin A. Salt menjadi Evelyn Salt, begitu pula naskah yang mengalami beberapa perubahan untuk penyesuaian.

Nilai = 8/10

Selasa, 27 Juli 2010

PREVIEW : THE SOCIAL NETWORK


Siapa yang tak mengetahui Facebook ? Rasanya hampir seluruh penduduk dunia mengetahui situs jejaring sosial paling terkenal di muka bumi ini. Data terakhir mencatat ada sekitar 500 juta pengguna aktif Facebook hingga bulan Juli 2010 dan terus bertambah, bahkan di Indonesia sendiri terdapat 20 juta pengguna yang merupakan tertinggi ketiga di seluruh dunia. Data yang cukup mencengangkan. Facebook begitu populer di Indonesia, khususnya di kalangan remaja. Sukses membuat Friendster bertekuk lutut dan gempuran dari Twitter maupun MySpace tidak membuat Facebook bergeming, malah semakin kuat dari hari ke hari. Ada anggapan bahwa seseorang yang tidak memiliki akun di Facebook adalah seseorang yang tidak gaul. Saat ini Facebook bisa dikatakan multifungsi karena pengguna tidak hanya menggunakannya sebagai media untuk mencari teman tetapi juga untuk menjual barang dagangan, promosi hingga melakukan tindak kriminal.

Hollywood selalu jeli dalam mencari celah untuk meraih keuntungan. Melihat begitu tingginya tingkat kepopuleran Facebook, tentu bukan hal yang sulit untuk menjual sebuah produk yang berkaitan dengan situs ini, dalam hal ini produk yang dimaksud tentu saja adalah film. Proyek film tentang Facebook telah diumumkan sejak awal tahun 2009 dan proses kasting dimulai pada bulan Agustus 2009. Dari sini didapat beberapa nama populer yang akan bergabung dalam film ; Justin Timberlake, Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, Brenda Song, Max Minghella, Rashida Jones dan Joseph Mazzello. Kursi penyutradaraan diserahkan kepada David Fincher yang merupakan alasan utama mengapa saya sangat menantikan film ini. Setelah menghasilkan film - film cerdas semacam Se7en, The Game, Fight Club dan The Curious Case of Benjamin Button, saya tertarik untuk melihat bagaimana penggarapan Fincher terhadap film Facebook berjudul The Social Network ini.

Penulisan naskah diserahkan kepada Aaron Sorkin yang pernah menggarap naskah A Few Good Men dan 86 episode dari The West Wing dari hasil mengadaptasi buku non fiksi karangan Ben Mezrich yang berjudul The Accidental Billionaires: The Founding of Facebook, A Tale of Sex, Money, Genius, and Betrayal. Plot resminya sendiri belum dipublikasikan oleh Columbia Pictures, namun premisnya sendiri mengetengahkan tentang tahun - tahun pertama dari Facebook yang penuh cobaan dan tentu saja biografi dari sang pendiri, Mark Zuckerberg, yang tidak hanya mendadak menjadi Miliarder tetapi juga mendapat banyak musuh terutama dari mereka yang iri dan ingin melihat kejatuhannya. Tidak berbeda jauh dengan film biografi orang sukses lainnya, tapi bagi kalian yang merupakan Facebookers atau pecandu Facebook tentu jangan sampai melewatkan film yang satu ini. Kabar lain menyebutkan bahwa The Social Network akan berdurasi lebih dari 3 jam. Hmmm, panjang juga ya? semoga durasi yang sedemikian panjang tidak menjadi bumerang bagi filmnya sendiri.

The Social Network rencananya akan dirilis pada 1 Oktober 2010 di Amerika Serikat. Mengingat film berbujet $50 juta ini baru dirilis di Singapura pada akhir tahun, ada kemungkinan The Social Network akan terlambat masuk ke Indonesia.


Jumat, 23 Juli 2010

REVIEW : SHUTTER ISLAND


Edward "Teddy" Daniels (Leonardo DiCaprio), seorang anggota US Marshal, bersama dengan partner barunya, Chuck Aule (Mark Ruffalo), ditugaskan untuk menyelidiki hilangnya seorang pasien RSJ Ashecliff di Shutter Island. Pasien bernama Rachel Solando (Emily Mortimer) ini secara ajaib menghilang dari bangsalnya yang terkunci rapat tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Kepala dokter, Dr. John Cawley (Ben Kingsley) dan para staf mungkin tidak akan sebingung ini jika Rachel hanyalah pasien biasa. Sebelum dikirim ke pulau ini, Rachel dengan biadab membunuh ketiga anaknya dan menjadikannya semacam boneka. Penyelidikan Teddy mulai terganggu saat migren mulai menyerangnya dan bayangan masa lalu saat Teddy membantai pasukan Nazi serta peristiwa yang membunuh istrinya (Michelle Williams) terus menghantuinya. Ditambah lagi Cawley yang seakan menutup - nutupi sesuatu yang semakin membuat penyelidikan Teddy menjadi rumit.

Shutter Island sedianya dirilis pada Oktober 2009 lalu, namun karena satu dan lain hal memaksa Paramount untuk mengundurkannya hingga Februari 2010. Film ini sendiri baru tayang di bioskop Indonesia pada awal Maret 2010. Shutter Island tercatat sebagai kerjasama keempat antara Leonardo DiCaprio dengan sutradara kawakan Martin Scorsese setelah Gangs of New York, The Aviator dan The Departed. Nampaknya Leo menjadi aktor favorit baru Martin setelah Robert Deniro terlebih di tiga film sebelumnya berhasil menembus Oscar, bahkan berhasil menang melalui The Departed. Tidak hanya Leo, Martin juga merekrut beberapa nama di belakang layar untuk kembali bekerja sama disini. Makin terlihat jika Shutter Island adalah proyek ambisius adalah saat melihat jajaran cast yang diisi oleh banyak nama besar meski peran yang mereka lakoni porsinya tidak begitu besar.


Genre misteri thriller psikologis memang merupakan favorit saya. Itulah mengapa saya sudah menunggu kehadiran film ini sejak lama dan cukup kecewa saat mengetahui jadwal rilisnya diundur hingga beberapa bulan kemudian. Saya sendiri baru sempat menyaksikan film ini beberapa hari yang lalu karena bioskop di tempat saya bermukim hingga saat ini dengan keterlaluan belum juga memutarnya. Penungguan yang begitu lama ternyata terbayar lunas karena saya puas dengan sajian dari Martin Scorsese ini. Memakai gaya penuturan layaknya noir, unsur misterinya begitu kental dengan tata artistik yang ciamik. Saya dibuat penasaran dengan misteri yang disodorkan sejak menit pertama dan berhasil dibuat takjub oleh endingnya yang bisa dibilang cukup mengejutkan. Alurnya memang lambat dengan durasi film yang tergolong panjang (138 menit) dan kisahnya pun bisa dibilang berat, namun hal itu tidak terasa bagi saya karena kepiawaian Martin Scorsese dalam mengarahkan film ini dan terutama memang saya menggemari film jenis ini. Tidak mudah untuk bisa mencerna apa yang hendak disampaikan oleh Martin Scorsese melalui Shutter Island ini karena membutuhkan konsentrasi lebih untuk bisa memahaminya. Bagi yang tidak terbiasa dengan film semacam ini mungkin akan dibuat bosan olehnya, butuh perjuangan keras untuk bisa menikmatinya. Akan tetapi film semacam ini bisa menjadi candu yang mengasyikkan bagi yang berhasil mengatasi masa - masa sulit tersebut.

Leonardo DiCaprio menunjukkan kebolehan aktingnya yang menawan disini, bahkan saya lebih terpukau dengan aktingnya di Shutter Island ketimbang Inception. Leo berhasil menyelami karakter Teddy dengan amat sangat baik sehingga saya merasa Teddy memang nyata adanya. Rasanya ini adalah saatnya bagi Oscar untuk mengganjar Leo dengan piala best actor tahun depan. Ben Kingsley juga tampil meyakinkan sebagai kepala dokter yang misterius begitu pula dengan Mark Ruffalo yang berhasil mengimbangi akting Leo. Emily Mortimer cukup mencuri perhatian sementara Michelle Williams membawakan perannya dengan pas. Sayangnya porsi mereka terlalu kecil. Dari sisi teknis Shutter Island bisa dikatakan bagus. Tata busana, artistik hingga sinematografinya tertata dengan menawan. Untuk dapur naskah sudah saya singgung di atas. Naskah buatan Laeta Kalogridis dari hasil adaptasi novel karya Dennis Lehane tergarap dengan amat baik dan semakin sempurna saat Martin Scorsese berhasil mewujudkannya dalam bentuk gambar.

Seperti halnya Inception, Shutter Island bukan tipikal film yang bisa dinikmati dengan santai, butuh konsentrasi lebih untuk bisa mencernanya. Alurnya memang cenderung lambat dan itu merupakan kelemahan bagi penonton yang tidak akrab dengan genre ini. Namun secara keseluruhan Shutter Island adalah film yang sangat baik, entah itu dari segi cerita, akting, penyutradaraan hingga teknis. Meski cukup berat, Shutter Island enak ditonton dan cukup menegangkan terlebih misterinya sangat membuat penasaran. Sebuah tontonan yang sayang buat dilewatkan terutama bagi kalian yang mengaku sebagai pecinta film =)

Nilai = 8/10

dark, thrilling, twisting and shocking!

Rabu, 21 Juli 2010

REVIEW : INCEPTION



A must-see movie!

Jujur, menulis review Inception sangatlah tidak mudah, bahkan bisa dikatakan ini merupakan review tersulit yang pernah saya tulis. Untuk bisa memberanikan diri menurunkan tulisan ini saya membutuhkan waktu 7 hari 7 malam untuk bertapa dan mencari ide. Sialnya, saat saya sudah mulai menulis, semuanya hilang, sepertinya ide saya baru saja dicuri oleh Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) melalui mimpi. Baiklah, saya berhenti untuk meracau dan melanjutkan untuk mengulas salah satu film paling jenius dalam 10 tahun terakhir ini. Sejak kemunculan perdana teaser trailer-nya, Inception sudah mulai mencuri perhatian khalayak ramai terlebih karena trailer yang dibuat misterius begitu pula dengan plotnya yang disimpan sedemikian rapat. Inception merupakan film paling diperbincangkan dan ditunggu oleh pecinta film, termasuk saya. Saat daftar rilisan film tahun 2010 dipublikasikan di awal tahun, Inception langsung menyeruak ke posisi puncak film yang paling saya tunggu kehadirannya. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah sepadan penungguan para pecinta film selama kurang lebih setahun dan 10 tahun bagi Christopher Nolan untuk bisa mewujudkan film ini ? Jawabannya ; Absolutely, yes. Sangat sepadan.

Plot merupakan bagian terpenting dari film ini, oleh karenanya saya hanya akan menulis inti ceritanya saja karena saya tidak ingin merusak kenikmatan menonton para pembaca sekalian. Dom Cobb, seorang pencuri profesional yang mampu mencuri rahasia - rahasia terdalam sekalipun melalui pikiran bawah sadar korbannya di tengah keadaan bermimpi. Sebagai kriminal paling lihai di dunia yang penuh intrik, Cobb menjadi tokoh paling banyak diburu berbagai pihak. Tindakan riskannya ini pula yang mengorbankan semua yang pernah dicintainya. Demi menebusnya, dia mengambil tawaran dari Saito (Ken Watanabe) untuk menanamkan ide pada saingan bisnis Saito, Robert Fischer (Cillian Murphy). Bukan perkara yang mudah, apalagi yang diminta oleh Saito adalah insepsi (penanaman ide), bukan mencuri ide seperti yang biasa Cobb lakukan. Bersama dengan timnya yang terdiri atas Arthur (Joseph Gordon-Levitt), Ariadne (Ellen Page), Eames (Tom Hardy) dan Yusuf (Dileep Rao), Cobb harus menuntaskan misi maha sulit yang berbahaya ini jika ingin kembali bertemu dengan keluarga yang dikasihinya.


Plotnya terdengar cukup menjanjikan, bukan ? Itu masih belum ada apa - apanya dibandingkan dengan apa yang disajikan dalam bentuk visual dan naskah lengkapnya. Banyak twist yang dihadirkan disini, sangat sulit untuk menebak alurnya apalagi endingnya. Durasi 148 menit yang tergolong panjang tidak terasa bagi saya karena Inception berhasil menyihir saya untuk tetap duduk tenang di kursi bioskop dan fokus kepada apa yang disajikan di layar. Filmnya sendiri sangat menegangkan, plot berlapis - lapis dengan misteri yang menarik memaksa untuk menahan hasrat ke kamar kecil hingga film berakhir. Saya benar - benar kagum dengan ide cerita yang disodorkan oleh Christopher Nolan, sangat brilian dan tidak terpikirkan oleh siapapun sebelumnya. Pernahkah kalian membayangkan mimpi yang memiliki tiga hingga empat tingkat ? Rasanya, tidak. Mungkin jika hanya dua tingkat beberapa pernah membayangkannya, tapi dengan tiga tingkat ? Bahkan ide mengenai seseorang yang bisa mencuri dan menanamkan ide melalui alam bawah sadar sekalipun. Sutradara yang satu ini memang sudah "gila". Jika sosok Cobb dan apa yang dilakukannya memang benar adanya, mungkin saya sudah menyewanya untuk mencuri ide Nolan, haha. Sebelum Inception, Nolan juga sudah pernah membesut film gila lainnya berjudul Memento dan membuat Batman terlihat lebih berkelas di The Dark Knight.

Lupakan saja kegilaan sutradara yang satu ini, mari beralih dengan membahas hal lain. Seluruh aspek yang hadir dalam Inception sudah hampir sempurna, sulit menemukan celanya. Untuk urusan akting tak usahlah ditanya lagi. Dengan deretan cast yang memiliki track record menang atau nominasi dari Oscar dan Golden Globe sudah bisa ditebak hasilnya akan seperti apa. Leo tetap bermain gemilang seperti biasa, begitu pula dengan Ken Watanabe yang bermain sangat ciamik. Joseph Gordon-Levitt dan Ellen Page makin terlihat matang ketimbang film sebelumnya, Tom Hardy juga semakin bagus saja sejak aktingnya di Bronson yang menawan. Namun dari semua cast yang paling menonjol adalah Marion Cotillard yang berperan sebagai Mal, istri dari Cobb. Porsi aktingnya memang yang paling kecil akan tetapi Marion berhasil mengeluarkan ledakan yang paling besar diantara cast yang lain, termasuk Leo sekalipun. Semenjak menang Oscar melalui La Vie en Rose, Marion tak pernah sekalipun menghadirkan akting yang mengecewakan meski perannya kecil sekalipun, seperti dalam film ini misalnya. Secara berturut - turut Marion Cotillard membintangi dua film dimana di dalamnya memakai ensemble cast dan dalam kedua film tersebut pula aura Marion yang paling bersinar terang. Hebat sekali aktris yang satu ini. Rasa - rasanya juri Oscar akan kembali meliriknya untuk dimasukkan dalam nominasi best supporting actress tahun depan.

Banyak yang membandingkan Inception dengan The Matrix, terutama bagi mereka yang belum menontonnya. Tapi percayalah, kedua film tersebut berbeda meski jika dilihat sekilas memang cenderung mirip. Adegan aksi yang disajikan disini memang tidak seorisinil The Matrix, tapi tetap membuat saya berdecak kagum. Beberapa diantara adegan tersebut adalah adegan aksi tanpa gravitasi di hotel yang melibatkan karakter Arthur dan pengejaran atas Cobb setelah dia bertemu dengan Eames, seru sekali. Sepertinya saat adegan tersebut bergulir di layar saya tak bernafas sama sekali, haha. Humor tetap ditemukan disini, walaupun jumlahnya tidak banyak tapi cukup berhasil mencairkan ketegangan terutama ketegangan di area otak. Jika membahas mengenai adegan aksi, kurang afdhol rasanya jika special effects tak disentuh. Tapi saya bingung, mau membahas apa di area special fx ? sajiannya begitu menakjubkan dan memanjakan mata. Mungkin jika Inception hadir 10 tahun yang lalu akan terasa kering, tapi seiring dengan kemajuan teknologi, apa yang diinginkan oleh Nolan bisa diwujudkan. Contohnya saat Ariadne sang arsitek dengan mudahnya menekuk struktur bangunan dan jalanan sehingga tepat berada di atas kepala. Sajian special effect disini memang dihadirkan sesuai kebutuhan cerita sehingga tak terkesan berlebihan atau mubazir.

Fuhhhh, apa lagi yang mesti dibahas ? Untuk saat ini, tidak ada. Bukan karena saya kehabisan bahan, akan tetapi justru sebaliknya. Jika ingin membicarakan Inception, ada setumpuk bahan yang bisa dijadikan bahasan yang menarik. Tapi jika saya memaksa untuk memasukannya dalam review ini, yang ada justru akan menjadi spoiler. Membahas Inception tanpa menyentuh ranah spoiler memang sulit karena seperti yang telah saya tulis di atas, plot merupakan bagian terpenting dari film ini. Dari segi teknis pun rasanya tak ada yang perlu diulas mengingat film ini sangat unggul disana. Mungkin saya hanya ingin menyarankan kepada pembaca agar tidak datang terlambat atau melewatkan satu detik pun saat menonton film ini bioskop. Usahakan urusan di belakang sudah tuntas sehingga tak perlu bolak - balik ke toilet. Menonton film ini membutuhkan konsentrasi tinggi, sedikit saja terlewat maka buyar segalanya. Bahkan terkadang detil kecil sekalipun sangat penting bagi film ini secara sekeluruhan. Jadi, siapkan mood, tuntaskan masalah di belakang dan konsentrasilah saat menyaksikan film super jenius ini. Oia, jangan lupa matikan handphone. Selamat menonton!

Nilai = 9/10
(Maaf, masih berada di bawah Toy Story 3)

Thrilling, stunning, mind-blowing, GENIUS!